• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. KAMBING GEMBRONG

2.2 Klasifikasi Kambing Gembrong

Kalsifikasi kambing Gembrong adalah sebagai berikut ini.

a. Kingdom : Animalia b. Phylum : Chordata c. Class : Mammalia d. Order : Artiodactyla e. Family : Bovidae f. Genus : Capra

g. Species : Capra aegagrus h. Sub species : Capra aegagrus hircus i. Nama Indonesia : Kambing Gembrong j. Nama lokal Bali : Kambing Gembrong 2.3 Lingkungan

Hasil survey pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa pemeliharaan kambing Gembrong saat ini tersen-tralisasi di Dusun Ujung Tengah, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem sebagai sentra konservasi kambing Gembrong yang berlokasi di latitude

-memiliki bangsa ternak yang sama dan mempunyai sistem produksi serupa.

6. Menguatkan sistem informasi global dan regional dan jejaring untuk pendataan, pemantauan dan karakterisasi. Inter alia, selain dari itu yang terdapat di FAO, the Domestic Animal Diversity Information System (DAD-IS) dan the Global Data bank for Animal Genetic Resources for Food and Agriculture harus diperkuat untuk memperoleh, mengevaluasi dan memantapkan informasi, baik dari pangkalan data nasional dan sistem pemantauan maupun penyebaran informasi tersebut, dan mempertegas ancaman serta kebutuhan yang ada.

7. Memantapkan atau menguatkan sistem peringatan dini dan sistem tanggap terhadap bangsa ternak yang berada dalam kondisi terancam pemusnahan melalui pembangunan mekanisme global peman-tauan resiko dan dimasukkannya kriteria peringatan dini dalam pangkalan data yang ada.

Haruslah diwaspadai bahwa kebutuhan hasil ternak di masa mendatang hendaknya dipenuhi dalam konteks pertanian dan pembangunan yang berkelanjutan, dimana semua ini membutuhkan pendekatan integratif untuk pembangunan ekonomi serta untuk memenuhi tujuan sosial, budaya dan lingkungan. Sangat dipahami keinginan untuk menerapkan pendekatan manajemen yang meng-gabungkan pengetahuan tradisional dengan teknologi modern yang terbaik, dan kebutuhan untuk menerapkan pendekatan agroekosistem dan praktek manajemen sumber daya alam yang terintegrasi.

BAB II

KAMBING GEMBRONG 2.1 Lokasi Pemeliharaan

Pemeliharaan kambing Gembrong tersentralisasi di Dusun Ujung Tengah, Desa Tumbu, Kec. Karangasem, Kabupaten Karangasem, dilakukan dengan sistem intensif, yaitu kambing dikandangkan secara terus mene rus. Pakan yang diberikan berbahan dasar rumput gajah dan hijauan lainnya seperti daun Gamal dengan supple mentasi konsentrat ampas tahu. Pemeliharaan kambing Gembrong tersaji pada Gambar 2.2.

2.2 Klasifikasi Kambing Gembrong

Kalsifikasi kambing Gembrong adalah sebagai berikut ini.

a. Kingdom : Animalia b. Phylum : Chordata c. Class : Mammalia d. Order : Artiodactyla e. Family : Bovidae f. Genus : Capra

g. Species : Capra aegagrus h. Sub species : Capra aegagrus hircus i. Nama Indonesia : Kambing Gembrong j. Nama lokal Bali : Kambing Gembrong 2.3 Lingkungan

Hasil survey pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa pemeliharaan kambing Gembrong saat ini tersen-tralisasi di Dusun Ujung Tengah, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem sebagai sentra konservasi kambing Gembrong yang berlokasi di latitude

-8.4630 (lintang utara) dan longitude 115.62404 (lintang selatan) dengan ketinggian 42 m dari atas per mukaan laut.

Jumlah populasi yang ada sebanyak 34 ekor dikelola oleh kelompok ternak “Wisnu Negara” dengan ketua kelom-poknya adalah I Wayan Mudartha.

