Rawa yang ditutup oleh PT KSL itu juga berdampak pada berkurangnya pasokan ikan. Sumber protein hewani dari perairan makin sulit didapatkan. Mereka terpaksa membeli bila ingin mengkonsumsi ikan.
Seperti halnya para transmigran di desa lain, komunitas transmigran di desa Lagan juga menghadapi masalah pengambilalihan lahan oleh perusahaan perkebunan. PT KSL mengambil alih lahan usaha dua milik komunitas transmigran. Awalnya para warga menolak. Namun PT KSL menggunakan sebagian besar pimpinan desa untuk membujuk mereka agar bersedia menyerahkan lahan pada PT KSL dan menerima tali asih (ganti rugi). Pada akhirnya warga menerima tali asih yang diberikan PT KSL sebesar Rp 15 juta per hektar. Mereka beralasan bahwa lebih baik menjual lahan usaha dua kepada PT KSL daripada hanya memegang sertifikat lahan namun tidak mengetahui di mana lahan tersebut berada dan karenanya tidak bisa mengusahakan lahan tersebut.
2.3.5. Komunitas Pinggir Sungai di Kabupaten Katingan
Mayoritas komunitas adat di kabupaten Katingan tinggal di pinggiran sungai, di sepanjang sungai Katingan dan anak-anak sungai Katingan. Di antara- nya adalah komunitas desa Mirah Kalanaman, desa Tumbang Marak, desa Tum- bang Kalemei, desa Tumbang Hangei, dan desa Tumbang Pariyei, yang masuk dalam wilayah kecamatan Katingan Tengah.
Desa Mirah Kalanaman terletak paling dekat dengan atau nyaris berada di tengah-tengah beberapa perusahaan perkebunan sawit. Tiga desa lainnya, yaitu desa Tumbang Marak, Tumbang Kalemei, dan Tumbang Hangei tidak berada di dalam wilayah kegiatan perusahaan kelapa sawit atau perusahaan lain tetapi wilayah desa-desa tersebut berdekatan atau beririsan dengan wilayah perusahaan- perusahaan besar. Sementara desa Tumbang Pariyei berada paling jauh dari perusahaan sawit dan perusahaan lain.
Sebelum dibukanya perkebunan-perkebunan besar untuk kelapa sawit, terutama sampai akhir 1990-an, selama berpuluh atau bahkan ratusan tahun, komunitas desa di kecamatan Katingan Tengah menggantungkan kehidupan mereka dari hutan dengan semua hasilnya, mulai dari bahan makanan, minuman, pakaian, obat-obatan, bahkan untuk keperluan ritual adat atau keagamaan.
Sayur-sayuran dari hutan, seperti berbagai jenis pakis, berbagai umbut (walatung, singkat, paikat, manau, dsb.), bambu liar, berbagai jamur liar, — semuanya tumbuh tanpa ditanam sama sekali. Juga umbut bakung, kalakai, daun akar telunjuk langit, sawit hutan, berbagai dedaunan yang berasal dari jenis-
jenis semak belukar di hutan dan lahan gambut. Warga bisa dengan mudah mendapatkan sayuran tersebut bisa masuk ke kebun yang mereka garap atau ke hutan. Kalau pun mereka tidak mendapatkannya dari hutan atau kebun, warga bisa membelinya dengan harga yang sangat murah dari anak-anak yang menjual sayuran tersebut.
Di samping mudah mendapatkan sayuran, dulu warga juga mudah sekali mendapatkan berbagai binatang liar yang dapat mereka tangkap di hutan. Berbagai binatang yang biasa mereka tangkap dari hutan, di antaranya adalah berbagai jenis unggas (ayam hutan, berbagai burung – burung hantu kukulai,
punai, peragam, belibis, bubut, kuntul kalimantan, serindit, buburak, bantiungan, dsb.), beruang madu kalimantan, biawak, bingkarungan, tupai besar tangkarawak, dsb.
Ada banyak ikan dan binatang air yang bisa dikonsumsi dan mudah di dapatkan di sungai-sungai, seperti ikan patin, ikan gabus (ikan haruan), ikan
saluang, ikan lais, ikan belida, udang galah, belut, kerang sungai (kijing), siput sungai (haliling), dsb. Tidak pernah terpikir oleh warga untuk memelihara atau menernak ikan di dalam empang atau kolam karena sungai telah menyediakan ikan dan binatang air yang berlimpah.
