• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN A. Profil Mumtaza Islamic School

DAFTAR PUSTAKA

F. Aspek Mursyid merupakan Sumber dari Sarana Keilmuan dan Bersanad bagi Murid

P: Apakah guru harus selalu memberikan ilmu yang valid dengan pengalamannya dalam pembelajaran?

J: Guru harus memberikan ilmu yang valid dan dengan sumber yang jelas, contoh sekarang banyak yang mencari sumber belajar rukun islam dan rukun iman dari lagu misalkan, tetapi urutannya berbeda, bahkan hal ini akan membingungkan murid,

P: Sumber belajar seperti apa yang digunakan oleh guru?

J: Sumber belajar terpercaya dan valid agar ilmu yang disampaikan bersifat orisinil, maka perlunya sumber yang valid yang mengacu pada sumber yang relevan harus diperhatikan dengan seksama oleh guru, hal ini sangat penting dilakukan oleh guru.

P: Apakah guru membolehkan siswanya belajar dengan sumber lain?

J: Siswa boleh saja menggunakan sumber belajar yang lain, yang kreatif dan sesuai dengan zamannya, tetapi harus dipantau dan dilaporkan pada guru supaya sumber belajar yang dipakai siswa tersebut bisa dicek, dipelajari oleh guru apakah valid dan relevan atau tidak. Guru bisa memberikan buku-buku sumber belajar yang valid, modul-modul yang dipilih oleh guru, adapun youtube harus di validasi oleh guru, ketika belajar hadist atau kisah-kisah islami juga hatrus divalidasi oleh guru, agar siswa tidak mendapat hoax dan belajar dari sumber yang salah.

P: Bagaimana mengetahui sumber lain yang dipakai siswa itu valid?

J: Guru dapat mengetahui sumber belajar yang dipakai oleh siswa valid dengan cara gurunya harus tahu dulu, mana sumber yang valid, sumber yang relevan dan sesuai baru ketika itu bisa memvalidasi sumber belajar tersebut.

P: Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?

J: Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga siswa siswi kita supaya tidak terjebak pada hal-hal yang tidak valid, apalagi masalah ilmu, harus dijaga benar-benar dan diperhatikan dengan baik, terutama masalah hoax.

P: Apakah dalam proses pembelajaran guru harus mempunyai sanad guru yang jelas? Dan Bagaimana cara membuktikannya?

J: Guru harus mempunyai sumber belajar atau sanad guru yang jelas, setiap guru harus belajar dari sumber yang jelas, apalagi dalam proses pembelajaran, guru harus belajar metode, strategi, sanad keilmuan dan lainnya yang valid yang bisa dipertanggung jawabkan.

P: Mengapa sanad itu penting dalam pembelajaran?

J: Sanad itu sangat penting karena agama itu bir riwayah, “dengan sanad” artinya harus dapat dipertanggung jawabkan, agama akan rusak kalau sanad tidak dipertanggung jawabkan.

Narasumber,

Mr. Ali Mudasir, M.Pd

Hasil Wawancara Nama Narasumber: Mr. Muhammad Azhari Bahar, M.Pd Jabatan: Tahfidz Teacher

Tarekat : Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah Waktu Penelitian: Rabu, 30 September 2020 Media wawancara : Online

A. Aspek Guru Sebagai Pembimbing

P: Apakah dalam pelaksanaan pembelajaran guru meluruskan murid ketika ada kesalah

J: Guru tentu meluruskan ketika murid melakukan kesalahan,

P : Bagaimana cara guru membimbing murid yang melakukan kesalahan?

J: Dengan cara menunjukkan kesalahan murid kemudian menunjukkan dan membimbing murid untuk meluruskan dan memperbaiki kesalahan tersebut.

P : Mengapa hal tersebut dilakukan oleh guru? Apakah ada dampaknya untuk murid?

J: Hal tersebut dilakukan oleh guru karena rasa kasih sayang dan cinta kepada muridnya karena landasan pendidikan adalah rasa cinta dan kasih sayang, hal tersebut akan berdampak kepada murid agar murid tidak mengulangi kesalahan yang sama kembali.

P : Apakah Guru memberikan contoh pengamalan yang baik kepada murid?

