II. KAMBING GEMBRONG
4.10 Karakteristik Sapi Taro
4.10.2 Tanduk
Bentuk tanduk sapi putih taro tidak jauh berbeda dengan tanduk standar sapi bali umumnya, yaitu tumbuh ke samping kemudian ke atas dan ujungnya sedikit ke dalam pada sapi yang jantan, sedangkan pada sapi betina tanduknya lebih pendek daripada tanduk sapi jantan, tumbuh sedikit ke atas kemudian ke belakang dan ujungnya sedikit melengkung ke bawah atau dikenal dengan istilah
“manggul gangsa” seperti tersaji pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11. Tanduk “manggul gangsa” pada sapi putih taro
Hasil observasi yang dilakukan terhadap sapi putih di Desa Taro menemukan bahwa sapi putih tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ukuran tubuh (panjang badan, tinggi gumba/pundak, lebar dada, dan tinggi pinggul) baik pada sapi putih jantan maupun yang betina tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sapi bali yang berwarna normal.
Gambar 4.9. Pedet sapi Taro yang berwarna putih dari induk putih.
4.10.1. Warna
Warna kulit putih pada yang betina dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan. Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda. Lebih rinci terlihat seperti pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10. Sapi putih taro
4.10.2. Tanduk
Bentuk tanduk sapi putih taro tidak jauh berbeda dengan tanduk standar sapi bali umumnya, yaitu tumbuh ke samping kemudian ke atas dan ujungnya sedikit ke dalam pada sapi yang jantan, sedangkan pada sapi betina tanduknya lebih pendek daripada tanduk sapi jantan, tumbuh sedikit ke atas kemudian ke belakang dan ujungnya sedikit melengkung ke bawah atau dikenal dengan istilah
“manggul gangsa” seperti tersaji pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11. Tanduk “manggul gangsa” pada sapi putih taro
Hasil observasi yang dilakukan terhadap sapi putih di Desa Taro menemukan bahwa sapi putih tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ukuran tubuh (panjang badan, tinggi gumba/pundak, lebar dada, dan tinggi pinggul) baik pada sapi putih jantan maupun yang betina tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sapi bali yang berwarna normal.
b. Warna kulit putih pada yang betina (Gambar 4.6) dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan (Gambar 4.7). Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda.
c. Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik
d. Sapi putih ini masih terlihat memiliki ciri khas sapi bali yang berwarna normal, seperti terlihat pada warna putih berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah lututnya yang diistilahkan dengan white stocking.
Selain sapi (lembu) putih yang dijumpai di Desa Taro, beberapa sapi bali putih juga dijumpai di beberapa desa lain di Bali seperti di desa Manggis (Karangasem), Tampaksiring (Gianyar) dan Sibang di Kabupaten Badung (Oka, 1995). Analisis pedigree dan segregasi menurut teori Mendel terhadap data yang diperoleh dan dilaporkan oleh Oka (1995), disimpulkan bahwa warna putih pada sapi bali adalah albino dan diturunkan secara autosomal dari tetua kepada anak-anaknya dan bersifat resesif terhadap warna standar (normal). Analisis Pujaastawa dan Suwena (2013) terhadap ciri fenotipik sapi putih Taro yang memiliki ciri khas sapi Bali yaitu warna putih berbentuk oval pada pantat dan tungkai bagian bawahnya memperkirakan sapi putih Taro merupakan keturunan dari sapi Bali yang membawa gen albino.
Secara ilmiah, sapi taro ini merupakan sapi bali yang memiliki kelainan pigmentasi (albino) yang mengakibatkan seluruh tubuhnya berwarna putih. memiliki kekrabatan yang
sangat dekat dengan sapi bali, namun seluruh badannya berwarna putih.
