Setelah Sang Buddha meninggalkan Vesali, Sang Buddha berjalan menuju Benares dan berkelana di antara orang-orang Kasi. Tetapi apa yang terjadi kemudian pada beliau tidak pernah aku dengar langsung, karena aku tidak menemani beliau dalam perjalanannya. Begitu beliau berangkat aku menderita sakit yang berat, aku tidak pernah sakit sebelumnya, masa muda dan tubuh yang sehat bagi aku merupakan suatu yang alamiah. Memang merupakan kenyataan bahwa di saat aku melakukan perjalanan aku sering melihat orang sakit, orang tua dan orang mati. Ada satu hal yang dapat diketahui berdasarkan intelektual seseorang yakni bahwa penderitaan adalah kebenaran utama dalam hidup, namun untuk menerima penderitaan itu ketika ia datang padamu, adalah hal yang lain lagi. Dan sekarang aku kasihan pada diriku sendiri dan benci akan rasa sakit, hari-hari berikutnya aku didera oleh gelisah yang berkepanjangan dan ketika derita itu berlalu, ia meninggalkan kelemahan dan keletihan serta rasa putus asa yang lebih parah dari rasa sakit.
Suatu hari aku terbaring dalam kesengsaraan yang dalam, dalam bayang-bayang, aku merasa Sang Buddha datang dan berdiri di sampingku, memandang dengan matanya yang bijaksana, mata terlembut di dunia. Beliau mengingatkan aku tentang perjalanan yang menyenangkan dari Rajagaha ke Kapilavatthu saat mengunjungi ayah-Nya. Ketika kami berdiri memandangi perahu besar di sungai Gangga sementara rakit sedang dibuat, beliau berkata, "Hari-hari sebelum saya menemukan penerangan, saya mengunjungi samudera timur. Di pelabuhan, sebuah kapal laut yang diperlengkapi dengan tiang kapal dan korset terdampar di pantai. Seorang pelaut tua mengatakan kepada saya bahwa perahu itu sudah berada di sana selama enam bulan ditempa terik mentari dan hujan silih berganti, menyebabkan ia menjadi rapuh dan hancur. Demikian juga halnya dengan seorang bhikkhu yang menjalani Jalan Tengah, dia akan melemahkan serta melepaskan belenggu itu dengan sendirinya; jangan resah, jangan merasa tertekan, dan jangan gelisah."
Bayang-bayang itu kemudian berlalu, tetapi hal itu seolah-olah bagaikan seorang yang kuat mengulurkan tangan menolong yang lemah. Setelah itu aku pun tertidur dengan tenang. Kejadian itu mengingatkanku pada penderitaan Sang Buddha sebelum mencapai Penerangan Sempurna, saat kekuatanku pulih kembali, aku merenung-kan dalam-dalam penderitaan-penderitaan yang kualami itu. Akhirnya
makanan. Hidup dan kekuatan baru datang kepadaku, dan aku dipenuhi rasa bahagia dan cinta kasih kepada seluruh dunia. Aku bahagia karena mampu melimpahkan perasaan belas kasih. Suatu hari ketika sedang mengumpulkan makanan, aku mendengar nyanyian sekelompok gadis petani yang sedang bekerja. Lagu itu sangat terkenal dan dulu lagu itu selalu menggugah perasaaanku yang terdalam. Walaupun lagu itu tetap sebagus yang dulu, namun aku menjadi sadar bahwa lagu itu tidak lagi memiliki kekuatan yang dapat menggugah emosi dan keinginanku. Aku mendengarkannya seperti angin yang berlalu di padang rumput. Akhirnya aku menyadari bahwa belenggu, kehausan dan keserakahan akan indera telah lenyap dari diriku seperti tiang yang lepas dari kapal. Demikian bahagianya aku seakan-akan aku merasa bagaikan telah mencapai penerangan sempurna. Aku mengingat kembali akan pikiran-pikiran yang penuh nafsu keinginan dan rasa dengki yang pernah mengendalikanku, dan aku menyadari bahwa hal-hal itu telah lenyap bagaikan tak pernah ada sebelumnya. Aku merasa begitu damai dan penderitaan pada hari-hari yang lalu telah berganti menjadi semangat hidup dan kebahagiaan.
