II. KAMBING GEMBRONG
4.14 Kearifan Lokal Desa Taro
Masyarakat tradisional sesungguhnya telah memiliki mekanisme pelestarian lingkungan yang telah melindungi sistem ekologi selama ribuan tahun. Di Bali, seperangkat kepercayaan tradisional yang merupakan bagian integral dari cara hidup orang Bali, juga terbukti memberikan dampak positif terhadap kelestarian sistem ekologi. Salah satunya, keberadaan lembu putih di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.
Manusia diciptakan tidak dapat terlepas dari alam semesta sehingga keberadaan, kesejahteraan, kedamaian, keselarasan dan keharmonisan alam semesta harus dijaga kesuburannya. Menjaga kesuburan alam semesta, masya-rakat Desa Taro melaksanakan upacara Tawur Panca Wali Krama Agung yang dilaksanakan di Pura Agung Gunung Raung. Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung banyak menggunakan binatang salah satunya adalah lembu putih.
Lembu putih di dalam Tawur Panca Wali Krama Agung mempunyai berbagai fungsi sebagai pelengkap upacara tersebut.
Adapun fungsi dari lembu putih pada Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung di Pura Agung Gunung Raung adalah sebagai berikut: pertama, yaitu diambil air susunya atau yang disebut dengan mamineh empehan lembu putih, kedua digunakan dalam upacara Mapepada wewalungan, dan yang ketiga sebagai Caru Pada Tawur Panca Wali Krama Agung (Madriana, 2012).
Ekolog Universitas Udayana Drs. I.B.G. Pujaastawa, M.A, mengungkapkan bahwa lembu putih di Desa Taro tergolong satwa endemik yang memiliki peluang berkembang biak, sehingga populasinya terjaga. Masya-rakatpun memperlakukan satwa lembu putih itu secara istimewa, berbeda halnya dengan perlakuan mereka terhadap sapi-sapi peliharaannya. Misalnya, sapi itu sedang tidur mereka menyebutnya merem. Sapi itu sendiri disebut dengan “druwe” dari kekuatan kekuatan yang kodrati yang menguasai disekitarnya. Lembu druwe punike sane lanang kebaos Ida Bagus sane istri kebaos si Luh;
tidur disebut dengan merem, makan disebut dengan ngajeng, dan lain sebagainya. Prinsipnya semua kata dan perbuatan diperlakukan dengan halus (Purwati, 2013).
Kepercayaan bahwa lembu putih merupakan binatang suci milik dewa didukung pula dengan adanya perlakuan khusus terhadap binatang tersebut. Sikap sopan dan hormat terhadap lembu putih antara lain, terlihat dalam bahasa atau istilah yang digunakan untuk menyebut dan membicarakan keadaan lembu putih tersebut.
Kepercayaan masyarakat Desa Taro untuk menjaga keberlangsungan hidup lembu putih ini berawal dari kedatangan Maha Rsi Markandeya yang mengemban misi untuk menyebarkan agama Hindu. Dari Pulau Jawa, Sang Maha Rsi akhirnya tiba di sebuah daerah yang saat ini masuk dalam wilayah adminitrasif Desa Taro.
berwarna merah bata pada sapi betina, sedangkan sapi jantan setelah dewasa warnanya menjadi hitam.
Dewasa ini kawasan tersebut telah berubah, tertata lebih rapi dimana konservasi hutan dilaksanakan dan dikelola oleh Desa Pekraman seluas 27 Ha termasuk sapi putih yang masih ada dikandangkan di dua posisi kandang.
Penataan ini ternyata terkait dengan perencanaan kawasan tersebut untuk dijadikan daerah obyek wisata. Penempatan Patung Dewa Siwa yang mengendarai sapi atau lembu putih sebagai simbol keyakinan masyarakat setempat akan kekeramatan sapi atau lembu putih ini dianggap sebagai suatu fenomena budaya yang perlu diperhatikan untuk pelestarian lingkungan.
4.14 Kearifan Lokal Desa Taro
Masyarakat tradisional sesungguhnya telah memiliki mekanisme pelestarian lingkungan yang telah melindungi sistem ekologi selama ribuan tahun. Di Bali, seperangkat kepercayaan tradisional yang merupakan bagian integral dari cara hidup orang Bali, juga terbukti memberikan dampak positif terhadap kelestarian sistem ekologi. Salah satunya, keberadaan lembu putih di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.
Manusia diciptakan tidak dapat terlepas dari alam semesta sehingga keberadaan, kesejahteraan, kedamaian, keselarasan dan keharmonisan alam semesta harus dijaga kesuburannya. Menjaga kesuburan alam semesta, masya-rakat Desa Taro melaksanakan upacara Tawur Panca Wali Krama Agung yang dilaksanakan di Pura Agung Gunung Raung. Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung banyak menggunakan binatang salah satunya adalah lembu putih.
Lembu putih di dalam Tawur Panca Wali Krama Agung mempunyai berbagai fungsi sebagai pelengkap upacara tersebut.
