• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tidak Insyaf Kemana Sesudah Mati

Dalam dokumen TASAUF MODEREN (Halaman 146-150)

G. Takut Mati

2. Tidak Insyaf Kemana Sesudah Mati

Orang takut mati karena dia tidak tahu ke mana akan pergi sesudah mati, dan tidak tahu bahwa jiwa itu kekal. Tidak tahu pula kaifiat dan keadaan hari kemudian. Orang yang demikian, pada hakikatnya bukanlah takut mati, tetapi tidak tahu barang yang mesti diketahui. Yang menimbulkan takut, ialah kebodohan. Bagi orang

HAMKA :Tasauf Moderen

147 | M a l i n a l - F a d a n i

cerdik, kematian itu mendorongnya menghabiskan umurnya menuntut kemuliaan rohani. Mereka lebih suka bertanggang (berjaga), tidak tidur sampai larut malam karena memikir hikmat. Mereka berkeyakinan bahwa kesenangan sejati di dalam kehidupan ialah terlepas dari kebodohan, terlepas dari kebingungan di dalam menilik rahasia alam. Kepayahan yang larut menimpa jiwa, obatnya ialah mempelajari ilmu, itulah kelezatan dan kesenangan abadi.

Oleh sebab itu orang yang cerdik giat menuntut ilmu yang hakiki, dan dengan ilmu itu dapat menyelidiki bagaimanakah keadaan insan sesudah matinya. Seorang sahabat Nabi SAW bernama Haritsah berkata kepada Nabi:

"Oh, Rasulullah, seakan-akan hamba lihat Arasy Tuhan terbentang nyata di mataku. Seakan-akan lihat ahli syurga itu hidup di dalamnya bersuka-suka, berziarah-ziarahan. Seakan-akan hamba lihat pula ahli neraka menerima siksanya, melaknati yang satu kepada yang lain".

Apa yang dilihat oleh Haritsah ini diperoleh dengan menyelidiki hakikat diri, dan menyelidiki hubungannya dengan keadaan badan kasar, bagaimana khasiat dan pengaruh jiwa, apa yang disukainya dan apa pantangnya. Hadapkan ke mana tujuan kesucian dan hindarkan dari kerendahan yang menghalangi kesempurnaannya. Karena kehendak rohani yang suci amat berbeda dengan kehendak ikatan badan yang kasar.

Islam menyuruh kita berfikir, menyelidiki dan merenungi, disuruhnya bangun tengah malam, waktu gelap membawa kesunyian, di waktu cahaya yang lahir gelap dan cahaya batin terang, maka dari alam ghaib akan menyorotlah cahaya abadi kepada yang ghaib itu. Disuruhnya memperhatikan keadaan alam bagaimana unta terjadinya, bagaimana langit terbentang, keadaan bukit di bumi, dan keadaan bumi terhampar.

Tatkala para budiman mengetahui bahwa kesempurnaan jiwa ialah dengan ilmu, dan kesengsaraan ialah karena kebodohan, serta difikirkan mereka pula bahwa ilmu itu adalah obat dan bodoh itu penyakit, tidak ada jalan lain lagi, maka mereka perdalam pengartian, perhalus permenungan, sehingga sampai ke dalam jiwa dan rongga hati. Lantaran itu timbullah pendirian yang lain daripada pendirian orang, pendirian yang menyebabkan takut mati. Pendirian itu ialah memandang bahwa barang barang lahir ini pada hakikatnya tidak ada harganya, datangnya dari Adam (tak ada) dan akan kembali kepada Adam pula. Mereka berkeyakinan bahwa dunia, meskipun bagaimana dibesarkan, tidak akan lebih dari kampung yang sempit, yang mengikat, yang menghalangi manusia mencari rahasia alam ghaib, alam yang lebih indah. Kampung tempat singgah berhenti sebentar.

HAMKA :Tasauf Moderen

148 | M a l i n a l - F a d a n i

Timbulnya keyakinan mereka bahwa harta benda, kekayaan, kesenangan lahir dan segala ikhtiar mencapainya, semuanya tidak kekal dan lekas sirna, lekas hilang. Menyusahkan jika terkumpul, mendukacitakan jika hilang.

Buat para budiman, segala harta benda, kekayaan dan lain-lain itu mereka pergunakan sekadar yang perlu. Datanglah kalau mau datang, akan mereka terima. Pergilah kalau mau pergi, akan mereka lepas. Mereka tidak hidup berlebih-lebihan. Sebab semuanya mengajar manusia loba dan tamak. Bilamana manusia telah sampai kepada suatu tingkat, dia hendak meningkat kepada yang lebih tinggi lagi. Yang membatas hanyalah kubur juga. Ini harus dibatasi dengan kesadaran.

Mati yang sebenarnya ialah jika manusia diikat dunia, harta benda dan kekayaan, menjaga dan memeliharakan barang palsu, yang tidak ada harganya untuk dijunjung, yang kerap meninggalkan kita lebih dahulu, atau kita tinggalkan lebih dahulu.

Hukama membagi kematian itu kepada dua macam: 1. Kematian Iradat.

2. Kematian Tabiat.

Kehidupan mereka bagi dua pula: 1. Kehidupan Iradat.

