• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. SAPI BALI

7.4 Ciri Itik Bali

Itik bali merupakan salah satu ternak unggas yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai penyedia sumber protein hewani. Itik bali dipelihara terutama untuk penghasil telur. Namun akhir-akhir ini permintaan akan daging itik semakin meningkat, terutama sejak peternak menggemukan itik jantan sebagai itik pedaging dan menjualnya dengan keuntungan yang cukup memadai. Di beberapa kabupaten di Bali, banyak restoran dan rumah makan yang menyediakan masakan daging itik, seperti itik goreng, itik panggang, sate itik, dan sebagainya. Dengan melihat trend seperti ini, maka sangat memungkinkan pengembangan itik bali sebagai itik pedaging sebagai suatu peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Hal ini juga ditunjang dengan semakin meningkatnya jumlah peng gemar daging itik.

Itik bali di masyarakat lebih dikenal dengan nama

“bebek”, nenek moyangnya merupakan itik liar (Anas moscha) yang berasal dari Amerika Utara. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, itik liar terus dijinakkan oleh manusia hingga terbentuklah beragam jenis itik, seperti yang banyak dipelihara saat ini dan selanjutnya lebih dikenal sebagai itik ternak ( Anas domesticus).

Di Indonesia, itik pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang India pada abad VII, terutama di wilayah Pulau Jawa.

Orang-orang India tersebut merupakan ahli bangunan yang sengaja didatangkan oleh Raja Syailendra untuk mem-bangun candi-candi Hindu dan Budha di Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa motivasi ritual keagamaan yang mendorong mereka mengembangkan itik di Indonesia.

Bukti masih dapat dilihat dalam berbagai upacara ke

agamaan yang ada di Bali, yakni itik dijadikan sebagai salah satu bahan pelengkap sesajen (Beng, 2011).

Itik Bali belum jelas asal-usulnya dan diperkirakan semu la berasal dari Pulau Lombok, sehingga sering disebut juga itik lombok. Keadaan tubuhnya mirip dengan itik tegal, hanya saja pada leher tampak lebih pendek. Warna bulu sangat bervariasi, ada yang berwarna putih bersih, coklat merah dengan campuran hitam dengan bintik-bintik putih, dan ada pula yang berjambul.

Itik bali banyak diternakkan di Pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat, merupakan bangsa itik lokal Indonesia yang berasal dari pulau Bali. Itik Bali merupakan salah satu bangsa itik yang digunakan peternak sebagai bibit itik petelur dan sudah menyebar ke berbagai daerah/kota di Bali, karena daya adaptasinya yang tinggi. Itik bali mem punyai perbedaan pada bulunya dan dibedakan menjadi tiga varietas dari warna bulunya, yaitu itik bali sumbian, itik bali sikep, dan itik bali putih. Umumnya ciri-ciri fisik yang menunjukan itik bali adalah:

postur tubuh tegak 80 derajat (sama dengan itik tegal), namun lebih langsing dan lebih tegak, sehingga disebut juga sebagai itik penguin,

bentuk kepala dan leher yang lebih kecil, bulat dan memanjang, dan memiliki ciri jambul di kepala (tidak semua),

bulu berwarna khaki (untuk itik bali sumi), coklat gelap bercak-bercak hitam, hitam (untuk itik bali sikep), belang putih, dan putih. Itik warna bulu sikep, bulu sumian, dan bulu putih tersaji pada Gambar 1.

Secara umum postur tubuh itik bali seperti botol dan selalu berjalan beriringan dalam satu kelompok. Lebih rinci tersaji pada Gambar 7.1.

latitude -8.150194(lintang utara) dan longitude 115.087702 (lintang selatan)

7.4 Ciri Itik Bali

Itik bali merupakan salah satu ternak unggas yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai penyedia sumber protein hewani. Itik bali dipelihara terutama untuk penghasil telur. Namun akhir-akhir ini permintaan akan daging itik semakin meningkat, terutama sejak peternak menggemukan itik jantan sebagai itik pedaging dan menjualnya dengan keuntungan yang cukup memadai. Di beberapa kabupaten di Bali, banyak restoran dan rumah makan yang menyediakan masakan daging itik, seperti itik goreng, itik panggang, sate itik, dan sebagainya. Dengan melihat trend seperti ini, maka sangat memungkinkan pengembangan itik bali sebagai itik pedaging sebagai suatu peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Hal ini juga ditunjang dengan semakin meningkatnya jumlah peng gemar daging itik.

