• Tidak ada hasil yang ditemukan

Artikel: Emas, Kemenyan, dan Mur

Dalam dokumen bahan natal e binaanak (Halaman 183-186)

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas,

kemenyan dan mur.

— (Matius 2:11) <http://sabdaweb.sabda.org/?p=Matius+2:11 >

Artikel: Emas, Kemenyan, dan Mur

Sebelum mulai membahas hadiah yang diberikan oleh orang-orang Majus kepada Yesus, marilah kita baca Matius 2:1-13.

Dari bacaan ini, kita tahu bahwa Raja Herodes ingin Yesus dibunuh dan Herodes

meminta supaya orang-orang Majus itu memberi tahu di mana Yesus dilahirkan supaya ia juga bisa "menyembah" Dia ..., kita tahu bahwa ia hanya ingin tahu tempatnya

sehingga dia bisa membunuh-Nya. Tentu saja orang Majus ini sangat "bijaksana" untuk hal ini dan tidak pernah kembali kepada Raja Herodes untuk mengatakan di mana Yesus berada.

Orang Majus ini menemukan Maria, Yusuf, dan bayi Yesus setelah mengikuti bintang. Yang menarik dalam ayat 11, ketika orang Majus ini menemukan Maria dan Yusuf, mereka segera masuk ke kandang dan kemudian mulai menyembah Yesus. Segera setelah mereka melihat Bayi itu, mereka ingin menyembah Dia. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa Ia adalah Raja atas segala raja, dan hadiah yang mereka berikan merupakan tanda hormat mereka. Yang menarik dari bagian ini adalah kita tidak pernah menemukan nama orang-orang Majus ini. Meskipun mereka memberi Yesus hadiah yang langka dan mahal, mereka tidak ingin dikenal, mereka hanya ingin memastikan bahwa Ia menerima mereka. Jadi, mengapa mereka memberikan tiga hadiah?

Kemenyan dan mur bukanlah salah satu hadiah yang bila Anda mendapatkannya, Anda akan berkata, "Hore ..., saya dapat kemenyan dan mur di hari Natal ini!"

Jenis hadiah seperti ini merupakan hadiah yang diberikan kepada para raja. Dalam 1Raja-Raja, saat Ratu Syeba mengunjungi Raja Salomo, dia memberi hadiah emas dan rempah-rempah. Emas dan kemenyan adalah benda yang jarang, berharga, dan mahal, lagipula banyak orang yang ingin memberikan hadiah yang terbaik untuk raja mereka.

184

Orang-orang Majus yang mengenali Yesus sebagai Raja atas segala raja ini juga ingin memberikan yang terbaik bagi raja mereka. Setiap hadiah dari ketiga hadiah yang diberikan itu memiliki makna dan nilai guna.

Emas

Sama halnya dengan saat ini, emas sangat berguna. Untuk bisa mendapatkan emas, Anda harus menggali dasar tanah, dan pada zaman Alkitab, hal ini sulit dilakukan karena tidak ada alat seperti yang digunakan saat ini.

Emas selalu berarti sesuatu yang dapat ditukarkan, yang bagi Maria dan Yusuf pasti akan sangat berarti karena mereka akan melakukan perjalanan ke Mesir dan akan memerlukan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Secara simbolis, emas melambangkan kedudukan raja. Raja bahwa Kristus adalah untuk kita. Emas juga melambangkan proses pemurnian yang kita alami dalam menghadapi ujian sebagai orang Kristen.

Emas adalah satu-satunya logam yang ketika dipanaskan dengan api tidak akan kehilangan sifat, berat, warna, ataupun bagian lainnya. Demikian pula dengan iman yang murni. Emas disebutkan dalam Alkitab bila berkenaan dengan kekuatan iman seseorang. Ayub menyebutkan emas setelah dia melalui segala ujian. Ayub 23:10 mengatakan, "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas."

Kemenyan

Kemenyan dibuat dengan memotong sebatang pohon "Arbor Thurisfrom" yang ada di Persia, Arab, dan India. Kemenyan ini seperti getah yang dikumpulkan dan kemudian dikeringkan selama tiga bulan sehingga menjadi seperti damar yang keras atau permen karet.

Kemenyan digunakan sebagai wangi-wangian, tetapi kebanyakan ditimbun sebagai bau-bauan yang harum selama penyembahan. Dalam Keluaran, Harun akan membakar kemenyan di altar sebagai persembahan yang harum bagi Tuhan.

Oleh sebab itulah, kemenyan menjadi bau-bauan yang pantas bagi bayi Yesus, sama seperti Tuhan yang disembah pada zaman Perjanjian Lama. Kemenyan juga membantu membuat aroma di sekitar kandang itu menjadi harum karena ada banyak binatang di sekitar mereka.

Kemenyan melambangkan ketuhanan Kristus karena seperti yang telah disebutkan, kemenyan dibakar sebagai persembahan untuk Tuhan. Mur

185

Mur, sama halnya dengan kemenyan, juga merupakan getah dari pohon yang dikeraskan dan kemudian digunakan. Namun, tidak sama dengan kemenyan yang wangi, mur rasanya pahit.