Pemberian pakan diatur oleh yayasan dimana masyarakat digilir dan setiap Kepala Keluarga (KK) untuk menyiapkan 6 ikat, berat 25-30 kg diambil dari tegal yang dipakai oleh desa. Pakan berupa potongan rumput gajah, rumput alami atau rumput lapangan (Gambar 5). Jenis pakan lainnya berupa daun-daunan, seperti: daun nangka, daun gamal dan daun blalu tapi kadang-kadang diberikan pula batang pisang (gedebong), terutama pada saat musim kemarau. Konsentrat seperti polard hanya diberikan sesekali bila ada bantuan dari masyarakat setempat atau dari pihak-pihak yang peduli.
4.11 Manfaat/Kegunaan
Lembu putih digunakan dalam upacara penting agama Hindu di Bali yaitu pada upacara Purwadaksina yaitu upacara ritual berkeliling sesuai arah jarum jam dilokasi upacara tingkat utama yang melambangkan perjalanan menuju swahloka (suwarga). Lembu putih ini berperan sebagai penuntun dalam perjalanan tersebut. Dalam kaitannya dengan upacara agama Hindu tersebut sapi (lembu) putih Taro sering digunakan.
Apabila masyarakat di suatu desa tertentu akan menyelenggarakan upacara Purwadaksina dan menggu-nakan lembu putih, maka masyarakat tersebut melakukan penjemputan lembu putih Taro dengan upacara yang dipimpin oleh Pemangku Pura disana, dan kemudian setelah upacara penjemputan selesai, lembu putih diantar oleh pengiring yang berasal dari desa Taro ke tempat penyelenggaraan upacara Purwadaksina. Apabila upacara Purwadaksina telah selesai, lembu putih dibawa kembali ke desa Taro.
b. Warna kulit putih pada yang betina (Gambar 4.6) dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan (Gambar 4.7). Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda.
c. Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik
d. Sapi putih ini masih terlihat memiliki ciri khas sapi bali yang berwarna normal, seperti terlihat pada warna putih berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah lututnya yang diistilahkan dengan white stocking.
Selain sapi (lembu) putih yang dijumpai di Desa Taro, beberapa sapi bali putih juga dijumpai di beberapa desa lain di Bali seperti di desa Manggis (Karangasem), Tampaksiring (Gianyar) dan Sibang di Kabupaten Badung (Oka, 1995). Analisis pedigree dan segregasi menurut teori Mendel terhadap data yang diperoleh dan dilaporkan oleh Oka (1995), disimpulkan bahwa warna putih pada sapi bali adalah albino dan diturunkan secara autosomal dari tetua kepada anak-anaknya dan bersifat resesif terhadap warna standar (normal). Analisis Pujaastawa dan Suwena (2013) terhadap ciri fenotipik sapi putih Taro yang memiliki ciri khas sapi Bali yaitu warna putih berbentuk oval pada pantat dan tungkai bagian bawahnya memperkirakan sapi putih Taro merupakan keturunan dari sapi Bali yang membawa gen albino.
Secara ilmiah, sapi taro ini merupakan sapi bali yang memiliki kelainan pigmentasi (albino) yang mengakibatkan seluruh tubuhnya berwarna putih. memiliki kekrabatan yang
sangat dekat dengan sapi bali, namun seluruh badannya berwarna putih.
Pemberian pakan diatur oleh yayasan dimana masyarakat digilir dan setiap Kepala Keluarga (KK) untuk menyiapkan 6 ikat, berat 25-30 kg diambil dari tegal yang dipakai oleh desa. Pakan berupa potongan rumput gajah, rumput alami atau rumput lapangan (Gambar 5). Jenis pakan lainnya berupa daun-daunan, seperti: daun nangka, daun gamal dan daun blalu tapi kadang-kadang diberikan pula batang pisang (gedebong), terutama pada saat musim kemarau. Konsentrat seperti polard hanya diberikan sesekali bila ada bantuan dari masyarakat setempat atau dari pihak-pihak yang peduli.
