• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sorga dan Negara

Dalam dokumen PENGANTAR AGAMA HINDU (Halaman 57-61)

BAB IV CATUR MARGA

B. Jnana Marga

4. Sorga dan Negara

Sejak kecil anak-anak telah diberi dongeng mengenai sorga yang penuh dengan keindahan dengan widyadara dan widyadari yang genteng dan cantin-cantik, gamelan sorga yang ditabuh oleh para gandarwa dengan menawan, pohon kalpataru yang berbuat segala macam keindahan yang terdapat di dunia, memberikan khayalan yang menarik dan memancing pikiran anak-anak untuk berbuat baik, karena dengan berbuat baik mereka akan mendapatkan sorga. Sebaliknya kesengsaraan di neraka dengan jenis siksaan yang dilakukan oleh algojo neraka Sang Cikrabala dan Jogormanik dengan saksi yang tidak bisa ditipu Sang Citragota atau Sang Suratma dan hakim yang menakutkan Sang Hamadipati. Kawah Candra Gohmuka dengan arwah-arwah yang penuh dosa dimana lintah dan ulat menggerayangi dan menggigitnya terendam di dalam air yang terdiri dari kotoran. Dibagian lain dilukiskan roh-roh yang diikat di bawah pohon kayu yang berdaun bermacam-macam senjata yang tajam-tajam yang pada setiap saat berjatuhan menimpa diri mereka. Lukisan neraka yang dilukiskan dalam lontar Atma Prasangsa cukup membikin kecut dan takut hati setiaporang yang mendengarnya, baik cerit asorga maupun cerita neraka telah memberi banyak andil di dalam mengendalikan moral umat Hindu untuk takut berbuat dosa, khususnya mereka yang masih gugon tuwon. Tetapi dengan majunya ilmu pengetahuan anak-anak sudah berpikir secara kritis maka muncullah pertanyaan-pertanyaan yang sukar untuk dijawab. Kalau pada jaman dahulu jika ada orang yang menanyakan dimana sorga itu maka si bapak akan cepat menjawab sorga itu ada di atas si anak cukup puas, dengan majunya ilmu pengetahuan pertanyaan mengenai sorga dan negara perlu mendapat jawaban yang ilmiah. Untuk itu maha resi maha resi sejak seribu lima ratus tahun sebelum masehi telah mengupas soal itu dan ajarannyapun tidak disebar ke masyarakat awam

karena masyarakat awam belum mampu untuk mengartikannya. Sorga dan neraka menurut Upanisad bukan suatu tempat bukan pula suatu bentuk melainkan suatu keadaan pikiran bahagia atau pikiran menderita. Kalau pikiran dalam keadaan senang dan bahagia maka itulah sorga, bila pikiran sedih dan menderita itulah neraka, baik pikiran semasih hdiup maupun pikiran yang membungkus roh sesudah mati. Neraka adalah suatu istilah untuk menyebutkan keadaan yang menderita setelah meninggal. Sebagaimana diketahui roh seseorang semasih hidup oleh pikiran (suksma sarira) san sthula sarira yang tidak lain adalah jasad atau tubuh manusia itu sendiri. Pada waktu meninggal sthula sarira hancur menjadi abu karena dibakar tetapi jiwa dan pikiran bisa terbakar dan lepas seperti angin yang tetap dibungkus oleh pelembungan. Sewaktu masih hidup gerak roh masih berat karena masih digandoli oleh jasad sedangkan sesudah mati roh itu dapat pergi dengan cepat kemana saja bersama pikiran. Bagaimana penderitaan roh sesudah meninggal, jika seseorang pada waktu hidupnya suka dengan minuman keras dan suka mabuk mabukan, setelah meninggal kesukaannya itu masih melekat dalam pikiran, tidak hangus terbakar. Roh ini ingin menikmati minuman keras, roh itu datang ketempat dia biasa minum, melihat bekas temannya semasih hidup minum sampai mabok, roh itu ingin ikut minum tetapi tidak bisa karena tidak lagi mempunyai mulut dan tubuh, dia kecewa dan itulah penderitaan di alam sesudah mati. Jadi sorga dan neraka itu bukan suatu tempat tetapi suatu keadaan pikiran. Roh-roh yang tidak tertarik lagi dengan benda-benda sukar sekali dipanggil melalui dukun karena itu bukannya jauh tetapi karena ia tidak tertarik lagi dengan benda-benda duniawi. Sebaliknya roh-roh yang lebih rendah lebih mudah memanggilnya, diberikan badan berupa kayu, orang-orangan serta sekedar makanan sudah bisa cepat datang, jauh dan dekat tidak ada bagi roh yang tidak lagi digandoli oleh jasad. Jika pikiran roh masih terikat maka kontakpun cepat dilakukan sebaliknya roh suci yang tidak terikat sulit sekali untuk mengadakan hubungan jauh dekat hanya ada dalam pikiran.

