• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGANTAR AGAMA HINDU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGANTAR AGAMA HINDU"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

HAND OUT

PENGANTAR AGAMA HINDU

OLEH :

DRA. NI KADEK MULIATI

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

POLITEKNIK NEGERI BALI

JURUSAN TEKNIK SIPIL

(2)

KATA PENGANTAR

Om, Swastiastu

Puji syukur penyusun panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya, diktat Mata Kuliah Agama Hindu ini, bisa diselesaikan sesuai dengan rencana. Mata Kuliah Agama Hindu merupakan mata kuliah dasar umum yang wajib diajarkan di seluruh perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. Sementara, literatur dan buku-buku pegangan untuk mata kuliah itu, masih sangat kurang, dalam hal ini kiranya diktat yang sederhana ini dapat dimanfaatkan.

Maksud dan tujuan penulisan diktat ini adalah untuk menanamkan dan meningkatkan rasa percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta membangkitkan kesadaran bahwa agama merupakan sarana untuk mencapai kebahagiaan dan kepuasan bathin baik di dunia maupun di akhirat. Di samping itu dengan mempelajari ajaran agama, juga memberikan motivasi dan dorongan bagi umat manusia untuk berbuat baik, selain sebagai penunjang ilmu yang diperoleh di bangku kuliah.

Seiring dengan banyak dan luasnya materi mata kuliah agama yang patut diketahui, sedangkan waktu perkuliahannya hanya satu semester, jadi materi-materi yang bersifat ulangan yang telah diberikan di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas tidak disajikan lagi. Materi yang akan dipergunakan di perguruan tinggi hanya bersifat praktis agar dapat menunjang ilmu dan pekerjaan setelah menamatkan sekolah.

Penyusun menyadari sesuai dengan perkembangan pembangunan agama, bahwa materi kuliah ini banyak kekurangannya sehingga memerlukan tambahan dan penyempurnaan. Penyusun mengharapkan kepada pembaca agar memberikan kritik dan saran-saran untuk penyempurnaan penyusunan selanjutnya.

Om, Santih, Santih, Santih, Om Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... DAFTAR ISI ... BAB I PENDAHULUAN ... A. Sejarah Agama Hindu di India ... B. Masuknya Agama Hindu ke Indonesia ... C. Penyebaran Agama Hindu di Indonesia ... D. Penyebaran Agama Hindu di Bali ... BAB II SUMBER AJARAN AGAMA HINDU ... A. Sruti ... B. Smerti ... C. Upaweda ... BAB III SRADHA (KEIMANAN) ... A. Panca Sradha ... B. Diksa (Inisiasi) ... C. Tapa (Pengendalian Diri) ... D. Brahma atau Pujian ... BAB IV CATUR MARGA ... A. Bhakti Marga ... B. Jnana Marga ... C. Karma Marga ... D. Raja Marga ... BAB V YADNYA ... A. Pengertian Yadnya ... B. Panca Maha Yajna ... C. Upakara Dalam Upacara Agama Hindu ... D. Hubungan Agama Dengan Kebudayaan ... BAB VI SAD DARSANA ... A. Nyaya Darsana ... B. Vaisasika Darsana ...

(4)

C. Sankhya Darsana ... D. Yoga Darsana ... E. Mimamsa Darsana ... F. Vedanta Darsana ... BAB VII RAJA DHARMA ... A. Pengertian Kepemimpinan ... B. Syarat-syarat Seorang Pemimpin ... C. Tugas dan Wewenang Seorang Pemimpin ... D. Sifat-sifat Kepemimpinan ... E. Azas-azas Kepemimpinan ... DAFTAR PUSTAKA

(5)

BAB I PENDAHULUAN

Sasaran Belajar

- Menjelaskan tentang proses penyebaran ajaran Agama Hindu di India - Menjelaskan tentang proses penyebaran agama Hindu di Indonesia - Menjelaskan tentang penyebaran agama Hindu di Bali

A. Sejarah Agama Hindu di India

Ajaran Agama Hindu sudah ada sekitar 6000 tahun yang lalu bahkan merupakan ajaran pertama di dunia, hal ini dapat dibuktikan dari berbagai aspek ajaran itu sendiri. Weda sebagai kitab suci Agama Hindu telah diwahyukan Tuhan sejak bangsa Arya belum berpindah ke India dan catur Weda itu diturunkan dalam kurun waktu yang agak lama yang diterima oleh 7 (tujuh) Maharesi. Setelah bangsa Arya menetap di India barulah Weda itu dikodifikasikan menjadi Catur Weda seperti : Rg Weda, Sama Weda, Yayur

Weda dan kemudian baru muncul Atharwa Weda. Setelah kedatangan bangsa

Arya di India sekitar tahun 1500 SM terjadilah sincretisme antara kepercayaan bangsa Arya dengan bangsa asli India (bangsa Dravida) yang kemudian melahirkan konsepsi baru yang berkembang ke berbagai pelosok dunia termasuk ke Indonesia sekitar abad-abad pertama masehi. Bangsa Arya sebelum berpindah ke India mendiami suatu tempat di pedalaman. Dari hasil penggalian tersebut didapatkan bukti bahwa tingkat peradaban lembah sungai Sindhu mempunyai nilai yang sangat tinggi mutunya yang berasal sekitar tahun 3000 SM, peninggalan benda-benda kepurbakalaan yang didapat diantaranya banyak berupa arca yang melukiskan dewa dan dewi, meterai dari terracotta yang menunjukkan corak keHinduannya seperti lukisan.

Siwa Pasupati dan konsepsi Trisula serta arca perempuan yang

melambangkan Dewi Kesuburan atau konsepsi Ibu Dewi yang lebih dikenal sebagai Mother Goddes. Kemudian sekitar tahun 1500 SM datanglah bangsa Arya yang berhasil mendesak bangsa asli Dravida dengan membawa

(6)

kepercayaan yang melahirkan ajaran agama Hindu dengan tetap berpegang pada kitab Suci Weda. Peradaban lembah sungai Sindu inilah kiranya memberikan inspirasi terhadap kepercayaan mereka yang kemudian dikenal dengan nama Hindu (Agama Hindu). Dengan masuknya bangsa Arya di India (tahun 4500) di India mulai memasuki jaman sejarah yang dokumen tertuanya adalah Rg Weda. Bangsa Arya yang datang di India dalam kurun waktu yang cukup panjang menjadi beberapa suku bangsa Alinas, Bhalanases, Siwas,

Vishanis dan suku bangsa terbesar adalah suku bangas Bharatas dan Purus.

Kedua suku bangsa ini (Bharatas dan Purus) pada mulanya mereka saling bermusuhan tetapi akhirnya bersatu yang melahirkan suku bangsa Purus sebenarnya suku bangsa Arya lainnya yang tergabung dalam kelompok Panca

Janas (Anus, Druhyus, Turvasas, Yadus dan Purus). Setelah terjadi evolusi

politik di India peranan bangsa Arya semakin menentukan sosial masyarakat India termasuk perkembangan Agama Hindu semakin pesat. Rg Weda sebagai sumber ajaran Agama Hindu yang pertama kemudian dikembangkan lagi dalam Sama weda dan Yayur Weda, ketiga Weda inilah menjadi panutan umat Hindu yang disebut Trayi Weda. Dalam waktu yang akan lama baru muncul Atharwa Weda sehingga semuanya disebut Catur Weda. Dari weda-weda inilah diketahui bahwa Agama Hindu menyembah dewa-dewa seperti Indria,

Agni, Varuna, Vayu dan lain-lainnya. Kendatipun banyak dewa tetapi

semuanya disebut Catur Weda. Kendatipun banyak dewa tetapi semuanya itu merupakan prabhawa Tuhan Yang Maha Esa. Setelah jaman Weda berlangsung muncullah jaman Brahmana di India. Pada Jaman ini kaum Brahmana sangat menentukan corak keagamaan yang berorientasi pada persembahan yadnya yang dibuktikan dengan munculnya kitab Brahmana yaitu kitab pedoman pelaksanaan yadnya. Berikutnya muncul-muncul jaman Upanisad yaitu jaman yang menandai munculnya berbagai Filsafat (Darsana) dalam melaksanakan ajaran Weda. Sejalan dengan itu muncul pula Itihasa dan

Purana yang sangat digemari oleh masyarakat India sebagai sarana

(7)

pemujaan Tuhan dalam wujud Trimurti menjadi sangat populer di India yang kemudian menyebar ke pelosok dunia yang diantaranya ke Indonesia

B. Masuknya Agama Hindu ke Indonesia

Data yang memuat secara rinci masuknya agama Hindu ke Indonesia belum dijumpai baik di Indonesia maupun di luar negeri. Tetapi dari beberapa kitab di bawah ini menyebutkan antara lain :

1. Kitab Ramayana yang digubah sebelum masehi pada bagian Kiskinda Kanda menyebutkan bahwa Sugriwa dalam usaha mencari Dewi Sita memerintahkan pada Wenara pengikutnya untuk pergi ke Jawadwipa maupun Swarnadwipa (Sumatra). Kitab ini menunjukkan bahwa sebelum masehi sudah ada hubungan antara India dengan Indonesia.

2. Kitab Periploustes Erythastolesses yang ditulis oleh nahkoda Yunani merupakan buku pedoman berlayar di Samudra Indonesia (lautan Erythrasa) buku ini menyebutkan adanya hubungan India dengan wilayah yang bernama chryse (emas) yang mengingatkan kita pada Swarnadwipa (pulau emas).

3. Kitab Giographika Hipegesis disusun oleh seorang Yunani di Iskandaria pada abad ke 2 masehi menyebutkan beberapa tempat seperti Ahryse Chora (negeri perak), Chryse chora (negeri emas),

Chryse Chersonesus (Semenjanjung emas) dan juga menyebutkan

tempat bernama Jabadion yang dalam bahasa Sanskerta sama dengan Jawadwipa.

Dengan data tersebut diatas jelaslah bahwa India dengan Indonesia telah berhubungan sejak lama. Tentang masuknya agama Hindu ke Indonesia disebutkan dari beberapa teori sebagai berikut :

a. Mookerjee (ahli India) tahun 1912 menyatakan bahwa masuknya pengaruh Hindu ke Indonesia dibawa oleh para pedagang India dengan armada yang besar. Setelah sampai di pulau Jawa mereka mendirikan

(8)

koloni dan membangun kota-kota yang langsung mengadakan hubungan dengan Idia dalam kontak inilah terjadinya penyebaran agama Hindu ke Indonesia.

b. Moens (ahli Belanda) menyatakan bahwa peranan kaum Ksatrya sangat besar peranannya dalam proses kolonisasi melalui proses ini pula pengaruh Hindu menyebar ke Indonesia.

c. Krom (ahli Belanda) dengan teori Wesya dalam bukunya Hindu Javance Gesehindenis bahwa diterimanya pengaruh Hindu oleh Indonesia melalui penyusupan dengan jalan damai yang dilakukan oleh pedagang (waisya) India.

d. Bosch (ahli Belanda) menyatakan bahwa dalam penyebaran kebudayaan Hindu ke Indonesia peranan kaum Brahmana sangat berperan.

e. Dari data peninggalan sejarah di Indonesia disebutkan Rsi Agastya menyebarkan agama Hindu dari India ke Indonesia.

