• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit

Dalam dokumen INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1) (Halaman 39-62)

Perkembangan luasan lahan perkebunan sawit di Kalimantan Tengah

Selain sawit, komoditi terpenting lain bagi perekonomian Kalimantan Tengah adalah karet. Karet merupakan tanaman tradisional yang penanamannya dilakukan secara turun temurun. Tanaman ini telah lama menjadi usaha dan sumber pendapatan masyarakat.

Sensus Pertanian tahun 2006 menunjukkan, hampir 52,26 persen penduduk Kalimantan Tengah menanam karet. Dengan maraknya investasi di sektor perkebunan sawit, lahan untuk tanaman karet mulai banyak berkurang dan berganti menjadi lahan sawit.

Korporasi perkebunan sawit mulai beroperasi di Kalimantan Tengah tahun 1992. Sejak itu, luasan area untuk perkebunan sawit semakin meningkat. Dengan dibuatnya Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 1993 tentang Tata Ruang Kalimantan Tengah, investor perusahaan sawit mendapatkan kemudahan untuk berinvestasi di wilayah Kalimantan Tengah Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah 2009. Perluasan area tanam kelapa sawit dilakukan secara besar-besaran setiap tahun dan cenderung tanpa kendali, baik dengan mengonversi lahan hutan maupun lahan pertanian. Bahkan izin untuk perkebunan sawit juga diberikan di kawasan lahan gambut dengan kedalaman tiga meter. Tidak heran apabila Kalimantan Tengah berada di urutan ke-4 provinsi terluas perkebunannya setelah Riau, Sumatera Utara, dan Jambi. Bahkan sekarang Kalimantan Tengah diprediksi sudah bergeser posisinya dan berada di urutan ke-3 provinsi dengan perkebunan terluas di Indonesia (Republika 12/12/2011).

Pemberian izin yang tidak terkendali jelas terlihat dari luas izin yang dike- luarkan sejumlah kabupaten untuk perusahaan perkebunan dan pertambangan yang tidak wajar. Sebab luasan izin yang diberikan untuk perusahaan perkebunan dan pertambangan hampir menyamai luasan kabupaten. Bahkan ada dua kabupaten yang mengeluarkan izin melebihi luas kabupaten itu sendiri, yaitu kabupaten Ba- rito Utara dan kabupaten Kapuas. Kabupaten Barito Utara dengan total izin seluas 1.452.468 hektar, sementara luas kabupaten hanya 830.000 hektar. Kabu paten Kapuas total luas izin 1.761.579 hektar sementara luas wilayahnya hanya 1.499.900 hektar. Kabupaten lain, total luas izinnya hampir menyamai luas kabupaten. Kabupaten Gunung Mas, misalnya, total luas izin 996.251 hektar dengan luas wilayah 1.080.400 hektar. Kabupaten Barito Timur total izin 359.043 hektar dengan luas wilayah 383.400 hektar. Kabupaten Lamandau total izin seluas 530.526 hektar dengan luas wilayah 641.400 hektar (Palangka Pos 1/6/2011).

Investasi di sektor perkebunan sawit yang meningkat cepat punya andil besar dalam menciptakan perubahan drastis di Kalimantan Tengah dalam berbagai dimensinya. Perubahan yang paling jelas terlihat adalah perubahan lanskap alam dari hutan hujan tropis lebat dan rimbun menjadi suatu lanskap tunggal yang didominasi oleh sawit. Padahal dulu 80 persen wilayah Kalimantan Tengah didominasi hutan (lih Sekda Kalteng 2012).

Hilangnya hutan juga meningkatkan luasan lahan kritis – lahan yang sudah rusak dan tidak produktif lagi. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2010, luas lahan kritis di Kalimantan Tengah mencapai

tujuh juta hektar lebih. Data Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Kahayan, dari luas hutan Kalimantan Tengah yang tersisa saat ini, sekitar 7,27 juta mengalami kerusakan, dengan laju kerusakan mencapai 150.000 hektar per tahun (Kalimantan Pos 27/4/2010).