Sungai Katingan yang panjangnya lebih dari 300 kilometer bukan hanya menjadi sumber pangan bagi komunitas, melainkan juga sumber air bersih dan sarana transportasi. Dulu warga bisa begitu saja minum air sungai dan air dari anak-anak sungai Katingan serta sungai-sungai kecil yang ada di sekitar kebun garapan mereka tanpa dimasak terlebih dahulu. Saat itu kondisi sungai masih jernih. Warga juga tak pernah menghadapi persoalan banjir. Pada musim penghujan, air sungai memang meluap. Namun genangan air sungai segera surut setelah hujan berhenti.
Kehidupan komunitas berjalan dengan damai. Mereka dapat menjalankan dan menikmati semua kebiasaan budaya setempat tanpa ada gangguan. Ladang, sungai, dan hutan menjadi identitas dan tumpuan kehidupan ekonomi dan budaya masyarakat Dayak. Hubungan sosial, ekonomi, dan politik dalam komunitas diatur secara adat. Lahan juga dikelola secara bersama (komunal) berdasarkan aturan adat yang dipatuhi warga. Warga saling percaya dan menghormati hak kepemilikan warga atas lahan meskipun mereka tidak memiliki surat bukti kepemilikan.
Namun kehidupan warga dan komunitas berubah drastis setelah industri perkebunan sawit beroperasi di daerah mereka. Setelah sebagian besar hutan dan lahan-lahan gambut dibongkar dan berganti dengan perkebunan sawit, sayur- sayuran yang tumbuh liar di hutan dan ladang semakin sulit didapatkan. Bagi warga yang sudah kehilangan lahan malah tidak mungkin lagi mendapatkan
sayuran di areal sekitar tempat tinggal mereka seperti semula, tanpa mengeluarkan biaya finansial apa pun.
Berbagai binatang buruan juga semakin sulit didapatkan. Hilang pula akses untuk memenuhi keperluan obat-obatan herbal yang pada umumnya berasal dari berbagai jenis tumbuhan dari dalam hutan. Apalagi untuk keperluan kayu, misalnya untuk membangun rumah dan berbagai perabot rumah tangga, sudah sulit didapatkan.
Warga tak bebas lagi mengkonsumsi ikan yang berasal dari sungai Katingan. Pencemaran air sungai oleh limbah budidaya dan industri kelapa sawit serta pertambangan emas di sepanjang sungai Katingan, membuat ikan-ikan mengandung dzat berbahaya bagi manusia. Selain itu, populasi ikan juga semakin berkurang.
Kondisi anak-anak sungai Katingan yang berada di areal perkebunan kelapa sawit sangat mengkhawatirkan karena pencemaran bahan-bahan kimia dari budidaya dan industri kelapa sawit, seperti pestisida, herbisida, berbagai jenis pupuk kimia, baik yang dimasukkan ke dalam tanah maupun yang disemprotkan ke udara, dan juga limbah pabrik pengolahan kelapa sawit.
Sejak tiga tahun terakhir setelah pabrik pengolahan sawit milik PT KDP (Kar ya Dewi Putra) beroperasi, sungai-sungai di sekitar area perkebunan sa wit semakin berat tercemar. Warga desa Tumbang Marak, misalnya, pernah mene- mukan air sungai berubah warna menjadi hitam, baunya menyengat, ikan-ikan mati mengapung, dan dikerumuni banyak lalat. Padahal semula air anak sungai itu jernih. Akses mendapatkan protein dari ikan-ikan kini telah banyak berkurang. Warga juga mengeluhkan tentang munculnya banyak habitat lalat. Banyak lalat yang menyebar ke desa-desa.
Warga desa Tumbang Marak kian sulit mendapatkan sumber air bersih. Sungai-sungai yang sebelumnya dapat memenuhi kebutuhan air minum kini tak lagi bisa dikonsumsi. Sebagian warga mengusahakan sumur bor, sebagian lagi masih tergantung pada sungai Katingan dan air hujan. Biaya pembuatan sumur bor relatif mahal. Keluarga yang tidak memiliki sumur bor memanfaatkan air sungai Katingan untuk mandi dan cuci, sementara untuk minum mereka terpaksa membeli air kemasan dan memanfaatkan air hujan. Mereka menadah dan menampung air hujan untuk keperluan konsumsi dan mandi. Masalah muncul di saat musim kemarau. Ada warga yang terpaksa menggunakan air sungai untuk konsumsi dengan terlebih dahulu mengendapkan air yang mereka ambil dari sungai dan menggunakannya setelah semua kotorannya mengendap.