Itik bali di masyarakat lebih dikenal dengan nama

“bebek”, nenek moyangnya merupakan itik liar (Anas moscha) yang berasal dari Amerika Utara. Namun, seiring dengan perkembangan waktu, itik liar terus dijinakkan oleh manusia hingga terbentuklah beragam jenis itik, seperti yang banyak dipelihara saat ini dan selanjutnya lebih dikenal sebagai itik ternak ( Anas domesticus).

Di Indonesia, itik pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang India pada abad VII, terutama di wilayah Pulau Jawa.

Orang-orang India tersebut merupakan ahli bangunan yang sengaja didatangkan oleh Raja Syailendra untuk mem-bangun candi-candi Hindu dan Budha di Indonesia. Ada yang mengatakan bahwa motivasi ritual keagamaan yang mendorong mereka mengembangkan itik di Indonesia.

Bukti masih dapat dilihat dalam berbagai upacara ke

agamaan yang ada di Bali, yakni itik dijadikan sebagai salah satu bahan pelengkap sesajen (Beng, 2011).

Itik Bali belum jelas asal-usulnya dan diperkirakan semu la berasal dari Pulau Lombok, sehingga sering disebut juga itik lombok. Keadaan tubuhnya mirip dengan itik tegal, hanya saja pada leher tampak lebih pendek. Warna bulu sangat bervariasi, ada yang berwarna putih bersih, coklat merah dengan campuran hitam dengan bintik-bintik putih, dan ada pula yang berjambul.

Itik bali banyak diternakkan di Pulau Bali dan Nusa Tenggara Barat, merupakan bangsa itik lokal Indonesia yang berasal dari pulau Bali. Itik Bali merupakan salah satu bangsa itik yang digunakan peternak sebagai bibit itik petelur dan sudah menyebar ke berbagai daerah/kota di Bali, karena daya adaptasinya yang tinggi. Itik bali mem punyai perbedaan pada bulunya dan dibedakan menjadi tiga varietas dari warna bulunya, yaitu itik bali sumbian, itik bali sikep, dan itik bali putih. Umumnya ciri-ciri fisik yang menunjukan itik bali adalah:

postur tubuh tegak 80 derajat (sama dengan itik tegal), namun lebih langsing dan lebih tegak, sehingga disebut juga sebagai itik penguin,

bentuk kepala dan leher yang lebih kecil, bulat dan memanjang, dan memiliki ciri jambul di kepala (tidak semua),

bulu berwarna khaki (untuk itik bali sumi), coklat gelap bercak-bercak hitam, hitam (untuk itik bali sikep), belang putih, dan putih. Itik warna bulu sikep, bulu sumian, dan bulu putih tersaji pada Gambar 1.

Secara umum postur tubuh itik bali seperti botol dan selalu berjalan beriringan dalam satu kelompok. Lebih rinci tersaji pada Gambar 7.1.

Gambar 7.1. Itik Bali bulu putih

Pengetahuan anatomi itik bagi peternak itik bali sangat lah penting, karena tubuh itik merupakan mesin produksi daging dan telur. Peternak itik bali yang mengetahui dan memahami tentang anatomi itik bali akan dapat memak-simalkan faktor-faktor produksi dan dapat mengatasi permasalahan itik, khususnya masalah kesehatan dan produktivitas. Selain itu dengan mengetahui anatomi itik bali, juga dapat mempermudah dalam menentukan strategi poduksi. Adapun anatomi itik adalah sebagai berikut ini (Nurliandri, 2011).