C. Penyebaran Agama Hindu di Indonesia

Dengan demikian penyebaran agama Hindu ke Indonesia terjadi melalui beberapa cara dan damai. Para ahli sejarha berkesimpulan bahwa masukan agama Hindu ke Indonesia terjadi pada awal tahun Masehi sekalipun tidak ada bukti tertulis atau benda-benda purbakala dari kehidupan pada masa itu. Kehidupan keagamaan di Indonesia baru daapt diketahui dengan jelas pada abad ke-4 masehi dengan diketemukannya tujuh Yupa peninggalan kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Pada dua dari tujuh yupa tersebut menyatakan bahwa Yupa tersebut didirikan untuk memperingati Yadnya yang dilaksanakan oleh raja Mulawarman melakukan Yadnya pada suatu tempat yang bernama Vaprakeswara (tempat pemujaan Dewa Siwa).

Setelah di Kutai ternyata berkembang ke Jawa Barat pada abad ke 5, hal ini dibuktikan oleh tujuh prasasti seperti prasasti Cearuteum, Kebonkopi,

Jambu, Pasir Awi, Muara Cianten, Tugu dan prasasti Lebak. Prasasti tersebut

memakai huruf palawa dengan bahasa sansekerta. Dari keterangan tersebut dapat dipastikan bahwa raja Purnawarman adalah raja Tarumanegara

(9)

bernama Hindu, sesuai dengan isi prasasti Cearutereum dekat Bogor menyebutkan Purnawarman adalah raja gagah berani dan lukisan tapak kaki Dewa Wisnu. Kesaksian lain yang membuktikan kehidupan agama Hindu di Jawa Barat ialah diketemukannya arca perunggu di Cibuaya yang memakai atribut Dewa Siwa yang diperkirakan dibuat pada masa Tarumanegara. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa raja Purnawarman adalah penganut agama Hindu dengan pemujaan Tri Murti.

Penyebaran agama Hindu selanjutnya bergeser ke Jawa Tengah, kehidupan dan perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah dibuktikan dengan adanya prasasti Tukmas di lereng Gunung Marbabu. Prasasti ini berbahasa Sansekerta memakai huruf palawa dengan tipe lebih muda daripada prasasti Purnawarman. Berdasarkan tipe hurufnya dinyatakan berasal dari tahun 650 Masehi. Prasasti Tukmas ini berisi gambar atribut Tri Murti yaitu :

Trisula, Kendi, Cakra, Kapak dan Bunga teratai mekar. Kesaksian yang

membuktikan agama Hindu di Jawa Tengah ialah prasasti Canggal dengan berbahasa sansekerta dan memakai huruf pallawa. Dari isi prasasti ini dapat diketahui bahwa prasasti Canggal dikeluarkan oleh raja Sanjaya pada tahun 654 Saka dengan Candra Sengkala berbunyi Sruti Indrya Rasa. Keseluruhan prasasti itu berbentuk syair terdiri dari 13 bait dengan tiga diantaranya memuat pujaan terhadap Dewa Siwa, satu bait untuk Dewa Wisnu dan satu bait untuk Dewa Brahma. Di samping itu perkembangan agama Hindu di Jawa Tengah dibuktikan pula oleh kelompok candi Arjuna di daratan tinggi Dieng dekat Wonosobo dari abad 8 masehi. Pada kelompok candi di Dieng ini dijumpai pula candi Srikandi yang dindingnya dihiasi pahatan arca Dewa Tri Murti yang ditempatkan pada sebuah candi, dibagian lain dijumpai pula di candi Prambanan yang didirikan pada tahun 856 Masehi. Disini dijumpai pula arca Dewa Tri Murti dengan Ciwa sebagai Mahaguru (Agastya). Demikianlah kehidupan agama di Jawa tengah telah hidup dan berkembang dari abad ke 7 sampai abad ke 9 pemujaan terhadap Dewa Ciwa yang menonjol.

Lama kelamaan agama Hindu menyebar ke Jawa Timur yang dibuktikan dengan diketemukannya prasasti Dinaya dekat kota Malang berbahasa

(10)

Sansekerta dan memakai huruf Jawa Kuna yang berangka tahun 682 saka diketahui bahwa pada tahun 760 Masehi raja Simha dari kerajaan Kanjuruhan mengadakan upacara besar yang dilaksanakan oleh para ahli veda, para Brahmana besar, para pendeta dan penduduk negeri. Bangunan suci sebagai peninggalan tertua kerajaan Hindu di Jawa timur ialah candi Badut di daerah Malang. Dengan berakhirnya Kanjuruhan muncullah dinasti Isana Wansa yang mengemban tugas kehidupan tugas kehidupan agama Hindu dengan Mpu Sindok (929-947) sebagai peletak dasar kerajaan. Mpu Sindok bergelar Sri Isanottunggadewa Wijaya yang artinya raja yang sangat memuliakan pemujaan terhadap Dewa Ciwa setelah Mpu Sindok wafat diganti oleh Dharma Wangsa pada masa pemerintahan raja ini disusun sebagai kitab Hukum Hindu yang bernama Purwadigama yang bersumber dari Weda Smerti. Selanjutnya yang memerintah kerajaan Medang Kemulan ialah

Airlangga (1019 – 1042) yang ternyata juga penganut Hindu yang setia

terbukti dengan diarcakannya Airlangga sebagai Wisnu di atas Garuda. Setelah Wamsa Isana berakhir muncullah kerajaan Kediri sebagai pengembang agama Hindu (1042 - 1222) pada jaman ini banyak karya sastra Hindu yang dihasilkan oleh pujangga seperti Kitab Smaradhana, Bharatayuda dan Kresnayana. Perkembangan agama Hindu selanjutnya adalah pada masa kerajaan Singosari dari tahun 1222 – 1292 sebagai raja pertamanya adalah Ken

Arok yang bergelar Bhatara Guru sekaligus membuktikan Ken Arok memeluk

agama Hindu dan peninggalan yang lain dibuktikan dengan didirikannya

Candi Kidal, Candi Jago dan Candi Singosari. Pada abad ke 13 kekuasaan

Singosari berakhir kemudian muncullah kerajaan kerajaan Majapahit dengan bukti didirikannya candi Panataran yang merupakan bangunan suci agama Hindu terbesar di Jawa Timur dan kitab negara kertagama yang menguraikan tentang kerajaan Majapahit.

(11)

D. Penyebaran Agama Hindu di Bali 1. Kepercayaan Pra Hindu

Sebelum mendapat pengaruh Hindu di Bali telah memiliki sistem kepercayaan antara lain :

a. Kepercayaan kepada gunung sebagai alam arwah yaitu tempat bersemayam roh nenek moyang.

b. Kepercayaan adanya alam nyata dan alam tidak nyata yang sebagai tempat roh orang meninggal.

c. Kepercayaan setelah mati ada kehidupan di alam lain dan akan menjelma ke alam nyata.

d. Kepercayaan terhadap roh nenek moyang atau leluhur yang akan dapat diminati perlindungan.

2. Masuknya Agama Hindu di Bali

Kedatangan Hindu di Bali merupakan kelanjutan dari perkembangan Hindu dari Jawa Timur yang mulai masuk ke Bali pada abad ke 8, dengan bukti, arca ini bertipe sama dengan arca Ciwa di Dieng Jawa Tengah yang berasal dari abad ke 8. Bersamaan dengan masuknya agama Hindu ke Bali abad ke 8 ternyata agama Budha Mahayana datang ke Bali dengan bukti peninggalan berupa stupika-stupika tanah liat di Pejeng Gianyar, kedua agama ini hidup bersampingan dengan aman dan tertib.

3. Masa Bali Kuno

Menurut uraian lontar-lontar di Bali terkenal Mpu Kuturan sebagai pembaharu agama Hindu di Bali, beliau datang ke Bali pada abad ke 11 pada masa pemerintahan Udaya dan penerusnya. Kedatangan Maharesi Kuturan membawa pembaharuan yang sangat besar, sekte-sekte yang hidup sebelumnya dapat disatukan pada pemujaan melalui Kahyangan Tiga dan Sanggah Kemulan seperti yang termuat dalam Usana Dewa, konsepsi pemujaan terhadap Tri Murti di masyarakatkan pada desa pakraman melalui kahyangan Desa. Sebagai penghormatan atas jasa.

(12)

Beliau dibuatlah pelinggih Menjangan Salwang pada kebanyakan pura di Bali sedangkan sebagai tempat moksa Beliau didirikanlah pura Silayukti.

4. Masa Bali Pertengahan

Pada masa ini ekspidisi Gajah Mada tahun 1343 ke Bali sampai akhir abad ke 19 masih terjadi pembaharuan dalam pengamalan ajaran agama. Kehidupan agama pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong merupakan jaman keemasan dengan datangnya Danghyang Nirarta ke Bali pertengahan abad ke 16, Beliau sangat berjasa dalam bidang sastra, agama dan arsitektur tempat-tempat suci juga banyak dibangun seperti pura Rambut Siwi, Peti Tenget, Dalem Gandamayu (Klungkung). Konsepsi Ke-Esaan Tuhan mulai dirintis dengan membuat bangunan Padmasana. Beliau juga mengajarkan ukuran nista, media, utama dalam upakara yang disesuaikan dengan kemampuan dan keikhlasan umat. Untuk menghormati jasa Beliau dibangunlah beberapa pura seperti pura Pulaki, Tanah Lot, Puncak Sangkur, Air Jeruk, Sakenen dan Ponjok Batu.

5. Masa Bali Baru

Setelah runtuhnya kerajaan di Bali kehidupan agamanya kurang ada yang mengayomi demikian keagamaan di Bali diatur oleh Desa Adat dan Geria-geria (Sulinggih) secara lokal dan berbeda-beda mempengaruhi kehidupan agama sehingga terjadi perbedaan dan keanekaragaman teknis dalam mengamalkannya.

