• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1)"

Copied!
246
0
0

Teks penuh

(1)

DAN HAK ASASI MANUSIA

Potret Pelaksanaan Tanggung Jawab

Pemerintah dan Korporasi

terhadap Hak Asasi Manusia di Kalimantan Tengah

(2)

DAN HAK ASASI MANUSIA:

Potret Pelaksanaan Tanggung Jawab Pemerintah dan Korporasi

terhadap Hak Asasi Manusia di Kalimantan Tengah

@2015 The Institute for Ecosoc Rights

Tim Kerja :

Sri Palupi, P. Prasetyohadi, Chelluz Pahun, Andriani S Kusni, Kusni Sulang, Johanes Jenito, Dudik Warnadi.

Penyunting : Sri Palupi

Desain sampul : Carel Use Bataona Tata letak : Bertha Dwiyani

Penerbit :

The Institute for Ecosoc Rights

Jl. Tebet Timur Dalam VI C No. 17 Jakarta Selatan 12820 Indonesia Telpon/fax : 62-21-8304153, email : [email protected]

weblog : ecosocrights.blogspot.com

Bekerjasama dengan

Norwegian Center Human Rights (NCHR)

Perpustakaan Nasional Katalog Dalam Terbitan The Institute for Ecosoc Rights - Jakarta 2015 xxvi/221 hlm; 17 x 24cm

(3)

B

uku ini ditulis berdasarkan hasil riset tentang dampak industri perkebunan sawit terhadap kondisi hak asasi manusia (HAM) di tiga kabupaten di Kalimantan Tengah. Kajian terhadap masalah perkebunan sawit dan hak asasi manusia berawal dari berbagai persoalan yang diangkat para warga komunitas adat dan transmigran dalam kelompok belajar hak asasi manusia yang diselenggarakan oleh The Institute for Ecosoc Rights (Institute Ecosoc) di beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah. Para warga yang tinggal di sekitar area perkebunan sawit menyampaikan berbagai perubahan hidup yang mereka alami sejak beroperasinya perkebunan sawit di kampung mereka. Kesaksian para warga ini mengonfirmasi tentang berbagai persoalan yang diangkat media nasional terkait perkebunan sawit. Sejak 2011 media nasional banyak melaporkan berbagai kasus konflik yang melibatkan korporasi perkebunan sawit di berbagai wilayah di Indonesia.

Kesaksian dari para warga komunitas di sekitar area perkebunan sawit dan terangkatnya kasus-kasus konflik di sentra industri perkebunan sawit di berbagai daerah di Indonesia, menggerakkan kami untuk mendalami wacana tanggung jawab korporasi dalam menghormati hak asasi manusia sebagaimana tertuang dalam UN Guiding Principles on Business and Human Rights (Panduan Prinsip PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia). Panduan tersebut memberikan indikator untuk menilai pelaksanaan tanggung jawab pemerintah dan korporasi terkait hak asasi manusia di sektor bisnis. Dengan menggunakan panduan tersebut, kami melakukan kajian atas dampak industri perkebunan sawit terhadap kondisi hak asasi manusia di Kalimantan Tengah dan sekaligus juga menilai pelaksanaan tanggung jawab pemerintah dan korporasi terhadap hak asasi manusia di sektor perkebunan sawit di Kalimantan Tengah.

(4)

te-lah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai pilot provinsi untuk upaya pengu-rangan deforestasi yang dilakukan pemerintah bersama masyarakat internasional melalui program REDD+ (REDD Plus). Selain itu, Kalimantan Tengah juga merupakan kawasan yang menjadi target investasi pengembangan industri per-kebunan sawit. Kalimantan Tengah juga dicatat sebagai salah satu daerah dengan intensitas konflik agraria dan sumberdaya alam tertinggi di antara provinsi di Indonesia.

Beberapa pihak telah sangat membantu dan memungkinkan riset ini di-lakukan. Kami berterima kasih pada Norwegian Centre for Human Rights (NCHR) yang memberikan dukungan finansial dan terlibat aktif sebagai pakar di bidang bisnis dan Hak Asasi Manusia. Dalam hal ini secara khusus kami berterima kasih kepada Aksel Tømte, staf NCHR untuk bidang bisnis dan Hak Asasi Manusia yang menjadi teman diskusi, memberikan tanggapan dan masukan selama perencanaan riset, pembahasan hasil, dan penulisan laporan.

Selama proses persiapan riset, khususnya dalam penentuan materi riset, pe milihan metodologi, penyusunan instrumen, dan penentuan arah penulisan laporan, kami sangat terbantu oleh kehadiran David Kinley, pakar di bidang bisnis dan hak asasi manusia. Di tengah kesibukannya, David menyediakan wak tu khusus untuk datang ke Kalimantan Tengah, membaca, mengritisi dan memberikan masukan yang sangat berharga bagi para peneliti. Untuk itu kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih sedalam-dalamnya pada beliau. Meski demikian, segenap kekurangan yang terdapat dalam laporan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami.

Riset ini dikerjakan bersama oleh para peneliti dari Institute Ecosoc, Lembaga Kebudayaan Dayak (LKD) dan Lembaga Justice, Peace and Integrated Creation (JPIC) SVD Kalimantan Tengah. Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan pada para peneliti dari ketiga lembaga: Andriani S Kusni, Kusni Sulang, Johanes Jenito, Dudik Warnadi, P. Prasetyohadi, dan Marianus Marchelus, atas kerja-kerja selama persiapan riset, pengumpulan data, hingga penulisan laporan. Laporan riset dikonsolidasikan dan disusun oleh Sri Palupi berdasarkan draft laporan riset dari tiga kabupaten dan juga provinsi yang ditulis oleh para peneliti.

(5)

Dewan Adat Dayak Kotawaringin Timur: Hamidhan J. Bring, H. Arifandi, M. Jaiz, Andi, Suriansyah, Safril, Sutikno, Hasan, dan segenap warga komunitas adat dan komunitas transmigran di kabupaten Barito Timur, Katingan, dan Kotawaringin Timur, yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Bantuan dan dukungan mereka membuat para peneliti bisa menjangkau para warga komunitas adat dan komunitas transmigran yang ada di pedalaman.

Terima kasih juga pada Arie Rompas, Direktur Walhi Kalimantan Tengah yang membantu menyampaikan pemetaan awal terkait problem perkebunan sawit dan perusahaan-perusahaan besar di Kalimantan Tengah.

Terima kasih sedalam-dalamnya juga kami sampaikan pada para nara-sumber dari komunitas adat, komunitas transmigran, buruh perkebunan, kepo-lisian, pemerintah kabupaten Barito Timur, kabupaten Katingan, kabupaten Ko-tawaringin Timur, pemerintah provinsi Kalimantan Tengah, dan para manajer pengelola perusahaan perkebunan sawit PT Sawit Graha Manunggal (SGM), PT Ketapang Subur Lestari (KSL), PT Karya Dewi Putra (KDP), PT Katingan Indah Utama (KIU), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi Kalimantan Tengah, Mitra Lingkungan Hidup, dan Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah. Seluruh informasi yang disampaikan para narasumber secara terbuka, secara diam-diam atau bahkan yang tidak disampaikan pada para peneliti karena berbagai alasan, memberikan pelajaran berharga bagi kami dalam mendalami persoalan bisnis dan hak asasi manusia.

Akhir kata, laporan ini kami persembahkan dengan penuh kecintaan pa-da komunitas apa-dat, komunitas transmigran, pa-dan para buruh perkebunan sawit di mana pun mereka berada. Berbagai persoalan yang mereka hadapi telah mengilhami dan mendorong kami untuk mendalami keterkaitan bisnis dan hak asasi manusia. Harapan kami, laporan ini dapat membantu berbagai pihak dalam mendorong dan mewujudkan penerapan parameter hak asasi manusia di sektor bisnis.

Jakarta, Oktober 2014

(6)

DAFTAR ISI

PRAKATA ...iii

DAFTAR TABEL ...ix

DAFTAR PETA ...ix

SINGKATAN ...x

AKRONIM ...xii

DAFTAR FOTO ...xiii

KATA PENGANTAR ...xxi

BAB 1 PENDAHULUAN ...1

1.1. Tujuan ...1

1.2. Metodologi ...3

1.2.1. Pemilihan lokasi ...3

1.2.2. Pemilihan responden ...4

1.2.3. Pengumpulan data ...4

1.2.4. Parameter ...5

1.2.5. Kesulitan dan Hambatan ...5

1.2.6. Ringkasan ...7

BAB 2 PROFIL PERUSAHAAN DAN POTRET KEHIDUPAN KOMUNITAS ...9

2.1. Pengantar: Sekilas Provinsi Kalteng...9

2.2. Potret Perusahaan Perkebunan Sawit ...17

2.2.1. PT Sawit Graha Manunggal (PT SGM) ...17

2.2.2. PT Ketapang Subur Lestari (PT KSL) ...19

2.2.3. PT Karya Dewi Putra (KDP) ...20

2.2.4. PT Katingan Indah Utama (KIU) ...26

2.3. Kehidupan Komunitas di Lingkar Perkebunan Sawit ...35

2.3.1. Komunitas Desa Sarapat ...44

2.3.2. Komunitas Desa Dayu ...55

2.3.3. Komunitas Transmigran Desa Luau Jawuk ...59

(7)

2.3.5. Komunitas Pinggir Sungai di Kabupaten Katingan 67

2.3.6. Komunitas Desa Mirah Kalanaman ...71

2.3.7. Komunitas Desa yang Bertahan dari Sawit ...74

2.3.8. Komunitas Buruh Perkebunan Sawit PT KDP ...80

2.3.9. Komunitas Desa Kabuau...86

BAB 3 DAMPAK PERKEBUNAN SAWIT TERHADAP HAK ASASI MANUSIA ...101

3.1. Parameter Hak Asasi Manusia ...101

3.2. Dampak Perkebunan Sawit ...105

terhadap Hak Asasi Manusia ...105

3.2.1. Terhadap Tanah dan Budaya ...105

3.2.2. Terhadap Hak atas Pekerjaan ...116

3.2.2.1. Hak yang Terkait dengan Pekerjaan ...118

3.2.2.2. Hak yang Diturunkan dari Pekerjaan ...121

3.2.2.3. Hak yang Berkaitan dengan Perlakuan ...131

yang Adil dan Tidak Diskriminatif ...131

3.2.2.4. Hak Instrumental ...132

3.2.3. Terhadap Hak atas Kesehatan, Pendidikan, ...133

dan Penghidupan yang Layak ...133

3.2.3.1. Hak atas Kesehatan ...133

3.2.3.2. Hak atas Pendidikan ...144

3.2.3.3. Hak atas Penghidupan yang Layak ...146

3.2.4. Terhadap Hak-Hak Sipil ...152

BAB 4 TANGGUNGJAWAB NEGARA DAN KORPORASI TERHADAP HAK ASASI MANUSIA ...163

4.1. Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Konteks Hukum Nasional ...163

