II. KAMBING GEMBRONG
4.9 Ciri Sapi Putih Taro
Sapi (lembu) putih Taro adalah merupakan variasi fenotipik dari species Bos sondaicus atau Bibos banteng (sapi bali) yang dimungkinkan karena mutasi gen warna kulit/bulu normal/standar (sapi bali) menjadi gen albino resesif yang terjadi di masa lampau. Penelitian Susari (2013) juga menyimpulkan bahwa sapi putih Taro memiliki kekerabatan dekat dengan sapi bali, dan dari gambaran pohon filogeninya terlihat bahwa sapi putih Taro dan sapi bali berasal dari leluhur yang sama.
Beberapa variasi warna lain juga dijumpai pada sapi bali (Oka, 2012) seperti “injin” yaitu warna hitam dari sejak lahir baik pada sapi jantan maupun yang betina), “gading”
dengan warna bulu kekuningan, moncong, iris mata, tanduk dan kukunya berwarna merah muda (pink) seperti pada sapi putih, “panjut” (bulu ekor berwarna putih), “cudang”
(warna putih pada dahi), “mores” (warna kaki dibawah lutut tidak putih tetapi merah bata atau hitam). Semua variasi fenotipik diatas merupakan penyimpangan dari warna standar sapi bali murni dan harus diiliminasi agar tidak merusak standar bangsa sapi bali murni.
Sapi Taro memiliki beberapa ciri fenotipik khas yang membedakannya dengan sapi Bali pada umumnya, yaitu:
pada umumnya bulu berwarna putih, kulit albino, iris mata dan kuku berwarna pucat atau bening, warna tanduk dan teracak lebih pucat daripada sapi Bali biasa, dan tidak tahan terhadap sinar matahari secara langsung.
Disamping ciri-ciri khas tersebut, pada sapi Taro juga terdapat ciri-ciri yang sama dengan ciri khas yang dimiliki oleh sapi Bali pada umumnya, yakni warna putih berbentuk
oval yang khas pada pantat dan tungkai bagian bawahnya.
Berdasarkan adanya ciri fenotipik yang sama tersebut, diperkirakan sapi Taro merupakan keturunan dari ras sapi Bali yang mengandung sifat-sifat albino.
4.10 Karakteristik Sapi Putih Taro
Hasil observasi yang dilakukan terhadap sapi putih di Desa Taro ditemukan bahwa sapi putih atau lembu putih taro memiliki ciri-ciri yang tidak jauh berbeda dengan sapi bali.
Secara pengelihatan secara fisik, sapi putih taro memiliki karakteristik ukuran tubuh, seperti panjang badan, tinggi gumba/pundak, lebar dada, dan tinggi pinggul tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sapi bali yang berwarna normal, baik pada sapi putih jantan maupun yang betina.
Lebih jelasnya tersaji pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6. Bentuk fisik lembu putih taro betina Sapi putih ini masih terlihat memiliki ciri khas sapi bali yang berwarna normal, seperti terlihat pada warna putih
selama musim hujan dan melahirkan selama musim kemarau, maka sapi-sapi tersebut memiliki suplai susu yang rendah.
4.9 Ciri Sapi Putih Taro
Sapi (lembu) putih Taro adalah merupakan variasi fenotipik dari species Bos sondaicus atau Bibos banteng (sapi bali) yang dimungkinkan karena mutasi gen warna kulit/bulu normal/standar (sapi bali) menjadi gen albino resesif yang terjadi di masa lampau. Penelitian Susari (2013) juga menyimpulkan bahwa sapi putih Taro memiliki kekerabatan dekat dengan sapi bali, dan dari gambaran pohon filogeninya terlihat bahwa sapi putih Taro dan sapi bali berasal dari leluhur yang sama.
