BAB VI SAD DHARSANA
E. Asas-asas Kepemimpinan Hindu 1. Asta Brata
Asta Brata berasal dari dua kata yaitu asta yang berarti delapan sedangkan brata berarti pedoman/pegangan. Jadi asta brata berarti delapan pegangan atau pedoman yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin. Adapun yang bagian-bagian yang termasuk asta brata itu antara lain :
a. Indra Brata
Seorang pemimpin harus bertindak seperti sifat Dewa Indra yaitu dapat memberikan kesenangan dapat memenuhi kebutuhan anak buahnya akan sandang dan pangan. Pemimpin mempunyai kewajiban untuk kebenaran dan keadilan. Pemimpin yang menjalankan Indra Brata akan berusaha memberikan kecukupan kebutuhan hidup kepada pengikutnya bagaikan Ida Sang Hyang Indra memberikan hujan dan ari yang menyebabkan hidupnya tumbuh-tumbuhan dan makhluk lainnya di dunia ini. Sebagai kesimpulan bahwa Indra Brata mengajarkan seorang pemimpin untuk memikirkan nasib anak buahnya selalu bekerja untuk mencapai kemakmuran masyarakat secara menyeluruh tidak boleh mementingkan dirinya sendiri saja.
b. Yama Brata
Dewa Yama dalam myuthologi Hindu adalah sifat Tuhan sebagai penyabut nyawa atau dalam Asta Brata ini menjadi penghukum segala bentuk kejahatan tanpa pandang bulu. Setiap orang yang melakukan perbuatan jahat harus dijatuhi hukuman sesuai dengan kesalahannya. Pemimpin harus bertindak tegas.
c. Surya Brata
Dalam Surya Brata tersimpul ajaran seorang pemimpin harus dapat memberikan kekuatan kepada anak buahnya baik jasmani dan rohani. Pimpinan harus dapat memberikan kesadaran akan tanggung jawab kepada anak buahnya. Seperti matahari yang Memancarkan sinar sucinya keseluruh pelosok penjuru demikinlah hendaknya seorang pemimpin tidak jemu-jemunya mengadakan hubungan dengan bawahannya sehingga pemimpin mengetahui benar keadaan anak buahnya.
d. Candra Brata
Candra adalah rembulan yang memberikan penerangan sejuk dan nyaman di malam hari. Pemimpin yang mempunyai sifat candra itu akan menyenangkan anak buahnya.
Casi brata hunar sukang rat katon, ulah ta merdu komala yan katon, guyun ta mamanis ya tulya marta, asing matuha pandi zat swagaten.
Artinya :
Kalau Dewa Bulan adalah memberikan kegembiraan, hendaknya tingkah lakumu kelihatan lemah lembut. Semua orang tua yang cerdik pandai hendaknya engkau jamu dengan selayaknya.
e. Bayu Brata
Seorang pemimpin harus dapat mengetahui segala hal ihwal dan pikiran anak buahnya. Bayu menunjukkan pendirian yang teguh tidak dapat mengembalikan semangat kerja jika diketahui anak buahnya mengalami krisis mental
f. Dhana/Kuwera Brata
Adalah dewa kekayaan. Ajaran yang dalam Kuwera Brata ini adalah seorang pemimpin itu harus berpakaian rapi. Sebelum mengatur orang lain, pemimpin hendaknya dapat mengatur diri sendiri terlebih dahulu.
g. Paca Brata
Pada adalah Dewa Baruna yang memiliki senjata Nagapasa. Kesakitan seorang pemimpin adalah ilmu pengetahuan yang luas untuk membimbing anak buahnya, seorang pemimpin harus bijaksana. Seorang pemimpin hendaknya dapat mendengarkan dan memperhatikan pendapat anak buahnya seingga mendorong kegairahan kerja karena sesuai dengan hati nurani bawahannya.
h. Agni Brata
Dalam Agni Brata terdapat ajaran yang mengatakan bahwa dalam menghadapi kesukaran hendaknya diatasi dengan sebaik-baiknya sampai tuntas. Seorang pemimpin harus mempunyai semangat anak buahnya yang diarahkan melaksanakan tugas. Secara keseluruhan dikatakan bahwa Asta Brata memuat faktor-faktor hubungan antar manusia yang sesuai dengan prinsip demokrasi Pancasila oleh karena itu dapat kita terapkan dewasa ini dalam bidang kepemimpinan karen bagaimanapun juga kita sebagai ahli waris daripada kebesaran umat Hindu jaman dahulu sudah selayaknya kita mengetahui tentang tehnik-tehnik kepemimpinan yang tidak mengenal diri kita sendiri.
Disamping Asta Brata seorang pemimpin harus juga menerapkan ajaran Catur Pariksa seperti :
a. Sama
Seorang pemimpin harus bertindak dan berbuat sama terhadap anak buahnya atau anak didiknya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk maju dan berkembang. Seorang pemimpin tidak boleh pilih kasih ia harus memandang pengikutnya secara adil dan menyeluruh sesuai dengan dharma buktinya. Jasa dan nama baik harus dituntut dengan cepat jangan ditangguhkan. Jasa orang membikin telaga sama dengan membikin sebuah sumur. Jasa orang yang membikin seratus buah telaga sama dengan orang yang melaksanakan tugas dengan baik. Ini semua dengan seorang yang mempunyai putra yang baik sebagai alat untuk mencapai sorga loka.
b. Beda
Pemimpin harus dapat menilai anak buahnya dengan mencurahkan perhatian yang tidak berbeda-beda. Bagi mereka yang rajin dan tekun diberikan penghargaan yang lebih besar dibandingkan denga mereka yang malas. Pemimpin harus menunjukkan keadilan walaupun dalam hal ini harus dibedakan antara yang rajin dengan yang malas. Setiap bawahannya hendaknya dapat menerima apa yang menjadi haknya. Sendi keadilan itu bersumber pada ajaran karma phala yang mengatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan phala sesuai dengan karmanya. Pemimpin harus dapat membedakan antara hubungan dinas dan hubungan pribadi. Pemimpin harus membedakan mana hal yang penting yang perlu segera dikerjakan dan mana yang dapat ditanggungkan dan pemimpin harus ambeg paramarta (tidak mementingkan diri sendiri).
c. Dhana
Pemimpin hendaknya senantiasa rela mengeluarkan tenaga untuk menolong orang yang benar-benar memerlukan pertolongan demikian pula terhadap anak buahnya senantiasa dapat memberikan bantuannya apabila bawahannya mengalami kesukaran sesuai dengan kemampuannya dan fasilitas yang ada.
Bagaikan air yang menggenangi pohon tebu tidak hanya pohon tebu itu saja tergenangi oleh air, tetapi juga rumput-rumputnya, pohon-pohon kecil lainnya, serta segala yang dekat kepada tebu itu turut mendapat Genangan. Demikianlah orang yang melaksanakan dharma turut bawahannya mendapat kebahagiaan sesuai dengan kewajiban. Ajaran ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin tidak hanya memikirkan nasibnya sendiri, melainkan harus pula memikirkan nasib anak buahnya. Hal ini sangat besar pengaruhnya
terhadap ketaatan bawahannya itu sendiri, karenanya harus diperhatikan oleh seorang pemimpin.
d. Denda
Seorang pemimpin harus berani bertindak tegas yaitu berani memberikan sangsi kepada setiap bawahan yang melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku. Pemimpin harus dapat menegakkan disiplin kerja kepada para pengikutnya.