Warga kemudian menggali sumur di pekarangan rumah mereka. Namun tidak semuanya berhasil mendapatkan air bersih dari sumur tersebut. Tidak semua air yang keluar dari sumur galian bisa diminum. Tidak sedikit yang airnya hitam dan berbau. Dari keseluruhan warga yang kehilangan tanahnya, hanya separuhnya saja yang berhasil mendapatkan air bersih dari sumur gali. Separuhnya lagi terpaksa mengambil air dari desa tetangga dan menempuh jarak tak kurang dari sembilan kilometer.
Hilangnya hutan, lahan pertanian dan menipisnya ikan di sungai menjadikan sebagaian besar warga beralih pekerjaan. Dari petani pemilik ladang, pengumpul hasil hutan dan pemburu, menjadi pekerja upah harian di perkebunan PT SGM. Dari yang subsisten atas pangan menjadi sangat bergantung pada upah untuk membeli bahan pangan. Dari produsen mereka berubah status menjadi konsumen.
Sebagai buruh harian lepas di PT SGM, mereka tidak memiliki kepastian jaminan hak untuk bekerja. PT SGM bisa dengan mudah memutuskan hubungan kerja karena mereka hanyalah buruh harian lepas yang tidak memiliki ketrampilan. Mereka dipekerjakan untuk penanaman kelapa sawit, pembersihan lahan dan perawatan dengan upah Rp 68 ribu per hari, dengan jam kerja dari pukul 06.00 – 14.00. Tak jarang mereka terpaksa bekerja lebih panjang bila angkutan penjemput berupa truk bak terbuka terlambat datang atau ketika hari sedang hujan lebat.
Mereka bekerja pada PT SGM dengan upah harian tanpa disertai kontrak kerja. Hak sebagai buruh tidak dijamin. Mereka tidak memiliki serikat pekerja, tidak memiliki jaminan kesehatan dan keselamatan kerja dan dalam bekerja juga tidak disediakan alat-alat kerja. Alat-alat kerja harus mereka beli sendiri. Ada buruh yang seluruh badannya tersengat lebah saat bekerja, memaksa diri keluar dari rumah sakit karena pihak perusahaan tidak bersedia menanggung biaya rumah sakit. Sudah sakit, pihak perusahaan masih juga memecatnya. Buruh rentan kehilangan pekerjaan. Mereka mengaku, perusahaan akan mem- berhentikan buruh yang dinilai melawan perusahaan. Itulah sebabnya, para bu- ruh tidak berani bicara terbuka dengan orang luar menyangkut perusahaan. Mereka khawatir akan mendapatkan masalah.
Hilangnya hutan dan lahan bagi komunitas desa Sarapat juga berarti hilangnya budaya. Praktik budaya makin menurun, karena tidak ada lagi hutan, tanah, wilayah, hukum, institusi, tradisi, ritual, sistem dan lembaga pendidikan, bahasa, pengetahuan, pengobatan, dan pangan lokal. Tidak ada lagi pertemuan adat reguler tentang pengelolaan sumber daya alam. Hilangnya pertemuan reguler ini membuat rasa saling curiga semakin menebal di antara anggota komunitas. Sebab dengan hilangnya pertemuan reguler itu berarti tidak ada lagi ruang dialog dan komunikasi antarwarga. Hilang pula ruang bagi warga untuk bisa membicarakan masalah yang tengah mereka hadapi.
PT SGM ikut berperan dalam memenuhi kesempatan memperoleh pen- didik an. Mereka menyediakan bis sekolah bagi anak-anak karyawan mereka yang bersekolah SMP dan SMA di luar desa. Hanya sebatas itulah kontribusi yang diberikan PT SGM pada masyarakat desa. Sampai sekarang masyarakat desa Sarapat tidak merasakan adanya kontribusi perusahaan perkebunan dalam pembangunan desa dan pembangunan sarana pendidikan di desa Sarapat. Mereka merasakan, sebagai komunitas mereka telah kehilangan segalanya. Ketidakberdayaan warga berhadapan dengan perusahaan perkebunan ini mendorong seorang bapak tua, tokoh warga setempat, suatu hari nekat mengambil mandau dan sendirian hendak menyerang PT SGM. Untunglah kemarahan bapak tua ini berhasil diredam war- ga. Pada bapak tua itu warga berjanji untuk terus berjuang mengembalikan hutan dan lahan mereka.
