• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepedihan Penanggungan Batin

Dalam dokumen TASAUF MODEREN (Halaman 164-168)

Ada orang yang berkata, bahwa sukacita tidak akan didapat, kalau batin masih merasa sakit dan pedih. Selama kepedihan itu masih ditanggungka, kegembiraan belum akan dikecap kelezatannya. Tiadalah orang akan merasa beruntung kalau dia masih menanggung kepedihan.

Benarkah demikian?

Persangkaan itu salah, sebab orang yang bodoh, dungu, goblok, singkat fikiran dan gila dalam kegilaan, kedunguan dan egoblokannya itu. Orang itu senang di dalam keadaannya.

Pada suatu hari seorang filosof berjalan di suatu jalan yang ramai. Tiba-tiba sedang dia menekur-nekur memikirkan keadaan hidup manusia, dia tertumbuk kepada seorang tukang sapu jalan.

"Hai, orang pengangguran! Apa kerja tuan di dunia ini, makanya tuan berjalan termanggu-manggu? Sehingga saya tertumbuk ke hidung tuan, tuan tidak sedikit juga sadar?"

Demikian pertanyaan tukang sapu jalan.

"Saya seorang filosof, saya termanggu memikirkan kehidupan bani Insan". "Kasihan... kasihan... hanya itulah pekerjaan tuan?"

Si filosof kasihan melihat nasib tukang sapu, dan tukang sapu lebih kasihan melihat si filosof. Sebab biasanya, orang yang mengankut mayat tertawa bila bertemu dengan orang yang mengarak pengantin. Orang yang mengarak pengantin bersedih bila bertemu dengan orang membawa mayat.

Orang gila merasa senang di dalam kegilaannya. Orang bodoh kerap mencela orang pintar, sebab mereka pintar. Apakah yang dikerjakan orang-orang pintar itu, selalu berembuk, selalu mengarang, selalu bekerja keras, katanya hendak membela tanah air, membela bangsa dan lain-lain. Padahal semuanya berpayah-payah, menghabiskan tempo dan umur. Lebih baik seperti kita ini saja, dapat hidup mengatur diri dan anak bini sudah cukup.

HAMKA :Tasauf Moderen

165 | M a l i n a l - F a d a n i

Mereka tidak merasa sakit dan susah.

Maka adakah keberuntungan seperti yang mereka rasai itu yang mesti dicapai oleh tiap-tiap manusia? Adakah orang-orang yang berakal mempunyai keinginan hendak bernasib seperti mereka? Kalau benar kegilaan itu satu keberuntungan?

Tidak ada yang mau! Alhamdulillah!

Semua orang yang tak mau jadi bodoh, sebab orang bodoh kelihatan senang dalam kebodohannya, kalau orang tak berakal tak mau jadi orang gila, sebab orang gila kelihatan merdeka dalam kegilaannya, nyatalah bahwa keberuntungan sejati itu didapat dengan kepedihan yang tiada terperikan. Sehingga beberapa filosof Islam bersoal jawab, bilakan orang merasai kelezatan dalam hidupnya? Sesudah pekerjaannya berhasil, atau sebelumnya?

Berulang-ulang telah kita paparkan, bahwa orang yang beroleh bahagia, tidaklah luntur bahagianya lantaran kepedihan dan kesengsaraan yang silih berganti hilang satu timbul dua, meskipun berat sengsara bahaya. Sebab dia ada mempunyai perkakas yang paling teguh dan kuat, yaitu sabar dan tidak kehilangan akal. Bahkan kadang-kadang baru dirasainya kebahagiaan itu, sesudah menangkis segala sengsara. Tak ubahnya dengan orang menghisap candu, yang telah tahu bahwa candu itu merusak badan, menghabiskan kesehatan, tetapi candu itu dihisapnya juga, sebab yang diharapnya ialah kelezatan sesudah menghisap. Dia pengsan lantaran merasai lezat, kian lama kekuatannya hilang dan tulangnya lesu, namun dia kembali juga menghisap. Jika tak senang telinga tuan mendengarkan misal orang menghisap candu, mari kita misalkan kepada seorang perempuan yang melahirkan anak. Betapa sakit tanggungan yang dipikulnya sejak mengandung sampai melahirkan, berapa takut dia akan hamil lagi yang kedua dan yang ketiga. Tetapi pekik anak yang baru lahir menghilangkan segala kesakitan yang berbulan-bulan itu.

Mengapa kesakitan, berbulan-bulan dihapuskan oleh tangis anak yang baru lahir? Mengapa perempuan yang mandul, berobat kian ke mari, mencari dukun sakti, minta obat supaya beroleh anak? Tidakkah perempuan mandul itu tahu bagaimana kesakitan saudaranya yang beroleh anak? Dia tahu, dia melihat seorang ibu bergantung ke tempat tidur sehingga hampir roboh, lantaran kesakitan melahirkan. Dia dengar rintihannya seketika anak itu hendak keluar. Perempuan mandul tidak ingat itu, sebab dia ingin mendengarkan tangis anak itu seketika bayi keluar. Dia ingin pula menyusukan, memangku dan mengendong bayi.

Demikianlah ingat akan Tuhan apabila telah berupa cinta. Rasanya lezat, melebihi lezat candu. Dia mabuk! Mabuk dalam bercinta.

HAMKA :Tasauf Moderen

166 | M a l i n a l - F a d a n i

Demikianlah orang yang merasa beruntung dengan barang yang hanya kecil saja, jika dibandingkan dengan keberuntungan yang paling besar, bahagia yang abadi, yakni taat kepada Allah.

