• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

6. Autisme

a. Pengertian Autisme

Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan perkembangan pada anak. Veskarisyanti (2008: 17) menjelaskan kata autisme dalam bahasa Yunani dikenal kata autis “auto” berarti sendiri ditunjukan pada seseorang ketika menunjukkan gejala hidup dalam duniannya sendiri atau mempunyai dunia sendiri.

Autisme pertama kali ditemukan oleh Leo Kanner pada tahun 1943. Kanner mendeskripsikan gangguan ini sebagai ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, pembalikan kalimat, adanya aktivitas bermain repetitive dan stereotype, rute ingatan yang kuat dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungan.

Autisme adalah gangguan perkembangan yang secara umum tampak di tiga tahun pertama kehidupan anak.

Gangguan ini berpengaruh pada komunikasi, interaksi sosial, imajinasi dan sikap (Wright, 2007: 4).

Yuwono (2009: 26) menjelaskan autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat kompleks/berat dalam kehidupan yang panjang, yang meliputi gangguan pada aspek interaksi sosial, komunikasi dan bahasa perilaku serta gangguan emosi

17

dan persepsi sensori bahkan pada aspek motoriknya.

Gejala autistik muncul pada usia sebelum 3 tahun.

Berdasarkan pengertian para ahli, autisme merupakan suatu gangguan perkembangan neurobiologis yang sangat kompleks/berat dan mempengaruhi kemampuan bahasa, komunikasi dan interaksi sosial. Gangguan dalam berkomunikasi, interaksi sosial dan imajinasi sering saling berkaitan sehingga semuanya dapat digambarkan sebagai tiga serangkai. Gejala lainnya yang muncul; antara lain berupa kehidupan dalam dunia sendiri tanpa menghiraukan dunia luar.

b. Gejala Autisme

Acocella (dalam Lubis, 2009: 22) menjelaskan ada banyak tingkah laku yang tercakup dalam anak autis dan ada 4 gejala yang selalu muncul yaitu:

1. Isolasi sosial

Banyak anak autis yang menarik diri dari kontak sosial kedalam suatu keadaan yang disebut extreme autistic alones. Hal ini akan semakin terlihat pada anak yang lebih besar, dan ia akan bertingkah laku seakan-akan orang lain tidak ada.

2. Kelemahan kognitif

Anak autis sebagian besar (±70%) mengalami retadardasi mental (IQ <70) disebut dengan autis dengan tunagrahita tetapi anak autis infertil sedikit lebih baik, contohnya dalam hal yang berkaitan dengan hal sensor motorik. Anak autis dapat meningkatkan hubungan sosial dengan temannya, tetapi hal itu tidak berpengaruh terharap retardasi mental yang dialami.

3. Kekurangan dalam bahasa

Lebih dari setengah autis tidak dapat berbicara, yang lainnya hanya mengoceh, merengek, atau menunjukkan

18

echolalia. Beberapa anak autis mengulang potongan lagu, iklan TV atau potongan kata yang terdengar tanpa tujuan. Beberapa anak autis menggunakan kata ganti dengan cara yang aneh.

4. Tingkah laku stereotif

Anak autis sering melakukan gerakan yang berulang-ulang secara terus menerus tanpa tujuan yang jelas.

Seperti berputar-putar, berjingkat-jingkat dan lain sebagainya. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang disebabkan karena kerusakan disik, misalnya ada gangguan neurologis. Anak autis juga mempunyai kebiasaan menarik-narik rambut dan menggingit jari.

Walaupum sering kesakitan akibat perbuatannya sendiri, dorongan untuk melakukan tingkah laku yang aneh ini sangat kuat dalam diri mereka. Anak autis juga hanya tertarik pada bagian-bagaian tertentu dari sebuah objek misalnya pada roda mobil-mobilan. Anak autis juga menyukai keadaan lingkungan dan kebiasaan yang monoton.

c. Jenis-jenis Autisme

Prasetyono (2008: 54-65) menjelaskan bahwa autisme dibagi menjadi lima jenis yakni sebagai berikut:

1. Autisme Masa Kanak-Kanak (Childbood Autism) Gangguan perkembangan terhadap anak yang gejalanya telah terlihat sebelum anak tersebut mencapai umur tiga tahun. Ciri-ciri gangguan autisme in adalah kualitas tidak normal, terdapat gangguan dalam kualitas interaksi sosial dalam aktivitas, tingkah laku dan juga interaksinya terbatas.

