II. KAMBING GEMBRONG
4.15 Aspek Sosial Budaya Sapi Putih Taro
Desa Taro Utara (kaja) yang dahulu bernama desa Sarwa Ada terdapat sapi putih (albino) yang sangat ber-peran dalam menunjang pelaksanaan korban suci (yadnya) yang ada di Bali dan menyediakan serana obat bagi mereka yang menderita penyakit non mendis, baik yang berasal dari Desa setempat maupun dari Desa sekitarnya.
Desa Pakraman Taro ini sedikit berbeda dengan Desa pekraman lainnya yang ada di Bali. Di desa ini tidak memiliki kayangan tiga (pura puseh, pura desa, dan pura dalem) seperti desa pakraman lainnya di Bali. Di desa ini hanya ada pengayengan pura prajapati dan kuburan tempat penduduk melaksanakan upacara pitra yadnya.
Namun, di Desa ini terdapat pura besar, yakni pura agung Gunung Raung.
Gambar 4.14. Pura Nandini dan patung Sapi Nandini Menurut bapak Ketut Telaga (Pemangku pura agung Gunung Raung), pura Gunung Raung merupakan Pelinggih Sang Hyang Ciwa. Pura ini telah ada sejak jaman dahulu piodalannya jatuh pada hari rebo kliwon, wuku ugu (dalam
penanggalan Bali) yang datang setiap 210 hari. Upacara piodalan dilaksanakan tepat pukul 24.00 (wita). Penutupan upacara piodalan dilaksanakan setelah 14 hari upacara puncak dilaksanakan. Hal ini dilaksanakan untuk membe-rikan kesempatan masyarakat untuk bersembah yang di pura tersebut, baik yang berasal dari Desa Taro sendiri maupun yang berasal dari Desa lainnya.
Di Desa ini juga terdapat pura Nandini dan patung Sapi Nandini (Gambar 4.14) yang berdiri megah di sekitar areal peternakan sapi putih tersebut. Di dalam ceritra Mahadewa diceritrakan bahwa Nandini adalah siswa kesa-yangan Sang Hyang Ciwa, sehingga sapi ini selalu meladeni dewa Ciwa kemanapun beliau pergi. Patung Sapi Nandini yang berdiri megah di tengah-tengan areal wisata sapi putih taro tersaji pada Gambar 4.14.
Semua sapi putih yang ada di Desa Taro dapat digu-nakan untuk menunjang pelaksanaan yadnya di Bali.
Namun, yang sering dipilih adalah sapi yang betina karena lebih jinak, sehingga lebih mudah menanganinya. Sapi betina yang dipilih adalah sapi betina yang ujung tanduknya kecil dan lancip, agar mole-mole (cincin emas) bisa dimasukkan ke tanduk tersebut. Masyarakat Desa Taro tidak ada yang mengetahui sejak kapan sapi ini ada di Desanya, karena sapi ini diwarisi dari leluhurnya secara turun tumurun.
Perlakuan terhadap sapi putih taro sebelum tahun 2012 sedikit berbeda dengan perlakuan yang dilakukan sekarang. Sebelum tahun 2012, sapi putih tersebut dilepas bebas di areal yang luasnya 27 hektar. Sapi mencari pakan sendiri di areal tersebut dan juga di areal pertanian penduduk. Kendatipun sapi mencari makanan di areal pertanian mereka, tak seorangpun yang berani menghujat dan memberikan hukuman fisik pada sapi tersebut, karena sapi tersebut diyakini milik Pura Agung Gunung Raung
4.15 Aspek Sosial Budaya Sapi Putih Taro
Desa Taro Utara (kaja) yang dahulu bernama desa Sarwa Ada terdapat sapi putih (albino) yang sangat ber-peran dalam menunjang pelaksanaan korban suci (yadnya) yang ada di Bali dan menyediakan serana obat bagi mereka yang menderita penyakit non mendis, baik yang berasal dari Desa setempat maupun dari Desa sekitarnya.
Desa Pakraman Taro ini sedikit berbeda dengan Desa pekraman lainnya yang ada di Bali. Di desa ini tidak memiliki kayangan tiga (pura puseh, pura desa, dan pura dalem) seperti desa pakraman lainnya di Bali. Di desa ini hanya ada pengayengan pura prajapati dan kuburan tempat penduduk melaksanakan upacara pitra yadnya.