Warga desa Tumbang Marak sudah pernah melaporkan kondisi sungai- sungai yang tercemar ke aparat desa dan lembaga adat, dengan harapan bahwa
pihak desa meneruskan laporan mereka ke pemerintah daerah agar masalah bisa segera ditangani dan sungai yang tercemar bisa segera dipulihkan. Sebab air bersih adalah kebutuhan warga yang sangat mendesak. Warga Tumbang Marak sudah berkali kali melakukan protes ke PT KDP terkait rusaknya hutan adat dan tercemarnya sungai- sungai yang menjadi sumber air bersih bagi warga. Menanggapi protes warga, PT KDP berjanji akan memperbaiki. Namun hingga kini perusahaan tidak berbuat apa-apa, sungai-sungai masih tercemar.
Sejak hutan menghilang dan berganti dengan kebun-kebun kelapa sawit, desa-desa menjadi rentan terkena banjir saat musim penghujan. Kini banjir sering melanda daerah mereka akibat meluapnya air sungai Katingan. Berbeda dengan banjir yang terjadi pada masa sebelum ada perkebunan sawit, banjir sekarang terjadi selama berhari-hari, bahkan sampai satu minggu. Padahal dulu, genangan air akibat meluapnya sungai Katingan segera surut setelah hujan berhenti. Banjir yang berlangsung selama berhari-hari membuat kegiatan normal kehidupan ekonomi rumah tangga dan kemasyarakatan menjadi sangat terhambat. Selain itu, tanaman-tanaman pangan yang dibudidayakan pun banyak yang mati, terutama sayur-sayuran budidaya dan tanaman padi ladang. Bencana ini terutama sangat parah dialami oleh warga masyarakat adat di desa Tumbang Hangei.
Sungai Katingan dan semua anak sungainya adalah warisan alam dan budaya khas yang menjadi ciri spesifik kehidupan masyarakat di kabupaten ini. Dengan sangat merosotnya kondisi sistem sungai Katingan, identitas dan kehidupan budaya masyarakat pun terguncang dan terancam keberadaannya. Kemerosotan lanskap dan ekosistem serta budaya sungai Katingan sangat dirasakan dampaknya oleh masyarakat.
Sebelum adanya perusahaan-perusahaan sawit di wilayah mereka, lahan dan hutan dikelola secara adat. Kini kepemilikan dan kepenggarapan lahan oleh masyarakat adat secara cepat telah beralih ke tangan perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit atau perusahaan lain. Dulu menanam padi ladang adalah bagian dari kegiatan tradisi kelola lahan berpindah dari komunitas masyarakat adat yang dilakukan secara bersama-sama setiap tahun. Tradisi itu kini semakin sulit dilakukan karena semakin berkurangnya lahan hutan tersedia yang dapat dikelola. Tradisi masyarakat untuk mengelola lahan dan hutan secara komunal kian menghilang. Lahan-lahan yang masih beratasnama kepemilikan warga masyarakat adat semakin hari menjadi semakin terancam beralih kepemilikan kepada perusahaan-perusahaan besar dan warga masyarakat tidak memiliki andil atau keterlibatan lagi karena praktik penguasaan lahan oleh perusahaan dilakukan secara tertutup.
Sejak PT KDP beroperasi di sekitar desa Tumbang Marak, kenyamanan warga dalam mengelola kebun karet dan ladang sejak puluhan tahun silam mulai terganggu. PT KDP membabat habis hutan adat mereka. Beberapa warga Tumbang Marak lahannya juga dirampas perusahaan.
