• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bacaan Kartin

Dalam dokumen Buku Kartini final.pdf (Halaman 186-192)

Selama masa dipingit, Kartini yang haus akan pengetahuan, mendapatkan berbagai buku dan majalah dari ayah Bupati Sos- roningrat dan kakak Raden Pandji Sosrokartono. Dari ba- caan itulah Kartini mengetahui pentingnya penguasaan bahasa Belanda dan bahasa asing lainnya untuk seseorang agar mampu memahami segala informasi yang diberitakan, baik oleh surat kabar atau pun majalah serta mampu membaca alam pikiran dari penulis buku.

Adapun surat kabar, majalah serta buku yang terdapat di

Hindia-Belanda pada zaman Kartini fidak dapat mengingkari se- jarah pers semenjak zaman VOC. Tradisi Jawa dan pelbagai daerah lainnya di Indonesia belum memiliki tradisi cetak-mencetak seperti di Eropa. Tulisan yang dibuat oleh para Mpu dan para pujangga

ditulis di atas daun lontar, seperti kakawin dan naskah lainnya terbatas untuk kepentingan Raja serta yang berkepentingan saja. Ketika Islam masuk, Qur’an harus dipopulerkan dan harus dibaca masyarakat banyak. Tidak jelas bagaimana para Kiai memper- banyak kitab bacaan suci tersebut.

Buletin pertama yang dibuat oleh VOC yang menjadi cikal bakal koran terbitan selanjutnya adalah kreasi Jan Pieterszoon Coen di Batavia yang disebut Belanda sebagai Courant Nouvelles (1615). Setelah kematiannya dalam serangan Sultan Agung dari Mataram, nasib koran di Batavia mengalami jatuh bangun. Meskipun demikian, ia bertahan hingga zamannya Kartini.

Daftar kepustakaan Kartini adalah sebagai berikut. a) Surat Kabar

De Java Bode didirikan pada tahun 1852 sebagai berita harian. Ada pula Het Bataviasche Nieuwsblad (1885) yang menjadi corong bagian Indo-Europeesche-Verbond Partij

yang terkuat di Hindia-Belanda, Kemudian ada Het Nieuws van de Dag (1895). Koran satu-satunya yang diterbitkan di Ban- dung Het Algemeene Indische Dagblad de Preanqerbode (1896) di bawah pimpinan Jan Fabricius yang juga menulis buku tentang pengalamannya tinggal di Jawa. Di Semarang terdapat koran

De Locomotief (1852). Koran ini adalah satu-satunya koran yang berbahasa Jawa, Cina dan Arab. Koran ini jelas dibaca Kartini, karena beberapa suratnya menyebutnya demikian. Koran ini berpihak kepada kaum Liberalis yang pada waktu itu sedang gencar-gencarnya melakukan serangan terhadap

praktek kolonialiasme Hindia-Belanda yang dianggap tidak mempertimbangkan hak azasi tnanusia. Di Surabaya terdapat

Het Sourabajasch Handelsblad (1866). Juga Oostpost (1853). Indo-Europeesch-Verbond juga menerbitkan Onze Courant.

Di Solo ada Bromartani (1855) yang kemudian disusul oleh

Djurumartani (1864). Dannokondo dikelola oleh Cina. Tidak diketahui dengan pasti apakah Kartini, selain membaca De Lokomotief, juga membaca koran lain.

b) Majalah Hindia-Belanda

Indisch Magazi_jn (1845). Indisch Archief (1851) sebuah majalah yang sebagian artikelnya berbahasa Jawa. Pada abad itu banyak sudah terdapat majalah tentang budaya, kedokteran, majalah bumiputera bernama Djowo. Majalah lebih formil seperti Wet en Adat. Kartini tidak menyebut secara spesifik majalah apa saja yang dibacanya dan ia tidak pernah menye- butkan bahwa ia membaca majalah berbahasa Jawa. Bahkan ia menginginkan agar berbagai buku pengetahuan diterjemahkan dari bahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa, agar pengertiannya terjangkau oleh masyarakat luas.