Dalam dimensi sosial, Kalimantan Tengah kini juga telah berubah menjadi daerah rawan konflik. Muncul beragam konflik yang melibatkan korporasi, khususnya korporasi perkebunan sawit. Tim Pencegahan dan Penyelesaian Seng- keta Tanah atau Lahan di Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, per Desember 2012 terdapat 278 kasus konflik lahan di wilayah provinsi Kalimantan Tengah, mayoritas terkait dengan perusahaan perkebunan (lih Zakaria tt). Sementara Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, per Ma ret 2013 terdapat 118 kasus konflik yang tersebar di 14 kabupaten kota dan melibatkan korporasi perkebunan. Mayoritas konflik (70,3 persen) terkait dengan perampasan lahan dan ganti rugi. Meningkatnya investasi di industri perkebunan sawit meningkatkan intensitas konflik. Konflik tidak hanya terjadi antara warga dengan perusahaan atau warga dengan pemerintah daerah, tetapi juga antarwarga dan antar anggota keluarga serta antar perusahaan.

Konversi kawasan hutan sebagai daerah resapan air dan penyangga eko- sistem menjadi area perkebunan sawit mengubah Kalimantan Tengah menjadi kawasan rentan bencana. Bencana banjir di musim penghujan, kebakaran dan kabut asap di musim kemarau. Banjir di wilayah Kalimantan Tengah kini terjadi setiap tahun. Banjir telah menghanyutkan rumah, menenggelamkan pemukiman warga, bangunan sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan lainnya. Banjir juga merendam dan merusak ratusan hektar sawah dan ladang warga. Petani menderita kerugian akibat gagal panen atau gagal tanam. Banjir juga mengganggu aktivitas sosial ekonomi warga. Penderitaan warga tidak hanya berhenti ketika banjir berhenti. Pasca-banjir warga mengalami gangguan kesehatan akibat serangan penyakit, seperti diare, malaria, ISPA, batuk dan penyakit kulit (lih Biro Humas & Protokol Kalteng 2008). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika provinsi Kalimantan Tengah menyatakan, kondisi banjir di Kalimantan Tengah semakin parah dan semakin mudah terjadi bukan semata karena tingginya curah hujan tetapi juga karena pendangkalan sungai dan semakin hilangnya hutan sebagai daerah resapan air (Banjarmasin Post 21/9/2010).

Meluasnya pembabatan hutan disinyalir membawa dampak juga pada peningkatan kerentanan masyarakat terhadap serangan penyakit malaria. Kajian yang dilakukan Dinas kesehatan kota Palangkaraya menyatakan, pembabatan hutan skala besar untuk perkebunan sawit diduga telah berimbas pada peningkatan populasi nyamuk malaria. Kajian tersebut juga mengungkapkan

terjadinya peningkatan keganasan serangan nyamuk malaria. Tiap bulan ratusan warga kota Palangkaraya – ibukota provinsi Kalimantan Tengah – terserang penyakit malaria. Padahal sebelumnya wilayah kota Palangkaraya sempat dinyatakan bebas terhadap penyakit malaria. Sementara di tingkat provinsi, dalam periode Januari – Maret 2011, tercatat 9.619 warga Kalimantan Tengah menderita penyakit malaria. Data Dinas Kesehatan provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan, penderita malaria dari tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2008 ditemukan 34.863 kasus, tahun 2009 tercatat 36.362 kasus, dan 2010 tercatat 44.464 kasus malaria, terbanyak di kabupaten Kotawaringin Barat, dengan jumlah kasus mencapai 10.947 orang (Tabengan

10/5/2011). Meningkatnya populasi nyamuk ini bisa jadi dipicu oleh perubahan iklim, meluasnya genangan air karena banjir dan meningkatnya habitat nyamuk di area pemukiman warga, akibat pembabatan hutan secara masif.

