Oleh : Djoko Marihandono
Pendahuluan
Nama Raden Ajeng Kartini sangat dikenal oleh para siswa se- kolah maupun mahasiswa di Indonesia. Kartini yang hidup menjelang akhir abad XIX hingga awal abad XX telah menjadi ikon pembebasan perempuan Indonesia. Nama harumnya tidak hanya dikenal di Indone- sia maupun negeri Belanda, tetapi juga dikenal di negara-negara lain. Hal ini terbukti bahwa kumpulan suratnya telah diterjemahkan dalam beberapa bahasa.
Dalam karya terakhirnya, Joost Coté telah menerjemahkan su- rat-surat Kartini ke dalam bahasa Inggris, yang berisi hasil penelitiannya tentang hidupnya, gagasannya, dan peninggalannya. Dalam bukunya itu, Joost Coté telah menerbitkan koleksi surat yang ditulis oleh empat orang perempuan, yakni Kartini dan ketiga saudara perempuan lain- nya: Roekmini, Kartinah, dan Soematri. 1 Surat-surat itu tidak pernah
sebelumnya diterbitkan dalam bentuk asli. Satu dari koleksi tersebut
1 Lihat tulisan Joost Coté, Realizing the Dream of R.A. Kartini: Her Sister’s Letters from Colonial
merupakan koleksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde
(KITLV) dan Joost Coté telah berhasil menerjemahkan karya tulisan tangan tersebut yang kebanyakan memiliki bentuk tulisan yang sama, yang sangat jelas untuk dibaca.2
Kumpulan surat-surat tersebut memiliki sejarah yang cukup unik. Pada 11 Agustus 1986, Dr. Frederick George Peter Jaquet men- gendarai sepeda dari kota Den Haag menuju kantornya di Leiden. Dalam perjalanannya itu, ia membawa warisan nasional Indonesia yang sangat berharga, yang berada dalam sebuah peti kayu. Peti kayu itu ia ikat kuat-kuat di boncengan sepedanya. Setiba di kantornya di KITLV, para mahasiswanya menyambutnya, kemudian membuka peti tersebut. Di dalamnya terdapat banyak kartu pos yang sudah kusam, foto, dan surat-surat yang mulai menguning yang dikirimkan oleh Raden Ajeng Kartini dan ketiga saudara perempuannya ditujukan kepada keluarga Mr. J.H. Abendanon, pegawai tinggi pemerintah kolonial kemudian yang menjadi patron dan penerbit surat-suratnya. Di dalam peti itu banyak sekali surat yang ditulis tidak hanya oleh Raden Adjeng Kartini, tetapi juga oleh saudara-saudara lainnya.
Temuan Dr. Jaquet sangat mengejutkan dan merupakan episode panjang pembebasan Kartini dari pingitannya. Hal ini dilaporkan ke hampir semua surat kabar di Indonesia. Bagaimana perasaan Kartini kecil saat itu, ketika ia berhasil menyelesaikan studinya di ELS (Europese Lagere School) dan bagaimana keinginannya untuk melanjutnya studi- nya di Belanda, karena selama belajar itu, ia menguasai bahasa Belanda. Namun, semua perasaan kecewa tertumpah dalam surat yang ditujukan
2 Lihat tinjauan buku dari Tinneke Hellwig, yang dimuat dalam Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, vol. 164, nomor 4 (2008) hlm: 544-546.Tinjauan buku ini juga dapat diunduh dari website Jstore, dengan alamat website: www.Jstore.org/stable/27868527.