Kepala: kepala itik tampak kecil dibandingkan dengan besar badan. Di Kepala terdapat paruh (beak) besar lurus dan pipih, mendatar, ujungnya terdapat bagian keras (tip). Pada rongga paruh (beak cavity) terdapat lembaran-lembaran bertanduk (herny lamella) yang berguna menyaring makanan.

Bulu: tubuh itik hampir seluruhnya ditumbuhi bulu kecuali paruh dan kaki. Bulu ini berfungsi untuk menjaga kestabilan suhu tubuh dari pengaruh suhu luar yang mudah berubah-rubah, menjaga itik dari terpaan air, serta sebagai alat terbang. Bulunya ber-macam-macam, menempel erat, keadaanya selalu berminyak yang berasal dari kelenjar minyak (pree gland) yang terletak pada pangkal ekor. Lapisan lemak subkutan di bawah kulit (bulu) berfungsi untuk isolator dari kedinginan

Kaki secara keseluruhan pendek. Pergelangan kaki (shank) tidak berbulu, sisik tidak jelas, berjari empat buah yang dilengkapi dengan selaput (foot web) yang berfungsi untuk membantu pergerakan di dalam air.

Rangka tubuh: itik memiliki rangka tubuh yang kompak untuk melindungi fungsi organ dan di topang oleh otot daging yang kuat, sehingga mampu melakukan berbagai aktivitas produksi, berjalan, berenang, dan terbang.

Daging itik tergolong daging gelap (dark meat) dengan persentase karkas yang lebih rendah dibandingkan dengan persentase karkas ayam.

Suara: suara itik tidak keras dan satu irama, kecuali pada yang itik jantan kadang-kadang bersuara keras dan kaku.

Alat pernafasan: alat pernafasan itik terdiri atas lubang hidung, saluran tenggorokan, dan pernafasan dalam berupa paru-paru.

Alat pencernaan: alat pencernaan pada itik terdiri dari (i) paruh, digunakan untuk mematuk dan memasukan makanan ke dalam mulut untuk selanjutnya didorong ke dalam tenggorokan. Ketika itik minum kepalanya akan mengangakat ke atas, dan hal ini bertujuan agar air mudah tertelan dan tidak keluar lagi ke lubang

Gambar 7.1. Itik Bali bulu putih

Pengetahuan anatomi itik bagi peternak itik bali sangat lah penting, karena tubuh itik merupakan mesin produksi daging dan telur. Peternak itik bali yang mengetahui dan memahami tentang anatomi itik bali akan dapat memak-simalkan faktor-faktor produksi dan dapat mengatasi permasalahan itik, khususnya masalah kesehatan dan produktivitas. Selain itu dengan mengetahui anatomi itik bali, juga dapat mempermudah dalam menentukan strategi poduksi. Adapun anatomi itik adalah sebagai berikut ini (Nurliandri, 2011).

Kepala: kepala itik tampak kecil dibandingkan dengan besar badan. Di Kepala terdapat paruh (beak) besar lurus dan pipih, mendatar, ujungnya terdapat bagian keras (tip). Pada rongga paruh (beak cavity) terdapat lembaran-lembaran bertanduk (herny lamella) yang berguna menyaring makanan.

Bulu: tubuh itik hampir seluruhnya ditumbuhi bulu kecuali paruh dan kaki. Bulu ini berfungsi untuk menjaga kestabilan suhu tubuh dari pengaruh suhu luar yang mudah berubah-rubah, menjaga itik dari terpaan air, serta sebagai alat terbang. Bulunya ber-macam-macam, menempel erat, keadaanya selalu berminyak yang berasal dari kelenjar minyak (pree gland) yang terletak pada pangkal ekor. Lapisan lemak subkutan di bawah kulit (bulu) berfungsi untuk isolator dari kedinginan

Kaki secara keseluruhan pendek. Pergelangan kaki (shank) tidak berbulu, sisik tidak jelas, berjari empat buah yang dilengkapi dengan selaput (foot web) yang berfungsi untuk membantu pergerakan di dalam air.

