Pembahasan pada bab sebelumnya telah dijelaskan tentang rumpun ilmu yang diatur dalam dalam UU RI No. 12 tahun 2012 tentang pendidikan tinggi pada pasal 10 ayat 1 bahwa, rumpun ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan kumpulan sejumlah pohon, cabang, dan ranting ilmu pengetahuan yang disusun secara sistematis. Dari enam rumpun yang disebutkan, penelitian ini fokus pada empat rumpun ilmu saja (rumpun ilmu agama, rumpun ilmu humaniora, rumpun ilmu sosial dan rumpun ilmu alam) bersama dengan cabang-cabang ilmu yang digolongkan padanya. Terkhusus pada bab ini akan membahas secara tematik rumpun ilmu agama.
Penjelasan rumpun-rumpun ilmu yang dimaksudkan juga dipaparkan dalam keterangan setiap pasal yang disebutkan dalam UU tersebut. Adapaun rumpun ilmu agama merupakan rumpun ilmu pengetahuan yang mengkaji keyakinan tentang ketuhanan atau ketauhidan serta teks-teks suci agama, antara lain ilmu ushuluddin, ilmu syariah, ilmu adab, ilmu dakwah, ilmu tarbiyah dan pemikiran Islam dan ilmu ekonomi Islam. Namun demikian, di dalam keterangan ini, ilmu yang disebutkan belum terbuka dengan jelas apa-apa saja namanya secara terperinci. Karena itu mesti diperjelas lagi kandungan dari ilmu ushuluddin itu apa saja, ilmu syariah apa saja dan seterusnya.
Melihat titik terangnya, ada baiknya dicantumkan terlebih dahulu keputusan dari konfrensi sedunia II mengenai pendidikan Islam yang disponsori oleh King ‘Abdul Azīz University, di Islamabad pada bulan Maret 1980 M. Dalam keputusan itu telah disetujui klasifikasi ilmu itu sebagai berikut:
1. Pengetahuan tentang yang kekal abadi: a) Alquran;
b) Hadis;
c) Sirat (riwayat hidup Nabi, para sahabat dan tabi’in); d) Tauḥid;
e) Prinsip-prinsip Syariah; f) Bahasa Arab Alquran; dan
g) Ilmu-ilmu tambahan; metafisika Islam, perbandingan agama, dan kebudayaan Islam.
2. Pengetahuan perolehan:
a) Seni imajinatif: arsitektur dan seni-seni Islam lainnya; sastra dan bahasa;
b) Ilmu-ilmu intelektual: ilmu-ilmu sosial (teoritis), filsafat pendidikan, ekonomi, politik, sejarah, kebudayaan Muslim, teori-teori Islam tentang politik, ekonomi dan sosial kebudayaan Muslim, ilmu bumi, sosiologi, logistik, psikologi, dan antropologi;
c) Ilmu-ilmu fisika (teoritis): filsafat ilmu pengetahuan, fisika, matematika, statistic, kimia, ilmu biologi, astronomi, dan ilmu-ilmu tentang angkasa luar;
d) Ilmu-ilmu terapan: perekayasaan dan teknologi (sipil dan mesin), kedokteran, pertanian, dan kehutanan; dan
e) Ilmu praktis: perdagangan, administrasi, ilmu perpustakaan, dan ilmu-ilmu komunikasi.53
Mengacu kepada hasil keputusan di atas, agar lebih jelas ilmu-ilmu apa saja yang digolongkan kepada rumpun ilmu agama secara terperinci, ada baiknya disesuaikan terlebih dahulu dengan klasifikasi ilmu yang ditetapkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Lembaga ini adalah lembaga ilmu pengetahuan yang resmi. Menurut LIPI, sistematika pembidangan ilmu agama Islam itu diatur sebagai berikut:
1. Sumber ajaran Islam, yang meliputi empat bidang: a) Ilmu-ilmu Alquran;
b) Ilmu-ilmu Tafsir; c) Ilmu Hadis; dan
d) Perkembangan modern/pembaruan.
2. Pemikiran dasar Islam, yang meliputi empat bidang: a) Filsafat;
b) Taṣawuf;
c) Perbandingan Agama; dan
53
d) Perkembangan Modern/Pembaruan.
