• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A. Subjektif Keluhan ibu

1. Asuhan Kehamilan

Asuhan kehamilan pada Ny. R G2P1A0 dilakukan dalam 3 kali kunjungan yaitu pada saat usia kehamilan 36 minggu, 37 minggu dan 38 minggu, selama kehamilan janin dan ibu dalam keadaan normal.

Selama kehamilan Ny.R rutin memeriksakan kehamilannya, pertama kali memeriksakan kehamilannya yaitu pada saat usia kehamilan 5-6 minggu. Tidak ada penyulit atau kekhawatiran khusus yang ibu rasakan selama kehamilan ini. Hari pertama haid terakhir Ny.R yaitu pada tanggal 29 Juni 2017, penulis melakukan kunjungan yang pertama pada tanggal 8 Maret 2018, saat itu usia kehamilan Ny.R 35 minggu 5 hari. Menurut Saifuddin (2013) usia kehamilan Ny.R sudah memasuki ke dalam trimester 3 yaitu di mulai dari minggu ke 28 hingga 40 minggu. Saat itu Ny.R mengeluh sering buang air kecil dan merasa tidurnya terganggu karena sering buang air kecil, penulis memberikan penjelasan kepada Ny.R bahwa keluhannya itu merupakan ketidaknyamanan yang normal terjadi pada ibu hamil dan cara mengatasinya yaitu dengan cara mengurangi asupan cairan di malam hari sebelum tidur, hal ini sesuai dengan teori yang dijelaskan oleh Rini Inggar (2017) bahwa ketidaknyamanan tersebut merupakan hal yang normal, ketidaknyaman tersebut timbul karena bagian presentasi janin akan menurun masuk ke panggul dan menimbulkan

tekanan langsung pada kandung kemih, sehingga merangsang keinginan untuk berkemih. Cara mengatasinya dengan menjelaskan mengapa hal tersebut bisa terjadi dan menyarankan untuk mengurangi asupan cairan di malam hari ketika mau tidur dan mengosongkan kandung kemih sebelum tidur.

Pada tanggal 17 Maret 2018 penulis melakukan kunjungan kehamilan yang kedua, tidak ada keluhan dan tanda-tanda bahaya yang ibu rasakan, semua persiapan persalinan sudah disiapkan oleh ibu. Saat itu penulis bersama klien melakukan senam hamil dan pemijatan perineum. Senam hamil merupakan senam yang diperuntukan untuk ibu hamil yang berfungsi untuk melancarkan sirkulasi darah, menambah nafsu makan, membuat pencernaan lebih baik serta tidur menjadi nyenyak (Kusyanti, dkk). Wanita hamil yang melakukan senam hamil akan mengalami risiko persalinan lebih kecil daripada yang tidak melakukan senam hamil dan sedikit yang memperoleh tindakan medis seperti penggunaan oksitosin, persalinan dengan forceps, dan seksio sesarea dan lebih dari 85% persalinan pervaginam tanpa komplikasi serta lama persalinannya lebih singkat.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wewet Savitri (2014) pijat perineum pada saat antenatal dimulai dari kehamilan 35 minggu akan mengurangi kemungkinan trauma perineum yang memerlukan jahitan. Pijat perineum bermanfaat untuk menghilangkan nyeri

perineum setelah persalinan. Pijat perineum yang dilakukan sejak bulan-bulan terakhir kehamilan menyiapkan jaringan kulit perineum lebih elastis sehingga lebih mudah meregang. Selain itu, meningkatkan elastisitas vagina untuk membuka, sekaligus melatih ibu untuk aktif mengendurkan perineum ketika ia merasakan tekanan saat kepala bayi lahir, hal ini dapat mengurangi robekan perineum, mengurangi pemakaian episiotomi, dan mengurangi penggunaan alat bantu persalinan lainnya. Asuhan yang diberikan pada Ny.R sudah sesuai dengan standar asuhan kebidanan.

