C. Al Iman
1. Iman Mutlak
Adapun Iman Mutlak, atau iman semata-mata, telah termasuk juga ke dalamnya Islam. Jadi adalah iman itu lebih umum dari Islam dan lebih meliputi. Tersebut di dalam hadis sahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim bahwa seketika Rasulullah SAW memberikan pengajaran Islam kepada utusan kaum Abdul Qais, baginda berkata:
"Saya suruh kamu sekalian beriman kepada Allah. Tahukah kamu bagaimana iman kepada Allah itu? Iman pada Allah ialah mengucapkan syahadah, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruhNya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat dan menyisihkan seperlima dari harta rampasan perang untuk dimasukkan kepada kas (baitulmal) negeri".
Di dalam hadis ini nyata maksud perkataan setengah ulama, di antaranya Ibnu Taimiyah, bahwa tiap-tiap orang yang beriman itu adalah Islam, tetapi tidaklah tiap-tiap orang Islam itu beriman.
HAMKA :Tasauf Moderen
55 | M a l i n a l - F a d a n i
Terang pula bahwa arti iman dengan arti Islam jauh perbedaannya. Islam adalah bekas dari keimanan. Dalam Quran senantiasa disebut orang yang beriman dan beramal soleh. Amal soleh itulah Islam.
Bertambah nyata lagi pada suatu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Saidina Umar bin Khattab, bahwa seketika Jibril datang merupakan dirinya sebagai seorang lelaki, dia bertanya kepada Nabi SAW:
"Apakah Islam?"
Jawab Nabi: "Islam ialah engkau ucapkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruhNya, mendirikan solat, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan, naik haji kalau kuasa".
"Apakah Ihsan?"
"Ihsan ialah bahwa engkau beribadat kepada Allah seakan-akan engkau melihat Dia. Walaupun engkau tidak melihat Dia namun Dia melihat engkau".
Terang nyata kita lihat dari hadis ini bahwa uratnya ialah iman, pohonnya Islam, dan disiram terus supaya subur dengan ihsan. Apa sebab maka iman dikatakan uratnya? Memang karena tidaklah orang mengerjakan amal, yaitu Islam kalau hatinya sendiri belum percaya. Maka tidak diterima Allah amal orang yang munafik, sebab hatinya sendiri tidak percaya, meskipun dia solat.
Maka supaya iman itu boleh subur dalam hati, hendaklah bersihkan hati dari sifat-sifat takabur, hasad dan mencari kemegahan.
Takabur adalah sifat Firaun yang tidak mau menerima agama yang dibawa Nabi
Musa, sebab dipandangnya Musa itu hanya seorang anak yang masih muda yang bertahun-tahun lamanya menumpang di dalam rumahnya. Takabur itu pula yang menyebabkan ramai orang yang tidak mau percaya kepada seruan Nabi Nuh, tidak mengikuti kepercayaan Tauhid, sebab dipandangnya Nabi Nuh itu orang tidak terkenal dan dari kalangan orang yang biasa saja, pengikut-pengikutnya pun orang yang tiada harga.
Jika takabur menghalangi Firaun, hasad menghalang Iblis percaya kepada Adam. Masa seorang yang dijadikan daripada tanah hendak melebihi orang terjadi dari api. Masa orang yang baru dijadikan akan disembah oleh orang yang sekian lama menjadi penghulu malaikat lantaran tunduknya kepada Tuhan? Maka hasad itu menghabiskan amalan sebagaimana api menghabiskan kayu yang kering.
HAMKA :Tasauf Moderen
56 | M a l i n a l - F a d a n i
Kemegahan, kegilaan kepada pangkat yang sedang dipikul itu pula yang menghalang raja Heraculis akan beriman kepada Muhammad. Dia sudah tahu kebaikan Islam, tetapi lantaran takut pangkat dan kehormatannya akan jatuh di hadapan orang-orang besar dan rakyatnya, mundur hatinya akan mempercayai Muhammad, padahal dia telah mendapat bukti yang cukup bahwa Muhammad itu benar Nabi yang ditunggu-tunggu di akhir zaman.
Firaun, Iblis dan Heraculis itu bukanlah kekurangan penyelidikan dan pengetahuan. Mereka tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi keingkaran itu senantiasa terbit karena hawa nafsu.
Demikian pula orang Yahudi di zaman Rasulullah SAW. Sebelum Muhammad diutus, mereka telah membaca di dalam Taurat, bahwa dia akan datang. Mereka kenal sebagaimana kenal akan anaknya sendiri. Tetapi setelah dia datang, mereka kafir dan menolak, lantaran hawa nafsu juga. Malah orang Nasrani berani mengubah kitab suci.
Semata-mata dengan pengetahuan saja, belum tentu orang akan beroleh keselamatan. Hendaklah ilmu itu menimbulkan percaya, percaya menimbulkan cinta, tidak diikat oleh dengki, yang dihambat oleh takabur atau hasad atau kemegahan sebagai perkataan Ibnu Ruslan:
"Orang yang alim kalau tidak mengamalkan ilmunya, adalah akan diazab sebelum orang yang menyembah berhala".
Untuk menjaga jangan sampai pengetahun tidak diikuti oleh cinta, yang dihambat oleh takabur,hasad, atau kemegahan itu, Rasulullah menunjukkan suatu doa demikian bunyinya:
"Ya Tuhanku, bahwasanya aku berlindung pada Engkau dan hati yang tiada khusyuk, dan dari Doa yang tiada didengarkan Tuhan, dan dari nafsu yang tidak mau kenyang-kenyangnya dan dari ilmu yang tiada manfaat".