3. Hukum Islam dan Pranata Sosial, mencakup empat bidang: a) Ushul Fikih;
b) Fikih Islam;
c) Pranata Sosial; dan d) Ilmu Falak dan Hisab.
4. Sejarah dan peradaban Islam, meliputi dua bidang: a) Sejarah Islam; dan
b) Peradaban Islam.
5. Bahasa dan sastra Islam, meliputi dua bidang: a) Bahasa Arab; dan
b) Sastra Arab.
6. Pendidikan Islam, mencakup dua bidang: a) Pendidikan dan Pengajaran Islam; dan b) Ilmu Nafs al-Islam.
7. Dakwah Islam, hanya mencakup satu bidang yaitu dakwah Islam. 8. Perkembangan modern/pembaruan dalam Islam, meliputi tujuh bidang:
a) Perkembangan modern/pembaruan dalam sumber ajaran Islam; b) Perkembangan modern/pembaruan dalam bidang pemikiran dasar
Islam;
c) Perkembangan modern/pembaruan dalam bidang fikih dan pranata sosial;
d) Perkembangan modern/pembaruan dalam bidang sejarah dan peradaban Islam;
e) Perkembangan modern/pembaruan dalam bidang bahasa dan sastra Islam;
f) Perkembangan modern/pembaruan dalam pendidikan Islam; dan g) Perkembangan modern/pembaruan dalam bidang dakwah Islam.54 Berdasarkan keterangan yang telah disebutkan secara garis besar dalam UU RI No 12 tentang pendidikan tinggi tersebut yang dipertegas klasifikasi rumpun ilmu agama yang dimaksudkan berdasarkan keputusan LIPI, maka dalam
54
penelitian ini, sebagai cabang ilmu atau ranting ilmu dari rumpun ilmu agama yang akan dibahas di sini adalah: 1) Sumber ajaran Islam yag meliputi, ilmu Alquran, ilmu Hadis, ilmu Tafsir; 2) Pemikiran Islam yang meliputi, filsafat, tasawuf, perbandingan Agama; 3) Hukum Islam yang meliputi, Uṣul Fikih, Fikih Islam; 4) Pendidikan Islam; 5) Dakwah Islam; dan 6) Ekonomi Islam. Semua yang disebutkan ini, tentunya yang menjadi sumber utamanya adalah Alquran. Alquran adalah sumber dari semua ilmu yang disebutkan ini. Menyahuti penelitian ini, maka ayat-ayat Alquran yang mengandung isyarat kepada semua ilmu yang dimaksudkan akan ditampilkan. Akan tetapi yang harus dipahami, turunan ilmu itu sesungguhnya dari Alquran baru kemudian klasifikasi yang disebutkan.
A. Sumber ajaran Islam yag meliputi: 1. Ilmu Alquran
Pengertian Ulūm al-Qurān disebutkan oleh Muṣtafa Dīb dalam kitabnya al-Wādiḥ:
همكمحو ،هتاءارقو ،هتباتكو هعجمو ،هبيترتو هلوزن ةيحنا نم يمركلا نآرقلبا قلعتت ثحابم وه
هنع هبشلا عفدو هبيلاسأو ،هزاجعإو ،هخوسنمو هخسناو ،هبهاشتمو
...
.كلذ لخإ
Dia adalah pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan Alquran al-Karim dari sisi turunnya, susunannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, sisi ayat muhkamnya, ayat mutasyabihnya, nasikh dan mansukhnya, kemukjizatannya, uslub bahasanya, dan penolakan terhadap pemalingan dari Alquran dan lain-lain.55
Keterangan yang hampir sama juga dijelaskan oleh ‘Ali as-Sābuni dalam kitabnya at-Tibyān fi Ulūm al-Qurān:
Ilmu al-Quran adalah pembahasan-pembahasan yang berkaitan dengan al-Kitab al-Majid yang abadi, dari sisi turunnya, pengupulannya, susunannya, pembukuannya, mengenal sebab turunnya ayat, makkiah dan madaniah, mengetahui yang nasikh dan mansukh, muhkam dan mutasyabih dan beberapa pembahasan yang tetap berkaitan dengan al-Quran al-Azim.56
55
Muṣṭafa Dīb al-Bugā dan Muḥyiddīn Mistū, Al-Wāḍiḥ fī Ulūm al-Qurān (Damaskus: Dār al-‘Ulūm al-Insāniah, 1998 M), h. 8.