Hal inilah masih ada sampai sekarang sehingga muncullah istilah desamawacara yaitu masing-masing desa mempunyai tata cara tersendiri. Dalam usaha pembinaan umat Hindu di Bali muncullah organisasi-organisasi keagamaan seperti : Suita Gama Tirta tahun 1921 di Singaraja,

Sara Poestaka 1923 di Ubud Gianyar, Surya Kanta tahun 1925 di

Singaraja, Majelis Hinduisme tahun 1950 di Klungkung, Wiwada Sastra

Sabha tahun 1950 di Denpasar, Yayasan Dwijendra tahun 1959 di

(13)

pembinaan umat. Pada tanggal 23 Pebruari 1959 beberapa organisasi keagamaan itu mengadakan pertemuan membentuk Majelis Agama Hindu, kemudian tanggal 17 sampai 23 Nopember 1961 umat Hindu berhasil menyelenggarakan Dharma Asrama para sulinggih di Campuhan Ubud yang menghasilkan Piagam Campuhan yang merupakan titik awal dan landasan pembinaan umat Hindu. Tanggal 7 sampai 10 Oktober 1964 diadakan Mahasabha Hindu Bali dengan menetapkan Majelis Keagamaan yang bernama Parisada Dharma Hindu Bali.

(14)

BAB II

SUMBER AJARAN AGAMA HINDU

Sasaran belajar

- Mahasiswa dapat menjelaskan sumber-sumber ajaran Agama Hindu. - Mahasiswa memahami pengertian Sruti

- Mahasiswa memahami pengertian Smerti - Mahasiswa memahami pengertian Upadewa

A. Sruti

Semua agama mempunyak kitab suci. Kitab suci adalah kitab yang dipandang suci oleh umat agama itu. Kitab ini dianggap suci dan dinyatakan kitab suci karena di dalamnya memuat sabda-sabda suci. Sabda ini dapat berupa wahyu atau sruti dapat pula merupakan gubahan kembali yang maksudnya adalah tulisan ulang yang isinya merupakan bagian-bagian yang penting. Setiap agama mempunyai kitab suci yang menjadi sumber keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan disamping sumber etika dari tingkah laku seseorang. Kitab suci agama Hindu adalah Weda yang memuat wahyu yaitu suara Tuhan yang diterima secara gaib melalui Maharesi-maharesi. Karena kesucian bathin beliau mampu melihat apa yang tidak kelihatan dan mendengar suara-suara gaib yang tidak dapat didengar oleh manusia biasa dan telinga biasa. Wahyu di dalam bahasa sansekertanya dinamakan sruti, jadi tidak sembarangan sabda dapat dikatakan wahyu, ini harus diuji kebenaranya misalnya kita harus mengetahui dan siapa penerimanya, bagaimana riwayatnya, sifat-sifatnya dan banyak lagi yang harus kita ketahui terlebih dahulu menguji keberannya. Ada ribuan wahyu yang diturunkan melalui berbagai orang-orang yang telah diuji kebenarannya dan tempat wahyu diturunkan tidak sama, wahyu diturunkan di berbagai tempat di dunia ini dan umumnya memberikan keterangan dan petunjuk kepada manusia agar berbuat baik. Bahkan kadang-kadang wahyu itu memuat tentang penjelasan apa yang belum dialami oleh manusia. Karena wahyu amat banyak dan tersebar maka

(15)

timbul usaha manusia untuk mengumpulkan wahyu-wahyu itu. Bhagawan Abyasa dengan para sisyanya mengumpulkan semua wahyu-wahyu yang ada pada waktu itu. Ada empat bidang yang dikumpulkan kemudian kita menjumpai empat himpunan yang disecut Catur Samhita seperti :

- Rg Weda Samhita dikumpulkan oleh Bhagawan Pulaha - Sama Weda Samhita dikumpulkan oleh Bhagawan Jamini

- Yajur Weda Samhita dikumpulkan oleh Bhagawan Waisampayana - Atharwa Weda Samhita dikumpulkan oleh Bhagawan Sumantha

Dalam ajaran agama Hindu orang hanya menyebutkan Catur Weda yang secara garis besarnya isi Weda itu dijabarkan dalam 3 sifat, yaitu :

- Mantra isinya terdiri dari empat himpunan (samhita) yaitu Rg Weda Samhita, Sama Weda Samhita, Yajur Weda Samhita dan Atharwa Weda Samhita.

- Brahmana adalah himpunan doa-doa dan tuntunan yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna, ceritra-ceritra dan simbul-simbul yang bisa dipergunakan untuk memantapkan rasa hati percaya kepada Tuhan.

- Upanisad adalah ajaran yang memuat soal teori mengenai Tuhan dan ciptaannya.

B. Smerti (Wedangga)

Disamping kitab suci yang tergolong Sruti Agama Hindu juga mempunyai kitab suci pelengkap yang disebut kitab Smerti (Wedangga), kitab ini dinamakan pelengkap yang disebut kitab pelengkap dari kitab Sruti agar mudah dimengerti. Pada umumnya sebagai pelengap memuat bagian-bagian saja. Kitab Smerti Weda tersebut memuat bagian-bagian antara lain : Ilmu Ponetika (Siksa), bahasa (Wyakarana), guru lagu (Chanda), arti kata yang sama atau lawan kata (Nirukta), ilmu astronomi (Jyotikasa) dan Kalpa (tata cara melakukan yajnya, penebus dosa dan lain-lain).

Dari pembagian itu jelas betapa luasnya bidang smerti karena isinya bersifat kuhusus maka pembahasannya lebih terarah dan terbatas. Umumnya kitab pelengkap ini memuat tafsir umum mengenai apa yang terdapat pada para

(16)

maha Resi yang telah mendalami kitab Sruti. Karena itu melihat dari penulisannya kitab ini disebut kitab Smerti yang memuat apa yang diingat oleh para maha Resi. Adapun Kitab Smerti yang paling menonjol adalah Manawadharmasastra.

C. Upaweda

Istilah Upadewa terdiri dari dua kata yaitu Upa yang berarti dekat atau sekitarnya dan Weda berarti kitab suci Weda jadi kitab Upaweda adalah kitab yang ada kaitannya dengan Weda. Adapun kitab-kitab itu seperti :

1. Itihasa, adalah kitab epos yang memuat sejarah yang sifatnya masih umum dan mitologis karena disini diceritakan hubungan kehidupan dunia dan alam sorga.

2. Purana adalah kitab yang memuat cerita kuno.

3. Dharmasastra adalah kitab yang memuat tentang empat tujuan hidup manusia yang antara lain dharma, arta, kama dan moksa.

4. Kamasastra adalah kitab yang membahas tentang aestika dalam kehidupan manusia.

5. Ayurweda adalah kitab yang isinya menyangkut bidang ilmu kedokteran. 6. Gandarwaweda adalah kitab yang isinya membahas tentang ilmu seni.

(17)

BAB III

SRADDHA (KEIMANAN)

Sasaran belajar

• Menjelaskan tentang Panca Sraddha

• Melaksanakan Panca Sraddha dalam kehidupan sehari-hari. • Mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada satu garis yang dijadikan ukuran keimanan seseorang beragama Hindu. Kitab suci weda yang menjadi pegangan dan pedoman dasar bagi umat Hindu memuat banyak hal penting termasuk keimanan atau sraddha. Kata sraddha berarti kepercayaan dan juga berarti upacara pemujaan kepada arwah leluhur yang diwajibkan bagi setiap umat Hindu. Kepercayaan atau keimanan di dalam ajaran agama Hindu dikenal dengan istilah :

A. Panca Sraddha

Panca Sraddh adalah lima macam kepercayaan atau lima macam keimanan yang antara lain :

1. Keyakinan Terhadap Adanya Tuhan (Widhi Tattwa)

Yang menyebabkan timbulnya keyakinan di dalam diri terhadap adanya Tuhan melalui tiga cara yaitu :

a. Agama Pramana yaitu keyakinan yang timbul berdasarkan petunjuk-petunjuk atau ucapan dari orang yang dapat dipercaya seperti Maha Resi dan tokoh agama. Dalam hal ini keyakinan timbul berdasarkan dengan membaca kitab-kitab suci Weda dan mendengarkan petuah-petuah dari orang yang wajar dipercaya. Oleh karena itulah Weda yang merupakan wahyu Tuhan maka kesaksian Wedalah yang sempurna. Ada sloka yang menyatakan keyakinan berdasarkan agama pramana seperti :

- Janma dhyasya yatah (Brahma Sutra 1.1.2) Artinya :

(18)

b. Pratyaksa Pramana yaitu dengan langsung merasakan atau mengalami adaNya. Beliau dirasakan secara gaib dan mengherankan Tuhan melimpahkan ajaran-ajaran suci untuk membimbing umat manusia mencapai kesempurnaan lahir bathin. Hanya orang beriman serta suci secara lahir bathin dapat merasakan getaran-getaran Tuhan secara gaib. Para Maha resi adalah orang suci yang dapat mengalami dan merasakan getaran Tuhan secara langsung. Tuhan membuka tabir kebesaran dan keagunganNya dihadapan para resi. Bagi para resi Tuhan tidak lagi menjadi obyek keyakinan lagi melainkan pengalaman. Di dalam Arjuna Wiwaha diterangkan bahwa dengan kesucian bathin seseorang dapat merasakan wujud Tuhan.

Sasimbha haneng ghata mesi banyu ndan asing suci nirmala mesi wulan iwa mangkana rakwa ketang kedadin

nidang embeki yoga heting sakala (arjuna wiwaha, ii.1)

Artinya :

Bagaikan bulan di dalam tempayan berisi air di dalam air yang suci jernih terdapatlah bulan demikian konon dikau pada mahluk pada

orang yang melakukan yoga engkau menampakkan diri

Sebagian besar umat biasa yakin berdasarkan agama atau sabda pramana dan anumana pramana serta sebagian kecil saja yang yakin berdasarkan pratyaksa pramana.

Ekam Evadvityam Brahman (hanya ada satu Tuhan Brahman, tiada duanya), Ekam sat viprah bahuda vadanti (hanya ada satu hakekat Yang

(19)

Maha Esa Agung para arif bijaksana menyebutkan dengan berbagai gelar).

Demikianlah disebutkan di dalam Mahavakya yang berarti ungkapan agung atau kitab suci Weda. Tuhan adalah Maha Esa tetapi disebut dengan berbagai gelar Brahman, purusa menurut kitab suci Weda. Para pendeta memuja Tuhan dengan doa pujiannya setiap hari dengan gelar Siwa yang berarti Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Mulia, atau Narayana, Tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa pelindung kerohanian dan kesucian yang disebut Dharma di dalam ajaran Agama Hindu seperti doa di bawah ini :

Om bhur bvah svah tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayat

Artinya :

Oh Tuhan (yang memenuhi) dunia (bhur), udara (bvah) dan akasa (svah), Tuhan yang Maha Agung dan Maha cemerlang semoga kami menerima suciMu yang gemilang semoga dikau membimbing pikiran kami untuk mencapai kebenaran.

Om narayanad evedan sarvam yadbhutam yasca bhavyam niskalo nirjano nirvikalpo nirakhyatah suddho devo eko narayanah na dvityo sti kascit

(20)

Dari narayana, seluruh (isi alam semesta) ini muncul baik yang telah ada maupun yang akan terjadi. Dia Maha Gaib, tiada ternoda, tidak dapat dibayangkan, tidak terungkapkan (dengan kata-kata wujudNya). Narayana, Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Esa, tiada duanya.