Aku berjalan pulang dengan langkah yang bebas, ringan sambil merenungkan semuanya. Tiba-tiba aku tersandung sebuah batu dan terjatuh. Aku berusaha bangkit dengan rasa sakit dan nyeri di punggung. Aku tidak menghiraukannya dan segera bermeditasi di bawah pohon palem dekat gubukku. Tetapi malam itu punggungku terasa sakit sekali, dan minggu-minggu berikutnya menjadi lebih parah, sehingga kadang membuat aku tidak bisa tidur. Aku berpikir lebih baik beristirahat selama beberapa hari dan meminta salah satu bhikkhu untuk mengambil makananku. Aku masih bahagia karena kecelakaan kecil ini tidak mengurangi kegembiraan dan cinta kasihku terhadap semua makhluk.
Tetapi ketika hari-hari telah berlalu dan aku harus meminta maka-nan sendiri, rasa sakit masih belum hilang dan kadang lebih hebat lagi. Aku hanya mampu berjalan sedikit saja dan itu pun dengan susah payah.
Perasaan gembira yang semula ada mulai lenyap berangsur-angsur, dan aku kembali dilanda kesedihan yang dalam dan putus asa.
Aku berusaha menarik nafas dalam-dalam dan menggabungkannya dengan upayaku berkonsentrasi dalam meditasi, tapi sakitnya tidak kunjung reda, semakin berusaha bermeditasi, semakin terasa sakitnya. Semuanya terasa sia-sia dan lebih sia-sia lagi karena perasaan gembira yang ada telah lenyap. "Jika saja Sang Buddha berada di sisiku," pikirku, tetapi beliau dikabarkan telah
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
meninggalkan Benares dan sedang menuju Savatthi yang memerlukan perjalanan berminggu-minggu, itu pun jika aku sanggup berjalan sejauh itu, dan aku tidak yakin dapat melakukannya.
Ketika aku teringat Sang Bhagava, terkenang juga kata-kata mengenai terbentuknya diri. Ada diri jasmani saat kita terikat akan nafsu dan keinginan akan bentuk jasmani dan ada 'diri dalam bentuk pikiran' saat kita terikat pada kesempurnaan dan ide-ide. Tetapi ada diri yang halus dan tak berbentuk saat kita menikmati kegembiraan dari kebajikan yang kita perbuat. Aku telah menjauhkan diri dari inti keabadian seperti seorang yang menurut kehendak keinginan-keinginan rendahnya. Demikian cerdiknya Mara menggoda bahkan dalam kebajikan yang kita perbuat dan membentuk diri yang lain pada tempat di mana bentuk-bentuk diri yang lebih kasar telah kita musnahkan!
Sambil merenungkan dan mengakui kebenaran itu, aku bermeditasi lagi, berusaha keras di antara kesuraman dan keputusasaan untuk membuang diri tak berbentuk dan menemukan kedamaian. Tetapi semakin aku berusaha, bertambah rumit pula persoalan dan semakin terasa penderitaan yang tidak akan pernah berakhir. "Ketika pikiran buntu", teringat lagi kata-kata Sang Buddha, "Atau merasa tertekan dan lelah, maka saat itu tidak mungkin akan ada ketenangan dan meditasi. Seperti hendak membuat api dari tumpukan rumput basah."