J: Dalam mendidik muridnya guru harus memberikan contoh pengamalan yang baik , guru juga seringkali menggabungkan pengamalan guru dengan muridnya secara langsung.

P : Apakah guru menggabungkan contoh pengamalan dirinya dan pengamalan yang dilakukan siswa dan bagaimana caranya?

J: Tentu. Cara yang dilakukan yakni dengan memberikan contoh pengamalan kecil yang dilakukan sehari-hari.

B. Aspek Guru Sebagai Pemberi Pengalaman

P : Apakah dalam penyusunan perencanaan pembelajaran guru mempertimbangan pengalaman siswa?

J: Dalam penyusunan perencanaan pembelajaran guru mempertimbangkan pengalaman murid agar efektif dan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

P: Bagaimana cara guru memperhatikan dan memberikan pengalaman yang dimiliki guru?

J: Hal tersebut dilakukan dengan cara memberikan pendekatan personal atau kelompok, sesekali menceritakan pengalaman personal untuk dibagikan kepada para muridnya, karena sekecil apapun pengalaman yang diceritakan tetap akan menjadi pembelajaran yang berguna, murid akan mendapatkan hikmah dari cerita tersebut.

P : Dalam aspek pelaksanaan pembelajaran, apakah guru menjawab permasalahan murid dan memberikan solusi atas masalahnya?

J: Dalam aspek pembelajaran guru sudah seharusnya untuk menjawab permasalahan murid dan memberikan solusi atas masalahnya.

P: Bagaimana cara guru memberikan jawaban atas masalah dan memberikan solusi?

J: Hal tersebut dilakukan dengan cara memberikan penjelasan dengan cara yang sederhana dengan disertai contoh yang sesimpel mungkin.

C. Aspek Ikatan Guru dan Murid

P: Apakah dalam melaksanakan proses pembelajaran guru tidak mengeluh?

J: Dalam melaksanakan proses pembelajaran guru tidak seharusya mengeluh, walaupun secara manusiawi sifat lelah pasti akan dirasakan oleh guru, tetapi harus dihadapi dengan rasa yang sabar dan ikhlas.

P: Bagaimana cara untuk terus ikhlas dalam mendidik siswanya?

J: Cara untuk terus merasa ikhlas dalam mendidik murid dengan diniatkan semata-mata untuk mencari ridho Allah SWT kemudian mempunyai pemahaman bahwa murid seakan-akan anak kandung guru itu sendiri.

P: Apakah guru saling mendoakan siswanya saat pembelajaran dan diluar pembelajaran?

J: Guru dan siswa harus saling mendoakan saat diluar pembelajaran karena doa termasuk ikhtiar dalam pendidikan.

P: Mengapa hal itu perlu dilakukan?

J: Hal ini perlu dilakukan karena memang inilah yang diajarkan oleh salafus sholih, dan pendidikan adalah sebuah rasa cinta yang terimplementasi dalam bentuk doa.

D. Aspek Guru Mengawasi Murid

P: Apakah dalam proses evaluasi sebelum dan setelahnya guru mengawasi siswa?

J: Proses evaluasi dalam pembelajaran dan diluar evaluasi pembelajaran guru sudah pasti melakukan pengawasan dan evaluasi dengan baik.

P: Apakah guru bertanggung jawab dan mengawasi siswa hanya saat pembelajaran saja? Atau juga dalam kehidupan sehari-hari?

J: Guru tidak bertanggung jawab dan mengawasi siswanya hanya saat pembelajaran saja, tetapi diluar itu juga harus selalu mengawasi dalam kehidupan sehari-hari.

P: Bagaimana cara mengawasi siswa dalam proses evaluasi dan bahkan dalam kehidupannya sehari-hari?

J: Cara yang dilakukan oleh guru dalam melakukan proses evaluasi bahkan dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan memberikan work sheet atau semacam lembar kerja yang disitu memuat kegiatan sehari-hari pada saat di luar jam pembelajaran walaupun nanti dibawah arahan orang tua masing-masing.

P: Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?

J: Hal tersebut perlu dilakukan agar guru tahu sejauh mana pengamalan tentang materi yang dipelajari.

