Suatu kesempatan yang tidak dapat dilupakan adalah ketika aku bertemu dengan Sang Buddha pada masa pertengahan kebhikkhuan-Nya dalam perjalanan menuju Savatthi. Ketika mendekati kota, kami bertemu dengan para serdadu yang berjaga-jaga di tempat-tempat penting; di sepanjang benteng-benteng juga pada beberapa tempat di luar kota. Perisai-perisai serdadu itu memantulkan sinar berkilat bagaikan pancaran sinar mentari dan masing-masing dilengkapi pedang di sisi badan, busur, dan anak panah di tangan. Ketika kami tiba di Hutan Jeta, Sang Buddha bertanya mengapa Raja Pasenadi mengerahkan pengawalan demikian ketat. "Apakah dia sedang menanti serangan dari Raja Bimbisara atau bangsawan Licchavi?"
"Tidak, Guru," jawab salah satu bhikkhu, "Semua raja dan bangsawan tetangga berhubungan baik dengan Raja Pasenadi. Tetapi ada seorang perampok yang membuat kerusuhan, namanya Angulimala."
"Angulimala?" tanya Sang Buddha. "Siapakah perampok ini, bukankah Angulimala berarti kalung dari jari tangan?"
"Perampok ini sangat ganas dan mengerikan serta sama sekali tidak punya perasaan belas kasihan. Tangannya penuh dengan darah. Desa-desa dan kota-kota sunyi sepi karena dia membunuh para penduduk dan mengambil jari-jari mereka, setelah itu jari-jari tersebut dikalungkan di lehernya. Karena sekarang ia sedang berada dekat perbatasan, tidak ada yang berani berkeliaran di sana walaupun dikawal sebatalyon tentara bersenjata."
"Apakah perampok ini mempunyai segerombolan perampok lain bersamanya sehingga begitu menakutkan orang-orang?"
"Tidak, Guru, dia sendirian."
"Sendirian! Sekarang dia ada di mana?"
Salah satu bhikkhu menunjuk di seberang kota, sambil berkata, "Dia mungkin ada di sebelah sana, karena dari sanalah dia mulai menyerang desa-desa dan membunuh penduduknya."
"Saya akan ke sana dan berbicara dengannya." Sang Buddha berkata dengan tenang.
"Jangan Guru, jangan pergi." Bhikkhu itu berkata dengan kekhawatiran yang teramat sangat. "Tidak ada yang pulang dengan selamat, setelah bertemu dengan Angulimala, walaupun mereka sebatalyon tentara bersenjata."
Sang Buddha tersenyum bijaksana. "Tetapi mungkin Angulimala juga memerlukan Dhamma."
Salah seorang bhikkhu yang sejak awal hanya diam berkata, "Dia mungkin memerlukannya tetapi lebih mungkin lagi dia akan menolaknya." Lalu dia merubah nada suaranya dan menjadi lebih serius, "Lihatlah, Guru, di sini tempat dudukmu telah tersedia, dan penduduk setiap saat menanti untuk mendengarkan Dhamma dari Guru. Walaupun Guru tidak mementingkan keselamatan sendiri, tapi begitu banyak yang memerlukan Guru di sini, Guru tak perlu pergi untuk membabarkan Dhamma bagi seorang perampok, bagus seandainya ia dapat berubah, tapi kami kira ia tidak akan dapat berubah."
"Sahabat," jawab Sang Buddha dengan nada yang sama pula. "Angulimala sangat membutuhkan Dhamma dan untuk itulah saya harus ke sana."
Bhikkhu yang lain masih berusaha mencegah, "Kalau demikian, Guru, bawalah tentara bersenjata yang telah disediakan Raja Pasenadi untuk melindungi Guru."
Sang Buddha tersenyum, "Angulimala hanya membutuhkan Dhamma, ia tidak memerlukan tentara bersenjata."
Bhikkhu yang terakhir berbicara dengan pasrah, "Oh! Guru, tidakkah Guru mengerti bahwa tidak pernah ada yang kembali hidup-hidup setelah bertemu Angulimala?"
Sang Buddha menjawab dengan serius: "Para Bhikkhu, apakah ada di antara mereka yang bertemu Angulimala dengan membawa cinta kasih bersamanya dan menanggalkan ketakutannya?"
"Saya rasa tidak ada," bhikkhu itu mengakui.