Beberapa variasi warna lain juga dijumpai pada sapi bali (Oka, 2012) seperti “injin” yaitu warna hitam dari sejak lahir baik pada sapi jantan maupun yang betina), “gading”
dengan warna bulu kekuningan, moncong, iris mata, tanduk dan kukunya berwarna merah muda (pink) seperti pada sapi putih, “panjut” (bulu ekor berwarna putih), “cudang”
(warna putih pada dahi), “mores” (warna kaki dibawah lutut tidak putih tetapi merah bata atau hitam). Semua variasi fenotipik diatas merupakan penyimpangan dari warna standar sapi bali murni dan harus diiliminasi agar tidak merusak standar bangsa sapi bali murni.
Sapi Taro memiliki beberapa ciri fenotipik khas yang membedakannya dengan sapi Bali pada umumnya, yaitu:
pada umumnya bulu berwarna putih, kulit albino, iris mata dan kuku berwarna pucat atau bening, warna tanduk dan teracak lebih pucat daripada sapi Bali biasa, dan tidak tahan terhadap sinar matahari secara langsung.
Disamping ciri-ciri khas tersebut, pada sapi Taro juga terdapat ciri-ciri yang sama dengan ciri khas yang dimiliki oleh sapi Bali pada umumnya, yakni warna putih berbentuk
oval yang khas pada pantat dan tungkai bagian bawahnya.
Berdasarkan adanya ciri fenotipik yang sama tersebut, diperkirakan sapi Taro merupakan keturunan dari ras sapi Bali yang mengandung sifat-sifat albino.
4.10 Karakteristik Sapi Putih Taro
Hasil observasi yang dilakukan terhadap sapi putih di Desa Taro ditemukan bahwa sapi putih atau lembu putih taro memiliki ciri-ciri yang tidak jauh berbeda dengan sapi bali.
Secara pengelihatan secara fisik, sapi putih taro memiliki karakteristik ukuran tubuh, seperti panjang badan, tinggi gumba/pundak, lebar dada, dan tinggi pinggul tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sapi bali yang berwarna normal, baik pada sapi putih jantan maupun yang betina.
Lebih jelasnya tersaji pada Gambar 4.6.
Gambar 4.6. Bentuk fisik lembu putih taro betina Sapi putih ini masih terlihat memiliki ciri khas sapi bali yang berwarna normal, seperti terlihat pada warna putih
berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah lututnya yang diistilahkan dengan white stocking (Gambar 4.7).
Gambar 4.7. Warna putih berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah
lututnya
Analisis pedigree dan segregasi menurut teori Mendel terhadap data yang diperoleh dan dilaporkan oleh Oka (1995), disimpulkan bahwa warna putih pada sapi bali adalah albino dan diturunkan secara autosomal dari tetua kepada anak-anaknya dan bersifat resesif terhadap warna standar (normal). Analisis Pujaastawa dan Suwena (2013) terhadap ciri fenotipik sapi putih Taro yang memiliki ciri khas sapi Bali yaitu warna putih berbentuk oval pada pantat dan tungkai bagian bawahnya memperkirakan sapi putih Taro merupakan keturunan dari sapi Bali yang membawa gen albino.
Berdasarkan pengamatan di lapangan (Agustus 2015), dari 42 ekor populasi sapi putih taro, ternyata warna bulu sapi taro ada tiga macam, yaitu warna putih sebanyak 33
ekor; merah sebanyak 3 ekor; dan hitam sebanyak 6 ekor.
Namun demikian, hampir kebanyakan sapi taro yang berada di desa Taro saat ini dominan berwarna putih.
Warna putih ternyata dimiliki juga oleh sapi jantan. Hal inilah yang sangat khas membedakan dengan sapi bali jantan yang berwarna gelap atau hitam. Lebih jelasnya warna bulu sapi Taro tersaji pada Gambar 4.8.
Gambar 4.8. Sapi Taro jantan warna hitam, merah, dan putih
Nampaknya pengurus Yayasan Lembu Putih Taro belum melaksanakan system recording, sehingga sangat sulit untuk mengetahui siapa tetua (pejantan) dari sapi yang saat pengamatan ada empat ekor pedet (Gambar 4.9) yang kesemuanya berwarna putih dari induk yang berwarna putih.
berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah lututnya yang diistilahkan dengan white stocking (Gambar 4.7).
