hana hukom bateu”
1. Olah Raga
2.3. Aspek Pelayanan Umum 1. Fokus Layanan Urusan Wajib 1.Fokus Layanan Urusan Wajib
2.3.1.1. Otonomi Daerah dan Tata Kelola Pemerintahan
Pemerintah Aceh memiliki otonomi khusus yang dimandatkan di dalam Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Kekhususan ini pada hakikatnya memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi Aceh untuk berkembang dan melaksanakan percepatan pembangunan. Namun demikian setelah lima tahun berjalan sejak ditetapkannya Undang-undang tersebut, Aceh masih menghadapi berbagai permasalahan pembangunan Aceh belum menggembirakan, bahkan belum lebih baik dari pada provinsi lainnya yang tidak memiliki kekhususan.
A. Pelaksanaan UUPA sebagai wujud MoU Helsinki
Pelaksanaan UUPA sebagai wujud MoU Helsinki belum optimal yang disebabkan oleh masih banyaknya peraturan pelaksanaan yang merupakan turunan dari UUPA yang belum dituntaskan sehingga menghambat pencapaian sasaran pembangunan. Di dalam naskah MoU Helsinki terdapat 71 butir kesepatakan yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sejumlah poin penting dari 71 butir kesepakatan tersebut masih belum diselesaikan, diantaranya masalah pengaturan sistem pengelolaan bandara dan pelabuhan laut, serta pertanahan.
BAB II - RPJM Aceh 2012-2017 | Aspek Pelayanan Umum 86
Beberapa peraturan perundang-undangan yang harus dibentuk agar UUPA dapat diimplementasikan, yaitu; Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan presiden (Perpres) dan Qanun. Peraturan Pemerintah yang harus diselesaikan sebanyak 9 (sembilan), yang sudah ditetapkan sebanyak 3 (tiga), 2 (dua) PP sedang dalam pembahasan dan penyelesaian, 4 (empat) belum ada draft, terhadap peraturan yang telah ditetapkan belum didukung dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaannya. Peraturan presiden yang harus ada sebanyak 3 (tiga), 2 (dua) sudah ditetapkan menjadi Perpres dan 1 (satu) belum ada draft. Qanun yang harus ada sebanyak 48 substansi judul qanun, yang sudah ditetapkan menjadi qanun sebanyak 27 (dua puluh tujuh) substansi judul qanun dan 21 (dua puluh satu) belum ditetapkan menjadi Qanun Aceh.
Untuk menindaklanjuti hal tersebut di atas, Pemerintah Aceh berupaya untuk: 1) membentuk tim percepatan penyelesaian aturan pelaksana UUPA Nomor 11 Tahun 2006 tersebut; 2) membentuk tim sosialisasi UUPA Nomor 11 Tahun 2006 kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat; 3) membentuk tim review UUPA Nomor 11 Tahun 2006 terhadap butir-butir Mou Helsinki yang belum tertampung di dalam UUPA Nomor 11 Tahun 2006; dan 4) membentuk tim koordinasi, pemantauan dan evaluasi OTSUS dan TDBH Migas Aceh.
B. Pengelolaan Keuangan Daerah
Pengelolaan keuangan dan aset daerah baik di lingkup pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota di Aceh pada umumnya belum berjalan efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Hal ini tergambar dari hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada tahun 2011 terhadap pengelolaan keuangan tahun 2010 di Aceh yang pada umumnya masih dalam kategori Wajar Dengan Pengecualian (WDP). Dengan kata lain, hanya 4 (empat) Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota) yang memperoleh predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan 1 (satu) Pemerintah Daerah (Kabupaten) yang memperoleh predikat Tidak Wajar (TW). Pemerintah Kabupaten/Kota yang memperoleh WTP adalah Kabupaten Aceh Tengah, Banda Aceh, Nagan Raya dan Lhokeseumawe. Sementara itu, Kabupaten Simeulue memperoleh predikat TW. Demikian juga, angka dugaan korupsi di Aceh yang tergolong tinggi yang menempatkan Aceh pada posisi lima besar daerah penyumbang kerugian negara akibat korupsi di Indonesia.
