• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pernikahan Kartin

Dalam dokumen Buku Kartini final.pdf (Halaman 67-75)

Raden Adjeng Kartini, putri Bupati Jepara bersama adiknya yang telah mendorong perkembangan perempuan Jawa, akan menikah den- gan Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Bupati Rembang ini telah telah kehilangan isterinya setahun sebelumnya, dan telah me- mantapkan hatinya untuk menikah kembali. Ia menginginkan seorang isteri yang sama seperti dia, yakni telah mengenyam pendidikan Barat. Pilihan itu jatuh pada Raden Adjeng Kartini yang menerima pinan-

8 Bagi rakyat Belanda stratifikasi sosial masyarakatnya berbeda dengan rakyat Jawa. Terjadi

hal yang tidak wajar apabila pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang Jawa dalam status bangsawan seperti yang sering terjadi (misalnya dalam pengangkatan seorang bupa- ti). Pejabat itu belum mendapat gelar raden apabila ia belum menyandang gelarnya. Tentu saja tidaklah mungkin mengangkat seseorang menjadi keturunan raja. Lihat “Javaansche en Nederlandsche Adel” dalam Het nieuws van den dag vor Nederlandsch Indie, 6 Februari 1903, lembar ke-2.

gannya. Menurut rencana pernikahan itu akan dilangsungkan pada 8 November 1903. Sebelumnya terdengar berita bahwa dua putri tertua dari Bupati Jepara itu akan berangkat ke Batavia untuk mengikuti pen- didikan guru dan keperawatan atas biaya pemerintah. Namun berita itu dibantah dalam berita koran De Locomief yang menyebutkan bahwa rencana itu memang ada, tetapi kedua gadis Jawa itu menolaknya.10

Pada 8 November 1903, telah dilangsungkan resepsi pernikahan di Kabupaten Jepara antara Raden Adjeng Kartini, puteri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan Bupati Jepara Raden Adipati Djojoa- diningrat, Bupati Rembang.11 Dalam resepsi yang diselenggarakan di

Kabupaten Jepara, mempelai puteri dibantu oleh isteri Patih-Wedono Raden Ayu Pringgowinoto, seorang bangsawan yang telah lulus dari ELS, sekolah dasar Eropa. Raden Ayu Pringgowinoto bertindak selaku nyonya rumah dalam resepsi tersebut dan baik bupati maupun patih tampil dengan menggunakan busana Belanda. Petang itu Bupati Rem- bang tampil dalam gaya yang gagah, dan menarik perhatian dari semua masyarakat Rembang.12 Setelah pernikahan itu, Bupati Rembang Raden

Adipati Djojoadiningrat diperkenankan mengenakan payung kuning, yang diizinkan untuk digunakan pada kesempatan peringatan hari ulang tahun Ratu Belanda.

Resepsi pernikahan Raden Adjeng Kartini dirayakan dengan pesta besar. Pada pukul 15.30, di alun-alun bunyi gamelan telah berkumandang. Di dekat pintu masuk terlihat para tamu yang penuh

10 “Geen Opleiding van Gouvernementswege” yang dimuat dalam Soerabaja Nieuwsblad, 21 September 1903. Berita ini dilengkapi dalam “Uit de Indische Bladen” yang dimuat dalam

Het Nieuws van den dag door Nederlandsch India, terbitan 22 September 1903.

11 Berita pernikahan ini dikutip dari harian Centrum, yang dimuat dalam berita “Verspreide Berichten” dalam Koran Bataviaasche Nieuwsblad, 29 Oktober 1903, lembar ke-2.