"Jadi kamu belum mengetahui hasil pertemuan Angulimala dengan orang yang akan membawa cinta kasih bersamanya, bukan? Sekarang, hilangkan rasa takutmu dan pancarkan cinta kasih kepada Angulimala dan beritahukan kepada semua bhikkhu-bhikkhuni dan umat awam lainnya ke mana saya pergi, dan dalam waktu singkat saya akan kembali dengan membawa Angulimala. Katakan kepada mereka untuk memperlakukannya dengan baik nanti."
Bhikkhu itu menjawab, "Kami akan melakukannya Sang Buddha, tetapi kami sangat khawatir. Guru mempunyai kebijaksanaan dari segala Buddha tetapi Guru tidak mengenal perampok itu."
Aku menyaksikan semua ini dengan tenang. Bhikkhu-bhikkhu ini semua masih muda dan belum mengetahui kekuatan Sang Buddha dan juga cinta kasihnya yang mungkin saja sekarang pun telah terpancar kepada Angulimala.
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
Apa yang terjadi pada Sang Buddha saat beliau berjalan mendekati sarang perampok itu, aku dengar kemudian dari Angulimala sendiri. Dia telah merencanakan akan mengacau di Savatthi dan mengambil jari Raja Pasenadi. Dia sudah membayangkan para pengawal akan ketakutan dan jatuh di ujung pedangnya bagaikan domba di ujung golok penjual daging.
"Petualangan!" dia berteriak dengan kegembiraan yang meluap-luap. "Petualangan! raja menaklukan dunia! Saya menaklukan raja-raja! Besok saya menyerang Savatthi!"
Kemudian dia bertemu pandang dengan Sang Buddha yang kebetulan lewat. Ini adalah pemandangan yang aneh,— seorang bhikkhu berjubah kuning berjalan tepat melewati tempat persembunyiannya. Dia menghunus pedangnya dan berteriak: "Berhenti, bhikkhu!"
Sang Buddha memandangnya dan menjawab dengan tenang "Saya telah berhenti. Andalah yang belum berhenti." Dan beliau kembali melanjutkan perjalanannya.
"Aku bilang berhenti!" Angulimala berteriak lagi dan berlari mengejar dengan pedang terhunus.
Sang Buddha menatap matanya dan pedangnya pun terlempar ke tanah. Dia tidak ingat apa yang terjadi lagi, kecuali berdiri tegak dan memandang sang bhikkhu aneh dengan senyumnya yang luar biasa ramah dengan sorot mata yang tenang dan membawa kedamaian. Ingatannya kembali ke masa kanak-kanaknya dan teringat akan seorang wanita suci yang biasanya meminta makanan di rumah ayahnya. Untuk selanjutnya, dia tidak pernah melihat apapun yang demikian tenang seperti wajah bhikkhu ini. Dia selalu diliputi kebencian, kemarahan, dan segala bentuk kekerasan. Kedamaian dan ketenangan adalah sesuatu yang baru baginya. Ketegangan urat dan otot-ototnya mereda. Tanpa berpikir panjang lagi, ia pun duduk. Sang Buddha juga duduk. Untuk beberapa waktu Angulimala masih tetap memandang orang asing yang tenang itu. Dia sangat terpesona, akhirnya dia berkata dengan lemah, "Apa yang menyebabkan Anda ke sini?"
"Anda memerlukan saya, Sahabat!"
Angulimala bingung, "Aku memerlukan Anda?" "Ya."
Angulimala berusaha memecahkan suasana di sekelilingnya, sambil tertawa ia melanjutkan, "Hanya memerlukan jari-jari Anda, mungkin, karena Anda tidak punya barang berharga."
Sang Buddha mengeluarkan tangannya dan berkata, "Anda boleh mengambil jari-jari saya sesuka hati, tetapi ada sesuatu yang lebih Anda butuhkan dari pada itu."
"Bagaimana mungkin?"
Sang Buddha berbicara dengan serius, "Anda ingin mencari petualangan yang lebih berarti, suatu penaklukan yang melebihi apa yang pernah Anda lakukan, maka saya datang untuk menunjukkan jalannya."
Angulimala mulai tertarik kepada Sang Buddha. Dia berkata dengan penuh nafsu, "Maksud Anda ilmu sihir? Dapatkah Anda mengajariku ilmu itu? Petualangan apa yang lebih menarik daripada menyerbu Savatthi dan apa yang lebih berarti daripada pemotongan jari penguasa Savatthi?"