kepada keluarga Mr. J.H. Abendanon. Larangan untuk melanjutkan sekolahnya di Belanda justru muncul dari ayahnya sendiri. Kala itu Kartini baru berusia 12 tahun, yaitu usia untuk tinggal di rumah hingga ada orang yang melamar untuk dijadikan istri. Waktu luang yang ada ia gunakan untuk menulis surat kepada Abendanon dan keluarganya, yang sudah ia kenal dengan baik. Mereka pun membalasnya, mengi- rimkan bacaan dan koran berbahasa Belanda kepada Kartini kecil itu. Dari peninggalan surat-surat yang dibawa ke KITLV di Leiden, tampak bahwa Kartini sangat sering membuat catatan-catatan kecil dari buku yang dibacanya, dan itu berlangsung selama lebih dari 12 tahun selepas ia menamatkan studinya di ELS. Aktivitasnya tidak berkurang sama sekali setelah ia dinikahkan oleh ayahnya pada 8 November 1903. Kar- tini memperoleh dukungan dari suaminya, dan mengajak para pejabat bumiputera untuk mengumpulkan dana guna membanti para pemuda dan pemudi yang pandai namun kekurangan dana untuk melanjutkan sekolahnya. Namun, 4 hari setelah melahirkan anaknya yang pertama pada 1904, ia meninggal dunia. Empat tahun sebelum kematiannya, Kartini menulis essai dan satu seri surat yang ditulis dalam bahasa Belanda. Beberapa di antaranya antara lain “Een Gouverneur Gene- raalsdag” yang dimuat dalam koran De Echo (1903), “Van een Vergeten Uithoekje” yang terbit di Eigen Haard (1903). Awal mula publikasinya
berjudul “Het Huwelijke bij de Kodja’s” yang berupa karya etnografis
yang ditulis Kartini pada usia 16 tahun, yang diterbitkan pada Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie pada 1895.3
3 Lihat tulisan Danilyn Rutherford yang berjudul “Unpacking a National Heroine: Two Kartinis and Their People” yang dimuat dalam Jurnal Indonesia, nomor 55. The East Indie and the Dutch, April 1993, Southeast Asia Program Publicationat Cornell University, hlm: 23- 40.
Berdasarkan berita yang dimuat dalam koran De Locomotief
terbitan 22 Juli 1902, dikabarkan bahwa Nelie van Kol telah menerima sebuah surat yang cukup panjang dari putri Bupati Jepara yang berna- ma Raden Adjeng Kartini. Surat itu diterima oleh Nelie van Kol ketika ia mendampingi suaminya bertugas di Jepara tatkala bertemu dengan Bupati Jepara.4 Setelah menerima surat yang panjang itu, Nelie van Kol
menulis surat kepada Redaksi koran Oost en West, tertanggal 4 Juni 1902, yang isinya menceritakan bahwa putri Bupati Jepara yang berna- ma Raden Adjeng Kartini telah memberikan sebuah surat yang panjang kepadanya.5 Disampaikannya bahwa Kol telah menerima banyak surat
dari beberapa gadis Jawa, yang ia anggap paling mulia dan paling indah yang pernah diterima sebelumnya. Keindahan dan kemuliaan surat itu bukan hanya dari segi gaya bahasanya yang dimiliki para gadis Jawa itu, akan tetapi karena dengan perantaraan surat-surat dari para gadis itu, ia mengenal sesuatu yang besar. Mereka dianggap telah membawa benih cita-cita berani yang menghendaki perubahan. Mereka mengharapkan mendapatkan kesempatan itu dan bahkan dapat mewujudkannya. Kol beranggapan bahwa para gadis Jawa ini memiliki rencana, tujuan, usaha, dan memiliki kasih terhadap rakyatnya. Bersama rakyatnya, para gadis Jawa ini menyimpan cita-cita mulia yang memperjuangkan semangat demokrasi bagi rakyatnya. Ny. Kol menaruh simpati kepada Kartini dan saudara-saudara perempuannya yang membuatnya takjub.
4 Lihat harian De Locomotief, tertanggal 22 Juli 1902, Lembar 3, yang berjudul “Nelie van Kol over Raden Adjeng Kartini”, Koleksi Perpustakaan Nasional RI.
5 Surat Nelie van Kol ini ketika dikirimkan kepada Redaksi harian oost en West bertajuk 4 Juni 1902. Tulisan Nelie van Kole yang dimuat di Oost en West ini dimuat ulang di Koran
De Sumatra Post, tanggal 15 Juli 1902, lembar ke-2 yang diberi judul “Javaansche Vrouwen”. Koleksi Perpustakaan Nasional RI.
