• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suddhodana, ayahanda Sang Buddha, adalah raja Suku Sakya yang beribukota Kapilavatthu, beliau merasa sangat sedih ketika Pangeran Siddharta meninggalkan istana, istri dan anaknya yang masih kecil untuk pergi ke hutan dan hidup sebagai seorang pertapa; untuk mencari sesuatu yang tidak diketahui oleh raja. Suddhodana sangat sakit hatinya mendengar kabar tentang penyiksaan diri yang keras yang dilakukan putranya. Suatu hari dia mengirim seorang pengawal untuk membujuk putranya kembali dan meninggalkan perbuatan bodohnya, tetapi putranya dengan tegas menolak, terpaksa pengawalnya kembali sendirian. Beberapa tahun kemudian terdengar kabar bahwa putranya mulai menyebarkan Dhamma dan memiliki banyak pengikut. Kemudian dia mendengar bahwa putranya sedang berada di Rajagaha, ibukota kerajaan Magadha. Walaupun sangat berjauhan dari Kapilavatthu yang dipisahkan oleh sungai Gangga, rasa rindu yang besar menyelimuti dirinya untuk melihat putranya sebelum dia meninggal, kemudian dia panggil seorang menteri kepercayaannya sambil berkata, "Pergilah ke kota Rajagaha dengan beberapa pengawalmu. Beritahu putraku tentang keadaanku dalam tahun-tahun belakangan ini, dan aku sangat ingin melihatnya sebelum meninggal dunia. Mohon padanya untuk kembali ke Kapilavatthu bersamamu."

Sesuai dengan perintah, menteri tersebut mengadakan perjalanan menuju Hutan Bambu di luar Rajagaha di mana banyak orang sedang mendengarkan ajaran-ajaran Sang Buddha. Untuk tidak mengganggu para pendengar, menteri tersebut berada di luar kerumunan orang dan turut mendengarkan. Segera saja dia lupa pada tujuannya begitu mendengar kata-kata kebenaran yang disabdakan Sang Buddha. Sang Buddha berbicara tidak seperti orang mulia atau brahmin lainnya. Ia bersabda dengan pernyataan yang jelas, dengan kekuatan yang tak dapat dijelaskan. Kedamaian dan kebahagiaan menyelimuti hati orang-orang yang mendengarnya, dan dunia beserta kekayaan menjadi benda-benda yang tidak berharga. Menteri tersebut lupa akan pesan Suddhodana, dan ketika Sang Buddha selesai berkhotbah, dia berjalan menyeruak kerumunan tersebut dan memohon pada Sang Buddha untuk menerimanya sebagai siswa.

Ketika menteri tersebut tidak kembali, Suddhodana mengirim menteri yang lain, tetapi menteri ini juga tidak pernah kembali. Kemudian Suddhodana mengirim Kaludayin yang hari kelahirannya sama dengan putranya yang juga merupakan sahabatnya. Raja

tidak kembali, dan mohon padanya untuk kembali memberi kabar walaupun kabar tersebut menyatakan bahwa putranya tidak akan pernah mau kembali.

Kaludayin berjanji akan memberi kabar walaupun mungkin dia juga akan bergabung dengan Sangha. Kaludayin kemudian memang tertarik pada ajaran tersebut, tetapi dia masih tetap ingat pesan Suddhodana dan merasa kasihan padanya sebagai seorang ayah yang telah lanjut usia. Beberapa hari kemudian, dia mendekati Sang Buddha untuk menyampaikan pesan ini.

Kini telah dua bulan lamanya Sang Buddha berada di Rajagaha, sejak lima bulan lalu meninggalkan Taman Rusa dekat Benares, di mana dia memberikan khotbah dhamma pada kelima siswanya yang pertama. Kaludayin menghadap Sang Buddha sambil berkata:

"Musim dingin hampir berlalu. Musim panas mulai tiba. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengadakan perjalanan melalui pinggiran desa. Alam hijau yang segar, pohon-pohon di hutan dihiasi bunga-bunga, jalan-jalan dipenuhi oleh wewangian bunga-bunga yang bermekaran, burung merak dengan bangga mengembangkan ekornya, burung-burung mengisi udara dengan nyanyiannya."

"Untuk apa kamu memberikan gambaran yang indah tentang desa di musim semi?" tanya Sang Buddha.