2. Pervasive Developmental Disorder Not Otherwise Spesified (PDD-NOS)

19

Gejala ini tidak sebanyak seperti pada autisme masa kanak-kanak. Kualitas dari gangguan tersebut lebih ringan, sehingga anak-anak ini masih bisa bertatap mata, ekspersi wajah tidak terlalu datar, dan masih bisa diajak bergurau.

3. Sindrom Rett

Gangguan perkembangan yang hanya dialami oleh anak wanita. Sekitar umur enam bulan, bayi mulai mengalami kemunduran perkembangan. Pertumbuhan kepala mulai berkurang pada umur lima bulan samapai empat tahun. Gerakan tangan menjadi tidak terkendali, dan disertai dengan gangguan komunikasi serta penarik diri secara sosial.

4. Gangguan Disintegratif Masa Kanak-Kanak

Gejala timbul setelah umur tiga tahun.

Perkembambngan anak sangat baik selama beberapa tahun sebelum terjadinya kemunduran yang hebat.

Pertumbuhan yang normal terjadi pada usia 1 sampai 2 tahun, kemudia anak akan kehilangan kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai dengan baik.

5. Aspeger Syndrome

Lebih banyak terdapat pada anak laki-laki perkembangan bicaranya tidak terganggu tetapi mereka kurang berkomunikasi secara timbul balik.

Berbicara dengan tata bahasa yang baku dalam berkomunikasi kurang menggunakan bahasa tubuh.

d. Klasifikasi Autisme

Cohen dan Bolton (dalam Oktaviani, 2008: 17) menjelaskan autisme dapat diklasifikasi menjadi beberapa bagian berdasarkan gejalanya. Sering kali pengklasifikasian disimpulkan setelah anak didiagnosa autis. Klasifikasi ini dapat diberikan melalui Childhood

20

Autism Rating Scale (CARS). Pengklasifikasiannya adalah sebagai berikut:

1. Autisme Ringan

Pada kondisi ini anak autisme masih menunjukkan adanya kontak mata walaupun tidak berlangsung lama. Anak autisme ini dapat memberikan sedikit respon ketika dipanggil namanya, menunjukkan ekspresi-ekspresi muka dan dalam berkomunikasi dua arah meskipun terjadinya hanya sesekali.

2. Autisme Sedang

Pada kondisi ini anak autisme masih menujukkan sedikit kontak mata namun tidak memberikan respon ketika namanya dipanggil. Tindakan agresif atau diperaktif, menyakiti diri sendiri, acuh, dan gangguan motorik yang stereopik cenderung agak sulit untuk dikendalikan tetapi masih bisa dikendalikan.

3. Autisme Berat

Anak autisme berasal pada kategori ini menunjukkan tindakan-tindakan yang sangat tidak terkendali.

Biasanya anak autis memukul-mukulkan kepalanya ke tembok secara berulang-ulang dan terus menerus tanpa henti. Ketika orang tia berusaha mencegah, namun anak tidak memberikan respon dan tetap melakukannya, bahkan dalam kondisi berada di pelukan orang tunya anak autsime tetap memukul-mukulkan kepalanya. Anak baru berhenti setelah merasa kelelahan kemudian langsung tertidur.

e. Faktor Penyebab Anak Autisme

Pammoedji, (2007: 2) menjelaskan penyebab autisme adalah gangguan pada fungsi susunan otak.

Penyebab utama dari gangguan ini hanya saat ini masih terus diselidiki oleh para ahli meskipun beberapa

21

penyebab seperti keracunan logam berat, genetik vaksinasi, populasi, komplikasi sebelum dan setelah melahirkan disebut memiliki andil dalam terjadinya autisme.

Penyebab autisme dan diagnosa medisnya menurut Pammoedji, (2007: 2) adalah:

1. Konsumsi Obat pada Ibu Menyusui

Obat migrain, seperti ergotamine obat ini mempunyai efek samping yang buruk pada bayi dan mengurangi jumlah ASI.

2. Faktor Kandungan (Pranatal)

Kondisi kandungan juga dapat menyebabkan gejala autisme. Pemicu autisme adalah kandungan dapat disebabkan oleh virus yang menyerang pada trumester pertama. Yaitu syndroma rubella.

3. Fakor Kelahiran

Bayi lahir dengan berat badan rendah, prematur, dan lama dalam kandungan (lebih dari 9 bulan) beresiko mengidap autsime. Selain itu bayi yang mengalami gagal napas (hipoksa) saat lahir juga beresiko mengalami autsime.