4.2. Pelaksanaan Tanggung Jawab Negara ...181

4.2.1. Pelaksanaan Kewajiban untuk Melindungi ...181

4.2.2. Pelaksanaan Kewajiban untuk Pemulihan Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia ...191

(8)

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ...195 5.1. Kesimpulan ...195 5.2. Rekomendasi ...202

5.2.1. Untuk Pemerintah (Nasional, Provinsi,

dan Kabupaten) ...202 5.2.2. Untuk Perusahaan dan Organisasi

Perusahaan Sawit ...204 5.2.3. Untuk Organisasi Masyarakat Sipil

(NGO, Organisasi Mahasiswa, Akademisi) ...206

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Rekapitulasi Luas Areal dan Produksi

Tanaman Perkebunan --- 12

Tabel 2 Hak-Hak Sipil dan Politik yang Dijamin dan Dilindungi UU 12/2005 ---103

Tabel 3 Hak-Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang dijamin dan dilindungi UU 11/2005 ---104

Diagram 1 Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah --- 13

Diagram 2 Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di kabupaten Barito Timur --- 36

Diagram 3 Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di kabupaten Katingan --- 38

Diagram 4 Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di kabupaten Kotawaringin Timur --- 43

DAFTAR PETA

Peta 1 : Provinsi Kalimantan Tengah --- xvi

Peta 2 : Kabupaten Barito Timur --- xvii

Peta 3 : Kabupaten Katingan --- xviii

Peta 4 : Kabupaten Kotawaringin Timur --- ix

(10)

SINGKATAN

AEP : Anglo-Eastern Plantations

APBD : Anggaran Pendapatan Belanja Daerah APBN : Anggaran Pendapatan Belanja Negara

ATA : Archipelago Timur Abadi

BAP : Berita Acara Pemeriksaan

BHL : Bumi Hutan Lestari

BHL : Buruh Harian Lepas

BLH : Badan Lingkungan Hidup

BP DAS : Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai

BPK : Badan Pemeriksa Keuangan

BPKK : Badan Planologi Kementerian Kehutanan

BPN : Badan Pertanahan Nasional

BUM : Bangkit Usaha Mandiri

CAA : Cilliandry Anky Abadi

CPO : Crude Palm oil

CSR : Corporate Social Responsibility

DAS : Daerah Aliran Sungai

DPPKT : Dinas

DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

FGD : Focus Group Discussions

HBK JK : Kepesertaan Tenaga Kerja Jasa Konstruksi

HGU : Hak Guna Usaha

HK : Hari Kerja

HPH : Hak Pengelolaan Hutan

HPHH : Hak Pemungutan Hasil Hutan

HRD : Human Resources Department

ICESCR : International Covenant on Economic, Social, and Cultural Rights

ICCPR : International Covenant on Civil and Political Rights ILO : International Labor Organization

IPK : Izin Pemanfaatan Kayu

IPL : Izin Pembukaan Lahan

(11)

IUP : Izin Usaha Perkebunan

JPK : Jaminan Pemeliharaan Kesehatan

KBK : Kasongan Bumi kencana

KDP : Karya Dewi Putra

KIU : Katingan Indah Utama

KK : Kepala Keluarga

KLB : Kejadian Luar Biasa

Komnas HAM : Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

KPA : Konsorsium Pembaharuan Agraria

KPK : Komisi Pemberantasan Korupsi

KRS : Kalimantan Ria Sejahtera

KSL : Ketapang Subur Lestari

KUD : Koperasi Unit Desa

LOI : Letter of Intent

LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat

MCK : mandi, cuci, kakus

NGO : National Government Organization

NTB : Nusa Tenggara Barat

NTT : Nusa Tenggara Timur

OKB : Orang Kaya Baru

PAD : Pendapatan Asli Daerah

PBS : Perusahaan Besar Swasta

PDAM : Perusahaan Daerah Air Minum PDRB : Pendapatan Domestik Regional Bruto Pertek : Pertimbangan Teknik

PGA : Personalia General Affair

PKS : Pengolahan Kelapa Sawit

PMDN : Penanaman Modal Dalam Neger

PPKT : Profil Pertanian Kalimantan Tengah PT SGM : PT Sawit Graha Manunggal

PUP : Penilaian Usaha Perkebunan

RSPO : Roundtable of Sustainable Palm Oil

RSU : Rumah Sakit Umum

RTRWP : Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi

SKT : Surat Keterangan Tanah

SKTA : Surat Keterangan Tanah Adat

SKU : Syarat Kerja Umum

(12)

SOP : Standard Operating Procedure

SP2 : Satuan Pemukiman 2

SPI : Serikat Petani Indonesia

SSG : Sumber Surya Gemilang

TBS : Tandan Buah Segar

TGHK : Tata Guna Hutan Kawasan

THR : Tunjangan Hari Raya

UMP : Upah Minimum Provinsi

WUP : Wilayah Usaha Pertambangan

AKRONIM

amdal : analisis mengenai dampak lingkungan hidup Huma : Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum

berbasis Masyarakat dan Ekologis Walhi : Wahana Lingkungan Hidup raskin : beras untuk orang miskin

Kotim : Kotawaringin Timur Kalteng : Kalimantan Tengah

Jamsostek : Jaminan Sosial Tenaga Kerja Bartim : Barito Timur

Kepmen : Keputusan Menteri

(13)

DAFTAR FOTO

Foto 1 : Sungai Mentaya, Sampit, kabupaten

Kotawaringin Timur --- 10

Foto 2 : Sungai Katingan dan pengangkutan balok-balok kayu dari daerah hulu --- 10

Foto 3 & 4 : Salah satu area perkebunan sawit PT SGM --- 18

Foto 5 : Salah satu area perkebunan sawit sudah merambah bukit --- 20

Foto 6 : Salah satu area perkebunan sawit PT KDP di kecamatan Katingan Tengah --- 25

Foto 7 : Salah satu area perkebunan PT KIU yang berada di pinggir rawa --- 27

Foto 8 : Hasil panen sawit di salah satu area perkebunan sawit PT KIU --- 29

Foto 9 : Area kebun plasma PT KIU --- 31

Foto 10 : Limbah pabrik pengolahan sawit milik PT KIU di desa Kabuau, Parenggean, Kotawaringin Timur --- 34

Foto 11 : Limbah jonjong sawit PT KIU yang berserakan di sekitar desa Kabuau --- 34

Foto 12 : Surat pernyataan Damang --- 49

Foto 13 : Lokasi hutan adat desa Sarapat, Barito Timur --- 50

Foto 14 : Hutan adat Sarapat sebelum dibabat PT SGM --- 51

Foto 15 : Kondisi hutan adat Sarapat setelah dibabat PT SGM dan berubah menjadi perkebunan sawit --- 53

Foto 16 : Sungai Karusen di desa Dayu, Barito Timur --- 55

Foto 17 : Lahan kebun masyarakat sebelum diambil alih perusahaan sawit --- 56

Foto 18 : Lahan usaha 2 yang diambil alih perusahaan sawit --- 61

Foto 19 : Peta pembagian lahan 2 transmigrasi Luau Jawuk, Barito Timur --- 61

(14)

Luau Jawuk, Barito Timur --- 64

Foto 21 : Kampung transmigran di desa Lagan, Barito Timur --- 65

Foto 23 : Perkebunan sawit PT KSL di desa Lagan, Barito Timur --- 66

Foto 24 : Kondisi barak buruh PT KDP di Katingan --- 83

Foto 25 : Kondisi barak buruh PT KDP di Katingan --- 84

Foto 26 : Kabut debu di sepanjang jalan di area perkebunan sawit --- 87

Foto 27 : Bus sekolah untuk antar jemput anak-anak buruh PT KIU di Parenggean, Kotawaringin Timur --- 94

Foto 28 : Bus sekolah untuk antar jemput anak-anak --- 94

Foto 29 : Rumah rakit warga di desa Kabuau --- 95

Foto 30 : Pengelolaan limbah jonjong menjadi kompos yang menimbulkan bau tak sedap --- 98

Foto 31 : Limbah pabrik CPO milik perusahaan sawit di desa Kabuau yang meluber ke sungai saat musim penghujan --- 99

Foto 32 : Area pemakanan di desa Luau Jawuk yang diambil alih Perkebunan sawit. --- 110

Foto 33 : Buruh perkebunan sawit berstatus harian lepas yang meninggal karena sakit --- 120

Foto 34 : Sungai tempat mandi dan cuci masih jernih --- 135

Foto 35 : Sungai tercemar di desa Murutuwu, Barito Timur --- 136

Foto 36 : Penyakit kulit diderita anak buruh perusahaan sawit --- 138

Foto 37 : Kabut debu di jalanan di area perkebunan sawit --- 139

Foto 38 : Banjir di Kotawaringin Timur --- 140

Foto 39 : Pasak bumi, bahan obat tradisional --- 141

Foto 40 : Kebun sudah dibabat dan siap ditanami sawit --- 142

Foto 41 : Warga Pulau Patai, Barito Timur, yang belum terkena dampak perkebunan sawit --- 148

Foto 42 : Lahan sawah beririgasi teknis berubah menjadi perkebunan sawit --- 143

Foto 43 : Lahan pemakaman juga diambil alih perkebunan sawit --- 149

Foto 44 : Warga yang lahannya dirampas perusahaan sawit melakukan protes dengan menanam karet dan singkong --- 154

Foto 45 : Warga desa Dayu, Barito Timur, melawan pengambilalihan lahan masyarakat oleh perusahaan dengan “hinting” --- 157

(15)

Foto 47 : Ukaiman, orang tua Kintetman, salah satu penggerak

masyarakat desa Sarapat --- 161 Foto 48 : Eli sedang berbicara dalam diskusi bersama warga --- 213 Foto 49 : Pembibitan milik Eli di Karangmas --- 214 Foto 50 : Yandri dan kebun karetnya di desa Liku Batangkawa.

