Ketika Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu untuk kedua kalinya, desa-desa sedang dilanda kekeringan. Air Sungai Rohini yang mengairi sawah-sawah tidak mencukupi, hingga banyak padi yang baru tumbuh menjadi mati. Kini sungai Rohini memisahkan daerah Suku Sakya dengan daerah Suku Koliya, suku ibunda Sang Buddha. Masing-masing suku mengumumkan haknya untuk memiliki air sungai sepenuhnya dan hanya untuk mengairi sawahnya sendiri. Amarah mereka membludak bagaikan nyala api hutan yang terbakar dan raja mereka masing-masing menyatakan angkat senjata dan siap perang. Ketika Sang Buddha mendekat, tampak olehnya kilatan senjata mereka, dan dengan mata batin Sang Buddha sudah tahu apa penyebab pertengkaran tersebut. Sang Buddha merasa kasihan dengan kebutaan dan kebodohan mereka, lantas beliau mempercepat langkahnya untuk sampai ke tujuan, sebelum mereka membunuh satu sama lainnya.
Kedua pihak yang bermusuhan pada saat yang bersamaan melihat kedatangan Sang Buddha, ini mungkin dikarenakan pancaran cahaya kedamaian Sang Buddha. Mereka menunda pertempuran sampai Sang Buddha tiba, berdiri di tepi sungai Rohini, berkata pada pemimpin mereka.
"Pangeran-pangeran dan prajurit-prajurit! Mana yang lebih berharga, setetes air atau nyawa orang banyak—nyawa para pangeran dan orang mulia?"
"Nyawa orang banyak," jawab mereka, "Terutama nyawa para pangeran dan orang-orang mulia !"
"Maka dari itu," jawab Sang Buddha, "Singkirkan semua kemarahanmu; buang senjata-senjatamu yang dapat mengakibatkan pembinasaan; taklukkan kemarahanmu; kembangkanlah cinta kasih sesama. Maka kalian akan menemukan cara terbaik untuk membagi air ini sama rata, dan hiduplah dalam damai."
Selalu saja kebencian dan kemarahan menjadi lenyap berkat kehadiran Sang Buddha dan nasehat-nasehatnya yang bijaksana. Sungguh mereka heran bahwa sebelumnya mereka tidak berpikir tentang masalah ini. Mereka menyingkirkan senjata-senjata dan para pemimpin mereka mengadakan perundingan satu sama lain bagaimana air sungai Rohini dapat digunakan secara bersama-sama mengairi sawah mereka.
Selesai pencegahan perang ini, Sang Buddha berangkat menemui ayahnya, Suddhodana yang sudah mendekati ajalnya. Sang Buddha berbicara padanya tentang hal-hal yang fana di dunia ini dan jalan menuju kehidupan abadi. Dan Raja meninggal dengan mencapai kebahagiaan abadi.
Pajapati, istri Raja yang merupakan pengasuh Sang Buddha setelah kematian ibu kandungnya, meminta izin Sang Buddha agar ia dapat memotong rambutnya dan meninggalkan kehidupan berkeluarga. Tetapi Sang Buddha menolak permintaannya mengingat sudah tiga orang dari keluarganya yang meninggalkan rumah. Mengenai Pajapati, akan aku ceritakan lebih lanjut nantinya.
Pangeran Bhaddiya yang sekarang menjadi Raja Suku Sakya, menganjurkan rakyatnya untuk mendengar ajaran Sang Buddha, sehingga kabar baik tentang jalan mengakhiri penderitaan tersebar jauh dan luas pada saat kunjungan Sang Buddha ke tempat asalnya yang kedua kalinya. Sungguh, sampai-sampai ada anggapan bahwa adalah sesuatu yang memalukan jika pada suatu keluarga besar tidak ada seorang pun yang memakai jubah kuning. Hal itu terlihat ketika kami dijamu oleh keluarga-keluarga bangsawan di kerajaan tersebut.