Rangka tubuh: itik memiliki rangka tubuh yang kompak untuk melindungi fungsi organ dan di topang oleh otot daging yang kuat, sehingga mampu melakukan berbagai aktivitas produksi, berjalan, berenang, dan terbang.

Daging itik tergolong daging gelap (dark meat) dengan persentase karkas yang lebih rendah dibandingkan dengan persentase karkas ayam.

Suara: suara itik tidak keras dan satu irama, kecuali pada yang itik jantan kadang-kadang bersuara keras dan kaku.

Alat pernafasan: alat pernafasan itik terdiri atas lubang hidung, saluran tenggorokan, dan pernafasan dalam berupa paru-paru.

Alat pencernaan: alat pencernaan pada itik terdiri dari (i) paruh, digunakan untuk mematuk dan memasukan makanan ke dalam mulut untuk selanjutnya didorong ke dalam tenggorokan. Ketika itik minum kepalanya akan mengangakat ke atas, dan hal ini bertujuan agar air mudah tertelan dan tidak keluar lagi ke lubang

hidung. Dalam mulut itik terdapat kelenjar ludah yang digunakan untuk mempermudah saat menelan; (ii) kerongkongan (oesophagus), berfungsi sebagai salu-ran yang mengantarkan pakan menuju tembolok; (iii) tembolok, di dalam tembolok pakan akan di lunakkan dengan kelenjar ludah agar lebih mudah diteruskan ke lambung; (iv) lambung kelenjar, organ ini merupakan lambung yang mengeluarkan enzim pencernaan berupa pepsin dan asam khlor yang berperan me-lumasi pakan untuk kemudian di hancurkan di lambung otot; (v) Lambung otot, berfungsi sebagai penggiling pakan dan membuat pakan lebih halus lagi. Untuk meningkatkan kinerja lambung, sebaiknya ditambah kan grit dalam pakan berupa butir-butir kapur atau kulit kerang. Dari lambung otot pakan akan disalurkan ke usus halus; (vi) usus 12 Jari dan usus halus: setelah keluar dari lambung otot, pakan tersebut akan masuk kedalam usus 12 jari dan akan bergabung dengan enzim dari pancreas dan hati. Selanjutya akan masuk kedalam usus halus dimana ditempat ini terjadi penyerapan zat makanan; (vii) Usus besar berfungsi sebagai tempat penampungan dari sisa-sisa pakan yang tidak terserap; dan (viii) kloaka dan saluran kencing: organ ini merupakan saluran muara dari usus besar, saluran kencing, dan saluran telur. Itik memiliki dua ginjal yang mengha-silkan air kencing. Letaknya dekat dengan organ paru-paru dan dengan organ saluran tunggal yang menghubungkan ginjal ke kloaka.

7.5 Produksi dan Reproduksi

Sistem perkembangbiakan itik adalah dengan bertelur, tetapi proses tersebut tidak harus selalu dikaitkan dengan terbentuknya individu baru. Itik betina akan tetap bertelur tanpa adanya pejantan. Telur yang tidak dibuahi ini

biasa-nya digunakan sebagai telur konsumsi. Bibit itik diperoleh dengan jalan menetaskan telur tetas (telur yang dibuahi dan fertil) hasil dari perkawinan secara alam. Bentuk pelaksanaan penetasan dapat dilakukan secara alami (dierami oleh ayam, entok atau angsa) atau secara buatan (mesin tetas). Ada bentuk penetasan buatan tapi dilakukan secara tradisional, yaitu dengan mengubur telur-telur itik pada gabah yang telah dipanaskan/dijemur.

Beberapa Istilah yang terkait dengan ternak itik, antara lain: (i) DOD (Day old Duck) merupakan itik yang berumur 1 hari; (ii) duckling merupakan sebutan untuk anak itik; (iii) duck adalah sebutan untuk itik secara umum; (iv) drake adalah itik jantan dewasa; dan (v) drakelet/drakeling adalah istilah untuk itik jantan muda.