kegembiraan, seperti dalam suasana orang bertemu dengan sahabat lamanya yang telah lama berpisah. Banyak orang menyaksikan peris- tiwa itu. Tampak seseorang menaiki kereta di jalan Pecangaan. Orang itu sudah dikenal banyak orang, yang tak lain adalah Bupati Rembang, sang mempelai pria. Ia didampingi oleh saudaranya Bupati Tuban. Se- tibanya di alun-alun, ia memasuki Jalan Kabupaten, melewati masjid di sebelah kirinya dan memasuki rumah yang telah disediakan oleh ayah mertuanya, milik seorang dokter Jawa. Sementara itu, mempelai wanita belum tampak. Para tamu banyak yang bergurau karena mempelai pria mendapatkan isteri yang masih sangat muda (dibandingkan dengan usia mempelai pria), cantik, dan cerdas. Sementara itu mempelai pria memiliki pengalaman hidup di negeri Belanda selama 8 tahun dan telah menjadi seorang birokrat yang maju. Hal ini diharapkan akan banyak membantu usaha isterinya kelak yang giat berusaha memajukan kaum wanita bumiputera. Namun, ada pula sindiran yang mengatakan bahwa jangan-jangan Raden Adjeng Kartini akan melupakan kewajibannya yang selama ini sudah digelutinya. Dengan pengaruh Eropa yang de- mikian besar isterinya akan membiarkan masakan supnya gosong atau membiarkan suaminya dengan kancing jas yang tidak utuh dipasang. Bahkan muncul pula sindiran lainnya bahwa isterinya mungkin akan menjadi ibu rumah tangga yang baik, yang akan melayani suaminya se- baik mungkin.13 Dengan demikian, perhatian untuk memajukan kaum

bumiputera menjadi terabaikan.

Setelah pesta pernikahannya berakhir, Raden Adjeng Kartini tetap mencurahkan perhatiannya dalam pendirian organisasi para bangsawan bumiputera baik di Jawa maupun di Madura. Atas upaya

pribadinya, ia menyiapkan putra dan putri bangsawan bumiputera yang memiliki latar belakang yang baik untuk diberikan beasiswa agar bisa melanjutkan ke berbagai lembaga pendidikan. Ia mengusulkan agar semua bangsawan bumiputera mau berkontribusi untuk menutup dana beasiswa ini, yang nantinya akan menjadi berkah bagi para pemuda yang menerima beasiswa tersebut. Diharapkan nantinya mereka akan kembali dan akan menduduki posisi sosial yang cukup baik. Gagasan ini mendapat banyak dukungan dari para bangsawan bumiputra serta dari penguasa kolonial Belanda yang mendukung kegiatan tersebut.14

Raden Adjeng Kartini pada 13 September 1904 melahirkan putra laki-laki yang pertama, yang diberi nama Soesalit Djojoadinin- grat. Namun, empat hari setelah melahirkan putranya, Raden Adjeng Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan. Jenazahnya disemayamkan di desa Bulu, Kecamatan Bulu, di kota Rembang. Berita meninggalnya Raden Adjeng Kartini menga- getkan semua teman dan sahabatnya baik di Hindia Belanda maupun di negeri Belanda. Penghormatan banyak disampaikan kepadanya tidak hanya dari mereka yang mengenalnya secara pribadi tetapi juga mereka yang mengetahui hasil dari usahanya yang dianggap sangat mulia. Selain itu pemikirannya yang cemerlang tidak hanya diingat oleh penduduk di Kabupaten Rembang, tetapi juga kaum perempuan di Jawa yang dibuat setara oleh puteri bupati ini. Semuanya mengucapkan terima kasih kepadanya.

Koran De Soematera Post terbitan tanggal 5 Oktober 1904 menu- runkan tulisan khusus yang cukup panjang dalam upaya mengenang

14 “Uit Inlandsche Bladen” dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 20 Januari 1904, lembar ke-2.