Ekspansi industri perkebunan sawit berdampak juga pada berkurangnya areal sawah dan ladang. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah, Ir. Tute Lelo, menyatakan, areal pertanian padi di tiga kabupaten wilayah Selatan Kalimantan Tengah, yakni Seruyan, Kotawaringin Timur, dan Kotawaringin Barat kini terus terdesak oleh pengembangan perkebunan sawit skala besar. Lahan potensial untuk pertanian di tiga kabupaten tersebut sebagian besar telah dijadikan perkebunan sawit. Perluasan area tanam kelapa sawit dilakukan secara besar-besaran di tiap tahun, baik dengan mengonversi lahan pertanian maupun hutan (Dayak Pos 12/8/2008).

Kekayaan Kalimantan Tengah akan sumberdaya alam dan derasnya arus investasi belum sejalan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Gubernur Kalimantan Tengah sendiri mengakui, sumberdaya alam Kalimantan Tengah yang melimpah belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Menurutnya, ada kebijakan pemerintah yg belum berpihak pada rakyat. Indikasinya, di daerah yang kaya sumberdaya alam angka kemiskinannya justru tinggi, seperti kabupaten Barito Timur dengan angka kemiskinan 12,34 persen, kabupaten Kotawaringin Timur 11,33 persen, dan kabupaten Seruyan 11,25 persen. Padahal kabupaten Barito Timur kaya akan tambang dan karet, dan merupakan salah satu lumbung padi di provinsi Kalimantan Tengah. Sementara di kabupaten Kotawaringin Timur dan Seruyan terdapat banyak perkebunan sawit. Ekonomi Kalimantan Tengah tumbuh di atas rata-rata nasional, namun ironisnya 62 persen desa atau kelurahan di Kalimantan Tengah tergolong desa tertinggal (Tabengan 28/9/2010). Gubernur menyesalkan bahwa perusahaan per- kebunan sawit dan pertambangan masih minim peranannya bagi kesejahteraan masyarakat lokal (Dayak Pos 18/2/2009).

2.2. Potret Perusahaan Perkebunan Sawit

2.2.1. PT Sawit Graha Manunggal (PT SGM)

PT SGM yang merupakan bagian dari group besar Bumi Borneo Prima – AEP Indonesia (Anglo-Eastern Plantations) adalah anggota RSPO. Di Kalimantan, AEP menanamkan investasinya pada bulan Desember 2007 di Kabupaten Barito Timur. Investasi awal dilakukan di lahan seluas 26.000 hektar. Pada tahun 2009, AEP berhasil mendapatkan izin konversi lahan penting dari Departemen Kehutanan Indonesia dalam proyek Kalimantan Tengah.

Pada tahun 2010, AEP berharap dapat menanam sawit hingga 5.000 hektar di Kalimantan Tengah dengan target tanaman 10.900 hektar untuk kelompok tahun 2010 dan 10.000 hektar per tahun selama lima tahun ke depan. Ini berarti AEP akan meningkatkan luasan kebunnya dari 45.000 hektar menjadi 100.000 hektar pada tahun 2014. Pada tahun 2010 AEP mengakuisisi PT Kahayan dengan awal “Izin Lokasi” area 17.500 hektar.

Pada tahun 2011, AEP kembali menanam 4.800 hektar kelapa sawit terutama di Kalimantan, meningkatkan areal tanaman sebesar sembilan persen menjadi 57.100 hektar (tahun 2010 areal tanam baru 52.300 hektar). Penanaman ini bersamaan dengan upaya yang dilakukan AEP untuk mendapatkan izin yang diperlukan untuk pemanfaatan kayu (IPK). IPK di sini adalah izin dari Dinas Kehutanan Kabupaten untuk memanfaatkan kayu pasca-land clearing. Biasanya, IPK memuat enumerasi tentang volume kayu, jenis kayu dan rencana penggunaan kayu-kayu tersebut oleh perkebunan yang bersangkutan.

