• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arti Agama

Dalam dokumen TASAUF MODEREN (Halaman 67-72)

Ad-din, diartikan dalam bahasa kita agama, atau igama, Ad-din itu sendiri menurut artinya yang asli ialah menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Tetapi agama itu telah umum dalam bahasa kita. Agama itu sendiri menurut bahasa terambil juga dari bahasa Arab, yaitu iqamah artinya pendirian. Menurut kata setengah pula, diambil dari bahasa Sansekerta, yang artinya A = tidak, gama = benda.

Agama ialah buah atau hasil kepercayaan dalam hati, yaitu ibadat yang terbit lantaran telah ada iktiqad lebih dahulu, menurut dan patuh karena iman. Tidaklah timbul ibadat kalau tidak ada rashdiq dan tidak terbit patuh (khudu') kalau tidak dari taat yang terbit lantaran telah ada tashdiqq (membenarkan), atau iman. Sebab itulah kita katakan bahwa agama itu hasil, buah atau hujung dari iktikad, tashdiq dan iman. Bertambah kuat iman, bertambah teguh agama, bertambah tinggi keyakinan, ibadat bertambah bersih. Kalau agama seseorang tidak kuat, tidak sungguh dia mengerjakan, tandanya imannya, iktikadnya dan keyakinannya belum kuat pula. Kalau seseorang mengerjakan agama karena pusaka, turunan atau lantaran segan kepada guru, bila tempat segan, takut dan guru itu tidak ada lagi, hilanglah agamanya itu dari dirinya. Menurut Taghib Al Ashfahani dalam kitabnya "Gharibul Quran":

"Agama itu diuntukkan bagi taat dan pahala, dipakai juga untuk menamai syariat, dan dipakaikan pula untuk metundukan dan kepatuhan menurutkan perintah syariat".

HAMKA :Tasauf Moderen

68 | M a l i n a l - F a d a n i

1. Hubungan Agama Dengan Iman.

Sebagian filosof Islam berkata:

"Iman itu meskipun bermacam-macam rupanya, namun pertaliannya dengan agama kuat sekali, bahkan tidaklah ada agama kalau tidak ada iman, padahal iman boleh ada meskipun agama tidak ada. Ibarat segala barang yang ada ini, meskipun rupaya berbeda-beda dan bentuknya tidak sama, wujudnya hanya satu. Maka agama dengan iman itu demikian juga, jauharnya satu, meskipun berbeda-beda bentuk dan rupanya".

Kalau kita perhatikan hadis Nabi tentang pertanyaan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, tentang arti Islam, iman dan ihsan, bagaimana Nabi berkata setelah Jibril ghaib dari mata sahabat-sahabatnya:

"Itulah malaikat Jibril yang datang kepada kamu hendak mengajarkan agama kamu".

Nyatalah bahwa jauharnya satu juga, meskipun berbeda-beda bentuk agama iman dan ihsan itu.

2. Iman Pada Adanya Tuhan.

Kehidupan ini membuktikan bahwa Tuhan Allah ada.

Dengan perantaraan alat yang bernama mikroskop, teleskop dan lain alat pembesaran, orang dapat melihat tubuh yang halus, yang dibesarkan beribu-ribu kali. Mereka dapat meyakinkan bahwa pada tubuh yang kasar dan hidup ini ada benda yang sangat halus, sel namanya. Orang Arab menamainya jauhar, yang sangat kecil, lunak, tidak mempunyai warna, bentuknya serupa telur. Barang itu telah lama sekali diperhatikan, diselidiki dengan sangat hati-hati. Alat pembesaran itu dibuat lebih sempurna dan lebih membesarkan, kenyataan bahwa sel itu tidak mempunyai anggota, tidak mempunyai alat, rupanya dan bentuknya sama saja, walau yang lekat pada manusia dan binatang, atau yang lekat pada tumbuh-tumbuhan.

Sejak dari yang ada pada hujung daun, sampai kepada yang ada dalam otak manusia. Orang telah melihat bahwa barang halus itu senantiasa bergerak, tidak berhenti walau sesat. Dijalarinya juga zat-zat yang tidak hidup yang ada di kelilingnya, sehingga lama-lama barang yang tidak hidup itu menaruh kehidupan

HAMKA :Tasauf Moderen

69 | M a l i n a l - F a d a n i

pula, kehidupan ajaib, yang belum dapat diselami rahasianya oleh ilmu pengetahuan. Kemudian terjadilah beberapa tali yang keras, urat-urat atau tulang. Kalau telah berupa tulang, tidak akan jadi daging, atau sebaliknya. Mana yang menjadi daun, tidak dapat lagi menjadi buah, mana yang teruntuk jadi bunga, tidak akan jadi urat dan seterusnya.