4. Peradangan Dinding Usus

Sejumlah anak penderita gangguan autsime umumnya memiliki pencernaan buruk dan ditemukan adanya peradangan usus. Peradangan tersebut diduga disebabkan oleh virus.

5. Faktor Genetika

Gejala autisme pada anak disebabkan oleh faktor turunan. Setidaknya telah ditemukan dua puluh gen yang terkait dengan autsime. Akan tetapi, gejala autsime baru bisa muncul jika terjadi kombinasi banyak gen.

22

6. Keracunan Logam Berat

Kandungan logam berat penyebab autisme karena adanya sekresi logam berat dari tubuh terganggu secara genetis. Beberapa logam berat seperti arsetik (As), antimony (Sb), Cadmium (Cd), air raksa (Hg), dan timbale (Pb), adalah racun yang sangat kuat.

7. Faktor Makanan

Zat kimia yang terkandung dalam makanan sangat berbahaya untuk kandungan. Salah satunya pestisida yang terpapar pada sayuran. Pestisida dapat menganggu fungsi gen pada saraf pusat menyebabkan anak autis.

f. Karakteristik Anak Autisme

Buku Pedoman Penanganan dan Pendidikan Autisme (2011) menjelaskan penyandang autsime memilik karakteristik/gejala dalam hal :

1. Karakteristik dalam interaksi sosial

a. Menyendiri (aloof): terlihat pada anak yang menarik diri, acuh tak acuh, dan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan perilaku dan perhatian yang terbatas (tidak hangat).

b. Pasif: dapat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan anak lain jika pola permainnya disesuaikan dengan dirinya.

c. Aktif tapi aneh: secara spontan akan mendekati anak lain, namun interaksi ini seringkali tidak sesuai dan sering hanya sepihak.

2. Karakteristik dalam komunikasi a. Bergumam.

b. Sering mengalami kesukaran dalam memahami arti kata-kata dan kesukaran dalam menggunakan bahasa dalam konteks yang sesuai dan benar.

23

c. Sering mengulang kata-kata yang baru saja mereka dengar atau yang pernah mereka dengar sebelumnya tanpa bermaksud untuk berkomunikasi.

d. Bila bertanya sering menggunakan kata ganti orang dengan terbalik, seperti “saya” menjadi “kamu” dan menyebut diri sendiri sebagai “kamu”

e. Sering berbicara pada diri sendiri dan mengulang potongan kata atau lagu dari iklan tv dan mengucapkannya di muka orang lain dalam suasana yang tidak sesuai.

f. Penggunaan kata-kata yang aneh atau dalam arti kiasan, seperti seorang anak berkata “sembilan” setiap kali ia melihat kereta api.

g. Mengalami kesukaran dalam berkomunikasi walaupun mereka dapat berbicara dengan baik, karena tidak tahu kapan giliran mereka berbicara, memilih topik pembicaraan atau melihat kepada lawan bicaranya.

h. Bicaranya monoton, kaku, dan menjemukan.

i. Kesukaran dalam mengekspresikan perasaan atau emosinya melalui nada suara.

j. Tidak menunjukkan atau memakai gerakan tubuh untuk menyampaikan keinginannya, tetapi dengan mengambil tangan orangtuanya untuk mengambil obyek yang dimaksud.

k. Mengalami gangguan dalam komunikasi non-verbal:

mereka sering tidak menggunakan gerakan tubuh dalam berkomuniksi untuk mengekspersikan perasaanya atau untuk merasakan perasaan orang lain, misalnya menggelengkan kepala, melambaikan tangan, mengangkat alis, dan sebagainya.

3. Karakteristik dalam perilaku dan pola bermain

24

a. Abnormalitas dalam bermain, seperti stereotip, diulang-ulang dan tidak kreatif.

b. Tidak menggunakan mainnya dengan sesuai.

c. Menolak adanya perubahan lingkungan dan rutinitas baru.

d. Minatnya terbatas, sering aneh, dan diulang-ulang.

e. Hiperaktif pada anak prasekolah atau sebaliknya hipoaktif.

f. Gangguan pemusatan perhatian, impulsifitas, koordinasi motorik terganggu, kesulitan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.