Pada tahun 2011 dan 2012, penanaman yang dilakukan AEP banyak mengalami keterlambatan karena adanya negosiasi yang berlarut-larut atas penyelesaian ganti rugi tanah dengan warga desa dan keterlambatan dalam penerbitan izin pembebasan lahan, dalam hal ini adalah Izin Pelepasan Kawasan Hutan dari Kementrian Kehutanan. Pada akhir tahun 2012, PT SGM telah memperoleh izin yang diperlukan dan akan melanjutkan untuk membersihkan lahan untuk ditanami.

Selain di Kalimantan Tengah grup besar Bumi Borneo Prima juga memiliki usaha perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Riau. Mereka sebagai bagian dari Perkebunan Anglo-Eastern Plantation yang telah dicatatkan pada bursa London Stock Exchange sejak tahun 1985.

Kawasan usaha PT SGM di kabupaten Barito Timur berada di 17 desa dan lima kecamatan, yaitu Dusun Timur, Paju Epat, Karusen Janang, Dayu, dan Paku. Informasi dari pihak Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah menyebutkan bahwa per Desember 2012, PT SGM masuk dalam usaha perkebunan yang memenuhi kriteria

clear and clean. Ini berarti bahwa PT SGM telah menyelesaikan segala kewajibannya untuk mendapatkan izin pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Izin ini selanjutnya digunakan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan Hak Guna Usaha dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Meskipun PT SGM telah memenuhi kriteria clear and clean, namun PT SGM memiliki masalah terkait dokumen tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (amdal). Pihak Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kalimantan Tengah menilai, PT SGM belum memiliki amdal yang disyaratkan sebagai izin lingkungan. Dokumen amdal yang dimiliki PT SGM dinilai oleh Komisi Lingkungan Hidup Kabupaten Barito Timur, sementara menurut BLH provinsi Kalimantan Tengah komisi tersebut tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk menyetujui amdal sebuah perusahaan. amdal sendiri merupakan salah satu faktor penting dalam hal penghormatan terhadap lingkungan dan hak asasi manusia.

2.2.2. PT Ketapang Subur Lestari (PT KSL)

Perkebunan kelapa sawit PT Ketapang Subur Lestari (KSL) adalah bagian dari grup perusahaan Cilliandry Anky Abadi (CAA Group) pada tahun 1996. Grup yang bergerak di industri kelapa sawit ini tidak masuk sebagai anggota RSPO. Di Indonesia, lokasi CAA group terdapat di Pulau Bintan – Kepulauan Riau, Kabupaten Barito Timur – Kalimantan Tengah, dan Kabupaten Pulang Pisau – Kalimantan Tengah.

Perkebunan milik PT KSL di kabupaten Barito Timur berada di wilayah 11 desa (Simpang Neneng, Dayu, Trans Lagan, Putu Tawuluh, Kupang Baru, Tampa, Runggu Raya, Loa Jawuk, Taringsing, Simpang Bangkuang, Mampahe) yang secara administratif berada di tiga kecamatan (Karusen Janang, Paku, Dayu) (lihat Foto 5, h20).

Terkait dengan perizinan yang dimiliki PT KSL, Dinas Perkebunan Kalimantan Tengah per Desember 2012 menetapkan bahwa PT KSL belum tergolong usaha perkebunan yang memenuhi kriteria clear and clean. Perusahaan disebut memenuhi kriteria clear and clean apabila telah memenuhi persyaratan perizinan hak atas kelola tanah, yang mencakup: (1) izin arahan lokasi dari bupati, (2) izin lokasi dari bupati, (3) izin usaha perkebunan dari bupati, (4) izin pelepasan kawasan hutan dari menteri kehutanan apabila kawasan yang akan digunakan untuk perkebunan sawit adalah kawasan hutan, dan (5) izin Hak Guna Usaha (HGU) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Dengan belum memenuhi kriteria clear and clean, berarti PT KSL belum memiliki perizinan yang lengkap untuk bisa beroperasi. Meskipun belum mendapatkan izin yang lengkap untuk beroperasi, pada kenyataannya PT KSL sudah beroperasi di wilayah kabupatan Barito Timur.