Lamandau --- 219

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)

P

ertalian antara bisnis dan hak asasi manusia merupakan fenomena mondial yang relatif baru. Di Indonesia fenomena tersebut dirasa sebagai hal yang lebih baru lagi. Tetapi pertalian bisnis dan hak asasi manusia merupakan isu yang tidak dapat diabaikan oleh negara mana pun, terlebih bagi suatu wilayah yang memiliki kepentingan dan potensi geo-politik yang sedemikian besar seperti Indonesia. Cepatnya kebangkitan Indonesia sebagai suatu unit ekonomi baru dan peranannya yang terus membesar sebagai pemimpin di kawasan sekitarnya, tidak hanya menghadapkan negara ini pada tekanan integrasi global yang terus meningkat, tetapi juga mengimplikasikan tanggung jawab dan ekspektasi yang berat. Meski demikian, tekanan, tanggung jawab, dan ekspektasi yang dihadapi Indonesia terkait integrasi global tersebut tidaklah lebih berat dari tanggung jawab yang dihadapi Indonesia untuk memastikan distribusi kekayaan dan man-faat pertumbuhan ekonomi bangsa secara lebih sepenuhnya dan lebih adil; untuk memenuhi janji-janji kemanusiaan yang adil dan beradab yang tertuang dalam Pancasila, dan karenanya akan mempertahankan keutuhan nasional. Singkatnya, bagaimana memastikan bahwa bisnis dan perdagangan benar-benar digunakan sebaik-baiknya sebagai sarana untuk menjamin hak asasi manusia dari masyarakat Indonesia. Dalam kerangka luas inilah penelitian tentang bisnis dan hak asasi manusia di sektor perkebunan kelapa sawit ini dilakukan.

(22)

keperluan ekspor, dan merupakan penghasil devisa paling penting bagi Indonesia di samping sektor ekstraktif. Industri sawit sangat penting bagi ekonomi negara karena peranannya dalam menyediakan lapangan pekerjaan, menjadi sumber pendapatan bagi jutaan warga Indonesia, dan menyediakan sumber penghasilan vital bagi pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Semua itu dimungkinkan karena industri kelapa sawit bersifat sangat eks-pansif, tumbuh dengan kecepatan tinggi, mengambilalih dan membuka areal tanah yang sangat luas, dan kemudian menanam serta membudidayakan tanaman ini secepat-cepatnya. Maka perubahan yang ditimbulkan industri ini di Kalimantan dan Sumatra sangatlah dramatis. Begitulah, di Kalimantan Tengah (di mana penelitian ini dilakukan), kelapa sawit menggantikan nyaris semua usaha komersial yang lain, sehingga secara efektif mengubahnya menjadi ekonomi komoditi-tunggal ( mono-crop economy). Hal ini berdampak telak pada keadaan sosial, lingkungan, ekonomi dan politik.

Nyaris dalam semua hal, dampak hak asasi manusia yang ditimbulkan bersifat signifikan, bahkan jika tak diakui sekali pun. Salah satu sumbangan paling berharga yang diberikan The Institute for Ecosoc Rights dalam melakukan penelitian ini dan dalam menerbitkan buku ini adalah membuat kita tahu apa saja dampak-dampak yang ditimbulkan oleh perkebunan-perkebunan kelapa sawit dan mengapa dampak-dampak itu penting kita ketahui. Basis empiris merupakan kekuatan dari penelitian ini. Kekayaan data yang dikumpulkan para peneliti dari semua aktor kunci di lapangan —para pejabat pemerintah, perusahaan-perusahaan dan komunitas-komunitas masyarakat yang terkena dampak— menyediakan bukti melimpah yang menjadi dasar para penulis dalam merumuskan pendapat dan menarik kesimpulan. Metodologi yang diterapkan dalam penelitian ini tepat dan mengesankan. Penelitian ini juga unik. Di Indonesia hanya sedikit telaah yang sedemikian mendalam tentang dampak hak asasi manusia dari sektor bisnis tertentu, dan di antara yang sedikit itu tak satu pun yang menggunakan Prinsip Panduan PBB dalam Bisnis dan Hak Asasi Manusia (2011) yang (relatif) masih baru sebagai indikator dalam pengukuran dan analisis.

(23)

terkait dengan hak atas air); akses pelayanan kesehatan dan fasilitas pendidikan; hak ekonomi (livelihood) untuk warga yang terkena dampak dari hilangnya habitat atau rusaknya lingkungan terkait tanah dan atau sungai-sungai dan aliran air yang lain (waterways); dan juga hak mendapatkan keselamatan fisik (karena terancam oleh meluasnya penggunaan tak sah dari para preman). Pelanggaran-pelanggaran ini terjadi di area-area lokasi penelitian dan berdampak terhadap para transmigran dan komunitas asli warga Dayak. Pada dirinya sendiri makna dari daftar pelanggaran yang sifatnya sudah mengkhawatirkan ini sangat penting bagi pemegang wewenang pemerintahan dan perusahaan-perusahaan kelapa sawit karena pelanggaran-pelanggaran tersebut menunjukkan kegagalan beberapa dan kegagalan “berjamaah” (joint failures) dalam memenuhi tanggung jawab masing-masing terhadap hak asasi manusia, baik pemerintah maupun perusahaan sawit. Tetapi apa yang jelas-jelas bersifat signifikan sebagaimana tampak pada dampak-dampak dari pelanggaran hak asasi manusia yang terungkap adalah identifikasi penyebabnya. Prospek mendapatkan keuntungan finansial yang memotivasi pilihan tindakan perusahaan dan pemerintah, seperti dijelaskan dalam laporan ini, sedemikian kuatnya sehingga dampak-dampak negatif dari praktik perusahaan sawit terhadap hak asasi manusia tidak dipedulikan, atau tidak dipandang sebagai bukti yang cukup untuk melakukan perubahan signifikan dalam perilaku.

(24)

dari kewajiban-kewajiban negara yang telah mereka setujui (seperti halnya telah dilakukan oleh Indonesia) terhadap berbagai hukum internasional hak asasi manusia —yaitu bahwa negara-negara wajib memasukkan dan melak sanakan kewajiban-kewajiban itu di dalam hukum nasional, baik terhadap para aktor pemerintahan maupun aktor swasta.

Jadi, di mana terjadi pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia karena konsekuensi dari praktik bisnis korporasi, seperti didokumentasikan dalam la-poran ini, kewajiban menjalankan hak asasi manusia (harus) ditanggung bersama antara negara dan perusahaan-perusahaan yang bersangkutan. Begitu juga dalam hal tanggung jawab menyediakan pemulihan atas dampak dari pelanggaran hak asasi manusia. Di mana perusahaan-perusahaan melanggar hukum-hukum yang berlaku, maka negara berkewajiban untuk mengambil tindakan menangkap dan menghukum perusahaan-perusahaan itu, dan di mana belum ada hukum terkait atau ketika hukum yang ada tidak memadai, maka negara bertanggung ja wab untuk memperbaiki atau memberlakukan hukum-hukum yang sesuai untuk melindungi hak-hak asasi manusia. Dalam kasus apa pun, bahkan ketika rejim hukum positif (hard-law) yang diperlukan itu ternyata tidak hadir, maka perusahaan diharapkan mematuhi standar hukum lunak (soft-law) yang relevan (entah pada tingkat nasional, di dalam perusahaan sendiri, atau bahkan kode etik perilaku perusahaan, seperti prinsip-prinsip RSPO atau program REDD, seperti telah dijadikan sebagai program pilot di Kalimantan Tengah) dengan maksud untuk melindungi standar internasional yang relevan terkait hak asasi manusia.

Kekuatan besar lain dari laporan penelitian ini adalah bahwa presentasi data dalam laporan ini terpastikan dan meyakinkan, dalam bentuk, baik tanggung jawab hukum maupun non-hukum dari negara dan perusahaan-perusahaan kelapa sawit terhadap orang-perorangan dan komunitas-komunitas di Kalimantan Tengah. Karenanya, laporan ini dapat menjadi suatu model (template) bagi pemerintah (baik tingkat nasional maupun daerah) dan perusahaan-perusahaan tentang bagaimana dan mengapa mereka harus menindak dan melakukan pemulihan atas dampak pelanggaran hak asasi manusia akibat praktik bisnis perkebunan sawit. Dan yang lebih penting lagi, pada saat yang sama, Laporan ini juga menyampaikan argumen persuasif bahwa korporasi perkebunan sawit dapat membagikan manfaat ekonomi dan sosial secara lebih luas dan lebih adil bagi Indonesia dan masyarakatnya.

(25)

dari data dan analisis tersebut. Karenanya saya dapat mengatakan dengan yakin, harapan-harapan yang diungkapkan para penulis Laporan ini, yaitu bahwa Laporan ini “akan memperkuat diskursus tentang tanggung jawab hak asasi manusia dari para aktor non-negara (dan juga aktor-aktor negara)”, dan karenanya “membantu mewujudkan penerapan standar hak asasi manusia dalam sektor bisnis secara luas”, tidak hanya benar sepenuhnya tetapi juga sudah saatnya dan sangat ditunggu.

Oktober 2014

Profesor David Kinley

(26)
(27)

PENDAHULUAN

1.1. Tujuan

B

erbicara tentang hak asasi manusia pertama-tama adalah berbicara ten-tang peran dan ten-tanggung jawab negara. Negara adalah pihak yang me-miliki kuasa untuk mengatur individu dan masyarakat. Pada negara me lekat kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi. Namun wacana tentang hak asasi manusia terus berkembang. Negara kini tidak lagi dilihat sebagai satu-satunya aktor yang mengemban kewajiban di bidang hak asasi. Ada aktor di luar negara yang semakin besar pengaruhnya bagi kehi-dupan individu dan masyarakat. Salah satunya adalah korporasi. Kekuasaan korporasi yang semakin besar dapat mempengaruhi negara dalam menjalankan kewajibannya di bidang hak asasi, terlebih di era liberalisasi ekonomi. Karenanya korporasi dapat dituntut untuk bertanggung jawab – baik terhadap hukum na-sional maupun hukum hak asasi internana-sional. Kewajiban korporasi terhadap hak asasi ini telah dimuat dalam Prinsip-Prinsip Panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia (UN Guiding Principle on Business and Human Rights). Dalam hal ini korporasi mengemban tanggung jawab untuk menghormati hak asasi manusia.