4. Karakteristik kognitif

a. Hampir 75-80% anak autisme mengalami retardasi mental dengan derajat rata-rata sedang.

b. Sebanyak 50% dark idiot savants (retardasi mental yang menunjukan kemampuan luar biasa) adalah seorang penyandang autisme.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh Utami (2013) yang berjudul

“Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia Melalui Media Papan Selip (Slot Board) Pada siswa kelas II SDN 2 Karang Talun Tahun Ajaran 2013/2014”. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penguasaan kosakata bahasa Indonesia melalui media Papan Selip (Slot Board). Subjek penelitian yang digunakan tindakan siswa kelas II SDN 2 Karangtalun yang berjumlah 19 siswa, subjek pelaku tindakan yaitu peneliti yang bertindak sebagai guru dan guru.

Teknik pengumpulan data yang digunakan: wawancara, observasi, tes dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan teknik deskriptif kualitatif yang meliputi tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil awal-awal sebelum dilaksanakan tindakan nilai rata-rata kelas 51,26 dengan presentase

25

kentutasan 26,31%, siklus I pertemuan nilai rata-rata kelas 59,26 dengan presentase kentutasan 31,57%, siklus 1 pertemuan 2 rata-rata kelas 70,21 dengan presentase 52,63%, siklus II pertemuan 1 rata-rata kelas 77,78 dengan presentase kentutasan 89,47% dan pada siklus II pertemuan 2 rata-rata kelas 87,26 dengan presentase ketuntasan 94,73%. Kesimpulan penelitian ini adalah hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan penguasaan kosakata bahasa Indonesia melalui media papan selip (slot board) yang dapat dilihat dari penigkatan nilai rata-rata kelas dan presentase ketuntasan pada setiap siklus.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Amalia Riski Puspitaningtyas &

Vidya Pratiwi (2020) tentang “Pengaruh Media Visual (Gambar) Terhadap Kemampuan Kosakata Anak Autis”. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan kemampuan kosakata anak autis baik sebelum maupun setelah keadaan intervensi dan menganalisis media visual (gambar) terhadap kemampuan kosakata anak autis. Metode penelitian ini kuantitatif dengan menggunakan Single Subject Research (SSR). Hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa:

a. Pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media visual (gambar) berpengaruh terhadap kemampuan kosakata anak autis dengan baik karena subjek bisa menyebutkan kosakata dengan benar.

b. Kemampuan kosakata anak autis sebelum intervensi atau pada pelaksaaan A-1 sebesar 24% yang berarti kemampuan kosakata anak autis sangat rendah dalam mengenal kosakata hewan, buah-buahan dan benda, selanjutnya pelaksanaan intervensi (B) kemampuan anak autis naik menjadi 60%. Kemudian pelaksanaan terahkir yaitu tes tahap A-2 sebagai tolak ukur subjek tanpa adanya intervensi, dan ternyata kemampuan kosakata subjek meningkat menjadi 75%.

26

c. Media visual (gambar) berpengaruh terhadap kemampuan kosakata anak autis dari tahan A-1 ke intervensi (B) sebesar 22% ke 60% tingkat peningkatan sebesar 38%.

Kesimpulan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa media visual (gambar) berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan kosakata anak autis.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Maria Lahitani (2014) yang berjudul.

“Pengembangann Media Kartu Untuk Papan Kata Untuk Meningkatkan Kosakata Nama Hewan Pelajaran Bahasa Inggris Pada Kelompok B Di TK Pratiwi Surabaya”. Pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran untuk meningkatkan kosakata Baahasa Inggris pada kelompok B di TK Pratiwi-Surabaya. Media yang dikembangkan adalah media kartu, papan, dan kartu abjad. Model pengembangan yang digunakan dalam pengemabnagan media kartu by design adalah model R & D (Research amd Development). Model R&D memiliki sepuluh tahap dalam mengembangkan suatu media, namun pengembangan tidak menggunakan semua tahap. Pengembangan hanya menggunakan 7 tahap saja. Jenis data yang diperoleh dari penelitian pengembangan ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Hasil ujicoba kelayakan media kartu oleh ahli materi I termasuk dalam kategori sangat baik dengan kriteria 3,58. Ahli materi II termasuk dalam kategori sangat baik dengan kriteria 3,5. Ahli media I termasuk dalam kategori baik dengan kriteria 3,46. Ahli media II termasuk dalam kategori sangat baik dengan kriteria 3,71. Ujicoba pemakaian yang dilakukan oleh guru dalam penggunaan media kartu by design termasuk dalam kategori sangat baik dengan kriteria 90,82%. Berdasarkan hasil belajar anak pada penggunaan media kartu diperoleh d.b = N-1 = 20 dengan taraf kesalahan 5% (0,05) adalah 2,086 dan 1-hitung adalah 13.