Kini aku tak tahu apakah karena perputaran waktu atau karena berhubungan kembali pada bentuk kehidupanku yang lalu, aku menemukan bahwa jalan menuju kebebasan tak lagi membawa kebahagiaan sebagaimana yang kuketahui sebelum Sang Buddha mengadakan perjalanan ke Rajagaha untuk yang kedua kalinya, yang mana ketika itu aku tetap tinggal di Kapilavatthu. Tahun pertama masa itu, adalah saat yang penuh siraman cahaya mentari dan kebahagiaan. Sang Buddha membuka suatu pandangan padaku tentang cinta kasih yang tidak terikat oleh diri, dan kasih persahabatan adalah suatu kekuatan gaib yang dapat mengubah benda-benda menjadi emas murni. Segala sesuatu tampak hidup dalam suatu kehidupan baru yang penuh kebahagiaan. Jika terkadang aku keluar dari jalan tersebut maka dengan segera suatu pandangan atau isyarat Sang Buddha akan memanggilku kembali, dalam hidup tanpa berkeluarga dan lepas-lepas dari keterikatan duniawi, aku menemukan kebahagiaan yang tak terkira, kebahagiaanku sulit terlukiskan, di luar kehidupan dan keterikatan duniawi.
Tetapi kini aku menyadari bahwa walaupun dari luar kelihatannya kehidupan duniawi telah kulepaskan, namun sebenarnya dalam hatiku pelepasan itu masihlah belum sepenuhnya dan bahwa cinta kasih dan pengertian yang sempurna hanya dapat ditemukan jika ada pelepasan yang menyeluruh akan diri dan tak terpengaruh oleh semua benda di
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
dunia ini. Pada waktu yang sama, kerinduan akan kesenangan duniawi yang paling aku sukai begitu hebat menggerogoti jiwaku. Ini bukanlah nafsu birahi, yang sering menyerang anggota persaudaraan yang muda. Aku menikah pada usia muda karena mengikuti adat istiadat, tetapi mengenai nafsu ini aku hampir tidak tahu apa-apa. Nafsuku, kerinduanku hanya pada musik. Aku teringat saat seorang sahabatku kehilangan pendengarannya, aku berpikir sendiri bahwa aku tidak akan pernah dapat memikul penderitaan atas kekejaman takdir itu. Setelah menjadi siswa Sang Buddha, tentu saja aku berhenti menghadiri acara dansa, drama dan pertunjukan-pertunjukan lainnya yang diringi musik. Tetapi walaupun aku berhenti menikmati musik, musik tersebut selalu mengelilingiku di mana-mana, dan aku masih senang menikmatinya dan bersenandung sendiri. Aku menganggap bahwa kekaguman akan musik mengalir dari dhamma itu sendiri dan tidak menyadari bahwa keterikatan pada musik tersebut telah membuatku bertentangan dengan Dhamma.
Suatu hari aku dijamu oleh Anuruddha, anak bungsu dari sebuah keluarga besar. Aku memasuki halaman yang terbuka yang dikelilingi sebuah serambi. Anuruddha sedang duduk pada sebuah kursi santai bersandarkan bantal sambil menikmati nyanyian yang diiringi musik yang indah dan tari-tarian yang dibawakan oleh gadis-gadis cantik. Dia bangkit menyambutku, kemudian memerintahkan pelayannya untuk mengambil kursi santai dan bantal lainnya untukku, dan ketika pelayannya sudah mengerjakan perintahnya, kembali dia bersandar dan menikmati musik. Aku segera merasa diperbudak oleh keindahan yang dibawakan penari-penari dan musisinya dan lupa bahwa Persaudaraan Bhikkhu tidaklah pantas mengunjungi pertunjukkan-pertunjukkan mewah atau sandiwara-sandiwara supaya tidak terjeru-mus oleh godaan yang membawa kesenangan hawa nafsu.
Mahanama, si Putra Sulung masuk ketika penari-penari beristirahat. Dia menyambutku dengan hormat, dan mulai mengadakan pembicaraan dengan Anuruddha sebelum pertunjukan dimulai kembali.
"Anuruddha, adikku yang terkasih," katanya, "Dengan kehadiran saudara yang suci ini, aku rasa inilah waktu yang tepat untuk menceritakan masalah yang menghantuiku selama beberapa purnama."
"Katakanlah, saudaraku yang terkasih," suasana hati Anuruddha masih riang berkat musik yang barusan dinikmatinya, dan tidak ada rasa curiga sedikit pun terhadap maksud Mahanama.
Mahanama melanjutkan, "Beberapa purnama lamanya aku berpikir, bahwa adalah suatu hal yang memalukan pada keluarga kita karena tak satu pun dari keluarga kita yang mengenakan jubah kuning dan meninggalkan kehidupan duniawi untuk menjadi siswa Sang Buddha. Memang benar kita banyak menderma, tapi itu tidaklah cukup. Kita harus menyebarkan dhamma ke seluruh penjuru dunia."
"Lalu, kamu ingin memakai jubah kuning?" tanya Anuruddha yang tidak tertarik sama sekali pada masalah ini.
"Aku sangat ingin," jawab saudaranya. "Tetapi waktuku tersita untuk mengelola ladang dan mengatur keluarga. Aku tidak punya waktu luang. Semua itu jelas merupakan kewajibanku."
"Kamu tidak mengusulkan aku untuk melakukan hal itu, bukan?" tanya Anuruddha, untuk yang pertama kali dia merasa tertarik sekaligus terganggu.
"Itulah yang ada dalam benakku," suara Mahanama terdengar keras. "Merupakan suatu kehormatan bila salah seorang dari keluarga kita melakukan hal itu dan aku yakin kamu jauh lebih dapat melakukannya daripada aku."
Anuruddha bangkit dengan penuh ketakutan. "Tetapi selama ini aku sudah terbiasa dengan makanan yang lezat-lezat, aku mempunyai tempat peristirahatan yang berbeda untuk musim panas dan dingin, dan pada musim dingin aku tidak pernah keluar kemana-mana. Aku dilayani para pelayan dan pakaianku selalu disediakan. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan dengan kehidupan tanpa rumah? Perutku akan mual jika aku harus hidup dengan memakan makanan sisa, menambal baju dari kain-kain buruk dan tidur di luar rumah — oh tidak! Mahanama, itu tidak mungkin aku lakukan," dia kembali bersandar pada bantal-bantalnya.
"Baiklah, Anuruddha, jika demikian maukah kamu mengambil alih perananku sebagai pemimpin keluarga dan membiarkanku meninggalkan rumah?"
"Apa pekerjaan seorang pemimpin keluarga?" tanya Anuruddha. "Aku rasa hal itu mungkin akan sesuai dengan sifatku dan mendidik."
"Pekerjaan seorang pemimpin keluarga adalah sebagai berikut: Pertama-tama kamu harus membajak sawah. Setelah itu, menyebarkan benih, kemudian kamu harus mengairinya. Setelah itu, kamu jangan mengairinya kembali lagi. Setelah semua ini selesai dikerjakan, kamu harus mencabut rumput atau semak belukar. Kemu-dian mengupah seseorang menjaga padi dari serangan-serangan binatang tiap malam. Akhirnya tibalah saat panen. Tetapi bukan berarti pekerjaan telah selesai! Hasil panen harus diikat, ditumbuk dan di
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
simpan di lumbung," suara Mahanama terdengar letih. "Dedak harus dipindahkan. Kemudian kamu harus menyaring dan mengumpulkannya di gudang." Dengan lemah Mahanama menunjuk sebuah peti besar bulat yang terletak di ujung ladang. "Selesai mengerjakan ini semua, kamu harus melakukan hal yang sama pada tahun depan dan pada tahun berikutnya, begitulah seterusnya. Pekerjaan ini takkan pernah selesai. Pekerjaan seseorang takkan pernah berakhir. Adalah tak berguna bagi seorang pemimpin keluarga untuk bertanya kapan dia dapat menikmati kesenangan-kesenangan duniawi mendengar musik atau melihat tarian, karena dia tidak akan pernah punya waktu. Anuruddha adikku yang terkasih, pekerjaannya tidak akan pernah selesai. Walaupun dia telah meninggal, pekerjaannya masih belum selesai. Tetapi jika kamu lebih menyukai itu...."
Anuruddha bangkit dan berjalan ke sana kemari, "Kamu membuatku melihat bahwa kehidupan sebagai seorang pemimpin keluarga bukanlah untukku. Dan kamu juga tahu bahwa ibu telah memanjakan aku secara berlebihan sehingga aku tidak pernah menanggung beban keluarga kita. Tetapi meninggalkan kehidupan berkeluarga sudah tentu merupakan tanggung jawab yang besar dan jauh di luar kemampuanku. Tidak dapatkah kamu menawarkan hal lain untuk memenuhi tanggung jawabku kepada keluarga kita?"