Liberalisasi ekonomi membuat praktik bisnis oleh korporasi – baik lokal, nasional, maupun internasional – memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap kehidupan individu dan masyarakat. Semakin besarnya kekuasaan korporasi telah berdampak – langsung atau tidak langsung – terhadap penyelenggaraan kekuasaan negara di bidang hak asasi. Salah satu sektor bisnis yang memiliki peran penting bagi ekonomi Indonesia dan karenanya memiliki kontribusi dalam pelaksanaan hak asasi di Indonesia adalah bisnis perkebunan sawit.

(28)

9,4 juta hektar pada 2011. Luasan ini diperkirakan mendekati 10 juta hektar pada Maret 2012. Dua puluh tahun lalu, perkebunan sawit masih sangat kecil dan hanya terkonsentrasi di wilayah Sumatera Utara. Kemudian perkebunan sawit meluas dan memadati seluruh pantai timur, sedikit pantai barat Sumatera, Kalimantan (terutama di bagian barat, tengah, dan sepanjang perbatasan dengan Malaysia Timur), Sulawesi (barat dan tengah), serta belakangan di bagian selatan Papua (lih Limbung 2012).

Sebagai produsen sawit terbesar di dunia dan eksportir sawit terbesar nomor dua dunia setelah Malaysia, Indonesia menempatkan sawit sebagai komoditi penting yang memberikan kontribusi signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Meningkatnya permintaan dunia akan kelapa sawit mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan penyediaan lahan bagi industri perkebunan sawit. Ini didorong oleh semakin bertambahnya pelaku usaha dan investasi dalam bisnis perkebunan sawit.

Salah satu konsekuensi dari meluasnya industri perkebunan sawit di Indonesia adalah meningkatnya konflik agraria dan konflik sumberdaya alam. Beberapa organisasi masyarakat sipil, seperti Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis (Huma), Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), dan Serikat Petani Indonesia (SPI) mencatat bahwa korporasi perkebunan sawit merupakan penyumbang terbesar konflik agraria dan sumberdaya alam di Indonesia. Dalam catatan Huma, misalnya, Kalimantan Tengah merupakan daerah dengan intensitas konflik tertinggi.

Konflik agraria dan konflik sumberdaya alam terjadi karena berbagai faktor. Selain dipicu oleh perluasan industri perkebunan sawit, konflik juga terjadi karena hak masyarat adat atas tanah tidak diakui negara secara memadai. Sementara proses perizinan di sektor eksploitasi sumberdaya alam tidak terkendali dan negara sering gagal dalam mengatur korporasi, melindungi hak warga dan gagal pula dalam menghormati hak asasi manusia. Negara lebih banyak berpihak pada pemodal. Bisa dipahami apabila perluasan industri perkebunan sawit ini kemudian menimbulkan berbagai persoalan, salah satunya adalah konflik dan pelanggaran hak asasi manusia.

(29)

1. Mengetahui dampak praktik bisnis perkebunan sawit terhadap kondisi hak asasi manusia di tingkat individu dan komunitas.

2. Mengetahui pelaksanaan tanggung jawab korporasi perkebunan sawit ter-hadap hak asasi manusia

3. Mengetahui pelaksanaan tanggung jawab negara terhadap hak asasi manusia dalam kaitannya dengan praktik bisnis perkebunan sawit 4. Mengidentifikasi penyelesaian-penyelesaian alternatif yang digagas dan

dilakukan warga dan pemerintah serta perusahaan dalam mengurangi pelang-garan hak asasi manusia dan pemulihannya

5. Merekomendasikan upaya-upaya dan skema-skema alternatif penyele-saian dan pemulihan dari dampak pelanggaran hak asasi manusia akibat praktik bisnis perkebunan sawit dan skema pengelolaan sumber daya alam berbasis hak asasi manusia sebagai upaya pencegahan

1.2. Metodologi

1.2.1. Pemilihan lokasi

Riset dilakukan di tiga kabupaten, yaitu kabupaten Kotawaringin Timur, kabupaten Katingan, dan kabupaten Barito Timur. Ketiga kabupaten tersebut sengaja dipilih dengan pertimbangan berikut:

1. Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan salah satu kabupaten yang paling banyak terdapat perusahaan perkebunan sawit bermodal besar dan juga yang paling banyak mengalami konflik agraria dan sumberdaya alam

2. Kabupaten Katingan merupakan kabupaten yang masuk dalam kategori daerah konservasi dan yang paling sedikit kehadiran perkebunan sawit skala besar

3. Kabupaten Barito Timur merupakan salah satu kabupaten dengan angka kemiskinan tertinggi, salah satu lumbung padi di Kalimantan Tengah, kaya dengan tambang, dan relatif paling baru dalam mengenal perkebunan sawit

(30)

perkebunan sawit diharapkan juga dapat memotret beragam bentuk pelaksanaan tanggung jawab korporasi perkebunan sawit dan pemerintah daerah terhadap pelaksanaan hak asasi manusia.

1.2.2. Pemilihan responden

Responden dipilih secara sengaja, terdiri dari:

1. Individu anggota komunitas adat dan komunitas transmigran yang berada di sekitar area perkebunan sawit, baik yang mengalami masalah maupun yang tidak mengalami masalah dengan pihak perusahaan sawit

2. Individu yang bekerja sebagai buruh perkebunan sawit

3. Komunitas adat dan komunitas transmigran yang berada di sekitar area perkebunan sawit

4. Manajer kantor dan manajer kebun, termasuk aparat keamanan perusahaan 5. Pejabat pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten terpilih,

yang terkait secara langsung dan tidak langsung dengan industri perkebunan sawit

Perusahaan sawit dipilih secara sengaja berdasarkan kriteria: 1. Perusahaan sawit anggota RSPO dan non-anggota RSPO 2. Perusahaan sawit yang beroperasi relatif lama dan relatif baru

3. Perusahaan sawit dengan skala usaha relatif besar dan sudah beroperasi relatif lama

Dengan memilih perusahaan sawit yang memiliki perbedaan karakter diharapkan dapat dipotret keragaman dampak perkebunan sawit terhadap hak asasi manusia.

1.2.3. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa pendekatan berikut: 1. Diskusi kelompok terfokus (FGD) dengan komunitas adat dan

komunitas transmigran yang tinggal di sekitar perkebunan sawit 2. Wawancara terbuka dengan warga komunitas adat, warga komunitas

transmigran dan buruh perkebunan sawit

(31)

4. Wawancara terbuka dengan pejabat pemerintah daerah di tingkat provinsi dan kabupaten, yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan praktik bisnis perkebunan sawit

5. Pengamatan

6. Analisa data sekunder

1.2.4. Parameter

Penilaian terhadap dampak perkebunan sawit terhadap hak asasi dilakukan dengan menggunakan parameter berikut.

1. Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya 2. Kovenan Hak Sipil Politik

3. Konvensi ILO

4. Hukum nasional yang terkait dengan pengaturan terhadap industri perkebunan sawit, yang mencakup: 1) Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2) Undang-Undang Nomor 18 tahun 2004 tentang Perkebunan, 3) Undang-Undang Nomor Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan 5. Prinsip-prinsip panduan PBB tentang Bisnis dan Hak Asasi Manusia

(UN Guiding Principle on Business and Human Rights)

6. Prinsip dan Kriteria RSPO untuk Produksi Minyak Sawit Berkelanjutan Penilaian atas dampak perkebunan sawit terhadap hak asasi manusia di-fokuskan pada hak-hak berikut:

1. Lahan dan hak atas budaya

2. Hak buruh, yang mencakup upah, kondisi kerja, berserikat, dan jaminan sosial

3. Kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang layak – mencakup air, pangan, tempat tinggal, sanitasi, dan lainnya

4. Hak sipil, mencakup berekspresi, rasa aman, bebas dari diskriminasi, dan partisipasi

1.2.5. Kesulitan dan Hambatan

(32)

bersedia untuk diwawancarai. Ada yang sama sekali tidak merespon permintaan wawancara yang beberapa kali diajukan. Ada juga yang hanya bersedia menjawab pertanyaan secara tertulis. Tentu ini menyulitkan peneliti untuk mendapatkan konfirmasi lebih lanjut atas informasi yang disampaikan pihak korporasi dan masyarakat. Sementara pihak korporasi yang bersedia untuk diwawancara secara tatap muka, tidak memberikan kesempatan pada peneliti untuk mewawancarai pihak manajemen yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan. Pihak korporasi hanya mengizinkan peneliti mewawancarai staf di bidang humas. Akibatnya, ada pertanyaan penting terkait keputusan korporasi terkait hak asasi manusia tidak mendapatkan jawaban.

Kedua, kendala untuk mendapatkan informasi dari pihak buruh perkebunan sawit dan masyarakat di lingkar perkebunan sawit. Wawancara dengan buruh atas izin resmi dari pihak korporasi tidak dapat dilakukan karena tidak ada izin dari pihak korporasi. Perusahaan hanya memberikan kesempatan peneliti untuk mewawan-carai buruh dengan didampingi pihak perusahaan. Selain wawancara dengan dihadiri pihak perusahaan, wawancara terhadap para buruh perkebunan juga dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan pihak perusahaan. Ada ketakutan dari para buruh untuk berbicara secara terbuka dengan pihak luar. Mereka takut akan mendapatkan masalah dari pihak perusahaan. Akibatnya, informasi terkait kondisi buruh yang tinggal di area perkebunan sawit sangat terbatas. Sementara wawancara dengan warga komunitas adat juga tidak terlepas dari kendala. Kondisi konflik antarwarga, antara warga dengan pemerintah lokal, dan warga dengan perusahaan menciptakan kondisi ketidaknyamanan dan ketidakbebasan warga untuk berbicara dengan orang luar terkait perkebunan sawit. Bahkan ada komunitas dan warga yang menolak berdiskusi dan diwawancarai di desa mereka. Mereka meminta diskusi dan wawancara dilakukan di luar desa. Mereka khawatir dengan kehadiran para ‘preman’ perusahaan yang akan meneror mereka bila mereka kedapatan berbicara tentang perusahaan sawit pada orang luar.