"Ayahandamu, Guru, sangat rindu untuk melihat Guru sebelum beliau mangkat, dan seluruh keluarga akan senang bila Guru berada di tengah-tengah mereka dan memberikan khotbah dhamma."

"Baiklah kalau begitu." jawab Sang Buddha.

Buru-buru Kaludayin kembali untuk menyampaikan berita baik ini pada Suddhodana. Bagi kami, memerlukan waktu enam puluh hari untuk mengadakan perjalanan dari Rajagaha di sebelah selatan ke Kapilavatthu yang terletak di kaki Gunung Himalaya.

Aku akan selalu mengingat perjalanan dengan Sang Buddha dari Rajagaha menuju kota kelahirannya. Hari-hari itu adalah hari-hari yang paling menyenangkan yang pernah kualami dan lebih menyenangkan lagi bila aku mengingat dan membandingkan tahun-tahun panjang yang berlalu dengan menjemukan, yang pernah kulalui dengan perasaan dan pikiran yang buntu. Hampir pada setiap desa Sang Buddha menginap sementara di bawah naungan hutan-hutan mangga yang dingin, dan penduduk desa selalu datang mengelilinginya. Mereka berkumpul di alam terbuka, dan Hutan Mangga ini menjadi tempat yang suci. Desa-desa tampak seindah yang dilukiskan oleh Kaludayin, dan di mana saja Sang Buddha lewat di dalam perjalanannya, penduduk desa dengan bahagia berbicara padanya sambil menyalakan

Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru

dupa wangi yang aromanya bagaikan wanginya bunga-bunga pagar hidup. Terkadang petani yang dibebani dengan pekerjaan berat dan kemiskinan, datang berbicara dengan Sang Buddha dan setelah itu kekhawatiran dan kelelahan segera lenyap dari wajah-wajah mereka, dan mereka menemukan bahwa hal-hal yang mereka cemaskan tidaklah seharusnya menjadi beban pikiran, dan bahwa sebenarnya ada jalan pemecahan dari kesulitan-kesulitan mereka yang tidak mereka ketahui. Adalah menyenangkan melihat kecemasan yang lenyap dari wajah mereka begitu bertemu dengan Sang Buddha. Tetapi kebahagiaan yang terbesar dari semuanya adalah di saat berada di dekat Sang Buddha.

Tibalah kami di sungai Gangga. Perahu-perahu yang biasanya digunakan untuk menyeberangkan orang telah hanyut oleh badai yang beberapa waktu yang lalu datang dengan tiba-tiba, tetapi orang-orang tersebut segera membuat rakit. Mereka menebang pohon-pohon dan ketika kami tiba mereka sedang mengikat kayu-kayu tersebut dan menutupnya dengan daun-daun dan rerumputan. Segera kami naik ke atas rakit dan menyeberangi sungai. Orang-orang tersebut mendayung dengan tangan dan kaki mereka dan memakan waktu yang lama untuk menyeberangi sungai yang luas itu. Ketika kami sampai di seberang sungai, perakit-perakit itu segera menarik rakitnya keluar dari air, meninggalkannya di tepi sungai dan melanjutkan perjalanannya.

Setelah menyeberangi sungai, kami berkesempatan bertemu dengan seorang pertapa pengembara. Salah seorang siswa baru dari persaudaraan kami memulai pembicaraan dengannya, dan dari pembicaraan mereka timbul perdebatan, siswa baru tersebut dengan keras mempertahankan ajaran Dhamma yang diberikan Sang Buddha padanya dan tidak menyakini yang lainnya hingga dia kehilangan ketenangannya, akhirnya kami lega ketika pertapa pengembara itu berbalik menuju jalan kecil yang lain dan berlalu. Kedamaian pada sore hari itu menjadi lenyap akibat perdebatan mereka.

Pada malam hari ketika kami mengelilingi Sang Buddha untuk mendengar Dhamma, Sang Buddha bercerita dan mengambil rakit sebagai perumpamaan.

"Mungkin orang yang membuat rakit dalam usahanya mencapai pantai seberang berkata, 'Rakit ini sangat bermanfaat bagi saya. Duduk di atas rakit dan mendayung dengan kaki dan tangan, saya telah menyeberangi sungai. Sekarang saya harus menyimpannya, mengangkutnya di atas bahuku dan membawanya bersamaku.' Apa pendapat kalian tentang orang yang seperti ini?"