Foto 5 — Salah satu area perkebunan sawit PT KSL yang merambah bukit

2.2.3. PT Karya Dewi Putra (KDP)

Berdasarkan informasi tertulis dari para manajer PT KDP, perusahaan ini berdiri pada 24 Maret 1995 dan mulai beroperasi di Katingan sejak 2003. Lokasi perkebunan berada di wilayah administratif desa Mirah Kalanaman, desa Tum- bang Marak, desa Tumbang Kalamei dan desa Tumbang Hangei, kecamatan Ka- tingan Tengah, kabupaten Katingan, dengan luas 17.500 hektar. Area konsensi PT KDP berbatasan langsung dengan perusahaan perkebunan PT Bumi Hutan Lestari (BHL), PT Bangkit Usaha Mandiri (BUM) dan perusahaan pertambangan emas PT Kasongan Bumi Kencana (KBK).

PT KDP adalah anak perusahaan PT Agrindo Kalimantan Tengah. Selain PT KDP, PT Agrindo Kalimantan Tengah juga memiliki anak perusahaan lain, yaitu PT Archipelago Timur Abadi (ATA) yang beroperasi di kabupaten Gunung Mas, PT Kalimantan Ria Sejahtera (KRS) dan PT BBR di kabupaten Barito Utara. Semuanya bergerak di perkebunan sawit.

PT KDP hadir di kabupaten Katingan dengan visi menjadi salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia dan paling menguntungkan, dengan

pola pengelolaan terbaik dan berkesinambungan, supplier yang diutamakan oleh pelanggan, dan perusahaan yang dibanggakan oleh karyawan dan masyarakat. PT KDP mengemban misi memberikan keuntungan kepada pemilik dan manajemen perusahaan, berkontribusi kepada bangsa dan negara, melakukan pengelolaan terbaik dan berkelanjutan dalam kegiatan perkebunan kelapa sawit.

PT KDP adalah perusahaan dengan status modal penanaman modal dalam negeri (PMDN). Perusahaan ini belum sampai pada pengelolaan yang melibatkan pasar bursa. Hingga kini belum menjadi anggota RSPO dan juga ISPO. Meski demikian, menurut keterangan pihak manajer, dari tahun 2013 PT KDP sudah mengejar proses ISPO dan RSPO. PT KDP mengaku memiliki dokumen amdal. Proses pelaksanaan studi kelayakan lingkungan dilakukan selama kurang lebih satu tahun, ekspos dihadapan tim penilai atau komisi amdal dan memperoleh persetujuan Bupati. Setiap satu tahun pihak perusahaan mengaku melaporkan penilaian usaha perkebunan (PUP) kepada pemerintah.

Selain memiliki dokumen amdal, PT KDP juga memiliki persyaratan perizinan sebagaimana syarat dan ketentuan yang diberikan pemerintah, seperti Izin prinsip atau arahan lokasi, izin lokasi, izin usaha perkebunan, amdal, dan izin pembukaan lahan. Semua tahapan dilalukan melalui arahan dan ketentuan yang diberikan oleh pemerintah. Proses perizinan dimulai dengan tahapan permohonan, pertimbangan teknik (pertek) oleh dinas terkait, dan persetujuan oleh pihak pejabat yang berwenang. PT KDP menegaskan, pihaknya dalam pelak sanaan usaha perkebunannya selalu mengacu kepada regulasi maupun perundang-undangan yang berlaku di indonesia. Semua tahapan perizinan dan kegiatan usaha perkebunan selalu dengan koordinasi dengan instansi atau pihak yang terkait dan berwenang.