E. Aspek Pembicaraan antara Guru dengan Murid dilakukan dengan Kasih Sayang

P: Apakah guru berhati-hati dalam bertutur kata, dan menghindari cacian kepada siswa?

J: Guru harus berhati-hati dalam bertutur kata dan tentu saja menghindari cacian kepada siswa.

P: Bagaimana cara melakukan pembiasaan tersebut?

J: Cara melakukan pembiasaan baik tersebut adalah dengan melakukan pembiasaan sejak dini dalam bertutur kata yang baik, dengan sesama murid sekedar contoh kalau orang jawa, dengan membiasakan bertutur kata dengan bahasa kromo inggil baik dengan guru atau sesama murid.

P: Apakah guru memperhatikan perbedaan cara belajar siswa?

J: Hal ini perlu dilakukan karena sangat penting sebagai dasar pendidikan, dengan dilakukan pembiasaan tersebut murid akan mengerti pentingnya adab dan bertutur kata yang baik, karena pada dasarnya posisi adab berada di atas ilmu.

P: Bagaimana cara menggunakan media yang tepat sesuai dengan perbedaan siswa?

J: Guru tentu memperhatikan perbedaan cara belajar siswa karena karakter yang sangat beragam. Guru dapat melakukan hal tersebut dengan cara menggunakan media yang ssesuai dengan menggunakan media yang digunakan baik itu tulisan maupun suara.

P: Apakah guru mendidik dengan sabar dan lemah lembut?

J: Guru juga mendidik siswanya dengan cara yang sabar dan lemah lembut.

P: Bagaimana cara guru agar selalu sabar dan lemah lembut?

J: Guru membiasakan mendidik siswa dengan sabar dan lemah lembut dengan cara selalu menetapkan kepada hati bahwa memang begitulah yang diajarkan oleh Rasulullah, dan memang Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa menyampaikan dakwah harus dengan cara yang lemah lembut.

P: Mengapa guru harus selalu sabar dan lemah lembut?

J: Guru harus bersifat sabar dan lemah lembut karena memang disamping ajaran agama sebagai guru juga wajib memberikan contoh yang baik kepada muridnya.

F. Aspek Mursyid merupakan Sumber dari Sarana Keilmuan dan Bersanad bagi Murid

P: Apakah guru harus selalu memberikan ilmu yang valid dengan pengalamannya dalam pembelajaran?

J: Guru harus memberikan ilmu yang valid degan pengalamannya dalam pembelajaran.

P: Sumber belajar seperti apa yang digunakan oleh guru?

J: Cara memberikan ilmu yang valid adalah dengan sumber yang relevan seperti Al-Qur’an, Hadits, ‘Ijma Ulama dengan mengkaji literatur kitab-kitab klasik. Cara guru memberikan ilmu dan pengalamannya kepada siswa dengan cara menjelaskan secara sederhana sehingga dapat dipahami dengan baik oleh murid.

P: Apakah guru membolehkan siswanya belajar dengan sumber lain, dan bagaimana mengetahui sumber lain yang dipakai siswa itu valid?

J: Dalam hal ini guru membolehkan muridnya belajar dengan sumber lain yang relevan karena untuk saat ini memang era digital jadi dapat memanfaatkan internet

untuk mempermudah pencaririan dan belajar tetapi tetap dengan pengawasan guru atau dengan situs yang direkomendasikan guru.Cara mengetahui sumber lain yang dipakai oleh murid itu valid adalah dengan cara mengkontrol dan mengawasi sumber belajar siswanya dengan sumber aslinya.

P: Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?

J: Hal tersebut perlu dilakukan karena untuk mencegah terjadinya kesalahan murid.

P: Apakah dalam proses pembelajaran guru harus mempunyai sanad guru yang jelas? Dan Bagaimana cara membuktikannya?

J: Dalam proses pembelajaran guru harus mempunyai sanad yang jelas, apalagi ilmu agama dan Al-Qur’an hal tersebut sangat penting. Cara untuk membuktikannya adalah dengan cara adanya bukti tulisan sanad yang menyambung sampai kepada Rasulullah

P: Mengapa sanad itu penting dalam pembelajaran?

J: Sanad sangat penting dalam pembelajaran karena sanad merupakan bukti otentik bahwa ilmu yang diajarkan valid dan bersumber dari Rasulullah.