4.11 Manfaat/Kegunaan
Lembu putih digunakan dalam upacara penting agama Hindu di Bali yaitu pada upacara Purwadaksina yaitu upacara ritual berkeliling sesuai arah jarum jam dilokasi upacara tingkat utama yang melambangkan perjalanan menuju swahloka (suwarga). Lembu putih ini berperan sebagai penuntun dalam perjalanan tersebut. Dalam kaitannya dengan upacara agama Hindu tersebut sapi (lembu) putih Taro sering digunakan.
Apabila masyarakat di suatu desa tertentu akan menyelenggarakan upacara Purwadaksina dan menggu-nakan lembu putih, maka masyarakat tersebut melakukan penjemputan lembu putih Taro dengan upacara yang dipimpin oleh Pemangku Pura disana, dan kemudian setelah upacara penjemputan selesai, lembu putih diantar oleh pengiring yang berasal dari desa Taro ke tempat penyelenggaraan upacara Purwadaksina. Apabila upacara Purwadaksina telah selesai, lembu putih dibawa kembali ke desa Taro.
Disamping itu, menurut informasi penduduk sapi atau disebut juga lembu putih ini dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara ngasti, Eka Dasa Ludra, Panca Wali Krama di Pura Gunung Agung Raung Taro dan Pura Besakih. Saat upacara berlangsung, lembu atau sapi putih ini akan dituntun oleh penyelenggara upacara mengelilingi tempat upacara 3 (tiga) kali dari arah timur ke selatan, dan berakhir di timur bertujuan agar alam semesta ini selamat, damai dan sentosa (dedeg, ajeg, maurip).
Sapi putih ini dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu (Sapi) Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara sebanyak tiga kali.
Upacara ini disebut dengan Purwa Daksina. Untuk dapat menggunakan sapi putih, pihak Desa Adat Taro menarik biaya sewa. Untuk satu kali upacara, baik itu jaraknya jauh atau dekat pihak desa menarik ongkos lebih kurang Rp 600 ribu dengan 15 orang pendamping. Memang, jumlah pendamping tersebut cukup banyak, namun diakuinya hal itu untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.
Gambar 4.12. Pemeliharaan sapi Taro saat ini
4.12. Daya Tahan terhadap Panas dan Kondisi Pakan Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik. Seperti tersaji pada Gambar 4.13, tampak kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari.
Gambar 4.13. Kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari
4.13 Lingkungan
Masyarakat desa Taro menganggap sapi (lembu) putih yang ada di desanya tersebut adalah sapi suci sehingga sangat dihormati dan tidak berani mengganggunya. Dulu waktu sapi-sapi putih tersebut masih hidup liar di hutan Taro sering datang ke perkampungan atau ladang masyarakat disana. Masyarakat tidak berani menghalang atau mengusiknya apabila sapi putih tersebut masuk ke ladangnya, memakan rumput atau tanaman yang ada.
Sekarang sapi putih semuanya sudah dilokalisasi di satu
Disamping itu, menurut informasi penduduk sapi atau disebut juga lembu putih ini dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara ngasti, Eka Dasa Ludra, Panca Wali Krama di Pura Gunung Agung Raung Taro dan Pura Besakih. Saat upacara berlangsung, lembu atau sapi putih ini akan dituntun oleh penyelenggara upacara mengelilingi tempat upacara 3 (tiga) kali dari arah timur ke selatan, dan berakhir di timur bertujuan agar alam semesta ini selamat, damai dan sentosa (dedeg, ajeg, maurip).
Sapi putih ini dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu (Sapi) Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara sebanyak tiga kali.
Upacara ini disebut dengan Purwa Daksina. Untuk dapat menggunakan sapi putih, pihak Desa Adat Taro menarik biaya sewa. Untuk satu kali upacara, baik itu jaraknya jauh atau dekat pihak desa menarik ongkos lebih kurang Rp 600 ribu dengan 15 orang pendamping. Memang, jumlah pendamping tersebut cukup banyak, namun diakuinya hal itu untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.