Adapun fungsi dari lembu putih pada Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung di Pura Agung Gunung Raung adalah sebagai berikut: pertama, yaitu diambil air susunya atau yang disebut dengan mamineh empehan lembu putih, kedua digunakan dalam upacara Mapepada wewalungan, dan yang ketiga sebagai Caru Pada Tawur Panca Wali Krama Agung (Madriana, 2012).
Ekolog Universitas Udayana Drs. I.B.G. Pujaastawa, M.A, mengungkapkan bahwa lembu putih di Desa Taro tergolong satwa endemik yang memiliki peluang berkembang biak, sehingga populasinya terjaga. Masya-rakatpun memperlakukan satwa lembu putih itu secara istimewa, berbeda halnya dengan perlakuan mereka terhadap sapi-sapi peliharaannya. Misalnya, sapi itu sedang tidur mereka menyebutnya merem. Sapi itu sendiri disebut dengan “druwe” dari kekuatan kekuatan yang kodrati yang menguasai disekitarnya. Lembu druwe punike sane lanang kebaos Ida Bagus sane istri kebaos si Luh;
tidur disebut dengan merem, makan disebut dengan ngajeng, dan lain sebagainya. Prinsipnya semua kata dan perbuatan diperlakukan dengan halus (Purwati, 2013).
Kepercayaan bahwa lembu putih merupakan binatang suci milik dewa didukung pula dengan adanya perlakuan khusus terhadap binatang tersebut. Sikap sopan dan hormat terhadap lembu putih antara lain, terlihat dalam bahasa atau istilah yang digunakan untuk menyebut dan membicarakan keadaan lembu putih tersebut.
Kepercayaan masyarakat Desa Taro untuk menjaga keberlangsungan hidup lembu putih ini berawal dari kedatangan Maha Rsi Markandeya yang mengemban misi untuk menyebarkan agama Hindu. Dari Pulau Jawa, Sang Maha Rsi akhirnya tiba di sebuah daerah yang saat ini masuk dalam wilayah adminitrasif Desa Taro.
Desa Taro mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan manusia Bali yang bercorak agraris.
Disanalah sesungguhnya/awal mulanya dibangun sistem bercocok tanam atau irigasi ”wet rice” yang dikenal dengan istilah Subak, yang saat itu disebut dengan Kasuakan.
Sejalan dengan itu pula dimulailah sistem satuan hidup setempat dengan pola menetap dengan perangkat aturan yang disebut dengan awig-awig dan sekarang dikenal dengan istilah desa adat atau pakraman. Rupanya kehidupan menetap yang ditunjang oleh Basis Agraris/cukup memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa Taro pada jaman itu, sehingga Desa Taro dan sekitarnya disebut dengan Bumi Sarwada, yaitu beraneka ragam sumber daya ....”’
Dalam lontar Bhuwana Tatwa Maharsi Markandya ada disebutkan “…..wus puput sira ambabad, tumuli lemah ika ingaranan lemah Sarwada. Sarwada ngaran, salwir hyun aken ikang sira Maharsi Markandya, ajnana ngaran kahyun, kahyun ngaran kayu, tahen naman ira waneh, taru ngaran taro …… terjemahannya: “…..setelah selesai merabas, lalu tempat itu diberi nama Sarwada. Sarwada artinya, setiap yang dikehendaki oleh Maharsi, ada di tempat itu. Ajnana berarti kahyun (pikiran), kahyun bermakna kayu, nama lainnya taru, yaitu Rsi Markendya bersama para pengi-kutnya membangun tatanan kehidupan yang baru dengan landasan falsafah Hindu…”
Kelian Adat Desa Pekraman Taro Kaja, yaitu Nyoman Tunjung menyebutkan masyarakat selanjutnya menyatukan diri saling bahu membahu membangun sebuah desa dengan tatanan peradaban manusia untuk memimpin hubungan antar manusia, maka ditunjuklah seorang kelian, untuk memimpin subak atau pengairan ,makan ditunjuklah pekaseh, dan Jero Bendesa bertugas untuk memantau secara keseluruhan hubungan ini.
Dilanjutkan oleh Nyoman Tunjung, bahwa Saat Ida Maha Rsi melihat kearah selatan dilihatnya sinar yang menjunjung tinggi mengarah kelangit. Maka di titik saat dilihatnya sinar itulah dibangun sebuah tempat suci yang disebut dengan Parhyangan Jagat Pura Agung Gunung Raung Taro. Dalam setiap upacara, lembu putih adalah sarana vital yang sangat dibutuhkan. Dipercaya sebagai satu kekuatan yang mampu memberikan energi positif terhadap berlangsungnya rangkaian upacara.
Begitu pentingnya arti lembu putih dalam rangakaian upacara, maka Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba menyebutkan bahwa "Lembu nuntun Arwah ke swahloka/ sorga”. Oleh karena itu, peran satwa lembu putih dalam praktek ritual agama hindu, ngadti wedana atau mepurwa daksina penting dilakukan. Ada suatu upacara yang disebut dengan bubur widya dimana dalam upacara tersebut, air susu lembu sangat dibutuhkan. Kalau orang mecaru tidak memotong lembu, namun yang dipotong adalah bebek sebagai substitusinya ....”