Demikian sebagian dari doa pujian para pendeta atau umat Hindu mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa, pelindung kerohanian dan kesusilaan atau dharma, Yang Maha Pengasih, penyayang dan pengampunan, namun dewa-dewa bukanlah dewa tetapi perwujudan atau personifikasi dari sifat-sifat kemahakuasaan atau keagungan Tuhan yang mengatur alam semesta, dunia dan akhirat dengan segala isinya.

Tuhan hanya satu tetapi umat Hindu memberi gelar atau menyebutkan Tuhan (Hyang Widhi) itu dengan berbagai nama sesuai dengan fungsinya atau swabawanya masing-masing seperti :

a. Tri Murti adalah tiga manifestasi atau perwujudan dari Tuhan, seperti : - Dewa Brahma adalah sebutan Tuhan dalam perwujudannya

sebagai pencipta alam semesta dengan segala isinya.

- Dewa Wisnu adalah sebutan Tuhan dalam perwujudan sebagai pemelihara atau pelindung.

- Dewa Ciwa adalah sebutan Tuhan dalam perwujudannya sebagai pengembalian ke asal (pralina)

• Sang Hyang Tunggal

Sang Hyang Tunggal adalah Tuhan yang bersifat Maha Esa, Maha Tunggal tidak ada duanya atau tidak ada bandingannya (Ekam Eva Advityam Brahman).

• Sang Hyang Guru

Sang Hyang Guru adalah Tuhan yang merupakan guru dari seluruh alam dan isinya.

• Sang Hyang Sangkan Paran

Sang Hyang Sangkan Paran adalah Tuhan yang menjadi asal atau tujuan kembalinya seluruh atman. Sangkan artinya asal permulaan,

(21)

Paran artinya tujuan kembali kepada seluruh alam dan isinya termasuk mahluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan).

• Sang Hyang Jagatnatha

Sang Hyang Jagatnatha adalah fungsi Tuhan yang menjadi raja dari seluruh alam semesta beserta isinya.

• Sang Hyang Parameswara

Sang Hyang Parameswara adalah Tuhan yang memang pimpinan tertinggi terhadap seluruh alam.

• Sang Hyang Tri Loka Sarana

Sang Hyang Tri Loka Sarana adalah Tuhan sebagai pelindung Tri Buana (bhur loka, bhuwah loka, swah loka).

• Sang Hyang Acintya

Sang Hyang Acintya adalah keadaan Tuhan yang tidak terbatas itu tidak dapat dipikirkan oleh manusia yang mempunyai pikiran terbatas. Karena seorangpun tidak ada yang dapat mengerti tentang keadaan yang sebenarnya.

• Sang Hyang Paramatma

Sang Hyang Paramatma adalah Tuhan dalam keadaan sebagai atma yang tertinggi atau jiwa yang maha besar menjiwai seluruh mahluk.

• Sang Hyang Paramakawi

Sang Hyang Paramakawi adalah gelar Tuhan sebagai perencana atau pengrang tertinggi.

• Sang Hyang Wenang

Sang Hyang Wenang adalah Tuhan sebagai pemegang wewenang dan kekuasan mutlak dalam membentuk susunan dan peraturan alam.

• Sang Hyang Tuduh

Sang Hyang Tuduh aadalah gelar Tuhan sebagai pemegang nasib makhluk terutama manusia.

(22)

Sang Hyang Parama Wisesa adalah gelar Tuhan dalam keadaan sebagai pengusasa tertinggi yang menguasai segala-galanya baik yang nampak maupun yang gaib baik yang sudah ada maupun yang akan ada.

• Brahman

Brahman adalah sebutan Tuhan dalam Upanisad sebagai pencipta alam semesta ini. Di dalam Weda disebut Icwara dalam Whraspati Tattwa disebut Parama Ciwa dan lontar Puwa Bhumi Kamulan disebut Sang Hyang Widhi Wasa. Adapun namaNya tetapi yang dimaksud adalah Beliau yang merupakan asal mula, pencipta dan tujuan akhir dari seluruh alam semesta ini. Di dalam perwujudannya sebagai Brahma pencipta, Wisnu pemelihara dan Ciwa sebagai pengembali keasalnya disebut dengan Tri Murti. Tri Murti adalah tiga perwujudan dan tiga kemahakuasaan Tuhan yang disebut dengan Tri Cakti yaitu Utpeti, Stiti dan Pralina. Tuhan Ciwa Mahadewa yang Maha Esa dan Maha Kuasa disimbulkan dengan aksara Om (A, U, M) yang disebut juga Omkara atau Pranawa. Oleh karena itu tiap-tiap mantra itu dimulai dengan Om, sebagaimana inti kekuatan doa mantra itu hendaknya dapat meggetarkan dan menggerakkan alam semesta.

Tuhan yang kekal dan abadi tiada awal dan akhir tidak ada yang menciptakan atau melahirkan melainkan menciptakan atau melahirkan diri sendiri. Oleh karena itu ia disebut Swayambhu. Selain dari pada Trisakti Tuhan juga mempunyai empat sifat maha kuasa yang disebut catur Cakti atau Cadu sakti yaitu wibhu Cakti (maha ada), Prabhu Cakti (maha kuasa), Jnana Cakti (maha tahu) dan Karya Cakti (maha karya). Selain dari ke empat cakti tersebut Tuhan juga mempunyai delapan mahakuasa yang disebut Asta Cakti atau Asta Eswarya antara lain :

 Anima (sifat yang sangat halus).  Laghima (sifat yang ringan)

(23)

 Mahima (maha besar)

 Prapti (mencapai segala tempat)

 Prakamya (segala kehendak selalu terjadi)  Icitwa (merajai segala-galanya)

 Wacitwa (paling kuasa)

 Yatrakamawasaayitwa (tidak ada yang dapat menentang kondratnya).

Kedelapan sifat keagungan Tuhan Yang Maha Esa ini disimpulkan dengan singasana teratai yang berdaun delapan (astadala) lambang delapan sifat kemahakuasa Tuhan yang menguasai dan mengatur alam semesta dan mahluk semua.

Selain hal tersebut di atas Tuhan adalah sebagai pelindung Dharma atau agama demi untuk mencapai kesempurnaan berupa Dharma atau budi luhur yang memberi kesejahteraan umat manusia, kedelapan roh dari samsara Tuhan mewahyukan ajaran kerohanian kedunia. Bagi umat yang menempuh jalan bhakti marga Tuhan memegang peranan penting karena Tuhan dipergunakan sebagai kiblat pujaan sebagai Icwara catur bhuya, Tuhan yang bertangan empat yang melambangkan pengampunan, keadilan, kasih sayng dan pelindung, untuk memohon restu kepadaNya hendaknya Ia merahmati umatNya yang lemah dengan laksana dan budi yang tinggi dan melindungi mereka dari dosa dan malapetaka. Selain itu di dalam agama Tuhan menjadi saksi Agung pelindung keadilan rohaniah yang bergelar Yamadipati atau Dharma dan yang dapat mengetahui segala gerak langkah semua makhluk mengadili roh manusia dengan menjatuhi hukuman niskala terhadap yang berdosa, di akhirat, kini dan penjelmaan yang akan datang dan mengampuni yang tobat serta merahmati yang beramal dengan kebahagiaan lahir bathin. Hyang Widhi Wasa sebagai pelindung Dharma adalah pengendali kalbu semua makhluk mengendalikan hati umat manusia untuk menempuh jalan yang lurus guna

(24)

mencapai kesempurnaan, mencapai dharma, mendapat kebahagiaan kesejahteraan makhluk dan manunggalnya atma dengan Parama Ciwa atau Moksa.

b. Dewa

Sang Hyang Widhi tidak sama dengan Dewa dan perkataan Dewa berasal dari bahasa Sansekerta yaitu urat kata Div yang artinya sinar (nur). Dewa adalah perwujudan sinar suci dari Hyang Widhi yang memberikan kekuatan suci guna untuk mengendalikan alam semesta. Dewa-dewa dihubungkan untuk satu aspek tertentu dan khusus phenomena alam semesta ini. Tiap-tiap aspek dikuasai oleh satu dewa atau lebih dengan ciri-ciri dan lambang khusus pula. Tiap-tiap dewa mempunyai kekuatan yang tidak terpisahkan dari padanya sebagaimana halnya suami istri. Saktinya diwujudkan dalam bentuk Dewi yang dianggap istri dewa, sebab dewa tidak akan mempunyai kekuatan sesuai dengan fungsinya bila tidak disertai dengan kekuatan saktinya.

c. Dewata

Istilah dewata dipegunakan Dewa yang lebih tinggi kedudukan dari dewa yang lain. Dewata adalah Dewa dari para dewa di dalam agama Hindu dewa-dewa itu merupakan sinar-sinar sucinya Hyang Widhi yang banyak sekali jumlahnya. Hyang Widhi diumpamakan sebagai Matahari sedangkan dewa itu merupakan sinar matahari tidak ada secara otomatis sinar-sinar tersebut tidak ada. Kita dapat mengatakan matahari itu panas tetapi matahari belum pernah menyentuh secara langsung sedangkan yang langsung menyentuh adalah hanya sinar-sinar.

(25)

d. Bhatara

Bhatara adalah prabhawa atau manifestasi dari kekuatan Hyang Widhi untuk memberi perlindungan terhadap ciptaannya. Kata Bhatara berasal dari kata bhatr yang artinya pelindung dan kadang-kadang Bhatara sebagai Raja atau yang dipertuan. Istilah Bhatara sebagai pelindung sering timbul pengertian baru dalam masyarakat Hindu dimana kadangkala raja-raja jaman dahulu yang berkuasa penuh diberi gelar Bhatara karena bersifat melindungi antara kata dewa dengan Bhatara sering pemakaiannya diartikan sama. Misalnya dewa Wisnu disebut juga Bhatara Wisnu, dewa Ciwa juga disebut Bhatara Ciwa karena Beliau juga melindungi makhluk. Jadi jelaslah dewa dan Bhatara itu adalah merupakan sinar suci atau manifestasi dari Tuhan.

e. Awatara

Yang dimaksud awatara adalah Tuhan yang turun kedunia yang menjelma sebagai manusia. Beliaulah inilah Guru dari segala Guru. Apakah tanda-tanda yang memungkinkan kita untuk mengenal seorang awatara ?. Yang jelas adalah sidhi yang kekuatannya adikodrati atau luar biasa tidak bisa diikuti oleh pikiran.

