• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bantuan Yang Tidak Terduga

Dalam dokumen bahan natal e binaanak (Halaman 117-125)

Ini bukan waktu untuk "sertifikat". Pokoknya datang! Tidak perlu mengumumkan niat Anda; tawarkan bantuan Anda dalam saat itu juga selama masa Natal. Tentu saja Anda boleh menelepon dulu atau menjadwalkan waktu Anda untuk membantu. Tapi jangan

118

membatasi waktu dan pelayanan Anda dengan istilah hadiah. Jadikan ini sesuatu yang tanpa pamrih, dan Anda tidak mengharapkan balasan atau penghargaan dari orang lain.

1. Apakah Anda mempunyai teman yang kewalahan dengan rancana pesta yang dibuatnya? Mungkin perhitungannya salah, ada hal-hal tidak terduga, atau

anaknya mendadak sakit. Datanglah untuk membantu dengan tangan yang rela. 2. Apakah ada tetangga yang kakinya kebetulan patah dan membuatnya tidak bisa

menyapu daun-daun berguguran di depan rumahnya? Angkat sapu Anda

untuknya, tawarkan untuk mengantarnya ke tempat kerja, atau mintalah seorang remaja di lingkungan Anda untuk melakukan pekerjaan itu dengan bayaran dari Anda.

3. Hubungi penampungan tunawisma lokal. Tanyakan apakah mereka

membutuhkan tambahan sukarelawan pada musim dingin. Ini adalah kegiatan yang baik bagi seluruh keluarga. Jadikan ini sebagai hadiah pelayanan bagi masyarakat Anda.

4. Apakah ada rekan kerja yang akan kedatangan kerabat sekampung? Apakah keluarga penerima tamu membutuhkan beberapa panci besar atau seprai dan selimut tambahan? Apakah teman Anda perlu bantuan untuk membersihkan dan menghias rumah sebelum tamu-tamunya datang?

5. Apakah Anda tahu salah seorang pendeta Anda sangat sibuk? Tawarkan untuk mengantarnya. Bebaskan dia dari menit-menit tambahan yang sering dibutuhkan untuk mencari tempat parkir, belum lagi keletihan mental dan emosional di

tengah lalu lintas hari raya.

5. Pertimbangkan untuk mengantar seorang teman lanjut usia pergi berbelanja. Sediakan kursi roda, kalau diperlukan, dan doronglah.

Hadiah yang berupa waktu memberi dua hal dalam kehidupan kita. Mengalihkan

prioritas kita dari diri kita sendiri ke luar, dan membantu seseorang yang kita kenal atau sayangi dengan cara yang tidak biasa dan tidak terduga, seringkali memungkinkan orang itu untuk mendapat perenungan rohani yang lebih dalam selama masa Natal

Kesaksian: Natal: Natal Yang Paling Berkesan

Catherine Marshall

Mengapa ada hari Natal yang lebih berkesan daripada hari Natal yang lainnya? Natal seperti itu tidak ada hubungannya dengan hadiah yang berharga. Malahan

keadaan yang serba kekurangan sering mendorong timbulnya gagasan yang cemerlang dalam suatu keluarga.

Tetapi saya rasa, Natal yang paling berkesan biasanya ada hubungannya dengan kejadian penting dalam keluarga: reuni, perpisahan, kelahiran, dan bahkan kematian. Mungkin itulah sebabnya, Natal tahun 1960 masih tersimpan jelas dalam ingatan saya.

119

Kami merayakan Natal tahun itu di rumah kedua orangtua saya di daerah pertanian Evergreen, Lincoln, Virginia. Saudara perempuan saya dan suaminya -- Emmy dan Harlow Hoskins -- datang bersama kedua anak perempuan mereka, Lynn dan Winifred. Natal merupakan kesempatan khusus untuk berkumpul dengan ketiga anak kami, Linda, Chester, dan Jeffrey, dan juga dengan Peter John yang waktu itu kuliah di tingkat akhir di Universitas Yale. Lima orang anak dapat meramaikan suasana di rumah

pertanian yang kuno selama masa Natal.