56
Muḥammad ‘Ali aṣ-Ṣābūni, at-Tibyān fi Ulūm al-Qurān (Beirut: Ālam al-Kutub, 1405 H, 1985 M), h. 8.
Faidahnya sebagai pondasi tertinggi yang bersifat universal terhadap Alquran al-Karim, sebagai senjata untuk mengetahui keutamaan yang ada di dalamnya, persiapan yang terbaik untuk penolakan terhadap hal yang terlarang untuk Alquran, dan sebagai kemudahan untuk menyelami rahasia-rahasia tafsir Alquran al-Karim.57
Ilmu ini merupakan ilmu yang terpenting dalam kajian Alquran. Telah disebutkan dalam definisi di atas, bahwa segala yang berkaitan dengan Kitab Suci yang Mulia itu dibahas dalam ilmu Alquran. Bila ilmu ini tidak dikaji, maka dengan mudah bagi para penentang Alquran belakangan untuk menanamkan keraguan bagi kaum Muslim terhadap keautentikan Alquran. Pada masa Nabi saw. ilmu ini belum dianggap ilmu yang dihajati. Pada masa Uṡmān ra. barulah penjagaan terhadap Alquran telah dijanjikan oleh Allah Swt. di dalam Firman-Nya:
َنو ُظِفَٰ َحَل ۥُلَّ اذنوَإِ َرۡكِ لَّٱ اََ لنذزَن ُنۡۡ نَ اذنِإَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Ḥijr, 15: 9).Komentar aṭ-Ṭabari terhadap surah al-Hijr ayat 9 yang dimaksudkan disebutkan dalam tafsirnya Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āyi al-Qurān:
نوظفالَ نآرقلل ناإو :لاق ) حنوُظِفاححلَ ُهحل اناِإحو (نآرقلا وهو ) حرْكِ ذلا احنْلزن ُنْحنَ اناِإ (:هركذ لىاعت لوقي
طبا هيف دازي نأ نم
ءالهاو ، هضئارفو هدودحو هماكحأ نم هنم وه ام هنم صقني وأ ،هنم سيل اام ل
.ركذلا ركذ نم )ُهحل(:هلوق في
Firman Allah Swt. yang menyebutkan “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan az-Zikra” artinya Alquran, dan “sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” Ia berkata, sesungguhnya bagi Alquran itu ditetapkan pemeliharaan dari penambahan ke dalamnya kebatilan yang bukan bagian darinya, atau yang mengurangi hakikat kebenaran Alquran dari hukum-hukumnya, beberapa had di dalamnya dan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan. Damir “ha” pada firman-Nya “lahu” dikembalikan kepada sebutan az-Zikra.58
57Mistū, Al-Wādiḥ, h. 8.
58Abī Ja’far Muḥammad ibn Jarīr aṭ-Ṭabari (w. 310 H), Tafsīr aṭ-Ṭabari Jāmi’ al-Bayān
ديِ َحۡ ٍميِكَح ۡنِ م ٞليِنزَت ۡۖۦِهِفۡلَخ ۡنِم َلََّو ِهۡيَدَي ِ ۡيَۡب ۢنِم ُلِطََٰبۡلٱ ِهيِتۡأَي ذلَّ
Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rab yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (QS. Fuṣṣilat, 41: 42).Al-Alūsi memberikan komentar terhadap ayat ini dalam kitab tafsirnya Rūḥ al-Ma’āni: }
ِْيح ب نِم لطابلا ِهيِتْحيَ الا
ِهِهْلحخ ْنِم حلاحو ِهْيحدحي
{
ةيانك ههلخ امو هيدي يب امو ، باتكل ىرخأ ةهص
، هتاهج عيجم نم لطابلا هيلإ قرطتي لا يأ هلك نامزلا نع ةيانك ءاسلماو حابصلاك تاهلجا عيجم نع
نصح في هنلأ هيلإ لوصولا هءادعأ نكيم لاف هتاهج عيجم نم ىحم صخشب ههيبشتل ليثتم هيفو
ي نأ زوجو ، يبلما قلَا ةياحم نم يصح
نم هب برخأ ام ةهج نم لطابلا هيتيَ لا نىعلما نوك
ةيتلآا روملأاو ةيضالما رابخلأا
.
(Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya), sifat yang lain bagi Kitab. Tidak datang dari depan maupun belakangnya adalah kinayah (majaz) dari semua arah. Seperti subuh dan sore merupakan kinayah dari semua masa. Artinya tidak akan terjadi padanya kebatilah dari semua arah. Pada ayat ini berisikan permisalan untuk mengumpamakan dengan seseorang yang menjaga semua arah. Maka tidaklah mungkin musuhnya sampai kepadanya karena kokohnya benteng penjagaan al-Haq al-Mubin. Boleh juga maknanya tidak akan berlaku kebatilah kepadanya dari segala apa yang sudah diinformasikan dahulu dan yang segala perkara yang akan datang.59
Ayat ini secara aqidah, sebagai dalil bahwa selamanya Alquran akan dijaga oleh Allah Swt. Apa yang terjadi di tengah kehidupan ini merupakan bukti dari kebenaran firman ini. Satu di antaranya, satu katapun ditukar oleh seseorang dari apa yang disebutkan dalam Kitab mulia ini, maka dunia akan langsung mengetahuinya dengan cepat. Namun demikian, walau disebutkan Alquran itu dijaga oleh Allah Swt., kaum Muslim tetap harus melakukan upaya untuk
59Syihābuddīn Maḥmūd ibn Abdullāh Ḥusaini Alūsi, Rūḥ Ma’āni fi Tafsīr
menjaganya dari segala hal yang merusak kemuliaannya. Upaya yang dilakukan hanya dengan mempelajari secara mendalam ilmu Alquran.
Peristiwa pada masa Nabi saw, banyak tuduhan-tuduhan dari orang kafir yang mengingkari Alquran dan seolah mereka bisa membuat yang lebih baik darinya. Karena itu, tantangan bagi mereka dengan tegas disebut dalam Alquran. Sehebat apapun nalar mereka dalam mengarang syair yang sangat indah menurut mereka saat itu, untuk mendatangkan satu ayatpun sebagai tandingan Kalam Alllah tidak mereka sanggupi. Firmannya:
َلَو ۦِهِلۡثِمِب َنوُتأَي ۡ لَّ ِناَءۡرُقَ ۡلٱ اَذََٰه ِلۡثِمِب ْاوُتۡأَي نَأ َٰٓ َ َعَل ُّنِۡلۡٱَو ُسنِۡلۡٱ ِتَعَمَتۡجٱ ِنِئذل لُق
ۡمُه ُضۡعَب َن َكَ ۡو
اٗيرِه َظ ضۡعَ ِلِ
Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (QS. Al-Isra’, 17: 88).وُعۡدٱَو تَٰ َيَ َتَۡفُم ۦِهِلۡثِ م رَوُس ِ ۡشَۡعِب ْاوُتأَف ۡلُق ُۡۖهَٰىَ َتَۡفٱ َنوُلوُقَي ۡمۡ َأ
نِإ ِ ذللَّٱ ِنوُد نِ م مُتۡع َطَتۡسٱ ِنَم ْا
َيِۡقِدَٰ َص ۡمُتنُك
Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Alquran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar". (QS. Hūd, 11: 13).نوَإِ
ِنوُد نِ م مُكَءٓاَدَهُش ْاوُعۡدٱَو ۦِهِلۡثِ م نِ م ةَروُسِب ْاوُتۡأَف اَنِدۡبَع ََٰ َعَل اَ ۡلنذزَن اذمِ م بۡيَر ِفِ ۡمُتنُك
ِ ذللَّٱ
َيِۡقِدَٰ َص ۡمُتنُك نِإ
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Alquran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Alquran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah, 2: 23).Semua ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah bukti ketidakmampuan para penentang kebenaran Alquran. Di dalam Kitab Suci juga Allah menyebutkan beberapa ayat yang menyatakan bahwa firman-firman Allah bukanlah buatan Nabi Muhammad saw.: