• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian Teori

1) Bahasa Figuratif

Scoot (1980) menyatakan bahwa kata figuratif berasal dari bahasa Latin figura, yang berarti form, shape. Figura berasal dari kata fingere dengan arti to fashion. Istilah ini sejajar dengan pengertian metafora (Al-Ma’ruf, 2009: 59). Sementara itu, menurut Abrams (1981) bahasa figuratif dapat dibedakan ke dalam bentuk (1) figures of thought atau tropes, dan (2) figures of speech, rhetorical figures, atau schemes.

Pengertian pertama menyaran pada penggunaan unsur-unsur kebahasaan yang menyimpang dari makna harfiah dan lebih menyaran pada makna literal. Sedangkan pengertian yang kedua tersebut lebih merujuk pada masalah permainan struktur (Nurgiyantoro, 2002: 296).

Waluyo (1991) menjelaskan bahwa bahasa figuratif atau bahasa kias digunakan oleh sastrawan untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak langsung untuk mengungkapkan makna (Al-Ma’ruf, 2009: 60). Lebih lanjut, menurut Middleton (1973) tuturan figuratif dalam aplikasinya dapat berwujud gaya bahasa yang sering dikatakan oleh kritikus sastra sebagai kekhususan pengarang sehingga gaya bahasa merupakan ciri khas dari seorang pengarang (Al-Ma’ruf, 2009: 60).

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa bahasa figuratif merupakan cara pengarang dalam memanfaatkan bahasa untuk mengungkapkan gagasan yang penuh makna secara kias yang menyaran pada makna literal, yang bertujuan untuk memperoleh efek estetis yang mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang sehingga gagasan yang dikemukakan menjadi lebih efektif.

commit to user

Bahasa figuratif merupakan retorika sastra yang sangat dominan.

Bahasa figuratif dalam penelitian stilistika sebuah karya sastra dapat mencakup majas dan lambang. Pemilihan kedua bentuk bahasa figuratif tersebut didasarkan pada alasan bahwa keduanya merupakan sarana sastra yang dipandang sangat representatif dalam mendukung ide atau gagasan pengarang. Selain itu, kedua bentuk bahasa figuratif tersebut diduga cukup banyak dimanfaatkan oleh para sastrawan dalam karya sastranya, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa figuratif tersebut bermakna kias atau bermakna lambang (Waluyo, 2010: 96).

a) Majas

Majas diterjemahkan melalui kata trope (Yunani), figure of speech (Inggris) yang berarti suatu persamaan atau suatu kiasan (Ratna, 2007: 232). Majas merupakan keseluruhan deskripsi yang berkaitan dengan jenis-jenis kiasan, perumpamaan, dan persamaan.

Majas menghubungkan hal yang satu dengan hal yang lain sehingga menghasilkan citra yang berbeda, makna yang mengatasi makna asal.

Oleh karena itulah, majas disebutkan sebagai penunjang gaya bahasa.

Majas adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis dalam rangka memperoleh aspek keindahan. Pada umumnya majas dibedakan menjadi empat macam, yaitu majas penegasan, majas perbandingan, majas pertentangan, dan majas sindiran. Beberapa jenis majas dibedakan lagi menjadi subjenis lain sesuai dengan cirinya masing-masing. Secara tradisional bentuk-bentuk inilah yang disebut dengan gaya bahasa (Ratna, 2009: 164).

Pemajasan merupakan teknik pengungkapan bahasa yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah, melainkan pada makna yang ditambahkan. Jadi, pemajasan merupakan gaya bahasa yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Sebenarnya, makna harfiah dengan makna kias masih ada hubungan, tetapi hubungan tersebut bersifat tidak langsung yang membutuhkan penafsiran dari pembaca (Nurgiyantoro, 2002: 297).

commit to user

Menurut Agni (2009: 11) majas merupakan gaya bahasa dalam bentuk tulisan maupun lisan yang dipakai dalam suatu karangan yang bertujuan untuk mewakili perasaan dan pikiran dari pengarang.

Sedangkan Sudjiman (1986) berpendapat, “Majas adalah peristiwa pemakaian kata yang melewati batas-batas maknanya yang lazim atau menyimpang dari makna harfiahnya” (hlm. 48). Majas yang baik menyarankan dan menimbulkan citra tertentu di dalam pikiran pembaca atau pendengarnya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa majas adalah pemakaian gaya bahasa yang menyimpang dari makna harfiahnya yang sengaja digunakan oleh seorang pengarang dalam menuangkan gagasan atau ide kreatifnya yang bertujuan untuk menciptakan efek keindahan bahasa dan menarik minat para pembaca terhadap sebuah karya sastra.