Perusahaan beroperasi tanpa secara jelas meminta persetujuan dari komunitas masyarakat setempat terlebih dahulu (prior consent). Warga masyarakat adat sering berhadapan dengan bujukan dan rayuan, terutama secara material. Warga juga menghadapi tekanan sosial agar menyerahkan hak penguasaan la- han nya pada perusahaan. Selama ini yang dikedepankan perusahaan bukanlah permintaan persetujuan masyarakat terlebih dahulu sebelum hutan atau kebun dibongkar, tetapi justru suatu jenis kegiatan sosialisasi agar pembongkaran hutan atau kebun rakyat itu segera dapat dilakukan. Sikap dan pendapat masyarakat lokal tidak dihormati oleh perusahaan-perusahaan itu. Warga mengaku, perusahaan cenderung menerapkan strategi “garap selonong” atau babat lahan dan hutannya dulu sebelum bicara dengan warga. Akibatnya, warga tidak punya pilihan selain menyerahkan lahan pada perusahaan.
Dibandingkan komunitas-komunitas desa lainya, desa Mirah Kalanaman adalah yang paling terkena dampak dari kehadiran perkebunan sawit. Sebab lokasi desa berada di tengah area beberapa perkebunan sawit dan perusahaan lain. Untuk itu penting kiranya memaparkan secara khusus apa yang terjadi dengan komunitas desa Mirah Kalanaman.
2.3.6. Komunitas Desa Mirah Kalanaman
Desa Mirah Kalanaman yang berada di wilayah kecamatan Katingan Tengah, kabupaten Katingan, adalah desa kecil dan terisolasi. Lokasi desa ini persis berbatasan dengan kabupaten Kotawaringin Timur. Lokasinya yang cukup jauh dari ibukota kecamatan ditambah kondisi jalan yang buruk membuat desa ini sulit dijangkau. Tak ada transportasi regular. Untuk bepergian keluar dari desa, warga terpaksa menggunakan jasa ojek dengan tarif Rp100.000 untuk sekali perjalanan.
Mayoritas warga desa Mirah Kalanaman adalah petani karet. Kebutuhan ekonomi rumah tangga didapat dari ladang-ladang karet. Menyadap karet menjadi kegiatan mereka saban hari di samping aktivitas lain seperti berburu dan mencari rotan. Untuk sumber pangan didapat dari mengolah ladang dan bertanam padi ladang dan berbagai jenis buah buahan seperti durian, cempedak, dan lainnya.
Sebelum perkebunan sawit masuk ke desa ini, kehidupan ekonomi warga desa relatif berkecukupan. Masing-masing warga memiliki kebun karet, buah-buahan dan menanam rotan yang sangat luas. Kebutuhan ekonomi keluarga seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial – termasuk ritual adat, diperoleh dari mengelola kebun karet, buah-buahan, rotan dan padi ladang. Warga tidak hanya menanam rotan, tetapi juga mengembangkan kerajinan dari rotan. Ketrampilan menganyam rotan ini diwariskan secara turun temurun.
Hutan yang lebat dan terjaga membuat warga bebas berburu dan me- manfaatkan hasil hutan lainnya. Binatang-binatang liar seperti babi hutan, rusa, monyet dan berbagai jenis burung mudah dijumpai. Berburu adalah bagian dari tradisi warga desa Mirah Kalanaman, baik dilakukan secara berkelompok maupun sendiri- sendiri. Hasil buruan sebagian untuk kebutuhan konsumsi keluarga dan sebagian lagi biasanya dijual. Keterampilan berburu diwariskan turun-temurun, misalnya dengan cara membuat dan menggunakan sumpit. Selain itu sungai-sungai di sekitar kampung pun masih jernih dan warga mudah mendapatkan berbagai jenis ikan.
Sumber air terdapat di banyak tempat, mudah dijangkau, kondisinya bersih dan tidak pernah berhenti mengalir meski di musim kering sekalipun. Meminum langsung air dari sungai merupakan hal yang biasa dilakukan warga. Bahkan diyakini meminum langsung air sungai dapat mengobati berbagai penyakit, karena air sungai mengandung zat-zat akar kayu hutan yang mengandung obat untuk tubuh.
Warga Mirah Kalanaman juga memiliki tradisi ladang berpindah, baik untuk menanam padi ladang maupun menanam karet, buah-buahan dan rotan produktif. Ratusan ribu pohon karet, berbagai jenis buah-buahan dan rotan tumbuh bersama pohon lainnya dalam hutan. Ini menandakan, sebelumnya hutan itu pernah dijadikan ladang. Sekalipun masyarakat mempraktikkan ladang berpindah, tidak ada satu pun “bekas” ladang menjadi gersang tapi sebaliknya selalu kembali menjadi hutan yang baru. Inilah hutan kelola masyarakat yang dijaga dan diatur pengelolaannya secara turun-temurun dengan berdasarkan aturan adat.