Namun, di Desa ini terdapat pura besar, yakni pura agung Gunung Raung.
Gambar 4.14. Pura Nandini dan patung Sapi Nandini Menurut bapak Ketut Telaga (Pemangku pura agung Gunung Raung), pura Gunung Raung merupakan Pelinggih Sang Hyang Ciwa. Pura ini telah ada sejak jaman dahulu piodalannya jatuh pada hari rebo kliwon, wuku ugu (dalam
penanggalan Bali) yang datang setiap 210 hari. Upacara piodalan dilaksanakan tepat pukul 24.00 (wita). Penutupan upacara piodalan dilaksanakan setelah 14 hari upacara puncak dilaksanakan. Hal ini dilaksanakan untuk membe-rikan kesempatan masyarakat untuk bersembah yang di pura tersebut, baik yang berasal dari Desa Taro sendiri maupun yang berasal dari Desa lainnya.
Di Desa ini juga terdapat pura Nandini dan patung Sapi Nandini (Gambar 4.14) yang berdiri megah di sekitar areal peternakan sapi putih tersebut. Di dalam ceritra Mahadewa diceritrakan bahwa Nandini adalah siswa kesa-yangan Sang Hyang Ciwa, sehingga sapi ini selalu meladeni dewa Ciwa kemanapun beliau pergi. Patung Sapi Nandini yang berdiri megah di tengah-tengan areal wisata sapi putih taro tersaji pada Gambar 4.14.
Semua sapi putih yang ada di Desa Taro dapat digu-nakan untuk menunjang pelaksanaan yadnya di Bali.
Namun, yang sering dipilih adalah sapi yang betina karena lebih jinak, sehingga lebih mudah menanganinya. Sapi betina yang dipilih adalah sapi betina yang ujung tanduknya kecil dan lancip, agar mole-mole (cincin emas) bisa dimasukkan ke tanduk tersebut. Masyarakat Desa Taro tidak ada yang mengetahui sejak kapan sapi ini ada di Desanya, karena sapi ini diwarisi dari leluhurnya secara turun tumurun.
Perlakuan terhadap sapi putih taro sebelum tahun 2012 sedikit berbeda dengan perlakuan yang dilakukan sekarang. Sebelum tahun 2012, sapi putih tersebut dilepas bebas di areal yang luasnya 27 hektar. Sapi mencari pakan sendiri di areal tersebut dan juga di areal pertanian penduduk. Kendatipun sapi mencari makanan di areal pertanian mereka, tak seorangpun yang berani menghujat dan memberikan hukuman fisik pada sapi tersebut, karena sapi tersebut diyakini milik Pura Agung Gunung Raung
yang sangat disakralkan di desa tersebut. Pada saat itu, jika sapi betina milik penduduk dikawini oleh sapi milik pura, maka bila anak yang lahir dari perkawinan tersebut berwarna putih maka dipersembahkan ke pura Agung Gunung Raung oleh petani yang memiliki sapi induk tersebut. Sarana banten yang menyertai persembahan tersebut adalah, pras ajengan santun dan penyeneng yang dipuput oleh bapak I ketut Telaga (pemangku pura setempat). Selanjutnya, sapi tersebut menjadi milik pura.
Sejak tahun 2012 sapi milik pura dikandangkan, sehingga kebutuhan pakan dan air minum dibawakan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan desa setempat. Sejak dahulu perlakuan terhadap sapi putih taro sangat berbeda dengan perlakuan pada sapi Bali pada umumnya. Sapi putih yang baru lahir dibuatkan upakara (banten) pejati, pras penyeneng, dan jerimpen yang dipuput oleh pemangku khusus. Setiap hari sabtu kliwon uku uye (“tumpek kandang”), sesuai penanggalan Bali yang datang setiap 210 hari, maka semua sapi putih dibuatkan otonan dengan menggunakan serana banten, pejati asoroh, pras penyeneng, dan jerimpen yang dipuput oleh pemangku khusus untuk itu. Pada hari tumpek kandang, juga dibuat banten bencah yang dipersembahkan pada patung sapi Nandini yang berdiri megah di areal peternakan sapi putih itu dan dipuput oleh pemangku pura tersebut.