Itik bali memiliki performans produksi sebagai berikut:

pertama kali bertelur pada saat umur itik 23-24 minggu

produksi telur berkisar antara 150-250 butir per tahun

rataan bobot telur 59-62 gr per butir

kerabang telur umumnya berwarna putih, terkadang berwarna hijau, dan hijau gelap (Gambar 6)

bobot tubuh dewasa pada itik jantan dapat mencapai 1,8 - 2 kg dan bobot tubuh betina dewasa berkisar antara 1,6 - 1,8 kg

itik tidak mengerami telur. 7.6 Manfaat dan Kegunaan

Itik bali merupakan itik dwi guna sehingga manfaat utama itik bali adalah sebagai penghasil telur dan daging.

Selain itu, manfaat lain yang bernilai ekonomi tinggi adalah warna bulu. Warna bulu yang mempunyai nilai ekonomi tertinggi secara berturutan adalah (1) bulu putih jambul; (2)

hidung. Dalam mulut itik terdapat kelenjar ludah yang digunakan untuk mempermudah saat menelan; (ii) kerongkongan (oesophagus), berfungsi sebagai salu-ran yang mengantarkan pakan menuju tembolok; (iii) tembolok, di dalam tembolok pakan akan di lunakkan dengan kelenjar ludah agar lebih mudah diteruskan ke lambung; (iv) lambung kelenjar, organ ini merupakan lambung yang mengeluarkan enzim pencernaan berupa pepsin dan asam khlor yang berperan me-lumasi pakan untuk kemudian di hancurkan di lambung otot; (v) Lambung otot, berfungsi sebagai penggiling pakan dan membuat pakan lebih halus lagi. Untuk meningkatkan kinerja lambung, sebaiknya ditambah kan grit dalam pakan berupa butir-butir kapur atau kulit kerang. Dari lambung otot pakan akan disalurkan ke usus halus; (vi) usus 12 Jari dan usus halus: setelah keluar dari lambung otot, pakan tersebut akan masuk kedalam usus 12 jari dan akan bergabung dengan enzim dari pancreas dan hati. Selanjutya akan masuk kedalam usus halus dimana ditempat ini terjadi penyerapan zat makanan; (vii) Usus besar berfungsi sebagai tempat penampungan dari sisa-sisa pakan yang tidak terserap; dan (viii) kloaka dan saluran kencing: organ ini merupakan saluran muara dari usus besar, saluran kencing, dan saluran telur. Itik memiliki dua ginjal yang mengha-silkan air kencing. Letaknya dekat dengan organ paru-paru dan dengan organ saluran tunggal yang menghubungkan ginjal ke kloaka.

7.5 Produksi dan Reproduksi

Sistem perkembangbiakan itik adalah dengan bertelur, tetapi proses tersebut tidak harus selalu dikaitkan dengan terbentuknya individu baru. Itik betina akan tetap bertelur tanpa adanya pejantan. Telur yang tidak dibuahi ini

biasa-nya digunakan sebagai telur konsumsi. Bibit itik diperoleh dengan jalan menetaskan telur tetas (telur yang dibuahi dan fertil) hasil dari perkawinan secara alam. Bentuk pelaksanaan penetasan dapat dilakukan secara alami (dierami oleh ayam, entok atau angsa) atau secara buatan (mesin tetas). Ada bentuk penetasan buatan tapi dilakukan secara tradisional, yaitu dengan mengubur telur-telur itik pada gabah yang telah dipanaskan/dijemur.

Beberapa Istilah yang terkait dengan ternak itik, antara lain: (i) DOD (Day old Duck) merupakan itik yang berumur 1 hari; (ii) duckling merupakan sebutan untuk anak itik; (iii) duck adalah sebutan untuk itik secara umum; (iv) drake adalah itik jantan dewasa; dan (v) drakelet/drakeling adalah istilah untuk itik jantan muda.