Narasumber,

Mr. Muhammad Azhari Bahar, M.Pd

Hasil Wawancara Nama Narasumber: Ms. Kuni Afifah Hasan, M.Hi Jabatan: Islamic Teacher

Tarekat : Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah Waktu Penelitian: Selasa, 29 September 2020 Media wawancara : Video Call WhatApps A. Aspek Guru Sebagai Pembimbing

P: Apakah dalam pelaksanaan pembelajaran guru meluruskan murid ketika ada kesalahan?

J : Sudah seharusnya dalam pelaksanaan pembelajran semua guru meluruskan ketika murid melakukan kesalahan, apalagi guru yang bertarekat, tanggung jawab dalam meluruskan murid menjadi sangat besar.

P : Bagaimana cara guru membimbing murid yang melakukan kesalahan?

J : Guru bisa menegurnya secara halus, melakukan pembiasaan yang baik dan tentunya memberikan contoh untuk meluruskan kesalahan yang dilakukan oleh murid.

P : Mengapa hal tersebut dilakukan oleh guru? Apakah ada dampaknya untuk murid?

J : Hal tersebut akan berdampak dalam pembentukan akhlak dan penanaman walaupun tidak langsung dapat dilihat oleh guru saat itu juga, tetapi akan membekas dan menjadi kebiasaan baik.

P : Apakah Guru memberikan contoh pengamalan yang baik kepada murid?

J : Guru harus selalu membagikan contoh-contoh pengamalan yang baik agar menjadi kebiasaan baik juga terhadap siswanya.

P : Apakah guru menggabungkan contoh pengamalan dirinya dan pengamalan yang dilakukan siswa?

J : Tentu, murid akan lebih mudah menerima jika meniru dan mengaplikasikan apabila hal tersebut dicontohkan atau diambil dari kisah pengalaman gurunya.

B. Aspek Guru Sebagai Pemberi Pengalaman

P : Apakah dalam penyusunan perencanaan pembelajaran guru mempertimbangan pengalaman siswa?

J : Guru senantiasa memahami dan menyesuaikan atas pengalaman dan kondisi siswanya, termasuk dalam membuat perencanaan pembelajaran, harus berdasarkan kondisi siswanya, apalagi saat pandemic covid dan masa LDL (long distance Learning) guru harus lebih inspiratif dan fleksibel terhadap kondisi dan pengalaman siswanya.

P: Bagaimana cara guru memperhatikan dan memberikan pengalaman yang dimiliki guru?

J : Guru membagikan pengalaman yang dimilikinya dengan cara bercerita dan mengambil hikmah atas permasalahan yang sesuai dengan kondisi murid, guru akan memberikan pemahaman dan pengertian bahwa guru pernah merasakan masalah serupa dari pengalaman guru dan murid akan lebih mudah untuk memahami dan mengambil hikmahnya.

P : Dalam aspek pelaksanaan pembelajaran, apakah guru menjawab permasalahan murid dan memberikan solusi atas masalahnya?

J: Guru secara umum memang sudah seharusnya mampu menjawab dan memberikan solusi atas permasalahan siswanya, terlebih guru yang memahami dan menanamkan nilai ajaran tarekat, guru akan memahami bahwa anak murid adalah anugrah dari Allah dan semuanya sama, jadi tidak membedakan dan harus diberikan kasih sayang juga hak yang sama ke semua murid.

P: Bagaimana cara guru memberikan jawaban atas masalah dan memberikan solusi?

J : Guru menjawab permasalahan dan memberikan solusi atas apa yang dirasakan oleh muridnya dengan berdasarkan pengalaman guru, biasanya guru yang sudah berpengalaman akan mampu memahami kondisi muridnya lebih mudah dan lebih intens dalam menjawab permasalahan yang dirasakan oleh murid, guru harus mampu memberikan solusi untuk memudahkan muridnya dalam proses pembelajaran.

C. Aspek Ikatan Guru dan Murid

P: Apakah dalam melaksanakan proses pembelajaran guru tidak mengeluh?