Lynn dan Linda sudah mempersiapkan sebuah mimbar sederhana di dekat tungku perapian ruang tamu untuk ibadah malam Natal. Jeffrey dan Winifred (cucu-cucu yang termuda) menyalakan lilin-lilin. Semua anggota keluarga mengelilingi ayah yang membacakan cerita yang tidak ada bandingannya dari Lukas, cerita Natal pertama. Chester dan Winifred menyanyikan lagu Natal "Dengarlah Malaikat Bernyanyi" dengan suara yang tinggi dan nyaring. Kemudian ibu saya yang pandai mendongeng

mengulangi lagi cerita kesayangan kami, "Mengapa Lonceng Berbunyi". Ibu membuat kami dapat membayangkan anak laki-laki kecil yang pakaiannya compang-camping bergerak perlahan-lahan di sepanjang jalan di antara deretan tempat duduk di gereja yang besar dan menaruh hadiahnya di atas mimbar.

Lalu ibu berkata, "Ibu mau memberi usul. Kalian lihat, di bawah pohon Natal di ruang baca tertumpuk begitu banyak hadiah Natal yang akan kita berikan satu sama lain. Padahal kita merayakan kelahiran Kristus - bukan kelahiran kita masing-masing. Sekarang adalah waktu untuk Dia. Apa yang akan kita berikan untuk Yesus?" Ruangan itu mulai dipenuhi dengan suara bisikan, setiap orang bertukar pendapat. Tetapi ibu meneruskan, "Marilah kita merenungkannya sebentar. Lalu kita akan duduk berkeliling membentuk lingkaran dan setiap orang menyebutkan hadiah untuk Kristus yang akan ditaruh di atas mimbar."

Chester, yang berumur tujuh tahun, pelan-pelan mendekati ayahnya dan berbisik-bisik untuk berunding. Lalu ia berkata malu-malu, "Saya ingin supaya saya tidak marah lagi, itu yang ingin saya berikan untuk Yesus tahun ini."

Jeffrey, berumur empat tahun, yang masih suka mengompol pada malam hari, berkata dengan riang, "Saya akan memberikan popok saya untuk - Nya."

Winifred berkata pelan bahwa ia akan menghadiahkan nilai-nilai sekolah yang baik untuk Yesus. Hadiah Len, "Menjadi ayah yang lebih baik, yang lebih sabar."

Setiap orang menyebutkan hadiahnya untuk Yesus. Peter John mengungkapkan hadiahnya dengan kalimat yang singkat, tetapi padat. "Saya ingin dapat lebih mengabdikan hidup saya bagi Kristus." Saya teringat perkataannya lima tahun kemudian pada waktu pentahbisannya di gereja Presbyterian. Waktu itu ia berdiri, kelihatan tinggi dan tegak dan menjawab dengan mantap, "Saya percaya ... saya

berjanji ...." Padahal waktu Natal tahun 1960 mungkin ia tidak mengharapkan untuk ikut terlibat dalam pelayanan itu.

120

Lalu tiba giliran ayah saya. "Ayah tidak akan menyampaikan sesuatu yang terlalu serius," katanya, "tetapi entah mengapa ayah tahu bahwa Natal tahun ini merupakan Natal terakhir dimana ayah bisa duduk di ruang ini, berkumpul dengan kalian seperti ini."