2.4 Ciri Kambing Gembrong

Kambing Gembrong yang juga dikenal dengan nama local “kambing bulu dawe” adalah tergolong kambing unik berambut panjang endemik Bali karena hanya dijumpai di salah satu kabupaten di Bali, yaitu Kabupaten Karangasem, Bali. Pada awal Maret 2013, populasi kambing Gembrrong hanya 20 ekor si Sentra penangkaran, yaitu di Desa Tumbu dan 1 ekor di Desa Bugbug. Populasi yang sudah sangat kritis tersebut bila tidak dtangani serius, maka asset kebanggaan bangsa yang tidak ternilai harganya akan punah (Sulandari et al., 2013). Hasil survey bulan Maret 2004, populasi kambing Gembrong di Kabupaten Karang asem sudah meningkat menjadi 34 ekor.

Saat ini, tingkat kehilangan rumpun ternak local paling tinggi dijumpai di Negara-negara berkembang (FAO, 2007) termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, poplasi kambing Gem-brong yang ada saat ini perlu diselamatkan, karena merupakan salah satu plasma nutfah kebanggaan Indo-nesia. Karakter genetik dan morfologi yang telah ter bentuk dari setiap rumpun mempunyai gen kombinasi yang unik karena proses adaptasi ke beberapa lingkungan yang berbeda (Zein et al., 2012). Kombinasi tersebut dapat dibagi menjadi banyak populasi rumpun ternak yang sulit untuk dibentuk lagi. Oleh sebab itu, kehilangan rumpun ternak merupakan kerugian besar bagi masyarakat, bang-sa, dan Negara.

Pelestarian terhadap sumber daya genetik ternak local khususnya kambing Gembrong sebagai bagian dari

komponen keanekaragaman hayati adalah hal penting untuk memenuhi kebutuhan pangan, pertanian, dan per kembangan social di masyarakat di masa yang akan datang. Mengingat kambing Gembrong yang terdapat di Kabupaten Karangasem merupakan plasma nutfah endemik Bali dan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, maka penggalian informasi data tentang sumber genetik kambing Gembrong sangat penting artinya.

Secara fenotipik, cirri khas kambing Gembrong jantan yaitu memiliki rambut panjang sekitar 15-25 cm (Gambar 2.1) dan bahkan dapat menutupi bagian muka dan telinga.

Sedangkan kambing Gembrong betina memiliki panjang rambut sekitar 2-3 cm (Gambar 2.1) dengan variasi warna bulu yang bermacam-macam, seperti warna putih, cokelat, hitam, atau warna campuran yang umumnya didominasi oleh warna putih.

Pengetahuan anatomi kambing Gembrong bagi peter-nak kambing Gembrong sangatlah penting. Peterpeter-nak kambing Gembrong yang mengetahui dan memahami tentang anatomi kambing Gembrong akan dapat memak simalkan faktor-faktor produksi dan dapat mengatasi permasalahan kambing Gembrong khususnya masalah kesehatan dan produktivitas. Selain itu dengan mengetahui anatomi kambing Gembrong, juga dapat mempermudah dalam menentukan strategi konservasi. Adapun anatomi kambing Gembrong adalah sebagai berikut ini.

Kepala/Garis muka: garis muka kambing Gembrong menunjukkan garis muka lurus, sedangkan kambing Kacang memiliki garis muka yang cekung. Lebih jelas nya tersaji pada Gambar 2.3.

Bulu: tubuh kambing Gembrong hampir seluruhnya ditumbuhi bulu kecuali mulut dan sekitar hidung. Bulu ini berfungsi untuk menjaga kestabilan suhu tubuh dari pengaruh suhu luar yang mudah berubah-rubah dan

8.4630 (lintang utara) dan longitude 115.62404 (lintang selatan) dengan ketinggian 42 m dari atas per mukaan laut.

Jumlah populasi yang ada sebanyak 34 ekor dikelola oleh kelompok ternak “Wisnu Negara” dengan ketua kelom-poknya adalah I Wayan Mudartha.