Apabila 1-tabel < t-hitung, maka 2,086 < 13, sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan media kartu terhadap kemampuan anak dalam kosakata bahasa Inggris nama hewan peliharaan di TK Pratiwi- Surabaya

27

4. Penelitian yang dilakukan oleh Amara Sasmita & Khusnul Fajriyah (2018, 165-170) melakukan penelitian tentang “Pengembangan modul berbasis quantum learning tema ekosistem untuk kelas V SD”. Tujuan penelitian yaitu menghasilkan modul berbasis quantum learning tema 5 ekosistem yang layak digunakan sebagai penunjang bahan ajar.

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Reseacrh and Development) dan menggunakan model penelitian Borg and Gall (Sugiyono: 2009). Subjek yang digunakan dalam penelitian ini ialah dua belas peserta didik dari empat puluh dia peserta didik kelas V SD.

Instrumen pengumpulan data berupa angket wawancara dengan guru dan observasi di lingkungan sekolah di III SD, yaitu SDN Lamper Tengah 01, SDN Lamper Tengah 02, dan Jomblang 01. Hasil dari penelitian ini adalah validasi materi tahap pertama mendapat haasil 61,7% dengan kategori “baik”, dan validasi tahap dua mendapat hasil nilai 82,7%. Hal ini menunjukkan bahwa modul termasuk dalam kategori “baik” dan “layak digunakan”. Validasi modul tahap 1 diperoleh hasil 75,00% dengan kategori “baik”, dan validasi tahap 2 diperoleh hasil nilai 94,3%. Hal ini menunjukan bahwa modul tematik berbasi Quantum Learning termasuk dalam kategori “sangat baik” dan

“layak digunakan”. Hasil uji coba lapangan utama memperlihatkan rata-rata nilai siswa sebesar 81,5.

28

Gambar 2.1 Kerangka Hasil Relevan Utami (2013)

“Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia Melalui Media Papan Selip (Slot Board) Pada siswa kelas II SDN

2 Karang Talun”. Pada Kelompok B Di TK Pratiwi

Surabaya”

Amara Sasmita & Khusnul Fajriyah (2018, 165-170)

29 C. Kerangka Berfikir

Materi penguasaan kosakata dipelajari oleh anak ketika di bangku IV SD. Semua siswa masih kesulitan untuk memahami materi penguasaan kosakata. Peneliti melakukan wawancara untuk mengetahui permasalahan yang ada pada suatu sekolah inklusi. Berdasarkan wawancara kepada guru kelas IV SD Inklusi, semua siswa kelas IV SD Inklusi masih kesulitan dalam belajar bahasa Indonesia pada materi penguasaan kosakata, serta guru masih kesulitan dalam menyusun media yang dapat digunakan oleh siswa inklusi (dengan keterbatasan).

Penelitian yang dilakukan dalam mengembangkan media Papan Kosakata menggunakan Research and Development menurut Borg and Gall yang terdiri dari sepuluh langkah yaitu: 1) potensi masalah, 2) pengumpulan data, 3) desain produk, 4) validasi desain, 5) revisi desain, 6) uji coba desain, 7) revisi produk, 8) uji coba pemakaian, 9) revisi produk, 10) produk masal. Kualitas dari media Papan Kosakata dapat diekatuhui dengan penilaian dari ahli terkait serta guru kelas IV dengan menggunakan angket.

Media Papan Kosakata dipilih karena menyesuaikan dengan keadaan anak dan juga dari bentuk media yang menarik sehingga dapat menarik minat perhatian anak dalam pembelajaran serta memudahkan anak memahami materi dan selain itu media Papan Kosakata juga sangat pas bagi anak autisme dikarenakan membutuhkan media visual yang berupa benda asli atau gambar sehingga itu dapat sekali membantu anak dalam menggunakan media tersebut. Dengan demikian anak dapat mengalami peningkatan dalam kemampuan penguasaan kosakatanya.

D. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana pengembangan media Papan Kosakata untuk mengatasi permasalahan penguasaan kosakata untuk anak autisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia?

2. Bagaimana efektifitas penggunaan media Papan Kosakata untuk mengatasi permasalahan penguasaan kosakata untuk anak autisme

30

dalam pembelajaran bahasa Indonesia menurut ahli media pembelajaran?

3. Bagaimana efektifitas penggunaan media Papan Kosakata untuk mengatasi permasalahan penguasaan kosakata untuk anak autisme dalam pembelajaran bahasa Indonesia menurut guru kelas IV?