Penggunaan gaya bahasa yang berwujud majas, memengaruhi gaya dan keindahan bahasa sebuah karya sastra. Keraf (2008: 124) mengategorikan gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat, yaitu:

1) gaya bahasa klimaks; 2) gaya bahasa antiklimaks; 3) gaya bahasa paralelisme; 4) gaya bahasa antitesis; 5) gaya bahasa repetisi yang meliputi epizeuksis, epanalepsis, mesodiplosis, simploke, epistrofa, tautotes, anafora, dan anadiplosis.

Selain itu, Keraf (2008: 129) juga mengategorikan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, yang termasuk gaya bahasa tersebut antara lain: 1) gaya bahasa retoris (aliterasi, asonansi, anastrof, apofasis, apostrof, asindeton, polisindeton, kiasmus, elipsis, eufimisme, litotes, histeron proteron, pleonasme, tautologi, perifrasis, prolepsis, erotesis, silepsis, zeugma, koreksio, hiperbola, paradoks, dan oksimoron); 2) gaya bahasa kiasan (simile, metafora, alegori, parabel, fabel, personifikasi, alusi, eponim, epitet, ironi, sinisme, sarkasme, satire, inuendo, antifrasis, dan paronomasia).

commit to user

Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa yang berupa pemajasan dapat dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu: 1) gaya pemajasan perbandingan yang meliputi simile, metafora, personifikasi, alegori, antitesis, pleonasme/tautologi, perifrasis, prolepsis, koreksio; 2) gaya pemajasan pertentangan yang meliputi hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, zeugma, silepsis, satire, inuendo, antifrasis, paradoks, klimaks, antiklimaks, apostrof, anastrof, apofasis, hipalase, sinisme, sarkasme, histeron proteron; 3) gaya pemajasan pertautan yang meliputi metonimia, sinekdoke, alusi, eufimisme, eponim, epitet, antonomasia, erotesis, paralelisme, elipsis, asindeton, polisindeton; dan 4) gaya pemajasan perulangan yang meliputi aliterasi, asonansi, kiasmus, epizeuksis, tautotes, anafora, epistrofa, simploke, mesodiplosis, epanalepsis, dan anadiplosis.

(1) Gaya Pemajasan Perbandingan (a) Simile

Keraf (2008) berpendapat, “Simile adalah perbandingan yang bersifat eksplisit atau langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal yang lain” (hlm. 138). Sementara itu, Nurgiyantoro berpendapat, “Simile adalah gaya perbandingan yang langsung dan eksplisit dengan mempergunakan kata- kata tugas seperti bagai, bagaikan, laksana, mirip, dan sebagainya” (2002: 298). Pendapat tersebut menyiratkan bahwa simile merupakan semacam gaya bahasa yang berusaha untuk membandingkan sesuatu dengan hal lain yang dianggap mempunyai sifat sama atau mempunyai kemiripan.

(b) Metafora

Keraf (2008) berpendapat, “Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung tetapi dalam bentuk yang singkat” (hlm. 139). Sementara itu, Nurgiyantoro (2002) mengemukakan, “Metafora adalah gaya

commit to user

bahasa perbandingan yang bersifat implisit” (hlm. 299).

Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa metafora merupakan gaya bahasa yang membandingkan dua hal secara langsung dan singkat yang bersifat sugestif tanpa menggunakan kata sejenis bagaikan, ibarat, dan laksana.

(c) Personifikasi

Nurgiyantoro mengemukakan, ”Personifikasi adalah gaya bahasa yang memberi sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia” (2002: 299). Sejalan dengan Nurgiyantoro, menurut Keraf (2008: 140) personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.

(d) Alegori

Keraf (2008) menyatakan, “Alegori adalah cerita singkat yang mengandung kiasan. Dengan kata lain, alegori merupakan gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan perlambang yang mengandung nilai-nilai moral” (hlm. 140).

(e) Antitesis

Keraf berpendapat, “Antitesis merupakan gaya bahasa yang mengandung suatu ide atau gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata berlawanan” (2008: 126). Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa dalam antitesis terdapat pemakaian kata-kata yang berantonim untuk menyampaikan gagasan.