Itik bali memiliki performans produksi sebagai berikut:

pertama kali bertelur pada saat umur itik 23-24 minggu

produksi telur berkisar antara 150-250 butir per tahun

rataan bobot telur 59-62 gr per butir

kerabang telur umumnya berwarna putih, terkadang berwarna hijau, dan hijau gelap (Gambar 6)

bobot tubuh dewasa pada itik jantan dapat mencapai 1,8 - 2 kg dan bobot tubuh betina dewasa berkisar antara 1,6 - 1,8 kg

itik tidak mengerami telur.

7.6 Manfaat dan Kegunaan

Itik bali merupakan itik dwi guna sehingga manfaat utama itik bali adalah sebagai penghasil telur dan daging.

Selain itu, manfaat lain yang bernilai ekonomi tinggi adalah warna bulu. Warna bulu yang mempunyai nilai ekonomi tertinggi secara berturutan adalah (1) bulu putih jambul; (2)

bulu sikep; (3) bulu hitam, dan (4) bulu belang kalung.

Lebih rinci tersaji pada Gambar 7.

Gambar 7.2. Itik bulu sikep, bulu sumi, dan bulu putih (dari kiri ke kanan)

Potensi pengembangan dari itik bali yang bermanfaat secara sosial budaya dan nilai ritual adalah telur itik untuk sarana upacara. Demikian juga halnya dengan warna bulu itik, mulai dari bulu, jeroan, dan daging itiknya sendiri sangat dibutuhkan dalam menunjang sarana ritual keagamaan Hindu di Bali

Gambar 7.3. Postur tubuh itik bali

Gambar 7.4. Sistem pemeliharaan itik secara semi intensif

bulu sikep; (3) bulu hitam, dan (4) bulu belang kalung.

Lebih rinci tersaji pada Gambar 7.

Gambar 7.2. Itik bulu sikep, bulu sumi, dan bulu putih (dari kiri ke kanan)

Potensi pengembangan dari itik bali yang bermanfaat secara sosial budaya dan nilai ritual adalah telur itik untuk sarana upacara. Demikian juga halnya dengan warna bulu itik, mulai dari bulu, jeroan, dan daging itiknya sendiri sangat dibutuhkan dalam menunjang sarana ritual keagamaan Hindu di Bali

Gambar 7.3. Postur tubuh itik bali

Gambar 7.4. Sistem pemeliharaan itik secara semi intensif

Gambar 7.5. Nilai ekonomis itik bali sangat ditentukan oleh warna bulu itik bali

DAFTAR PUSTAKA

Aalfs, H.G. 1934. De Rundeveeteelt op het Eiland Bali.

Drukkerij, H.J. Smiths, Utrecht.

Alamendah, 2010. Ajag, Anjing Hutan Asli Indonesia, http://

www.iucnredlist.org; zipcodezoo.com;

Anonymous. 2010. Sejarah desa Taro. http://desataro.

blogspot.com/2010/08/sejarah-desa-taro.html (Diakses:

12-08-2015)

Anonymous. 2012. Perarem Nganinin Duwe Lembu Putih.

Perarem (27-12-2012), Desa Pakraman Taro Kaja, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Anonymous. 2014a. Kala Sapi Putih Desa Taro Tersaingi.

http://artikelbali.blogspot.com/2007/07/kala-sapi-putih-desa-taro-tersaingi.html (Diakses: 12-08-2015)

Anonymous. 2014b. Pura Gunung Rawung di Desa Taro.

https://panbelog.wordpress.com/2014/06/30/pura-gunung-rawung-di-desa-taro/(Diakses: 12-08-2015) Anonymous. 2015. Taman Wisata Lembu. http://

saskariana.blogspot.com/2013/06/taman-wisata-lembu-putih_7.html (Diakses: 12-08-2015)

Anonymous. 2013. Jenis-jenis itik untuk ternak.

http://tutorialbudidaya.blogspot.com/2013/09/jenis-itik-untuk-ternak.html Diakses Selasa, 27 Agustus 2013 Anonymous. http://bebekpopuler.blogspot.com/. Diakses

Selasa, 27 Agustus 2013

Gambar 7.5. Nilai ekonomis itik bali sangat ditentukan oleh warna bulu itik bali

DAFTAR PUSTAKA

Aalfs, H.G. 1934. De Rundeveeteelt op het Eiland Bali.

