BAB IV CATUR MARGA
D. Raja Marga
Raja Marga adalah salah satu jalan dari empat jalan yang dikenal di dalam Agama Hindu untuk mencapai moksa, tiga diantaranya yaitu bhakti, karma dan jnana marga telah diuraikan dimuka. Raja Marga menggunakan pikiran sebagai alat karena itu pengenalan terhadap pikiran itu sangat penting, tergantung dari tidaknya kita mengendalikan/mengalahkan pikiran.
Di dalam kitab Bhagawadgita ada disebutkan beberapa cara melakukan meditasi :
Biarlah yogi memusatkan pikirannya Terus menerus pada atman ditempat yang aman Sendirian menguasai jiwa dan raganya
Bebas dari nafsu keinginan dan harta benda. (Bhag.G.VI.10).
Dengan tubuh duduk ditempat suci, diatur untuk dirinya tidak tinggi dan tidak rendah
dialasi dengan rumput suci kusa (alang-alang) ditutup dengan kulit rusa dan kain. Bhag.VI.11.
Disana dengan memusatkan pkiran kesatu arah mengendalikan panca indra dan kerja panca indra duduk di atas tempat duduknya
melaksanakan yoga dan menyucikan jiwa. bhag.g.vi.12
Dengan badan dan leher tegak duduk diam tiada bergerak
tetap mamandang keujung hidungnya
Dengan tentramnya atman tidak takut teguh melakukan brahmacari,memikirkan aku dalam bhaktinya, biarlah ia duduk dengan aku jadi tujuannya bhag.g.vi.14
Seperti lampu ditempat tak berangin nyalanya tak terkedip
dengan pikirannya yang dikendalikan terlatih mengendalikan diri. bhag.g.vI.21
Disana dimana pikiran telah tentram terkendalikan oleh konsentrasi yoga jiwa menyaksikan jiwa bertemu jiwa
merasa dalam bahagia, bahagia. bhag.g.vi.22
Kalau kita perhatikan bait-bait diatas telah disebutkan pokok-pokok tata cara orang utuk melaksanakan meditasi adalah sebagai berikut :
Pertama-tama carilah tempat suci yang tentang ada suci jauh dari keramaian yang pada hakekatnya hal itu bisa dilakukan dimana saja yang suasananya bisa mengiring ketenangan. Setelah temapt didapatkan berubah duduk dengan sikap Padmasana yaitu kaki kanan diletakkan di atas kaki kiri, kaki kiri diletakkan di atas kaki kanan.
Pada mulanya posisi ini memang sukar tetapi kalau sudah sering dilatih dan dibiasakan akan terasa enak dan stabil, jari-jari harus bersentuhan erat satu dengan yang lainnya dan kedua jari tangan harus diletakkan di depan. Mata bisa dipejamkan sepenuhnya tetapi sebaiknya setengah terbuka. Apabila semua hal tersebut telah terlaksana baru kita mengkonsentrasikan pikiran. Di dalam mengkonsentrasikan pikiran ada dua arah yang bisa ditempuh :
a. Pemusatan pikiran Tuhan dianggap di luar diri sendiri seperti di Padmasana, Pratima, Gambar Ciwa atau Guru pada Daksina Pelinggih,
semua hal tersebut bukan saja dianggap sebagai alat untuk memusatkan pikiran tetapi dipercaya Tuhan berada di dalamnya.
b. Pemusatan pikiran bahwa Tuhan berada di dalam diri sendiri, umumnya sebagian besar dari pemeluk agama mencari Tuhan di luar dirinya sendiri tetapi para yogin sebaliknya Tuhan dicari di dalam dirinya sendiri sebagai rumah Tuhan (pura) adalah badan sendiri. Di dalam Upanisad disebutkan bahwa di dalam diri kita bertahta Atma dan Paramatma dilukiskan seperti dua ekor burung yang bertengger pada sebuah dahan yang satu dari padanya aktif menikmati buah yang ada di dahan itu sedangkan yang lainnya lainnya hanya menonton hanya menyaksikan apa yang dilakukan oleh temannya tetapi kedua burung itu adalah burung yang sama. Meditasi adalah pertemuan atma dengan Patamatma antara jiwa dengan jiwa seru sekalian alam antara titik air dengan samudra.
