• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lahan kebun masyarakat sebelum diambil alih

Dalam dokumen INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1) (Halaman 82-87)

Di aliran sungai Karusen terdapat instalasi pengolahan air minum PDAM yang nilainya miliaran rupiah dan diperuntukkan bagi warga konsumen dari desa Dayu, desa Simpang Naneng, Kandris, dan desa Tampa, kecamatan Paku. Namun sungai di sebelah barat sungai Karusen (bagian hilir) telah tercemar. Menurut informasi dari para warga, area di sepanjang sungai yang tercemar adalah kawasan perkebunan kelapa sawit PT SGM. Padahal dulunya air sungai di bagian hilir ini sama jernihnya dengan di bagian hulu. Kini air sungai di bagian ini sangat keruh dan warga mengeluh karena tidak ada lagi ikan yang dapat ditangkap di sungai ini.

Berbeda dengan desa Sarapat, fasilitas pendidikan dasar di desa Dayu relatif memadai. Terdapat setidaknya dua sekolah dasar dan satu sekolah menengah pertama. Tenaga pengajarnya berjumlah enam orang, dengan jumlah murid sekitar seratus tiga puluh orang. Gedung sekolah itu dibangun oleh pemerintah daerah.

Puskesmas juga tersedia di sini. Setiap minggu sekali, dokter dari rumah sakit umum (RSU) di Tamiyang Layang, ibukota kabupaten Barito Timur, membuka praktek pengobatan. Sehari-hari, seorang bidan desa dan perawat bertugas tetap. Seluruh jenis obat-obatan berasal dari RSU.

Pada tahun 2011, perkebunan kelapa sawit PT Ketapang Subur Lestari (KSL) membuka areal. Pertama-tama mereka membuka sejumlah area untuk pembibitan kelapa sawit. Pembukaan areal pembibitan kelapa sawit itu berdampak pada penutupan sejumlah kawasan rawa. Tercatat, sedikitnya tiga kawasan rawa menjadi korban, yakni Rawa Mipa, Rawa Putut Nanakan dan Rawa Wakung. Kawasan rawa yang dulu dikeramatkan oleh masyarakat, kini telah ditutup.

Rawa yang tertutup menyebabkan berkurangnya pasokan ikan. Ketiga rawa tersebut dikenal sebagai rumah para ikan dan karenanya dikeramatkan oleh masyarakat. Selain itu, penutupan rawa turut mempengaruhi ketinggian permukaan air di sungai Karusen meskipun belum sampai menimbulkan banjir. Di sekitar area tersebut, tingkat kemiringan lahannya mencapai lebih dari 30 derajat. Komunitas masyarakat Dayu menjadi khawatir.

Mereka belajar dari pengalaman komunitas-komunitas lain yang menjadi korban perkebunan kelapa sawit PT SGM. Sejak beroperasinya perusahaan sawit PT SGM, banyak warga kesulitan mendapatkan air bersih dan juga terkena bencana banjir. Kekhawatiran warga kian bertambah dengan ditutupnya dua anak sungai untuk pembuatan jalan oleh pihak perusahaan. Ditutupnya anak sungai akan mengurangi suplai air ke sungai Karusen.

Kekhawatiran lain yang kini dirasakan masyarakat Dayu adalah potensi hilangnya hutan primer di hulu Sungai Karusen dan puluhan hektar kebun masyarakat yang menyangganya. Kekhawatiran masyarakat desa ini bukan tanpa

alasan. Dari melihat peta bakal areal konsesi perkebunan sawit PT KSL, mereka tahu bahwa hutan primer dan area kebun warga masuk dalam area konsesi perkebunan PT KSL. Selain itu mereka sudah melihat bagaimana nasib warga yang berada di lingkar perkebunan sawit: kesulitan air bersih, bencana banjir, kesulitan mendapatkan pangan, dan konflik.

Peta 5 : Desa Dayu dikepung perkebunan sawit (PT SGM) dan pe- rusahaan tambang (PT SSG) [Peta ini didasarkan pada gambar yang

Untuk mencegah hilangnya hutan primer dan lahan kebun, para warga masyarakat desa Dayu bersama dengan komunitas adat dari desa di sekitarnya serta komunitas transmigran desa Lagan bersatu dan berjuang bersama untuk mempertahankan tata kelola lingkungan yang baik. Secara swadaya mereka membuat petisi, menghimpun dukungan, dan berdialog dengan pihak perusahaan pertambangan dan PT KSL, dengan difasilitasi DPRD setempat. Sayang bahwa perjuangan mereka belum mencapai hasil. Rekomendasi yang mereka ajukan pada pihak pemerintah dan perusahaan masih diabaikan.

Mereka menyesalkan bahwa pihak perusahaan dan pemerintah setempat tidak pernah mengajak tokoh-tokoh masyarakat, terutama para tetua desa, untuk bermusyawarah. Padahal merekalah yang tahu sejarah desa, luas wilayah, situs- situs masyarakat setempat dan kearifan lokal dalam mengelola sumberdaya alam. Pihak perusahaan dan pemerintah terkesan sengaja menutup informasi terkait perkebunan sawit dari mereka.