Berpuluh tahun warga hidup dengan sangat harmonis, selalu bergotong royong, baik dalam urusan kehidupan maupun urusan kematian. Keharmonisan itu terlihat, misalnya, dalam pembukaan ladang baru. Di sini semua warga terlibat. Semangat saling membantu juga terlihat dalam membangun rumah.
Kehidupan komunitas desa berubah sejak awal tahun 1996. Tahun 1996 adalah awal hilangnya berbagai sumber yang menopang kehidupan warga desa ini. Saat itu pemerintah daerah Katingan dan perusahaan sawit PT Bumi Hutan Lestari (BHL) mengunjungi desa Mirah Kalanaman dan melakukan sosialisasi
tentang kehadiran PT BHL. Namun, menurut warga, pemerintah tidak pernah secara transparan meminta pendapat warga atau meminta persetujuan warga soal kehadiran perusahan sawit.
Kepada warga PT BHL menjanjikan akan membantu mereka membangun desa, meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa, membantu membangun fasilitas jalan, sekolah, dan pelayanan kesehatan. Mendengar janji ini warga menyambut baik kehadiran perusahaan sawit. Fasilitas jalan, sekolah, pelayanan kesehatan dan listrik adalah kerinduan warga selama puluhan tahun. Dalam sosialisasi itu warga sama sekali tidak mendapatkan penjelasan soal dampak buruk dari kegiatan perkebunan sawit ini.
Tahun 1997 PT BHL mulai beroperasi. Puluhan hektar hutan seketika berubah menjadi hamparan padang luas, asap mengepul hampir setiap hari karena perusahaan membuka hutan dengan cara tebas bakar. Banyak warga Mirah Kalanaman terlibat juga dalam kegiatan penebangan dan pembakaran dengan upah yang sangat kecil. Tidak lebih dari Rp15.000 per hari.
Awalnya warga tidak berpikir soal dampak buruk setelah hutan mulai berkurang. Yang mereka pikirkan adalah janji fasilitas jalan raya, gedung sekolah yang bagus, pelayanan kesehatan dan fasilitas listrik. Namun yang terjadi kemudian, hutan menghilang, sumber air bersih di sungai-sungai besar dan kecil tercemar. Air sungai yang sebelumnya jernih kini berubah menjadi keruh dan berwarna kehitam-hitaman. Ikan-ikannya pun mati. Binatang lain, seperti burung juga kedapatan mati di sekitar sungai. Menurut warga, ada beberapa jenis burung yang hidup di sekitar sungai. Burung-burung ini memakan ikan dan cacing yang ada di sungai.
Sebelum PT BLH beroperasi warga Kalanaman memanfaatkan air sungai sebagai sumber air minum dan untuk kebutuhan mandi dan cuci. Kini kondisi sungai-sungai tidak bisa lagi dimanfaatkan airnya untuk minum dan mandi. Warga yang nekat menggunakan air sungai untuk mandi, badan kemudian gatal- gatal. Untuk memenuhi kebutuhan air konsumsi, warga terpaksa membeli air minum kemasan atau mengkonsumsi air hujan.
Tahun 2003, PT Karya Dewi Putra (KDP) mulai beroperasi dan membongkar puluhan ribu hektar hutan. Kehadiran PT KDP ini tanpa ada pembicaraan dengan warga Mirah Kalanaman. Saat memasuki desa, perusahaan langsung membabat dan membongkar hutan. Nama PT KDP sendiri baru belakangan diketahui warga. Perkebunan sawit PT KDP berdampingan dengan PT BHL dan PT Kasongan Bumi Kencana (KBK), sebuah pertambangan emas yang beroperasi sejak 2005. Tidak hanya itu. Pada tahun 2007 PT Bangkit Usaha Mandiri (BUM), PT Katingan Mitra Sejati (KMS) membabat hutan-hutan warga yang sejak nenek moyang dijaga keutuhannya.