Kami terkejut dan protes, tetapi ayah tidak mau berhenti. "Tidak, ayah begitu ingin mengatakannya. Hidup ayah sangat indah. Bertahun - tahun yang lalu, ayah menyerahkan hidup ayah kepada Kristus. Meskipun ayah sudah berusaha untuk melayani Dia, tetapi ayah sering mengecewakan Dia. Namun Ia memberkati ayah dengan kekayaan yang tak ternilai -- terutama keluarga ayah. Ayah ingin

mengatakannya selagi kalian semua ada di sini. Mungkin ayah tidak mempunyai

kesempatan lagi. Meskipun nanti setelah ayah memasuki kehidupan setelah kematian, ayah akan tetap bersama kalian. Dan, ayah pasti akan menantikan kedatangan kalian di sana."

Ada sinar kasih di matanya yang kecoklatan -- dan linangan di pelupuk mata kami. Tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa lama. Waktu seakan-akan tidak bergerak dalam ruangan yang hening itu. Pantulan cahaya api dan sinar lilin menari-nari di wajah anak-anak ketika mereka memandangi kakeknya dan mencoba memahami apa yang dikatakannya. Aroma minyak balsem dan pohon aras memenuhi ruangan. Kaca jendela yang sudah tua memantulkan cahaya lampu pohon Natal yang berwarna merah.

Ayah meninggalkan dunia empat bulan kemudian -- tepat tanggal 1 Mei. Kematiannya seperti suatu ucapan syukur. Itu terjadi pada sore hari ketika ia sedang duduk dengan tenang di sebuah kursi di sebuah kantor pos di desa kecil itu, saat sedang berbicara dengan beberapa temannya. Jantungnya berhenti berdetak. Anehnya, pada malam Natal itu, ia tahu pasti bahwa waktunya sudah dekat.

Sekarang, setiap kali saya mengingat ayah, saya dapat membayangkan kembali keadaan di ruang tamu waktu itu - saat yang sangat berharga dan berkesan bagi kami. Karena pada waktu yang singkat itu, nilai - nilai sejati dengan jelas menjadi pusat perhatian: ucapan syukur ayah untuk kehidupan; iman ibu yang teguh; kekuatan suami saya yang tersembunyi; kerinduan anak laki-laki saya yang memancar sekejap melalui ambisi kaum muda yang masih belum jelas; wajah anak-anak yang ingin sekali

mencoba mengerti dan mencari kebenaran; kasih Allah yang nyata sewaktu pikiran kita tertuju kepada Dia yang kelahiran-Nya kita peringati.

121

Mutiara Guru

Kiranya aroma masa Natal melingkari hatimu saat ini;

Semoga ditengah kesibukan kau masih memiliki waktu untuk berdoa Kiranya pesan dari palungan tetap memberkatimu,

memimpinmu, membimbingmu;

bersama dengan paduan suara para malaikan di surga, menyanyi "Damai di bumi ...."

122

e-BinaAnak 208/Desember/2004:

Kesederhanaan Natal

"Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun

Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya." (2Korintus 8:9)

< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=2Korintus+8:9 >

Artikel: Sederhana Namun Tak Ternilai

Gigi Graham Tchividjian

Pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati bagaimana malam Natal yang pertama itu dirayakan? Apakah kerubim dan serafim -- para malaikat dengan tugas yang berbeda -- begitu sibuk mempersiapkan kedatangan Tuhan yang turun ke bumi dalam wujud bayi laki-laki?

Mungkin di suatu tempat di surga, para malaikat surgawi saat itu sibuk mempersiapkan pertunjukan yang luar biasa untuk dinyatakan kepada para gembala. Sementara, malaikat lain menyusun rencana untuk menampakkan sebuah bintang khusus yang akan menuntun orang-orang majus. Mungkin pula, malaikat lainnya sedang mengawasi Yusuf dan Maria tatkala mereka sedang menuju kandang domba.

Tentu saja, kita takkan pernah tahu dengan pasti apa yang sesungguhnya terjadi, namun yang kita ketahui adalah bahwa ketika semua telah siap, "Allah mengutus Anak-Nya" (Galatia 4:4). Dan semua penghuni surga berkumpul tatkala Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuhan itu menanggalkan kemuliaan-Nya, dan

meletakkannya di bawah kaki sang Bapa sembari berkata, "Engkau telah menyediakan tubuh bagiku .... Sungguh, Aku datang ... untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku" (Ibrani 10:5,7).