Dalam hal belanja pemerintah masih belum terjadinya efisiensi dalam penggunaan anggaran dan belum efektifnya pelaksanaan kegiatan. Hal ini terlihat dari hasil rekapitulasi belanja langsung (65%) dan belanja tidak langsung (35%). Belanja langsung ini pada hakikatnya ditujukan untuk membiayai kegiatan yang manfaatnya diterima langsung oleh
87 BAB II - RPJM Aceh 2012-2017 | Aspek Pelayanan Umum
masyarakat. Namun, dalam belanja langsung masih juga terdapat belanja tidak langsung seperti belanja yang digunakan aparatur untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
Menurut laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan semester II BPK-RI tahun 2011, temuan mengenai ketidakhematan mengungkap adanya penggunaan input dengan harga atau kuantitas/kualitas yang lebih tinggi harga standar, kuantitas/kualitas yang melebihi kebutuhan, dan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan pengadaan serupa pada waktu yang sama. Dalam laporan ini juga diungkapkan bahwa penyebab kasus-kasus ketidakhematan ini pada umumnya terjadi karena pejabat yang bertanggungjawab lalai, tidak cermat, belum optimal dalam melaksanakan tugas, tidak mempedomani ketentuan yang berlaku, serta lemah dalam pengawasan dan pengendalian.
C. Organisasi, Tata Kelola dan Sumber Daya Aparatur
Fungsi organisasi Pemerintah Aceh masih belum maksimal yang terlihat dari adanya tumpang tindih tupoksi kelembagaan dan beban kerja instansi pemerintah yang belum seimbang. Tata kelola Pemerintahan belum dilaksanakan secara baik yang tergambar dari belum efisien dan efektifnya penggunaan anggaran, distribusi aparatur yang tidak merata dan penempatan aparatur yang tidak sesuai dengan keahliannya, belum efisien dan efektifnya pelaksanaan tugas karena terbatasnya sarana dan prasarana pendukung. Selanjutnya, sumber daya aparatur yang masih lemah, hal ini tergambar dari belum optimalnya kinerja aparatur dalam memberikan layanan kepada masyarakat.
Rendahnya kualitas pembangunan secara menyeluruh disebabkan belum optimalnya fungsi perencanaan, penganggaran, pengawasan dan evaluasi pembangunan. Fungsi perencanaan dan penganggaran pembangunan harus berada dalam sistem yang terpadu (terintegrasi) sejak dari awal hingga implementasi hingga monitoring dan evaluasi. Demikian juga dengan pengawasan belum memiliki sistem yang kuat, terintegrasi dengan sistem dan siklus perencanaan serta penganggaran.
Organisasi Pemerintah Aceh belum memiliki institusi khusus untuk menjalankan fungsi kelitbangan. Kondisi ini membuat Aceh masih memiliki keterbatasan untuk meningkatkan daya saing daerah terkait masih minimnya invonasi untuk mendukung daya saing daerah. Untuk memaksimalkan peran kelitbangan tersebut, beberapa daerah di
Indonesia telah mendirikan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah
(Balitbangda/BPP) yaitu di 22 Provinsi, 33 Kabupaten dan 6 Kota. Ini sesuai dengan Permendagri No.20 tahun 2011 yang menyatakan agar daerah mendirikan Badan Penelitian dan Pengembangan untuk menunjang optimalisasi pembangunan daerah paling lambat dua tahun setelah diundangkannya peraturan menteri tersebut (pasal 60 ayat 1).
BAB II - RPJM Aceh 2012-2017 | Aspek Pelayanan Umum 88
Efisiensi dan efektifivitas pelaksanaan tugas instansi belum didukung kebijakan, sarana dan prasarana yang memadai untuk pengembangan sistem elektronik
pemerintahan (
e-government
), yang meliputi; kebijakane-office
(pengembanganwebsite
,e-administrasi umum/manajemen dokumen elektronik (e-arsip), administrasi keuangan elektronik/sistem keuangan elektronik, dan administrasi kepegawaian elektronik/simpeg),
kebijakan