c) Majalah Belanda

De Gids, Hollandsche Lelie, De Echo adalah majalah Belanda yang di- baca Kartini. Majalah De Gids adalah sebuah majalah ilmiah di situ Couperus bekerja ketika ia ditempatkan di Jawa, Henri Borel dan Augusta de Wit menulis kesan mereka ten.tang ga- melan, dan serba serbi tentang Hindia Belanda, budayanya dan rakyatnya. Majalah dalam deretan kedua adalah majalah

di tempat Kartini mengirimkan iklan menawarkan diri untuk berkorespondensi yang kemudian mendapat sambutan dari Estella Zeehandelaar. De Echo adalah majalah yang menyuarakan suara wanita. Dari surat surat Kartini jelas tam- pak bahwa ia membaca berbagai majalah ini. Informasi yang didapat dari bacaan tersebut membukakan matanya terhadap Indonesia yang pada aktu itu disebut Indie. Dalam salah satu suratnya Kartini mengakui, bahwa pengetahuannya tentang tanah air dan bangsanya justru didapat dari tulisan bangsa Eropah. Kartini ingin berbagi pengetahuan dengan bangsanya. Keterbatasan informasi jelas mengerdilkan manusia yang mengira satu satunya dunia adalah lingkungannya, seperti katak dalam tempurung.

d) Buku buku yang dibaca Kartini antara lain:

- C. oekoop De Jong Van Beek En Donk, Hilda van Suylen- burg, Amsterdam, 1898.

- Augusta de Wit, Natuur en nschen n Indie,Amsterdam, 1900,

Java, ‘Gravenhage.icov.

- Louis Couperus, De Stille Kracht, Amsterdam, 1989.

- De Genestet, De Dicht Werken, Rotterdam, 1886; De Ziel Van Een Volk, buku tentang Buddha.

- J. Veth, Java, Geographisch,Etnologisch, Hlstorisch. - Henri Borel dalam majalah De Gid, Het Jongetje. - Gerth van Wijk, Moderne Vrouwen, Amsterdam, 1896.

- Martine Tonnet, dalam majalah De Gids bulan November, 1899 menulis tentang wayang orang. Tulisan ini mengenai orang Jawa dan keseniannya serta Keraton Yogyakarta.

- Multatuli, Minnebrieven, Amsterdam, 1900; Max Havelaar, Amsterdam, 1900.

- Fritz Reuter, seorang penyair.

- Vosmaer, Inwijding.

- Nama pengarang tidak disebut, Mitologi Yunani. - Fielding, Tentang Birma.

- Marie Marx Koning (nama buku tidak disebut).

- Van Eden, Het Viooltje, dat weten wilde

- (pengarang tidak disebut), De Kleine Yohannes. - Helen S. Dyer, Pandita Ramabai, London, 1906.

- Felix Ort, Naar ‘t Groote Licht.

- Bertha v. Suttner, De Wapens Neer Gelegd. - Marcel Prevost, Moderne Maagden.

- Pengarang tidak disebut, Inlands Onderuiijs voor - Meisjes; Een Inlandse Instelling; Javaanse Kunst. - Henryk Sienkiewicz, Quo Vadis.

- Edna Lyall, Wjj Beiden, 1884.

- Van Deventer,Een Eereschuld, 1897.

- Huygens, Barthold Meryan, 1897.

Dalam bab lain akan diuraikan beberapa isi buku yang diperkira- kan banyak mem pengaruhi pandangan Kartini dan juga memberikan inspirasi serta kontribusi dalam pembentukan ide atau gagasannya termasuk pandangan Raden Mas Pandji Sosrokartono, kakak kandung Kartini.

Setelah kematian Kartini, cukup banyak penulis yang menu- liskan memoirnya, antara lain nyonya Nellie Kol yang juga seorang penulis dan nyonya Ovink Soer, Bahkan Augusta de Wit, Couperus, Henri Borel, Elisabeth Allard, dan Symmers juga menulis omentamya tentang Kartini. Bouman menulis Meer Licht Over Kartini. Dengan membaca komentar mereka tentang Kartini, dapatlah diketahui, bahwa keprihatinan Kartini idengar oleh Jiwa jiwa yang mengerti yang justru bukan orang Jawa. Ini menandakan, bahwa Kartini menyampaikan isu yang bersifat universal tentang hak azasi manusia yang pada saat itu merupakan hal baru. Revolusi Prancis (1799) dan Deklarasi Hak Azasi Manusia (The Declaration ofHuman Right) milik Amerika yang ditulis

oleh Thomas Jefferson, tidak serta-merta diterima masyarakatnya. Se- jarah pembentukan demokrasi rakyat Amerika Serikat pun memakan waktu yang cukup lama dan meminta banyak korbanjiwa (Perang Saudara, Civil War, 1779).

Sebagai anak zamannya, Kartini tergolong pembaharu,yang mempersembahkan gagasan tentang ‘arus balik’ kebangsaan Jawa/ Nusantara, emansipasi wanita dan emansipasi bangsa yang sepatutnya direkam dalam sejarah bangsa Indonesia.

Dalam dokumen Buku Kartini final.pdf (Halaman 186-192)