Aku kemudian bangkit dan melakukan sedikit tugas merapikan biara dan membantu orang baru yang tiba. Keadaan memburuk tetapi aku tidak lagi menghabiskan energi untuk berkonsentrasi dan mencari kedamaian. Aku biarkan sakit di punggung dan kesedihan berjalan sebagaimana adanya. Keesokan paginya sewaktu meminta makanan, aku bertemu seorang gadis kecil bermain dengan anak-anak dari kampung lain. Aku telah sering berjumpa dengan gadis kecil itu dan tidak begitu memperhatikannya. Dia hanya memiliki satu kaki dan berjalan pincang dengan tongkatnya, tetapi dia tertawa ceria dan berteriak seperti anak-anak lain sambil bermain lumpur. Aku menjadi sangat malu bila dibandingkan gadis kecil itu yang keadaannya lebih menderita tetapi tetap ceria dan bahagia. Aku demikian bodoh dan mudah putus asa. Sesuatu memasuki benakku dan membuatku agak tenang. Aku harus belajar seperti dia. Aku telah mengidentikkan diriku dengan jasmaniku, menciptakan 'diri-jasmani'. Sambil merenungkan bahwa sebenarnya jasmani ini bukanlah 'Aku', aku teringat si tukang pangkas, Upali yang menceritakan penemuannya berdasarkan pengalamannya sendiri bahwa kepandaiannya bukanlah dirinya yang
sebenarnya. Menurutnya, "Ini adalah suatu hal yang istimewa tetapi sulit dipahami. Lihatlah monyet yang mengguncang-guncang pohon seperti gempa bumi itu. Lihat, sekarang ia berpindah-pindah ke pohon-pohon lain, dan berbuat serupa tanpa mendapat apa-apa. Dia berpikir bahwa dia dapat melakukan segala sesuatu dengan otaknya yang demikian tak berarti, padahal itu hanya menimbulkan kesulitan bagi dirinya sendiri."
Sekarang aku menemukan hikmah dari rasa sakit itu, dan aku ingin segera bertemu dengan Sang Buddha serta mendengarkan penderitaannya sebelum mencapai penerangan sempurna. Perjalanan pada musim hujan itu ke Savatthi memerlukan waktu hanya dua bulan, aku berjalan pelan sekali. Bagaimanapun, aku rasa masih dapat tiba tepat pada waktunya, jadi sewaktu fajar mulai menyingsing aku berangkat sambil membawa mangkuk, walaupun anggota Sangha ke mana-mana selalu berjalan kaki, namun aku yakin Sang Buddha akan mengijinkan bagi yang pincang untuk memakai kereta lembu jika ditawarkan. Tetapi aku dapat berjalan secepat kereta itu.
Biasanya perjalanan ke Savatthi akan melewati Kapilavatthu dan aku merasa Sang Buddha tinggal agak lama di sana. Ketika hampir mencapai kota ini aku bertemu Sariputta yang mengatakan Sang Buddha menetap di sana sebelumnya, dan sekarang telah berada di Savatthi. Sewaktu aku menceritakan tentang rasa sakitku, beliau pun mengulang kembali kata-kata Sang Buddha kepada pesakit Nakulapilar yang tua di luar Kapilavatthu.
Nakulapilar sakit dan sangat resah dan sering menyesali dirinya sendiri. Ketika Sang Buddha menjenguknya, Nakulapilar berkata, "Saya orang tua renta yang selalu sakit-sakitan dalam hidup yang sudah akan berakhir ini. Saya selalu menderita dan merana. Jika anda atau bhikkhu tua lain menjenguk saya, saya akan merasa lebih baik. Tetapi tidak ada seorang pun yang mengunjungi saya. Saya sangat sedih dan menderita."
Sang Buddha memandangnya dengan belas kasih dan berkata, "Benar, tubuhmu lemah dan merana, tetapi siapa yang kebahagiannya selalu tergantung pada kesehatan dan kondisi tubuhnya, akan kecewa. Kita tidak dapat menggantungkan keseharian kita pada kesehatan, biar-pun hanya untuk sehari."
"Tidak, saya rasa tidak," keluh orang tua itu. Sang Buddha melan-jutkan, "Tubuh tidak akan luput dari celaka dan penyakit, dan seandainyapun luput dari hal itu pada akhirnya akan hancur dan mati. Mengharapkan jasmanimu sebagai penolong, sama saja mengharap sesuatu yang telah menyusahkanmu, yang selalu berubah, yang selalu
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
akan hancur. Tetapi ada pertolongan abadi dan kamu dapat menemukannya sekarang."
"Saya tidak melihat apapun yang tersisa bila kekuatan dan keseha-tan telah buruk," Orang tua itu kembali mengeluh, "jadi kita harus bergantung kepada apa?"