Gambar 4.7. Warna putih berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah
lututnya
Analisis pedigree dan segregasi menurut teori Mendel terhadap data yang diperoleh dan dilaporkan oleh Oka (1995), disimpulkan bahwa warna putih pada sapi bali adalah albino dan diturunkan secara autosomal dari tetua kepada anak-anaknya dan bersifat resesif terhadap warna standar (normal). Analisis Pujaastawa dan Suwena (2013) terhadap ciri fenotipik sapi putih Taro yang memiliki ciri khas sapi Bali yaitu warna putih berbentuk oval pada pantat dan tungkai bagian bawahnya memperkirakan sapi putih Taro merupakan keturunan dari sapi Bali yang membawa gen albino.
Berdasarkan pengamatan di lapangan (Agustus 2015), dari 42 ekor populasi sapi putih taro, ternyata warna bulu sapi taro ada tiga macam, yaitu warna putih sebanyak 33
ekor; merah sebanyak 3 ekor; dan hitam sebanyak 6 ekor.
Namun demikian, hampir kebanyakan sapi taro yang berada di desa Taro saat ini dominan berwarna putih.
Warna putih ternyata dimiliki juga oleh sapi jantan. Hal inilah yang sangat khas membedakan dengan sapi bali jantan yang berwarna gelap atau hitam. Lebih jelasnya warna bulu sapi Taro tersaji pada Gambar 4.8.
Gambar 4.8. Sapi Taro jantan warna hitam, merah, dan putih
Nampaknya pengurus Yayasan Lembu Putih Taro belum melaksanakan system recording, sehingga sangat sulit untuk mengetahui siapa tetua (pejantan) dari sapi yang saat pengamatan ada empat ekor pedet (Gambar 4.9) yang kesemuanya berwarna putih dari induk yang berwarna putih.
Gambar 4.9. Pedet sapi Taro yang berwarna putih dari induk putih.
4.10.1. Warna
Warna kulit putih pada yang betina dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan. Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda. Lebih rinci terlihat seperti pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10. Sapi putih taro
4.10.2. Tanduk
Bentuk tanduk sapi putih taro tidak jauh berbeda dengan tanduk standar sapi bali umumnya, yaitu tumbuh ke samping kemudian ke atas dan ujungnya sedikit ke dalam pada sapi yang jantan, sedangkan pada sapi betina tanduknya lebih pendek daripada tanduk sapi jantan, tumbuh sedikit ke atas kemudian ke belakang dan ujungnya sedikit melengkung ke bawah atau dikenal dengan istilah
“manggul gangsa” seperti tersaji pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11. Tanduk “manggul gangsa” pada sapi putih taro
Hasil observasi yang dilakukan terhadap sapi putih di Desa Taro menemukan bahwa sapi putih tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ukuran tubuh (panjang badan, tinggi gumba/pundak, lebar dada, dan tinggi pinggul) baik pada sapi putih jantan maupun yang betina tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sapi bali yang berwarna normal.
Gambar 4.9. Pedet sapi Taro yang berwarna putih dari induk putih.
4.10.1. Warna
Warna kulit putih pada yang betina dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan. Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda. Lebih rinci terlihat seperti pada Gambar 4.10.
Gambar 4.10. Sapi putih taro
4.10.2. Tanduk
Bentuk tanduk sapi putih taro tidak jauh berbeda dengan tanduk standar sapi bali umumnya, yaitu tumbuh ke samping kemudian ke atas dan ujungnya sedikit ke dalam pada sapi yang jantan, sedangkan pada sapi betina tanduknya lebih pendek daripada tanduk sapi jantan, tumbuh sedikit ke atas kemudian ke belakang dan ujungnya sedikit melengkung ke bawah atau dikenal dengan istilah
“manggul gangsa” seperti tersaji pada Gambar 4.11.