Sebagai jawabannya kami tertawa dan Sang Buddha melanjutkan, "Demikianlah saudara-saudara, Dhamma yang saya ajarkan ini. Inilah alat untukmu untuk menyeberang menuju pantai yang terjauh yakni Nirvana, alat yang membawamu menemukan kedamaian batin. Jangan terikat padanya. Bila telah kamu gunakan alat itu untuk menyeberang menuju pantai terjauh ini, tinggalkanlah dia di belakang. Jika kamu menghargainya dengan berlebihan, ia akan menjadi beban yang menghancurkan, sama halnya dengan rakit yang akan menjadi beban bagi perakit yang membawanya serta dengan meletakkannya di atas kepalanya." "Berarti kita tidak boleh meyakinkan orang lain tentang Dhamma, Guru?" tanya siswa baru tersebut.

"Dhamma bukanlah ajaran yang mesti diperdebatkan," jawab Sang Buddha. "Dhamma adalah jalan kehidupan yang bebas dari kepalsuan dan penderitaan; menuju pencapaian kedamaian batin dan ketenangan. Seseorang yang telah mencapai kebebasan dan ketenangan batin tidak mempunyai teori untuk menentang teori-teori lain, tidak ada ide-ide untuk menentang ide-ide lain. Dia menyadari semua kesatuan benda-benda di dunia ini. Dia telah meninggalkan rakitnya di belakang."

Kini sungai Gangga telah hilang dari pandangan dan perjalanan kami lanjutkan menuju arah utara melalui Vesali, ibukota persekutuan Suku-suku Vajji dan merupakan pulau milik bangsawan Licchavi.

Kami tidak lama berada di sana, kemudian kami menuju arah barat laut melewati Devadha, pusat kota suku Koliya, suku ibunda Sang Buddha. Di sini untuk pertama kalinya kami menikmati keagungan Pegunungan Himalaya. Aku tidak pernah mengadakan perjalanan ke utara sejauh ini sebelumnya dan belum pernah melihat gunung-gunung yang penuh dengan salju abadi. Kegembiraan yang besar mengalir dalam relung-relung hatiku menikmati pemandangan ini. Begitu murni dan sempurna—benar-benar di luar jangkauanku, semurni dan sesempurna Nirvana—apakah hal ini berarti Nirvana juga di luar jang-kauanku? Untuk pertama kalinya keraguan ini menyelimuti pikiranku. Keraguan yang kian mendalam.

Kini kami melewati Taman Lumbini yang indah, tempat di mana Sang Buddha dilahirkan, kelahiran yang tiba sebelum ibunya mencapai kota kelahirannya, Devadha. Ada sebuah kolam bening di dekat pohon Bodhi suci. Tidak seberapa jauh tampak sekawanan lembu putih yang sedang makan rumput di padang, juga salju-salju putih Pegunungan Himalaya tampak jernih berkilauan ditimpa sinar mentari bulan April yang masih bebas dari debu musim panas yang segera akan menutupinya. Akhirnya kami sampai di Kapilavatthu, sebuah kota yang

Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru

dibentengi oleh tembok yang kokoh, dengan Sungai Rohini yang mengalir di sisinya melalui sebuah taman yang indah tempat di mana Sang Buddha bermain ketika masih remaja.

Pada saat kami tiba di kota itu, sebuah kota yang jauh lebih kecil dari Rajagaha, ada laporan pada seorang raja pengemis berjubah kuning yang tidak lain adalah Pangeran Siddharta, telah memasuki kota dengan murid-muridnya yang masing-masing memegang sebuah mangkuk di antara orang-orang miskin yang tinggal di gubuk-gubuk bambu. Suddhodana menyadari kehidupan yang telah dipilih oleh Sang Buddha, yakni meminta sedekah untuk secuil makanan, tetapi bagaimanapun perasaannya tersinggung melihat putranya sedang mengemis di wilayah kerajaanya sendiri. Kemudian Kaludayin memberitahu aku bahwa raja pernah berkeinginan untuk tidak mau mengakui Sang Buddha sebagai putranya, tetapi kekuatan cinta terlalu besar. Akhirnya dia berkeputusan menemui putranya. Ketika mereka bertemu, kemarahannya menyala kembali.