2. Persalinan

Asuhan persalinan pada Ny.R G2P1A0 terjadi pada saat usia kehamilan 40 minggu. Selama persalinan berlangsung, janin dalam keadaan normal. Pengkajian dilakukan pada hari Kamis tanggal 5 April 2018 pukul 22.30 Wib di BPM Bidan N. Asuhan yang dilakukan meliputi:

1. Kala 1 persalinan

Pada hasil pengkajian data subjektif klien mengeluh keluar air-air yang tidak tertahankan dari jalan lahir, serta keluar lendir bercampur darah dan merasa mulas-mulas jarang. Pada pengkajian data objektif didapatkan hasil tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan palpasi abdomen didapatkan kepala janin sudah masuk ke dalam pintu atas panggul dengan perlimaan 4/5 dan teraba kontraksi 3x10’20’’ belum kuat. Selain itu, pada hasil

pemeriksaan dalam sudah terjadi dilatasi serviks 1 cm, selaput ketuban negatif sisa cairan jernih, presentasi kepala, saat dilakukan pemeriksaan tes lakmus hasilnya positif air ketubannya sudah pecah. Setelah dilakukan pemantauan selama 4 jam didapatkan hasil tanda-tanda vital dalam batas normal, pembukaan 2 cm, his 3x10’30’’ belum kuat/teratur. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa klien sedang dalam proses persalinan kala I fase laten karena sudah terdapat tanda-tanda persalinan, hal tersebut sesuai dengan teori yang tercantum dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak bahwa tanda-tanda persalinan meliputi perut mulas-mulas yang teratur, timbulnya semakin sering dan semakin lama, keluar lendir bercampur darah dari jalan lahir atau keluar cairan ketuban dari jalan lahir. (Kemenkes RI, 2016). Selain itu, tercantum pula dalam teori Damayanti, dkk (2014) bahwa tanda masuk dalam persalinan yaitu pinggang terasa sakit menjalar ke depan, sifat his teratur, interval makin pendek dan kekuatan his biasanya terjadi pada 2 kali dalam 10 menit selama 40 hingga 50 detik, terjadinya perubahan serviks, pengeluaran lendir darah, dan keluar air-air.

Asuhan yang diberikan pada kasus tersebut adalah sebagai berikut:

1) Memantau kemajuan persalinan

Penulis melakukan pemantauan kemajuan persalinan, seperti memantau tekanan darah, suhu badan, nadi, denyut

jantung janin, kontraksi, pembukaan serviks. Hasilnya pada jam 02.00 Wib yaitu tekanan darah 110/70 mmHg, suhu 36,5֯C, nadi 82 kali/menit, denyut jantung janin 142 kali/menit regular, his 2x1030’’ belum kuat/teratur, pembukaan 2 cm.

hasil pemantauan jam 07.30 tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 85 kali/menit, suhu badan 36,8֯c, denyut jantung janin 144 kali/menit regular, his 3x1030’’ belum kuat/teratur.

Pemantauan kemajuan persalinan ini dilakukan sesuai dengan teori Walyani & Purwoastuti (2015) bahwa memantau kemajuan persalinan adalah untuk menentukan apakah persalinan dalam kemajuan normal. Pada fase laten maupun aktif tekanan darah dipantau setiap 4 jam sekali, suhu badan setiap 4 jam fase laten dan 2 jam pada fase aktif, nadi setiap 30 menit sekali pada fase laten dan fase aktif, denyut jantung janin dan kontraksi setiap 1 jam pada fase laten dan setiap 30 menit pada fase aktif, dan pembukaan serviks dipantau setiap 4 jam sekali pada fase laten maupun fase aktif.

2) Membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi

Penulis menganjurkan suami untuk memberikan asupan makanan dan minuman pada ibu. Hal ini telah sesuai dengan teori Walyani & Purwoastuti (2015) bahwa asupan makanan dan minuman pada ibu bisa menghindari dehidrasi, karena jika

terjadi dehidrasi dapat memperlambat kontraksi/kontraksi menjadi kurang efektif.

3) Membantu pemenuhan eliminasi

Ibu dianjurkan untuk tidak menahan buang air kecil maupun buang air besar. Hal ini sesuai dengan teori Walyani

& Purwoastuti (2015) bahwa anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemihnya secara rutin setiap 2 jam sekali atau lebih sering jika kandung kemih penuh, karena kandung kemih yang penuh dapat memperlambat turunnya bagian terendah janin, menimbulkan rasa tidak nyaman, meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pascapersalinan.

4) Mobilisasi

Ibu dianjurkan untuk mengatur posisi yang nyaman dan dapat dibantu oleh pendamping persalinan. Penulis menganjurkan klien untuk berjalan dan jika ingin tidur miring ke kiri. Hal ini sesuai dengan teori Walyani & Purwoastuti (2015) bahwa ibu dianjurkan untuk berjalan agar membantu proses turunnya bagian terendah janin, dan berbaring miring ke kiri untuk memberi rasa santai, nyaman, tenang dan memberikan oksigenasi yang baik ke janin).

