• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karma marga

Dalam dokumen PENGANTAR AGAMA HINDU (Halaman 61-65)

BAB IV CATUR MARGA

C. Karma marga

Karma Marga adalah ajaran yang menekankan pada pengabdian yang berwujud kerja tanpa pamrih untuk kepentingan diri sendiri.

Dalam kitab Bhagawadgita disebutkan :

Na chi kascity ksanam api jatatisthaty akarmakrit Karyate hy awasah karma sarwah prakrituair gunaih

Artinya :

Walau sesaat juga tidak seorangpun untuk tidak berbuat karena manusia tidak berdaya oleh hukum alam yang memaksa bertindak.

Kenyataannya memang benar demikian tiada orang yang bisa menghindarkan diri untuk bekerja walaupun waktu tidur karena jantung tetap berdetak darah selalu mengalir dan selalu bekerja walaupun kita tidak sadari. Pikiran yang menjadi motivasi dari kerja menentukan hasil suka dalam karma sebab berpikir saja melahirkan karma, lebih-lebih kalau pikirkan itu dituangkan dalam bentuk ucapan atau perbuatan maka sempurnalah karma yang dibuatnya. Supaya hidup kita yang singkat ini tidak sia-sia dan banyak waktu yang tidak dapat dimanfaatkan maka bekerjalah dengan giat sebab berbuat lebih baik daripada tidak berbuat, janganlah kita takut keliru atau salah asal jangan sengaja berbuat kesalahan. Kekeliruan atau kesalahan akan memberikan hikmah tidak berani mencoba karena takut salah tidak beda

halnya seperti anak kecil yang taku mencob berjalan karena khawatir akan jatuh, akhirnya lama dia baru bisa berjalan oleh sebab itu jangan takut coba terus biar jatuh akhirnya akan bisa berlari. Kerja adalah simbul hidup dengan bertambahnya pengalaman dan ilmu pengetahuan. Walaupun demikian manusia berkemampuan yang terbatas perlu bekerja dengan seefesien mungkin (tepat guna) catur Asrama adalah pembagian tugas kewajiban berdasarkan umur yang erat sekali kaitannya dengan kemampuan. Manusia adalah ciptaan dan juga gambaran Tuhan dalam pengertian Bhuana Agung dan Bhuana Alit, jika Tuhan diumpamakan sungai yang mengalir maka manusia adalah titik air yang ikut dalam arus sungai tersebut. oleh karena itu maka manusia hendaknya meniru geraknya Tuhan jika menginginkan seperti apa yang disebutkan dalam :

Bhagawadgita III.23.24. Yadi hy aham na wateyam jatu karmany atandritah mama wartn nuwartante mansyah partha sarwasah Utsideyur ime loka

na kuryam karma ced aham samkarasya ce karta syam upahanyam imah prajah

Artinya :

Sebab kalau aku tidak selalu bekerja, aku jadi pencipta kekacauan itu, dalam segala bidang apapun juga.

Dunia ini akan hancur jika Aku tidak bekerja, Aku jadi pencipta kekacauan itu,memusnahkan manusia itu semua.

Dengan demikian jika orang tidak bekerja dia akan dilindas oleh harus berputarannya dunia dan menderita. Penderitaan akan menjadikan kehancuran diri sendiri dan dia sendiri sebagai pencipta kehancuran dirinya. Untuk mengatur alam semesta ini agar tidak hancur Tuhan telah menurunkan hukum karma atau hukum sebab akibat.