Persiapan yang dilakukan di surga begitu rumit, namun orang-orang di dunia yang terlibat dalam Natal yang pertama itu menyambut-Nya dengan sederhana.

Hati dari beberapa orang yang tidak meremehkan Natal itu adalah Maria, Yusuf, para gembala, orang majus -- tampak sangat bersahaja. Tempat kelahiran-Nya pun

sederhana, yakni sebuah kandang kecil di sebuah kota yang kecil pula. Perayaannya juga sederhana: para gembala, para pekerja keras meninggalkan pekerjaan mereka selama beberapa jam untuk pergi dan "melihat apa yang terjadi di sana" (Lukas 2:15). Setelah itu, mereka pun kembali pada tanggung jawab masing-masing.

123

Persembahan yang mereka berikan pun begitu sederhana, namun tak ternilai: Yusuf mempersembahkan ketaatannya.

Maria mempersembahkan tubuhnya.

Para gembala mempersembahkan kasih mereka yang mendalam. Para orang majus mempersembahkan penyembahan mereka.

Namun, pada saat yang sama ada juga orang-orang yang kehilangan makna Natal yang pertama:

Pemilik penginapan yang terlalu sibuk memperhatikan tamu- tamunya. Para tamu yang terlalu memusatkan perhatian pada kenikmatan jasmani dan urusan pribadi, sehingga tak tersentuh oleh peristiwa yang terjadi di kandang domba itu.

Raja Herodes yang begitu larut dalam perasaan tidak nyamannya, istananya, dan impian-impiannya yang menyedihkan untuk menggapai kemuliaan. Mereka semua terlalu sibuk, begitu terpaku, dan terlilit oleh berbagai hal.

Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah dalam beberapa tahun terakhir ini saya juga telah kehilangan makna Natal yang sesungguhnya. Apakah saya terlalu sibuk dan terlalu dikuasai oleh hal-hal yang berbau materi dan pujian orang? Apakah saya

terancam kehilangan makna Natal yang sejati? Saya kira Tuhan tak pernah

menghendaki kita mengurangi kesenangan di hari Natal. Lagi pula, Dia sendiri telah "memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1Timotius 6:17).

Mungkin, sebaiknya tahun ini, kita membuat daftar baru di hari Natal yang berisi: Memberi lebih banyak perhatian kepada anak-anak.

Memberi lebih banyak waktu dan penghargaan kepada orangtua dan pasangan hidup.

Lebih mampu menerima tanpa syarat keberadaan anak-anak yang mulai beranjak remaja.

Lebih mengasihi dan memperhatikan teman-teman.

Lalu, bagaimana dengan hadiah kita bagi Pribadi yang ulang tahun-Nya kita rayakan? Yang diminta-Nya adalah penyerahan diri kita, dengan segala kesalahan dan

kegagalan, masalah dan ketakutan. Dan inilah Natal yang sejati: Allah memberi,

kita menerima, Allah menggenapi.

124

Artikel 2: Menjadi Miskin Karena Kita

Menurut Paulus, Natal adalah ketika Kristus menjadi miskin. Menjadi miskin karena kita. Menjadi miskin untuk kita (2Korintus 8:9). Di dalam Dia, manusia tak lagi terbagi atas kaya dan miskin. Pada dasarnya, seluruh umat manusia, Anda dan saya adalah miskin. Mengapa? Karena sesungguhnya, tak seorang manusia pun di dunia ini, yang kini masih memiliki kemanusiaannya. Dengan kata lain, seluruh umat manusia dikatakan miskin karena manusia telah kehilangan dirinya sendiri.

