• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polemik tentang Kartin

Dalam dokumen Buku Kartini final.pdf (Halaman 122-126)

Wartawan Bataviaasche Nieuwsblad, Lievegoed menuliskan bahwa perhatian keluarga Sosroningrat terhadap bangsa bumiputera harus diakui sangat luar biasa. Saudari tiri Raden Adjeng Kartini sangat lancar berbicara dalam bahasa Belanda. Demikian pula Raden Adjeng Kartini. Dari analisis yang dilakukan oleh beberapa peneliti di Belanda, dikatakan bahwa usia Raden Adjeng Kartini mulai menulis surat-suratnya diperkirakan berusia 18 tahun. Pada saat surat-surat Raden Adjeng Kartini dibuat, ada seorang asisten residen yang bertugas di sana, isterinya sangat dikenal di wilayah itu. Di bawah bimbingan isteri asisten residen itu, surat-surat Raden Adjeng Kartini dikoreksi.66

Ketika buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan, pendidikan para putri bupati di Hindia Belanda berubah pesat. Banyak gadis Jawa yang terbuka wawasannya untuk pergi ke sekolah, berbeda dengan apa yang diungkapkannya. Raden Adjeng Kartini menuliskan betapa sulit gadis bangsawan untuk berhubungan dengan dunia luar dan harus berada di

65 “J.H. Abendanon” dalam Algemeen Handelsblad, 17 Desember 1925, lembar ke-2. 66 “Japara en Kartini” dalam Bataviaasche Nieuwsblad, 21 Februari 1921, lembar ke-2. Penulis

artikel ini, pada 1920 menginginkan untuk mengetahui lebih dalam siapa sebenarnya Raden Adjeng Kartini, Ia meminta izin kepada Kepala Sekolah Eropa untuk membuka laporan dan daftar siswa. Hasil yang ia temukan sangat mengejutkan karena Raden Adjeng Kartini kemampuan bahasa Belanda sangat tertinggal dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Raden Adjeng Kartini berdasarkan data dari sekolah itu, ia dinyatakan tidak lulus sekolah dan harus mengulangnya. Angka untuk pengetahuan bahasanya berkisar antara 5-6. Raden Adjeng Kartini juga kurang menghargai tenaga pendidik di sekolah itu bila dibandingkan dengan saudara-saudara lainnya.

kamar pingitan. Ternyata banyak gadis yang telah terbiasa berhubun- gan dengan gadis sebayanya di masa itu dan tidak ada ketakutan sama sekali untuk memanfaatkan kebebasan. Mereka lebih banyak berbicara dengan bahasa setempat, dan bukan bahasa Belanda.

Tulisan wartawan Bataviaasche Nieuwsblad, mendapatkan kritikan dari Tuan Both dari koran Soerabajasch Handelsblad. Ia membela hak-hak Kartini, Koran Java Bode dan Locomotief memuat dua tulisan tersebut. Hal yang mencolok dalam kedua tulisan itu, kedua-duanya tidak dilandasi pada argumen yang kuat, tetapi dilandasi pada perasaan pribadinya. Both mendasarkan dirinya pada pengetahuan pribadinya, sementara Lievegoed mendasarkan pendapatnya pada karyanya sendiri. Oleh karena itu, buku Habis Gelap Terbitlah Terang, karena ditulis bukan oleh orang Belanda, patut diacungi jempol. Seorang anak muda tingkat sekolah dasar yang memiliki kemampuan bahasa Belanda dan memiliki pemikiran yang luar biasa.67

Terjadi polemik yang setiap hari muncul dalam berita-berita di surat kabar, khususnya setelah terbit buku Raden Adjeng Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang. Pertanyaan yang selalu muncul adalah apakah Raden Adjeng Kartini sendirilah yang menulis bukunya itu. Pertanyaan ini ternyata sudah lama muncul di masyarakat. Bahkan para kritikus membandingkannya dengan karya-karya Barat yang kasusnya hampir serupa. Sejarah buku Opera Linda masih selalu ada masalah dengan Shakespeare Bacon. Namun para kritikus juga sepakat bahwa jika buku

Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan buku yang baik, akan tetap dibaca orang dan tetap hidup. Banyak pula yang menginterpretasikan dari mana “gelap” itu berasal, dan dari mana “terang” itu berasal. Apa-

kah dari Rembang atau dari ‘s Gravenhage. Namun, kenyataan yang ada tidak dapat dipungkiri. Sejak kematiannya pada 1904, pendidikan menyebar dengan cepat. Kebijakan pendidikan oleh pemerintah Kolo- nial Belanda diterapkan secara lebih intersif. Namun, hampir 20 tahun kemudian, tidak ada wanita yang bangkit dari puluhan ribu bangsanya yang mengikuti jejak Raden Adjeng Kartini. 68

Menanggapi munculnya polemik baik di surat kabat lokal maupun nasional, baik di Hindia Belanda maupun di Negeri Belanda, Abendanon selaku orang yang bertanggung jawab terhadap terbitnya buku itu menyampaikan tulisannya yang dimuat di koran de Locomo- tief.69 Dikatakannya bahwa secara pribadi Abendanon tidak pernah mengirimkan surat bagi siapa pun termasuk kepada saudaranya mau- pun kepada orang lain. Materi yang diterbitkan adalah naskah yang ditulis dengan mesin ketik di rumahnya. Ia meminta agar naskah yang diketik itu dibandingkan dengan naskah aslinya. Di halaman VI dari pengantar, dapat dibaca sebagai berikut: “Saya tidak menerbitkan se- mua surat yang dipercayakan kepada saya. Hanya sebagian saja yang saya terbitkan. Namun surat-surat terakhir semuanya saya terbitkan, karena saya anggap sebagai salam perpisahan dalam hidupnya”.70

Surat-surat yang diterbitkan adalah surat yang dikirimkan oleh raden Adjeng Kartini kepada Abendanon dan isterinya. Semuanya bersifat alami. Dalam bagian pendahuluan, Abendanon melontarkan keinginan agar berkas-berkas surat Raden Adjeng Kartini tetap tersim-

68 “Wat gisteren in de krant stond” dalam Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie, 4 Maret 1921, lembar ke-2.

69 . Tulisan Abendanon ini dikutip oleh koren Het nieuws van den dag voor Nederlandsch Indie,

17 Juni 1921, lembar ke-2.

pan dengan baik. Bagi siapa pun yang berminat akan hal ini, dengan senang hati ia akan meminjamkannya baik aslinya, maupun salinannya. Ia menjamin bahwa dirinya tidak melakukan perubahan baik gaya maupun bahasanya. Ia hanya memperbaiki kesalahan kecil saja. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran dan keteran- gan Abendanon itu.

Dari penjelasan Abendanon sangat jelas bahwa ia hanya mener- bitkan surat-surat yang ditujukan kepadanya dan kepada isterinya. Banyak pertanyaan yang ditujukan kepada Abendanon, apakah masih ada surat-surat lainnya yang dikirimkan kepada orang lain, selain kepada kedua pasangan keluarga itu. Timbul pertanyaan di kalangan peneliti ataupun pengamat, tentang kemungkinan masih adanya su- rat-surat lain yang dikirimkan kepada orang lain selain kepada kedua orang tersebut.

Sepuluh tahun setelah terbitnya buku Habis Gelap Terbitlah Terang

belum muncul tokoh-tokoh perempuan yang lain. Tugas dari dinas terkait adalah memperluas dan meningkatkan pendidikan dalam waktu hampir dua puluh tahun setelah meninggalnya Raden Adjeng Kartini.

Dari Amerika Serikat dikabarkan bahwa buku Habis Gelap Terbitlah Terang telah diterbitkan dalam bahasa Inggris di negara itu. Pada 1921 Agen Louisa Limmers menerjemahkan buku itu, dan dalam penerbitan di Inggris Louis Couperus memberikan kata pengantar yang sangat menarik. Buku ini diterbitkan oleh Duckworth and Co, yang berpusat di London.71

Dalam dokumen Buku Kartini final.pdf (Halaman 122-126)