• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesaksian: Natal: Berharap Dan Berdoa

Dalam dokumen bahan natal e binaanak (Halaman 111-116)

Bagiku, ibu adalah teladan yang paling hebat untuk cinta, kebaikan, kelembutan, dan pengorbanan. Ia adalah satu-satunya guru sejati yang pernah kukenal dalam hal

memegang teguh prinsip kejujuran. Ia sangat berarti dalam hidupku. Aku tumbuh dalam sebuah rumah yang dibeli oleh orangtuaku, tepat sebelum aku lahir. Masa

kanak-kanakku dipenuhi dengan ekspresi kasih sayang dan cinta yang sangat singkat. Ibuku menyediakan coklat hangat dan kue-kue pada sore ketika hari hujan. Ketika aku

membutuhkannya, ia melemparkan senyuman hangat dan tepukan di punggungku. Aku pindah ke tempat yang tak terlalu jauh ketika aku beranjak dewasa. Lokasinya hanya beberapa mil jauhnya dari rumah kami. Aku berharap bisa memberikan kasih sayang kepada anak-anakku, seperti halnya yang kudapatkan dari kedua orangtuaku. Selain itu, anak-anakku bisa merasa aman dan terlindungi, seperti halnya yang kurasakan dari orangtuaku.

Tetapi, suatu perubahan terjadi ketika aku berkendaraan di bawah guyuran hujan pada suatu sore di bulan Desember 1989. Semua perasaan nyaman hilang dan larut dalam guyuran air hujan. Waktu itu, ibuku nyaris mati karena penyakit kanker.

112

Natal adalah waktu yang paling disukai oleh ibuku. Kadang-kadang, ia mengeluh tentang kesibukannya pada masa itu. Meskipun demikian, pohon Natal keluarga kami selalu dihiasi dengan hiasan-hiasan kristal yang mahal. Aku tahu bahwa ibuku sangat bangga dengan pohon spesialnya.

"Tolonglah, Tuhan," doaku ketika aku berkendaraan di tengah hujan, "tolong biarkan ibuku hidup untuk satu Natal lagi." Aku masuk ke tempat parkir sebuah mal

perbelanjaan yang ramai. "Aku belum siap untuk membiarkannya pergi dan aku

membutuhkannya di sini." Aku enggan untuk membeli beberapa hadiah saat itu. Tetapi, aku memilih beberapa hadiah untuk suami dan putriku. Tidak seharusnya kubiarkan perasaan kehilangan itu merusak liburan keluargaku.

Aku berdiri di tengah-tengah lokasi yang memamerkan hiasan-hiasan Natal. Kupikir, sebuah hiasan Natal bisa menjadi hadiah yang menggembirakan ibuku. Hiasan Natal mungkin bisa menghubungkannya kembali dengan kecintaannya pada Natal. Selain itu, aku berharap agar ibuku mempunyai harapan yang baru. Sekali lagi, aku berdoa agar hadiah Natal bisa memberikan harapan baginya untuk melihat hari yang diberkati ini sekali lagi. Sebuah hiasan di tempat pameran itu menarik perhatian khusus. Dengan senang hati, kuambil hiasan itu dan aku membayarnya di kasir. Aku meletakkannya di atas meja dan membalikkan sisinya. Di bagian belakang hiasan itu, butir-butir mutiara disusun dan membentuk kata "hope" (harapan)

Kulihat hiasan itu dengan pandangan tak percaya. Aku yakin bahwa ini suatu tanda bahwa ibuku akan mendapat harapan yang baru melalui hadiah ini. Ia bisa bertahan cukup lama untuk merayakan satu Natal lagi bersama kami.

Aku segera membawa hiasan itu ke rumahnya. Bahkan, aku tidak bisa berhenti membungkusnya karena keinginanku yang kuat untuk segera memberikan hadiah itu kepadanya. Aku menggenggam kantong plastik itu di dadaku. Dengan terengah-engah, kuceritakan hal itu kepadanya. Kukatakan pada ibuku tentang makna 'harapan' itu bagiku. Ia tersenyum ketika mendengarkan ceritaku yang beruntun. Dengan hati- hati, ibuku menggantungkan hiasan yang gemerlapan itu pada pohon Natal yang besar. Pohon Natal itu terletak di sudut ruang keluarga.

Tetapi, 'harapan' ibuku tidak sama dengan harapanku. Ketika Natal semakin dekat, ibuku mengatakan kepadaku bahwa ia ingin meninggal dunia sebelum Natal tiba. Ia takut akan mengalami sakit pada hari Natal sehingga liburan kami pada hari itu dipenuhi dengan kesedihan. Aku meyakinkan ibuku bahwa ayahku, aku, dan anakku ingin

bersamanya pada Natal untuk yang terakhir kalinya, baik ia dalam keadaan sakit maupun sehat. Tetapi, ia tetap bertahan. "Aku berharap meninggal dunia sebelum Natal."

