H. Peringatan Mati
I. Obat Dukacita
Dukacita, ialah penyakit yang timbul lantaran terlampau kuatnya keterikatan dengan dunia ini. Keterikatan itu pasti ada selama kita hidup yaitu keterikatan dengan anak, isteri dan sebagainya. Karena kehilangan orang yang dikasihi atau orang yang disukai. Sebab dari timbulnya dukacita itu, karena terlalu besar mementingkan keperluan jasmani, dan syahwat tidak terbatas sehingga timbul kepercayaan bahwa barang yang dicintai itu tidak boleh berpisah-pisah selama-lamanya dari badan. Padahal kalau manusia telah tenteram hatinya, sehat badannya, dan cukup pula yang akan di makan pagi dan petang, itulah orang yang sekaya-kayanya dan sesenang-senangnya. Kalau sudah begitu masih merasa dukacita juga, tandanya orang itu kurang akal dan kurang budi. Timbul penyakit dukacita ialah lantaran menyadari keberuntungan yang telah berlalu, atau takut menghadapi bahaya yang akan datang, atau karena memikirkan bahwa yang ada sekarang ini masih belum cukup dan serba kurang.
HAMKA :Tasauf Moderen
160 | M a l i n a l - F a d a n i
1. Dukacita Memikirkan Yang Telah Lalu.
Kalau manusia berdukacita memikirkan keberuntungan, kekayaan dan kemuliaan yang telah hilang, kedukaan itu tidak berfaedah sama sekali. Sebab segala kejadian yang telah lalu walaupun bagaimana meratapinya, tidaklah akan kembali. Sedangkan masa dua menit yang lalu, walaupun dikejar dengan mesin terbang, yang sekencang-kencangnya atau yang melebihi kecepatan suara, tidaklah dapat dikejar. Apa guna meratapi yang telah lalu, dia tak akan pulang, dan lantaran diratapi dia boleh merusakkan badan. Kedukaan yang begini timbulnya lantaran tidak berkeyakinan bahwa segala isi alam ini asalnya tidak ada, kemudian itu ada dan akhirnya akan lenyap. Kemuliaan, ketinggian, kemajuan kecintaan yang disayangi anak dan isteri, harta benda, semuanya akan datang kepada kita dan akan pergi dari kita. Kalau tidak kita yang pergi lebih dahulu, tentu mereka. Sebab kepergian itu berdahulu, berkemudian juga.
Mengobat dukacita ini tidak lain hanyalah dengan menjaga yang tinggal sekarang. Karena semuanya ini, baik yang telah pergi dan hilang atau yang sedang ada, apalagi yang akan datang, semuanya itu nikmat. Jangan ampai lantaran meratapi nikmat yang hilang, kita lupa akan nikmat yang ada. Nanti yang ada itu setelah hilang diratapi pula.
Dalam pepatah ada tersebut:-
"Kalau ada jangan harap, kalau hilang janganlah cemas.
Di waktu nikmat membanjir, hendaklah syukuri, letakkan ditempatnya. Insyaf bahwa barang ini hanyalah pinjaman. Jika nikmat yang sangat dicintai itu masa muda, gunakanlah masa muda itu dengan baik, dan yakini masa muda itu tak lama. Kalau dia pergunakan dengan baik, kelak kalau sampai tua, kita tidak menyesali kepergiannya lagi, melainkan tersenyum dan bangga bahwasanya semasa muda dahulunya, kita telah berbuat baik.
Kalau nikmat yang membanjir itu harta benda, kekayaan dan kemuliaan, peliharalah dan gunakan dengan baik. Jangan dilupakan bahwa dia akan pergi. Jangan hanya diingat semasa saya kaya daulunya. Ingat pula yang sebelum itu, yaitu: Semasa saya lahir dahulunya.