"Apakah perlu untuk mengemis makanan dari satu rumah ke rumah lainnya? Tidak adakah cara lain yang lebih pantas untuk memenuhi kebutuhanmu?"

Sang Buddha menjawab lembut, "Ayah yang mulia, adalah layak bagi penemu kebenaran untuk menerima makanan yang diberikan padanya."

Kemarahan raja agak sedikit mereda berkat kelembutan Sang Buddha, tapi dengan masih berang dia melanjutkan, "Bukankah kita tidak digariskan untuk hidup demikian sebagai pangeran Suku Sakya? Apakah pernah ada seseorang penerus marga kita yang melakukan perbuatan yang kurang terhormat ini?"

"Baiklah, ayahku yang mulia," jawab Sang Buddha lebih lembut, "Tetapi saya juga digariskan sebagai bangsawan penemu kebenaran, dan jalan kehidupan dari penemu kebenaran adalah menerima makanan yang tersisa walaupun bagai seorang pengemis.

Kemarahan raja luluh dan dia berkata, "Baiklah anakku, jika ini pendirianmu, biarkanlah saya memberimu makanan seperti yang lainnya."

"Dengan senang hati, ayah yang mulia. Besok saya dan saudara-saudara saya akan datang ke rumah Ayah," Suddhodana sudah puas dengan pertemuan yang sesaat ini, dan kemudian mereka berpisah.

Pada hari selanjutnya seluruh keluarga raja berhias diri dan mengenakan pakaian yang berkilau-kilauan dalam upacara menyambut bekas pangeran mereka dan menyiapkan makanan. Selesai acara makan raja duduk di samping putranya, tetapi tidak

meminta putranya untuk memberikan khotbah sebagai balasan seperti yang dilakukan oleh orang lain ketika menjamu Sang Buddha. Dia cuma duduk memandangi Sang Buddha. Sebelumnya aku tidak pernah memperhatikan betapa banyaknya kerutan di keningnya. Untuk sementara waktu aku terpana bahwa tidak ada penyesalan sedikit pun pada Sang Buddha, tetapi keterpanaanku segera lenyap ketika aku merasakan belas kasihan Sang Buddha melihat kerutan di kening ayahnya. Perlahan-lahan keheningan menyelimuti orang-orang yang ada. Kelihatannya kebahagiaan yang tidak didapatkan dari dunia ini menyelinap dalam diri mereka masing-masing. Aku dapat merasakan bahwa kepicikan dan kesulitan-kesulitan mereka menjadi lenyap. Hal ini tidak akan berlangsung lama. Di lain hari mungkin mereka dapat memecahkan persoalan-persoalan mereka, tetapi sekarang biarkanlah mereka menikmati sejenak ketenangan dan kegembiraan yang tidak didapatkan di dunia ini. Tak lama kemudian suara raja memecah keheningan ini. Ini bukanlah kata-kata yang telah dipersiapkan sebelumnya; kesombongan dan kebenciannya telah lenyap. Hanya saja masih tersirat duka dalam suaranya yang memelas.

"Oh, anakku, betapa teganya dirimu membiarkan semua ini? Betapa teganya kamu meninggalkan saya sendirian untuk menanggung beban memegang kekuasaan ini? Ketika saya mendengar kedatanganmu, saya segera menemuimu. Bagaikan seorang pengembara lelah di padang pasir yang mencari mata air, lalu ia terburu-buru menuju sumber mata air, namun setibanya di sana mata air itu ternyata telah kering dan lenyap. Saya melihat putra saya memiliki gambaran yang baik di masa tuanya. Tetapi hatinya—" Suaranya melemah. "Ke mana perginya hatimu? Saya adalah orang yang kehausan akan mata air yang kering itu." Orang tua itu tidak menangis, kekecewaan dan rasa sedihnya yang dalam tak lagi dapat dilukiskan dengan air mata.

Sang Buddha tidak berkata apa-apa. Semua orang tertunduk diam. Aku tahu mereka bukan sedang memikirkan raja, mereka cuma berharap bahwa kehadiran Sang Buddha yang membahagiakan ini akan berlangsung selamanya.