Beliau bisa membuat apa saja semuanya tanpa belajar tanpa menggunakan mantra. Seorang Maha Rsi yang sudah tinggi tingkatannya bisa juga membuat keajaiban tetapi kalau sering dipertunjukkan akan punah lama-kelamaan akan hilang. Seorang awatara tidak demikian seorang awatara tidak perlu belajar yoga kekuatannya sudah dibawa sejak lahir dan tidak punah karena sidhi itu adalah alamnya walaupun sering digunakan. Sidhi seorang awatara tidak bermotif pamer dan mencari keuntungan materi maupun nama dan selalu digunakan untuk yang bermanfaat.

Awatara yang dikenal dalam agama Hindu adalah sepuluh awatara Wisnu yang terkenal adalah Rama dan Sri Kresna. Seorang awatara bisa melihat masa lalu masa sekarang dan masa yang akan datang bisa

(26)

disamakan dengan manusia biasa. Seorang awatara baru turun ke dunia kalau keadaan sudah buruk, kejahatan merajalela hukum agama dilanggar dan itulah jaman kali. Guru-guru spiritual diturunkan oleh Tuhan, guru-guru spiritual itu adalah orang-orang suci yang mendapat tugas membimbing umat manusia. Jika di dunia terjadi gangguan dan penyimpangan-penyimpangan kecil maka diturunkanlah orang suci yang mendapat sinar kekuatan dari Tuhan untuk memperbaiki dunia ini. Kalau kejahatan yang lebih besar maka diturunkanlah orang suci yang lebih tinggi dan jika sudah jaman kali Tuhan sendiri turun menjadi manusia dan disebut awatara. Jika ada kerusuhan kecil maka cukup dikirim agen polisi untuk mengatasi keadaan jika yang datang perampok maka dikirimkanlah kapten polisi dan jika yang membuat kerusuhan itu adalah satu batalion pemberontak maka jendral polisi yang dikirim.

Dalam Bhagawadgita disebutkan :

yada-yada hi dharmasya gianir bhavati bharata aghyutthanam adharmasya

tada tmanam srijama aham bhag. iv.6.

artinya :

Manakala Dharma hendak sirna dan adharma hendaknya merajalela saat itu wahai keturunan Bharata, Aku sendiri turun ke dunia.

Mengapa Tuhan harus turun ke dunia berwujud manusia, bukanlah Tuhan cukup dari tempat Beliau memusnahkan kejahatan itu ?. Jika raning pohon dihinggapi benalu cukup rantin itu saja yang dipotong tetapi jika seluruh batang pohon yang dihinggapi benalu apakah seluruh pohon itu ditebang ?. Demikian pulalah jika diseluruh dunia kejahatan sudah merajalela maka seorang awatara akan turun membersihkan dunia ini dengan tidak perlu memusnahkan dunia ini. Mengapa Tuhan harus berwujud manusia ?, agar bisa mendekati dan

(27)

membimbing manusia serta bisa dimengerti oleh manusia kata-kata isyarat serta petunjuk Beliau, seperti jika ada seseorang anak yang tenggelam maka si penolong harus menceburkan diri ke air untuk dapat menolong orang yang tenggelam tersebut. Karena seorang awatara hidup sebagai manusia biasa, orang sering tidak menyangka bahwa Beliau awatara. Demikianlah Sri Krisna masih kanak-kanak, lari kesana kemari dengan nakalnya maka Yosada ibu angkatnya berusaha untuk mengikat si anak pada suatu tonggak dengan seutas tali.

Diambilnya tali tetapi kurang panjang maka diambillah tali yang lebih panjang lagi tidak cukup dan akhirnya setelah tidak ada tali yang cukup untuk mengikat si anak kecil itu adalah awatara Tuhan.

2. Keyakinan Terhadap Adanya Atma

Tuhan Yang Maha Esa yang bersifat maha ada maha kekal tanpa awal dan akhir (wyapaka nirwikara). Di dalam Weda Parikrama dikatakan sebagai berikut :

Eko Devah Sarvabhutesu Sarvavyapi Sarvabhutaratma karmudhyaksah sarvabhgutadi ceto kavala Nirgunasca.

Maksudnya :

Satu That yang tersembunyi di dalam setiap mahkluk yang mengisi semuanya yang merupakan jiwa bathin semua makhluk. Raja dari semua perbuatan yang tinggal dalam setiap makhluk, saksi yang hanya terdapat dalam pikiran saja.

Percikan dalam tubuh manusia disebut Atma atau Jiwatma Di dalam upanisad kedua, 8, ditandaskan :

Ia (Atman) adalah Brahman Tuhan pada diri manusia dan juga pada matahari alam semesta yang mana sebenarnya adalah satu. Atma adalah Brahma. Sebagai yang telah kita ketahui bahasa yang disebut Bhuana Alit itu ialah diri kita sendiri. Kita yakin dan harus yakin bahwa kita adalah Ia dari Atma, titisan ini menitis dari asalnya yang mulanya Nirguna

(28)

kemudian memasuki saguna yang disebut Perdana atau Prakerti yang biasa kita sebut jiwa raga atau badan jasmani. Atman disebut juga jiwa karena ia memberikan hidup raga itu. Jiwa yaitu sesuatu yang hidup dan memberi nama rupa. Jiwatma disebut nama, raga disebut rupa tegasnya jiwatma itulah yang diberi nama si A, B, C dan lain-lainnya. Apabila jiwatma itu hilang dari raganya disebut mati. Yang mati itu bukan si A, B C melainkan raga itu karena ditinggal oleh Atmanya. Ramuan raga (tubuh) terdiri dari Zat Panca Maha Bhuta yaitu :

a. Zat padat/pertiwi seperti tulang belulang dan daging, b. Zat apah seperti darah, lemak, kelenjar-kelenjar dan air c. Teja atau geni seperti panas.

d. Bayu seperti napas.

e. Aksara seperti rambut dan badan.

Sel darah putih perkembangan dari jiwatma dan sel darah merah dari zat Predana sari-sari Panca Maha Bhuta.

Tubuh manusia memiliki Daca-Golakatma marga yaitu sepuluh jalan bagi sinar kekuatan jiwatma sehingga dapat bekerja merupakan Dasendrya dibagi menjadi dua yaitu :

a. Panca Budhindrya yaitu :

• Caksuindrya adalah indrya yang menilai baik dan buruknya benda melalui mata.

• Srotendrya adalah indrya yang menilai baik dan buruknya suara melalui telinga.

• Ghranendrya adalah indrya yang menilai baik dan buruknya bau melalui hidung.

• Jihwendrrya adalah indrya yang menilai sad rasa suatu benda melalui perasaan indah.

• Tuakindrya adalah indrya yang menilai perasaan panas dingin halus dan kasar melalui kulit.

(29)

• Panindrya adalah indrya pekerja dengan tangan. • Padendrya adalah hidup pekerja dengan kaki.

• Gharbendrya adalah indrya pekerja dengan kelamin laki dan Bhagendrya indrya adalah pekerja dengan kelamin perempuan. • Payuindrya adalah indrya pekerja dengan pantat.

Dasar golakatma marga ini dapat melakukan tugasnya sebagai dasendrya apabila dapat sinar kekuatan dari jiwatma.

Tubuh kita mempunyai tiga lapis badan yang dinamai Tri Sarira yaitu :  Sthula Sarira yaitu badan kasar yang terdapat pada tingkatan alam

terendah atau bhur-loka sthula sarira ia bergerak mengadakan kerja guna tamas yang bersifat sakti serta gerak kerjanya berat sebagai alun gelombang-gelombang samudra yang besar dan bersifat keduniawian. Bekerja malas dan selalu merasa kurang senang dan mengharap keuntungan dengan jalan mudah.

 Suksma sarira atau lingga sarira adalah badan halus yang didapat pada tingkatan alam kerja dari bawah yang dinamai bhuah loka ia mengadakan kerja yang disebut guna rajas dengan gerak yang sangat gelisah meresah hebat laksana air samudra ditiup angin ribut menimbulkan gelar keinginan dan cita-cita menjadi orang pandai, berkuasa, kaya, sakti dan lain-lain.

 Anta karana sarira adalah badan yang lebih luas yang terdapat pada ruang sendiri di alam tingkat ketiaga dari bawah yaitu swah loka Antakarana Sarira apabila kena kekuatan jiwatma ia bergerak mengadakan kerja yang disebut guna sattwam dan bersifat dharma. Kerjanya tentram laksana air kolam yang terlindung dari rayuan hembusan angin menimbulkan sifat-sifat dan bakat yang sabar dan adil tahu akan hak dan rasa ke-Tuhanan yang sangat yakin dan merasakan adanya suatu kebahagiaan.

(30)

Tri Guna berhubungan erat dengan Dasendrya yaitu :  Guna rajah (rajas) menguasai Panca Budhindrya.  Guna Sattwa (sattwam) menguasai Panca tan Mantra.  Guna Tamah (tamas) menguasai Panca Karmendrya.

Di dalam pelaksanaannya sehari-hari adalah demikian. Mula-mula Panca Budhindrya yang bekerja dengan bantuan guna rajas yang menaruh sakti kama, misalnya mata melihat suatu benda tetapi bila tidak disertai rajas maka mata itu tidak menaruh perhatian kepada benda yang dipandangnya, sama halnya dengan pandangan mata yang sedang termenung tidak memperhatikan apa-apa. Tetapi bila mata itu dibantu oleh rajas maka merupakan caksuindrya menaruh perhatian sungguh-sungguh dengan nafsu yang ingin mengetahui. Setelah pandangan kepada benda itu lewat maka diruang pandangan khayalnya tampak pula benda yang dilihat tadi itu nyata-nyata inilah dinanai rupa tan matra.

Demikian pula halnya dengan pendengaran telinga yang disertai dengan crotendrya memberikan bekas pada ruang pendengaran khayalnya suatu sabda tan matra, pencium bau granendrya memberi kesan gandha tan matra, persentuhan atau perabaab kulit kepada suatu benda memberikan kesan sparsa tan matra. Kesan-kesan yang merupakan Panca Tan Matra itu disamping oleh Tri Guna yaitu sattwam, rajas dan tamas yang bersifat sakti yaitu : Dharma, Artha dam Kama. Timbangan sattwam dilakukan dengan Dharma yaitu seni untuk menilai baik, buruk atau indah kasar saja. Timbangan tamas hanya dilakukan dengan artha yaitu ketamakan tentang artha benda dunia dan menjadi pembantunya rajas, kalu rajas mengatakan baik, tamas ingin mengambil saja kalau rajas mengatakan buruk tamas ingin menolak. Rajas dan tamas itu juga merupakan enam musuh dalam badan yang disebut sad ripu, yaitu : kama (keinginan), kroda (kemarahan), lobha (loba), Moha (kemabukan), Mada (congkak), Matsarya (irihati). Sad ripu ini bisa menganggu kita sehari-hari sehingga sering dadsa kita merasa panas keinginan-keinginan karena kemarahan, loba mabuk dan

(31)

irihati. Karena Atman itu sesunguhnya Brahman yang keadaannya terkurung dalam tiap-tiap makhlukj maka Atman itu luput pada lahir, mati, sakit dan lain-lain akan tetapi jiwa dapat kena hal tersebut karena dapat digelapkan oleh bada rohani. Jika badan wadag mati Atman tersebut akan kembali kepada asalnya atau berpindah kepada wadag yang baru. Kitab suci Weda mengajarkan bahwa Atman / jiwatman yaitu roh pada tiap-tiap makhluk sama wujud dan sifatnya dengan nirguna. Ajaran tersebut menandaskan Brahma Atma itu dapat berpisah disebabkan oleh sifat Avidya dan karena Avidya itu orang mudah terpengaruh oleh maya yang mengakibatkan kesenangan, akan tetapi orang yang sadar akan berusaha untuk menghindarkan diri dari belenggu maka ia akan mencapai kebebasan yang agung dan hidup kembali.