Raden Adjeng Kartini. Koran ini menurunkan tulisan tentang sejarah hi- dupnya. Sementara itu Cli de Hart menurunkan tulisan yang menyoroti gagasan Kartini yang menekankan hal-hal kecil terutama yang berhu- bungan dengan masyarakat, agar dia bisa mengenal pribadinya secara lebih jauh yang tetap bersemangat sampai akhir hayatnya dengan cara yang halus.15

Beberapa bagian kehidupannya memberikan hal-hal yang mena- rik yang ikut menumbuhkan minat di antara perempuan Jawa di Jawa dan Madura. Raden Adjeng Kartini adalah salah satu dari tiga putri Bupati Jepara yang bukan hanya mencoba memberikan pengetahuan kepada kaum puteri, tetapi juga melalui pendidikan dari seorang pejabat yang cakap, yang diharapkan mampu menyamai perempuan Eropa. Apa yang membedakan antara Kartini dan putri Bupati Jepara lainnya bukanlah pengetahuan atau kepandaiannya, bukan kecantikan atau daya tarik lainnya, melainkan kekuatan yang ada di sekolahnya yang tidak menerima pengaruh asing, yang tidak terpengaruh paham atau ideologi Barat, melainkan dari kekuatan dan keberanian dalam mewujudkan cita-citanya. Ia merasakan yang tidak dimiliki oleh orang Hindia Belanda adalah: Bara Cita-Cita yang Menyala.

Sebagai seorang yang memiliki pandangan jauh ke depan, Raden Adjeng Kartini memanfaatkan sebagian besar waktunya untuk memba- ca, berdiskusi dengan orang-orang Belanda yang tiba di Hindia Belanda dan memberikan pendidikan kepada masyarakat yang memerlukannya. Ia merasakan getaran semangat jiwanya bahwa bagi dirinya dan sau- dari-saudari lainnya, ada tugas berat yang harus dilakukannya, yakni

15 “Sprookeltjes voor dames” yang dimuat dalam Koran De Sumatra Post 5 Oktober 1904, lembar ke-2.

mengentaskan dan memajukan kaum perempuan bangsanya. Apabila dilihat kehidupan para remaja putri di sekelilingnya, seorang gadis yang melontarkan keinginan seperti yang ia lontarkan gagasannya dalam surat kabar berbahasa Belanda, merupakan suatu hal yang sangat maju bagi dunianya. Ia termasuk wanita yang selalu berada dalam pendopo rumahnya yang luas, jarang berjalan-jalan di luar, jarang berjalan kaki di sekitar tempat tinggalnya. Memang sungguh merupakan fenomena yang luar biasa.

Kehidupan Raden Adjeng Kartini setelah menikah justru ber- banding terbalik dengan dugaan orang sebelumnya. Ia akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang akan menghabiskan waktunya untuk melayani suaminya. Namun, kondisinya berbalik 100%. Justru setelah menikah, pemikiran dan kegiatannya menjadi lebih maju, karena men- dapatkan dukungan dari suaminya, yang pernah mengalami pendidi- kan Barat selama 8 tahun. Kondisi inilah yang memajukan kegiatannya, khususnya dalam memajukan pendidikan guna meningkatkan derajat kaum wanita dan bangsanya.16

Di Jepara, Raden Adjeng Kartini hanya mengenyam pendidikan dasar di ELS. Di sekolah itu ia mempelajari bahasa Belanda dan sedikit bahasa Prancis. Ia menerima pendidikan lebih sedikit dibandingkan dengan adik-adiknya, karena pada masa kecilnya, tenaga guru hampir tidak ada. Suatu bukti bahwa semangatnya jauh lebih besar yang sejak kecil sudah tumbuh dalam jiwanya. Ia mendapat bimbingan dari Nyo- nya Ovink Soer, isteri asisten residen dan bergaul dengan orang Eropa yang sudah maju melalui korespondensi dengan Nyonya Nelie van Kol. Redaksi De Sumatra Post dalam tulisan memorial itu menuliskan

bahwa setiap orang yang berusaha lebih maju akan memiliki dorongan untuk belajar lebih lanjut dan keinginan untuk mencari sumber pen- getahuan yang terbaik. Luasnya wawasan Kartini membuatnya sadar bahwa ia harus memperoleh kepercayaan dari rakyatnya. Oleh karena itu tanpa kepercayaan, pengetahuan dan kemajuan yang diperolehnya tidak akan berguna bagi rakyatnya dan hanya menjadi penghias dirinya. Kepercayaan kepada sosok Kartini tampaknya semakin meyakinkan. Sekolah di kabupatennya semakin banyak muridnya. Para orang tua mempercayakan anak-anak untuk dididik di sekolah Kartini ini. Tidak hanya itu banyak juga tukang ukir yang bergabung dengan sanggar yang didirikan oleh Kartini, dan mengembangkan model-model ukiran yang kualitasnya diakui dunia.