Gambar 4.11. Tanduk “manggul gangsa” pada sapi putih taro
Hasil observasi yang dilakukan terhadap sapi putih di Desa Taro menemukan bahwa sapi putih tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Ukuran tubuh (panjang badan, tinggi gumba/pundak, lebar dada, dan tinggi pinggul) baik pada sapi putih jantan maupun yang betina tidak jauh berbeda dengan ukuran tubuh sapi bali yang berwarna normal.
b. Warna kulit putih pada yang betina (Gambar 4.6) dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan (Gambar 4.7). Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda.
c. Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik
d. Sapi putih ini masih terlihat memiliki ciri khas sapi bali yang berwarna normal, seperti terlihat pada warna putih berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah lututnya yang diistilahkan dengan white stocking.
Selain sapi (lembu) putih yang dijumpai di Desa Taro, beberapa sapi bali putih juga dijumpai di beberapa desa lain di Bali seperti di desa Manggis (Karangasem), Tampaksiring (Gianyar) dan Sibang di Kabupaten Badung (Oka, 1995). Analisis pedigree dan segregasi menurut teori Mendel terhadap data yang diperoleh dan dilaporkan oleh Oka (1995), disimpulkan bahwa warna putih pada sapi bali adalah albino dan diturunkan secara autosomal dari tetua kepada anak-anaknya dan bersifat resesif terhadap warna standar (normal). Analisis Pujaastawa dan Suwena (2013) terhadap ciri fenotipik sapi putih Taro yang memiliki ciri khas sapi Bali yaitu warna putih berbentuk oval pada pantat dan tungkai bagian bawahnya memperkirakan sapi putih Taro merupakan keturunan dari sapi Bali yang membawa gen albino.
Secara ilmiah, sapi taro ini merupakan sapi bali yang memiliki kelainan pigmentasi (albino) yang mengakibatkan seluruh tubuhnya berwarna putih. memiliki kekrabatan yang
sangat dekat dengan sapi bali, namun seluruh badannya berwarna putih.
Pemberian pakan diatur oleh yayasan dimana masyarakat digilir dan setiap Kepala Keluarga (KK) untuk menyiapkan 6 ikat, berat 25-30 kg diambil dari tegal yang dipakai oleh desa. Pakan berupa potongan rumput gajah, rumput alami atau rumput lapangan (Gambar 5). Jenis pakan lainnya berupa daun-daunan, seperti: daun nangka, daun gamal dan daun blalu tapi kadang-kadang diberikan pula batang pisang (gedebong), terutama pada saat musim kemarau. Konsentrat seperti polard hanya diberikan sesekali bila ada bantuan dari masyarakat setempat atau dari pihak-pihak yang peduli.
4.11 Manfaat/Kegunaan
Lembu putih digunakan dalam upacara penting agama Hindu di Bali yaitu pada upacara Purwadaksina yaitu upacara ritual berkeliling sesuai arah jarum jam dilokasi upacara tingkat utama yang melambangkan perjalanan menuju swahloka (suwarga). Lembu putih ini berperan sebagai penuntun dalam perjalanan tersebut. Dalam kaitannya dengan upacara agama Hindu tersebut sapi (lembu) putih Taro sering digunakan.
Apabila masyarakat di suatu desa tertentu akan menyelenggarakan upacara Purwadaksina dan menggu-nakan lembu putih, maka masyarakat tersebut melakukan penjemputan lembu putih Taro dengan upacara yang dipimpin oleh Pemangku Pura disana, dan kemudian setelah upacara penjemputan selesai, lembu putih diantar oleh pengiring yang berasal dari desa Taro ke tempat penyelenggaraan upacara Purwadaksina. Apabila upacara Purwadaksina telah selesai, lembu putih dibawa kembali ke desa Taro.
b. Warna kulit putih pada yang betina (Gambar 4.6) dan agak sedikit kemerahan pada yang jantan (Gambar 4.7). Kedua sapi ini tanpa garis belut, bulu ekor berwarna putih, moncong (muzzle), iris mata, tanduk, dan kuku berwarna merah muda (pink) sampai coklat muda.
c. Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik
d. Sapi putih ini masih terlihat memiliki ciri khas sapi bali yang berwarna normal, seperti terlihat pada warna putih berbentuk oval pada bagian pantatnya dan warna putih pada keempat kaki dibawah lututnya yang diistilahkan dengan white stocking.