Menurut bapak tua tersebut, hadirnya perusahaan sawit membuat kehidupan masyarakat desa jauh lebih buruk daripada kehidupan di era penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan dulu, rakyat yang mau bertanam karet justru mendapatkan insentif. Ketika Belanda melakukan penyerangan, rakyat masih bisa lari dan bertahan hidup di hutan. Sekarang, mereka yang bertanam karet dimusuhi, kebun dan ladang mereka dirampas, warga dipaksa hidup berimpitan di kampung dan menjadi kuli di lahan sendiri.
Pada saat sosialisasi, PT SGM berjanji untuk memberikan skema kemitraan kepada anggota komunitas yang telah melepaskan tanahnya. Dengan skema kemitraan itu, warga dijanjikan setiap bulan akan menerima sejumlah insentif melalui rekening tabungan masing-masing keluarga. PT SGM menyebut skema kemitraan ini sebagai ‘kemitraan inti-plasma’. Dengan skema ini warga yang melepaskan tanahnya mendapatkan luasan tertentu kebun plasma yang dikelola pihak perusahaan dan setelah panen warga tinggal menerima hasilnya. Namun janji tersebut sampai sekarang belum terealisasi.
Desa Sarapat pada tahun 2012 dihuni oleh 167 keluarga, yang terdiri dari 646 jiwa. Dari jumlah tersebut, hampir 80 persen penduduk desa Sarapat telah kehilangan tanahnya dan kini bekerja sebagai buruh harian lepas di perusahaan sawit PT SGM. Dengan upah harian sebesar Rp 68 ribu, warga yang bekerja sebagai buruh harian lepas mendapatkan penghasilan hampir Rp 1,76 juta per bulannya. Bila dalam satu keluarga terdapat dua orang yang bekerja pada PT SGM, maka penghasilan keluarga tersebut sebesar Rp 3,5 juta per bulannya.
Dengan uang sebesar Rp 3,5 juta per bulan itulah mereka harus mencukupi kebutuhan keluarga. Untuk kebutuhan membeli beras, misalnya, mereka harus mengeluarkan Rp 600 – 750 ribu per bulan dengan harga beras sekarang Rp 10 ribu per kilogram. Untuk belanja sehari-hari di luar beras, setiap harinya warga mengaku keluar uang rata-rata sebesar Rp 50 ribu atau Rp 1,5 juta per bulan. Biaya pendidikan dan membeli bahan bakar minyak setiap bulannya tak kurang dari Rp 1 juta. Belum lagi biaya kesehatan dan biaya sosial untuk terlibat dalam berbagai pesta dan upacara adat, serta biaya tak terduga lainnya. Warga memperkirakan, setiap bulan ada sisa uang sekitar Rp 250 ribu – Rp 400 ribu per bulan. Ini kalau dalam keluarga ada dua orang yang bekerja. Kalau tidak, maka semakin kecil peluang warga untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Hilangnya sumber-sumber kehidupan yang berasal dari hutan, sungai, kebun, dan ladang membuat warga semakin bergantung pada pasar dalam memenuhi kebutuhan hidup. Banyak kebutuhan sehari-hari yang harus dibeli. Ini yang membuat pengeluaran warga jauh lebih besar daripada pengeluaran sebelum ada perkebunan sawit.
2.3.2. Komunitas Desa Dayu
Desa Dayu adalah ibukota kecamatan Karusen Janang, kabupaten Barito Timur. Sebelum tahun 2011 komunitas desa Dayu hidup dengan memanfaatkan sumberdaya alam. Mereka berladang untuk menanam padi sekali dalam setahun. Mereka juga berburu dan memasang jerat untuk binatang di hutan sebagai sumber protein nabati. Mereka menggunakan sungai Karusen sebagai sumber air bersih dan tempat untuk menangkap ikan di sepanjang alirannya. Sungai Karusen adalah satu-satunya sumber air minum masyarakat desa Dayu dan sekitarnya.
Sungai Karusen dan hutan adalah sumber kehidupan bagi masyarakat desa Dayu. Sepanjang kiri dan kanan sungai Karusen adalah daerah rawa seluas kira- kira seribu hektar. Kawasan rawa ini merupakan habitat penting bagi ikan, seperti
lais, baung, jelawat dan lainnya. Di kawasan hulu sungai terdapat areal hutan. Kawasan hutan di hulu sungai itu adalah hutan primer yang belum dieksploitasi dan diperuntukkan sebagai daerah resapan air. Sumber mata air sungai Karusen berasal dari sana.