Drukkerij, H.J. Smiths, Utrecht.

Alamendah, 2010. Ajag, Anjing Hutan Asli Indonesia, http://

www.iucnredlist.org; zipcodezoo.com;

Anonymous. 2010. Sejarah desa Taro. http://desataro.

blogspot.com/2010/08/sejarah-desa-taro.html (Diakses:

12-08-2015)

Anonymous. 2012. Perarem Nganinin Duwe Lembu Putih.

Perarem (27-12-2012), Desa Pakraman Taro Kaja, Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.

Anonymous. 2014a. Kala Sapi Putih Desa Taro Tersaingi.

http://artikelbali.blogspot.com/2007/07/kala-sapi-putih-desa-taro-tersaingi.html (Diakses: 12-08-2015)

Anonymous. 2014b. Pura Gunung Rawung di Desa Taro.

https://panbelog.wordpress.com/2014/06/30/pura-gunung-rawung-di-desa-taro/(Diakses: 12-08-2015) Anonymous. 2015. Taman Wisata Lembu. http://

saskariana.blogspot.com/2013/06/taman-wisata-lembu-putih_7.html (Diakses: 12-08-2015)

Anonymous. 2013. Jenis-jenis itik untuk ternak.

http://tutorialbudidaya.blogspot.com/2013/09/jenis-itik-untuk-ternak.html Diakses Selasa, 27 Agustus 2013 Anonymous. http://bebekpopuler.blogspot.com/. Diakses

Selasa, 27 Agustus 2013

Aryani, I G. A. I., Warmadewi, D.A. dan A.A.S. Trisnadewi.

2013. Analisa Semantik dengan Kolaborasi Budaya pada Pemeliharaan Sapi Putih di Desa Taro. Laporan Penelitian, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Udayana, Denpasar.

Bidura, I.G. N. G. 1998. Pengaruh aras protein ransum terhadap nitrogen dan energi termetabolis pada itik Bali. Majalah Ilmiah Peternakan Vol 1 (1): 12 – 16 Bidura, I. G. N. G. 2007. Aplikasi Produk Bioteknologi

Pakan Ternak. Penerbit, Udayana University Press, Universitas Udayana, Denpasar.

Bidura, I.G. N. G. dan D. P. M. A. Candrawati. 2004.

Pengaruh pemberian ekstrak hipofisa sapi secara itramuskuler terhadap penampilan ayam broiler umur 2 – 6 minggu. Laporan penelitian, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar.

Bidura, IGNG., DPMA. Candrawati, dand D.A. Warmadewi.

2010. Pakan Unggas. Konvensional dan Inkonven-sional. Udayana University Press, Denpasar

Bidura, IGNG dan G.S. Gomes. 2019. Manajemen Nutrisi Ternak Babi. Kebutuhan dan Defisiensi Zat Makanan.

Percetakan Swasta Nulus, Jl. Tukad Batanghari, Denpasar Bali

Bidura, IGNG., I.B.G. Partama, B.R.T. Putri, D.A.

Warmadewi, dan D.P.M.A. Candrwati. 2017. Demplot konsentrat Babi dan Sapi Unggul di Kabupaten Tabanan. Laporan Penelitian, Kerjasama Fakultas Peternakan dengan Dinas Pertanian, Kabupaten Tabanan.

Bidura, I.G. N. G., I. B. Gaga Partama, dan T. G. O. Susila.

2008. Limbah, Pakan Ternak Alternatif dan Aplikasi Teknologi. Udayana University Press, Universitas

2008. Limbah, Pakan Ternak Alternatif dan Aplikasi Teknologi. Udayana University Press, Universitas