Sang Buddha memandangnya dengan penuh cinta kasih sambil berkata, "Jika kamu memiliki Diri Sejati, berlindung kepada Dhamma, yang menguasai segalanya; kelemahan dan sakit tidak berpengaruh lagi kepadamu. Walaupun tubuhmu sakit tapi Dirimu yang sejati itu tidak akan sakit, dan kamu dapat berlindung padanya, sebuah pulau yang melindungimu dari badai penderitaan hidup."
Nakulapilar mendengar semua nasehat Sang Tathagata dan sepenuhnya paham. Kini ia bebas dari segala sakit dan penderitaan batin. Dia berlindung kepada Hukum Kesunyataan dan Dirinya yang sejati. Wajahnya sejernih Sang Buddha ketika dia pergi meninggalkan beliau.
Dalam perjalanannya dari daerah tersebut dia bertemu dengan Sariputta yang segera mengenali wajahnya yang damai. Dia berkata, "Nakulapilar, kamu tentu baru saja bertemu dengan Bhagava."
"Ya, saya bagaikan diberi makanan dewa-dewi."
"Ceritakan kepada saya apa yang terjadi dan apa yang beliau katakan sehingga wajahmu begitu bersinar."
Dan Nakulapilar menceritakan kembali kepada Sariputta mengenai pertemuannya dengan Sang Buddha dan suaranya penuh dengan kegembiraan, tetapi Sariputta tidak puas, baginya wejangan Sang Buddha belum sempurna, jadi ketika Nakulapilar berhenti, dia berkata:
"Apakah kamu menanyakan kepada Sang Sugata bagaimana tubuh dan pikiran menjadi sakit dan bagaimana tubuh menjadi sakit tetapi pikiran tetap sehat?"
"Tidak, tapi tuan yang terhormat, maukah anda menjelaskan kepada saya demi kesejahteraan saya?"
"Marilah kita duduk sebentar," seru Sariputta, "Dan saya akan menjelaskan kepadamu." Mereka duduk di bawah pohon dan Sariputta melanjutkan:
"Mereka yang kurang mengerti akan menganggap tubuh adalah pribadi sebenarnya, dan jika tubuh sakit mereka akan berkata, 'Saya menderita' bukan 'tubuh saya menderita.' Atau menganggap emosi dan perasaan adalah pribadi sebenarnya dan berkata 'Saya kurang enak.' Padahal hanya perasaan mereka yang kurang enak mereka selalu
menyebut 'aku' dan 'milikku'. Ini bukan cara yang benar. Kamu bukan tubuhmu, bukankah demikian?"
"Tidak," jawab Nakulapilar yang masih teringat kata-kata Sang Buddha, "Tidak, saya bukanlah pribadi sebenarnya; saya hanya membawa serta tubuh ini."
"Benar," Sariputta mengiyakan sambil berusaha memperjelas dan menambah pengertian kepada Nakulapilar. Sariputta kemudian melan-jutkan, "Jika seseorang mengatakan tubuh adalah diri sebenarnya maka bila tubuh sakit, pikiran akan sakit juga. Tetapi jika seseorang menjalani delapan jalan tengah dia akan berkata kepada dirinya, "Aku bukanlah milikku". Dia tidak akan terikat pada tubuhnya dan bila tubuhnya rusak, sakit, dia tidak akan menderita, serta putus asa. Jadi biar pun orang itu sakit, tetapi pikirannya jernih. Apakah kamu mengerti?"
"Ya, saya mengerti sekali", jawab Nakulapilar tanpa terpaku pada logika Sariputta, melainkan pada pandangan Sang Buddha mengenai penderitaan hidup dan Dhamma, Hukum Kesunyataan dan berlindung pada semuanya. Dia masih diliputi kegembiraan dan dia hampir tidak mendengar Sariputta mengakhiri; "Jika kamu menyadari bahwa tubuh dan perasaanmu bukan dirimu yang sebenarnya, maka kamu tidak akan terikat pada kekuatan dan masa mudamu. Bila kamu tidak melekat pada tubuh dan keinginan maka kamu akan bahagia."
"Ya, dan kamu telah membuat pulau dari diri yang sebenarnya." tambah Nakulapilar, "Tubuh adalah laut yang penuh badai yang memecah pulau dan pulau itu tidak akan terpengaruh. Terima kasih, tuan yang terhormat. Kamu telah menjelaskannya segala sesuatunya dengan baik."