Ketiga, kendala kurang terbukanya pihak pemerintah kabupaten. Pihak pemerintah kabupaten – khususnya para pejabat di dinas yang urusannya terkait langsung dengan perkebunan sawit cenderung kurang terbuka dalam memberikan informasi dan dokumen yang diperlukan. Informasi terkait kebijakan pemerintah kabupaten dalam hal pemberian izin – termasuk amdal, penanganan konflik dan berbagai masalah lain terkait dengan keberadaan perkebunan sawit tidak bisa diperoleh secara lengkap.

(33)

Lokasi pemukiman warga komunitas adat dan komunitas transmigran yang berada di sekitar area perkebunan sawit sangat jauh dari jalan utama. Tidak ada sarana transportasi, jalanan sangat rusak dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Motor masih bisa digunakan di saat musim kering. Di saat hujan, tidak ada lagi cara untuk menjangkau pemukiman-pemukiman itu selain berjalan kaki. Di lokasi tertentu, seperti di kabupaten Katingan, beberapa pemukiman hanya bisa dijangkau melalui jalan sungai yang panjang dan beresiko. Kondisi ini membuat pengumpulan data membutuhkan waktu yang cukup panjang.

1.2.6. Ringkasan

Hasil studi menunjukkan bahwa praktik bisnis di sektor perkebunan sawit di wilayah Kalimantan Tengah membawa perubahan signifikan bagi kehidupan individu dan komunitas. Keberadaan industri perkebunan sawit telah memperburuk kualitas hidup warga dan komunitas. Warga dan masyarakat – baik masyarakat adat maupun masyarakat transmigran mengalami pelanggaran hak asasi, baik hak ekonomi, sosial, budaya maupun hak sipil.

Bisnis perkebunan sawit dijalankan dengan mengabaikan hak-hak warga dan komunitas. Pengabaian hak warga ini sudah terjadi sejak pengurusan izin. Perusahaan sudah beroperasi meskipun belum mengantongi semua perizinan yang dipersyaratkan. Perusahaan tidak mematuhi ketentuan dan tidak menjalankan kewajiban yang diman-datkan dalam undang-undang yang terkait langsung dengan industri perkebunan sawit, yaitu Undang-Undang tentang Perkebunan, Undang-Undang tentang Kehutanan, Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan.

Ketika terjadi pelanggaran hak asasi manusia yang melibatkan perkebunan sawit, pihak korporasi juga tidak menyediakan mekanisme pengaduan, penyelesaian dan pemulihan, termasuk ganti rugi yang adil bagi para korban. Terkait dengan hak pekerja, korporasi perkebunan sawit cenderung menerapkan sistem hubungan kerja longgar dan pengupahan berbasis kerja paksa: upah rendah, penerapan sistem target, beban kerja dan resiko kerja tinggi tanpa jaminan sosial, dan pengawasan ketat.

(34)

industri perkebunan sawit pemerintah telah membuat aturan atau hukum, di antaranya adalah Undang-Undang tentang Perkebunan, Undang-Undang tentang Kehutanan, dan Undang-Undang tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun undang-undang tersebut tidak memadai dalam mengakui hak-hak warga dan komunitas. Selain sangat minim dalam menjamin hak warga dan komunitas, undang-undang tersebut juga tidak mengatur tentang sanksi bagi pihak ketiga yang melanggar hak-hak warga dan komunitas. Kondisi ini semakin diperburuk oleh rendahnya komitmen pemerintah dalam menjalankan kewajiban yang dimandatkan undang-undang, di antaranya adalah: 1) membuat perencanaan perkebunan-kehutanan-lingkungan hidup, 2) membuat peraturan tentang tata ruang yang secara efektif menjamin hak dan wilayah kelola masyarakat, 3) melaksanakan sepenuhnya sistem perizinan, 4) melaksanakan pengawasan terhadap perkebunan sawit yang sudah beroperasi dan penyelidikan terhadap perusahaan yang melakukan pelanggaran, 5) melaksanakan penegakan hukum. Ketika terjadi pelanggaran hak asasi manusia, pemerintah cenderung membiarkan dan terkesan saling melempar tanggung jawab. Tidak ada mekanisme pengaduan dan penyelesaian efektif terkait pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran hak-hak warga yang dijamin dalam hukum nasional, tidak ada mekanisme pemulihan dan kompensasi bagi korban, dan juga tidak tersedia akses bagi korban untuk mendapatkan penyelesaian yang adil, baik melalui jalur pengadilan maupun di luar pengadilan.

(35)

PROFIL PERUSAHAAN DAN POTRET

KEHIDUPAN KOMUNITAS

2.1. Pengantar: Sekilas Provinsi Kalteng

K

alimantan Tengah (Kalteng) dengan luas 153.564 hektar kilometer persegi atau 15.356.800 hektar merupakan provinsi terluas ketiga setelah Papua dan Kalimantan Timur. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 2010, wilayah Kalimantan Tengah dihuni oleh 2.212.089 orang dan 572.849 kepala keluarga (KK). Dengan luasan tersebut, Kalimantan Tengah yang beribukota di Palangkaraya ini terbagi dalam 14 kabupaten atau kota, 125 kecamatan, dan 1511 desa atau kelurahan. Mayoritas desa (53 persen) berada di daerah aliran sungai (lih KTDA 2011). Sungai merupakan jantung kehidupan bagi warga dan masyarakat Kalimantan Tengah.

Terdapat 11 sungai besar dan ribuan lebih sungai kecil beserta kanal-kanal, yang sebagian besar dapat dilayari. Sungai-sungai ini merupakan sumber tenaga listrik, sumber air bagi pertanian, sarana transportasi, sumber air minum, area pariwisata, dan lainnya. Sungai besar dan kecil ini juga menjadi habitat sekitar 270 spesies ikan air tawar, 92 di antaranya merupakan jenis ikan hias dan selebihnya adalah ikan yang dapat dikonsumsi (Palangka Pos 27/4/2010). Namun kini Ham-pir semua Daerah Aliran Sungai di wilayah Kalimantan Tengah mengalami ke-rusakan dan pencemaran berat. Sumber utama pencemaran berasal dari limbah perusahaan sawit, perusahaan tambang, limbah domestik, dan limbah organik (Kalteng Pos 19/4/2010).

(36)

Foto 1 : Sungai Mentaya, Sampit, kabupaten Kotawaringin Timur

(37)

Tengah dibagi dalam dua kawasan, yaitu kawasan hutan lindung seluas 15 persen dan kawasan budidaya seluas 85 persen.* Sedikitnya 30 persen lahan di Kalimantan adalah lahan gambut (lih PPKT 2007), yang beresiko bila dijadikan sebagai lahan perkebunan sawit. La han gambut dan hutan tropis di Kalimantan Tengah merupakan kawasan pen cegah banjir, pengatur tata air, dan penyeimbang keberagaman ekosistem.

Pada tahun 2010 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk provinsi Kalimantan Tengah untuk menjadi pilot provinsi REDD+ (REDD plus) ber da-sar kan salah satu klausul Letter of Intent (LOI) antara Pemerintah Norwegia dan Indonesia yang ditandatangani pada tahun 2010. Ini dimaksudkan untuk me-nurunkan emisi dari sektor deforestasi dan degradasi hutan dan penggunaan la han sebagai salah satu sumber gas rumah kaca. Kalimantan Tengah sendiri me rupakan provinsi dengan angka deforestasi tertinggi di Indonesia. Angka deforestasi di Kalimantan Tengah pada periode 2006-2009 mencapai 128.648 hektar per tahun (lih Badan Planologi Kementerian Kehutanan 2011 dlm Walhi 2013).

Untuk menurunkan tingkatan deforestasi tersebut, Gubernur Kalimantan Tengah telah mengumumkan bahwa Kalimantan Tengah telah melakukan kebijakan moratorium. Moratorium dibuat Gubernur untuk mengatasi persoalan tumpang tindih dalam perizinan. Dalam hal ini moratorium diberlakukan bagi delapan kabupaten di Kalimantan Tengah untuk pertambangan, perkebunan, pelabuhan khusus, dan lainnya sejak Maret 2012. Delapan kabupaten itu adalah: Barito Selatan, Barito Timur, Murung Raya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kapuas, Pulang Pisau dan Barito Utara. Dengan moratorium ini diharapkan pemerintah kabupaten melakukan audit terhadap semua perizinan yang ada.

Dalam kenyataannya Walhi Kalimantan Tengah mencatat, meskipun kebijakan moratorium telah dikeluarkan namun pembukaan hutan di wilayah Kalimantan Tengah masih terus dilakukan dan izin bagi korporasi untuk membuka hutan masih terus dikeluarkan oleh bupati. Bahkan Gubernur Kalimantan Tengah sendiri juga menerbitkan rekomendasi pelepasan kawasan hutan di wilayah moratorium dan lahan gambut. Sementara Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam mencatat, sampai tahun 2010 di Kalimantan Tengah ada 960 ribu hektar kawasan hutan bermasalah, yang berubah fungsi menjadi kawasan non-hutan tanpa ada izin pelepasan (Kalteng Pos 24/3/2010).

Kekayaan alam yang ada di Kalimantan Tengahd iakui telah memberikan

(38)

kontribusi bagi perekonomian Kalimantan Tengah. Kekayaan alam ini yang membuat Kalimantan Tengah diminati para investor. Sepanjang tahun 2008, misalnya, Badan Penanaman Modal Daerah mencatat nilai investasi yang masuk ke Kalimantan Tengahmencapai sekitar Rp 6,2 triliun, di mana sebagian besar (70 persen) adalah modal asing (Kalimantan Pos, 6/2/2009). Tidak heran bila ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh di atas rata-rata nasional (lih Tabengan 6/4/2010). Dalam hal ini sektor pertanian –yang mencakup pertanian, perkebunan, pe-ter nakan, perikanan, dan kehutanan merupakan sektor unggulan yang sangat penting peranannya dalam menggerakkan perekonomian daerah.

Sektor pertanian secara nyata telah memberikan kontribusi hampir 40 persen pada Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), mampu menyerap tenaga kerja hingga 60 persen, menyediakan bahan pangan dan bahan baku industri serta penyumbang devisa (lih PPKT 2007). Jika sektor pertanian tersebut dipilah-pilah menjadi lima subsektor, yaitu subsektor pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan, maka kontribusi terbesar disumbangkan oleh subsektor perkebunan, khususnya perkebunan sawit dan karet. Gubernur Kalimantan Tengah, Teras Narang, menyebut usaha perkebunan sebagai pengungkit (leverage) dan penggerak utama pertumbuhan ekonomi provinsi Kalimantan Tengah. Bisa dipahami kalau luasan lahan yang diperuntukkan untuk usaha perkebunan meningkat cepat dari tahun ke tahun.

