Penelitian ini perlu dibuat batasan masalahnya agar tidak terjadi kesalahpahaman bagi pembaca. Melihat secara teks judul yang disebutkan, ada dua hal yang dikhawatirkan salah dalam memahaminya. Pertama, tentang makna kalimat isi dalam judul disertasi ini. Kedua, cakupan dari pendidikan. Dalam penelitian ini, pendidikan yang secara universal yaitu pendidikan agama dan pendidikan umum. lebih jelasnya, di sini dipaparkan pengertian dari isi dan pendidikan yang dimaksudkan:
1. Isi
Isi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah satu komponen atau satu perangkat dari bagian kurikulum. Dengan kata lain, isi yang dimaksudkan adalah māddah. Bila yang dimaksudkan dalam penelitian ini kurikulum, maka satu ayatpun tidak didapati secara eksplisit atau isyarat yang menjelaskannya. Akan tetapi, bilamana bagian dari kurikulum itu yang dikaji akan banyak terlihat dari kandungan ayatnya. Secara umum, kurikulum itu memiliki empat komponen, yaitu: tujuan, isi, metode atau proses belajar-mengajar dan evaluasi.27 Berdasarkan keterangan yang disebutkan oleh beliau ini, isi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah bagian dari kurikulum dan fokusnya kepada materi ajar dalam pendidikan. Untuk mendekatan pemahaman, penulis akan menjelaskan sekilas tentang kurikulum agar dapat mendudukkan makna isi dalam penelitian ini.
Kurikulum di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan atau perangkat
27
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidik an dalam Perspek tif Islam (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), h. 54.
mata kuliah mengenai bidang keahlian khusus.28 Di atas telah disebutkan, kurikulum itu memiliki empat komponen, yaitu: tujuan, isi, metode atau proses belajar-mengajar dan evaluasi. Dengan demikian, isi yang dimaksudkan pada judul disertasi ini mengacu kepada perangkat pelajaran (materi) yang diisyaratkan oleh Allah di dalam Alquran secara khusus yang berhubungan dengan empat rumusan masalah yang disebutkan. Dengan demikian, isi adalah salah satu dari komponen kurikulum. Atas dasar inilah maka judul disertasi yang diteliti tidak menggunakan kata kurikulum pendidikan.
Namun demikian, penulis menegaskan bahwa isi yang dimaksudkan dalam penelitian ini tidaklah semua yang ada di dalam Alquran. Akan tetapi, sebagian dari yang disebutkan di dalamnya. Bila penelitian ini membahas dan menampilkan semua tentu tidak cukup satu disertasi. Lebih dalam dan lebih luas, peneliti-peneliti selanjutnyalah yang akan menyempurnakannya.
2. Pendidikan
Pendidikan sebagaimana yang disebutkan oleh Yūsuf al-Qaradāwi, merupakan proses arahan dan bimbingan untuk mewujudkan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya, sehingga mereka siap menjalani kehidupan dengan baik dimanapun dan kapanpun berdasarkan nilai-nilai Islam.29
Mengkaji tentang pendidikan, dalam literatur pendidikan akan ditemukan banyak defenisi. Perbedaan defenisi bukan saja pada redaksinya bisa juga pada substansinya. Pendidikan Islam juga demikian didefenisi secara variatif. Sebagaimana dikemukakan pada latar belakang masalah, Konferensi Dunia Pertama Tentang Pendidikan Islam di Jeddah tahun 1977 pun hanya merekomendasi tiga istilah untuk istilah pendidikan Islam, yaitu tarbiyah, ta’līm, dan ta’dīb.
Menurut konsep pendidikan Ahmad Tafsir, pendidikan Islam terdiri dari filsafat, ilmu, dan manual. Dengan kata lain, filsafat pendidikan Islam, Ilmu
28
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 479.
29
Yusuf al-Qaraḍāwi, Pendidik an Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, diterjemahkan oleh Bustani A. Gani (Jakarta: Bulan Bintang, 1980), h. 157.
Pendidikan Islam, dan Manual Pendidikan Islam.30 Filsafat pendidikan Islam menurut beliau dilahirkan dari teori-teori yang bersumber dalam Alquran dan Hadis. Ilmu Pendidikan Islam diturunkan dari Filsafat Pendidikan, dan Manual Pendidikan Islam, tafsiran yang sangat teknis, sehingga tidak butuh penjelasan lagi.31
Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam itu sangat luas dan bisa disebut bahwa semua bidang ilmu menjadi pendidikan Islam asal ada penanaman sesuatu baik moral maupun ilmu atau yang lebih populer, ketakwaan dan ilmu. Pendapat yang lebih sistematis disebutkan oleh Azyumardi Azra. Ia mengatakan bahwa ilmu pendidikan Islam dilihat dari sifat dan coraknya bisa dibagi empat. Pertama, ilmu pendidikan Islam normatif yang bersumber dari kandungan Alquran dan Hadis. Kedua, ilmu pendidikan filosofis yang bersumber dari pemikiran mendalam para sarjana Muslim. Ketiga, ilmu pendidikan Islam historis yang bersumber dari data dan fakta sejarah yang bisa dilacak akar-akarnya. Keempat, ilmu pendidikan aplikatif yang tujuannya untuk menerapkan teori-teori pendidikan dalam praktek belajar-mengajar.32
Intinya, pendidikan yang dimaksudkan dalam penelitian ini mencakup semua ilmu agama dan ilmu umum. Dalam hal ini, maksudnya adalah cabang-cabang atau ranting dari ilmu agama dan yang tergolong kepada cabang-cabang-cabang-cabang rumpun ilmu umum (humaniora, sosial dan alam). Akan tetapi, dijelaskan kembali, tidak semua cabang yang dikandung oleh setiap rumpun ini disebutkan dalam penelitian ini. Namun, sebagian besarnya saja. Bilamana ada cabang dari setiap rumpun ilmu yang dimaksudkan tertinggal, untuk menyempurnakan penelitian ini terkait dengan kajian Alquran, diharapkan kepada peneliti-peneliti selanjutnya.
Sehubungan dengan itu, penelitian ini menampilkan ayat-ayat Alquran yang mengisyaratkan rumpun ilmu agama bersamaan dengan rumpun ilmu umum, sehingga tidak ada lagi yang menyatakan bahwa di dalam Alquran hanya menyebutkan ilmu-ilmu agama saja. Rumpun ilmu umum (alam, sosial dan
30Ahmad Tafsir, “Peta Penelitian Pendidikan Islam”, dalam Ahmad Tafsir (Ed.),
Epistemologi Untuk Ilmu Pendidik an Islam (Bandung: IAIN Bandung, 1995), h.
31
Ibid., h. 96-97.
32Azyumardi Azra, “Kata Pengantar” dalam Abduddin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, cet. 2 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h. vii-viii.
humaniora) dalam penelitian ini akan tampak jelas bahwa Alquran telah memberikan isyarat untuk mempelajarinya. Dengan demikian, ilmu umum yang dianggap oleh sebagian orang sama sekali tidak disebutkan dalam Alquran, dapat terkikis sedikit demi sedikit. Bahkan yang sangat diharapkan, di dalam benak kaum Muslim jangan lagi ada pemisahan antara ilmu agama dengan ilmu umum. Dengan dasar ucapan, Alquran tidak menyebutkan ilmu umum di dalamnya. Ucapan yang demikian sangat berbahaya dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu, penulis yakin penelitian ini sangat erat hubungannya dengan integarasi ilmu yang sudah lama diinginkan oleh seluruh Perguruan Tinggi di Negeri ini. Ke depan, penelitian dengan cara yang ditempuh ini, sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan Islam.