Sariputta bangun dan memberkahi Nakulapilar, sadar bahwa sebenarnya Sang Buddha telah membawa orang tua itu ke realita tertinggi yang tidak dapat ditelaah hanya dengan logika atau pengetahuan. Sariputta menceritakan ini bertentangan dengan dirinya sendiri. Dia seorang yang rendah hati dan tersenyum bila mengingat bagaimana ia masih berusaha menolong Nakulapilar padahal Sang Buddha telah dapat melakukannya hanya dengan beberapa kata. Namun bagaimanapun Sariputta telah menolong aku, sehingga aku menjadi lebih tegar dan bersemangat menuju Savatthi.
Dalam perjalanan menuju Hutan Jeta di Savatthi, aku bertemu dengan seorang Brahmana gemuk yang periang dan baik hati, berpa-kaian putih dengan menunggang kuda betina. Dia tersenyum ramah dan demikian juga aku, walaupun masih teringat Nakulapilar. Kami saling memberi salam padahal kami tidak saling mengenal.
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
"Nama saya Janussoni", sapanya. "Saya mau pulang ke rumah setelah mengunjungi Yang Agung Gautama," dan senyumnya pun merekah. "Gautama, yang meninggalkan jejak kaki bagaikan jejak seekor gajah besar," Dia pun tertawa dan melanjutkan bahwa sewaktu ia meninggalkan kota, ia bertemu Pilotika. Ini adalah cerita tentang pertemuannya yang kebetulan itu, sebagaimana yang kuingat:
"Apa maksud Anda mengunjungi kota ini pada pagi-pagi buta, Pilotika yang mulia?"
"Saya baru saja mengunjungi Yang Maha Sempurna, Sang Buddha."
"Maksudmu Gautama?" tanya Janussoni. "Saya pernah mendengar tentang beliau dan bagaimana Anathapindika membeli taman Pangeran Jeta untuk Beliau dengan menutupi seluruh permukaan tanah taman dengan uang emas. Bagaimana pendapatmu tentang beliau? Apakah pemikirannya luas? Apakah dia orang terpelajar?
"Saya terlalu rendah untuk memahami ajaran pertapa Gautama," jawabnya dengan semangat, "Hanya orang suci yang dapat melakukannya. Saya hanya debu bila dibandingkan dengan beliau."
"Kamu sangat membanggakan beliau."
"Semua makhluk tak terkecuali saya sangat menghormatinya," sambung Pilotika dengan semangat, "Beliau dipuja para dewa dan manusia."
Janussoni menunggu informasi selanjutnya dan berniat menunggu dengan sabar sampai dia berkeinginan untuk menjelaskannya. Akhirnya dia bertanya. "Lalu apa yang kamu peroleh dengan begitu setia kepada ajaran-Nya?"
Pilotika melanjutkan, "Sebagaimana pemburu yang mengikuti bekas jejak kaki gajah hutan, demikian juga aku yang mengikuti empat jejak kaki Sang Buddha, yang seketika kukenali sebagai Yang Maha Sempurna."
"Dan Pilotika, apakah itu empat jejak kaki beliau?"
"Saya telah melihatnya," jawab Pilotika sungguh-sungguh. "Para bijaksana datang kepada pertapa Gautama, membahas segala masalah dan berbagai hal lainnya, mereka berusaha menjatuhkan beliau dengan berbagai pertanyaan yang menyulitkan, tetapi akhirnya mereka sadar setelah mendengarkan khotbah beliau kemudian menjadi muridnya. Bukankah ini bagaikan mengikuti jejak kaki dari sebuah gajah raksasa?"
Akhirnya Janussoni percaya. Dia turun dari kereta kuda putihnya, membungkuk hingga jubahnya mengenai tanah dan berkata, "Semoga
suatu hari saya dapat bertemu dengan pertapa Gautama dan berbicara dengan Beliau."
"Yakinlah, Brahmin Janussoni dan anda akan menemukan apa yang saya katakan."