2.4 Ciri Kambing Gembrong

Kambing Gembrong yang juga dikenal dengan nama local “kambing bulu dawe” adalah tergolong kambing unik berambut panjang endemik Bali karena hanya dijumpai di salah satu kabupaten di Bali, yaitu Kabupaten Karangasem, Bali. Pada awal Maret 2013, populasi kambing Gembrrong hanya 20 ekor si Sentra penangkaran, yaitu di Desa Tumbu dan 1 ekor di Desa Bugbug. Populasi yang sudah sangat kritis tersebut bila tidak dtangani serius, maka asset kebanggaan bangsa yang tidak ternilai harganya akan punah (Sulandari et al., 2013). Hasil survey bulan Maret 2004, populasi kambing Gembrong di Kabupaten Karang asem sudah meningkat menjadi 34 ekor.

Saat ini, tingkat kehilangan rumpun ternak local paling tinggi dijumpai di Negara-negara berkembang (FAO, 2007) termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, poplasi kambing Gem-brong yang ada saat ini perlu diselamatkan, karena merupakan salah satu plasma nutfah kebanggaan Indo-nesia. Karakter genetik dan morfologi yang telah ter bentuk dari setiap rumpun mempunyai gen kombinasi yang unik karena proses adaptasi ke beberapa lingkungan yang berbeda (Zein et al., 2012). Kombinasi tersebut dapat dibagi menjadi banyak populasi rumpun ternak yang sulit untuk dibentuk lagi. Oleh sebab itu, kehilangan rumpun ternak merupakan kerugian besar bagi masyarakat, bang-sa, dan Negara.

Pelestarian terhadap sumber daya genetik ternak local khususnya kambing Gembrong sebagai bagian dari

komponen keanekaragaman hayati adalah hal penting untuk memenuhi kebutuhan pangan, pertanian, dan per kembangan social di masyarakat di masa yang akan datang. Mengingat kambing Gembrong yang terdapat di Kabupaten Karangasem merupakan plasma nutfah endemik Bali dan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain, maka penggalian informasi data tentang sumber genetik kambing Gembrong sangat penting artinya.

Secara fenotipik, cirri khas kambing Gembrong jantan yaitu memiliki rambut panjang sekitar 15-25 cm (Gambar 2.1) dan bahkan dapat menutupi bagian muka dan telinga.

Sedangkan kambing Gembrong betina memiliki panjang rambut sekitar 2-3 cm (Gambar 2.1) dengan variasi warna bulu yang bermacam-macam, seperti warna putih, cokelat, hitam, atau warna campuran yang umumnya didominasi oleh warna putih.

Pengetahuan anatomi kambing Gembrong bagi peter-nak kambing Gembrong sangatlah penting. Peterpeter-nak kambing Gembrong yang mengetahui dan memahami tentang anatomi kambing Gembrong akan dapat memak simalkan faktor-faktor produksi dan dapat mengatasi permasalahan kambing Gembrong khususnya masalah kesehatan dan produktivitas. Selain itu dengan mengetahui anatomi kambing Gembrong, juga dapat mempermudah dalam menentukan strategi konservasi. Adapun anatomi kambing Gembrong adalah sebagai berikut ini.

Kepala/Garis muka: garis muka kambing Gembrong menunjukkan garis muka lurus, sedangkan kambing Kacang memiliki garis muka yang cekung. Lebih jelas nya tersaji pada Gambar 2.3.

Bulu: tubuh kambing Gembrong hampir seluruhnya ditumbuhi bulu kecuali mulut dan sekitar hidung. Bulu ini berfungsi untuk menjaga kestabilan suhu tubuh dari pengaruh suhu luar yang mudah berubah-rubah dan

menjaga kambing dari terpaan air. Bulunya bermacam -macam, menempel erat dan terurai. Warna bulu kambing Gembrong hampir 75% didominasi oleh warna putih/krem dari populasi kambing yang ada.