Segala sifat yang terjadi itu berbeda-beda bentuknya, jadi daun, buah, daging, tulang, urat dan jadi bunga, padahal asalnya cuma dari zat yang satu, serupa saja pada asalnya, hanya satu, dan tidak pernah salah.

Setelah segala tubuh itu dijadikannya tidaklah dia terpisah daripadanya, tetapi tubuh itu sendiri telah menjadi beberapa bagian, ada yang jadi daging, jadi tulang, jadi daun dan jadi buah. Sehingga kelihatan bahwa zat yang kecil-kecil tadi tersiar di seluruh tubuh, sehingga meskipun diambil bagian yang terkecil dan dibagi sampai 50 kali, namun tubuh halus itu masih ada di sana. Ahli-ahli telah menetapkan bahwa zat halus itu mempunyai kehidupan.

Timbul pertanyaan:

Dari manakah zat halus itu beroleh kehidupan? Menapa dia boleh hidup dengan barang yang di sekelilingnya? Mengapa kemudiannya zat halus itu boleh pula terbagi menjadi beberapa bagian yang sangat banyak? Tiap-tiap bagian yang mendatang kemudian itu kekuatannya sama juga dengan kekuatan zat yang pertama? Mengapa pekerjaannya membuat daun, buah, daging dan tulang itu selalu beres?

Di sini mulai orang menggelengkan kepala, mulai mereka tertumbuk kepada suatu yang kuat yaitu: Kami belum tahu belum dapat diberi kepastian apakah artinya hidup itu, hanya dipunyai oleh suatu zat saja karena kadang-kadang kelihatan bahwa hidup itu hanya barang yang datang berdiam dan lekas pergi dari zat, tetapi kadang-kadang tampak bahwa hidup itu sama terjadi dengan zat.

Di sini setelah segala yang halus-halus itu diselidiki mulai timbul pertanyaa, terutama oleh orang yang bukan kepalang pintar, bahwanya kejadian ajaib ini, tentu tidak terjadi kebetulan saja, dan mesti begitu saja. Bagaimana terjadinya dan siapa yang menjadikannya? Apa dari mana datangnya hidup itu? Apakah terjadi dengan sendirinya? Orang yang melihat pameran memperhatikan mesin-mesin baru, berbeda sifat-sifatnya dan berbeda kekuatannya. Satu mesin mengupas padi, menyaring dan menjadikannya beras, dan mesin yang lain lagi menjadikannya tepung. Mesin yang satu lagi boleh menganth tembakau. Yang lain mencetak, menggunting, melipat dan mengatur surat-kabar. Seketika orang tercengang dan

HAMKA :Tasauf Moderen

70 | M a l i n a l - F a d a n i

berkata dalam hatinya. Alangkah pintarnya manusia yang memiliki kepandaian membuat mesin ini.

Baik! Sekarang kalau dikatakan orang bahwa ada suatu mesin baru, hirup apinya dari gas yang dikorek sendiri oleh mesin itu ke dalam tanah, dan air yang perlu teralir dan badannya dijemputnya sendiri ke dalam sungai, sehingga air itu masak lantarannya dinyalakan api, dan api itu menjadi asap, kemudian dia bergerak sendirinya, dia sendiri pula yang pergi menjemput gandum yang sedang terlonggok di SAWah, ada pula perkakas yang akan memotong dari tangkainya lantas berputar pula sendirinya, sehingga gandum itu tertanam dengan kekuatan mesin, terkupas dengan kekuatan mesin, atau kertas itu tercetak dengan kekuatan mesin, tidak dari pendapat manusia dan tidak pula ikut campur tangan manusia. Kalau ada orang menceritakan bahwa ada mesin bernyawa begitu, bagaimanakah kata yang mendengar.

Orang mengatakan tukang kabar itu pendusta, tidak masuk akal dan fikiran! hanya orang-orang yang dipengaruhi dongeng agaknya yang akan tertarikh dengan kabar ganjil itu.

Memang tidak ada mesin seganjil itu, tidak dicampuri akal dan fikiran, tidak dicampuri pendapat manusia dan tangan manusia. Tidak masuk akal satu mesin terjadi sendiri dan menciptakan diri sendiri.