Sang Buddha menjawab dengan lemah lembut: "Tuan, itu hanyalah permainan anak kecil bagi Anda, karena para tentara dan raja mendengar nama Anda saja sudah gemetar."
"Aku tahu," jawab Angulimala dengan bangga.
"Saya datang untuk menunjukan jalan menaklukan orang yang pantas, pantas dan layak karena ia tidak mengenal rasa takut."
Untuk sementara Angulimala mempertimbangkan, dan kemudian berkata, "Andalah yang tidak mengenal rasa takut. Anda berbicara bagaikan orang yang mengenal petualangan dan penaklukan. Padahal Anda hanya seorang bhikkhu, tetapi ilmu sihir!" Dia berhenti sebentar, "Ya, ilmu sihir akan memberiku kekuatan yang lebih dari yang pernah ada padaku. Berarti semua yang kulakukan sebelumnya hanya permainan anak kecil. Apakah itu ilmu sihir, oh, bhikkhu?"
"Itu adalah ilmu sihir dan juga bukan ilmu sihir." Jawab Sang Buddha.
"Aku menguasai segala cara perampokan dan penganiayaan," Angulimala berbicara dengan penuh arti. "Anda memberi ide baru tentang penaklukan. Aku akan mempelajari ilmu sihir. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku rasa aku dapat mempercayai Anda."
"Hati-hati Sahabat, bagaimana Anda bisa mempercayai saya," jawab Sang Buddha dengan tegas. "Saya akan menunjukan jalan yang sama sekali tidak Anda kenal."
Angulimala bangkit sambil menantang, "Aku tidak takut." Lalu dia menambahkan pada dirinya sendiri, "Anda memanggilku 'Sahabat'. Tidak ada lagi yang pernah memanggilku demikian sejak guruku mengusirku karena murid-murid lain tidak menyukaiku. Aku akan mempunyai seorang teman yang tidak takut kepadaku dan sekarang
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
oh, bhikkhu, petualangan apakah yang lebih hebat dari apa yang pernah kulakukan itu?"
"Petualangan di dalam Delapan Jalan Utama yang akan membawamu menaklukkan dirimu sendiri."
"Diriku sendiri?" Angulimala bertanya dengan kasar. "Tetapi seluruh dunia takut kepadaku kecuali Anda. Mengapa aku harus menaklukkan diri sendiri lagi?"
"Karena kamu adalah budak nafsumu, nafsu untuk memperoleh kekuatan dan kekuasaan. Kamu tidak dapat lagi menghentikan keinginan untuk menaklukan seperti menghentikan bulu-bulu putih yang mulai tumbuh pada alismu."
"Tetapi semua orang tunduk kepadaku dan akan memenuhi keinginanku," Angulimala memprotes.
"Dan kamu sendiri tunduk kepada nafsu yang menguasai pikiranmu dan melakukan keinginannya, bagaikan nasi yang tidak dapat melawan tiupan angin. Kamu menjadikan nafsu sebagai majikanmu. Tetapi saya akan menunjukan jalan pembebasan padamu, jalan untuk menjadi majikan bagi diri sendiri."
Angulimala memandang hamparan sawah di depannya dan pohon "neem" yang berfungsi sebagai atap jerami gubuk-gubuk yang tidak berpenghuni akibat ulahnya, dan nun jauh di sana, menara tinggi pada benteng kota milik raja yang kini sedang ketakutan karena dia. Dua ekor monyet merah berayun-ayun pada pohon di depannya dan melihatnya dengan takut-takut, tetapi dia tidak melihatnya sampai mereka berayun menjauh. Dia berbisik kepada dirinya sendiri, "Petualangan! Kekuatan!"
"Ya," Sang Buddha menjawab dan menyadarkannya, "Tetapi petualangan ini akan membawa penderitaan."
"Aku tidak takut rasa sakit dan penderitaan." Angulimala kembali membantah.
"Tetapi ini akan menyulitkanmu."
"Aku selalu sabar dan senang kerja keras." "Dan kamu akan merasa takut."
"Aku, yang tidak pernah merasa takut?"
"Ya, kamu yang tidak pernah merasa takut." "Apa yang mesti saya takuti?" tanya Angulimala tanpa ragu-ragu.
"Perbuatan jahat yang telah kamu lakukan," Sang Buddha berkata dengan lembut.