2. Kehidupan Tabiat.

Kematian Iradat, ialah mematikan kemauan dari dunia yang tidak berguna, ambil

yang perlu saja, matian syahwat dari kehendak yang di luar batas, matikan nafsu kelobaan dan tamak, matikan memburu harta sehingga melupakan kesucian. Lalu dijuruskan iradat itu kepada hidup yang lebih tinggi.

Kematian Tabiat, ialah bilamana jiwa telah meninggalkan badan. Para Hukama

membuat pepatah:

"Matilah Sebelum Mati".

Kehidupan Iradat, ikhtiar menghidupkan jiwa di dalam kemuliaan di dalam ilmu

pengetahuan, di dalam menyelidik hakikat alam yang jadi peta dari hakikat kebesaran Tuhan.

Kehidupan Tabiat, ikhtiar menghidupkan jiwa di dalam kemuliaan di dalam ilmu

pengetahuan, di dalam menyelidik hakikat alam yang jadi peta dari hakikat kebesaran Tuhan.

HAMKA :Tasauf Moderen

149 | M a l i n a l - F a d a n i

"Matilah dengan iradat, tetapi hiduplah dengan tabiat". Imam Ali bin Abi Thalib berkata:

"Siapa yang mematikan dirinya di dunia, berarti menghidupkannya di akhirat". Demikian tafsir dari kedua keterangan ahli hikmah Barat dan Timur itu.

Dengan demikian, siapa yang takut menghadapi mati, artinya takut menempuh kesempurnaan. Kesempurnaan manusia itu adalah dalam tiga fasal: hidup, berfikir dan mati.

Raghib Asyfahani berkata:

"Manusia dan kemanusiaan itu tidak seperti kebanyakan persangkaan orang, yaitu hidupnya cara hidup binatang dan matinya cara kematian binatang pula. Berfikir di dalam makhluk itu hanya pada manusia saja. Kehidupan manusia adalah sebagai yang dinyatakan di dalam Al-Quran:

"Untuk memberi ingat kepada orang yang hidup".

"Mati manusia lain dari mati binatang. Mati manusia ialah mati syahwatnya, mati amarahnya, semua terikat ole kehendak agama". Sekian kata Raghib. Sebab itu, dengan sendirinya dapat difahami, bahwa mati itu ialah kesempurnaan hidup. Dengan kematian manusia sampai kepada puncak ketinggiannya. Barangsiapa yang tahu bahwa segala isi alam ini tersusun menurut undang-undangnya, dan undang-undang itu mempunyai jenis dan fasal (sifat), siapa yang faham bahwa kehidupan itu harus ditempuh jenis manusia, dan sifatnya ialah berfikir dan mati, maka akan faham pulalah dia bahwa mati wajib ditempuhnya, untuk menyempurnakan sifatnya. Karena tiap-tiap yang telah tersusun dari suatu benda, akhirnya dia akan surut kepada benda itu juga.

Kalau demikian adanya, cobalah tilik, siapakah yang lebih bodoh dari orang yang takut menempuh kesempurnaan?

Siapakah yang lebih bodoh daripada orang yang lebih suka tinggal di dalam kekurangan? Siapakah yang lebih sial daripada orang yang menyangka bahwa dengan kekurangan dia telah sempurna?

Orang yang dalam kekurangan, takut menempuh kesempurnaan, adalah tanda kebodohan yang paling besar.

Oleh karena takut mati adalah penyakit yang timbul lantaran kebodohan, maka hendaklah orang yang berakal merasai benar bahwa hina dirinya kalau dia lebih

HAMKA :Tasauf Moderen

150 | M a l i n a l - F a d a n i

suka dalam kekurangan. Seorang berakal hendaklah merindui kesempurnaan. Hendaklah disiapkan dan dicarinya bekal untuk mencari sempurna itu, dibersihkannya, dipartingginya kedudukannya, diawasi jangan jatuh ke dalam jerat. Diyakininya bahwasanya Jauhar jasmani jika manusia mati, akan kembali ke tanah, dan Jauhar rohani akan kembali kepada Tuhan.

Dengan terpisah jasmani dengan rohani, terlepaslah rahani itu dari ikatan, dia lebih merdeka, lebih suci dan lebih tinggi derajatnya, dia berada sebagai jiran Rabbul Alamin, bercampur gaul dengan arwah yang suci-suci.

Dengan segala keterangan ini dapatlah disimpulkan, bahwa orang yang amat takut meninggalkan dunia, takut perceraian tubuh dengan jiwa, adalah tersasar fikirannya, meminta barang yang tidak boleh terjadi, bodoh dan tidak mengarti. Seakan-akan orang yang tinggal di rumah yang kecil, akan pindah ke rumah besar, enggan hatinya akan meninggalkan rumah kecil itu, karena selema ini telah biasa hidupnya di sana, serasa-rasa tidaklah senak itu yang akan dikecapnya di rumah besar. Kelak setelah tinggal di rumah besar itulah baru dia insyaf bahwa persangkaannya telah salah dahulunya.

Dengan pindah rumah dapat dimisalkan dari alam sempit, kandungan ibu, menangis ketika lahir. Padahal lama di dunia, kita pun betah (suka) tinggal di sini. Demikian pula pindah dari dunia ke akhirat, melalui maut. Yang gelisah hanyalah di hari kita pindah itu. Dan hari pindah itu tidaklah lama.

Dalam dokumen TASAUF MODEREN (Halaman 146-150)