Tabel 1

Rekapitulasi Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan

Komoditi/ Pelaku usaha

Tahun 1998 Tahun 2008 Tahun 2011

Luas

(39)

dengan pertambahan luasan rata-rata 7.235 hektar per tahun. Perkebunan sawit tersebar di 14 kabupaten atau kota dan luas areal terbesar ada di kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dengan luas sebesar 33,92 persen dari total areal kelapa sawit provinsi. Peringkat kedua dan ketiga, yaitu kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan (lih PPKT 2007). Pemerintah provinsi Kalimantan Tengah sendiri mencadangkan lahan seluas empat juta hektar lebih untuk pengembangan perkebunan. Dari luasan ini, yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 23,45 persen. Ada 496 unit usaha perkebunan besar di Kalimantan Tengah dan 300 unit di antaranya sudah beroperasi dengan luas area sekitar 1,7 juta hektar. Sementara 196 unit perkebunan besar lainnya dengan luas area sekitar 2,8 juta hektar belum memulai kegiatan investasi (lih Narang, Teras 2007). Dari sekian banyak perusahaan sawit yang sudah beroperasi, Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah mencatat, per Desember 2012 hanya 85 perusahaan yang perizinannya memenuhi kriteria clear and clean.

Berikut adalah diagram perkembangan luasan perkebunan sawit di provinsi Kalimantan Tengah.

Diagram 1

Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah

(40)

Sensus Pertanian tahun 2006 menunjukkan, hampir 52,26 persen penduduk Kalimantan Tengah menanam karet. Dengan maraknya investasi di sektor perkebunan sawit, lahan untuk tanaman karet mulai banyak berkurang dan berganti menjadi lahan sawit.

Korporasi perkebunan sawit mulai beroperasi di Kalimantan Tengah tahun 1992. Sejak itu, luasan area untuk perkebunan sawit semakin meningkat. Dengan dibuatnya Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 1993 tentang Tata Ruang Kalimantan Tengah, investor perusahaan sawit mendapatkan kemudahan untuk berinvestasi di wilayah Kalimantan Tengah Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah 2009. Perluasan area tanam kelapa sawit dilakukan secara besar-besaran setiap tahun dan cenderung tanpa kendali, baik dengan mengonversi lahan hutan maupun lahan pertanian. Bahkan izin untuk perkebunan sawit juga diberikan di kawasan lahan gambut dengan kedalaman tiga meter. Tidak heran apabila Kalimantan Tengah berada di urutan ke-4 provinsi terluas perkebunannya setelah Riau, Sumatera Utara, dan Jambi. Bahkan sekarang Kalimantan Tengah diprediksi sudah bergeser posisinya dan berada di urutan ke-3 provinsi dengan perkebunan terluas di Indonesia (Republika 12/12/2011).

Pemberian izin yang tidak terkendali jelas terlihat dari luas izin yang dike-luarkan sejumlah kabupaten untuk perusahaan perkebunan dan pertambangan yang tidak wajar. Sebab luasan izin yang diberikan untuk perusahaan perkebunan dan pertambangan hampir menyamai luasan kabupaten. Bahkan ada dua kabupaten yang mengeluarkan izin melebihi luas kabupaten itu sendiri, yaitu kabupaten Ba-rito Utara dan kabupaten Kapuas. Kabupaten BaBa-rito Utara dengan total izin seluas 1.452.468 hektar, sementara luas kabupaten hanya 830.000 hektar. Kabu paten Kapuas total luas izin 1.761.579 hektar sementara luas wilayahnya hanya 1.499.900 hektar. Kabupaten lain, total luas izinnya hampir menyamai luas kabupaten. Kabupaten Gunung Mas, misalnya, total luas izin 996.251 hektar dengan luas wilayah 1.080.400 hektar. Kabupaten Barito Timur total izin 359.043 hektar dengan luas wilayah 383.400 hektar. Kabupaten Lamandau total izin seluas 530.526 hektar dengan luas wilayah 641.400 hektar (Palangka Pos 1/6/2011).

Investasi di sektor perkebunan sawit yang meningkat cepat punya andil besar dalam menciptakan perubahan drastis di Kalimantan Tengah dalam berbagai dimensinya. Perubahan yang paling jelas terlihat adalah perubahan lanskap alam dari hutan hujan tropis lebat dan rimbun menjadi suatu lanskap tunggal yang didominasi oleh sawit. Padahal dulu 80 persen wilayah Kalimantan Tengah didominasi hutan (lih Sekda Kalteng 2012).

(41)

tujuh juta hektar lebih. Data Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Kahayan, dari luas hutan Kalimantan Tengah yang tersisa saat ini, sekitar 7,27 juta mengalami kerusakan, dengan laju kerusakan mencapai 150.000 hektar per tahun (Kalimantan Pos 27/4/2010).

Dalam dimensi sosial, Kalimantan Tengah kini juga telah berubah menjadi daerah rawan konflik. Muncul beragam konflik yang melibatkan korporasi, khususnya korporasi perkebunan sawit. Tim Pencegahan dan Penyelesaian Seng-keta Tanah atau Lahan di Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, per Desember 2012 terdapat 278 kasus konflik lahan di wilayah provinsi Kalimantan Tengah, mayoritas terkait dengan perusahaan perkebunan (lih Zakaria tt). Sementara Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, per Ma ret 2013 terdapat 118 kasus konflik yang tersebar di 14 kabupaten kota dan melibatkan korporasi perkebunan. Mayoritas konflik (70,3 persen) terkait dengan perampasan lahan dan ganti rugi. Meningkatnya investasi di industri perkebunan sawit meningkatkan intensitas konflik. Konflik tidak hanya terjadi antara warga dengan perusahaan atau warga dengan pemerintah daerah, tetapi juga antarwarga dan antar anggota keluarga serta antar perusahaan.

Konversi kawasan hutan sebagai daerah resapan air dan penyangga eko-sistem menjadi area perkebunan sawit mengubah Kalimantan Tengah menjadi kawasan rentan bencana. Bencana banjir di musim penghujan, kebakaran dan kabut asap di musim kemarau. Banjir di wilayah Kalimantan Tengah kini terjadi setiap tahun. Banjir telah menghanyutkan rumah, menenggelamkan pemukiman warga, bangunan sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan lainnya. Banjir juga merendam dan merusak ratusan hektar sawah dan ladang warga. Petani menderita kerugian akibat gagal panen atau gagal tanam. Banjir juga mengganggu aktivitas sosial ekonomi warga. Penderitaan warga tidak hanya berhenti ketika banjir berhenti. Pasca-banjir warga mengalami gangguan kesehatan akibat serangan penyakit, seperti diare, malaria, ISPA, batuk dan penyakit kulit (lih Biro Humas & Protokol Kalteng 2008). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika provinsi Kalimantan Tengah menyatakan, kondisi banjir di Kalimantan Tengah semakin parah dan semakin mudah terjadi bukan semata karena tingginya curah hujan tetapi juga karena pendangkalan sungai dan semakin hilangnya hutan sebagai daerah resapan air (Banjarmasin Post 21/9/2010).

(42)

terjadinya peningkatan keganasan serangan nyamuk malaria. Tiap bulan ratusan warga kota Palangkaraya – ibukota provinsi Kalimantan Tengah – terserang penyakit malaria. Padahal sebelumnya wilayah kota Palangkaraya sempat dinyatakan bebas terhadap penyakit malaria. Sementara di tingkat provinsi, dalam periode Januari – Maret 2011, tercatat 9.619 warga Kalimantan Tengah menderita penyakit malaria. Data Dinas Kesehatan provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan, penderita malaria dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2008 ditemukan 34.863 kasus, tahun 2009 tercatat 36.362 kasus, dan 2010 tercatat 44.464 kasus malaria, terbanyak di kabupaten Kotawaringin Barat, dengan jumlah kasus mencapai 10.947 orang (Tabengan

10/5/2011). Meningkatnya populasi nyamuk ini bisa jadi dipicu oleh perubahan iklim, meluasnya genangan air karena banjir dan meningkatnya habitat nyamuk di area pemukiman warga, akibat pembabatan hutan secara masif.

Ekspansi industri perkebunan sawit berdampak juga pada berkurangnya areal sawah dan ladang. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Ir. Tute Lelo, menyatakan, areal pertanian padi di tiga kabupaten wilayah Selatan Kalimantan Tengah, yakni Seruyan, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat kini terus terdesak oleh pengembangan perkebunan sawit skala besar. Lahan potensial untuk pertanian di tiga kabupaten tersebut sebagian besar telah dijadikan perkebunan sawit. Perluasan area tanam kelapa sawit dilakukan secara besar-besaran di tiap tahun, baik dengan mengonversi lahan pertanian maupun hutan (Dayak Pos 12/8/2008).

(43)

2.2. Potret Perusahaan Perkebunan Sawit

2.2.1. PT Sawit Graha Manunggal (PT SGM)

PT SGM yang merupakan bagian dari group besar Bumi Borneo Prima – AEP Indonesia (Anglo-Eastern Plantations) adalah anggota RSPO. Di Kalimantan, AEP menanamkan investasinya pada bulan Desember 2007 di Kabupaten Barito Timur. Investasi awal dilakukan di lahan seluas 26.000 hektar. Pada tahun 2009, AEP berhasil mendapatkan izin konversi lahan penting dari Departemen Kehutanan Indonesia dalam proyek Kalimantan Tengah.

Pada tahun 2010, AEP berharap dapat menanam sawit hingga 5.000 hektar di Kalimantan Tengah dengan target tanaman 10.900 hektar untuk kelompok tahun 2010 dan 10.000 hektar per tahun selama lima tahun ke depan. Ini berarti AEP akan meningkatkan luasan kebunnya dari 45.000 hektar menjadi 100.000 hektar pada tahun 2014. Pada tahun 2010 AEP mengakuisisi PT Kahayan dengan awal “Izin Lokasi” area 17.500 hektar.

