H. Perlombaan Beragama
I. Keterangan Iktikad Yang Tiga
1. Iktikad (kepercayaan) yang pertama:
Bahwasanya Manusia Adalah Makhluk Yang Termulia Dan Tinggi Di Muka Bumi.
Kepercayaan ini ialah tiang kemajuan pergaulan hidup. Sebab bilamana manusia percaya bahwa dirinyalah yang termulia di muka bumi, dengan sendirinya timbullah minatnya hendak menjaga kemanusiaannya, tidak sama derajatnya dengan binatang. Bertambah kuat kepercayaan itu bertambah tinggi derajatnya di dalam pergaulan hidup dan bertambah naik tingkatan akal budinya, tercapai olehnya kedudukan yang tinggi, tegak keadilan dan kebenaran sesama manusia. Tidak buas, sebab kebuasan itu sifat singa dan harimau, tidak kejam, sebab kejam itu sifat beruang, tidak mau dihinakan orang, sebab suka menerima hinaan adalah sifat anjing, sedangkan anjing pun kalau senantiasa diganggu akan menggigit. Segala jalan yang demikian tercapailah kebahagiaan, yang menjadi tujuan dari segala manusia berakal dan ahli hikmat.
HAMKA :Tasauf Moderen
89 | M a l i n a l - F a d a n i
Kepercayaan seperti ini, menyingkirkan manusia dari meniru keldai dalam kebodohan, lembu dalam pendorong, babi dalam merusakkan tanaman orang lain, meniru ulat-ulat yang melata, yang tidak sanggup menghindarkan bahaya. Kepercayaan ini juga yang menyingkirkan manusia dari hidup sendiri-sendiri, tidak bertolong-tolongan dan berbantu-bantuan. Kepercayaan inilah yang menimbulkan minat berfikir menderdaskan akal merenung dan menyelidik, karena ada keyakinan dalam hati bahwa saya ini manusia, lebih dari lain-lain makhluk.
Di zaman sekarang, ramai orang yang kehilangan kepercayaan demikian. Dia berkepercayaan lain, yaitu manusia ini tidak berbeda dengan makhluk lain, bahkan lebih hina, golongan yang tidak berarti dari penduduk bumi. Golongan ini pulalah yang ringantangannya melakukan kekejaman, menganiaya, merampas, merusak. Bahkan telah ada yang kembali kepada zaman sediakala hidup secara alamiah, dengan mengadakan kelab-kelab telanjang (nudisme), sebab telanjang itu alamat budi dan kesopanan yang sejati, menurut perasaan meraka. Rasa hati kita, barulah cukup teori yang sangat 'tinggi' ini, jika semuanya meminum sebangsa obat yang boleh menggilakan fikiran, supaya perjalanan saksi itu berhenti,lepas dari ikatan sebagai manusia. Sebab kalau akal masih ada, orang belum bebas dan merdeka.
2. Kepercayaan Yang Kedua.
Kepercayaan Pemeluk Tiap-tiap Agama, Bahwa Pemeluk Agamanyalah Yang Lebih Mulia Daripada Pemeluk Agama Lain.
Orang yang anti agama mengatakan bahwa orang beragama adalah fanatik. Sebab menghidupkan permusuhan dan kebencian. Anti agama lupa, bahwa segala pemeluk agama itu waalaupun apa namanya, bagaimanapun partikaian faham di antara mereka, permusuhan merekan akan hilang, mereka bersatu menghadapi anti agama.
Kepercayaan ini sangat besar faedahnya bagi kemajuan manusia dan pergaulan hidup. Karena ada persangkaan bahwa agamanya sendiri yang mulia senantiasa dia berusaha memperbaiki budi pekertinya dan memperhalus kesopanan dan pengetahuan, supaya dia kelihatan tinggi dan berderajat. Seorang yang kuat kepercayaan, demikian keinginannya timbul hendak menebarkan keras menyiarkan agamanya ke seluruh dunia, sebab mereka berkeyakinan bahwa agama itulah yang akan membebaskan manusia dari dosa. Orang Islam belum bersenang hati sebelum segala isi alam ini memeluk agamanya, karena dengan agama itulah dunia akan mencapai kemuliaan dan bahagia di dalam masyarakat besar ini. Kepercayaan
HAMKA :Tasauf Moderen
90 | M a l i n a l - F a d a n i
bahwa agama sendiri yang paling mulia itu pun mencegah pemeluknya menganiaya sesama makhluk, takut akan rusak nama baik agama yang dimuliakannya. Dia tidak merasa senang jikalau umat yang sama-sama memeluk agama dengan dia beroleh kehinaan. Dia tidak senang melihat orang lain beroleh kekuasaan dan kemuliaan sedang pemeluk agamanya sendiri tidak. Padahal pengajaran agamanya tidak kalah bagusnya daripada pengajaran agama orang yang beroleh kemuliaan.
