• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tempat dan Arah Memuja Ida Sanghyang Widhi

Dalam dokumen PENGANTAR AGAMA HINDU (Halaman 42-45)

BAB IV CATUR MARGA

A. Bhakti Marga

5. Tempat dan Arah Memuja Ida Sanghyang Widhi

Umat Hindu percaya bahwa alam semesta dengan bintang dan planet diruang angkasa yang tidak terlihat oleh mata bahkan teropong-teropong bintang sekalipun, sebenarnya ada di dalam diri Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Bumi kita tidak lebih dari sebuah sel dari tubuh Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita bandingkan diri kita seperti satu titik di dalam samudra, titik air tidak boleh dikatakan samudra tetapi sebaliknya di dalam samudra titik air ini merupakan bagian kecil dari samudra. Dalam titik air ini sifat asin dari samudra ada, demikian pulalah manusia walaupun berada di dalam diri Tuhan tidak bisa mengatakan dirinya Tuhan, meskipun sifat-sifat ketuhanan itu ada dalam diri manusia. Dalam susunan yang demikian maka sulit untuk mengatakan dimana sebenarnya Tuhan itu bertahta. Beliau ada di mana-mana dan tidak ada tempat di mana Beliau tidak ada. jika Tuhan berada dimana-mana mengapa manusia memuaja Tuhan ditempat-tempat ibadat, apa perlunya membuat pura balikan dan tempat tidur saja bisa sembahyang? Cara yang paling mudah dan indah untuk mendekati Tuhan adalah melalui rasa. Untuk membangkitkan rasa agama, rasa cinta kepada Tuhan maka diperlukan

suatu kondisi tertentu, kondisi yang bisa menggiring agar rasa ketuhanan muncul dan bergelora dengan mantap. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu membuat pura mereka ditempat-tempat yang indah, tempat-tempat bersejarah atau tempat-tempat yang bisa membangkitkan kekaguman akan kebesaran Tuhan disamping dekat dan mudah dicapai oleh umatnya. Pura-pura Sad Kahyangan di Bali merupakan Pura-pura-Pura-pura inti seperti Pura-pura Besakih, Batur, Lempuyang, Uluwatu, Watukaru, Puncak mangu dan lain-lainnya semua penuh dengan ketenangan. Keindahan dan keagungan. Ditempat-tempat ini orang dirinya kecil ditengah-tengah kebesaran dan keindahan alam yang diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi. Dalam kondisi yang demikian maka orang akan mudah mengagumi dan menghormati Tuhan, di tempat yang demikian rasa ego mulai melenyap diganti rasa kagum dan hormat maka konsentrasi pikiran kepada Tuhanpun akan lebih mantap dan terpusat. Bahan dan bentuk purapun tidak dibuat menyerupai rumah tempat tinggal ataupun menyerupai gedung perkantoran. Bagi umat Hindu pura itu dengan bentuk dan bahan yang lain dari yang lain, sehingga bila kita masuk pura maka perasaanpun seperti masuk Kahyangan dan Tuhan rasanya disana. Gunung dan matahari adalah merupakan kiblat (arah) dimana umat Hindu menundukkan kepala kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai perwujudan rasa bhakti. Gunung yang dikenal dengan nama Acala Lingga yang berarti tempat Tuhan yang tidak bergerak, karena kenyataannya gunung tidak bisa dipindahkan namun, umat Hindu yakin gunung adalah sebagai linggih Ida Sang Hyang Widhi. Mengapa Tuhan dipuja dipuncak gunung bukanlah Tuhan ada dimana-mana? Meskipun Tuhan ada dimana-mana tetapi pada saat umatnya memujanya Beliau didudukkan ditempat yang ketinggian. Makin tinggi suatu tempat maka makin mulialah yang dipujannya. Itu pula sebabnya gunung Mahameru yang tertinggi di India dianggap sebagai linggih Ciwa. Di pulau Jawa gunung gunung semerulah yang merupakan gunung Mahamerunya umat Hindu pada jaman dahulu. Sedangkan di Bali gunung Tolangkir atau gunung Agung adalah merupakan linggih Ida Sang