(f) Pleonasme / tautologi

Keraf (2008) berpendapat, “Pleonasme dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan suatu gagasan”

(hlm. 113). Walaupun secara praktis kedua istilah itu

commit to user

disamakan saja, namun ada yang ingin membedakan antara keduanya. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan dihilangkan, artinya tetap utuh. Sebaliknya, acuan disebut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yang lain.

(g) Perifrasis

Keraf (2008) berpendapat “Perifrasis adalah gaya yang mempergunakan kata lebih banyak dari yang diperlukan”

(hlm. 134). Kata-kata yang berlebihan tersebut sebenarnya dapat digantikan dengan satu kata saja.

(h) Prolepsis

Keraf menyatakan, “Prolepsis adalah semacam bentuk gaya bahasa di mana seseorang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi” (2008: 134).

(i) Koreksio

Keraf menyatakan, “Koreksio adalah gaya bahasa yang berwujud menegaskan sesuatu kemudian memperbaikinya.

Dilakukan dengan sengaja sebagai ekspresi untuk menarik perhatian dan untuk membangkitkan sikap kritis dari para pembaca/pendengar” (2008: 135).

(2) Gaya Pemajasan Pertentangan (a) Hiperbola

Nurgiyantoro (2002) berpendapat, “Hiperbola adalah gaya bahasa yang secara penuturannya bertujuan untuk menekankan maksud dengan sengaja melebih-lebihkan”

(hlm. 300). Sementara itu, menurut Keraf (2008: 135) hiperbola yaitu semacam gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebihan dengan membesar-besarkan suatu hal. Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan

commit to user

berlebihan, membesar-besarkan sesuatu dari hal yang sebenarnya. Kadang-kadang ungkapan ini terasa berisi bualan, namun bisa juga mencerminkan kerendahhatian.

(b) Litotes

Keraf berpendapat, “Litotes merupakan semacam gaya bahasa yang mengecilkan suatu hal untuk merendah”

(2008: 132). Dapat dikatakan sebagai gaya bahasa yang sifatnya merendahkan diri, tidak sesuai dengan fakta atau kenyataan yang sesungguhnya.

(c) Paronomasia

Keraf mengatakan, “Paronomasia adalah kiasan yang menggunakan kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan di dalam maknanya atau dapat juga berupa permainan kata dengan menggunakan bunyi, namun kedua kata yang dipakai tersebut berbeda makna” (2008: 145).

(d) Oksimoron

Oksimoron merupakan gaya bahasa semacam paradoks namun lebih singkat dan padat, mengandung kata-kata yang berlawanan arti dalam sebuah frase (Keraf, 2008: 136).

Sedangkan menurut Fananie (2002: 37) oksimoron adalah gaya bahasa yang berupa ungkapan di dalamnya berisi kata-kata yang mempunyai efek makna berlawanan.

(e) Silepsis dan Zeugma

Silepsis dan Zeugma adalah gaya bahasa di mana seseorang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenarnya hanya salah satu yang mempunyai hubungan dengan kata pertama (Keraf, 2008: 135).

commit to user (f) Satire

Keraf berpendapat, “Satire adalah ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu” (2008: 144). Bentuk ini tidak harus bersifat ironis. Satire mengandung kritik tentang kelemahan manusia dengan tujuan agar diperbaiki baik secara etis maupun estetis.

(g) Inuendo

Keraf (2008) berpendapat, “Inuendo adalah semacam gaya bahasa yang berupa sindiran dengan mengecilkan kenyataan atau fakta yang sebenarnya” (hlm. 144). Inuendo menyatakan kritik dengan sugesti yang tidak langsung dan sering tampaknya tidak menyakiti hati atau perasaan kalau dilihat secara sepintas.

(h) Antifrasis

Keraf menyatakan, “Antifrasis adalah semacam ironi yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan makna kebalikannya, yang bisa saja dianggap sebagai ironi sendiri”

(2008: 144). Antifrasis dapat diketahui dengan jelas apabila pembaca atau pendengar dihadapkan pada fakta atau kenyataan yang sebenarnya.

(i) Paradoks

Nurgiyantoro mengemukakan, “Paradoks adalah cara penekanan penuturan yang sengaja menampilkan unsur pertentangan di dalamnya” (2002: 300). Sementara itu, Keraf (2008) menjelaskan, “Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada” (hlm. 136). Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa paradoks adalah gaya bahasa yang kata-katanya mengandung pertentangan dengan fakta yang ada.