5) Teknik Relaksasi

Penulis mengajarkan suami klien untuk pain relief yaitu dengan cara memijat punggung. Menurut Varney (2008)

usapan pada punggung menunjukan perhatian terhadap wanita sekaligus menjamin kehadiran orang lain selama usapan pada punggung diberikan. Pemberian tekanan eksternal pada tulang belakang menghilangkan tekanan internal pada tulang belakang oleh kepala janin sehingga menguragi nyeri. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwienda, dkk (2015) bahwa pemberian metode pijat efektif dalam mengurangi nyeri pada persalinan kala 1. Penelitian tersebut pun didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari (2017) bahwa ada pengaruh masase punggung terhadap pengurangan nyeri persalinan kala 1 fase aktif.

Namun ibu pun bisa melakukan teknik relaksasi sendiri.

Pada saat klien mengeluh mulasnya semakin sering dan kuat penulis memberikan asuhan kepada klien untuk mengatur pernafasannya saat terasa mulas, hal ini sesuai dengan penelitian Damayanti (2015) bahwa ada hubungan antara teknik pernafasan dengan kemajuan persalinan, sehingga kemajuan persalinan berjalan dengan lancar, tenang dan dapat mengendalikan rasa sakit. Penelitian tersebut pun didukung dengan penelitian Lestari (2015) bahwa ada pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap respon adaptasi nyeri pada ibu inpartu kala 1 fase aktif.

Setelah dilakukan pemantauan selama 6 jam pada jam 07.30 Wib bidan N merujuk Ny.R ke Rumah Sakit Sayang Cianjur dengan alasan ketuban pecah dini. Tiba di Rumah Sakit Sayang Cianjur jam 08.00 Wib dan dilakukan pemeriksaan dengan hasil tekanan darah 100/60 mmHg, Nadi 86 kali/menit, Respirasi 23 kali/menit, Suhu 36,8֯c, Denyut jantung janin 146x/m, His 3x10’40’’ kuat/teratur, pemeriksaan genetalia dengan hasil vulva/vagina tidak ada kelainan, pembukaan 6 cm, ketuban negatif sisa cairan jernih, presentasi kepala, penurun st-1, moulase tidak ada. Lalu melakukan kolaborasi dengan dokter dengan hasil memberikan terapi cefotaxime secara IV dengan dosis 2x1 dan diberikan pada jam 09.00 Wib.

Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan atau dimulainya tanda-tanda inpartu Kemenkes RI (2013). Menurut asumsi penulis jika dilihat dari keluhan dan hasil pemeriksaan pada kasus ini, klien tidak mengalami ketuban pecah dini, namun bidan mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dengan merujuk Ny.R ke rumah sakit. Terdapat pula teori yang menyatakan bahwa ketuban pecah dini menurut Hastuti, dkk (2016) merupakan pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Penelitian ini pun sejalan dengan penelitian Widyana (2016) ia mendefinisikan ketuban pecah dini merupakan pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan. Selain itu menurut penelitian Wiadnya,

dkk (2016) mendefinisikan ketuban pecah dini sebagai pecahnya ketuban secara spontan pada saat sebelum inpartu, bila diikuti satu jam kemudian tidak timbul tanda-tanda inpartu. Sedangkan menurut penelitian Sepduwiana (2013) ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan/sebelum inpartu, pada pembukaan <4 cm (fase laten). Jadi, terdapat perbedaan antara kedua teori di atas, namun menurut asumsi penulis kasus Ny.R termasuk ketuban pecah dini dan yang dilakukan bidan N pun benar yaitu mengantisipasi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dengan cara merujuknya ke rumah sakit.

2. Kala II Persalinan

Pada pengkajian data subjektif ibu mengeluh mulas-mulas yang semakin sering dan teratur dan sudah ada dorongan untuk mengedan.

Pada pengkajian data objektif didapatkan pembukaan lengkap (10cm), portio tidak teraba, ketuban negatif sisa cairan jernih, presentasi kepala, penurunan station 0, moulase tidak ada, dari data tersebut dapat diketahui bahwa klien sedang dalam proses persalinan kala II. Hal ini sesuai dengan teori menurut Walyani & Purwoastuti (2015) tanda-tanda kala II yaitu his terkoordinir, kuat, cepat, dan lebih lama kira-kira 2 hingga 3 menit sekali, kepala janin telah turun masuk ruang panggul dan secara reflector, tekanan pada rektum, ibu merasa ingin buang air besar, dan anus membuka.