"Aku tidak mengerti. Tetapi aku tahu Anda dapat dipercaya, dan Anda menantang aku untuk melakukan petualangan yang terbesar. Guru, saya akan mengikutimu." Dia berhenti dan menambah, "Tetapi
jelaskan kepadaku satu hal. Apa maksud Guru saat Guru mengatakan bahwa Guru telah berhenti sedangkan saya belum?"
Sang Buddha terrsenyum, "Artinya saya telah berhenti menyakiti makhluk hidup, tetapi kamu belum."
"Tetapi, Guru, apakah Guru menunjukkan caranya padaku?" "Ya, apakah kamu telah siap menghadapi petualangan besar ini?" "Ya, saya siap."
Sang Buddha bangkit dan Angulimala mengikuti-Nya melewati desa menuju Savatthi. Pintu-pintu terbuka, burung-burung dan kera menghabiskan makanan yang tersedia dan menyisakan mangkuk kosong. Di sawah, lembu betina diperas susunya dan lembu jantan dihela petani membajak sawah.
Sementara itu di Hutan Jeta, para bhikkhu menanti dengan cemas. Aku menenangkan mereka dengan menjelaskan kekuatan cinta kasih Sang Buddha. Tetapi mereka tidak menghiraukan kata-kataku. Ketika Raja Pasenadi tiba untuk menunggu Sang Buddha, tanpa segan-segan mereka semua menceritakan kesusahan hati mereka. Aku menjelaskan kepada raja bahwa Sang Buddha mengatakan Angulimala membutuhkan-Nya, tetapi raja tidak percaya dan malah lebih cemas daripada para bhikkhu.
Kemudian aku bertanya, "Jika Sang Buddha berhasil membawa Angulimala dengan-Nya, apa yang akan Yang Mulia lakukan?"
Raja menjawab dengan emosi, "Saya akan langsung menghukum mati dia."
Pada saat itu aku melihat dari kejauhan Sang Buddha kembali dengan seorang laki-laki berjubah kuning, dan aku berkata, "Bagaimana jika misalnya Sang Buddha kembali dan membawa Angulimala yang telah berjubah kuning, yang rendah hati, yang tidak menyakiti makhluk hidup, tidak membunuh, tidak mencuri dan menjalani kehidupan Brahmana yang suci sebagai seorang anggota Sangha?"
Raja menjawab dengan sedih bahwa jika demikian halnya ia tidak punya pilihan lain selain melindunginya sebagai seorang anggota Sangha. Kemudian Raja menambahkan, "Tetapi mana mungkin orang yang demikian tak bermoral akan berubah menjadi suci?"
Aku menjawab, "Saya tidak tahu, tetapi lihatlah, Yang Mulia!" Dan aku menunjuk ke arah Sang Buddha dan seorang berjubah kuning yang berwajah tenang. Raja mengikuti arah yang kutunjuk, Raja mulai gemetar dan seluruh bulu kuduknya berdiri. Beliau berbisik pelan, "Tidak, tidak mungkin dia."
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
Seperti yang saya harapkan, Sang Buddha segera mengenalkan orang yang berjubah kuning itu sebagai Angulimala.
Raja berusaha mengontrol dirinya sendiri, tetapi masih tetap gemetar dan Raja meminta bukti bahwa orang tersebut adalah Angulimala. Lalu Angulimala menyebut nama ayah dan ibunya sehingga Raja pun percaya. Dengan segan dan rasa takut yang masih tersisa, Raja memberikan perlindungan padanya dan hal lainnya seperti yang diberikan kepada bhikkhu lainnya. Kemudian Raja menambahkan dengan emosi, "Tetapi adalah suatu keberuntungan jika para penduduk desa dan kota bersedia menghormatimu."
Angulimala menjawab dengan lembut dan rendah, "Saya tahu, Baginda, saya tahu. Saya tidak takut akan lemparan batu dan lembing, karena saya mesti menerima buah dari benih yang saya taburkan. Yang saya takutkan justru jika karma burukku tak pernah tertuai habis." Dia bertanya kepada Sang Buddha, "Dapatkah saya menebus kejahatan saya dan menemukan kedamaian seperti apa yang Guru katakan? Sejujurnya, sekarang saya dan kejahatan saya bagaikan segumpal daging busuk yang tidak dapat dipisahkan."