Tak lama kemudian Sang Buddha berbicara. "Ayah, saya membawa air kehidupan yang abadi untukmu. Tetapi sebelum Ayah meminum air keabadian ini, cinta pribadi dan cinta yang bersifat memiliki harus disingkirkan. Semua keinginan harus dilenyapkan."

Kesengsaraan yang terlukis di wajah tua sang raja kian mendalam. Aku mengerti bahwa dia tahu Sang Buddha berbicara tentang kebenaran, tetapi dia juga tahu bahwa Sang Buddha memintanya untuk

Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru

merelakan putranya, untuk melepaskan pikiran kolotnya tentang cinta pribadi terhadap keluarga, dan tugas-tugas seorang pangeran. Dia tidak dapat membalas pandangan Sang Buddha. Dia harus mempunyai waktu untuk memikirkan hal ini. Lalu dia bangkit meninggalkan ruangan di tengah-tengah keheningan ini. Sang Buddha juga segera bangkit dan meninggalkan ruangan. Pertemuan pun berakhir. Ketika kami melewati pintu keluar, aku mendengar orang-orang sedang berdiskusi tentang apa yang telah mereka saksikan. Bagaimana Pangeran Siddharta berada dalam suasana yang luar biasa ini? Apa maksudnya tentang air kehidupan yang abadi? Mengapa raja tidak memintanya untuk memberikan khotbah sebagaimana biasanya? Suatu hal yang penting adalah mereka semua berpendapat bahwa apa yang mereka alami ini, akan terulang lagi.

Kaludayin yang selalu berada di dekat raja, memberitahu aku bahwa Sang Raja tidak dapat tidur pada malam harinya. Semua argumen-argumen tersebut selalu berputar-putar dalam pikirannya. Tentang putra yang dilatih untuk memimpin dunia, tentang kewajiban-kewajiban yang harus dijalankannya sejak dia dilahirkan, dan kewajiban-kewajiban tersebut telah diabaikannya. Tetapi di balik semua argumen-argumen yang bertujuan membenarkan dirinya sendiri tersebut, timbul suatu pengertian di dalam dirinya, dan esok paginya dia menyuruh Kaludayin untuk meminta Sang Buddha memberikan khotbah di kerajaan pada semua orang yang mau mendengarkan.

Orang-orang telah datang berkumpul untuk mendengar khotbah Sang Buddha sebelum siang hari tiba. Mereka mengetahui sedikit sekali mengenai Pangeran Siddharta yang mengasingkan diri. Mereka mendengar bahwa dia telah menjadi seorang Buddha yang maha sempurna. Dan sekarang mereka mendengar tentang pengaruhnya yang sangat kuat pada seluruh anggota keluarga.

Ketika Sang Buddha masuk, dengan serentak mereka bangkit dan menyambutnya dengan salam. Namun demikian mata Sang Buddha tetap tertunduk menunjukkan sikapnya yang rendah hati. Ketika Sang Buddha membuka suara, pengharapan menyelimuti diri mereka seperti angin yang bertiup pada hamparan padi di sawah. Suara Sang Buddha terdengar jelas seperti suara genta yang terdengar dari kejauhan, bahkan orang-orang yang berada di luar kerumunan tersebut dapat mendengar setiap kata yang diucapkannya, seolah-olah Sang Buddha berbicara langsung pada mereka.

"Ini adalah rumah saya di mana saya pernah hidup penuh dengan kemewahan. Tetapi kebahagiaan tidak saya dapatkan dari kemewahan ini." Kerumunan tersebut mulai berdengung. Selama ini mereka yakin

bahwa jika seseorang berbuat baik dan mengabdikan diri, pada kehidupan yang akan datang akan dilahirkan di dunia ini penuh dengan benda-benda yang bagus dan mewah yang dapat membuatnya baha-gia! Sekarang mereka diberitahu bahwa kebahagiaan tidak didapati dari kemewahan ini! Aku melihat mereka kembali bertanya antara satu dengan lainnya. "Tidak," Sang Buddha melanjutkan setelah membaca pikiran-pikiran mereka. "Karena perbuatan baikmu, kamu akan dilahirkan pada tingkat kehidupan yang lebih tinggi daripada kehidupanmu sekarang ini. Tetapi tidak berarti berakhirnya penderitaan, karena semua adalah dukkha. Seorang pangeran dan bangsawan juga bisa menderita sama halnya dengan seorang budak. Jika seorang pangeran menderita karena kematian anaknya, tidakkah sama penderitaannya dengan penderitaan seorang pelayan yang juga kehilangan anaknya? Semua keturunan memiliki darah dan air mata yang sama."