Warna bulu cokelat sebanyak 5% dan warna campuran (putih, krim, cokelat, dan hitam) sebanyak 20%. Hasil pengamatan rambut yang berasal dari 7 individu kambing Gem brong dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya perbedaan struktur rambut di antara 7 individu kambing Gembrong yang dianalisis (Sulandari et al., 2013)

Tanduk: tanduk kambing Gembrong berwarna cokelat gelap seperti umumnya warna tanduk kambing yang lain. Tanduk melingkar kebelakang samping.

Suara: suara kambing Gembrong tidak spesifik dan umunya hampir sama dengan suara kambing lainnya.

Telinga: posisi elinga kambing Gembrong secara umum mengarah pada posisi tegak ke samping.

2.5 Produksi dan Reproduksi

Sistem perkembangbiakan kambing Gembrong adalah dengan beranak, tetapi proses tersebut tidak harus selalu dikaitkan dengan terbentuknya individu baru. Sistem perka-winan masih dilakukan secara alami dengan menggunakan pejantan kambing Gembrong setempat.

Hasil wawancara dengan ketua kelompok ternak di sentra penangkaran kambing mendapatkan bahwa rataan kelahiran anak adalah 1,5 ekor per kelahiran. Rataan bobot lahir anak kambing jantan adalah 1,88 kg dan betina 1,82 kg. Bobot kambing Gembrong dewasa berkisar antara 30-35 kg, dan bobot kambing betina berkisar antara 19-25 kg.

2.6 Manfaat dan Kegunaan

Kambing Gembrong merupakan kambing dwi guna, sehingga manfaat utama kambing Gembrong adalah sebagai penghasil susu dan daging. Selain itu, manfaat lain yang bernilai ekonomi tinggi adalah warna bulu. Warna bulu yang mempunyai nilai ekonomi tertinggi adalah bulu putih. Namun sampai saat ini, karena popolasinya hampir punah, sejak 10 tahun terakhir tidak pernah diperjual belikan. Padahal penawaran untuk memelihara kambing Gembrong sangat banyak dengan nilai penawaran tertinggi 15 juta rupiah per ekor.

Gambar 2.1. Bulu kambing Gembrong yang panjang sampai menutupi mata (kiri) dan kambing Gembrong

betina (kanan)

menjaga kambing dari terpaan air. Bulunya bermacam -macam, menempel erat dan terurai. Warna bulu kambing Gembrong hampir 75% didominasi oleh warna putih/krem dari populasi kambing yang ada.

Warna bulu cokelat sebanyak 5% dan warna campuran (putih, krim, cokelat, dan hitam) sebanyak 20%. Hasil pengamatan rambut yang berasal dari 7 individu kambing Gem brong dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope) menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya perbedaan struktur rambut di antara 7 individu kambing Gembrong yang dianalisis (Sulandari et al., 2013)

Tanduk: tanduk kambing Gembrong berwarna cokelat gelap seperti umumnya warna tanduk kambing yang lain. Tanduk melingkar kebelakang samping.

Suara: suara kambing Gembrong tidak spesifik dan umunya hampir sama dengan suara kambing lainnya.

Telinga: posisi elinga kambing Gembrong secara umum mengarah pada posisi tegak ke samping.

2.5 Produksi dan Reproduksi

Sistem perkembangbiakan kambing Gembrong adalah dengan beranak, tetapi proses tersebut tidak harus selalu dikaitkan dengan terbentuknya individu baru. Sistem perka-winan masih dilakukan secara alami dengan menggunakan pejantan kambing Gembrong setempat.

Hasil wawancara dengan ketua kelompok ternak di sentra penangkaran kambing mendapatkan bahwa rataan kelahiran anak adalah 1,5 ekor per kelahiran. Rataan bobot lahir anak kambing jantan adalah 1,88 kg dan betina 1,82 kg. Bobot kambing Gembrong dewasa berkisar antara 30-35 kg, dan bobot kambing betina berkisar antara 19-25 kg.