Pada tahun 2011, AEP kembali menanam 4.800 hektar kelapa sawit terutama di Kalimantan, meningkatkan areal tanaman sebesar sembilan persen menjadi 57.100 hektar (tahun 2010 areal tanam baru 52.300 hektar). Penanaman ini bersamaan dengan upaya yang dilakukan AEP untuk mendapatkan izin yang diperlukan untuk pemanfaatan kayu (IPK). IPK di sini adalah izin dari Dinas Kehutanan Kabupaten untuk memanfaatkan kayu pasca-land clearing. Biasanya, IPK memuat enumerasi tentang volume kayu, jenis kayu dan rencana penggunaan kayu-kayu tersebut oleh perkebunan yang bersangkutan.

Pada tahun 2011 dan 2012, penanaman yang dilakukan AEP banyak mengalami keterlambatan karena adanya negosiasi yang berlarut-larut atas penyelesaian ganti rugi tanah dengan warga desa dan keterlambatan dalam penerbitan izin pembebasan lahan, dalam hal ini adalah Izin Pelepasan Kawasan Hutan dari Kementrian Kehutanan. Pada akhir tahun 2012, PT SGM telah memperoleh izin yang diperlukan dan akan melanjutkan untuk membersihkan lahan untuk ditanami.

Selain di Kalimantan Tengah grup besar Bumi Borneo Prima juga memiliki usaha perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Riau. Mereka sebagai bagian dari Perkebunan Anglo-Eastern Plantation yang telah dicatatkan pada bursa London Stock Exchange sejak tahun 1985.

(44)

clear and clean. Ini berarti bahwa PT SGM telah menyelesaikan segala kewajibannya untuk mendapatkan izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Izin ini selanjutnya digunakan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Hak Guna Usaha dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

(45)

Meskipun PT SGM telah memenuhi kriteria clear and clean, namun PT SGM memiliki masalah terkait dokumen tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (amdal). Pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kalimantan Tengah menilai, PT SGM belum memiliki amdal yang disyaratkan sebagai izin lingkungan. Dokumen amdal yang dimiliki PT SGM dinilai oleh Komisi Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Timur, sementara menurut BLH provinsi Kalimantan Tengah komisi tersebut tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk menyetujui amdal sebuah perusahaan. amdal sendiri merupakan salah satu faktor penting dalam hal penghormatan terhadap lingkungan dan hak asasi manusia.

2.2.2. PT Ketapang Subur Lestari (PT KSL)

Perkebunan kelapa sawit PT Ketapang Subur Lestari (KSL) adalah bagian dari grup perusahaan Cilliandry Anky Abadi (CAA Group) pada tahun 1996. Grup yang bergerak di industri kelapa sawit ini tidak masuk sebagai anggota RSPO. Di Indonesia, lokasi CAA group terdapat di Pulau Bintan – Kepulauan Riau, Kabupaten Barito Timur – Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Pulang Pisau – Kalimantan Tengah.

Perkebunan milik PT KSL di kabupaten Barito Timur berada di wilayah 11 desa (Simpang Neneng, Dayu, Trans Lagan, Putu Tawuluh, Kupang Baru, Tampa, Runggu Raya, Loa Jawuk, Taringsing, Simpang Bangkuang, Mampahe) yang secara administratif berada di tiga kecamatan (Karusen Janang, Paku, Dayu) (lihat Foto 5, h20).

Terkait dengan perizinan yang dimiliki PT KSL, Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah per Desember 2012 menetapkan bahwa PT KSL belum tergolong usaha perkebunan yang memenuhi kriteria clear and clean. Perusahaan disebut memenuhi kriteria clear and clean apabila telah memenuhi persyaratan perizinan hak atas kelola tanah, yang mencakup: (1) izin arahan lokasi dari bupati, (2) izin lokasi dari bupati, (3) izin usaha perkebunan dari bupati, (4) izin pelepasan kawasan hutan dari menteri kehutanan apabila kawasan yang akan digunakan untuk perkebunan sawit adalah kawasan hutan, dan (5) izin Hak Guna Usaha (HGU) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

(46)

Foto 5 — Salah satu area perkebunan sawit PT KSL yang merambah bukit

2.2.3. PT Karya Dewi Putra (KDP)

Berdasarkan informasi tertulis dari para manajer PT KDP, perusahaan ini berdiri pada 24 Maret 1995 dan mulai beroperasi di Katingan sejak 2003. Lokasi perkebunan berada di wilayah administratif desa Mirah Kalanaman, desa Tum-bang Marak, desa TumTum-bang Kalamei dan desa TumTum-bang Hangei, kecamatan Ka-tingan Tengah, kabupaten KaKa-tingan, dengan luas 17.500 hektar. Area konsensi PT KDP berbatasan langsung dengan perusahaan perkebunan PT Bumi Hutan Lestari (BHL), PT Bangkit Usaha Mandiri (BUM) dan perusahaan pertambangan emas PT Kasongan Bumi Kencana (KBK).

PT KDP adalah anak perusahaan PT Agrindo Kalimantan Tengah. Selain PT KDP, PT Agrindo Kalimantan Tengah juga memiliki anak perusahaan lain, yaitu PT Archipelago Timur Abadi (ATA) yang beroperasi di kabupaten Gunung Mas, PT Kalimantan Ria Sejahtera (KRS) dan PT BBR di kabupaten Barito Utara. Semuanya bergerak di perkebunan sawit.

(47)

pola pengelolaan terbaik dan berkesinambungan, supplier yang diutamakan oleh pelanggan, dan perusahaan yang dibanggakan oleh karyawan dan masyarakat. PT KDP mengemban misi memberikan keuntungan kepada pemilik dan manajemen perusahaan, berkontribusi kepada bangsa dan negara, melakukan pengelolaan terbaik dan berkelanjutan dalam kegiatan perkebunan kelapa sawit.

PT KDP adalah perusahaan dengan status modal penanaman modal dalam negeri (PMDN). Perusahaan ini belum sampai pada pengelolaan yang melibatkan pasar bursa. Hingga kini belum menjadi anggota RSPO dan juga ISPO. Meski demikian, menurut keterangan pihak manajer, dari tahun 2013 PT KDP sudah mengejar proses ISPO dan RSPO. PT KDP mengaku memiliki dokumen amdal. Proses pelaksanaan studi kelayakan lingkungan dilakukan selama kurang lebih satu tahun, ekspos dihadapan tim penilai atau komisi amdal dan memperoleh persetujuan Bupati. Setiap satu tahun pihak perusahaan mengaku melaporkan penilaian usaha perkebunan (PUP) kepada pemerintah.

Selain memiliki dokumen amdal, PT KDP juga memiliki persyaratan perizinan sebagaimana syarat dan ketentuan yang diberikan pemerintah, seperti Izin prinsip atau arahan lokasi, izin lokasi, izin usaha perkebunan, amdal, dan izin pembukaan lahan. Semua tahapan dilalukan melalui arahan dan ketentuan yang diberikan oleh pemerintah. Proses perizinan dimulai dengan tahapan permohonan, pertimbangan teknik (pertek) oleh dinas terkait, dan persetujuan oleh pihak pejabat yang berwenang. PT KDP menegaskan, pihaknya dalam pelak sanaan usaha perkebunannya selalu mengacu kepada regulasi maupun perundang-undangan yang berlaku di indonesia. Semua tahapan perizinan dan kegiatan usaha perkebunan selalu dengan koordinasi dengan instansi atau pihak yang terkait dan berwenang.

PT KDP mengaku mempekerjakan 1.500 orang pekerja, 70 persen laki-laki dan 30 persen perempuan. Para pekerja ini berasal dari suku Jawa, Flores, Batak, Dayak, dan suku lainnya. Mereka direkrut melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasi, direkrut oleh tim HRD. Ada juga para pekerja dari penduduk lokal yang datang dan melamar sendiri ke perusahaan. Ada beberapa status pekerja di PT KDP, yaitu pekerja tidak tetap, pekerja tetap harian, pekerja tetap bulanan, dan staf setingkat asisten. PT KDP menyatakan, mayoritas pekerja (90 persen) adalah pekerja tetap dan hanya 10 persen saja yang tidak tetap.

(48)

fasilitas yang diberikan PT KDP, yaitu jaminan kesehatan bagi pekerja dan keluarganya, tempat tinggal untuk pekerja dan keluarganya, tempat penitipan anak, air bersih yang didrop dengan truk tangki air, sarana pendidikan dan olah raga, tempat ibadah, sarana transportasi keluar kebun, dan lainnya.

PT KDP mengaku menjamin hak pekerja untuk berserikat. Pada tahun 2013 di PT KDP akan dibentuk serikat pekerja. PT KDP juga mengaku telah mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja dengan selalu menyarankan pada pekerja untuk menggunakan alat-alat pengamanan kerja, seperti sepatu boot, sarung tangan, masker, helm, dan alat kerja lain. Alat-alat tersebut diberikan pada pekerja saat mereka pertama kali mulai bekerja.

Pekerja di PT KDP berumur minimum 17 tahun atau sudah menikah dan menjadi kepala keluarga. Pekerja perempuan dipekerjakan dengan lama hari kerja yang sama dengan laki-laki, namun dalam kapasitas pekerjaan yang dipandang lebih ringan dari laki-laki. Tidak ada diskriminasi terhadap buruh. Buruh dari penduduk transmigran dan buruh dari penduduk lokal diperlakukan sama sesuai dengan peraturan dan kebijakan perusahaan. Tidak ada perbedaan status antara pekerja lokal dan pekerja yang datang dari luar Kalimantan.

Dalam menjalankan tanggung jawab terhadap lingkungan, PT KDP mengaku mempunyai kawasan konservasi yang bernilai tinggi, yaitu kawasan Betang Sangkuwung, yang dirawat dan disisakan kurang lebih 9 (sembilan) hektar. Selain itu ada beberapa kawasan yang juga dirawat oleh perusahaan karena digunakan sebagai zona konservasi dan situs-situs yang dianggap penting, dan dikelola sebagaimana adanya. Ada kebijakan dari perusahaan tentang larangan menembak maupun memburu binatang-binatang yang dilindungi.