Selain sapi (lembu) putih yang dijumpai di Desa Taro, beberapa sapi bali putih juga dijumpai di beberapa desa lain di Bali seperti di desa Manggis (Karangasem), Tampaksiring (Gianyar) dan Sibang di Kabupaten Badung (Oka, 1995). Analisis pedigree dan segregasi menurut teori Mendel terhadap data yang diperoleh dan dilaporkan oleh Oka (1995), disimpulkan bahwa warna putih pada sapi bali adalah albino dan diturunkan secara autosomal dari tetua kepada anak-anaknya dan bersifat resesif terhadap warna standar (normal). Analisis Pujaastawa dan Suwena (2013) terhadap ciri fenotipik sapi putih Taro yang memiliki ciri khas sapi Bali yaitu warna putih berbentuk oval pada pantat dan tungkai bagian bawahnya memperkirakan sapi putih Taro merupakan keturunan dari sapi Bali yang membawa gen albino.
Secara ilmiah, sapi taro ini merupakan sapi bali yang memiliki kelainan pigmentasi (albino) yang mengakibatkan seluruh tubuhnya berwarna putih. memiliki kekrabatan yang
sangat dekat dengan sapi bali, namun seluruh badannya berwarna putih.
Pemberian pakan diatur oleh yayasan dimana masyarakat digilir dan setiap Kepala Keluarga (KK) untuk menyiapkan 6 ikat, berat 25-30 kg diambil dari tegal yang dipakai oleh desa. Pakan berupa potongan rumput gajah, rumput alami atau rumput lapangan (Gambar 5). Jenis pakan lainnya berupa daun-daunan, seperti: daun nangka, daun gamal dan daun blalu tapi kadang-kadang diberikan pula batang pisang (gedebong), terutama pada saat musim kemarau. Konsentrat seperti polard hanya diberikan sesekali bila ada bantuan dari masyarakat setempat atau dari pihak-pihak yang peduli.
4.11 Manfaat/Kegunaan
Lembu putih digunakan dalam upacara penting agama Hindu di Bali yaitu pada upacara Purwadaksina yaitu upacara ritual berkeliling sesuai arah jarum jam dilokasi upacara tingkat utama yang melambangkan perjalanan menuju swahloka (suwarga). Lembu putih ini berperan sebagai penuntun dalam perjalanan tersebut. Dalam kaitannya dengan upacara agama Hindu tersebut sapi (lembu) putih Taro sering digunakan.
Apabila masyarakat di suatu desa tertentu akan menyelenggarakan upacara Purwadaksina dan menggu-nakan lembu putih, maka masyarakat tersebut melakukan penjemputan lembu putih Taro dengan upacara yang dipimpin oleh Pemangku Pura disana, dan kemudian setelah upacara penjemputan selesai, lembu putih diantar oleh pengiring yang berasal dari desa Taro ke tempat penyelenggaraan upacara Purwadaksina. Apabila upacara Purwadaksina telah selesai, lembu putih dibawa kembali ke desa Taro.
Disamping itu, menurut informasi penduduk sapi atau disebut juga lembu putih ini dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara ngasti, Eka Dasa Ludra, Panca Wali Krama di Pura Gunung Agung Raung Taro dan Pura Besakih. Saat upacara berlangsung, lembu atau sapi putih ini akan dituntun oleh penyelenggara upacara mengelilingi tempat upacara 3 (tiga) kali dari arah timur ke selatan, dan berakhir di timur bertujuan agar alam semesta ini selamat, damai dan sentosa (dedeg, ajeg, maurip).