Menurut Ny. Kol, para gadis Jawa ini telah disiapkan untuk bisa menjadi wanita Jawa seperti halnya Pandita Ramabai bagi Kaum Wani- ta Hindu. Ia mendesak kepada redaksi Oost en West apabila suaminya tidak dapat memperoleh subsidi dari pemerintah untuk diberikan kepada para gadis yang baik dan mulia ini, Ny. Kol mengharapkan masyarakat Belanda yang membaca suratnya itu dapat memberikan bantuan kepada mereka. Begitu besar semangat mereka, begitu tinggi kerajinan yang dihasilkannya, gagasan-gagasannya sangat segar, dan yang pasti para gadis Jawa ini tidak akan lenyap begitu saja walaupun tidak didukung oleh lingkungannya di Kabupaten Jepara. Pandangan para gadis Jawa ini begitu tinggi dan mulia, sehingga mereka harus di- bantu dalam usahanya, dan akan mempunyai lahan kerja yang luas dan berkembang. Jika pemerintah Belanda tidak membantunya, maka Ny. Kol meminta agar mereka dijadikan “anak asuh” redaksi Oost en West
dan dari sumbangan bersama akan terkumpul dana demi penyelesaian belajarnya. Apabila pemerintah bersedia memberikan bantuan dana, maka masyarakat Belanda harus memberikan kepada mereka kasih, pergaulan sosial yang baik, kebaikan, dan kesan yang mulia. Ny. Kol menegaskan bahwa ini sama sekali bukan tujuan pribadinya menjadikan Orang Jawa sebagai Jawa-Eropa. Idenya adalah memberikan keindahan bangsa lain kepada para gadis Jawa ini di samping sifat-sifat indah yang mereka miliki, bukan untuk mendesaknya atau menggantikannya, melainkan untuk berbagi.
Dalam suratnya kepada Redaksi Oost en West ini, Ny. Kol melam- pirkan surat Kartini tersebut. Namun karena belum memperoleh izin, Redaksi tidak dapat memuatnya dalam harian ini. Redaksi menuliskan komentarnya bahwa Nelie van Kol dan Redaksi Harian Oost en West
akan memberikan kesempatan kepada Kartini dan adiknya Roekmini untuk mengembangkan diri di Belanda. Walaupun dirasakan sulit, namun Ny Kol dan Redaksi Oost en West memiliki tujuan mulia yakni memajukan rakyat Jawa melalui pengaruh kaum perempuan. Waktu akan membuktikan, dan Oost en West akan menerima dengan baik kedua gadis Jawa ini dengan segala aspeknya.
Telah disebutkan bahwa tulisan Raden Adjeng Kartini yang berjudul “Een Vergeten Uithoekje” telah dimuat di koran Eigen Haard.
Redaksi menerima tulisan Raden Adjeng Kartini melalui Nyonya Nelie van Kol yang sebelumnya pernah bertemu di Jepara. Dalam pengantar tulisan Kartini itu, Nyonya Kol memberikan pengantar di koran Eigen Haard. Dari dialah informasi tentang Kartini diperoleh. Melalui su- rat-surat antara van Kol, Kartini dan Roekmini (saudari ketiganya yang bernama Kardinah, juga memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan keduanya, tetapi ia menikah lebih awal) mereka dikenal sebagai wanita yang paling maju pikirannya dan paling beradab dari wanita bu- miputera yang dikenalnya. Van Kol juga memberikan kesaksian bahwa selama bertahun-tahun menjalin korespondensi dan bergaul secara pri- badi dengan mereka. Ia memiliki kesan bahwa Kartini muda memiliki sesuatu yang istimewa, mungkin bukan di bidang kesusasteraan, tetapi Kartini muda memiliki kemampuan menulis dalam bahasa Belanda yang hampir sempurna (setidaknya dalam surat-surat pribadinya).6
Sementara itu saudaranya yang bernama Roekmini memiliki jiwa seni yang tinggi yang ditunjukkan dari hasil karya seni mereka.
6 Lihat pengakuan Nelie van Kol yang dimuat dalam tulisan yang berjudul “Een Indisch Klaverblad” yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad, 3 Februari 1903, lembar ke-2. Pengakuan Nelie van Kol ini ada dalam pengantar tulisan Kartini yang berjudul “Een Vergeten uithokje” di Koran Eigen Haard.
Tulisan Kartini Een Vergeten uithoekje membahas tentang Jepara, sebuah keresidenan yang terlupakan, namun memiliki karya seni tinggi yang dihasilkan oleh penduduknya, terutama ukiran kayu, yang pernah ditampilkan dalam pameran Ooest en West “Timur dan Barat” yang dise- lenggarakan di ‘s Gravenhage. Masyarakat memberikan apresiasi yang tinggi terhadap karya adiluhung yang ditunjukkan dalam seni.