Gambar 4.12. Pemeliharaan sapi Taro saat ini
4.12. Daya Tahan terhadap Panas dan Kondisi Pakan Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik. Seperti tersaji pada Gambar 4.13, tampak kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari.
Gambar 4.13. Kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari
4.13 Lingkungan
Masyarakat desa Taro menganggap sapi (lembu) putih yang ada di desanya tersebut adalah sapi suci sehingga sangat dihormati dan tidak berani mengganggunya. Dulu waktu sapi-sapi putih tersebut masih hidup liar di hutan Taro sering datang ke perkampungan atau ladang masyarakat disana. Masyarakat tidak berani menghalang atau mengusiknya apabila sapi putih tersebut masuk ke ladangnya, memakan rumput atau tanaman yang ada.
Sekarang sapi putih semuanya sudah dilokalisasi di satu
tempat di desa Pekraman Taro Kaja, sehingga tidak lagi mengganggu tanaman di ladang masyarakat.
Apabila terjadi kelahiran sapi putih dari sapi milik pribadi masyarakat, mereka tidak berani memeliharanya, dan menyerahkannya ke desa untuk dikumpulkan bersama sapi putih yang lain. Sekarang, seperti telah disebutkan diatas, pemeliharaan sapi (lembu) putih di desa Taro dikelola secara intensif (dikandangkan) oleh satu Yayasan yang bernama Yayasan Lembu Putih Taro.
Desa Taro sebelumnya merupakan sebuah kawasan hutan yang luasnya mencapai 1562,20 hektar dengan ketinggian antara 600 hingga 700 meter di atas permukaan laut, beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 221,3 ml setiap bulan dengan curah hujan terbesar pada bulan Nopember sampai dengan Maret (Susari, 2013).
Desa Pekraman Taro Kaja yang merupakan tempat dimana sapi putih tersebut diisolasi keberadaannya, membentang dari Utara ke Selatan dengan luas wilayah 225.127, 45 ha, diapit oleh sungai Wos Istri di sebelah Barat serta sungai Wos Lanang di sebelah Timur. Bila dilihat secara geografis, ketinggian Desa Pekraman Taro Kaja 809’4” hingga 8029’38” Lintang Selatan dan 115015’18,8” hingga 115019’40,8” Bujur Timur.
Sebelum tertata seperti saat ini, sapi putih ini hidup dan berkembang biak secara bebas atau liar di kawasan hutan Desa Taro. Dahulu ukuran tubuh sapi putih dilaporkan besar-besar dan disebut sebagai lembu putih, namun sekarang ini ukurannya seperti sapi Bali pada umumnya.
Perkembangbiakan lembu atau sapi putih saat itu tidak terkontrol dan saat birahi mereka menjadi beringas dan sering mengganggu perkebunan masyarakat setempat.
Dalam rimba hutan itupun masih berlaku “siapa yang kuat maka dia yang akan menang” sehingga sering terjadi
pertarungan diantara sapi atau lembu putih ini, kematian pun tidak bisa dihindari.
Menurut Dharmawan et al. (2010) populasi sapi putih Taro saat itu ada sebanyak 39 ekor, 30 ekor di Desa Taro Kaja dan 9 ekor di Desa Taro Kelod. Sekarang ini semua sapi putih yang ada di desa Taro dipelihara/dikandangkan di satu lokasi di Desa Taro Kaja (Gambar 4). Pemeliharaan sapi putih ini dilaksanakan oleh Yayasan Lembu Putih Taro yang didirikan tahun 2012. Populasi tersebut mengalami penurunan, tahun 2012 menjadi 30 ekor dan tahun 2013 hanya tersisa 29 ekor, yaitu 15 ekor jantan dewasa dan 1 ekor masih muda (pedet), 10 ekor induk dan 3 ekor pedet betina. Penurunan populasi yang ada perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah karena bila diamati sapi putih tersebut sudah mendekati kepunahan (Aryani et al., 2013).