Dan, itulah yang terjadi. Ibuku meninggal pada 7 Desember 1989. Ia mengakhiri perjuangannya yang panjang melawan kanker. Kukuburkan hiasan sutra dan mutiara bersamanya. Ia meninggalkan putri satu - satunya. Aku merasa sedih sekaligus bingung. Bukankah lewat doa aku bisa menemukan hiasan 'harapan' sebagai tanda

113

bahwa ia akan bertahan melewati Natal? Pesan apa yang ada di balik mujizat kecil yang kualami pada Natal itu?

Akhirnya, aku mulai bisa mengerti makna mujizat itu beberapa bulan setelah kematian ibuku. Dengan kebijakan-Nya, ternyata Tuhan telah menjawab doa ibuku, dan bukan doaku.

114

Mutiara Guru

Allah yang penuh kasih,

jangan biarkan hidup saya penuh sesak, Seperti pemilik penginapan di Betlehem, sehingga tidak tersedia ruang bagi-Nya. Sebaliknya, biarkan pintu hati saya selalu tebuka,

Siap menyambut Raja yang baru lahir,

Izinkan saya mempersembahkan yang terbaik yang saya miliki, Bagi Dia yang telah memberikan segala sesuatu kepada saya.

115

e-BinaAnak 207/Desember/2004: Makna

Natal

"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud."

(Lukas 2:11)

< http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=Lukas+2:11 >

Artikel: Makna Natal Yang Sebenarnya

Kembali bulan ini, sekali lagi kita akan merayakan Natal. Apakah Anda telah jenuh merayakannya? Saya percaya masih belum, bukan? Akankah kita menemukan makna Natal yang sebenarnya dalam perayaan kali ini? Bagaimana agar kita dapat merayakan Natal dengan lebih bermakna? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu kita jawab

dengan tegas, karena saat ini makna Natal sudah sangat dikaburkan oleh sekularisme. Natal tidak lagi menjadi milik umat Kristen semata- mata, Natal telah menjadi milik dunia! Oleh karena itu, kita perlu menemukan makna Natal yang sebenarnya, bagaikan menemukan kembali bayi Yesus di tengah tumpukan 1001 macam hadiah Natal! Setelah hampir 2000 tahun, maka kesyahduan malam Natal telah diganti dengan hiruk pikuknya "Christmas Sale" dan pesta pora sambil bermabuk-mabukan, hingga

mengakibatkan tidak sedikit korban "drunk- driver". Lagu "Silent Night, Holy Night" telah dicampur dengan "Jingle Bells" dan "White Christmas"-nya Bing Crosby. Kandang sederhana di Betlehem telah dicampur dengan "Christmas Holiday Show" di hotel-hotel mewah Las Vegas serta "Caribbean Holiday Cruise". Para gembala serta malaikat telah dicampur dengan "Power Ranger" serta berbagai mainan plastik dan battery lainnya. Yusuf dan Maria telah dicampur dengan Santa Claus berikut sekarung kadonya untuk anak-anak yang "baik". Hingga mereka tidak tahu lagi apakah yang punya Natal itu si kakek gendut berjanggut dan berbaju merah atau Kristus Sang Penebus umat manusia dan dunia yang berdosa ini!

Di manakah kita dapat menemukan makna Natal yang sebenarnya? Jelas bukan di mall-mall, di tempat-tempat pesta, atau di tempat-tempat liburan lainnya. Kita dapat menemukan makna Natal yang sebenarnya hanya dengan meneliti sumber berita Natal itu sendiri, yaitu Firman Allah. Dalam Injil Lukas 2:11, para malaikat memberitakan: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Jadi jelas sekali Natal adalah hari kelahiran Juruselamat, bukan Santa Claus!

Oleh karena itu, dengan cara apa pun atau bagaimanapun kita merayakan Natal apabila Kristus belum menjadi Juruselamat kita, maka Natal itu tidak bermakna sama sekali. Sebaliknya, apabila Kristus telah benar-benar menjadi Juruselamat kita, meskipun dengan sangat sederhana kita merayakan Natal, maka Natal itu sungguh-sungguh

116

bermakna. Natal akan lebih bermakna lagi apabila semua dana, daya, akal, dan usaha yang kita miliki dapat kita salurkan untuk mengabarkan berita Natal yang sejati kepada orang-orang yang belum memahami makna Natal yang sebenarnya.

Semoga dalam merayakan Natal kali ini, Anda akan sungguh-sungguh menikmati makna Natal yang sebenarnya. Amin.

Dalam dokumen bahan natal e binaanak (Halaman 111-116)