Kalau kaumnya mengalami kemunduran, dahulu mulia sekarang hina, dahulu memerintah, sekarang di bawah kuasa orang lain, dahulunya menjadi mulia, sekarang menjadi umat yang binasa, maka hatinya tak senang lagi, hidupnya tak senang diam. Dia belum akan berhenti berusaha sebelum umatnya kembali kepada kenuliaannya sediakala. Dia akan berusaha sehabis tenaga sampai cita-citanya berhasil. Kalau belum berhasil, sedang dia lekas mati, akan dipesankannya kepada anak cucunya, menyuruh menyambung pekerjaan itu. Dia hanya menuju satu tujuan, yaitu kemuliaan umatnya, di dalam menuju tujuan tersebut dua pula yang harus dilaluinya, pertama berhasil dan dia sendiri yang memegang bendera kemenangan, kedua mati dalam perjuangan dengan pedang di tangan.
Mati dengan cara demikianlah yang semulia-mulia mati dalam pandangan seorang yang beragama.
Kepercayaan inilah yang selalu membangkitkan hati bangsa di dunia mengejar kemajuan, berlomba-lomba memperluas daerah ilmu dan pendapat baru. Bangsa yang berkepercayaan begini, akan bangkit dan mencapai kemuliaan. Meskipun satu waktu dia turun dia akan naik kembali. Sebab kepercayaan ini masih tetap terpendam dalam jiwanya "Aku umat mulia".
Coba perhatikan kaum yang telah kehilangan kepercayaan. Bukankah terhenti perjalananya dalam menuju bahagia dan ketinggian? Tidakkah mereka menyerah saja jika dianiaya musuh? Tidakkah ini pangkal kemiskinan dan kehinaan? Memang, jika kepercayaan lemah ini ke muka orang lain akan maju dan dia tinggal di belakang.
Bagaimana dengan orang Islam?
Umat Islam mempunyai kepercayaan demikian. Mereka yakin bahwa agama Islam lebih tinggi dan tidak ada yang melebihi, umatnya manusia yang termulia. Tetapi di kalangan kaum Muslimin yang bodoh, kepercayaan begini menjadi lemah dan kendur karena ada beberapa kepercayaan lain yang salah pasang. Mereka percaya bahwa kelemahan yang menimpa diri adalah takdir Tuhan, tak boleh dibantah, tidak perlu pula ikhtiar menghilangkan, sebab telah tertulis lebih dalam azal, di
HAMKA :Tasauf Moderen
91 | M a l i n a l - F a d a n i
Luh Mahfuz, semasa alun beralun, langit belum, bumi pun belum, untung jahat dan untung baik telah tertulis lebih dahulu.
Kesalahfahaman kepercayaan ini menjadikan umat Islam lemah dan putus asa. Sebab manusia tidak dapat mengetahui bagaimana isinya Luh Mahfuz itu, sedang dia telah memutuskan saja bahwa yang tertulis di sana adalah 'kehinaan'.
Yang Kedua Luh Mahfuz itu adalah "Umul Kitab", ibu dari kitab dan nasib, yang memegang dan mengaturnya adalah Tuhan sendiri, isinya menurut kehendak Tuhan, bukan menurut kehendak kita. Tuhan boleh mengubah, juga boleh menghapuskan dan boleh menetapkan, bahkan juga menambah, bukan tetap begitu saja.
"DihapuskanNya nama yang dikehendakiNya, dan ditetapkanNya nama-nama yang dikehendakiNya, sebab ditanganNyalah terpegang Ibu Kitab itu". (Ar-Ra'ad: 39). Kita tak kuasa mengubah kadar, Tuhan Maha berkuasa. Kita wajib bekerja dan ikhtiar, supaya diubah nasib kita oleh Tuhan, diubahNya isi "ummul Kitab" itu menurut kehendakNya, yang tidak dapat dihalangi orang lain sedikitpun. Sebab Dia tidak akan mengubah untung nasib yang menimpa kita, sebelum kita ubah lebih dahulu:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasibnya sendiri". Ar-Ra'ad: 11).