Disuruhnya juga memohonkan:
"Ya Tuhanku, bukalah pendengaran hatiku kepada ingat akan Engkau dan beri rezekilah aku dengan taat kepada Engkau dan taat kepada Rasul Engkau dan mengamalkannya sepanjang yang tersebut di dalam kitab Engkau".
Ingatlah bahwa:
HAMKA :Tasauf Moderen
57 | M a l i n a l - F a d a n i
Satu golongan (firqah) dalam Islam bernaka Jahamiyah cabang dari golongan Mu'tazilah, mempunyai pendirian tersendiri di dalam perkara ini. Mereka menyangka, bahwa semata-mata dengan telah tahu saja serta dibenarkan dengan hati, meskipun tidak dikerjakan, telah boleh disebut mukmin.
Pendapat itu dibantah dengan alasan "Quran telah menyatakan bahwa orang itu belum patut disebut mukin".
Maka Jahamiyah menjawab:
"Maksud ayat ini bukan semata-mata mengatakan tidak beriman, tetapi maksudnya ialah mengatakan bahwa tidak ada pengetahuan dalam hatinya".
Tentu pendapat itu mendapat bantahan keras dari firqah yang lain, terutama dari pemegang mazhab Salaf. Kalau faham Jahamiyah yang dipakai, tentu tidak ada disiplinnya lagi, longgar saja beragama ini asal percaya, cukuplah jadi mukmin. Sebab itu Imam Al Waki Ibnul Jarrah (guru Imam Syafie), dan Imam Ahmad bin Hanbal, menghukumkan sesat faham Jahamiyah tersebut. Sebab sudah nyata bahwa ramai manusia yang mengarti bahwa kebenaran itu memang kebenaran, dan kesalahan itu memang karena beberapa sebab. Dalam kalangan bangsa Eropah yang menjajah negeri Timur, tidak sedikit yang percaya kebenaran Islam, tetapi tak mau memeluk Islam karena iba pada pangkat dan malu, atau karena dapat bisikan dari pemerintah yang lebih tinggi. Sebab itu tidaklah tiap-tiap orang yang menolak kebenaran itu tidak tahu bahwa yang ditolaknya itu benar adanya.
Sebab itu kukuhlah tegaknya pendirian yang bermula tadi. Baru sah iman kalau telah disertai amalan, dan amalan itulah Islam. Islam artinya menurut, menyerah, bukti menyerah itu ialah amalan. Ke situlah pulangnya perkataan ulama Salaf yang mula-mula tadi, yang iman itu ialah ilmu dengan amal.
Dari yang telah tahu, tahu menimbulkan percaya, percaya menimbulkan tunduk dan menurut makna timbullah amalan yang dikerjakan oleh anggota lahir. Kalau hati telah tunduk diiringi oleh perbuatan, berhasillah apa yang dimaksud dengan iman dan Islam. Suatu perbuatan kalau tidak dikerjakan tandanya hati belum mau. Kalau hati belum mau tandanya syahadah yang disebut-sebut itu, hanya dari mulut saja, tidak dari hati.
Orang bertanya: "Abu Talib cukup cinta kepada Nabi Muhammad SAW mengapa dia tidak masuk Islam atau mengamalkan Islam?"
Jawab: "Dia bukan cinta kepada pengajaran yang dibawa Nabi Muhammad, tetapi yang dicintainya ialah anak saudaranya yang bernama Muhammad. Yang dicintainya diri Muhammad, bukan pengajaran Muhammad. Cinta kepada diri Muhammad
HAMKA :Tasauf Moderen
58 | M a l i n a l - F a d a n i
bukanlah jadi pangkal. Yang perlu lebih dahulu ialah cinta kepada agama yang dibawanya. Dengan sendirinya kelak, lantaran cinta kepada agama itu, akan menurut cinta kepada dirinya".
Sebab itu Abu Bakar berkata seketika Nabi Muhammad meninggal: "Barangsiapa yang mencintai Muhammad, maka Muhammad telah mati. Tetapi barangsiapa yang mencintai Allah, Allah selamanya hidup tidak mati-mati".
Abu Bakar itu sendiri, cinta kepada Nabi Muhammad adalah lantaran agama yang dibawanya, sebab itu setelah Nabi Muhammad wafat, tidaklah dia bergoncang sebagaimana goncang orang lain. Al-Quran menyaksikan kecintaan Abu Bakar itu yang setinggi-tinggi cinta dalam Islam, yang harus menjadi tujuan dan segenap orang yang hidup.
Firman Allah swt:
"Akan dijauhi (neraka itu) oleh orang yang paling takwa yang mengeluarkan harta-bendanya lagi menyucikan (menzakatkan). Dan tidaklah seorang juga pada sisinya nikmat (pemberian) yang meminta balasan, hanyalah semata-mata mengharapkan wajah Tuhannya Yang Maha Tinggi". (Al-Lail: 17-21).
Orang yang paling takwa di sini, kata mufassirin ialah Abu Bakar yang diberi gelaran As-Siddiq, lantaran apa saja seruan Rasulullah SAW dibenarkannya.
Demikian juga Umar, Ali dan sahabat-sahabat yang lain, menurut tingkatan masing-masing.