J : Saat menjalani proses pembelajaran kondisi guru juga sangat mempengaruhi, tetapi seorang guru tidak boleh mengeluh apalagi sampai terdengar oleh muridnya, guru yang bertarekat akan memahami bahwa anak murid adalah titipan Allah dan harus dituntun mencari ilmu dan mendapatkan ridho dari guru tersebut, makanya sangat penting bagi guru untuk berhati-hati dalam mendidik supaya murid mampu memahami dengan baik dan tidak menimbulkan masalah bagi guru tersebut.

P: Bagaimana cara untuk terus ikhlas dalam mendidik siswanya?

J : Guru yang bertarekat memberikaan pengalamannya yang diambil dari gurunya yang mampu mengajarkan ilmu dengan ikhlas, dan tanpa mengeluh dengan kondisi dan permasalahan yang ditanggungnya, jadi guru saat pembelajaran juga menerapkan hal tersebut karena meyakini bahwa hal tersebut akan memudahkan siswanya dalam belajar.

P: Apakah guru saling mendoakan siswanya saat pembelajaran dan diluar pembelajaran?

J : Guru saling mendoakan terhadap siswanya, saat di sekolah ada pengajian rutin yang didalamnya pasti include saling mendoakan antara guru dan muridnya, bahkan setiap akhir tahun akan ada doa bersama sebelum ujian untuk saling mendoakan, itu secara formal di mumtaza sudah ada aspek saling mendoakan antara guru dengan muridnya. Kalau secara individu itu kembali kepada guru masing-masing karena tidak semua guru mempunyai pemahaman ilmu keagamaan yang luas sama rata, kalau seharusnya memang guru mendoakan baik saat pembelajaran atau diluar pembelajaran, minimal saat sebelum pelajaran dimulai.

P: Mengapa hal itu perlu dilakukan?

J : Hal tersebut akan berdampak pada kondisi psikologis siswa, bahkan ada yang meyakini bahwa siswa yang agak bandel perlu di doakan secara lebih, kadang dibacakan surat Al-fathihah secara khusus, kadang riyadhoh puasa secara khusus untuk mendoakan secara lebih terhadap muridnya.

D. Aspek Guru Mengawasi Murid

P: Apakah dalam proses evaluasi sebelum dan setelahnya guru mengawasi siswa?

J : Guru bertanggung jawab dan mengawasi muridnya saat evaluasi pembelajaran itu sudah pasti, untuk menghindari hal-hal yang kurang baik yang dilakukan oleh murid

P: Apakah guru bertanggung jawab dan mengawasi siswa hanya saat pembelajaran saja? Atau juga dalam kehidupan sehari-hari?

J : Seorang guru sudah seharusnya bertanggung jawab dan mengawasi murid tidak hanya saat pembelajaran saja, bahkan saat kehidupan sehari-hari.

P: Bagaimana cara mengawasi siswa dalam proses evaluasi dan bahkan dalam kehidupannya sehari-hari?

J : Guru bisa menggunakan media social untuk mengawasi murid muridnya, “saya menggunakan social media sebagai pengawasan kepada muridnya, jadi seperti stalk artis, saya lihat-lihat story what’sapps nya dan sebagainya” sharing dengan orang tua atau wali murid juga harus intens dilakukan karena hal itu akan membentuk rasa kepedulian kepada muridnya. Orang tua / wali murid merupakan perpanjangan tangan guru saat diluar pembelajaran.

P: Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?

J: Hal tersebut perlu dilakukan supaya saling terbentuk rasa cinta dan terbentuk ikatan yang kuat antar keduanya.

E. Aspek Pembicaraan antara Guru dengan Murid dilakukan dengan Kasih Sayang

P: Apakah guru berhati-hati dalam bertutur kata, dan menghindari cacian kepada siswa?

J: Guru harus berhati-hati dalam bertutur kata dan menghindari cacian kepada muridnya, guru harus menggunakan bahasa yang halus, lemah lembut dan memberikan contoh ucapan-capan yang baik sehingga akan bisa dicontoh oleh murid secara langsung.

P: Bagaimana cara melakukan pembiasaan tersebut?

J : Cara melakukan pembiasaan tutur kata yang baik dan menghindari cacian harus dilakukan secara rutin dan pemberian contoh langsung oleh guru, baik guru terhadap murid ataupun guru saat berinteraksi dengan sesama guru. “Kadang murid yang lebih tua juga sudah mampu mengawasi murid yang lebih muda ketika mengucapkan kata yang “bad word” sehingga akan memberikan pengawasan secara mandiri dan membiasakan bertutur kata yang baik dan berakhlak mulia.