Gaya bahasa tersebut terkesan kontroversial akan tetapi sebenarnya mengandung kebenaran.

commit to user (j) Klimaks

Keraf (2008) berpendapat, “Gaya bahasa klimaks adalah gaya bahasa yang mengandung urutan pikiran yang semakin meningkat kepentingannya dari gagasan-gagasan sebelumnya” (hlm. 124). Sedangkan Nurgiyantoro (2002) berpendapat, “Gaya bahasa klimaks adalah gaya bahasa yang urutan penyampaiannya menunjukkan semakin meningkatnya kadar pentingnya gagasan itu” (hlm. 303).

(k) Antiklimaks

Nurgiyantoro menyatakan, “Gaya bahasa antiklimaks adalah gaya bahasa yang penyampaiannya menunjukkan semakin mengendurnya kadar pentingnya gagasan tersebut”

(2002: 303). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gaya bahasa antiklimaks merupakan antonim dari gaya bahasa klimaks. Gaya bahasa ini justru dimulai dari puncak, dan makin lama makin ke bawah. Sementara itu, Keraf (2008) berpendapat, “Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting” (hlm. 125).

(l) Apostrof

Apostrof adalah semacam gaya bahasa yang berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara seperti ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik. Dalam pidato yang disampaikan kepada suatu massa, sang orator tersebut secara tiba-tiba berusaha mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir, kepada sesuatu barang atau obyek khayalan yang abstrak, sehingga tampaknya dia tidak berbicara kepada para hadirin (Keraf, 2008: 131).

commit to user (m) Anastrof

Fananie (2002) berpendapat, “Anastrof merupakan gaya bahasa yang mempunyai kesamaan dengan inversi”

(hlm. 34). Lebih jauh, Keraf juga mengemukakan, “Anastrof adalah gaya bahasa dengan membalik susunan kata yang biasa dalam kalimat. Gaya bahasa ini berupa pembalikan dari pola-pola yang lazim, biasanya dari subjek-predikat menjadi predikat-subjek” (2008: 130).

(n) Apofasis

Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan gaya bahasa di mana penulis atau pengarang ingin menegaskan sesuatu hal, tetapi tampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenarnya dia sangat menekankan hal tersebut. Berpura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu hal, tetapi sebenarnya ingin memamerkannya (Keraf, 2008: 130).

(o) Hipalase

Hipalase adalah semacam gaya bahasa di mana sebuah kata tertentu dipergunakan untuk menerangkan sebuah kata, yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang lain. Atau secara singkat dapat dikatakan bahwa hipalase adalah kebalikan dari suatu relasi alamiah antara dua komponen gagasan (Keraf, 2008: 142).

(p) Ironi

Aminuddin berpendapat, “Ironi adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang secara tersembunyi mengandung pengertian lain selain yang secara eksplisit”

(1995: 246). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ironi adalah gaya bahasa yang menyatakan sesuatu secara bertentangan dengan maksud mengejek.

commit to user (q) Sinisme

Keraf (2008) berpendapat, “Sinisme adalah semacam gaya bahasa sebagai suatu sindiran atau ejekan yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati” (hlm. 143).

(r) Sarkasme

Keraf berpendapat, “Sarkasme adalah suatu acuan yang lebih kasar dari ironi dan sinisme, menyakiti hati seseorang dan kurang enak didengar” (2008: 143).

Ironi, sinisme, dan sarkasme merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk menyatakan suatu sindiran. Ironi dapat berubah menjadi sinisme dan sarkasme dengan munculnya kata-kata yang bernilai kasar.

(s) Histeron proteron

Keraf menyatakan, “Histeron proteton adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari sesuatu yang logis atau sesuatu hal yang dianggap wajar” (2008: 133). Misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Gaya bahasa ini ditujukan sebagai upaya untuk menumbuhkan sikap kritis seseorang.

(3) Gaya Pemajasan Pertautan (a) Metonimia

Aminuddin (1995) berpendapat, “Metonimia adalah pengganti kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi akibat terdapatnya ciri yang bersifat tetap”

(hlm. 242). Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa metonimia merupakan pemahaman terhadap suatu benda dengan menggunakan nama yang sudah terkenal atau melekat pada suatu benda tersebut.

commit to user (b) Sinekdoke

Keraf (2008) menyatakan, “Sinekdoke adalah bentuk gaya bahasa semacam bahasa figuratif yang mempergunakan sebagian dari sesuatu hal untuk menyatakan keseluruhan (pars pro toto) atau yang mempergunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totem pro parte)” (hlm. 142).