Dari hasil pengkajian dan penegakan diagnosa, asuhan yang diberikan pada klien tersebut adalah menyiapkan partus set, memakai alat perlindungan diri, membantu ibu untuk memilih posisi yang nyaman, mengajarkan ibu teknik mengedan efektif, memimpin ibu mengedan dan melakukan penanganan awal segera setelah bayi lahir.

Hal ini sesuai dengan teori Saifudin (2009) yaitu asuhan yang dapat dilakukan bidan pada kala dua meliputi memberikan dukungan pada ibu, menjaga kebersihan diri, memberikan dukungan mental untuk mengurangi ketakutan dan kecemasan ibu, mengatur posisi ibu, menjaga kandung kemih tetap kosong agar tidak menghalangi turunnya kepala ke dalam rongga panggul, membantu ibu memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi untuk mencegah dehidrasi, memimpin mengedan, menolong persalinan dan melakukan penanganan awal bayi baru lahir.

Menurut penelitian Larosa Putri (2009) terdapat perbedaan lama persalinan antara primipara dan multipara, hal tersebut sesuai dengan teori bahwa dari pembukaan lengkap hingga bayi lahir 1 jam pada multipara dan 2 jam pada primipara (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Sesuai dengan kondisi Ny.R lama persalinan dari pembukaan lengkap hingga lahir yaitu 15 menit karena ini sudah persalinannya yang kedua dan tidak melewati rentang waktu yang telah disebutkan dalam teori.

3. Kala III

Pada pengkajian data subjektif klien mengeluh merasa kelelahan namun senang dengan kehadiran bayinya. Pada pengkajian data objektif terdapat hasil tidak ada janin kedua, kontraksi ada, kandung kemih kosong. Kala tiga adalah waktu pelepasan dan pengeluaran plasenta setelah bayi lahir. Seluruh proses ini biasanya berlangsung 5 sampai 30 menit setelah bayi lahir (Walyani & Purwoastuti 2015).

Setelah 1 menit bayi lahir penulis langsung melakukan manajemen aktif kala tiga yaitu dengan menyuntikan oksitosin di 1/3 paha atas bagian luar secara intramuskular, melakukan penegangan tali pusat terkendali dan setelah plasenta lahir melakukan masase fundus uteri. Hal ini sesuai dengan teori prinsif manajemen aktif kala tiga yaitu pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir (10 IU intramuskular pada 1/3 bagian atas paha luar, melakukan penegangan tali pusat terkendali, dan massase fundus uteri segera setelah plasenta lahir (William, 2016). Pada kasus ini plasenta lahir pada jam 10.50 Wib 5 menit setelah oksitosin disuntikan, menurut teori yang dilakukan oleh Nowa Hilwah (2012) manajemen aktif kala tiga terdiri atas intervensi yang direncanakan yaitu untuk mempercepat pelepasan plasenta dengan meningkatkan kontraksi rahim dan mencegah perdarahan pada postpartum dengan menghindari atonia uteri.

4. Kala IV

Pada pengkajian data subjektif ibu mengatakan merasa lega karena bayinya sudah lahir. Pada pengkajian data objektif didapatkan hasil tanda-tanda vital dalam batas normal, abdomen tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat, kontraksi keras, dan kandung kemih kosong, pada pemeriksaan genetalia masih keluar darah sedikit dari jalan lahir dan tidak ada laserasi. Pada tahap ini masih dilakukan pengawasan hingga 2 jam untuk pengawasan perdarahan. Hal ini sudah sesuai dengan teori Walyani & Purwoastuti (2015) bahwa tahap ini digunakan untuk pengawasan terhadap bahaya perdarahan, pengawasan ini biasanya dilakukan selama dua jam. Dalam tahap ini ibu masih mengeluarkan darah dari jalan lahir, tapi tidak banyak yang berasal dari pembuluh darah yang ada di dinding rahim tempat terlepasnya plasenta, dan setelah beberapa hari akan mengeluarkan cairan sedikit darah yang di sebut lokia yang berasal dari sisa-sisa jaringan. Pengawasan yang dilakukan selama dua jam meliputi dilakukan pengawasan tanda-tanda vital, tinggi fundus, kontraksi, kandung kemih dan menilai perdarahan.

Hal ini sesuai dengan teori William (2016) selama 2 jam masa nifas diperlukan pengawasan seperti tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih, dan darah yang keluar setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama 1 jam kedua, massase uterus untuk membuat kontraksi menjadi baik, pantau suhu tubuh setiap jam dalam

dua jam pertama pasca persalinan, nilai perdarahan. Asuhan persalinan yang diberikan pada Ny.R sudah sesuai dengan standar.

Dokumen terkait