PT KDP mengaku mempekerjakan 1.500 orang pekerja, 70 persen laki- laki dan 30 persen perempuan. Para pekerja ini berasal dari suku Jawa, Flores, Batak, Dayak, dan suku lainnya. Mereka direkrut melalui dinas tenaga kerja dan transmigrasi, direkrut oleh tim HRD. Ada juga para pekerja dari penduduk lokal yang datang dan melamar sendiri ke perusahaan. Ada beberapa status pekerja di PT KDP, yaitu pekerja tidak tetap, pekerja tetap harian, pekerja tetap bulanan, dan staf setingkat asisten. PT KDP menyatakan, mayoritas pekerja (90 persen) adalah pekerja tetap dan hanya 10 persen saja yang tidak tetap.

Upah pekerja diberikan sesuai dengan UMP provinsi Kalimantan Tengah, yaitu sebesar Rp. 58.000 per hari kerja (HK) ditambah premi atau upah lembur dan tunjangan beras berdasarkan jumlah anggota keluarga. Perusahaan juga memberikan jaminan sosial berupa Jamsostek bagi setiap pekerja yang terdaftar sebagai pekerja tetap harian dan pekerja tetap bulanan. Selain itu, ada banyak

fasilitas yang diberikan PT KDP, yaitu jaminan kesehatan bagi pekerja dan keluarganya, tempat tinggal untuk pekerja dan keluarganya, tempat penitipan anak, air bersih yang didrop dengan truk tangki air, sarana pendidikan dan olah raga, tempat ibadah, sarana transportasi keluar kebun, dan lainnya.

PT KDP mengaku menjamin hak pekerja untuk berserikat. Pada tahun 2013 di PT KDP akan dibentuk serikat pekerja. PT KDP juga mengaku telah mengutamakan kesehatan dan keselamatan kerja dengan selalu menyarankan pada pekerja untuk menggunakan alat-alat pengamanan kerja, seperti sepatu boot, sarung tangan, masker, helm, dan alat kerja lain. Alat-alat tersebut diberikan pada pekerja saat mereka pertama kali mulai bekerja.

Pekerja di PT KDP berumur minimum 17 tahun atau sudah menikah dan menjadi kepala keluarga. Pekerja perempuan dipekerjakan dengan lama hari kerja yang sama dengan laki-laki, namun dalam kapasitas pekerjaan yang dipandang lebih ringan dari laki-laki. Tidak ada diskriminasi terhadap buruh. Buruh dari penduduk transmigran dan buruh dari penduduk lokal diperlakukan sama sesuai dengan peraturan dan kebijakan perusahaan. Tidak ada perbedaan status antara pekerja lokal dan pekerja yang datang dari luar Kalimantan.

Dalam menjalankan tanggung jawab terhadap lingkungan, PT KDP mengaku mempunyai kawasan konservasi yang bernilai tinggi, yaitu kawasan Betang Sangkuwung, yang dirawat dan disisakan kurang lebih 9 (sembilan) hektar. Selain itu ada beberapa kawasan yang juga dirawat oleh perusahaan karena digunakan sebagai zona konservasi dan situs-situs yang dianggap penting, dan dikelola sebagaimana adanya. Ada kebijakan dari perusahaan tentang larangan menembak maupun memburu binatang-binatang yang dilindungi.

PT KDP juga mengaku telah menjalankan kewajiban terhadap komunitas. Dalam hal ini pengakuan diberikan PT KDP terhadap tanah adat yang memang dapat diakui kebenarannya melalui surat Damang dan keterangan-keterangan lain yang mengatakan bahwa suatu kawasan adalah belukar dan tempat masyarakat berburu. Perusahaan juga menjalankan program Corporate Social Responsibility