Saya Buddha menjawab, "Begitulah si penabur benih akan menuai hasil sesuai dengan benih yang ditaburkan. Kamu harus tetap maju dan menerima buah karma buruk yang pernah kamu perbuat. Tetapi tidak selamanya seseorang menuai dengan tepat apa yang ia taburkan, karena berkah Nirvana adalah tak berhingga. Jika kamu mencari kesucian dan memusatkan pikiran pada Nirvana, maka karma burukmu akan lenyap bagaikan sejumlah garam yang dilempar ke sungai Gangga, sejumlah garam yang dapat mengakibatkan secangkir air tidak dapat diminum."
Angulimala membersihkan debu pada kaki Sang Buddha sambil berkata, "Saya berlindung kepada Anda sebagai guru saya. Saya akan menemui para penduduk dan menerima buah karma buruk saya."
Raja dan juga kami semua sangat terharu melihat kenyataan yang kami saksikan. Raja berkata kepada Sang Buddha, "Guru sangat menakjubkan, dapat menjinakkan orang yang keji dan jahat, menenangkan yang gusar dan penuh kekerasan, Angulimala adalah seorang yang tidak dapat saya taklukkan dengan pedang dan gada, tetapi Guru dapat menaklukkan tanpa keduanya."
"Ah, Yang Mulia, ternyata cinta kasih lebih kuat daripada pedang ataupun gada. Dapatkah Anda lihat bahwa cinta kasih adalah segalanya?"
Raja menganggukkan kepala, "Saya akui, saya belum bisa melihatnya, mungkin suatu saat saya akan menemukan rahasia yang
Guru kuasai. Tetapi sekarang bukan waktunya, Sang Buddha, masih banyak kewajiban dalam kerajaan yang harus saya laksanakan."
"Lakukanlah yang terbaik," Jawab Sang Buddha, dan Raja pun pergi.
Aku bingung akan apa yang dikatakan Sang Buddha kepada Angulimala, jadi aku bertanya, "Saya tidak mengerti tentang akibat yang diterima seseorang dari perbuatannya, dan bagaimana pula benih jahat dapat terhapus. Dapatkah Guru menjelaskannya?"
"Karma buruk tidak selalu dapat dihapus, dan juga tidak selalu matang dan berubah. Proses karma tersebut tergantung kepada bagaimana keadaan hidup si pembuat karma saat ini. Dia yang mengikuti jalan kesucian, membayar karmanya saat ini juga, walaupun hukumannya kelihatan mengerikan, namun karma buruknya telah terhapus dan tak bersisa lagi karena dia telah menuju kedamaian Nirvana. Berkah Universal adalah manis dan tak berhingga melebihi air sungai Gangga.
Sore itu, ketika para bhikkhu kembali mengelilingi Sang Buddha, Angulimala kembali dari desa. Kepalanya penuh darah dan salah satu matanya tercungkil keluar. Para bhikkhu segera menghampirinya ketika ia roboh karena keletihan.
"Raja benar," dia berkata, "Penduduk melemparkan batu dan pisau padaku. Aku menerima buah karma burukku."
"Dan apakah kamu puas?" tanya Sang Buddha.
Angulimala menjawab dengan suara yang tenang dan lembut, "Saya puas. Ya, seribu kali, ya. Walaupun semua penduduk memukulku dan kepalaku seakan hendak dipecahkan, namun rasanya Lautan Keabadian terbentang di hadapanku dan sesaat rasanya aku terbawa arus kedamaian Nirvana."
"Semuanya baik untukmu, sahabat," Sang Buddha berkata dengan lembut. "Hadapi penderitaan lain yang akan menimpamu lagi, dan kamu akan menikmati kedamaian lebih dari yang telah kamu rasakan."
"Suatu petualangan yang paling menakjubkan," Angulimala berseru menang, dan pada saat ia berbicara, aku baru mengerti bahwa apa yang diterima seseorang tidaklah pasti sesuai dengan perbuatannya. Bila ia telah menjalani kehidupan suci, kejahatan akan lenyap seperti lenyapnya segumpal garam dalam sungai Gangga.
Setelah berjuang keras dalam waktu yang lama, Angulimala berhasil mencapai penerangan dan menjadi seorang suci.