Seketika Maharaja Iskandar Zulkarnain akan menghembuskan nafasnya yang penghabisan, setelah menaklukkan negeri-negeri Persia dan India, setelah dirasakannya bahwa telah sampai waktunya kembali ke akhirat, maka Maharaja yang muda belia itu mengumpulkan orang-orang besarnya dan berkata:
HAMKA :Tasauf Moderen
161 | M a l i n a l - F a d a n i
"Bilamana aku mangkat, letakkan mayatku dalam peti, bawa ke negeri Persia dan Mesir dan ke segenap jajahan yang telah aku taklukkan. Dari dalam peti hendaklah hulurkan kedua belah tanganku yang kosong, supaya orang tahu bahwa Raja Iskandar yang maha kuasa, walau bagaimana kuasa sekalipun, dia kembali ke akhirat dengan tangan kosong juga. Jika ibu dan ahli rumahku hendak meratapi mayatku, janganlah dilarang mereka meratap, cuma suruh saja cari dua orang yang akan jadi temannya, yaitu orang yang tidak akan mati selama-lamanya, dan orang yang tidak pernah kematian. Kalau yang berdua itu telah ada, bolehlah mereka meratapi aku".
2. Dukacita Memikirkan Yang Sekarang.
Kalau orang berdukacita memikirkan yang sekarang barangkali orang ini berdukacita karena orang lain dapat nikmat, dia tidak. Atau karena melarat hidupnya, dan cita-citanya yang senantiasa tak berhasil. Barangkali dia kekurangan harta, kurang mulia. Barangkali juga dia tidak duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan orang lain.
Sebabnya orang ini berdukacita, ialah lantaran dia tak tahu rahasia kehidupan dan dunia. Dia tidak tahu dunia ini kandang ripuan. Ini hari disenyumkannya kita, esok ditangiskannya. Kalau hendak mengobati penyakit ini, janganlah diingat tatkala
Napoleon jadi kaisar saja, tetapi hendaklah diingat pula semasa dia mati di tanah
pembuangan di Pulau St. Helena. Kalau difikirkan sampai ke sana, timbullah syukur dalam hati, mujurlah saya dalam keadaan yang begini. Secinta-cinta orang kepada perempuan cantik, kalau difikirkannya akhir akibat perempuan itu, akan kuranglah cintanya. Sebab rahasia dunia ini ganjil sekali. Tiap-tiap kemuliaan mengandung racun, dan tiap-tiap kesengsaraan mengandung faedah. Manusia hidup di dunia diancam dengan tiga anak panah. Panah kejatuhan, panah penyakit, dan panah
kematian.
Lihatlah garis perjalanan dunia, peredaran politik tiap hari, lihat dan baca. Jangan dilihat dan dibaca saja, perhatikan pula akibatnya. Coba lihat negeri Austria di masa yang lalu menjadi pusat Kerajaan Austria Hongaria. Kemudian jadi satu bagian kecil dari Jermania Raya. Kemudian jadi kota kecil yang miskin. Kekayaannya hanya semata-mata sejarah. Lihat pula negeri Jerman, menjadi kerajaan yang kalah, kemudian naik daun, kemudian kalah dan bangkit menjadi bangsa yang kuat. Demikian keadaan negeri, demikian pula raja-raja. Itulah hidup.
HAMKA :Tasauf Moderen
162 | M a l i n a l - F a d a n i
Kalau diperhatikan segala kejadian ini dengan saksama, tidaklah orang akan berhiba hati memikirkan kekurangan diri dan nasib, tidak pula akan tercengang melihat kenaikan dan kejatuhan orang lain, tidak harap lantaran dapat untung, dia tidak cemas lantaran beroleh rugi.