Sapi putih taro tidak boleh dibeli untuk dipelihara atau untuk di potong, baik untuk dikonsumsi maupun digunakan sebagai serana upakara. Sebagai akibatnya, semakin hari populasinya semakin bertambah. Jika sapi putih ini mati (seda) akan dikubur pada kuburan khusus yang luasnya sekitar 2 are (Gambar 4.15) dan dibuatkan banten ajuman sebanyak 5 buah (tanding) dan dipuput oleh pemangku.
Gambar 4.15. Areal kuburan khusus untuk lembu putih taro yang mati
yang sangat disakralkan di desa tersebut. Pada saat itu, jika sapi betina milik penduduk dikawini oleh sapi milik pura, maka bila anak yang lahir dari perkawinan tersebut berwarna putih maka dipersembahkan ke pura Agung Gunung Raung oleh petani yang memiliki sapi induk tersebut. Sarana banten yang menyertai persembahan tersebut adalah, pras ajengan santun dan penyeneng yang dipuput oleh bapak I ketut Telaga (pemangku pura setempat). Selanjutnya, sapi tersebut menjadi milik pura.
Sejak tahun 2012 sapi milik pura dikandangkan, sehingga kebutuhan pakan dan air minum dibawakan oleh petugas yang ditunjuk oleh pimpinan desa setempat. Sejak dahulu perlakuan terhadap sapi putih taro sangat berbeda dengan perlakuan pada sapi Bali pada umumnya. Sapi putih yang baru lahir dibuatkan upakara (banten) pejati, pras penyeneng, dan jerimpen yang dipuput oleh pemangku khusus. Setiap hari sabtu kliwon uku uye (“tumpek kandang”), sesuai penanggalan Bali yang datang setiap 210 hari, maka semua sapi putih dibuatkan otonan dengan menggunakan serana banten, pejati asoroh, pras penyeneng, dan jerimpen yang dipuput oleh pemangku khusus untuk itu. Pada hari tumpek kandang, juga dibuat banten bencah yang dipersembahkan pada patung sapi Nandini yang berdiri megah di areal peternakan sapi putih itu dan dipuput oleh pemangku pura tersebut.
Sapi putih taro tidak boleh dibeli untuk dipelihara atau untuk di potong, baik untuk dikonsumsi maupun digunakan sebagai serana upakara. Sebagai akibatnya, semakin hari populasinya semakin bertambah. Jika sapi putih ini mati (seda) akan dikubur pada kuburan khusus yang luasnya sekitar 2 are (Gambar 4.15) dan dibuatkan banten ajuman sebanyak 5 buah (tanding) dan dipuput oleh pemangku.
Gambar 4.15. Areal kuburan khusus untuk lembu putih taro yang mati
BAB V.
SAPI BALI 5.1 Taksonomi Sapi
Dalam kamus Bahasa Bali lembu adalah sampi mapunuk dan mabulu ngendih, sedangkan putih adalah Petak. Jadi lembu putih adalah sapi bali yang warnanya putih. Klasifikasi taksonomi bangsa sapi menurut Romans et al. (1994) adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata, Subphylum : Vertebrata, Class : Mamalia, Subclass : Theria, Infraclass : Eutheria, Ordo : Artiodactyla, Subordo : Ruminantia, Infraordo : Pecora, Family : Bovidae, Genus : Bos
Species : Bos Taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi India atau sapi zebu), Bos sondaicus/Bos javanicus/Bibos banteng
Menurut Aalfs (1934) dan Dalton (1823) yang dikutif oleh Meijer (1962), sapi bali berasal dari famili Bovidae didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar, yaitu Bos banteng (Bos sondaicus/Bos javanicus) dan domestikasi ini memungkinkan terjadi di Bali atau Jawa. Dugaan ini juga dikemukakan oleh Slijper (1954) dan Payne dan Rollinson (1973) yang melaporkan bahwa sapi bali adalah hasil domestikasi banteng liar yang ada di Bali, sehingga disebut sapi Bali.
5.2. Lokasi Pemeliharaan
Hasil survey pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa pemeliharaan sapi Bali menyebar hampir diseluruh kabupaten/kota di Bali. Berdasarkan informasi dari Disnak Provinsi Bali, pemeliharaan sapi Bali dengan jumlah populasi yang cukup ada di Kabupaten di Bali, yaitu Kabupaten Buleleng (136.189 ekor), Karangasem (135.507 ekor), dan Bangli (94.063 ekor) (Disnak 2011). Lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut ini:
Kabupaten Buleleng: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Anturan yang berlokasi di latitude -8.150194 (lintang utara) dan longitude 115.087702 (lintang selatan).
Kabupaten Karangasem: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Tumbu yang berlokasi di latitude -8.463 (lintang utara) dan longitude 115.62404 (lintang selatan).
Kabupaten Karangasem: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Seraya yang berlokasi di latitude -8.43931 (lintang utara) dan longitude 115.65221 (lintang selatan).
Kabupaten Bangli: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Sukawana yang berlokasi di latitude -8.190044 (lintang utara) dan longitude 115.320485 (lintang selatan).
Kabupaten Bangli: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Pengotan yang berlokasi di latitude -8.32852 (lintang utara) dan longitude 115.36032 (lintang selatan).
5.3 Lingkungan
Sapi Bali merupakan plasma nutfah Indonesia yang mana penyebarannya sangat luas di beberapa Provinsi di Indonesia. Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia
BAB V.
SAPI BALI 5.1 Taksonomi Sapi
Dalam kamus Bahasa Bali lembu adalah sampi mapunuk dan mabulu ngendih, sedangkan putih adalah Petak. Jadi lembu putih adalah sapi bali yang warnanya putih. Klasifikasi taksonomi bangsa sapi menurut Romans et al. (1994) adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata, Subphylum : Vertebrata, Class : Mamalia, Subclass : Theria, Infraclass : Eutheria, Ordo : Artiodactyla, Subordo : Ruminantia, Infraordo : Pecora, Family : Bovidae, Genus : Bos
Species : Bos Taurus (sapi Eropa), Bos indicus (sapi India atau sapi zebu), Bos sondaicus/Bos javanicus/Bibos banteng
Menurut Aalfs (1934) dan Dalton (1823) yang dikutif oleh Meijer (1962), sapi bali berasal dari famili Bovidae didomestikasi dari leluhurnya yang masih liar, yaitu Bos banteng (Bos sondaicus/Bos javanicus) dan domestikasi ini memungkinkan terjadi di Bali atau Jawa. Dugaan ini juga dikemukakan oleh Slijper (1954) dan Payne dan Rollinson (1973) yang melaporkan bahwa sapi bali adalah hasil domestikasi banteng liar yang ada di Bali, sehingga disebut sapi Bali.
5.2. Lokasi Pemeliharaan
Hasil survey pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa pemeliharaan sapi Bali menyebar hampir diseluruh kabupaten/kota di Bali. Berdasarkan informasi dari Disnak Provinsi Bali, pemeliharaan sapi Bali dengan jumlah populasi yang cukup ada di Kabupaten di Bali, yaitu Kabupaten Buleleng (136.189 ekor), Karangasem (135.507 ekor), dan Bangli (94.063 ekor) (Disnak 2011). Lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut ini:
Kabupaten Buleleng: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Anturan yang berlokasi di latitude -8.150194 (lintang utara) dan longitude 115.087702 (lintang selatan).
Kabupaten Karangasem: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Tumbu yang berlokasi di latitude -8.463 (lintang utara) dan longitude 115.62404 (lintang selatan).
Kabupaten Karangasem: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Seraya yang berlokasi di latitude -8.43931 (lintang utara) dan longitude 115.65221 (lintang selatan).
Kabupaten Bangli: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Sukawana yang berlokasi di latitude -8.190044 (lintang utara) dan longitude 115.320485 (lintang selatan).
Kabupaten Bangli: pemeliharaan secara semi intensif terdapat di Desa Pengotan yang berlokasi di latitude -8.32852 (lintang utara) dan longitude 115.36032 (lintang selatan).