Kehilangan dirinya sendiri? Ya! Karena ketika manusia menganggap kemanusiaan dan dirinya itulah satu-satunya yang penting di dunia ini; ketika ia mulai mempersetankan Tuhan dan sesamanya, kecuali dirinya sendiri; justru ketika itulah, ia hanya menjadi budak dari nafsunya. Ia tidak lagi menjadi manusia yang penuh. Ia miskin, karena kemanusiaannya larut di dalam rangsangan-rangsangan nafsu dan kekerasan hati. Tetapi, juga ketika manusia berpendapat bahwa kemanusiaannya itu bukanlah apa-apa. Dan ia menjadi makhluk yang serba pasrah dan mengalah. Serba tergantung dan

bergantung. Ketika ia meyakinkan dirinya bahwa semua itu serba hebat dan kuat, serba raksasa, dan mahakuasa, kecuali dirinya. Ketika itulah, ia menjadi budak dari

sekitarnya, hamba dari sesamanya. Ia tidak lagi menjadi manusia yang penuh. Ia miskin, karena kemanusiaannya dihanyutkan oleh arus dan gelombang keadaan sekitarnya.

Karena kemiskinan kita itulah, Kristus menjadi miskin. Dan ketika Dia menjadi miskin itulah, kata Paulus, itulah Natal! Agar kita menyadari kembali tentang kemiskinan kita. Tetapi, bukankah persiapan-persiapan Natal yang kita selenggarakan, betapa acap, justru menunjukkan hal yang sebaliknya? Tidak menunjukkan keprihatinan dan

kemiskinan kita, tetapi kelimpahan dan kekayaan kita? Tidakkah pesta-pesta Natal kita paling sedikit ingin memperlihatkan semua kehebatan yang dapat kita usahakan? Tentu saja! Bukan karena kita tidak tahu akan kemiskinan kita, melainkan karena kita berusaha untuk tidak mau tahu. Sama seperti seorang berwajah buruk, tetapi menjadi marah besar ketika melihat wajahnya melalui sebuah cermin. Ia membanting cermin itu, supaya dapat terus hidup dalam khayalannya. Ia tidak mau menerima kenyataan dirinya yang telanjang.

Oleh karena itulah, kita juga sering berusaha untuk menyulap Natal. Dari sebuah pesta yang miskin dan sederhana, menjadi pesta yang mewah melimpah-ruah. Cermin itu kita pecahkan, supaya kita dapat terus hidup dalam khayal kita yang indah.

Sebab itu, tidak cukup mengembalikan arti Natal hanya dengan sekadar melarang orang berpesta-pesta. Karena pesta-pesta itu hanya lahir sebagai akibat, bukan sebagai penyebab. Soal yang paling utama adalah apakah kita mau menerima kenyataan,

125

Tetapi di lain pihak memang benar bahwa Natal adalah juga ketika Kristus memproklamirkan, bahwa kita semua kini menjadi kaya di dalam Dia.

Meskipun demikian, kenyataan ini juga tidak dapat memaafkan pemborosan pesta-pesta Natal kita! Karena kalau Dia mengatakan bahwa kita kaya di dalam Dia, maka kekayaan kita tidak terletak pada kemampuan kita mengumpulkan dana. Tidak juga terletak pada kesanggupan kita mengorganisir pesta-pesta yang meriah. Tidak juga terletak pada kemampuan kita mengerahkan massa dan semua persiapan pesta Natal yang kita lakukan. Sebab betapa sering Natal itu hanyalah pesta di antara kita sendiri, pesta yang kita adakan tanpa Dia!

Natal memang menyajikan sebuah kesukaan yang abadi, bila kita menemukan diri kita kembali. Dan kita pun menjadi kaya di dalam Dia. Namun betapa sia-sianya pesta-pesta itu sekiranya kita hanya melanjutkan khayal kita yang indah, dan terus hidup tanpa Kristus!

Kesaksian: Saat Kami Merayakan Natal Secara

Dalam dokumen bahan natal e binaanak (Halaman 117-125)