3. Keyakinan Akan Adanya Hukum Karma

Karma berasal dari urat kata Kr yang berarti membuat atau perbuatan. Menurut hukum sebab akibat segala sebab akan membawa akibat. Segala sebab yang berupa akan membawa akibat hasul perbuatan segala karma akan mengakiatkan karma phala, hukum rantai sebab dan akibat dan phala perbuatan diwahykan ke dunia dengan perantara para resi-resi maka segala perbuatan baik dan buruk akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini tetapi juga di akhirat. Setelah atma dengan sukma sariranya terpisah dari sthula sarira dan membawa akibat pula dalam penjelasan yang akan membawa akibat tidak saja di dalam hidup sekarang ini tetapi juga di akhirat. Setelah atma dengan sukma sariranya terpisah dari sthula sarira dan membawa akibat pula dalam penjelasan yang akan datang setelah atma bersama-sama dengan suksma sariranya bersenyawa lagi dengan sthula sarira Tuhan akan menghukumNya, yakni hukum yang bersendikan pada Dharma dan dia akan merahmati Atma seseorang yang berjasa dan yang melakukan amal salleh serta kebajikan yang suci dan diapun akan mengampuni atma seseorang yang pernah berbuat dosa bila ia tobat tidak melakukan dosa

(32)

lagi. Tuhan akan menjatuhi hukuman kepada Atma yang henti-hentinya kejahatan dan memasukkan ke dalam neraka. Disini Atma mengalami hasil perbuatannya yang berupa nantinya akan menjelma menjadi orang yang sangat nista dan derajatnya semakin bertambah merosot jika ia selalu berbuat jahat. Pengaruh karma itu pulalah yang menentukan corak serta ilai daripada watak manusia. Oleh karena itu bermacam-macam jenisnya dan tidak banyaknya maka watak manusiapun beraneka macam pula ragamnya. Karena yang baik menciptakan watak yang baik dan karma yang jelek akan mewujudkan watak yang jelak dan jahat hukum karma yang mempengaruhi seseorang bukan saja diterimanya sendiri melainkan akan diwariskan oleh anak cucu atau keturunannya. Oleh karena itu ajaran agama menekankan hendaknya manusia berlaku tidak menyimpang dari petunjuk kerohanian atau Dharma. Dharma sebagai tujuan hidup yang utama dan mengabdi terhadap sesama makhluk serta menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran, maka orang itu akan mendapat berkah dari Tuhan apabila dia menjelma akan mendapat kebahagiaan hidup di dunia.

4. Keyakinan Akan Adanya Punarbhawa

Memang banyaklah orang yang menyangsikan kebenaran dari Punarbhawa itu bahkan banyak pula yang mencemoohkannya terutama orang pikirannya telah tercengkam oleh paham tertentu. Tetapi kalau kita meninjau dengan seksama di dalam sejarah kehidupan manusia atau kejadian-kejadian yang aneh mengenai kelahiran atau bakat-kabat dan keadaan dari manusia di dalam kehidupan sehari-hari maka dapatlah kita mengambil titik tolak untuk menerangkan adanya punarbhawa itu. Kalau kita perhatikan keadaan disekeliling akan terlihatlah bermacam-macam keadaan diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Ada yang lahir di tempat yang kaya, berpribadi yang halus, tata susila yang baik dan keadaan jasmani yang sempurna sedangkan yang lainnya ada orang miskin cacat dan lain-lainnya. Berkenaan dengan hal tersebut ada beberapa orang yang acuh tak acuh mengatakan bahwa keadaan tersebut

(33)

adalah terjadi secara kebetulan saja. Di dunia ini tidak ada yang terjadi secara kebetulan, kalau tanpa sebab ada yang menyebabkan inilah yang susah dipikirkan oleh orang yang hanya mempunyai kemampuan pikiran yang biasa karena hal-hal itu terjadi pada kehidupan jauh di dalam kehidupan yang sekarang dan kehidupan yang dahulu. Proses kelahiran atau penjelmaan dari satu bentuk kehidupan dalam bentuk kehidupan yang lainnya itulah yang dinamai Punarbhawa.

5. Keyakinan Akan Adanya Moksa

Yang merupakan tujuan hidup umat Hindu ialah mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin Mokshartam Jagadhita. Kebahagiaan bathin yang terdalam ialah bersatunya atman dengan Brahman yang disebut Moksa. Moksa berarti kebebasan, kemerdekaan lepas dari ikatan karma kelahiran, kematian dan penderitaan. Moksa adalah tujuan dari seluruh umat Agama Hindu dengan menjalankan sembahyang bathin dengan Dharma (menetapkan cipta), Dhyana (memusatkan cipta) dan Semadi (mengheningkan cipta) manusia berangsur-angsur akan dapat mencapai tujuan hidupnya yang tertinggi bebas dari segala ikatan keduniawian untuk bersatunya Atma dengan Brahman. Jiwa yang besar itu adalah sukar mencari banyak makhluk akan keluar dan mati serta hidup kembali tanpa kemauan sendiri. Akan tetapi masih ada satu yang tidak tampak dan kekal tiada bnasa rikala semua makhluk binasa, nah yang tak tampak inilah harus menjadi tujuannya yang utama supaya tidak mengalami penjelmaan kedunia itu; lah tempatku yang tertinggi oleh karena itu haruslah berusaha demi Aku. Jika kau ingat kepadaKu tak usah disangsikan, engkau akan kembali kepadaKu. Untuk mencapai inilah orang selalu bergulat, berbuat baik sesuai dengan ajaran agamanya.

B. Diksa (Inisiasi)

Diksa berarti pensucian atau penyucian. Di dalam kita Atharwa Weda XII. 1.1. Diksa dianggap merupakan salah satu daripada Sraddha. Diksa juga

(34)

disebut Abhiseka. Sebagai unsur dalam pokok keimanan diksa, tapa dan yadnya dianggap merupakan satu rangkaian pengertian yang arti dan fungsinya sama sebagai alat untuk sampai pada kesucian oleh karena itu di dalam kitab yayur weda XX.25. dinyatakan :

Dengan melakukan brata seseorang memperoleh diksa dengan melakukan diksa seseorang memperoleh daksina dengan daksina seseorang memperoleh sradha dan dengan sradha seseorang memperoleh satya.

Dari penjelasan itu diksa adalah dapat dilakukan melalui brata. Dengan brata itulah seseorang itu didiksa ia menjadi seseorang diksa yang berwenang untuk melakukan upacara yaitu ngeloka palasraya.

Dengan wewenang untuk melakukan ngeloka paalsraya itu seorang diksita akan memperoleh atau menerima daksina. Diksa adalah cara untuk melewati dari satu fase kehidupan kepada fase kehidupan yang baru dari yang belum sempurna ke dalam dunia yang lebih sempurna. Dengan diksa itulah seseorang akan dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan dengan melalui diksa itu ia dapat mempelajari sifat Tuhan. Yang merupakan fungsi dari diksa adalah sebagai dasar keimanan yang harus diyakini kebenarannya. Dengan keyakinan akan diksa itu seseorang akan dapat memulai mempelajari ilmu pengetahuan yang terdapat di dalam weda dan dapat pula mengajarkannya. Sedangkan tujuan dari diksa adalah untuk menyucikan diri seseorang secara lahir dan bathin sehingga dengan upacara diksa itu ia akan dapat melakukan tugas ngeloka palasraya dan mengajarkan weda serta belajar weda.

C. Tapa (Pengendalian Indria)

Tapa adalah merupakan unsur keimanan yang mempunyai arti penguasaan atas nafsu atau melakukan hidup suci untuk dapat hidup baik dan suci seseorang harus menguasai dirinya sendiri atau penguasaan terhadap panca indria dan pikiran (manah). Keenam hal tersebut harus dikendalikan

(35)

dengan baik karena keenam jenis alat itu mampu akan menjatuhkan manusia dan menimbulkan penderitaan. Oleh karena itu pengendalian atas keenam jenis itu disamakan seperti pengendalian atas keenam itu disamakan dengan seperti pengendalian atas musuh (ripu) yang dianggap mampu mencelakakan diri orang itu. Adapun yang merupakan keenam musuh yang ada pada diri manusia itu adalah kroda, moha, lobha, mana, mada, dan rasa yang artinya masing-masing artinya marah, nafsu, lobha, kesombongan, mabuk, dan bersenangan yang berlebihan. Di dalam kitab Dharmasastra dijelaskan bahwa seseorang yang melakukan perbuatan dosa atau mereka yang sadar bahwa mereka berdosa berkewajiban untuk selalu membersihkan diri. Membersihkan diri ini disebut wisudha atau melakukan parisudha dengan melakukan tapa atau brata. Di dalam weda telah dijelaskan bahwa pada dasarnya manusia mempunyai kesadarna akan dosa. Hidup mereka tidak luput dari dosa. Dosa yang ditimbulkan oleh pikiran, perkataan dan perbuatan atau tingkah laku yang dilakukan secara disengaja maupun tidak disengaja. Semua itu mampu menimbulkan penderitaan yang menyiksa lahir bathin manusia dan menjadi hambatan untuk dapat mendekatkan diri mereka kepada Tuhan. Tuhan yang maha suci hanya dapat didekati melalui kesucian. Untuk mensucikan pikiran dan indria inilah dilakukan dnegan melakukan tapa (brata). Tapa dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung maksud daripada tapa itu dan besar kecilnya dosa yang akan disucikan. Ada yang melakukan tapa dengan cara berpuasa tidak makan dan minum pada hari-hari tertentu ada yang melakukan dengan cara tidak tidur selama waktu tertentu, ada yang melakukan mengurangi makan dan minum lain-lainnya. Yang penting di dalam hal ini bahwa pada dirinya ada niat dan ketetapan untuk dapat memperbaiki dirinya.

Dari uraian di atas bahwa mempunyai arti yang sangat penting dalam pembentukan watak manusia dan untuk menyempurnakan sifat manusia supaya menjadi makhluk yang baik tingkah lakunya, kata-kata dan perbuatannya.