2.6 Manfaat dan Kegunaan

Kambing Gembrong merupakan kambing dwi guna, sehingga manfaat utama kambing Gembrong adalah sebagai penghasil susu dan daging. Selain itu, manfaat lain yang bernilai ekonomi tinggi adalah warna bulu. Warna bulu yang mempunyai nilai ekonomi tertinggi adalah bulu putih. Namun sampai saat ini, karena popolasinya hampir punah, sejak 10 tahun terakhir tidak pernah diperjual belikan. Padahal penawaran untuk memelihara kambing Gembrong sangat banyak dengan nilai penawaran tertinggi 15 juta rupiah per ekor.

Gambar 2.1. Bulu kambing Gembrong yang panjang sampai menutupi mata (kiri) dan kambing Gembrong

betina (kanan)

Gambar 2.2. Pemeliharaan kambing Gembrong di sentra konservasi kambing Gembrong di Desa Tumbu,

Karangasem

Gambar 2.3. Sentra konservasi kambing Gembrong di Dusun Ujung Tengah, Desa Tumbu, Kecamatan

Karangasem, Kabupaten Karangasem

Gambar 2.4. Garis muka dan warna bulu kambing Gembrong

Gambar 2.2. Pemeliharaan kambing Gembrong di sentra konservasi kambing Gembrong di Desa Tumbu,

Karangasem

Gambar 2.3. Sentra konservasi kambing Gembrong di Dusun Ujung Tengah, Desa Tumbu, Kecamatan

Karangasem, Kabupaten Karangasem

Gambar 2.4. Garis muka dan warna bulu kambing Gembrong

BAB III.

ANJING KINTAMANI 3.1 Lokasi Pemeliharaan

Anjing Kintamani Bali banyak ditemukan didaerah pe-gunungan Kintamani, Kabupaten Bangli pulau Bali. Anjing Bali yang lazim disebut anjing Kintamani adalah jenis anjing lokal yang banyak dijumpai di kawasan pegunungan Batur, Kabupateng Bangli.

Anjing ini sebenarnya sudah dikenal lama oleh masya-rakat Bali, sejak tahun 1970-an telah diperjual belikan oleh masyarakat setempat, di kawasan wisata Kintamani dan juga di daerah perkotaan, seperti Denpasar. Oleh karena itu lokasi pemeliharaan anjing tersebut sudah menyebar hampir ke seluruh Bali.

3.2 Klasifikasi Anjing Kintamai

Klasifikasi anjing Kintamani dapat diuraikan sebagai berikut ini

a. Famili : Canidea b. Genus : Canis

c. Species : Canis lupus familiaris var Bali - Kintamani d. Nama Indonesia: Anjing Kintamani

e. Nama Lokal Bali: Anjing Gembrong 3.3 Lingkungan

Seperti halnya dengan anjing lainnya yang ada di dunia, anjing bali (Kintamani) dikelompokkan dalam suku Canis familiaris var Bali-Kintamani. Dikatakan demikian karena habitat dan kawasan sebaran populasi meliputi Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, Provensi Bali.

Karena habitatnya di kawasan pegunungan, maka sebagai kompensasinya adalah bulunya tebal yang berfungsi

sebagai selimut tubuhnya. Pada tahun 1980-an di Desa Sukawana yang paling banyak populasinya, sehingga daerah ini dianggap sebagai asal-usul anjing bali (Kinta-mani), bahkan sebagai kawasan plasma nutfah, namun asal-usul yang pasti belum banyak diungkapkan atau diketahui melalui penelitian dan kepustakaan, hanya sekedar opini dan wacana.

Masyarakat Pulau Bali, khususnya masyarakat mani telah lama mengenal dan memelihara Anjing Kinta-mani sebagai anjing khas Pulau Dewata. Keberadaannya dikenal sebagai anjing Gembrong berasal dari Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Namun hanya sebagian kecil masyarakat memelihara secara intesif, sedangkan kebanyakan kurang mengurus anjingnya dan dibiarkan berkeliaran, kadang lupa memberi makan, walaupun rasa memiliki anjing tersebut tetap besar.