Bagaimana dengan barang atau binatang hidup yang kita namai sel, atom atau elektron bernyawa yang sangat kecil itu? Yang kalau dikumpulkan barang seribu ekor belum sampai besar hujung jarum. Para ahli dan orang-orang pintar menyelidiki dan telah tahu bahwa dia bernyawa dan boleh memindahkan hidup kepada barang yang tak bernyawa di sekelilingnya. Meskipun kecil, kalau ditilik dengan alat, kelihatan sebagai hutan lebat layaknya. Sehingga manusia tercengang melihatnya.

Apakah mengenai soal kecil ini, kita akan memutuskan saja bahwa dia terjadi sendiri, secara tiba-tiba karena demikian kehendak alam? Sedang mesin yang bekerja sendiri, atau kapal belayar sendiri, mustahil? Kalau alam kuasa mengadakan barang kecil secara tiba-tiba, mengapa tidak kuasa mengadakan barang besar?

Kenapa kepada benda kecil itu kita mengambil misal?

Sedang yang besar, yang terbentang di hadapan mata tak jadi perhatian?

Orang memandang basi dan lapuk kalau kita mencari misal dari binatang-binatang yang kasar, dari manusia yang matanya selalu dapat melihat. Mata yang jernih

HAMKA :Tasauf Moderen

71 | M a l i n a l - F a d a n i

bercahaya, kenapa dapat melihat? Telinga, mengapa dia mendengar? Beribu, beratus-ribu ahli-ahli menciptakan mesin baru. Kalau diselidiki hasil ciptaan itu bukan dari fikiran sendiri, tetapi segala pendapat itu telah begitu mestinya, mereka hanya membuka rahasianya. Suruh bikinlah suatu mata atau telinga! Mereka dapat meniru bentuk, tetapi tak kuasa membuat khasiatnya! Semua akan menjawab" "Tak sanggup!".

3. Kami Tak Kuasa.

Tidak heran, karena manusia hanya dapat mencari rahasia barang yang telah ada, tetapi tersembunyi. Mereka tidak kuasa membuat mata yang pandai melihat dan telingan yang pandai mendengar. Demikian juga tidak kuasa memutuskan bahwa atom dan sel kecil-kecil itu terjadi sendirinya.

Kalau rahasia apa sebab mata boleh melihat telah diketahui, dan diakui manusia tidak boleh meniru kalau rasia apa sebab telinga boleh mendengar dapat diketahui, dan diakui oleh manusia, dan telah yakin bahwa ada yang mengatur menjadikan, yaitu kehendak tabiat, kehendak alam dan lain-lain sebagainya. Apakah sebab tabiat dan alam itu sendiri, langit dan bumi akan ditumbuhkan juga kepada kejadian tiba-tiba? Kenapa kebetulan.

Segala sesuatu terjadi tiba-tiba, dan tiba-tiba itu dijadikan oleh tiba-tiba pula, maka timbul pertanyaan: Mengapa rentetan tiba-tiba itu beraturan? Apakah teratur itu pun suatu tiba-tiba?

Apakah sampai di sana hujungnya lari daripada Tuhan?

"Wahai manusia! Diperbuat Allah beberapa misal hendaklah kamu dengarkan. Sesungguhnya yang kamu seru selain dari Allah itu, tidaklah kuasa membuat lalat,

HAMKA :Tasauf Moderen

72 | M a l i n a l - F a d a n i

meskipun mereka berbincang untuk itu. Dan kalau lalat itu sendiri merampas barang sesuatu dari diri mereka, tidaklah dapat mereka merebutnya kembali, lemah yang menuntut dan lemah pula yang dituntut. Tidaklah mereka dapat menaksir Allah dengan sempurna taksiran, sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Kuasa". (Hajj: 73-74).

Kesimpulan:

Segala alam ini ada yang menjadikan, kehidupan itu terjadi dengan tiba-tiba, tetapi ada yang menjadikan. Perkataan itu bukan hanya buatan manusia. Dibikin-bikin oleh ahli-ahli agama, seperti tuduhan sebagian ahli falsafah, tetapi memang sudah begitu jadinya, memang sudah kebetulan dan dijadikan oleh Yang Maha Menjadikan tiba-tiba.

Dalam dokumen TASAUF MODEREN (Halaman 67-72)