(36)

D. Brahma atau Pujian

Pujian adalah semacam doa yang dalam sehari-hari disebut Mantra atau Sruti. Mantra adalah ayat-ayat suci yang dipergunakan untuk melakukan pemujaan karena itu mantra yang dinamakan doa tetapi sebagai alat doa itu mantra. Kata-kata lain yang sering dipergunakan yang sama artinya ialah Atotra atau Stawa yang merupakan ayat-ayat yang dipergunakan untuk melakukan pujian kepada Tuhan atau lainnya. Di dalam kitab Atharwaweda XII. 1.1. sebagaimana kita telah baca di atas istilah yang sama artinya dengan kata doa atau mantra itu adalah Brahma. Dalam kehidupan beragama unsur kepercayaan akan doa (Brahma) merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap kejadian. Doa selalu disampaikan untuk segala tujuan ini merupakan ciri khas dari tata kehidupan beragama. Tanpa percaya akan kedudukan dan penggunaan doa itu maka tidaklah ada artinya doa itu. Telah dikemukakan bahwa doa adalah salah satu daripada unsur keimanan dalam ajaran agama Hindu. Dengan fungsi kedudukan doa sebagai salah satu unsur sradha dalam agama menyebabkan kedudukan doa dalam agama sangat penting selain itu juga doa berfungsi yang tergantung pada tujuan daripada penggunaan doa itu. Misalnya seorang yang lagi susah maka berdoa berarti sebagai permohonan untuk supaya Tuhan mau mendengarkan permintaan mereka dan begitu pula bagi mereka yang dalam keadaan biasa doa bagi mereka adalah bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Orang yang melakukan upacara doa mereka adalah memohon agar mereka dapat diberikan kesucian sehingga dengan demikian mereka dapat melakukan sembahyang mereka dengan sempurna. Permohonan kesucian ini diperlukan karena Tuhan yang bersifat Mahasuci hanya dapat didekati dengan sifat-sifat yang suci pula. Oleh karena itu setiap mulai ada upacara terlebih dahulu diadakan upacara pensucian (prayascita).

(37)

BAB IV CATUR MARGA

Sasaran Belajar.

• Mengerti tentang Catur Marga

• Melaksanakan Catur Marga dalam Menjalankan Aktivitas Keagamaan

Catur Marga adalah empat buah jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan Mokshartham Jagadhita, keempat jalan itu sama utamanya. Yang disebut Catur Marga. Setiap orang bebas memilih salah satu dari keempat jalan ini sesuai dengan kondisi masing-masing. Keempat marga ini hendaknya digerakkan secara harmonis seperti seekor burung, sayap kanannya adalah bhakti marga, sayap kirinya adalah jnana marga, sedangkan ekornya burung adalah raja marga dan kekuatan pendorongnya adalah karma marga. Seekor burung akan bisa melayang dengan baik kalau sayap kiri dan kanannya seimbang. Burung tidak akan mencapai tujuan yang dikehendaki kalau tidak mempunyai daya dorong yang kuat. Kemudian sayap ekor yang berfungsi sebagai kemudi mengarahkan sebaik-baiknya supaya jangan terbangnya menyimpang dari tujuan.

A. Bhakti Marga

Bhakti artinya cinta kasih istilah itu digunakan adalah untuk pernyataan cinta kasih kepada sesuatu yang lebih dihormati seperti : Ida Sang Hyang Widhi, Negara, serta pribadi-pribadi yang mesti dihormati. Bhakti dibagi atas dua tingkat yaitu :

1. Aparabhakti adalah cinta kasih yang perwujudannya lebih rendah dan dipraktekkan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kerohanian yang lebih tinggi.

2. Parabhakti adalah cinta kasih dalam perwujudannya yang lebih tinggi dan kerohaniannya lebih meningkat.

(38)

Ajaran Bhakti adalah ajaran yang langsung mencari Tuhan yang mudah diterima dan dilaksanakan oleh orang awam, baik orang miskin, kaya, petani, orang pandai, pejabat dapat menempuh jalan ini. seorang Bhakta (penganut bhakti marga) adalah orang yang penuh cinta kasih cinta kepada Tuhan, cinta kepada alam semesta ciptaan Tuhan. Bagi seorang Bhakti tidak perlu tahu apakah Tuhan itu baik atau buruk, besar atau kecil, kuasa atau tidak kuasa yang penting bagi mereka Tuhan adalah dicintai.

Seorang Bhakta mencintai Tuhan karena ingin mendapat imbalan supaya masuk sorga maupun moksa, karena bagi mereka kebahagiaan tertinggi itu adalah bercinta kepada Tuhan. Bhakti Marga menggunakan rasa sebagai sarana, rasa cinta yang alamiah tetapi meluap-luap, rasa cinta yang seperti aliran sungai yang bergerak dengan deras karena rindunya bertemu dengan laut. Hampir semua agama besar yang ada di dunia adalah berdasar kepada cinta kasih atau Bhakta Marga, jalan ini disamping mudah juga wajar bagi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakan dan bahayanyapun kurang. Adapun gejala-gejala bhakti dalam kehidupan sehari-hati adalah :

1. Kerinduan Untuk Bertemu

Sebagaimana hanya seorang yang jatuh cinta maka setiap saat rasanya dia ingin mengunjungi kekasihnya, dia rindu untuk bertemu menyampaikan rasa hatinya. Di dalam agama keinginan untuk bertemu itu diwujudkan dengan sembahyang. Demikian orang yang sudah tergetar dengan rasa cinta kepada Tuhan akan taat melaksanakan persembahyangan dan setiap sembahyang tiba dia merasakan kerinduan yang mendesak.

Sebelum rasa demikian dirasakan maka secara jujur belum boleh seseorang menyebutkan dirinya bhakti, meskipun mereka sembahyang seribu kali dalam sehari, sembahyang tanpa dorongan kerinduan tidak akan banyak manfaatnya apalagi sembahyang sekedar ikut-ikutan atau terpaksa adalah perbuatan yang sia-sia. Kesungguhan dan kemantapan adalah dasar utama untuk dapat merealisasi Tuhan dalam pikiran.

(39)

2. Keinginan Untuk Berkorban

Rasa bhakti dan rasa cintalah yang melahirkan suatu keikhlasan untuk berkoban. Sebagaimana halnya seorang pemuda yang jatuh cinta pada seorang gadis disamping rindu ingin bertemu juga ingin memberikan sesuatu yang berbentuk materi maupun tenaga. Inginlah dia menyerahkan segala harta miliknya ingin pula dia berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan kekasihnya meskipun kekasih belum memintanya. Demikianlah pula kita lihat di masyarakat Hindu, meskipun mereka tidak memiliki uang tidak segan-segan untuk meminjam kepada teman mereka agar dapat mempersembahkan sajen pada waktu upacara. Dengan rasa bhakti mereka menjadi mantap, upacara sangat penting dilakukan dengan penuh keikhlasan berkorban dan bebas dari pamrih.

Di dalam Bhagawadgita disebutkan sebagai berikut :

Yajna dana tapah karma Na tyajyam karyam eva tat Yadano danam chai va

Pavanani manishim (Bhg. XIII.5)

Artinya :

Mengadakan upacara, sedekah dan tapa brata jangan diabaikan melainkan harus dilakukan sebab upacara sedekah serta tapa brata adalah bagi orang arif bijaksana.

Demi bhakti kehadapan Tuhan umat Hindu ikhlas membeli buah-buahan untuk membuat gebogan, memotong ayam, melengkapi dengan telor dan sebagainya yang bisa menghabiskan uang puluhan ribu rupoiah. Kalau tidak dengan alasan upacara agama, belum tentu mereka akan membeli buah ataupun daging walaupun semuanya memberikan manfaat kesehatan bagi seluruh anggota keluarganya. Andaikata dia mempunyai kebun pisang dan berbuah masak, mereka lebih suka menjualnya agar dapat uang lebih banyak disisihkan yang kecil-kecil saja untuk diberikan anak-anaknya, mereka masih lebih mencintai uang daripada kesehatan. Tetapi sebaliknya

(40)

kalau ada keperluan upacara mereka rela untuk mengeluarkan uang demi upacara. Inilah ciri dari seorang bhakti keinginan untuk mempersembahkan segala sesuatu yang mereka memiliki demi bhakti.

Dalam melaksanakan upacara dan pentangan-pentangan yang perlu ditaati seperti tidak boleh marah, tetap memegang kesucian dan kejujuran. Seorang bhakta tidak kenal payah, pura-pura yang jauh dipuncak gunung maupun ditepi laut mereka kunjungi, persiapan-persiapan yang memerlukan tenaga berhari-hari mereka melaksanakan dengan senang karena bhakti. Pengorbanan seorang bhakta adalah pengorbanan tanpa pamrih demi Tuhan yang mereka cintai.

3. Keinginan Untuk Mewujudkan Tuhan

Apakah Tuhan agama Hindu mempunyai wujud? Apakah Tuhan agama Hindu itu sama dengan manusia sehingga kepadanya dipersembahkan sajen-sajen yang terdiri dari bermacam-macam makanan?, kalau tidak mengapa umat Hindu membuat patung-patung, sajen-sajen dan sebagaina. Untuk memahami marilah kita jangan melihat filsafatnya saja tetapi hendaknya memahami bagaimana cara-cara penghayatan bagi orang awam. Dalam bait Tri Sandya disebutkan Om Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) yang diberi gelar Narayana, segala makhluk yang ada berasal dari Tuhan, Dikau bersifat gaib tak berwujud, tak terbatas oleh waktu, Dikau maha cemerlang, maha suci, maha esa, tidak ada duanya, disebut Narayana dan dipuja oleh semua makhluk. Di sini jelas Tuhan itu tidak berwujud dan tidak dapat diwujudkan tetapi mengapa ada patung-patung dewa? Marilah kita lepaskan segala prasangka dan tuduhan dengan mengambil banding pada apa yang dilakukan oleh orang intelek dan modern. Kita tahu semua bangsa di dunia mencintai dan menghormati bangsanya tetapi tidak seorangpun tahu bagaimana sebenarnya rupa dari bangsa itu. Bangsa Indonesia menggambarkan simbul bangsanya itu dengan bendera merah putih, Garuda Pancasila dan sebagainya. Apakah memang betul bangsa

(41)

Indonesia itu?, Bendera Merah Putih itu hanya secarik kain yang terdiri dari warna merah dan warna putih apakah kita menghormati kain? Yang merupakan ciptaan manusia. Apakah kita menghormati binatang seperti burung garuda semua itu hanya merupakan simbul keinginan manusia yang ingin menvisualisasikan bentuk-bentuk yang abstrak, untuk lebih mudah dimengerti atau dihayati oleh orang awam. Demikianlah Tuhan dalam agama Hindu seperti yang terdapat dalam weda bahwa Tuhan tidak dapat digambarkan, dipikirkan juga tidak. Tetapi kalau orang sembahyang tidak menggambarkan bentuk yang disembah maka konsentrasinya tidak akan sempurna. Meskipun tidak berwujud patung orang sembahyang tentu menggambarkan Tuhan itu di dalam hatinya dalam bentuk pikiran, namapun juga sebuah simbul, nama baru ada kalau ada bentuk walaupun bentuk yang bersifat abstrak. Istilah Tuhan adalah simbul untuk menamai bentuk pikiran yang tidak dapat dilukiskan karena sebenarnya, kecenderungan ingin melukiskan Tuhan dalam bentuk patung adalah cetusan rasa cinta.