Sistem pemeilharaan sapi taro dilakukan secara bersama-sama oleh warga Desa Taro. Masyarakat Desa Taro, terutama warga Desa Pakraman Taro Kaja sangat meyakini kesucian hewan ini. Bahkan mereka tak berani memelihara secara pribadi apalagi membunuh hewan suci tersebut. Seandainya ada sapi putih yang lahir dari sapi peliharaannya, ketika mencapai umur enam (6) bulan maka pemeliharaannya diserahkan kepada Desa. Dalam kesehariannya, anggota masyarakat ditugaskan secara bergilir untuk memberi makan sapi-sapi tersebut. Intinya sapi tersebut diperlakukan istimewa. Demikian pula dengan keturunan sapi putih tersebut, meskipun lahir berwarna lain.
Pelestarian sapi putih terkait dengan keperluan adat atau keagamaan masyarakat Hindu di Bali perlu mendapat perhatian serta pertimbangan kebijakan untuk mewujudkan pulau Bali sebagai lokasi bibit sapi bali murni. Keberadaan sapi putih di desa ini menjadi daya tarik tersendiri karena berbeda dengan warna sapi bali pada umumnya, yaitu
tempat di desa Pekraman Taro Kaja, sehingga tidak lagi mengganggu tanaman di ladang masyarakat.
Apabila terjadi kelahiran sapi putih dari sapi milik pribadi masyarakat, mereka tidak berani memeliharanya, dan menyerahkannya ke desa untuk dikumpulkan bersama sapi putih yang lain. Sekarang, seperti telah disebutkan diatas, pemeliharaan sapi (lembu) putih di desa Taro dikelola secara intensif (dikandangkan) oleh satu Yayasan yang bernama Yayasan Lembu Putih Taro.
Desa Taro sebelumnya merupakan sebuah kawasan hutan yang luasnya mencapai 1562,20 hektar dengan ketinggian antara 600 hingga 700 meter di atas permukaan laut, beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata 221,3 ml setiap bulan dengan curah hujan terbesar pada bulan Nopember sampai dengan Maret (Susari, 2013).
Desa Pekraman Taro Kaja yang merupakan tempat dimana sapi putih tersebut diisolasi keberadaannya, membentang dari Utara ke Selatan dengan luas wilayah 225.127, 45 ha, diapit oleh sungai Wos Istri di sebelah Barat serta sungai Wos Lanang di sebelah Timur. Bila dilihat secara geografis, ketinggian Desa Pekraman Taro Kaja 809’4” hingga 8029’38” Lintang Selatan dan 115015’18,8” hingga 115019’40,8” Bujur Timur.
Sebelum tertata seperti saat ini, sapi putih ini hidup dan berkembang biak secara bebas atau liar di kawasan hutan Desa Taro. Dahulu ukuran tubuh sapi putih dilaporkan besar-besar dan disebut sebagai lembu putih, namun sekarang ini ukurannya seperti sapi Bali pada umumnya.
Perkembangbiakan lembu atau sapi putih saat itu tidak terkontrol dan saat birahi mereka menjadi beringas dan sering mengganggu perkebunan masyarakat setempat.
Dalam rimba hutan itupun masih berlaku “siapa yang kuat maka dia yang akan menang” sehingga sering terjadi
pertarungan diantara sapi atau lembu putih ini, kematian pun tidak bisa dihindari.
Menurut Dharmawan et al. (2010) populasi sapi putih Taro saat itu ada sebanyak 39 ekor, 30 ekor di Desa Taro Kaja dan 9 ekor di Desa Taro Kelod. Sekarang ini semua sapi putih yang ada di desa Taro dipelihara/dikandangkan di satu lokasi di Desa Taro Kaja (Gambar 4). Pemeliharaan sapi putih ini dilaksanakan oleh Yayasan Lembu Putih Taro yang didirikan tahun 2012. Populasi tersebut mengalami penurunan, tahun 2012 menjadi 30 ekor dan tahun 2013 hanya tersisa 29 ekor, yaitu 15 ekor jantan dewasa dan 1 ekor masih muda (pedet), 10 ekor induk dan 3 ekor pedet betina. Penurunan populasi yang ada perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah karena bila diamati sapi putih tersebut sudah mendekati kepunahan (Aryani et al., 2013).