(CSR), dalam bentuk kegiatan donasi dan peningkatan infrastruktur desa (jalan, jembatan, sarana air bersih, sarana penerangan, balai desa, dll). Selain itu, per- usahaan juga memberikan mata pencaharian baru kepada masyarakat seperti pertanian sayur-sayuran semusim. Di bidang kesehatan, PT KDP mengadakan program pengobatan gratis dan sunatan massal. Masih banyak lagi program CSR yang dilaksanakan di bidang sosial budaya dan keagamaan, seperti peningkatan pendidikan, donasi dan sponsorship. Di bidang hak asasi mManusia, program CSR dilaksanakan melalui kegiatan yang ditujukan untuk ibu dan anak, pendidikan di dalam kebun, layanan kesehatan bagi karyawan, fasilitas perumahan, dan

fasilitas lainnya. PT KDP juga mengaku membuat program kebun plasma bagi masyarakat sekitar. Luasan kebun plasma untuk masyarakat sebesar 20 persen dari luasan kebun inti dan sudah berjalan baik.

Kebijakan terhadap penduduk lokal, menurut PT KDP sudah terdapat dalam dokumen amdal yang dimiliki oleh perusahaan pada saat ekspose amdal. Tidak ada perbedaan terhadap tenaga kerja, malah selalu dibuka peluang bagi penduduk lokal untuk bekerja diperusahaan yang dilakukan dengan sosialisasi ke desa-desa sekitar perusahaan. Hanya dalam implementasinya banyak penduduk lokal tidak mampu bersaing dengan pendatang dan akhirnya memilih berhenti bekerja pada PT KDP.

Dalam hal penyelesaian konflik, PT KPD mengaku memiliki standard operating procedure (SOP). Konflik yang sering terjadi adalah permasalahan lahan. Sering terjadi tumpang tindih kepemilikan lahan di lahan yang sebenarnya sudah diberikan ganti rugi tanam tumbuh pada pemiliknya. Dalam hal ini PT KDP menegaskan, konflik pertama kali diselesaikan dengan cara persuasif melalui pendekatan kekeluargaan. Kalau pun tidak dapat diselesaikan dengan cara se- perti itu, maka akan dibahas melalui pihak desa, aparat desa, BPD, kedamangan maupun pihak kecamatan dan tripikanya.

Dalam proses penyelesaian konflik lahan, pihak KDP turut menjadi saksi, memfasilitasi mediasi antara pihak perusahaan dengan pihak masyarakat yang menyengketakan lahan; menjadi pihak yang memberikan masukan, baik pada masyarakat yang menuntut maupun kepada pihak perusahaan yang dituntut; dan turut serta mengawal keputusan yang sudah disepakati bersama. Kalau pun tetap tidak ada kata sepakat, maka kasus akan disampaikan kepada aparat yang berwajib (polisi) dan bisa diselesaikan di tingkat kedamangan maupun pengadilan. Posisi sebagai saksi dan mediasi yang disebutkan pihak manajer ini memberi kesan bahwa perusahaan tidak terlibat dalam konflik lahan karena menurut pihak PT KDP sengketa lahan terjadi antarwarga, bukan warga dengan perusahaan.

Terkait dengan operasional PT KDP, warga desa Mirah Kalanaman, desa Tumbang Marak, desa Tumbang Kalamei dan desa Tumbang Hangei mengaku, mereka tidak pernah mendapat sosialisasi atas kehadiran PT KDP. Saat memasuki desa mereka, PT KDP langsung membuka lahan. Kehadiran PT KDP tidak diketahui warga. Warga hanya tahu ada perusahaan yang melakukan penebangan dan pembongkaran hutan, dan penyiapan lahan untuk perkebunan sawit. Nama PT KDP sendiri baru belakangan diketahui warga.

Tahun 2003 PT KDP mulai membongkar ribuan hektar hutan. Menurut warga, ini adalah awal rusaknya lingkungan, terutama di desa Kalamei, desa Tumbang Marak dan desa Mirah Kalamanan, yang berbatasan langsung dengan areal perkebunan. Sejak tahun 2005 hingga sekarang kasus-kasus warga yang

Dalam dokumen INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1) (Halaman 39-62)