Ironisnya sampai saat ini sebagian masyarakat ada yang beranggapan setiap anjing yang berbulu tebal (gembrong) berasal dan daerah Kintamani tanpa ciri-ciri yang jelas disebut Anjing Kintamani. Pemyataan itu tidak bisa disalahkan, karena sejarah anjing Kintamani sampai sekarang belum ada yang mengungkapkan asal-usulnya, yang banyak ditulis adalah hubungan manusia dan anjing.

Diisyaratkan melalui legenda, hikayat, dongeng-dongeng ataupun melalui lukisan ataupun relief pahatan para seniman pada masanya. Bahkan Cites Gilimanuk hanya mengungkap keberadaan hubungan antara manusia dan anjing. Barangkali hubungan ini terjalin sejak era Bali kuno (Rahardjo, 2005). Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli memiliki ordinat yang terletak pada latitude -8.190044 Lintang Selatan (LS), dan longitude 115,320485 dengan ketinggian tempat 2000 feet dari permukaan laut.

BAB III.

ANJING KINTAMANI 3.1 Lokasi Pemeliharaan

Anjing Kintamani Bali banyak ditemukan didaerah pe-gunungan Kintamani, Kabupaten Bangli pulau Bali. Anjing Bali yang lazim disebut anjing Kintamani adalah jenis anjing lokal yang banyak dijumpai di kawasan pegunungan Batur, Kabupateng Bangli.

Anjing ini sebenarnya sudah dikenal lama oleh masya-rakat Bali, sejak tahun 1970-an telah diperjual belikan oleh masyarakat setempat, di kawasan wisata Kintamani dan juga di daerah perkotaan, seperti Denpasar. Oleh karena itu lokasi pemeliharaan anjing tersebut sudah menyebar hampir ke seluruh Bali.

3.2 Klasifikasi Anjing Kintamai

Klasifikasi anjing Kintamani dapat diuraikan sebagai berikut ini

a. Famili : Canidea b. Genus : Canis

c. Species : Canis lupus familiaris var Bali - Kintamani d. Nama Indonesia: Anjing Kintamani

e. Nama Lokal Bali: Anjing Gembrong 3.3 Lingkungan

Seperti halnya dengan anjing lainnya yang ada di dunia, anjing bali (Kintamani) dikelompokkan dalam suku Canis familiaris var Bali-Kintamani. Dikatakan demikian karena habitat dan kawasan sebaran populasi meliputi Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli, Provensi Bali.

Karena habitatnya di kawasan pegunungan, maka sebagai kompensasinya adalah bulunya tebal yang berfungsi

sebagai selimut tubuhnya. Pada tahun 1980-an di Desa Sukawana yang paling banyak populasinya, sehingga daerah ini dianggap sebagai asal-usul anjing bali (Kinta-mani), bahkan sebagai kawasan plasma nutfah, namun asal-usul yang pasti belum banyak diungkapkan atau diketahui melalui penelitian dan kepustakaan, hanya sekedar opini dan wacana.

Masyarakat Pulau Bali, khususnya masyarakat mani telah lama mengenal dan memelihara Anjing Kinta-mani sebagai anjing khas Pulau Dewata. Keberadaannya dikenal sebagai anjing Gembrong berasal dari Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.

Namun hanya sebagian kecil masyarakat memelihara secara intesif, sedangkan kebanyakan kurang mengurus anjingnya dan dibiarkan berkeliaran, kadang lupa memberi makan, walaupun rasa memiliki anjing tersebut tetap besar.

Ironisnya sampai saat ini sebagian masyarakat ada yang beranggapan setiap anjing yang berbulu tebal (gembrong) berasal dan daerah Kintamani tanpa ciri-ciri yang jelas disebut Anjing Kintamani. Pemyataan itu tidak bisa disalahkan, karena sejarah anjing Kintamani sampai sekarang belum ada yang mengungkapkan asal-usulnya, yang banyak ditulis adalah hubungan manusia dan anjing.