Sistem pemeilharaan sapi taro dilakukan secara bersama-sama oleh warga Desa Taro. Masyarakat Desa Taro, terutama warga Desa Pakraman Taro Kaja sangat meyakini kesucian hewan ini. Bahkan mereka tak berani memelihara secara pribadi apalagi membunuh hewan suci tersebut. Seandainya ada sapi putih yang lahir dari sapi peliharaannya, ketika mencapai umur enam (6) bulan maka pemeliharaannya diserahkan kepada Desa. Dalam kesehariannya, anggota masyarakat ditugaskan secara bergilir untuk memberi makan sapi-sapi tersebut. Intinya sapi tersebut diperlakukan istimewa. Demikian pula dengan keturunan sapi putih tersebut, meskipun lahir berwarna lain.
Pelestarian sapi putih terkait dengan keperluan adat atau keagamaan masyarakat Hindu di Bali perlu mendapat perhatian serta pertimbangan kebijakan untuk mewujudkan pulau Bali sebagai lokasi bibit sapi bali murni. Keberadaan sapi putih di desa ini menjadi daya tarik tersendiri karena berbeda dengan warna sapi bali pada umumnya, yaitu
berwarna merah bata pada sapi betina, sedangkan sapi jantan setelah dewasa warnanya menjadi hitam.
Dewasa ini kawasan tersebut telah berubah, tertata lebih rapi dimana konservasi hutan dilaksanakan dan dikelola oleh Desa Pekraman seluas 27 Ha termasuk sapi putih yang masih ada dikandangkan di dua posisi kandang.
Penataan ini ternyata terkait dengan perencanaan kawasan tersebut untuk dijadikan daerah obyek wisata. Penempatan Patung Dewa Siwa yang mengendarai sapi atau lembu putih sebagai simbol keyakinan masyarakat setempat akan kekeramatan sapi atau lembu putih ini dianggap sebagai suatu fenomena budaya yang perlu diperhatikan untuk pelestarian lingkungan.
4.14 Kearifan Lokal Desa Taro
Masyarakat tradisional sesungguhnya telah memiliki mekanisme pelestarian lingkungan yang telah melindungi sistem ekologi selama ribuan tahun. Di Bali, seperangkat kepercayaan tradisional yang merupakan bagian integral dari cara hidup orang Bali, juga terbukti memberikan dampak positif terhadap kelestarian sistem ekologi. Salah satunya, keberadaan lembu putih di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar.
Manusia diciptakan tidak dapat terlepas dari alam semesta sehingga keberadaan, kesejahteraan, kedamaian, keselarasan dan keharmonisan alam semesta harus dijaga kesuburannya. Menjaga kesuburan alam semesta, masya-rakat Desa Taro melaksanakan upacara Tawur Panca Wali Krama Agung yang dilaksanakan di Pura Agung Gunung Raung. Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung banyak menggunakan binatang salah satunya adalah lembu putih.
Lembu putih di dalam Tawur Panca Wali Krama Agung mempunyai berbagai fungsi sebagai pelengkap upacara tersebut.
Adapun fungsi dari lembu putih pada Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung di Pura Agung Gunung Raung adalah sebagai berikut: pertama, yaitu diambil air susunya atau yang disebut dengan mamineh empehan lembu putih,
Adapun fungsi dari lembu putih pada Upacara Tawur Panca Wali Krama Agung di Pura Agung Gunung Raung adalah sebagai berikut: pertama, yaitu diambil air susunya atau yang disebut dengan mamineh empehan lembu putih,