Sasaran Belajar
8. Gambar atau Huruf
Gambar atau huruf tertentu dipergunakan dalam berbagai y ajna baik sendiri-sendiri atau kedua-duanya, gambar sebagai pengganti pratima baik gambar tertentu maupun sekedar bentuk garis tertentu atau titik-titik. Gambar mengandung pengertian yang paling luas dan pada jaman Mesir Kuno gambar sebagai pengganti huruf dan berfungsi sebagai sarana komunikasi yang paling ampuh baik untuk mendatangkan gaib ataupun untuk mengusir roh jahat lainnya. Adapun gambar atau huruf yang banyak dipergunakan seperti gambar Swastika, padma, huruf Ongkara dan lain-lainnya.
9. Canang
Canang adalah persembahan yang sederhana berupa buah-buahan dan kue, ada beberapa macam jenis canang dan dibedakan menurut kelengkapan dan tujuan penggunaannya seperti : cangn genten, canang tubungan, canang burat wangi/lenge wangi, canang tadah pawitra, canang sari, canang oyodan, canang rebong, canang meraka dan canang gebongan.
10. Daksina
Daksina adalah sesajen yang dibuat untuk tujuan kesaksian spiritual, Daksina adalah lambang Hyang Guru dan karena itu dipergunakan sebagai saksi Dewata sedangkan isi daripada daksita antar lain : beras, kelapa, uang, telur itik, benang putih, bijaratus, gantusan, pisang mentah dan kemiri, pangi, daun sirih dan canang genten. Ada beberapa jenis daksina antar alain : daksina alit, daksina pekala-kalaan, daksina krepa, daksina gede dan daksina gulahan.
11. Bhojana (makan-makanan)
Salah satu jenis upakara yang selalu dipersembahkan pada setiap upacara adalah makanan, persembahan makanan untuk berbagai tujuan dan diberi nama berbeda-beda, seperti :
a. Persembahan untuk para Dewa-deaw disebut ajuman b. Persembahan untuk arwah meninggal disebut sodaan c. Persembahan untuk bhuta kala disebut caru
d. Persembahan untuk para pitara disebut saji tarpana
Makin besar dan makin lengkap isinya berbeda pula namanya, tujuan dan fungsi tetap sama seperti contoh :
a. Saeban atau jotan adalah persembahan nasi dengan garam dan irisan bawang sebagai bentuk yang paling kecil dan sederhana.
b. Bila nasi itu dilengkapi dengan lauk pauk yang lebih sempurna seperti ikan, daging, sayur, telur dan lain-lain disebut perauyman atau perangkat.
c. Apabila perayuman dilengkapi dengan peras dan daksina disebut rayuman bawa atau bawa saja.
d. Apabila rayuman bawa ditambah dengan suci dan punia disebut Resi Bojana.
12. Peras
Peras yaitu sesajen untuk upacara dan dipergunakan untuk tujuan keberhasilan upacara (sidha karya), dinyatakan apabila tidak ada peras tujuan upacara tan prasida (tidak tercapai). Peras adalah merupakan simbol Triguyna Sakti. Isi peras tersebut antara lain : beras, daun sirih, tumpeng dengan lauk pauknya, buah-buahan, tebu, canang genten dan sampian peras.
13. Kewangen
Kewangen adalah sarana sembahyang dan fungsinya sama seperti bunga. Yang dibuat dalam bentuk kojong terdiri dari : daun pisang, daun sirih, kapur sirih, gambir, pinang, bunga, uang dan pelawa. Kewangen banyak dipergunakan pada upacara Pitra Yajna dan Dewa Yajna sebagai lambang Ardhanareswari. Karena itu penggunaannya akan sangat tepat apabila diikuti dengan pemakaian mantra.