Mur sering kali digunakan untuk membalsam orang mati karena orang mati ini memiliki harta yang harus dijaga. Mur juga digunakan sebagai wewangian, bahan untuk minyak urapan yang disebutkan di Keluaran, tetapi bagi Maria dan Yusuf, mur digunakan untuk pengobatan. Saat ini, mur digunakan untuk pasta gigi, pencuci mulut, dan tata rias.

Akhirnya, mur melambangkan cawan pahit yang harus diminum oleh Kristus dalam penderitaan untuk menebus dosa kita dan untuk memulihkan kita melalui kematian-Nya. (t/Ratri)

Artikel 2: Perlukah Hadiah Natal Bagi Anak?

Bolehkah merayakan Natal dengan pesta? Bagaimana pula pemberian kado atau hadiah Natal buat anak? Semuanya boleh-boleh saja, asal anak tetap diajari perihal esensi Natal yang sesungguhnya.

Bagi anak, Natal bisa berarti makan-makan dan hadiah. Namun, sebetulnya orang tua bisa memberi lebih. Menurut Henny E. Wirawan, M.Hum., Psi. dari Universitas

Tarumanegara, Jakarta, "Orang tua bisa menginformasikan kepada anak bahwa Natal adalah memperingati kelahiran Tuhan Yesus yang tugasnya menyelamatkan manusia." Bisa jadi awalnya anak belum mengerti. "Namun, perlahan anak akan mulai mengerti. Apalagi Natal kan dirayakan setiap tahun, beda dengan perayaan keagamaan lain. Di sekolah minggu, juga ada kelas untuk batita kok. Jadi, tak sulit sebetulnya bagi anak untuk membayangkan dan memahami apa yang terjadi saat Natal," terang Henny. Belum lagi pada setiap perayaan Natal biasanya juga digelar drama dengan visualisasi sehingga anak akan mudah mengerti.

Merayakan Natal, ujar Henny, boleh-boleh saja asalkan tidak bermewah-mewah. "Soalnya esensi Natal kan bukan pesta-poranya, melainkan pada semangat berbagi. Ada sesuatu yang dibagi kepada orang lain, itulah yang harus ditanamkan pada anak," lanjut Henny. Jadi, kalau Natal diidentikkan dengan makan-makan, pesta di hotel, atau hadiah semata, justru menyimpang dari esensi yang sebetulnya. "Yesus saja dilahirkan di tempat yang sangat sederhana kok, jadi kenapa kita merayakannya berlebihan di tempat-tempat yang sangat mewah misalnya. Ini kan tidak tepat."

Henny menganjurkan, lebih baik memperingati Natal dengan berkunjung dan berbagi ke panti asuhan atau panti jompo. "Ingat, esensi Natal adalah membagi kasih kepada sesama manusia," ujar Henny. Esensi Natal juga bukan pada baju baru atau kado, "Meskipun kalau mau pakai baju baru juga boleh. Ini yang mestinya sejak kecil sudah diajarkan pada anak. Natal itu seharusnya diperingati dalam kesederhanaan."

186

Ajari Untuk Memberi

Natal juga berarti hadiah atau kado, apalagi buat anak-anak. Kado biasanya diletakkan di bawah pohon Natal. "Kado Natal itu kan sebetulnya intinya pemberian 'reward' buat anak setelah selama setahun bertingkah laku baik. Ini yang kemudian menjadi tradisi pemberian kado."

Yang jelas, ada hadiah atau tidak, Natal tetap Natal. Bahkan dilihat dari sejarah dan tradisinya, kelahiran Tuhan Yesus sebetulnya bukan pada tanggal 25 Desember. "Sampai sekarang, orang enggak pernah tahu tanggal berapa Tuhan Yesus lahir." Intinya, tanggal sebetulnya tidak penting, yang penting adalah esensinya. "Bukan kadonya, makanannya, bajunya, atau hal-hal sampingan lain, melainkan maknanya yang harus ditanamkan pada anak."

Orang tua sebaiknya mengajak anak berunding mau memperingati Natal seperti apa. "Misalnya, orang tua memberikan wawasan, 'Selama ini Adik kan sudah dapat kado. Nah, sekarang Adik yang kasih kado buat orang lain dong.' Jadi, tetap nyangkut dengan esensi Natal."

Anak balita sudah bisa kok diajar berbagi seperti itu. Misalnya, jika anak punya banyak boneka. "Tanyakan pada anak, 'Mana boneka yang mau diberikan?' Tentu yang

diberikan bukan boneka yang sudah jelek. Justru yang harus diberikan adalah boneka yang paling bagus. Latihan berbagi ini memang sulit, tapi harus dilatih. Ajarkan anak untuk memberi yang terbaik. 'Mama-Papa kan juga memberi bukan yang sisa'," lanjut Henny.

Soal siapa yang harus diberi, bisa siapa saja. Bisa teman yang paling tidak punya. "Pokoknya bagikan kepada orang yang paling membutuhkan tanpa harus seiman. Kalau memang temannya sudah cukup semua, bisa dibagi ke orang lain yang memang butuh," lanjut Henny seraya menekankan pentingnya mengajarkan hal seperti ini sejak kecil agar anak punya kepedulian, rasa sayang, dan empati pada orang lain. Semuanya pasti akan berdampak sampai anak besar kelak. "Natal kan hanya salah satu momen, selebihnya masih banyak hari lain bisa dilakukan."

Dalam dokumen bahan natal e binaanak (Halaman 183-186)