Janganlah menyangka, bahwa 'hidup' itu hanya bernafas, hanya makan dan minum. Carikan segala ikhtiar untuk memperbanyak pengalaman dan ilmu dari edaran alam. Berjalanlah ke pasar-pasar, ke muka-muka pejabat bank. Lihatlah bagaimana seorang kasir payah-payah menghitung-hitung uang berjuta-juta tiap hari, sedang gajinya hanya 600 rupiah (60 sen) seublan. Jangan pula lupa melihat anak kecil dan perempuan-perempuan tua yang duduk di muka bank itu. Duduk berlindung di cucuran atapnya, karena tidak mempunyai rumah. Batasnya dengan tempat penyimpan uang berjuta-juta itu hanya sebatas dinding, tetapi bukan dia yang empunya. Coba periksa apakah tuan yang menguasai bank itu bersukacita dan gembira lantaran uang banyak? Pernahkah tuan itu susah? Pernah! Dia menyusahkan uangnya yang banyak, dan perempuan dan anak kecil dan nenek tua yang duduk di muka bank itu menyusahkan uang pembeli nasi tak ada. Cuma yang disusahkan yang berlain, derajat susah sama.
Semasa agama Islam mulai dibangkitkan, Rasulullah SAW melarang sahabat-sahabatnya ziarah ke kuburan, takut kepercayaan dan iktikad mereka akan rusak kembali, karena mereka masih dekat dengan zaman jahiliah. Tetapi setelah tiba di Makkah, larangan itu baginda cabut buat kaum lelaki, mereka dibolehkan ziarah ke kubur. Lantaran ziarah ke kubur menimbulkan ingatan kepada kematian. Tidak berapa lama kemudian, perempuan-perempuan diberi pula ieizinan, untuk menjadi iktibar.
Ahli-ahli tasauf banyak ziarah ke dekat-dekat penjara, ke rumah sakit, ke tempat-tempat orang miskin yang melarat, bahkan mereka singkirkan mendekati istana-istana.
Apakah guna semua itu? Ialah untuk menimbulkan keinsyafan bahwa kita tak boleh berdukacita atas kesusahan, dan tak boleh bergembira benar atas kemuliaan, Karena dunia ini penuh rahasia.
Dalam urusan kehidupan hendaklah mengadap kepada orang yang lebih atas jangan terbalik, supaya tidak hilang pedoman. Itulah maka kerapkali bila ditanya seorang yang salah: Apa sebab engkau berbuat kesalahan ini? Dia menjawab: Sedangkan tuan Anu berbuat demikian.
Jika ditanyai, mengapa engkau menghabiskan umur begini dalam hidupmu? Dia menjawab: Aku sangat ingin bermegah-megah semacam si Anu.
HAMKA :Tasauf Moderen
163 | M a l i n a l - F a d a n i
3 Dukacita Memikirkan Yang Akan Datang.
Jika orang berdukacita memikirkan masa yang akan datang, tentu yang dia fikirkan satu dari dua macam kejadian, yaitu yang pasti datang dan yang barangkali datang. Yang pasti datang adalah mati an tua, mustahil menolaknya. Hal itu tak usah diulang lagi.
Duka mengingat akan tua dan mati, adalah duka karena jahil.
Kalau hal itu masih boleh ditolak, lebih baik jangan dihabiskan hari dalam berdukacita, tetapi lekas-lekaslah sediakan segala usaha penolak yang ditakuti itu. Kalau hanya berdukacita saja, tentu dia datang juga, tandanya kita tidak percaya adanya kudrat dan iradat Allah. Di sinilah perlunya persediaan 'tawakkal' serahkan keputusan itu kepada Allah swt.
Itulah maksud firman Tuhan:
" Tiadalah menimpa suatu musibah di dalam bumi ini, atau di dalam dirimu sendiri, melainkan semuanya itu telah tertulis di dalam Kitab, sebelum ia terjadi dahulunya. Semuanya itu bagi Allah mudah saja. Supaya janganlah kamu sekalian berdukacita mengingat barang yang telah hilang dan jangan pula bersukacita atas barang yang datang kepadamu, dan Allah tidak suka kepada tiap-tiap orang yang sombong dan membanggakan diri". (Al-Hadid: 22-23).
Orang sangat takut bahaya yang akan datang, karena hatinya lekat kepada dunia dan sombong lantaran nikmat dunia. Dia tidak ingat kepada pepatah:
HAMKA :Tasauf Moderen
164 | M a l i n a l - F a d a n i