5.3 Lingkungan
Sapi Bali merupakan plasma nutfah Indonesia yang mana penyebarannya sangat luas di beberapa Provinsi di Indonesia. Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia
yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dewasa ini disinyalir bahwa sapi bali telah mengalami degradasi genetik. Hal ini terlihat dari bobot badan sapi bali yang tidak seperti dulu. Hasil penelitian Meijer (1962) mendapatkan ukuran tubuh sapi bali jantan dewasa bibit yang meliputi panjang badan, tinggi pundak, lingkar dada dan tinggi pinggul masing-masing adalah 145 cm, 135 cm, 195 cm dan132 cm, sedangkan ukuran tubuh sapi bali betina masing-masing adalah 125 cm, 129 cm, 160 cm dan 116 cm. Sedangkan hasil penelitian Djagra (2002) men dapatkan ukuran tubuh sapi bali jantan dewasa bibit masing-masing adalah 121,7 cm, 117,7 cm, 170,3 cm dan 117,5 cm, sedangkan ukuran tubuh sapi bali betina masing-masing adalah 114,7 cm, 110,4 cm, 154,3 cm dan 110,8 cm.
Apabila penurunan mutu genetik ini terjadi terus menerus dan berjalan dalam kurun waktu yang lama, dikhawatirkan bahwa sapi bali sebagai salah satu plasma nutfah asli Indonesia terancam eksistensinya. Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan usaha perbaikan pada mutu genetik dan lingkungannya sehingga dihasilkan performans yang diharapkan menghasilkan sapi bali unggul yang tersertifikasi dimasa mendatang.
5.4 Karakteristik Sapi Bali
Sapi bali merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli Indonesia yang telah diakui oleh dunia. Sebagai satu bangsa sapi, sapi bali memiliki ciri khas (spesifik) yang
berbeda dengan bangsa sapi lain, dan ciri tersebut diturunkan dari generasi ke generasi secara konsisten.
5.4.1. Warna
Sapi bali memiliki warna merah bata saat baru lahir baik pada jenis kelamin yang jantan maupun yang betina.
Perubahan warna terjadi pada sapi jantan setelah mencapai dewasa kelamin menjadi hitam, sedangkan yang betina tetap sepanjang hidupnya. Namun warna putih pada ke empat kaki, bagian pantat dan bulu telinga bagian dalam serta warna hitam pada kaca hidung, bulu mata, tanduk, kuku, bulu ekor, dan garis hitam dibagian punggung sampai kepangkal ekor dimiliki oleh kedua jenis kelamin sapi bali.
Warna ini merupakan warna standar sebagai salah satu bangsa sapi di dunia.
Tetapi, disamping ciri khas tersebut, dijumpai pula beberapa kelainan warna, seperti warna hitam dari sejak lahir pada sapi jantan maupun betina, sehingga orang bali menamakannya sapi injin (warna beras hitam). Warna tubuh kuning, sedangkan kaca hidung, tanduk, pinggiran mata, dan kukunya berwarna merah muda (pink) juga dijumpai pada kedua jenis kelamin dan orang bali menyebutnya dengan sapi gading.
Di samping kedua kelainan warna di atas juga dijumpai sapi putih dibeberapa tempat di Bali. Sapi putih ini mempunyai ciri seluruh tubuhnya berwarna putih termasuk bulu mata dan ekornya, tidak ada garis hitam dibagian punggung seperti sapi bali pada umumnya. Kaca hidung, pinggiran mata, tanduk, dan kukunya berwarna merah muda (pink) seperti pada sapi gading akibat tidak adanya pigmentasi. Dilihat dari penampakan luarnya, seperti dari bentuk tubuh, kepala, tanduk, kaki, maupun besar tubuhnya tidak banyak perbedaan dengan sapi bali yang memiliki warna standar.
yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dewasa ini disinyalir bahwa sapi bali telah mengalami degradasi genetik. Hal ini terlihat dari bobot badan sapi bali yang tidak seperti dulu. Hasil penelitian Meijer (1962) mendapatkan ukuran tubuh sapi bali jantan dewasa bibit yang meliputi panjang badan, tinggi pundak, lingkar dada dan tinggi pinggul masing-masing adalah 145 cm, 135 cm, 195 cm dan132 cm, sedangkan ukuran tubuh sapi bali betina masing-masing adalah 125 cm, 129 cm, 160 cm dan 116 cm. Sedangkan hasil penelitian Djagra (2002) men dapatkan ukuran tubuh sapi bali jantan dewasa bibit masing-masing adalah 121,7 cm, 117,7 cm, 170,3 cm dan 117,5 cm, sedangkan ukuran tubuh sapi bali betina masing-masing adalah 114,7 cm, 110,4 cm, 154,3 cm dan 110,8 cm.