Sapi putih ini dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu (Sapi) Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara sebanyak tiga kali.
Upacara ini disebut dengan Purwa Daksina. Untuk dapat menggunakan sapi putih, pihak Desa Adat Taro menarik biaya sewa. Untuk satu kali upacara, baik itu jaraknya jauh atau dekat pihak desa menarik ongkos lebih kurang Rp 600 ribu dengan 15 orang pendamping. Memang, jumlah pendamping tersebut cukup banyak, namun diakuinya hal itu untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.
Gambar 4.12. Pemeliharaan sapi Taro saat ini
4.12. Daya Tahan terhadap Panas dan Kondisi Pakan Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik. Seperti tersaji pada Gambar 4.13, tampak kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari.
Gambar 4.13. Kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari
4.13 Lingkungan
Masyarakat desa Taro menganggap sapi (lembu) putih yang ada di desanya tersebut adalah sapi suci sehingga sangat dihormati dan tidak berani mengganggunya. Dulu waktu sapi-sapi putih tersebut masih hidup liar di hutan Taro sering datang ke perkampungan atau ladang masyarakat disana. Masyarakat tidak berani menghalang atau mengusiknya apabila sapi putih tersebut masuk ke ladangnya, memakan rumput atau tanaman yang ada.
Sekarang sapi putih semuanya sudah dilokalisasi di satu
Disamping itu, menurut informasi penduduk sapi atau disebut juga lembu putih ini dimanfaatkan sebagai pelengkap upacara ngasti, Eka Dasa Ludra, Panca Wali Krama di Pura Gunung Agung Raung Taro dan Pura Besakih. Saat upacara berlangsung, lembu atau sapi putih ini akan dituntun oleh penyelenggara upacara mengelilingi tempat upacara 3 (tiga) kali dari arah timur ke selatan, dan berakhir di timur bertujuan agar alam semesta ini selamat, damai dan sentosa (dedeg, ajeg, maurip).
Sapi putih ini dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu (Sapi) Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara sebanyak tiga kali.
Upacara ini disebut dengan Purwa Daksina. Untuk dapat menggunakan sapi putih, pihak Desa Adat Taro menarik biaya sewa. Untuk satu kali upacara, baik itu jaraknya jauh atau dekat pihak desa menarik ongkos lebih kurang Rp 600 ribu dengan 15 orang pendamping. Memang, jumlah pendamping tersebut cukup banyak, namun diakuinya hal itu untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan.
Gambar 4.12. Pemeliharaan sapi Taro saat ini
4.12. Daya Tahan terhadap Panas dan Kondisi Pakan Sapi putih ini tidak tahan terhadap sinar matahari langsung karena kurangnya pigmen melanin pada bulu maupun kulitnya, dan beberapa sapi terlihat kulitnya luka-luka akibat terbakar sinar matahari yang terik. Seperti tersaji pada Gambar 4.13, tampak kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari.
Gambar 4.13. Kulit bagian punggung induk sapi putih taro teriritasi oleh panas sinar matahari
4.13 Lingkungan
Masyarakat desa Taro menganggap sapi (lembu) putih yang ada di desanya tersebut adalah sapi suci sehingga sangat dihormati dan tidak berani mengganggunya. Dulu waktu sapi-sapi putih tersebut masih hidup liar di hutan Taro sering datang ke perkampungan atau ladang masyarakat disana. Masyarakat tidak berani menghalang
Masyarakat desa Taro menganggap sapi (lembu) putih yang ada di desanya tersebut adalah sapi suci sehingga sangat dihormati dan tidak berani mengganggunya. Dulu waktu sapi-sapi putih tersebut masih hidup liar di hutan Taro sering datang ke perkampungan atau ladang masyarakat disana. Masyarakat tidak berani menghalang