Devadatta
Sebelumnya, aku telah pernah menyinggung tentang Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha yang lebih muda lima atau enam tahun dari beliau. Devadatta dianggap sebagai salah seorang tertua Sangha dan dihormati karena kekuatan gaibnya serta kepandaiannya dalam membabarkan Dhamma, sehingga akhirnya dia ditunjuk sebagai pemimpin para bhikkhuni. Aku sangat sulit memahaminya, karena sifatnya yang keras tanpa belas kasihan. Aku dengar pada masa mudanya dia selalu memandang rendah sepupunya, Pangeran Siddharta yang mempelajari olah raga menembak dan memainkan pedang sebagai kewajiban seorang pangeran, bukan sebagai kesenangan. Tetapi setelah Siddharta menjadi seorang Buddha dan dikelilingi umat, Devadatta, seperti yang lainnya, juga datang mendengarkan ajaran-Nya, dan menganggap ajaran Sang Buddha sesuai padanya sehingga ketika Pangeran Bhaddiya bergabung dengan anggota Sangha, Devadatta pun mengikutinya.
Dia mempunyai bakat yang baik dan mampu menerima semua yang diajarkan. Dia selalu duduk di sebuah gua di kaki bukit dekat Rajagaha untuk bermeditasi, dan segera memperoleh kesempurnaan dari konsentrasi. Ia mampu mengembarakan pikirannya ke mana dia suka. Tetapi meditasinya ada benar dan ada salahnya. Sang Buddha selalu menganjurkan untuk melatih meditasi dengan pikiran cinta kasih, pertama ditujukan kepada pikiran dan tubuh kita, sehingga kita tidak akan menyakitinya dengan kekhawatiran, kekasaran atau pun kemarahan, kemudian ditujukan kepada sekitar kita, memancarkan cinta kasih seperti cinta seorang ibu kepada putra tunggalnya. Terakhir, kita pancarkan ke seluruh alam, ke atas, ke bawah dan ke sekeliling, kemudian kita mulai sesuaikan dengan subyek yang sesuai dengan sifat kita. Devadatta tidak dapat bermeditasi dengan pikiran cinta kasih. Sang Buddha selalu mengingatkan kami bahwa konsentrasi pikiran akan menimbulkan kekuatan gaib, tetapi latihan itu bisa berbahaya, dan juga tidak menghasilkan pembebasan dan ketenangan. Tetapi Devadatta sangat gembira ketika ia memperoleh kekuatan gaib dan malah memamerkan keahliannya yang dianggap kebanyakan orang sebagai keajaiban, yang sebenarnya hanya aplikasi hukum alam yang memang sedikit diketahui orang. Dia tidak menghiraukan peringatan Sang Buddha dan malah semakin menyombongkannya.
Sewaktu Sang Buddha berusia tujuh puluh tahun dan menetap di Hutan Ghosita dekat Kosambi, Devadatta yang sedang bermeditasi
tiba-kepadaku karena kekuatan yang kumiliki." Kemudian dia teringat Ajatazattu, putera raja Bimbisara, ia segera mengambil mangkuk dan jubahnya menuju Rajagaha. Kelihatannya awan gelap perpecahan masih menggantung di langit Kosambi; daya-daya sesat yang menyelimuti kesadaran para bhikkhu di sana beberapa tahun yang lalu. Kini kesesatan itu tampaknya juga menguasai kesadaran Devadatta.
Devadatta menyeberang sungai Gangga dengan sampan dan segera tiba di Rajagaha. Sebaik tiba di sana ia langsung menemui Pangeran Ajatazattu dan memamerkan kekuatan gaibnya. Pangeran itu sangat kagum pada Devadatta. Untuk menunjukkan perasaannya itu, dia selalu menyediakan makanan setiap pagi dan sore kepada Devadatta dan pengikutnya. Devadatta menjadi terkenal seketika dan sangat dihormati. Mungkin hal-hal demikian mengambil bagian dalam memperberat ketidakseimbangan pikirannya, sehingga timbul perasaan baru di dalam dirinya, "Sayalah yang harus memimpin Sangha, bukan Gautama." Saat pikiran itu timbul, kekuatan gaibnya telah berangsur-angsur lenyap. Walaupun demikian, namanya semakin harum, dikenal dan dihormati.
Moggallana, yang berada di Kosambi bersama Sang Buddha, dengan kekuatan pandangan supranormalnya mengetahui jalan pikiran Devadatta, dan beliau melaporkan kepada Sang Buddha. Sang Buddha berkata, "Simpan rahasia itu, Moggallana. Jika ia memiliki sedikit kebijaksanaan saja, maka ia akan terselamatkan dari kebodohan. Tetapi sayang! Orang tak bijaksana itu terlampau cepat mengumbar