Apabila penurunan mutu genetik ini terjadi terus menerus dan berjalan dalam kurun waktu yang lama, dikhawatirkan bahwa sapi bali sebagai salah satu plasma nutfah asli Indonesia terancam eksistensinya. Untuk mengatasi hal ini maka diperlukan usaha perbaikan pada mutu genetik dan lingkungannya sehingga dihasilkan performans yang diharapkan menghasilkan sapi bali unggul yang tersertifikasi dimasa mendatang.
5.4 Karakteristik Sapi Bali
Sapi bali merupakan salah satu bangsa sapi lokal asli Indonesia yang telah diakui oleh dunia. Sebagai satu bangsa sapi, sapi bali memiliki ciri khas (spesifik) yang
berbeda dengan bangsa sapi lain, dan ciri tersebut diturunkan dari generasi ke generasi secara konsisten.
5.4.1. Warna
Sapi bali memiliki warna merah bata saat baru lahir baik pada jenis kelamin yang jantan maupun yang betina.
Perubahan warna terjadi pada sapi jantan setelah mencapai dewasa kelamin menjadi hitam, sedangkan yang betina tetap sepanjang hidupnya. Namun warna putih pada ke empat kaki, bagian pantat dan bulu telinga bagian dalam serta warna hitam pada kaca hidung, bulu mata, tanduk, kuku, bulu ekor, dan garis hitam dibagian punggung sampai kepangkal ekor dimiliki oleh kedua jenis kelamin sapi bali.
Warna ini merupakan warna standar sebagai salah satu bangsa sapi di dunia.
Tetapi, disamping ciri khas tersebut, dijumpai pula beberapa kelainan warna, seperti warna hitam dari sejak lahir pada sapi jantan maupun betina, sehingga orang bali menamakannya sapi injin (warna beras hitam). Warna tubuh kuning, sedangkan kaca hidung, tanduk, pinggiran mata, dan kukunya berwarna merah muda (pink) juga dijumpai pada kedua jenis kelamin dan orang bali menyebutnya dengan sapi gading.
Di samping kedua kelainan warna di atas juga dijumpai sapi putih dibeberapa tempat di Bali. Sapi putih ini mempunyai ciri seluruh tubuhnya berwarna putih termasuk bulu mata dan ekornya, tidak ada garis hitam dibagian punggung seperti sapi bali pada umumnya. Kaca hidung, pinggiran mata, tanduk, dan kukunya berwarna merah muda (pink) seperti pada sapi gading akibat tidak adanya pigmentasi. Dilihat dari penampakan luarnya, seperti dari bentuk tubuh, kepala, tanduk, kaki, maupun besar tubuhnya tidak banyak perbedaan dengan sapi bali yang memiliki warna standar.
Hasil survey juga berhasil menemukan sapi gading milik peternak di Banjar Andong, Titi Galar, Baturiti, Tabanan (Gambar 5.1). Warna kulitnya adalah gading dengan rambut kepala berwarna putih, serta moncong putih.
Menurut yang punya, sapi tersebut lahir dari perkawinan antara sapi bali betina (warna standar) dengan sapi bali jantan (warna standar). Sampai sekarang sapi tersebut tetap dipelihara dan dianggap suci.
Ciri khas sapi bali yang mudah dibedakan dari jenis sapi Indonesia lainnya adalah adanya bulu putih berbentuk oval yang sering disebut mirror atau cermin di bawah ekornya, serta warna putih di bagian bawah keempat kakinya menyerupai kaos/stoking putih (Gambar 5.2). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Sapi bali memiliki pola warna bulu yang unik dan menarik dimana warna bulu pada ternak jantan berbeda dengan betinanya, sehingga termasuk hewan dimorphism-sex.
Gambar 5.2. Sapi Aceh (kiri) sapi Bali (kanan)
Sapi bali betina dan sapi jantan muda berwarna merah bata kecoklatan, namun sapi bali jantan berubah menjadi warna hitam sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus
pada umur 3 tahun. Pedet jantan mengalami perubahan warna menjadi hitam secara bertahap mulai dari bagian
pada umur 3 tahun. Pedet jantan mengalami perubahan warna menjadi hitam secara bertahap mulai dari bagian