(c) Alusi

Keraf berpendapat, “Alusi adalah gaya bahasa dengan referensi eksplisit atau implisit tentang tokoh, peristiwa, dan tempat dalam kehidupan nyata” (2008: 141).

(d) Eufimisme

Keraf (2008) menyatakan, “Eufimisme adalah semacam gaya bahasa dengan acuan berupa ungkapan yang tidak menyinggung perasaan untuk menggantikan acuan yang dirasakan menghina dan menyinggung” (hlm. 132). Dengan penggunaan gaya bahasa ini diharapkan kalimat yang diujarkan tidak terasa tajam bagi yang menerima kalimat itu.

(e) Eponim

Keraf mengemukakan, “Eponim merupakan semacam gaya bahasa dengan pemakaian nama seseorang yang dihubungkan berdasarkan sesuatu yang sudah melekat padanya” (2008: 141). Nama yang disebut biasanya adalah figur yang terkenal di mata masyarakat.

(f) Epitet

Keraf menyatakan, “Epitet adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang menyatakan suatu sifat dan ciri khusus dari seseorang atau suatu hal” (2008: 141). Frasa yang digunakan adalah ungkapan yang sudah cukup dikenal oleh pembaca.

commit to user (g) Antonomasia

Keraf (2008) berpendapat, “Antonomasia adalah gaya bahasa yang berupa penyebutan gelar resmi atau jabatan untuk menggantikan nama diri” (hlm. 142). Gelar resmi tersebut cukup dikenal dalam kehidupan masyarakat.

(h) Erotesis

Keraf berpendapat, “Erotesis adalah pertanyaan dengan tujuan untuk mencapai efek mendalam dan tidak menghendaki suatu jawaban” (2008: 134). Gaya ini biasanya digunakan sebagai alat yang efektif oleh para orator.

(i) Paralelisme

Keraf (2008) menyatakan, “Paralelisme merupakan gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata atau frase yang menduduki fungsi sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kata-kata tersebut memiliki pengertian yang dekat” (hlm. 126).

(j) Elipsis

Keraf (2008) berpendapat, “Elipsis adalah gaya bahasa yang menghilangkan unsur kalimat yang dapat dengan mudah ditafsirkan oleh pembaca atau pendengar. Pemakaian gaya bahasa ini menghasilkan kalimat rumpang atau kalimat yang mengandung suatu unsur yang dengan sengaja disembunyikan” (hlm. 132).

(k) Asindeton

Keraf mengemukakan, “Asindeton adalah gaya bahasa yang berupa acuan yang bersifat padat. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan menggunakan kata sambung, melainkan hanya dengan menggunakan tanda koma” (2008: 131).

commit to user (l) Polisindeton

Keraf (2008) berpendapat, “Polisindeton adalah gaya bahasa yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frasa, dan klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan kata sambung” (hlm. 131).

(4) Gaya Pemajasan Perulangan (a) Aliterasi

Keraf (2008) mendeskripsikan, “Aliterasi sebagai gaya bahasa berwujud pengulangan konsonan yang sama”

(hlm. 130). Biasanya terdapat dalam puisi, kadang-kadang juga terdapat dalam prosa sebagai penekanan.

(b) Asonansi

Keraf berpendapat, “Asonansi merupakan gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama dengan tujuan untuk memperoleh efek penekanan atau untuk mencapai efek estetis” (2008: 130).

(c) Kiasmus

Kiasmus merupakan gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, frasa atau klausa yang bersifat berimbang dan dipertentangkan, tetapi susunan itu dibalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya. Ada sesuatu yang kontras di sini, yang membedakan keadaannya (Keraf, 2008: 132).

(d) Epizeuksis

Keraf (2008) menyatakan, “Epizeuksis merupakan gaya bahasa repetisi yang bersifat langsung dari kata-kata yang dipentingkan dan diulang beberapa kali sebagai bentuk penegasan” (hlm. 127). Kata-kata yang diulang tersebut bisa berada di awal atau di akhir kalimat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa epizeuksis adalah gaya bahasa yang berbentuk perulangan kata secara langsung dan berturut-turut sebagai bentuk penegasan.

commit to user (e) Tautotes

Tautotes adalah semacam gaya bahasa perulangan atau repetisi atas sebuah kata yang berulang-ulang di dalam sebuah konstruksi (Keraf, 2008: 127).