"Tidak, Anuruddha." kata Mahanama secara tegas. "Hanya ada dua jalan, tidak lebih; tinggal di rumah sebagai pemimpin keluarga atau meninggalkan rumah menjadi siswa Sang Buddha yang maha sempurna; yang memberi kebahagiaan sempurna."
"Mungkin pilihan kedua yang dapat kujalankan, seperti yang telah kamu katakan. Aku akan meninggalkan kehidupan keluarga dan menjadi siswa Sang Gautama."
"Terima kasih, Anuruddha yang terkasih. Aku sangat senang. Aku akan merasa terhormat dengan kesediaanmu memakai jubah kuning, Saudara yang mulia ini akan menbawamu menemui Sang Buddha, bukankah begitu?" Mahanama melirikku dan aku mengangguk setuju.
Aku setuju karena tidak dapat melakukan hal yang lain. Tetapi sebenarnya hatiku terasa berat. Ketika aku dijerat musik, tiba-tiba timbul kesadaran bahwa setengah dari diriku masih terikat musik, berarti aku masih terikat pada kesenangan hawa nafsu yang menjauhkanku dari pengertian Dhamma. Timbul juga kerinduan untuk kembali menikmati kehidupan duniawi, dan aku menjadi bingung dan ragu-ragu, apakah aku memang benar-benar telah meninggalkan kehidupan duniawi.
Dan sekarang, Anuruddha mencoba melakukan hal yang sama, dan aku sedang menolongnya. Namun, bagaimana aku dapat bertindak yang berbeda? Sebagai seorang yang telah mengenakan jubah kuning, semua orang beranggapan bahwa aku telah bebas dari kesenangan-kesenangan duniawi dan mengharapkan orang lain juga dapat berbuat seperti itu. Oleh sebab itu, kini di dalam hatiku timbul konflik baru, karena aku tidak dapat bertindak semulia itu. Aku menerima makanan dan memakannya dengan kepala tertunduk seolah menunjukkan kerendahan hati, namun sebenarnya aku malu akan ketidaksucian yang timbul dalam diriku saat itu.
Ketika aku hendak pulang, Anuruddha berkata padaku, "Sebelum aku meninggalkan rumah, tentu saja aku harus mendapat izin dari ibu. Saudara yang termulia, datanglah pada waktu yang sama besok, dan bila semuanya berjalan lancar, aku akan siap sedia mengikutimu untuk menemui Sang Buddha."
Aku membungkuk setuju dan berlalu, kemudian menuruni lembah yang gelap. Selama beberapa hari kemudian bahkan bertahun-tahun kemudian, aku mengalami pertentangan dalam diriku sendiri yang tidak pernah berhenti. Pada satu waktu aku bisa melepaskan diri dari ikatan musik; pada waktu lain aku berpendapat bahwa aku dapat menggunakan musik ke dalam pengertian Dhamma. Cahaya dari jalan telah lenyap dan aku berjalan sendirian di dalam kegelapan hutan yang kelihatannya tak pernah berakhir.
Pada esok harinya, aku kembali menemui Anuruddha, dan dia memberitahu aku bahwa ibunya tidak memberi izin mengingat dia adalah anak kesayangannya, tetapi setelah dia membujuk ibunya, akhirnya ibunya menyetujui jika pangeran Bhaddiya, pemimpin suku juga menjadi siswa.
"Apakah kamu pikir dia mau?", tanyaku.
"Aku yakin dia mau," jawab Anuruddha dengan penuh semangat, sungguh sukar mempercayai perubahannya, baru kemarin kulihat dia berbaris malas bersandarkan bantal sambil menikmati musik.
"Apakah kamu sudah yakin bahwa keputusanmu ini benar?" tanyaku gundah, tetapi dia tidak mencurigai badai yang sedang bergemuruh di dalam hatiku, membuat aku mulai mempertimbangkan apakah tidak akan lebih baik jika aku tinggal di rumah saja dan menanggalkan jubah kuningku.
"Tentu saja aku yakin, Saudara Yang Mulia, mengapa anda bertanya begitu?"
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
"Tidak apa-apa," kataku, sekali lagi penipuan yang sungguh memuakkan ini timbul. "Tetapi sungguh sulit dipercaya melihat perubahanmu pada saat aku hadir kemarin."
"Ah, mataku telah terbuka, Saudaraku Yang Mulia, Marilah kita menemui Raja Bhaddiya, dan anda akan melihat bagaimana berpengaruhnya aku."