Kartini setelah pernikahannya harus merawat tujuh orang anak, bawaan dari suaminya. Dalam beberapa bulan ia telah menjadi orang tua asuh. Mereka tidak mengenal lagi kesedihan karena terlantar oleh ayahnya yang sibuk mengurus pekerjaannya. Dengan sepenuh hati Kartini merawat anak-anak itu, sehingga mereka berkembang seperti anak-anak seusia mereka lainnya. Bagi banyak orang Eropa, banyak yang mengacungi jempol atas kesabarannya dalam memenuhi tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang memiliki martabat besar, di samping menjalankan peran sebagai isteri dan anggota keluarga besarnya.

Beberapa minggu setelah pernikahannya, Kartini menjadi sinar terang dan cahaya berkilau dari kabupaten. Banyak orang tertarik kepadanya, apalagi setiap kali ia memanggil para isteri pejabat bumi putera itu untuk pergi ke sekolah. Ia juga mempererat dengan kerabat suaminya yang tidak dijumpai oleh raden ayu lainnya. Bahkan banyak para pengrajin yang tetap berdiskusi dengan dirinya. Mereka didorong

demi majunya industri yang dipelopori oleh para pengrajin rendah itu. Para pengrajin ukir datang dari Jepara. Selain ukiran, juga dilakukan upaya memajukan usaha pembuatan batik. Pengembangan pembuatan batik ini dikembangkan atas dasar koperasi. Para pengrajin batik me- nerima upah yang layak, yang membuat pembatik lainnya ingin ber- gabung dengan Kartini. Mereka itu kebanyakan pembatik dari Lasem yang bekerja di rumah-rumah besar milik orang Cina. Para pembatik ini memiliki harapan penuh pada upaya yang dijalankan oleh Kartini.

Berbeda dengan isteri pejabat lainnya, Kartini sering berdiskusi dengan suaminya secara panjang lebar. Hal inilah yang menjadi per- soalan pada era itu, karena banyak di antara isteri yang hanya berbicara sesingkat mungkin dengan suaminya. Kartini memiliki nasib baik, karena banyak hal dapat dirundingkan dengan suaminya yang sangat mendukung usaha isterinya bersama adik-adiknya. Semua itu harus ditinggalkannya ketika ia melahirkan seorang anak laki-laki yang di- harapkan mampu untuk meneruskan cita-citanya pada 13 September 1904. Untung tak dapat ditolak malang tak dapat diraih, demikian peribahasa yang menggambarkan jalan hidup Raden Adjeng Kartini. Di tengah-tengah kegembiraannya menyambut kehadiran seorang bayi laki-laki yang diidam-idamkannya, Kartini harus meninggalkan dunia yang fana ini. Kabar duka tepat empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, 17 September 1904, mengejutkan baik masyarakat Jepara, murid-murid, pengrajin binaanya, sahabat-sahabat baik bumiputera maupun maupun bangsa Eropa. Kartini harus meninggalkan dunia ini dalam usia 25 tahun, di tengah-tengah perjuangannya memajukan kaum bumiputera yang masih sangat memerlukan pencerahan demi mencapai cita-cita yang diimpikan oleh Kartini, yakni kesetaraan antara

kaum bumiputera dan bangsa asing. Semangat dan cita-citanya tetap hidup di dalam sanubari semua orang hingga kini. Ketujuh anak-anak dan seorang bayi laki-laki telah ditinggal oleh orang yang sangat men- cintainya.

Dalam dokumen Buku Kartini final.pdf (Halaman 67-75)