Hubungan Agama Dengan Kebudayaan
Suatu kenyataan yang dapat diingat bahwa Agama Hindu telah memberi warna dan jiwa pada segala corak kesenian di Bali ini. Di samping itu pula agama memelihara kelangsungan perkembangan dan hidup seni karena agama itu ikut aktif berpartisipasi di dalamnya, mengingat dengan berbagai macam mytologi dan disucikan dalam bentuk upacara-upacara dan banten-banten. Jalinan yang demikian erat menyebabkan kesenian Bali itu mempunyai corak yang berbeda dengan kesenian di luar Bali. Untuk memberikan gambaran yang singkat dan umum dari kaitan seni dan agama itu baiklah kami akan mengemukakan satu persatu dari beberapa seni di bawah ini :
a. Seni Bangunan
Bangunan-bangunan rumah adat di Bali baik untuk pura-pura maupun bale-bale pada mula membuatnya maupun setelah selesainya selalu diupacarai dengan secara agama.
Umat Hindu percaya bahwa rumah itu merupakan buana alit ciptaan manusia, oleh sebab itu ia meniru sifat-sifat dan hakekat buana agung yang diciptakan oleh Ida Sang Hyang Widhi. Kalau buana agung terdiri dari bhur, bwah dan swah loka maka suatu bangunanpun dibuat sedemikian rupa. Dimana dasar bangunan adalah bhur loka ruangannya adalah bwah loka sedangkan atapnya adalah swah loka setelah itu diadakan upacara-upacara pengurip-urip. Sebagaimana kita ketahui semua alat bangunan itu adalah berbeda-beda mati seperti kayu, alang-alang, kapur, pasir dan lain-lain, sebab itu benda-benda itu harus dihidupkan secara ritual upacara. Fungsi dan namanya harus dirubah kalau sebelumnya bernama alang-alang maka setelah menjadi bangunan berubah bernama atap. Nama baru ini disertai dengan hidup baru. Untuk memberi hidup baru ini diupacarailah dengan bakang-bakang atau sasar yaitu sejenis sampan seprti orang-orangan yang mempunyai mata dan lain-lainnya. Sebab itu bangunan yang sudah selesai diisi secarik aksa dengan bertuliskan Ongkara Padma Acintya atau naga. Tetapi kalau bangunan itu untuk memohonkan kemakmuran dan kesejahteraan diluksikan gambar naga sebagai simbul Naga Basuki dan Naga Anatabhoga. Sebagai dimaklumi Naga Basuki adalah simbul keselamatan dan Ananta artinya tidak habis-habis sedangkan bhoga, upabhoga dan pabhoga artinya makanan, pakaian dan perlengkapan. Jadi suatu bangunan bagi umat Hindu bukan sekedar tempat tidur melainkan sifat dan jiwa.
b. Seni Tari
Sebagaimana telah diputuskan di dalam seniman seni sacral maka tari-tarian Bali dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
1. Tari Wali 2. Tari Bebak
3. Tari Balih-balihan
Dari ketiga jenis tari ini maka tari Wali dan Bebali yang paling erat hubungannya dengan agama Tari Wali berfungsi sebagai pelaksanaan upacara baik dia maupun semuanya erat sekali kaitannya dengan jalannya upacara seperti tari rejang berfungsi menuntun Ida Bhatara pada waktu meleasti atau tedun ke pasekang. Uang bolongnya berfungsi sebagai ngayai para Dea dan roh-roh suci untuk memberkahi upacara itu Topeng Sidakarya dengan peras dengan beras kuning dan uang bolongnya sebagai pupuk karya dengan disimbulkan dengan beras kuning dan uang boloang. Wayang Mpu Leger dan wayang Sapu Leger duan-duannya berfungsi sebagai penyucian bayi atau anak lahir pada tumpek wayang. Sedangkan tari bebali berfungsi lebih ringan dari wali karena setengahnya bersifat hiburan dan setengahnya menunjang succesan upacara.