Pemusatan pikiran dengan tujuan mencari Tuhan di dalam diri sendiri memang sulit dan berbahaya sebab itu tuntunan guru sangat diperlukan.
Adapu dasar-dasarnya yang diperlukan dalam pemusatan pikiran adalah sebagai berikut :
1. Kesucian Pikiran
Pikiran dapat disucikan dengan peningkatan guna sattwa mula-mula dengan mengatasi pengaruh rajas dan tamas lama kelamaan menggantikan keseluruhannya dengan guna sattwa. Penyucian pikiran secara garis besarnya dapat dilaksanakan melalui :
a. Peningkatan Kesucian Melalui Makanan. Chandogya Upanisad VI.5.4. menyebutkan :
Makanan yang kita makan dirubah menjadi tiga hal yaitu : sebagian besar daripadanya menjadi kotoran bagian yang lainnya akan menjadi daging dan yang terhalus akan menjadi pikiran. Makanan yang bersifat suci akan menambah kesucian pikiran sedangkan pikiran yang bersifat buruk akan menambah kekotoran pikiran. Bagi para yogi makan daging binatang memang dipantangkan karena kebanyakan daging mengandung unsur-unsur yang bersifat rajas.
Makanan yang kita makan harus didapat dengan cara baik dengan memperoleh makanan secara halal dan juga tempat menghidangkan atau waktu menghidangkan atau waktu menghidangkan serta pada saat membuatnya alat-alat yang dipergunakan harus bersih.
b. Peningkatan Kesucian Melalui Kebersihan Jasmani
Hubungan jasmani dan rohani sangat erat dan bersifat timbal balik bila pikiran sedang sedih maka nasipun rasanya tidak enak dan nafsu makan berkurang serta pikiranpun tidak terasa enak.
Kebersihan rohani bisa dirangsang dengan kebersihan jasmani bila baru habis mandi maka badanpun terasa enak/segar serta pikirannya menjadi jernih. Orang tidak akan merasa nyaman melakukan persembahyangan kalau badan masih penuh dengan lumpur baru datang dari sawah. Oleh karena itu sebelum melakukan persembahyangan hendaknya mandi atau paling sedikit mencuci muka terlebih dahulu.
c. Japa, Dhayan dan Smara menyucikan pikiran kita dari semua kemelaratan duniawi. Japa yaitu selalu menyebutkan nama Tuhan atau selalu mengucapkan Om, Dhyana yaitu memusatkan pikiran kepada Tuhan dan Smara yaitu ingatan selalu membayangkan Tuhan. Ketiganya ini adalah alat yang ampuh dalam menyucikan pikiran sebagaimana halnya sabun yang digunakan untuk membersihkan kotoran jasmani.
d. Mengunjungi tempat suci, selalu bergaul dekat dengan orang suci membersihkan pengaruh yang besar terhadap kesucian diri sendiri. Para raja-raja pada jaman dahulu mengambil berkah dengan mengunjungi pura ataupun candi serta tempat pemukiman para petapa dengan tujuan menambah kesucian yang ada pada diri raja itu sendiri. Getaran kesucian yang dipancarkan oleh orang suci mempengaruhi pikiran orang yang ada didekatnya. Pura yang selalu disucikan mengeluarkan pula gelombang kesucian seumpama kolam yang bisa membersihkan badan seseorang yang menceburkan diri kedalamnya. Itu pulalah sebabnya pergi sembahyang ke Pura
adalah lebih utama dari dirumah sendiri. Pura adalah rumah Tuhan yang disucikan oleh umatnya pada waktu upacara penyucian bangunan Pura tersebut. Oleh karena itu pancaran kesucian Tuhan yang keluar dari tempat suci ini akan hebat dari rumah kita sendiri yang kita sering pergunakan untuk memenuhi kebutuhan duniawi. Namun walaupun demikian arti suci itu tidak sama dengan bersih, dalam arti suci terkandung lahiriah dan kebersihan rohaniah.
BAB V YADNYA