Budiman berkata:

"Kalau Allah tak menjadikan kesengsaraan, di manakah orang akan kenal kelezatan bahagia? Kalau Tuhan tak menjadikan perhambaan dan perbudakan, di manakah akan ada keinginan hendak mengejar merdeka?

Memang kalau tak ada kesakitan, orang tak ada keinginan mengejar kesenangan. Tidaklah terlalu berlebih-lebihan, jika kita katakan bahwa sakit dan pedih adalah tangga menuju bahagia.

Kesakitan perlu untuk orang yang hendak diinjeksi dan dioperasi. Kina yang pahit perlu bagi orang yang sakit malaria. Dokter sengaja mencampurkan racun di dalam obat-obat, menurut resip takaran yang tertentu, supaya obat itu kuat makannya. Demikianlah Allah menjatuhkan kepedihan itu kepada hambaNya.

"Telanlah obat ini hai hambaKu, supaya engkau lekas sembuh". Pahit, ya Tuhanku...

"Tahanlah pahit supaya engkau lekas sembuh".

Orang yang tak percaya dihindarkannya dan dikicuhnya meminum obat sehingga dia beroleh penyakit lebih berbahaya. Orang yang patuh dan taat, ditennya juga walaupun pahit dan tak enak, sebab dia mengharap sembuh.

Segala sengsara, kepedihan dan kesakitan, dijatuhkan Tuhan kepada hambaNya menurut takaran. Penyakit dan kekuatan jiwa si hamba, tidak dilebih-lebihNya dan tidak dikurang-kurangNya. Kecelakaan sihamba adalah sebab mereka sendiri, yang tidak mengikuti nasehat dokternya.

Sakit dan pedih itu mesti ada. Bumi tak subur tanamannya jika tidak diluku dahulu dengan bajak yang tajam, intan digosok baru timbul cahayanya. Emas dibakar baru boleh menjadi gelang. Bagi Insan, sakit dan pedih itulah yang menimbulkan fikiran baru, sakit dan pedih menimbulkan ikhtiar baru, sebab air mata saja tidaklah menolong dan meringankan tanggungan.

Kepedihan menghidupkan kemauan yang telah mati. Bila kemauan telah hidup, umur manusia seakan-akan bertambah adanya.

HAMKA :Tasauf Moderen

167 | M a l i n a l - F a d a n i

Kepedihan adalah bayang-bayang manusia, dia tak dapat menceraikan manusia selama-lamanya. Tidaklah berfaedah orang yang hendak menghilangkan kesakitan dan kepedihan sebab hilang dahulu manusia, baru hilang kepedihan.

Jaafar Syadiq cucu Rasulullah SAW berkata:

"Barangsiapa mencari barang yang tidak dijadikan Allah di dunia ini, dan barang itu hanya di syurga saja, adalah menghabiskan umur dengan sia-sia".

Apakah barang itu? Tanya orang kepada beliau. Ialah kesenangan. Nabi bersabda juga:

"Tiap-tiap hari berganti, maka kesakitan hari yang datang kemudian lebih hebat dari kesakitan yang datang pada hari yang dahulu".

Seandainya sakit dapat dihindarkan dari hidup, hidup yang tak mengandung pedih adalah, seakan-akan sambal yang tak bergaram. Itulah

sebabnya, bangsa yang hina dan diperbudak, berusaha mencapai kemerdekaan. Kelak pada turunan yang datang di belakang, kemerdekaan yang dicapai oleh nenek moyangnya itu disia-siakan, sebab dia tidak merasai bagaimana sakit mencapai kemerdekaan itu. Marilah kita perhatikan kehidupan anai-anai yang mengerubungi lampu. Anai-anai itu mendekati cahaya lampu seolah-olah berkata:

"Berilah aku izin mendekatimu hai lampu, aku ingin cahayamu yang terang benderang itu".

"Sia-sia, semata-mata sia-sia permintaanmu. Sebab keinginanmu itu mesti bertemu dengan bahaya". Jawab lampu.

"Bahaya apakah gerangan itu, tuan lampu?"

"Di dalam perjalanan engkau akan bertemu dengan burung layang-layang, engkau dijadikannya magsanya".

"Itu bukan bahaya, tuanku. Itu adalah keberuntungan, mati dalam menempuh cita-cita".

"Sis-sia, semata-mata sia-sia perbuatanmu itu".

HAMKA :Tasauf Moderen

168 | M a l i n a l - F a d a n i

Tidakkah engkau lihat, bangsamu telah jatuh tersungkur, mati tertimbun-timbun di bawah naunganku, lantaran mencari cahayaku?"

"Itu bukan sia-sia, ya tuanku. Itu adalah keberuntungan. Kami datang dari tempat yang jauh-jauh mencari cahaya karena kami tak tahan gelap. Kami datang ke dekatmu, berkeliling mencari cahaya. Biarlah kami mati lantaran panasnya cahaya itu, bagi kami kematian itulah kelezatan".

Tidakkah kamu ngeri melihat bangkai yang tartimbun itu?

"Biarlah bangkai tartimbun ya tuanku. Bertimbun dan mati di bawah naunganmu. Kami cari cahayamu, setelah maksud kami berhasil, biarlah kematian datang, asal kami diredhakan datang".

Maka bartimbunlah bangkai anai-anai di bawah cahaya lampu, sedang yang datang masih banyak, dan yang akan datang, masih dalam perjalanan.

(Syair dari seorang sufi, memisalkan keinginan seorang Mukmin mencari Nur Tuhannya).

Dalam dokumen TASAUF MODEREN (Halaman 164-168)