Diisyaratkan melalui legenda, hikayat, dongeng-dongeng ataupun melalui lukisan ataupun relief pahatan para seniman pada masanya. Bahkan Cites Gilimanuk hanya mengungkap keberadaan hubungan antara manusia dan anjing. Barangkali hubungan ini terjalin sejak era Bali kuno (Rahardjo, 2005). Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli memiliki ordinat yang terletak pada latitude -8.190044 Lintang Selatan (LS), dan longitude 115,320485 dengan ketinggian tempat 2000 feet dari permukaan laut.

3.4 Ciri-ciri Anjing Kintamani

Anjing ini dapat digolongkan dalam kelompok anjing pekerja dengan ukuran sedang, memiliki keseimbangan tubuh dan proporsi tubuh yang baik dengan pertu-langan yang kuat serta dibungkus oleh otot yang kuat.

Gambaran umum bentuk anjing kintamani tersaji pada Gambar 3.1.

Anjing kintamani memiliki rambut yang panjang (moderat) dengan warna putih spesifik, hitam, atau cokelat.

Anjing Kintamani memiliki sifat pemberani, tangkas, was pada dan curiga yang cukup tinggi. Merupakan anjing penjaga (guard dog) yang cukup handal, sebagai pengabdi yang baik terhadap pemiliknya, loyal terhadap seluruh keluarga pemilik dan tidak lupa pada pemilik atau pera-watnya.

Anjing Kintamani (Bali) suka menyerang anjing atau hewan lain yang memasuki wilayah kekuasaannya dan juga menggaruk-garuk tanah sebagai tempat perlindungan.

Pergerakannya bebas, ringan dan lentur. Kepala bagian atas lebar dengan dahi dan pipi datar, moncong proporsional dan kuat terhadap ukuran bentuk kepala, rahang tampak kuat dan kompak, memiliki gigi-geligi kuat dengan gerakan gigi seperti menggunting, bibir berwama hitam atau cokelat tua. Telinganya tebal, kuat, berdiri berbentuk V terbalik dengan ujung agak membulat. Jarak antara kedua telinga cukup lebar, panjang telinga kurang lebih sama bila dibandingkan dengan jarak antara dasar dua telinga bagian dalam dengan sudut mata luar.

Mata berbentuk lonjong seperti buah almond dengan bola mata berwarna cokelat gelap dan bulu mata berwarna putih. Hidung berwarna hitam atau coklat tua dan warna hidung ini sering berubah karena penambahan umur dan musim.

Distribusi warna bulu pada anjing Kintamani dapat dikelompokkan menjadi 4 macam yaitu:

1. Warna rambut putih sedikit kemerahan dengan warna coklat-kemerahan pada telinga, rambut di bagian belakang paha dan ujung ekornya.

2. Warna hitam mulus atau dengan dada putih sedikit.

3. Warna coklat muda atau cokiat tua dengan ujung moncong kehitaman, sering disebut oleh masya-rakat sebagai warna Bang-bungkem.

4. Warna dasar coklat atau coklat muda dengan garis-garis warna kehitaman, yang oleh masyara-kat disebut warna poleng atau anggrek.

Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi badan 45 cm sampai 55 cm dan anjing betina memiliki tinggi badan 40 cm sampai 45 cm. Dengan warna rambut kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan rambut di belakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bang-bungkem), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata,

Anjing Kintamani jantan mempunyai tinggi badan 45 cm sampai 55 cm dan anjing betina memiliki tinggi badan 40 cm sampai 45 cm. Dengan warna rambut kebanyakan berwarna putih spesifik (sedikit kemerahan) dengan warna merah kecoklatan (krem) pada ujung telinga, ekor dan rambut di belakang paha. Warna lainnya adalah hitam mulus dan cokelat dengan moncong berwarna hitam (bang-bungkem), pigmentasi kulit, hidung, bibir kelopak mata,