Dari kasus-kasus yang dialami warga Mirah Kalanaman, ditemukan empat perusahan sawit yang melakukan perampasan ratusan hektar lahan milik warga. Sejak 1997 sebanyak 75 persen warga desa Mirah Kalanaman mengalami kasus pengambilalihan tanah secara sepihak oleh perusahan, baik itu PT BHL, PT KDP maupun PT BUM. Perampasan lahan ini dilakukan tanpa ganti kerugian yang layak dan adil. Bahkan sebagian warga tak mendapat ganti rugi.
Sejak beroperasinya perusahaan perkebunan di wilayah desa Kalanaman, relasi sosial antarwarga terganggu. Pihak perusahaan sengaja melakukan politik adu domba antarwarga. Pihak perusahaan menjalin relasi yang kuat dengan sekelompok warga, terutama kepala desa dan beberapa warga lain. Sekompok warga ini dipakai perusahaan untuk melakukan aksi teror dan penghadangan bila warga melakukan protes. Pihak perusahaan juga melibatkan aparat kepolisian untuk menghentikan penolakan dari warga.
Perpecahan antarwarga menguat saat perusahaan mulai merampas hu- tan adat dan lahan pribadi warga desa. Sebagian besar warga yang mulai me- rasa dirugikan melakukan protes dengan melaporkan tindakan perusahaan ke fungsionaris adat di desanya, pada pihak pemerintah desa, pemerintah keca- mat an dan kepolisian setempat. Namun perusahaan membayar orang-orang sewaan sebagai ‘tukang pukul’ mereka. Orang orang sewaan inilah yang sering kali meneror, mengancam dan memata-matai gerakan penolakan yang dilakukan warga. Sejauh ini belum ada laporan tentang kasus kekerasan fisik yang dilaku- kan ‘preman’ sewaan pihak perusahaan sawit. Namun intimidasi, teror, ancaman pembunuhan sering kali dialami warga. Warga yang lahannya dirampas perusahaan hingga kini hidup dalam situasi tertekan. Mereka merasa tidak aman, baik saat beraktifitas di ladang maupun saat melakukan aktivitas sosial lainnya.
2.3.7. Komunitas Desa yang Bertahan dari Sawit
Di antara komunitas-komunitas yang tidak berhasil menahan kehadiran perkebunan sawit, masih ada komunitas yang semua atau sebagian warganya masih bertahan dan tidak menyerahkan lahannya pada perkebunan sawit. Di antaranya adalah komunitas desa Tumbang Pariyei, komunitas desa Tewang Panjang, dan komunitas desa Tumbang Lahang.
Desa Tumbang Pariyei memang berlokasi agak jauh dari perusahaan perkebunan sawit dan karenanya belum terkena dampak dari kehadiran perkebunan sawit separah desa-desa yang berdekatan dengan area perkebunan
sawit. Hutan dan lahan mereka masih utuh. Hanya saja mereka sudah merasakan dampak dari kehadiran perkebunan sawit dalam bentuk semakin parahnya pencemaran sungai Katingan oleh limbah dari perusahaan sawit. Mereka kini tidak bisa lagi mendapatkan air bersih dari sungai Katingan seperti sebelumnya. Dulu mereka biasa meminum langsung air dari sungai Katingan tanpa dimasak. Kini kebanyakan warga tidak lagi mengambil air sungai Katingan untuk konsumsi. Warga yang mampu secara ekonomi membuat sumur bor untuk mendapatkan air bersih. Warga yang tidak membuat sumur bor mengambil air untuk konsumsi dari anak sungai Katingan. Sementara untuk mandi dan mencuci mereka masih mengambil air dari sungai Katingan. Ada juga warga yang masih menggunakan air sungai Katingan untuk konsumsi. Hanya saja mereka terlebih dahulu mengendapkan air yang mereka ambil dari sungai Katingan, memisahkan air dan endapannya dan kemudian memasaknya sebelum dikonsumsi.
Selain tercemarnya sungai Katingan, mereka juga merasakan perubahan cuaca. Saat musim kemarau udara terasa jauh lebih panas dibandingkan sebelum perkebunan sawit banyak beroperasi di wilayah Katingan. Selain semakin panas, udara juga tercemar oleh debu. Debu yang tebal di musim kemarau membuat warga tidak bisa lagi melakukan perjalanan dari desa Pariyei ke desa-desa lain