Aku menemaninya menemui Raja, dan dalam keadaan sedih yang amat dalam dan depresi, aku tak dapat tersenyum mendukung cara pendekatannya.
Dia memberi hormat pada Raja sambil berkata "Baginda menghalangi saya untuk mengenakan jubah kuning dan menjadi siswa Sang Gautama."
"Saya?" tanya Raja dengan heran. "Baginda dan bukan orang lain!"
"Oh Tuhan!" teriak Raja. "Jangankan menghalangi orang lain, sedangkan saya sendiri ingin menjadi siswa Sang Gautama."
"Sangat bagus kalau begitu," sorak Anuruddha. "Sekarang bila Baginda ingin menjadi siswa, ibuku akan memberi izin padaku untuk menjadi siswa juga."
"Oh!" Raja menjadi malu atas ucapannya barusan. "Saya tidak begitu serius. Masih banyak tugas yang harus saya selesaikan. Tujuh tahun mendatang baru saya akan menjadi siswa, bila tugas sebagai pemimpin telah selesai."
"Tidak, itu waktu yang sangat lama," kata Anuruddha. "Berarti Baginda akan menghalangiku untuk menjadi siswa sampai tujuh tahun, Baginda tidak akan tega melakukannya bukan?"
"Saya tidak mau menghalangi keinginanmu yang baik dan layak bagimu untuk dilaksanakan, kawan. Tetapi saya tidak mungkin menjadi siswa pada saat ini, itu berarti pelanggaran terhadap kewajiban-kewajibanku sebagai pemimpin suku, mungkin tujuh bulan mendatang baru saya akan menjadi siswa."
"Mungkin itu merupakan gagasan yang baik", kata Anuruddha. "Tetapi tujuh bulan juga merupakan waktu yang sangat lama. Itu berarti Baginda menghalangi saya menjadi siswa sampai waktu itu berlalu, dan siapa yang tahu apa yang terjadi kemudian. Baginda dipilih untuk menggantikan kedudukan Suddhodana, dan pemimpin lain akan dipilih untuk menggantikan kedudukanmu dan bereslah masalah ini. Apakah Baginda setuju menundanya tidak lebih dari tujuh hari?"
Dengan enggan Pangeran Bhaddiya menyetujui dan dia setuju hanya karena tidak ada Suku Sakya yang menarik kembali ucapannya. Seluruh Suku Sakya terkenal dengan kebenaran dan kesetiaan
kata-katanya. Inilah alasannya dan bukan karena masalah persetujuan Ibu Anuruddha, yang sekarang telah memberikan persetujuan untuk anaknya. Karena Pangeran Bhaddiya bersedia menjadi siswa, tujuh hari sebelumnya Anuruddha sudah siap berangkat dan ketika kami bertemu untuk yang terakhir kalinya, aku melihat dia berhasil membujuk empat orang bangsawan muda lainnya, di antaranya Ananda dan Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha, mereka juga mengajak seorang tukang pangkas miskin yang bernama Upali, agar Upali bisa mengembalikan pakaian-pakaian dan perhiasan-perhiasan mereka setelah mereka ditahbiskan. Bangsawan-bangsawan muda itu mempunyai semangat yang tinggi, sebagaimana yang sering terjadi, ketika orang-orang mempunyai tujuan untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi aku masih terperosok dalam kegelapan yang tak pernah berakhir, yang jauh berlawanan dengan semangat mereka yang mengebu-gebu.
Upali sangat menarik perhatianku ketika kami bersama-sama mengadakan perjalanan ke Anukiya, sebuah kota yang didiami Suku Malla, di mana Sang Buddha sedang tinggal sekarang. Dia bertanya tentang persaudaraan para bhikkhu, apa tujuannya, apakah persaudaraan ini terbuka untuk semua orang, bahkan untuk seorang tukang pangkas yang miskin dan hina sekalipun. Aku menjawab bahwa dalam Persaudaraan Para Bhikkhu, tidak ada perbedaan kelas atau kasta, dan sebagaimana yang sering disabdakan Sang Buddha, ibarat sungai-sungai besar dalam perjalanan ke samudera luas, bentuk asal sungai-sungai tersebut akan ditinggalkan dan akhirnya bergabung menjadi satu di samudera luas. Demikian juga dengan orang-orang yang berasal dari berbagai kasta yang pergi dari rumah dan menjalankan disiplin Dhamma, semuanya menanggalkan kastanya dan bergabung menjadi satu. Aku juga memberitahukannya bahwa siapa pun dapat bergabung, asalkan mendapat izin dari orang yang bertanggung jawab atas dirinya.