Keyakinan bahwa lembu putih merupakan binatang suci milik dewa diiringi dengan perlakuan khusus terhadap binatang tersebut. Misalnya, sikap sopan dan hormat, ser-ta sejumlah panser-tangan untuk mempekerjakan, memper-jualbelikan, mengkonsumsi daging ataupun susunya. Pe-langgaran terhadap hal-hal tersebut diyakini dapat men-datangkan bencana bagi pelakunya.
Keunikan Desa Taro tidak bisa lepas dari keberadaan lembu putihnya. Dengan perkembangan pariwisata, bagai-mana komitmen desa pekraman mempertahankan tradisi yang telah ada termasuk menjaga keberadaan lembu putih tersebut.
Desa Taro mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan manusia Bali yang bercorak agraris.
Disanalah sesungguhnya/awal mulanya dibangun sistem bercocok tanam atau irigasi ”wet rice” yang dikenal dengan istilah Subak, yang saat itu disebut dengan Kasuakan.
Sejalan dengan itu pula dimulailah sistem satuan hidup setempat dengan pola menetap dengan perangkat aturan yang disebut dengan awig-awig dan sekarang dikenal dengan istilah desa adat atau pakraman. Rupanya kehidupan menetap yang ditunjang oleh Basis Agraris/cukup memberikan kesejahteraan bagi masyarakat desa Taro pada jaman itu, sehingga Desa Taro dan sekitarnya disebut dengan Bumi Sarwada, yaitu beraneka ragam sumber daya ....”’
Dalam lontar Bhuwana Tatwa Maharsi Markandya ada disebutkan “…..wus puput sira ambabad, tumuli lemah ika ingaranan lemah Sarwada. Sarwada ngaran, salwir hyun aken ikang sira Maharsi Markandya, ajnana ngaran kahyun, kahyun ngaran kayu, tahen naman ira waneh, taru ngaran taro …… terjemahannya: “…..setelah selesai merabas, lalu tempat itu diberi nama Sarwada. Sarwada artinya, setiap yang dikehendaki oleh Maharsi, ada di tempat itu. Ajnana berarti kahyun (pikiran), kahyun bermakna kayu, nama lainnya taru, yaitu Rsi Markendya bersama para pengi-kutnya membangun tatanan kehidupan yang baru dengan landasan falsafah Hindu…”
Kelian Adat Desa Pekraman Taro Kaja, yaitu Nyoman Tunjung menyebutkan masyarakat selanjutnya menyatukan diri saling bahu membahu membangun sebuah desa dengan tatanan peradaban manusia untuk memimpin hubungan antar manusia, maka ditunjuklah seorang kelian, untuk memimpin subak atau pengairan ,makan ditunjuklah pekaseh, dan Jero Bendesa bertugas untuk memantau secara keseluruhan hubungan ini.
Dilanjutkan oleh Nyoman Tunjung, bahwa Saat Ida Maha Rsi melihat kearah selatan dilihatnya sinar yang menjunjung tinggi mengarah kelangit. Maka di titik saat dilihatnya sinar itulah dibangun sebuah tempat suci yang disebut dengan Parhyangan Jagat Pura Agung Gunung Raung Taro. Dalam setiap upacara, lembu putih adalah sarana vital yang sangat dibutuhkan. Dipercaya sebagai satu kekuatan yang mampu memberikan energi positif terhadap berlangsungnya rangkaian upacara.
Begitu pentingnya arti lembu putih dalam rangakaian upacara, maka Ida Pedanda Gede Nabe Bang Buruan Manuaba menyebutkan bahwa "Lembu nuntun Arwah ke swahloka/ sorga”. Oleh karena itu, peran satwa lembu putih dalam praktek ritual agama hindu, ngadti wedana atau mepurwa daksina penting dilakukan. Ada suatu upacara yang disebut dengan bubur widya dimana dalam upacara tersebut, air susu lembu sangat dibutuhkan. Kalau orang mecaru tidak memotong lembu, namun yang dipotong adalah bebek sebagai substitusinya ....”
Keyakinan bahwa lembu putih merupakan binatang suci milik dewa diiringi dengan perlakuan khusus terhadap binatang tersebut. Misalnya, sikap sopan dan hormat, ser-ta sejumlah panser-tangan untuk mempekerjakan, memper-jualbelikan, mengkonsumsi daging ataupun susunya. Pe-langgaran terhadap hal-hal tersebut diyakini dapat men-datangkan bencana bagi pelakunya.
Keunikan Desa Taro tidak bisa lepas dari keberadaan lembu putihnya. Dengan perkembangan pariwisata, bagai-mana komitmen desa pekraman mempertahankan tradisi yang telah ada termasuk menjaga keberadaan lembu putih tersebut.