5. Moksa

Mengapa kelahiran sebagai manusia dianggap sebagai tingkat terakhir dari usaha mencapai kebebasan? Kelahiran sebagai adalah merupakan pintu gerbangnya moksa karena dewa-dewapun akan lahir menjadi manusia untuk dapat meningkatkan diri agar bisa moksa. Moksa adalah suatu istilah untuk menyebutkan kalau roh manusia telah kembali dan menjadi satu dengan Tuhan. Dimana roh tidak mengalami kelahiran kembali artinya bebas dari inkarnasi serta mencapai kebahagiaan tertinggi yaitu kebahagiaan tanpa wali duka. Sebenarnya manusia dengan atmanya ini telah pernah bersatu dengan Brahman dan telah pernah merasakan kenikmatan dari suka tanpa wali duka. Dengan kridanya Brahman maka dia terlempar lagi kegelombangnya maya. Di dalam maya ini segala kebahagiaan dan kesukaan itu selalu disertai dengan kedudukan atau dimana kesukaan tentu ada penderitaan yang mengikuti. Jadi Atma rindu kembali kepada asalnya yaitu Tuhan, seperti halnya titik-titik air lain yang menjadi embun dan kemudian jatuh menjadi hujan serta mengalir menjadi sungai melaju dengan derasnya karena rindu bertemu lagi dengan laut (sumbernya). Ajaran agama Hindu mengajarkan orang agar melalui kehidupan di dunia secara bertahap melepaskan keterikatan terhadap benda-benda duniawi. Catur Asrama adalah contoh tahap-tahap hidup yang harus ditempuh mulai dari Brahmacari sampai dengan Biksuka hal ini bukan berarti umat Hindu tidak mementingkan dunia, justru dunia merupakan alat untuk mencapai moksa, melalui pengenalan terhadap dunia orang baru bisa membebaskan diri dari dunia. Dunia adalah tempat praktek untuk melepaskan diri dari ikatan dunia moksa hanya akan bisa dicapai melalui kelahiran di dunia sebagai manusia.

Dalam Brahman Purana 228.45 disebutkan :

Djharmarthakamamokshanam sariram sadhanam, yang artinya bahwa tubuh adalah alat untuk mendapatkan dharma arta, kama dan moksa.

Selanjutnya kitab Sarascamusya sloka 12 menyebutkan : Kamarhau lipsamanastu dharmameditasearet

Na hi dharmadapetyartha kamo wapi kadacana

Artinya :

Pada hekekatnya jika arta dan kama dituntut maka seharusnya dharma hendaknya dilakukan lebih dahulu tak disangsikan lagi pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti tidak akan ada jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma.

Dalam sloka-sloka di atas dapa disimpulkan bahwa untuk mencapai moksa orang harus lahir dan mempunyai tubuh sebagai manusia.

Tubuh manusia ini perlu dipelihara, diberi makan (artha) diberi kenikmatan (kama). Artha dan kama hanya bisa didapat didunia sebab itu manusia harus lahir di dunia. Meskipun dunia ini menyediakan artha dan kama tetapi kalau mendapatkan artha dan kama itu menyimpang dari dharma, maka disamping sia-sia, juga akibatnya akan menderita. Sebab itu carilah artha dan kama itu melalui Dharma. Dharma adalah ajaran agama yang memberikan petunjuk, seperti rambu-rambu lalu lintas, jalan yang mana boleh ditempuh dan jalan mana dilarang untuk dilalui. Demi kesehatan tubuh agama tidak melarang mencari artha dan kama, tetapi hendaknya di dapat dengan jalan halal tidak menyalahi ajaran agama. Agama Hindu tidak menolak artha dan kama, melainkan disuruh mencari artha itu sebanyak-banyaknya untuk kemudian diabaikan demi kepentingan umat manusia. Demikianlah artha itu dicari dengan jalan yang halal dan dipergunakan untuk kepentingan mereka yang membutuhkan tanpa mementingkan diri sendiri. Usaha yang demikian merupakan jasa yang bisa mengantarkan seseorang mencapai moksa. Janganlah di salah artikan “melepaskan kepentingan duniawi ini” dimaksud tidak boleh mencari artha, ajaran agama Hindu tampaknya kontradiktif. Untuk Mosak orang harus lahir ke dunia dan bergulat mengatasi dunia. Untuk bisa membebaskan diri dari ikatan artha orang harus mencari artha. Sebagaimana halnya untuk naik menjadi pemimpin yang baik, orang harus

terjun kepada masyarakat. Keinginan juga sangat penting sebagai motor penggerak, karena adanya keinginan maka orang mau bergerak dan bekerja. Setelah keinginan kuat, perlu pengendalian. Keinginan terkendali sangat berguna untuk peningkatan spiritual. Tubuh pikiran dan panca indra yang melahirkan keinginan akan bisa jadi kendaraan dari jiwa menuju alam moksa, tetapi telah sampai ditempat semuanya ini harus ditinggalkan. Tubuh ini seperti mobil hanya diperlukan selama masih perjalanan, setelah sampai mobilpun ditinggalkan. Demikianlah pentingnya arti dunia dan tubuh yang merupakan anugrah Tuhan sebagai kendaraan perjalanan menuju moksa.

Dalam dokumen PENGANTAR AGAMA HINDU (Halaman 57-61)