Nasib boleh berubah, asal diikhtiarkan mengubahnya lebih dahulu. Kehinaan umat yang sekarang bukan didatangkan Allah dengan tiba-tiba, tetapi umat itulah yang memilih kehinaan. Kemuliaan yang tercapai oleh pemeluk agama lain, setelah mereka ikhtiarkan pula lebih dahulu, mendatangkan kemuliaan kepada orang yang pemalas, walaupun bagaimana bagus pengajaran agamanya, atau mendatangkan kehinaan kepada orang yang berusaha, walaupun pelajaran agamanya kurang bagus alamat tidak ada keadilan.
Allah Maha Kuasa, Dia kuasa memberikan kemuliaan kepada si goblok ( si bodoh), kuasa pula memberikan kemiskinan kepada umat yang giat bekerja. Tetapi kalau
HAMKA :Tasauf Moderen
92 | M a l i n a l - F a d a n i
Tuhan melakukan kekuasaan demikian, tandanya Dia tidak adil. Padahal di antara Kekuasaan dengan Keadilan, tidak dapat dipisahkan.
Kita wajib berusaha, menguatkan kembali kepercayaan bahwa kita umat yang mulia, lebih mulia dari pemeluk agama yang lain, dan pemeluk agama lai itu pun mempunyai pula kepercayaan yang demikian, sehingga segala manusia berlomba-lomba menuju kebahagiaan.
"Maka berlomba-lomba kamu mengejar kebaikan". (Al-Baqarah: 148).
Tetapi amat salah jika kita mengaku dan membangga bahwa kita semulia-mulia umat, padahal perintah agama tidak dikerjakan. Inilah dia pangkal sengketa. Inilah anasir perpecahan, yang tidak dikehendaki agama.
3. Keperecayaan Ketiga.
Manusia Hanya Singgah Di Bumi.
Didalam hati orang beragama, dunia ini bukan tempat yang kekal, tempat singgah sebentar saja, sedang perjalanan yang akan ditempuh masih jauh. Kepercayaan ini menimbulkan minat yang giat untuk mencapai kemuliaan rohani, budi dan jiwa. Sebab jiwa itu masih tetap hidup pada alam yang kedua kali, dan kepercayaan ini menghindarkan nafsu tamak dan loba. Kalau tidak dengan Dia tidak akan tercapai kemuliaan batin. Orang yang diikat dunia memperkaya badan kasarnya, bersolek, sombong, memuliakan diri dari orang lain. Tetapi orang yang percaya bahwa dia hanya singgah di dunia ini, berusah memperindah batinnya, budi dan jiwa. Digosoknya akal budi dan dikirannya ssupaya bertambah berkilat. Dia memikirkan kemegahannya semasa dia hidup. Tiap-tiap hari, malamnya siangnya, saatnya, jamnya, dikorbankannya untuk itu. Dia mencari harta dengan jujur, tidak menyakiti orang lain, tidak dicampuri tipu daya, tidak suka menerima uang suap dan rasuah, tersingkir dari kelobaan anjing dan kecerdikan kancil, terpelihara dari menusuk kawan seiring, menggunting dalam lipatan. Hasil usahanya buah kekayaannya, tidaklah dibelanjakannya kepada yang percuma, tidak dihamburkannya untuk mengenyangkan syahwat tetapi diukur dijangkakan, supaya dmemberi faedah pada orang lain dan kebersihan jiwa.
HAMKA :Tasauf Moderen
93 | M a l i n a l - F a d a n i
Cobalah renungkan.
Rugikah bangsa atau umat yang berkepercayaan begini?
Inilah suatu keuntungan, sebab dia menimbulkan kepercayaan dalam hati orang, ahawa dirinya bukan miliknya, tetapi kilik umum. Inilah tiang tengah untuk maju bagi suatu bangsa, inilah pokok pangkal berdirinya pertalian manusia dengan budi, bukan dengan yang kuat merendahkan yang lemah. Barulah bahagia masyarakat, bilamana segala orang telah tahu akan haknya dan hak orang lain, sehingga tidak pernah terbentur lagi, Ini pula yang memperkuat pertalian bangsa dengan banggsa, duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Yang menjadi kepala Pemerintah ialah kebenaran, yang menjadi hakim yang paling kuasa ialah keadilan.
Bila kepercayaan ini sudah tidak ada lagi, dan manusia merasa dunia inilah medan lainnya tak ada lagi, maka dusta, munafik, pepat di luar lancung di dalam, helah, tipuan, menjual teman, kecoh, menjual petai hampa, membungkus kerosong damar, menganiaya dengan diam-diam, mungkir janji, merampas, permusuhan, kebencian, siapa kuat ke atas dan siapa lemah tertekan itulah semuanya akan berkuasa.
Kepercayaan akan hari akhirat itu adalah obat hati, menghadapi dunia yang penuh kecewa dan kepalsuan ini.