4. Persembahkan

Jika kita melihat Hindu membawa sajen ke Pura penuh dengan buah-buahan dan makanan yang lezat tentu orang berpikir apakah Tuhan agama Hindu seperti manusia suka makan yang enak-enak.

Demikian pula jika pura dihias dan diukir demikian indah mungkin orang berpikir Tuhan umat Hindu suka dengan seni dan suka pula dengan nonton tari-tarian. Secara filosopis kita bisa mengatakan bahwa Tuhan Maha Esa, Beliau menciptakan alam semesta ini semua, Tuhan tidak memerlukan semua ini hanya manusialah yang menganggap ini perlu, semua sajen dan kesenian ini hanyalah sebagai alat untuk rasa bakti atau cintanya kepada Tuhan. Seperti seorang ibu yang mencintai bayinya yang berumur tiga bulan, si ibu membuatkan baju bagus untuk anaknya di buatkan kalung emas buat bayinya padahal bayinya tidak meminta bahkan tidak mengerti apa arti daripada kalung tersebut dan baju yang bagus itu.

(42)

Semua pemberian dari si ibu yang lahir dari dorongan rasa cinta kasih itu membikin bahagia si ibu karena dia merasa telah berbuat sebaik-baiknya untuk bayinya yang dikasihinya. Demikianlah sajen dan kesenian yang disuguhkan pada waktu ada upacara agama Hindu,secara spiritual memberikan kebahagian kepada orang yang melaksanakan karena semua alat ini mereka bisa mencurahkan rasa bhakti atau rasa cinta kasihnya. Tuhan tidak minta untuk dipja tetapi manusialah yang mencurahkan rasa bhaktinya. Bagi orang awam persembahan itu diyakini akan membikin Tuhan menjadi senang. Cetusan rasa cinta yang suci terwujud dalam keinginan untuk memberi dan berkorban, tetapi sebaliknya jika cinta telah dihinggapi oleh keserakahan maka lahirlah keinginan untuk memiliki dan menuntut dengan penuh nafsu.

5. Tempat dan Arah Memuja Ida Sanghyang Widhi

Umat Hindu percaya bahwa alam semesta dengan bintang dan planet diruang angkasa yang tidak terlihat oleh mata bahkan teropong-teropong bintang sekalipun, sebenarnya ada di dalam diri Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Bumi kita tidak lebih dari sebuah sel dari tubuh Ida Sanghyang Widhi. Kalau kita bandingkan diri kita seperti satu titik di dalam samudra, titik air tidak boleh dikatakan samudra tetapi sebaliknya di dalam samudra titik air ini merupakan bagian kecil dari samudra. Dalam titik air ini sifat asin dari samudra ada, demikian pulalah manusia walaupun berada di dalam diri Tuhan tidak bisa mengatakan dirinya Tuhan, meskipun sifat-sifat ketuhanan itu ada dalam diri manusia. Dalam susunan yang demikian maka sulit untuk mengatakan dimana sebenarnya Tuhan itu bertahta. Beliau ada di mana-mana dan tidak ada tempat di mana Beliau tidak ada. jika Tuhan berada dimana-mana mengapa manusia memuaja Tuhan ditempat-tempat ibadat, apa perlunya membuat pura balikan dan tempat tidur saja bisa sembahyang? Cara yang paling mudah dan indah untuk mendekati Tuhan adalah melalui rasa. Untuk membangkitkan rasa agama, rasa cinta kepada Tuhan maka diperlukan

(43)

suatu kondisi tertentu, kondisi yang bisa menggiring agar rasa ketuhanan muncul dan bergelora dengan mantap. Hal inilah yang menyebabkan umat Hindu membuat pura mereka ditempat-tempat yang indah, tempat-tempat bersejarah atau tempat-tempat yang bisa membangkitkan kekaguman akan kebesaran Tuhan disamping dekat dan mudah dicapai oleh umatnya. Pura-pura Sad Kahyangan di Bali merupakan Pura-pura-Pura-pura inti seperti Pura-pura Besakih, Batur, Lempuyang, Uluwatu, Watukaru, Puncak mangu dan lain-lainnya semua penuh dengan ketenangan. Keindahan dan keagungan. Ditempat-tempat ini orang dirinya kecil ditengah-tengah kebesaran dan keindahan alam yang diciptakan oleh Ida Sanghyang Widhi. Dalam kondisi yang demikian maka orang akan mudah mengagumi dan menghormati Tuhan, di tempat yang demikian rasa ego mulai melenyap diganti rasa kagum dan hormat maka konsentrasi pikiran kepada Tuhanpun akan lebih mantap dan terpusat. Bahan dan bentuk purapun tidak dibuat menyerupai rumah tempat tinggal ataupun menyerupai gedung perkantoran. Bagi umat Hindu pura itu dengan bentuk dan bahan yang lain dari yang lain, sehingga bila kita masuk pura maka perasaanpun seperti masuk Kahyangan dan Tuhan rasanya disana. Gunung dan matahari adalah merupakan kiblat (arah) dimana umat Hindu menundukkan kepala kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai perwujudan rasa bhakti. Gunung yang dikenal dengan nama Acala Lingga yang berarti tempat Tuhan yang tidak bergerak, karena kenyataannya gunung tidak bisa dipindahkan namun, umat Hindu yakin gunung adalah sebagai linggih Ida Sang Hyang Widhi. Mengapa Tuhan dipuja dipuncak gunung bukanlah Tuhan ada dimana-mana? Meskipun Tuhan ada dimana-mana tetapi pada saat umatnya memujanya Beliau didudukkan ditempat yang ketinggian. Makin tinggi suatu tempat maka makin mulialah yang dipujannya. Itu pula sebabnya gunung Mahameru yang tertinggi di India dianggap sebagai linggih Ciwa. Di pulau Jawa gunung gunung semerulah yang merupakan gunung Mahamerunya umat Hindu pada jaman dahulu. Sedangkan di Bali gunung Tolangkir atau gunung Agung adalah merupakan linggih Ida Sang

(44)

Hyang Widhi (Ciwa). Di pura-pura bangunan meru merupakan simbul gunung, dimana kata meru mengingatkan kita kepada gunung Mahameru dan Semeru. Hal kedua yang menyebabkan gunung yang mempunyai arti penting adalah karena dengan adanya gunung inilah manusia dapat menikmati air untuk diminum maupun untuk mengaliri sawahnya. Gunung dengan hutan dan tanahnya yang gembur menyebabkan air hujan masuk dan disimpan di dalam tanah serta sedikit demi sedikit dialirkan melalui sungai, hingga hampir sepanjang tahun kita bisa menikmati aliran air sungaitidak henti-hentinya, meskipun di waktu malam di saat kita tidur nyenyak air sungai terus mengalir. Gunung adalah waduk ciptakan Tuhan, karena itu wajarlah kalau umat Hindu menghadap ke gunung karena disana tempat Tuhan menyampaikan anugrah berupa kemakmuran dan keselamatan, maka melalui gunung pula umat Hindu menyampaikan terima kasih. Perwujudan rasa hormat itu tampak pada sebagai hulu, kata Kaja berasal dari kata keadya yang berarti ke gunung, dimana adya arti gunung. Sedangkan Kelod berasal dari kata laut dan dianggap sebagai hilir. Di masyarakat pegunungan jika mereka tidur kepala mereka tentu ada di arah gunung karena gunung dianggap sebagai hulu atau kepala. Demikianlah pula jika menguburkan mayat maka letak kepala si mayat ada di arah gunung. Di samping arah gunung dan arah matahari terbit yaitu arah timur adalah arah yang dianggap suci. Letak bangunan-bangunan pura umat Hindu sebagian besar diarah timur menghadap ke barat, sehingga orang yang sembahyang akan menghadap ke timur, mengapa arah matahari terbit itu disucikan?

Matahari adalah merupakan simbul kekuasaan Ida Sang Hyang Widhi menurut para ahli ilmu bumi, planet katanya berasal dari pecahan matahari dan jassad manusia berasal dari unsur panca Mahabhuta yaitu air, tanah, panas, angin, dan angkasa yang berasal dari unsur-unsur kita ini. kekuatan yang diciptakan oleh matahari menyebabkan bumi kita berputar angin dan air beredar. Dengan sinar matahari semua makhluk bisa hidup

Referensi

Dokumen terkait

Sebelum  berbicara  mengenai  kata  dasar, dalam tataran morfologi terdapat satuan bentuk terkecil  dalam  sebuah  bahasa  yang  masih memiliki  arti  dan  tidak 

Hasbullah Bakry, ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan

Aplikasi berbasis Android ini dilengkapi dengan fitur-fitur penjelasan mengenai kebudayaan dan ilmu Agama Hindu, selain itu terdapat juga fitur komunitas yang

Terdapat 6 tugas dalam LKS 2 yang kesemuanya berisi kegiatan untuk melatih, mengembangkan, dan memperkuat pemahaman dan pengetahuan anak mengenai proses pembentukan kalimat dari

Aplikasi berbasis Android ini dilengkapi dengan fitur-fitur penjelasan mengenai kebudayaan dan ilmu Agama Hindu, selain itu terdapat juga fitur komunitas yang

Dalam tulisan inilah, akan dibahas secara lebih dalam mengenai Uttarakānda sebagai salah satu bagian dari Sapta Kānda Ramāyāna, dan pesan moral yang terdapat dalam ceritanya yang

Puji syukur kami panjatkan kehadiran TUHAN YANG MAHA ESA,atas rahmat dan hidayahnya kami bisa menyelesaikan makalah ini untuk memberikan wawasan mengenai mata kuliah DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD dengan judul MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA. Dengan tulisan ini kami mengharapkan teman-teman mampu memahami makna dari MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA dan mengetahui bagaimana pembelajarannya di sekolah. Kami sadar tulisan ini sangat terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu,kami mengharapkan adanya kritik dan saran dari dosen yang bersifat membangun dari berbagai jenis agar bisa menjadi lebih baik. Kami berharap tulisan ini dapat memberikan informasi yang berguna untuk pembacanya,terutama teman-teman

Apabila persamaan utama antara agama, filsafat dan ilmu pengetahuan adalah untuk mengungkapkan kebenaran dan penggunaan kebijaksanaan, maka terdapat pula beberapa perbedaan yang dapat