(f) Anofora

Anafora merupakan sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris di kalimat berikutnya (Keraf, 2008: 127).

(g) Epistrofa

Epistrofa adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata atau frase pada akhir baris atau kalimat yang berurutan (Keraf, 2008: 128).

(h) Simploke

Simploke adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat yang berturut-turut (Keraf, 2008: 128).

(i) Mesodiplosis

Mesodiplosis adalah sejenis gaya bahasa repetisi yang berwujud perulangan kata atau frase di tengah-tengah baris atau beberapa kalimat (Keraf, 2008: 128).

(j) Epanalepsis

Epanalepsis adalah semacam gaya bahasa repetisi yang berupa perulangan kata pertama dari baris, klausa, atau kalimat menjadi kata terakhir (Keraf, 2008: 128).

(k) Anadiplosis

Anadiplosis adalah sejenis gaya bahasa repetisi di mana kata atau frase terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frase pertama dari klausa atau kalimat berikutnya (Keraf, 2008: 128).

commit to user b) Lambang

Pelambangan digunakan pengarang untuk memperjelas makna dan membuat suasana dalam karya sastra menjadi lebih jelas sehingga dapat menggugah hati pembaca. Menurut Ratna (2009: 176) lambang berfungsi untuk menggantikan sesuatu dengan hal lain. Hal ini dikarenakan pengarang merasa bahwa kata-kata dari kehidupan sehari-hari belum cukup untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan kepada pembaca. Oleh sebab itu, diperlukan penggantian dengan benda yang lain.

Begitulah dengan menggunakan kata-kata tertentu sebagai pelambangan dapat memudahkan pemahaman pembaca mengenai suatu keadaan yang abstrak, karena sesuatu yang semula abstrak telah dikonkritkan dengan lambang-lambang yang digunakan oleh pengarang. Dalam sebuah karya sastra pengarang sengaja memilih kata-kata tertentu yang akan digunakan sebagai lambang sehingga hal tersebut tentunya menyebabkan pembaca harus berpikir dulu untuk memahami maknanya. Pengarang beranggapan bahwa dengan menggunakan lambang tertentu maka makna akan menjadi lebih hidup, lebih jelas, dan lebih mudah dibayangkan oleh pembaca.

Sementara itu, Semi (1993) menjelaskan, “Penggunaan lambang disebabkan karena adanya anggapan bahwa apapun yang dapat ditangkap pancaindra hanyalah lambang dari kenyataan yang sebenarnya, sedangkan kenyataan yang sebenarnya tidak akan dapat ditangkap oleh pancaindra” (hlm. 135). Sedangkan menurut Aminuddin (1995: 168) lambang merupakan fakta yang dapat didudukkan secara isolatif terlepas dari hubungannya dengan penafsiran pemakainya. Penyusunan lambang dan penyampaiannya tersebut selain berhubungan dengan untaian isi juga berhubungan dengan bentuk yang mewujudkan untaian isi sebagai bentuk ekspresi.

Dengan demikian hubungan antara lambang kebahasaan dengan sesuatu yang dilambangkan ada dalam hubungan ganda.

commit to user

Sejalan dengan penggambaran di atas, ditinjau dari segi pembaca bentuk pelambangan dapat diartikan sebagai penerjemahan tanda ke dalam bentuk bahasa natural sesuai dengan hasil penafsiran.

Apabila bentuk ekspresi terkait dengan isi atau konfigurasi gagasan, bentuk pelambangan terkait dengan naturalisasi transformasi sistem tanda. Pemahaman bentuk pelambangan dan bentuk ekspresi memiliki hubungan secara timbal balik. Secara ringkas dapat dikemukakan kembali bahwa pola pemahaman bentuk pelambangan dan bentuk ekspresi dari suatu sistem tanda berawal dari penangkapan sistem tanda itu dalam kesadaran batin penanggap (Aminuddin, 1995: 90).

Waluyo berpendapat, “Macam-macam lambang ditentukan oleh

Waluyo berpendapat, “Macam-macam lambang ditentukan oleh