2.3.3. Komunitas Transmigran Desa Luau Jawuk

Desa Luau Jawuk berada di wilayah kecamatan Paku, kabupaten Barito Timur. Warga komunitas transmigran di desa Luau Jawuk mayoritas berasal dari Jawa. Pada tahun 1994 para transmigran ini tiba di lokasi transmigrasi yang awalnya dikenal dengan sebutan SP 2. Kawasan SP 2 dihuni oleh 150 keluarga (KK). Dulu lokasi transmigran ini terdiri dari dua kawasan, yaitu SP 1 yang terletak di Padang Runggu, dan SP 2 atau Satuan Pemukiman 2 yang terletak di Luau Jawuk. Total jumlah transmigran di kedua area ini sebanyak 300 KK. Pada saat itu para transmigran mendapatkan lahan rumah dan pekarangan seluas 0,25 hektar dan lahan usaha 1 seluas masing-masing 0,75 hektar.

Pada tahun 1997, kelompok masyarakat transmigran mendapatkan lahan usaha dua seluas satu hektar. Bidang tanah untuk rumah dan pekarangan diperuntukkan bagi tempat tinggal beserta halamannya. Seluruh warga komunitas transmigran memanfaatkan halaman pekarangan rumah untuk bertanam sayur mayur. Sementara lahan usaha satu dikelola untuk persawahan. Berdasarkan pengalaman bertani di Jawa, para anggota komunitas transmigran mengelola sawah dengan dukungan irigasi. Mereka membendung dan mengalir kan sebagian aliran sungai, yaitu anak sungai Paku, menjadi irigasi tersier. Peme rintah desa menganggarkan pembangunan irigasi tersebut pada tahun 2003, dan terealisasi pada tahun berikutnya.

Para anggota komunitas transmigran juga membentuk kelompok-kelompok tani. Ada lima kelompok tani yang terbentuk. Tiap kelompok beranggotakan 15-

20 petani yang berdomisili dalam satuan wilayah admisnistratif rukun tetangga (RT). Salah satu tujuan pembentukan kelompok tani adalah mempermudah mereka dalam mengakses pupuk dan sarana produksi pertanian lain yang disediakan pemerintah kabupaten Barito Timur. Bantuan pupuk dan sarana produksi pertanian ini diberikan pemerintah untuk para petani yang menanam padi dan sayur. Semua desa berhak mengakses bantuan ini. Warga transmigran dan warga lokal dapat mengakses bantuan ini. Hubungan komunitas transmigran dengan komunitas masyarakat lokal Dayak terjalin dengan baik. Mereka hidup berdampingan secara harmonis. Bahkan ada beberapa pemuda dari komunitas transmigran yang menikahi perempuan dari masyarakat Dayak.

Di dalam pemukiman transmigran telah dibangun sekolah dasar. Sekolah itu dibangun oleh pemerintah. Jumlah tenaga pengajarnya lima orang, dengan peserta didik mencapai 70-an anak. Untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, anak-anak dari komunitas transmigran harus bersekolah di ibukota kecamatan atau ibukota kabupaten. Dalam hal ini PT SGM menyediakan sarana bus sekolah yang melayani antar-jemput bagi anak-anak karyawan yang bersekolah di luar desa Luau Jawuk. Meskipun diprioritaskan bagi anak-anak karyawan, na- mun anak-anak desa yang bukan karyawan juga bisa ikut menumpang.

Sayangnya, desa ini tidak memiliki fasilitas kesehatan. Meskipun terdapat kantor Puskesmas pembantu tetapi tenaga kesehatan yang ada hanyalah bidan desa. Tidak ada dokter dan tidak ada fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Bila bidan desa tidak dapat memberikan pelayanan atau ada penyakit yang tidak bisa ditangani, warga komunitas transmigran terpaksa harus pergi ke puskesmas yang ada di ibukota kecamatan, yang jaraknya sekitar lima kilometer dari kampung transmigran.

Sejak tahun 2011 komunitas transmigran menghadapi persoalan dengan perusahaan sawit PT SGM. PT SGM bermaksud mengambil alih lahan usaha dua milik para transmigran. Padahal para transmigran sudah memiliki sertifikat hak milik atas semua lahan yang mereka terima dari pemerintah, termasuk lahan usaha dua. Sertifikat ini diberikan oleh dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Badan Pertanahanan Nasional. Meskipun mereka pemegang sertifikat hak milik atas lahan usaha dua, namun mereka tidak pernah tahu di mana lokasi lahan usaha dua tersebut. Meskipun sebenarnya sudah ada peta pembagian lahan, namun kaplingan lahan yang sesungguhnya belum diberitahukan pada para transmigran. Selama ini mereka hanya mengerjakan lahan pekarangan dan lahan usaha satu. Ketidaktahuan inilah yang mendorong pihak PT SGM mengambil alih lahan usaha dua milik para transmigran (lih Foto 18). Lokasi lahan usaha dua baru diketahui para warga transmigran setelah PT SGM membuka lahan sawit di area

lahan dua yang menjadi hak para transmigran. Informasi ini diperoleh warga dari para buruh sawit yang adalah juga warga transmigran. Di saat membuka lahan, mereka menemukan patok-patok koordinat yang merupakan tanda pembagian lahan bagi warga transmigran (Foto 19) .

Dalam dokumen INDUSTRI PERKEBUNAN SAWIT DAN HAK ASASI (1) (Halaman 82-87)