Kartini membawa pembacanya pada sebuah gubug yang meru- pakan bengkel kerja seniman untuk mengerjakan pekerjaan tangan yang paling sederhana. Orang-orang yang datang menyanjungnya dan memberikan apresiasi yang tinggi. Dikatakan bahwa mereka itu adalah seniman besar karena semuanya berasal dari mereka sendiri tanpa bimbingan atau pertolongan orang lain. Mereka telah mencapai tingkat yang mengagumkan. Dengan sedikit bantuan pasti akan menghasilkan karya yang lebih hebat lagi.
Para wanita bumiputera ini harus bersujud di kaki para bendo- ro-nya. Namun, sebenarnya mereka itu lebih unggul. Mereka lebih ung- gul karena mahakarya yang dihasilkannya. Impian dan jiwa para wanita bumiputera ini tercermin dalam gambar, garis lurus, bentuk dan lipatan yang lembut. Dari gambar yang mereka hasilkan memiliki nilai artistik murni dan sulit dibandingkan dengan karya dari mana pun. Garis-garis menentukan alur yang indah, lekuknya sangat mempesona dan lipatan- nya sangat lembut bagaikan dedaunan. Karya itu terasa tenang tanpa gangguan apa pun, dengan garis-garis mengalir, yang berakhir dalam suatu lukisan benda keriting yang menjadi tanda bahwa karya itu dibuat oleh tangan-tangan lembut wanita. Karya seni adiluhung juga tampak dari kayu jati kering yang diukir. Dua wayang indah dipahatkan pada seni relief. Di bawahnya tampak relief ular yang berkelok-kelok dalam
rangkaian bunga dan tangkai daun, dihiasi dengan beberapa burung yang sedang asyik berpesta. Karya itu dibingkai dalam kayu sono hitam dengan gambar yang mengalir, di mana dua ekor ular merayap dengan rahang terbuka dengan lidahnya yang bercabang, seolah-olah siap me- nerkam semua yang ada di sekitarnya. Karya adiluhung ini bertumpu pada dua kaki sono yang diukir dengan sangat halus.
Ada kemilau indah dari karya ukir ini, bagaikan diplitur. Betapa sederhana proses pembuatannya. Kemilau indah muncul pada setiap benda yang digosok dengan kuas halus, ijuk, yang berasal dari daun aren. Orang yang melihatnya pasti mengaguminya dengan mengatakan “Wahai manusia, bagaimana kalian bisa menghasilkan karya yang san- gat indah ini?”. Dengan penuh antusias pengagum itu pasti bertanya siapa yang menghasilkan karya yang demikian indah itu. Manusia sederhana yang duduk di tanah memberikan hormat kepada mata yang memandang rendah dan berkata: “Dari hati saya, bendoro”.7
Tulisan Kartini ini mengagetkan banyak pembaca, sehingga menimbulkan dampak untuk mengetahui lebih lanjut siapa sebenarnya Kartini itu. Oleh Nyonya van Kol dijelaskan sebenarnya siapa Kartini itu. Tidaklah mungkin baginya untuk mengatakan bahwa Kartini adalah bangsawan Belanda, karena kenyataannya ia adalah bangsawan Jawa. Namun, apa yang diharapkan oleh van Kol terjawab, karena banyak orang membuka hati bagi wilayah koloni di Hindia Belanda. Banyak di antara warga Belanda tidak paham akan pengetahuan dan kondisi di wilayah Hindia Belanda.
Dalam reportasenya, koran Het nieuws van den dag voor Neder- landsch Indie membahas tentang sedikti pengetahuan yang ada di Hindia
Belanda, yang berkaitan dengan tulisan Kartini di koran Eigen Haard itu. Gelar Raden Adjeng diberikan kepada para putri, cucu, dan cicit raja Jawa, karena mereka adalah keturunan seorang raja yang merupakan satu-satunya dasar tumpuan bangsawan Jawa.8
Para isteri bupati di Jawa dipanggil oleh orang Eropa dengan is- tilah Raden Ayu. Akibatnya, penduduk bumiputera mengikutinya. Oleh karena itu, tidaklah mungkin seorang Raden Ayu berubah panggilannya menjadi Raden Ajeng setelah menikah (kembali menjadi putri, cucu, atau cicit raja). Para isteri bupati tidak dapat menerima sebutan raden ajeng, walaupun para pejabat dalam dinas pemerintah seperti bupati, menikah dengan putri, cucu, atau cicit Susuhunan Surakarta atau Sultan Ngayogyakartohadiningrat.9