Aku berpaling pada raja. Seperti yang lainnya dia juga merasakan bahwa pembicaraan Sang Buddha lebih ditujukan pada dirinya. Setelah beristirahat sebentar Sang Buddha melanjutkan, "Penderitaan terikat pada kelahiran dan kehidupan di dunia. Usia tua, penyakit dan kematian senantiasa mengikuti setiap kelahiran. Semuanya akan musnah. Sebagai orang muda saya melihat semua penderitaan di sekeliling saya, dan air mata saya meleleh melihat penderitaan saudara-saudara saya. Saya yakin ada jalan keluar dari penderitaan dunia yang fana ini. Jika tidak ada, maka hidup ini dipandang sebagai sesuatu yang sangat mengerikan, dan perselisihan-perselisihan tidak akan pernah dapat didamaikan. Tetapi saya telah menemukan bahwa perselisihan-perselisihan ini tidak akan pernah ada, jika jiwa kita bersih dan hati kita semua penuh dengan kebahagiaan dan kedamaian."

Saat Sang Buddha mengucapkan kata "Kedamaian", pertanyaan-pertanyaan mereka menjadi lenyap, suasana menjadi hening. Mereka menghayati ajaran baru ini dan merasakan dalam dirinya masing-masing rasa damai yang disampaikan oleh Sang Buddha. Beberapa lamanya Sang Buddha terdiam.

"Inilah Dhamma, hukum kehidupan yang menguasai semuanya. Memerangkap diri di dalam nafsu keinginan berarti memenjarakan diri dalam duka yang berkepanjangan. Tidak terikat pada keinginan-keinginan berarti bebas dari penderitaan. Hasilnya akan membawa kita ke dalam kedamaian dan kebahagiaan. Dan jalan menuju inti dari Dhamma adalah dengan memancarkan cinta kasih pada semua makhluk hidup tanpa meminta balasan dari siapapun. Bila tidak ada lagi pikiran tentang "Aku" dan "Milikku" maka telah tercipta

kebaha-Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru

giaan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata, dan penderitaan pun telah ditinggal berakhir.... Itulah air kehidupan yang saya bawakan untuk kalian." Kemudian Sang Buddha mengajarkan mereka Empat Kesunyataan Mulia dan Delapan Jalan Utama. Sang Buddha berbicara cukup lama, tetapi tidak seorang pun merasa jemu dan menyadari waktu yang berlalu. Matahari mulai tenggelam ketika Sang Buddha mengakhiri khotbahnya dan kebahagiaan yang besar terpancar dari wajah orang-orang tersebut bagaikan sebuah lampu yang menerangi ruangan yang gelap. Suddhodana menangis terharu. Semua kesombongan, kekecewaan dan cinta pribadinya telah lenyap. Sekarang dia bagaikan seorang anak kecil yang dibimbing oleh putranya sendiri menuju jalan yang terbuka untuknya.

"Dapatkah seorang raja melangkah di atas jalan itu?" tanyanya. "Semua orang dapat mengikuti jalan itu," jawab Sang Buddha. Wajah sang raja berseri penuh kebahagiaan; matanya telah terbuka dan dia telah maju selangkah, di mana dapat kita sebutkan memasuki sebuah aliran yang menuju Nirvana.

**********************

Yasodara, istri Sang Buddha sebelum beliau meninggalkan keduniawian, tidak bergabung dalam keramaian tersebut untuk mendengar khotbah. Harga diri dan rasa terluka masih terasa saat dia berkata, "Dia adalah suamiku, biar dia yang datang sendiri menemuiku."

Ketika untuk pertama kalinya dia mendengar suaminya memotong rambut dan mengenakan pakaian seperti seorang pengemis, tidur di atas tanah dan hanya makan sekali dalam sehari, dia juga segera menjalankan kehidupan yang sama. Tetapi hal itu mungkin dilakukan bukan karena keinginannya sendiri, mungkin di saat itu dia