Hyang Widhi (Ciwa). Di pura-pura bangunan meru merupakan simbul gunung, dimana kata meru mengingatkan kita kepada gunung Mahameru dan Semeru. Hal kedua yang menyebabkan gunung yang mempunyai arti penting adalah karena dengan adanya gunung inilah manusia dapat menikmati air untuk diminum maupun untuk mengaliri sawahnya. Gunung dengan hutan dan tanahnya yang gembur menyebabkan air hujan masuk dan disimpan di dalam tanah serta sedikit demi sedikit dialirkan melalui sungai, hingga hampir sepanjang tahun kita bisa menikmati aliran air sungaitidak henti-hentinya, meskipun di waktu malam di saat kita tidur nyenyak air sungai terus mengalir. Gunung adalah waduk ciptakan Tuhan, karena itu wajarlah kalau umat Hindu menghadap ke gunung karena disana tempat Tuhan menyampaikan anugrah berupa kemakmuran dan keselamatan, maka melalui gunung pula umat Hindu menyampaikan terima kasih. Perwujudan rasa hormat itu tampak pada sebagai hulu, kata Kaja berasal dari kata keadya yang berarti ke gunung, dimana adya arti gunung. Sedangkan Kelod berasal dari kata laut dan dianggap sebagai hilir. Di masyarakat pegunungan jika mereka tidur kepala mereka tentu ada di arah gunung karena gunung dianggap sebagai hulu atau kepala. Demikianlah pula jika menguburkan mayat maka letak kepala si mayat ada di arah gunung. Di samping arah gunung dan arah matahari terbit yaitu arah timur adalah arah yang dianggap suci. Letak bangunan-bangunan pura umat Hindu sebagian besar diarah timur menghadap ke barat, sehingga orang yang sembahyang akan menghadap ke timur, mengapa arah matahari terbit itu disucikan?

Matahari adalah merupakan simbul kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi menurut para ahli ilmu bumi, planet katanya berasal dari pecahan matahari dan jassad manusia berasal dari unsur panca Mahabhuta yaitu air, tanah, panas, angin, dan angkasa yang berasal dari unsur-unsur kita ini. kekuatan yang diciptakan oleh matahari menyebabkan bumi kita berputar angin dan air beredar. Dengan sinar matahari semua makhluk bisa hidup

jika matahari tidak ada maka bumipun akan mati. Dalam Niti Castra disebutkan :

Jika tidur kearah matahari terbit menyebabkan panjang umur, jika tidur dengan kepada di arah utara (gunung) akan menyebabkan murah rejeki. Jika Utara berasal dari urat kata Ud yang artinya menonjol atau menjulang yang dimaksud dalam hal ini ialah tanah yang menjulang tinggi yaitu gunung.

Dalam kenyataannya matahari memang mempunyai pengaruh terhadap keselamatan, sedangkan gunung mempunyai pengaruh terhadap kemakmuran dimana tanah gunung yang gembur berfungsi sebagai waduk air, yang merupakan sumber-sumber aliran sungai dengan arinya yang memberikan kemakmuran. Mengapa Tuhan memilih gunung, matahari dan pura-pura sebagai tempat Beliau padahal Beli dimana-mana menguasai alam semesta. Demikianlah mengapa umat Hindu mencakupkan tangannya memuja Tuhan ke arah matahari terbit ke arah gunung, tempat dari Ida Sang Hyang Widhi, menympaikan kasihnya Beliau yang berlimpah kepada semua makhluk di planet ini. Matahari dan gunung adalah anugrah Tuhan sebagai tanda kasih Tuhan maka wajarlah dari mana datangnya kasih melalui itu pula umat Hindu menundukkan kepala menyatakan terima kasih.

Dalam dokumen PENGANTAR AGAMA HINDU (Halaman 42-45)