Upali menjadi semakin tertarik akan kehidupan sebagai seorang anggota Persaudaraan sebagaimana yang kulukiskan, walaupun entah mengapa, aku tak mengerti. Sesungguhnya aku tidak dapat membuatnya menjadi sebuah kehidupan yang dicari-cari saat kehidupan itu menenggelamkanku ke dalam kesedihan yang dalam. Tetapi mungkin Dhamma menyinari kami sehingga hal itu takkan pernah terjadi. Upali rupanya sangat terkesan akan ide kehidupan tak berkeluarga itu sehingga sebelum kami tiba di tempat Sang Buddha, dia berkata pada para bangsawan muda tersebut bahwa dia juga ingin menjadi siswa. Mereka gembira mendengar keputusannya dan mengusulkan agar aku memperkenalkan Upali terlebih dahulu untuk
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
ditabhiskan sebelum memperkenalkan mereka, untuk menunjukkan bahwa para pangeran Suku Sakya rendah hati dan juga adanya kesamaan derajat dalam persaudaraan. Seperti yang sudah direncanakan, maka kemudian ditahbiskanlah tujuh orang siswa baru, termasuk tukang pangkas yang miskin, Upali yang kemudian menjadi sesepuh dan termasyhur dengan kedalaman dhammanya. Ketika para siswa baru tersebut menuju ke tempat tinggalnya masing-masing, aku tinggal bersama Sang Buddha. Aku tahu Sang Buddha pasti dapat membaca isi hatiku sehingga tidaklah perlu menceritakan pada beliau tentang kesengsaraan atau konflik-konflik yang ada dalam batinku. Sang Buddha menatapku dengan penuh pengertian, dan ketika aku menatapnya, konflik-konflik yang ada lenyap sesaat karena aku melihat keabadian dalam dirinya. Kemudian Sang Buddha berkata:
"Seorang Buddha hanya menunjukkan jalan. Saya tidak dapat menenangkan konflik-konflik yang ada dalam hatimu, Yasa. Kamu sendiri yang dapat mengatasinya. Cari jalan yang terbaik yang dapat melenyapkan konflik-konflik tersebut. Kamu akan menemukan bahwa ada suatu kebahagiaan dalam ketidakterikatan akan diri yang tidak pernah kamu temukan di dalam musik."
Setelah aku berlalu dari tempat Sang Buddha, hatiku menemukan kedamaian itu kembali, dan jalan yang penuh cinta kasih itu terbuka kembali untukku, bukit-bukit pelepasan keduniawian kelihatan jelas dan mudah digapai. Tapi itu tidak berlangsung lama, kegelapan segera menyelimuti diriku kembali bulan-bulan berikutnya, tidak ada setitik cahaya pun yang tampak. Kemudian aku berkenalan dengan Ananda, saudara sepupu Sang Buddha, siswa yang baik hati sehingga ia disenangi siswa-siswa lain dalam persaudaraan kami dan juga umat awam lainnya. Sebelum dan sesudah wafatnya Sang Buddha, dia telah mampu melenyapkan semua keinginan-keinginan, dan tidak merasa sedih sedikit pun bila kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya. Dia pancarkan sinar cinta kasih pada semua makhluk hidup, dan ketika aku melewati sinar yang terang nan indah itu melalui mata batin yang gelap, Ananda mengingatkan aku untuk kembali pada cahaya terang yang pernah aku lihat.
Anathapindika, penolong para yatim piatu dan anak-anak melarat telah kembali ke kota kelahirannya Savatthi yang terletak di barat laut, ibukota negara Kosala yang dikuasai Raja Pasenadi. Dia mempertimbangkan kata-kata Sang Buddha mengenai tempat yang tenang dan sunyi. Ratu Mallika telah menyediakan sebuah tempat di samping taman untuk para pengembara, tetapi ada sebuah ruangan di dalamnya yang selalu dijadikan pusat pertemuan atau rapat. Tidaklah sukar menemukan tempat sunyi di dalam hutan yang terbentang luas