Karma Phala

Istilah karma phala berarti hasil dari perbuatan, karena setiap perbutan pasti ada akibatnya, berwujud baik dan buruk, suka atau duka, penderitaan atau kebahagiaan. Tidak ada perbuatan yang sia-sia semua akan membuahkan hasil disadari atau tidak disadari. Dalam bayangan kebanyakan orang hasil atau akibat dari perbuatan itu bentuknya seperti apa yang menjadi sebab, misalnya jika saya memukul orang maka saya akan menerima balasan pukulan, kalau saya menanam padi hasilnyapun padi. Jika demikian jalannya karma maka orang akan takut untuk berbuat, seorang tentara tidak akan berani maju kemedan perang membunuh musuh karena takut kena karma pembunuhan. Proses karma phala sungguh rumit sekali, sifatnya komplek wujudnya bisa kongkret atau abstrak, walaupun demikian karma phala adalah suatu kebenaran suatu yang nyata-nyata ada. jika kita berdiri di pantai maka kita akan mendengar deburan ombak yang menakutkan menerjang batu karang, dari mana datangnya suatu yang begitu hebat? Tidak lain adalah akibat dari titik-titik air dengan sesamanya dan sentuhan titik-titik air dalam jumlah yang banyak menghantam pantai. Bayangkan kalau hanya setitik air yang menghantam pantai karang tidak akan terdengar suara yang besar. Demikian pula karma yang banyak kita perbuat secara sadar maupun secara tidak sadar karma baik dan karma buruk semuanya tercatat dalam otak ditampung dalam pikiran di bawah sadar. Demikian pula waktu dan situasi pada waktu karma itu dibuat. Marilah kita lihat jalannya karma yang dibuat oleh Dewi Drupadi dalam cerita Mahabrata. Dewi Drupadi menerima karma malu, karena secara kasar ditelanjangi oleh Dussasana ata perintah Duryodana setelah Panca Pandawa kalah main dadu. Sebaliknya Dewi Drupadi menerima karma pertolongan dari Sri Kresna yang membantunya dari jauh dengan kain yang berlapis-lapis tidak habis-habisnya sampai Dussasana kehabisan tenaga tidak mampu menelanjanginya.

Karma apa yang diperbuat oleh Drupadi? Pada waktu istana Indra Prasta telah selesai dibangun dan akan dilangsungkan upacara Rajasuya, Kaurawapun diundang. Duryodana dan Dussasana dengan saudara-saudaranya

datang, ditengah gedung istna ada kolam yang airnya sangat jernih sehingga dasar kolam kelihatan jelas. Pada waktu itu Duryodana dan Dussasana sedang terheran-heran kekaguman melihat indahnya istana tidak melihat ada kolam di depannya sehingga Duryodana dan Dussasana terperosok ke dalam kolam sampai pakaiannya basah kuyup, kejadian ini dilihat oleh Dewi Drupadi dan secara tidak sadar ia tertawa. Duryodana dan Dussasana memang menaruh hati kepada Dewi Drupadi dan sekarang ditertawai oleh orang yang dipujanya bukan main malunya. Dendampun tertanam pada diri mereka kejadian inilah yang merupakan karma pada Dewi Drupadi sehingga patut mendapat malu dan ditertawai oleh mereka. Malu dibalas dengan malu pertolongan yang diterima bisa berbeda dengan bentuk malu dan pertolongan ketika Drupadi membuatnya. Karma phala ini adil obyektif dan tidak memihak, namun karena kebanyakan orang tidak mengetahui proses terjadinya sehingga ada tanggapan yang keliru. Hubungan karma orang mempunyai kebebasan sepenuhnya menentukan langkah berikutnya tergantung pada reaksi yang ditimbulkan oleh langkah pertama itu. Demikianlah selanjutnya sampai permainan selesai, langkah selanjutnya adalah merupakan jawaban dari langkah sebelumnya. Semua sebab menimbulkan akibat dari akibat itu menimbulkan akibat baru. Karma phala yang kita terima sekarang sebagian besar merupakan hasil dari perbuatan yang lampau dan adanya hasil karma yang baru saja dibuatnya. Ada beberapa jenis karma phala yang didasarkan atas waktu karma phala itu diterima yaitu :

1. Prarabda karma pahala yaitu perbuatan yang dibuat pada waktu hidup sekarang dan diterima dalam waktu hidup sekarang juga. Orang Bali menyebut karama semacam ini karma cicih umumnya pada jaman kaliyuga dan saat-saat kekacauan prarabda karma itu sering terjadi.

2. Kryamana Karma Phala yaitu perbuatan yang diperbuat sekarang ini tetapi hasilnya akan diterima di alam baka setelah mati, jika perbuatan baik yang dilakukan maka akan menikmati sorga dan begitu pula sebaliknya karmanya buruk dia akan mendapat siksaan di neraka.

3. Sancita Karma Phala yaitu perbuatan yang dibuat sekarang di dunia ini yang hasilnya akan diterima pada kelahiran yang akan datang.

Dalam dokumen PENGANTAR AGAMA HINDU (Halaman 61-65)