P: Apakah guru memperhatikan perbedaan cara belajar siswa?

J : Guru sudah seharusnya menganalisis dan memperhatikan cara belajar siswa yang berbeda-beda dan bermacam-macam, karena kondisi dan pengalaman muridnya beda dan harus diberikan pemahaman materi dengan cara yang berbeda-beda.

P: Bagaimana cara menggunakan media yang tepat sesuai dengan perbedaan siswa?

J : Cara menggunakan media belajar harus disesuaikan dengan kondisi dan keadaan siswanya, saat pandemic biasanya guru berkomunikasi intens dengan orangtua untuk menentukan media yang akan digunakan dan disesuaikan dengan kebutuhan muridnya.

P: Apakah guru mendidik dengan sabar dan lemah lembut?

J : Sabar dan lemah lembut merupakan aspek yang harus dimiliki oleh guru, sifat sabar dan lemah lembut guru diambil dari pengalamannya di tarekat dan mengaplikasikannya pada saat pembelajaran.

P: Bagaimana cara guru agar selalu sabar dan lemah lembut?

J: Guru harus meyakini apabila ilmu itu harus disampaikan dengan sabar dan lemah lembut maka akan sampai dengan mudah kepada muridnya dan tidak akan membebani muridnya.Guru meyakini bahwa anak murid adalah titipan Allah dan harus diperlakukan dengan sabar dan lemah lembut, guru di sekolah adalah implementasi khalifah sebagai tugas manusia yakni memimpin, guru merupakan pemimpin bagi muridnya sehingga harus sabar dan bersifat lemah lembut kepada muridnya.

P: Mengapa guru harus selalu sabar dan lemah lembut?

J: Hal ini perlu dilakukan oleh guru untuk dijadikan pembiasaan dan penanaman nilai-nilai akhlak yang baik yang dilakukan oleh murid dalam kehidupan sehari-hari.

F. Aspek Mursyid merupakan Sumber dari Sarana Keilmuan dan Bersanad bagi Murid

P: Apakah guru harus selalu memberikan ilmu yang valid dengan pengalamannya dalam pembelajaran?

J : Guru harus memberikan ilmu yang valid dari sumber belajar dan pengalaman gurunya, artinya validitas guru harus benar-benar dipastikan oleh gurunya, sehingga sudah dipastikan ilmu yang di dapatkan oleh murid bersifat valid dan dapat dipertanggung jawabkan.

P: Sumber belajar seperti apa yang digunakan oleh guru?

J: Sumber belajar yang digunakan oleh guru adalah buku yang sudah diuji oleh koordinator guru dan dilakukan kajian terhadap materi yang disampaikan, sehingga materi tersebut bisa dipertanggung jawabkan dan teruji validitasnya.

P: Apakah guru membolehkan siswanya belajar dengan sumber lain, dan bagaimana mengetahui sumber lain yang dipakai siswa itu valid?

J : Sumber belajar yang digunakan murid tidak dibatasi, tetapi murid akan melaporkan sumber belajar yang digunakan sehingga ketika ada hal yang berbeda atas apa yang dipelajari dari buku utama, maka akan bisa di luruskan dan di pertanggung jawabkan oleh guru.

P: Mengapa hal tersebut perlu dilakukan?

J: untuk menghindari hal-hal yang tidak tepat, apalagi terkait ilmu agama, sumber yang tidak tepat dan tidak valid akan mempengaruhi hasil belajar.

P: Apakah dalam proses pembelajaran guru harus mempunyai sanad guru yang jelas? Dan Bagaimana cara membuktikannya?

J: Sanad keilmuan sangat penting dan harus dibuktikan dengan bisa menyebutkan gurunya sebelumnya

P: Mengapa sanad itu penting dalam pembelajaran?

J: Sanad guru menentukan keotentikan ilmu tersebut, sehingga ilmu agama jelas harus mempunyai sanad keguruan yang jelas.

Narasumber,

Ms. Kuni Afifah Hasan, M.HI