PT KDP juga mengaku telah menjalankan kewajiban terhadap komunitas. Dalam hal ini pengakuan diberikan PT KDP terhadap tanah adat yang memang dapat diakui kebenarannya melalui surat Damang dan keterangan-keterangan lain yang mengatakan bahwa suatu kawasan adalah belukar dan tempat masyarakat berburu. Perusahaan juga menjalankan program Corporate Social Responsibility

(49)

fasilitas lainnya. PT KDP juga mengaku membuat program kebun plasma bagi masyarakat sekitar. Luasan kebun plasma untuk masyarakat sebesar 20 persen dari luasan kebun inti dan sudah berjalan baik.

Kebijakan terhadap penduduk lokal, menurut PT KDP sudah terdapat dalam dokumen amdal yang dimiliki oleh perusahaan pada saat ekspose amdal. Tidak ada perbedaan terhadap tenaga kerja, malah selalu dibuka peluang bagi penduduk lokal untuk bekerja diperusahaan yang dilakukan dengan sosialisasi ke desa-desa sekitar perusahaan. Hanya dalam implementasinya banyak penduduk lokal tidak mampu bersaing dengan pendatang dan akhirnya memilih berhenti bekerja pada PT KDP.

Dalam hal penyelesaian konflik, PT KPD mengaku memiliki standard operating procedure (SOP). Konflik yang sering terjadi adalah permasalahan lahan. Sering terjadi tumpang tindih kepemilikan lahan di lahan yang sebenarnya sudah diberikan ganti rugi tanam tumbuh pada pemiliknya. Dalam hal ini PT KDP menegaskan, konflik pertama kali diselesaikan dengan cara persuasif melalui pendekatan kekeluargaan. Kalau pun tidak dapat diselesaikan dengan cara se-perti itu, maka akan dibahas melalui pihak desa, aparat desa, BPD, kedamangan maupun pihak kecamatan dan tripikanya.

Dalam proses penyelesaian konflik lahan, pihak KDP turut menjadi saksi, memfasilitasi mediasi antara pihak perusahaan dengan pihak masyarakat yang menyengketakan lahan; menjadi pihak yang memberikan masukan, baik pada masyarakat yang menuntut maupun kepada pihak perusahaan yang dituntut; dan turut serta mengawal keputusan yang sudah disepakati bersama. Kalau pun tetap tidak ada kata sepakat, maka kasus akan disampaikan kepada aparat yang berwajib (polisi) dan bisa diselesaikan di tingkat kedamangan maupun pengadilan. Posisi sebagai saksi dan mediasi yang disebutkan pihak manajer ini memberi kesan bahwa perusahaan tidak terlibat dalam konflik lahan karena menurut pihak PT KDP sengketa lahan terjadi antarwarga, bukan warga dengan perusahaan.

Terkait dengan operasional PT KDP, warga desa Mirah Kalanaman, desa Tumbang Marak, desa Tumbang Kalamei dan desa Tumbang Hangei mengaku, mereka tidak pernah mendapat sosialisasi atas kehadiran PT KDP. Saat memasuki desa mereka, PT KDP langsung membuka lahan. Kehadiran PT KDP tidak diketahui warga. Warga hanya tahu ada perusahaan yang melakukan penebangan dan pembongkaran hutan, dan penyiapan lahan untuk perkebunan sawit. Nama PT KDP sendiri baru belakangan diketahui warga.

(50)

melibatkan PT KDP terus bermunculan. Kasus terbanyak adalah sengketa lahan. Warga menuding PT KDP secara sengaja mengambil lahan-lahan warga untuk dijadikan kawasan perkebunan sawit. Masih banyak lahan warga yang belum diganti rugi oleh PT KDP. Menurut warga, dalam merampas lahan-lahan warga, PT KDP menerapkan strategi “garap selonong” (babat dulu lahannya, persoalan yang muncul diurus kemudian). Tanpa sepengetahuan warga, PT KDP membabat lahan mereka. Protes yang dilakukan warga terasa percuma karena lahan-lahan mereka sudah terlanjur dibabat.

PT KDP belakangan disebut-sebut dalam audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Hasil audit Badan BPK tahun 2009 menunjukkan, area perkebunan PT KDP masuk dalam kawasan hutan lindung*. Dalam hal ini BPK menemukan, PT KDP belum mengantongi izin dari kementrian kehutanan. Informasi ini membuat masyarakat dan organisasi masyarakat sipil (NGO) pada tahun 2011 mengugat PT KDP yang dinilai telah membuka kebun sawit di kawasan hutan lindung seluas 10.000 hektar tanpa ada izin pelepasan kawasan hutan dari menteri kehutanan.

Pembukaan lahan dalam kawasan hutan lindung dilakukan PT KDP hanya berdasarkan izin prinsip, izin lokasi (IUP), Izin Pembukaan Lahan (IPL) dan Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) serta rekomendasi pelepasan kawasan hutan dari bupati Katingan. Wawancara dengan pihak dinas kehutanan provinsi Kalimantan Tengah diperoleh keterangan bahwa PT KDP merupakan salah satu dari sekian banyak perusahaan di provinsi Kalimantan Tengah yang bermasalah dalam hal perizinan. Perusahaan membabat hutan tanpa mengantongi izin dan sudah beroperasi sebelum mendapatkan izin pelepasan kawasan hutan dari menteri kehutanan.

(51)

Foto 6 — Salah satu area perkebunan sawit PT KDP di kecamatan Katingan Tengah

Selain konflik lahan, kasus lain yang melibatkan PT KDP adalah adalah pencemaran sungai. Sungai dan anak sungai yang sebelumnya dimanfaatkan warga sebagai sumber air minum dan air bersih untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus) tercemar dan tak bisa dimanfaatkan lagi. Warga yang mandi di sungai menderita gatal-gatal di sekujur tubuh. Air sungai yang dulunya jernih kini berubah warna menjadi hitam, dan ikan-ikan mati mengapung. Menurut warga, sejak PT KDP membangun pabrik pengolahan sawit, banyak anak sungai di sekitar desa Tumbang Marak dan Tumbang Kalamei tercemar. Jika musim hujan tiba, air sungai meluap hingga menggenangi rumah-rumah warga.

Tahun 2006 dan 2007 warga melaporkan PT KDP pada pemerintah ka-bupaten atas aktivitasnya membuka lahan kebun sawit dengan cara membakar. Laporan warga ini tidak ditanggapi secara serius oleh pemerintah. Pemerintah setempat hanya mengirimkan surat pembinaan kepada PT KDP tanpa mengambil tindakan tegas.

(52)

Lingkungan Hidup kabupaten Katingan kemudian melakukan pengecekan dan uji laboratorium terhadap semua sungai yang dimanfaatkan warga di sekitar kebun PT KDP. Namun warga tidak mendapatkan laporan hasil uji tersebut dan tidak ada tindak lanjut terhadap masalah pencemaran ini, baik dari pemerintah maupun perusahaan.

Pertengahan tahun 2013 warga desa Tumbang Marak dan Tumbang Kala-mei melakukan protes dengan ritual adat ‘hinting’ di dalam areal perkebunan. Ini membuat aktivitas perkebunan terhenti selama beberapa hari. Dengan ini warga meminta pertanggungjawaban perusahaan atas perampasan lahan dan pencemaran sungai.

Terhadap pembangunan desa, warga mengaku bahwa PT KDP memberikan bantuan genset pada desa Tumbang Marak dan juga membantu pembangunan balai desa di desa Tumbang Kalamei. Perusahaan juga memperbaiki jalan di desa Tumbang Marak. Jalan diperbaiki untuk kepentingan pengangkutan sawit oleh pihak perusahaan. Perusahaan juga menyelenggarakan program kebun plasma dengan sistem kredit dan bagi hasil di atas kebun warga di kedua desa tersebut. Ada sekitar 15 persen warga yang mengikuti program plasma PT KDP ini. Namun warga merasa, PT KDP tidak transparan. Mereka tidak tahu berapa jumlah kredit yang dibebankan warga, dan berapa yang dibayar dari hasil kebun plasma. Warga juga tidak dilibatkan dalam kepengurusan koperasi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan kebun plasma. Pengurus koperasi ditunjuk oleh PT KDP dan mereka adalah para staf PT KDP.

2.2.4. PT Katingan Indah Utama (KIU)

PT KIU adalah anak perusahaan Makin Group, perusahaan yang tercatat berstatus Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Namun sumber lain menyatakan bahwa PT Makin Group adalah perusahaan yang tidak murni perusahaan PMDN. Pada mulanya PT Makin Group merupakan salah satu perusahaan HPH (Hak Pengelolaan Hutan) di kabupaten Kotawaringin Timur dengan luas areal 16.935 hektar tahun 2004. Pada tahun 1998, PT Makin Group bergabung dengan perusahaan dari Malaysia (Perils Plantation Oil Palm Bhd) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dengan nama perusahaan tidak h tetap PT Makin Group (lih Rusmawardi 2007).

Gambar

Tabel 1 Rekapitulasi Luas Areal dan Produksi Tanaman Perkebunan
Tabel 2 Hak-Hak Sipil dan Politik yang Dijamin dan Dilindungi
Tabel 3

Referensi

Dokumen terkait

berwenang bahwa perusahaan industri perkebunan sawit telah mengeluarkan kas atau bank yang bertujuan untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup, biaya

Perkebunan kelapa sawit pertama di Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda) dibangun di Tanah Itam Ulu Sumatera Utara oleh Schadt (Jerman) pada tahun 1911. Pohon Kelapa

Air limbah yang dihasilkan dari industri kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk pemupukan pada tanah perkebunan karena air limbah tersebut pada kondisi tertentu masih

Indonesia terus melakukan pengembangan perkebunan kelapa sawit dikarenakan, pertama kebutuhan minyak nabati dunia cukup besar dan akan terus meningkat, kedua kelapa sawit

Melalui sentuhan teknologi yang tepat dapat dilakukan pengolahan bahan-bahan pakan asal produk samping perkebunan dan industri pengolahan kelapa sawit untuk meningkatkan

Kendala utama bagi perkebunan rakyat untuk memperoleh bibit unggul bersertifikat adalah kurangnya informasi untuk mendapatkan bibit tersebut dan kurangnya permodalan

Desa Korporasi Sapi mempunyai potensi yang cukup signifikan dalam melakukan pengembangan sapi potong – integrasi dengan perkebunan kelapa sawit untuk mencukupi pemenuhan kebutuhan

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Kabupaten Seruyan memiliki lahan yang sangat sesuai untuk perkebunan sawit karena lahan perkebunan sawit tersebut telah memenuhi segala