Disamping fungsi-fungsi dari tari wali dan bebali ini telah ditetapkan sedemikian rupa juga untuk menguatkan dan memantapkan keyakinan dan umat maka dikuatkanlah mytologi-mytologi yang memuat asal-usul dan tarian tersebut hampir semua tari-tarian Bali menggunakan sajen-sajen baik dan balih-balihan, tan wali dan bebali. Tujuannya tidak lain adalah memohon kehadapan Ida Bhatara agara tari-tarian ini succes. Disamping penggunaan sajen secara umum di Bali dikenal upacara Mamasupam dimana alat-alat seperti topeng, rangda, barong atau gelungan dan juga orang yang menarikan itu dipasupasi. Dibuatkan sesajen khusus untuk memohon kekuasaan supermater material power untuk menurun dan mengarahkan peran tersebut secara gaib sehingga menarik atau menakutkan. Kata Pacupati berasal dari kata pacu yang berarti hewa dan pati berarti raja. Maksudnya yaitu dimana di penari diumpamakan sebagai hewan gembalaan dimana Ida Bhatara sebagai pengembalanya maka gaya tarik yang ditimbulkan oleh si penari ini bukanlah semata-mata disebabkan
oleh kelemasan dan kecantikan si penari tetapi adalah disbabkan oleh kekuatan niskala dari Ida Bhatara tempat penari nunas pacupan.
c. Seni Tabuh
Gambelan dianggap mempunyai Dewa sebab itu ada upacara untuk memperingati atau memohon kekuatan pada gong itu yaitu pada hari tumpek klurur. Kata klurur berarti cinta kasih mungkin hal ini ada hubungannya dengan mytologi-mytologi terciptanya gong atau bunyi-bunyian dimana Sang Hyang Semara menciptakan bunyi-bunyi-bunyian yang pertama yang dinamai smarapegulingan. Kemudian Bhatara Siwa Bhatara Wisnu dan Bhatara Indra meniru ciptaan Sang Hyang Semara ini maka terciptalah Semara Aruru, Semara Wungu, Semara Ngadeg, Para bhutakala tidak mau ketinggalan dan ikut juga meniru ciptaan Sang Hyang Semara dibuatlah gegambelan Bebonangan oleh para Bhutakala.
Tata penggunaan gambelan disesuaikan dengan jenis upacara yang dilakukan, misalnya upacara Dewa Yajna dipergunakan Semar Pegulingan dan Selonding. Kalau upacara Pitra Yajna dipergunakan bebonangan dengan tabuh boganjur, gelak dan gambang. Upacara manusia yajna dipergunakanlah semar Pegulingan, Gong Gede dan sebagainya.
d. Seni Sastra
Seni sastra lama lebih-lebih yang berbahasa Bali boleh dikatakan hampir semuanya berbau etik mengandung tutur yang berpankal pada ajaran agama. Kidung-kidung dan kekawinan yang sering sekali anomynya tidak disebut nama pengarangnya menunjukkan suatu etika ketimuran yang tidak menonjolkan namanya sendiri. Bahkan isinya dihubungkan dengan tokoh-tokoh Dewa atau orang yang terkenal pada jaman dahulu. Mereka beranggapan kalau namanya ditonjolkan nilai sastranya akan berkurang. Sebagian lagi pengarang-pengarang Bali ini akan menyebutkan namanya tetapi bukan nama asli melainkan nama samaran. Apa sebabnya
orang Bali tidak mau menonjolkan diri karena ini merupakan watak orang timur yang kemudian dibenarkan lagi oleh etika agama Hindu dianjurkan Anresangsya hak yang Dharma artinya tidak mementingkan diri sendiri adalah kebajikan yang tertinggi. Selain itu juga pada waktu upacara dinyanyikan kidung-kidung dan pembacaan kekawinan yang baik biasanya diambil dari ceritera-ceritera ramayana dan Mahabarata. Kidung dan kekawin itupun disesuaikan dengan jenis upacara/jalannya upacara.
BAB VI