31 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan peneliti merupakan jenis penelitian dan pengembangan atau dalam bahasa Inggris disebut Research and Development (R&D). Borg and Gall (dalam Sugiyono, 2010: 297) mengemukakan metode penelitian dan mengembangan atau Research and Development adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu dengan menguji keefektifan produk tersebut. Ada sepuluh langkah dalam penelitian pengembangan yaitu: (1) potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain, (5) revisi desain, (6) uji coba produk, (7) revisi produk, (8) uji coba produk, (9) revisi produk, (10) produksi masal.

Penelitian ini dilakukan untuk mengembangkan media pembelajaran Papan Kosakata untuk membantu siswa sekolah dasar inklusi untuk mempelajari penguasaan kosakata. Penelitian ini dibatasi sampai pada uji coba lapangan karena terbatas yang dilakukan untuk mengetahui penggunaan media pembelajaran oleh siswa yang membantu siswa dalam memahami kosakata sederhana. Selain itu, hasil dari penelitian ini berupa media berupa papan kosakata.

Gambar 3.1 Prosedur Penelitian Pengembangan Borg and Gall Potensi

Revisi Produk Produksi Masal

32

Penelitian ini berhenti sampai langkah keenam karena pengembangan produk media Papan Kosakata dan modul ini merupakan pengembangan secara terbatas dan masih memerlukan saran dan masukan dari semua pihak, sehingga produk peneliti layak untuk digunakan oleh peserta didik.

Berikut bagan yang peneliti gunakan:

Gambar 3.2 Prosedur Penelitian

1. Prosedur Penelitian a. Potensi dan Masalah

Penelitian ini bermula dari mencari masalah yang terjadi di sekolah dan menjadikan potensi penelitian. Peneliti melakukan analisis kebutuhan terlebih dahulu untuk mengetahui adanya potensi dan masalah yang berkaitan dengan penelitian tersebut. Analisis kebutuhan dilakukan bersama guru kelas IV Jogja Green School pada hari Kamis, 6 Agustus 2020. Wawancara ini dilakukan dengan bertujuan untuk mengidentifikasi adanya masalah yang terkait dengan media pembelajaran dan modul yang akan dibuat oleh peneliti. Wawancara juga dilakukan untuk mengetahui masalah yang terjadi di kelas IV dan kesulitan apa saja yang dilakukan anak pada saat belajar di sekolah.

Wawancara ini dilakukan secara online karena adanya kondisi pandemi sekarang ini sehingga membuat peneliti untuk tidak melalukan wawancara atau observasi secara langsung. Walaupun begitu peneliti bisa bertanya kepada guru kelas jika ada yang perlu ditanyakan secara online.

33 b. Pengumpulan Data

Pada tahap ini, penelitian melakukan pengumpulan data dengan melakukan pencarian di internet, referensi dan skripsi terdahulu. Dari berbagai sumber tersebut, peneliti memiliki ide untuk mendesain produk media pembelajaran Papan Kosakata.

c. Desain Produk

Penelitian merancang desain media pembelajaran yang sudah dibuat oleh penelitian sebelumnya, lalu dimodifikasi menjadi warna kuning dan merah. Patrycia (2010) mengatakan bahwa warna kuning memberikan kehangatan dan rasa bahagia terhadap peserta didik. Kata lain warna ini juga mengandung makna optimis, semangat dan ceria, dari sisi psikologi keberadaan warna kuning ini juga merangsang aktivitas dan mental.

Dalam psikologi warna merah memberi arti sebuah simbol keberanian, kekuatan dan energi, juga gairah untuk melakukan tindakan (action), serta melambangkan kegembiraan. Selain itu peneliti menggunakan warna biru, hijau dan merah muda yang merupakan golongan warna dingin yang memiliki sifat dan pengaruh yang tenang untuk berkonsentrasi (Josefin, Damajanti, dan Irianto, 2016: 73).

d. Validasi Desain

Peneliti menggunakan validasi ahli sebagai evaluasi formatif terhadap produk media pembelajaran, modul dan video. Produk yang dikembangkan akan divalilidasi oleh satu validator ahli bahasa Indonesia, satu guru kelas IV SD, dan ahli psikologi. Validasi produk bertujuan untuk mendapat saran dan kritik yang akan membuat produk media pembelajaran ini menjadi layak untuk digunakan. Saran dan kritik ini untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari produk yang dikembangkan.

e. Revisi Produk

Revisi produk dilakukan setelah peneliti memperoleh saran dan kritik

Revisi produk dilakukan setelah peneliti memperoleh saran dan kritik