Janussoni tidak usah menunggu terlalu lama. Begitu Pilotika hilang dari pandangannya, dia segera berniat mengunjungi Sang Buddha segera karena urusannya dapat ditunda. Dia mengatakan bahwa dia dan Sang Buddha langsung segera saling menyukai ketika baru bertemu. Dia menyebut Sang Buddha dengan nama keluarga beliau sepertinya ia sudah sederajad dengan Sang Buddha. Dia tidak pernah menjadi murid dalam arti sebenarnya, karena ia tak dapat lepas dari upacara kurban, hidup senang dan bersuka ria dengan teman-temannya. Dia suka medengarkan gosip di sudut-sudut jalanan. Dia kenal banyak orang penting di Savatthi. Tetapi dia sering mencari Sang Buddha, mendengarkan khotbahnya, dan bertanya kepada-Nya. Dan Sang Buddha menjawab semua pertanyaannya dan menceritakan kehidupan masa lalunya yang tidak disebutkan Janussoni lagi.
Setelah berpisah dengan Janussoni, saya menuju Taman Jeta. Saya berniat menanyakan kepada Sang Buddha mengenai penderitaan-Nya sewaktu sendirian di hutan setelah meninggalkan istananya pada usia dua puluh sembinan tahun. Tetapi sewaktu berjumpa dengan beliau, saya merasa tidak perlu menanyakan lagi. Bibirku terasa kaku. Sudah lebih dari cukup jika dapat berdekatan dengan beliau. Beberapa minggu kemudian Janussoni mengunjungi Sang Buddha, aku mendengar apa yang aku renungkan selama terbaring sakit. Kita semua tahu, Sang Gautama meninggalkan keduniawian, istri dan anak, dan bertapa selama enam tahun untuk mencari jalan menolong semua makhluk. Namun hanya sedikit dari kita yang mengetahui lebih jauh apa yang terjadi pada beliau selama enam tahun itu. Janussoni, yang lebih suka keramaian bertanya kepada Sang Buddha:
"Tentunya sangat sulit dan berbahaya hidup di pedalaman jauh dari manusia, Gautama. Hidup sendiri bagaikan mati. Sebelum Anda mencapai penerangan tidakkah Anda merasakan kesunyian yang teramat sangat? Dan bagaimana dengan bahaya binatang liar, perampok dan bencana alam lainnya?"
"Anda benar, Brahmin, saya pernah merasa kesunyian. Tetapi saya kemudian malu karena teringat pertapa-pertapa lain yang mencari penerangan untuk dirinya sendiri saja tidak kesunyian, mengapa saya yang mencari pembebasan bukan untuk diri sendiri melainkan untuk semua makhluk harus merasa kesunyian?"
Menelusuri Jejak Kaki Sang Guru
"Pada saat tertentu, ya, Brahmin, misalnya saat seekor binatang lewat atau angin keras menjatuhkan dedaunan atau burung merak mematahkan ranting. Kemudian saya berpikir betapa bodohnya bila saya dikuasai ketakutan dan apa yang kita pikirkan bisa menjadi ada. Lalu saya akan berkata pada diri sendiri:
'Biarkan mereka sesukanya dan aku akan menyambut mereka tanpa merubah posisi saya.' Saya akan tetap berjalan bila sedang berjalan, saya akan tetap tidur atau berbaring bila sedang tidur atau berbaring. Rasa takut akan segera hilang."
"Dan mengapa Anda tetap bertahan di hutan, Gautama?" "Karena saya ingin menolong semua makhluk."
Aku berharap Janussoni akan melanjutkan pertanyaan mengenai penderitaan beliau setelah mengatasi ketakutan. Tetapi pada saat itu datang seorang wanita muda dengan seorang bayi mati di pangkuannya. Aku pernah melihatnya sewaktu terakhir kali di Savatthi. Namanya Kisa Gotami. Tubuhnya kurus, penampilannya sederhana, berasal dari keluarga miskin. Dia selalu diperlakukan dengan buruk, terutama oleh keluarga suaminya. Setelah dia melahirkan anak laki-laki, orang mulai menghargainya, itulah saat terakhir aku bertemu dengannya. Sekarang wajahnya sangat berduka. Dia mengatakan kepada Sang Buddha bahwa ia sudah meminta obat dari rumah ke rumah untuk menghidupkan kembali anaknya, tetapi mereka menertawakannya. Kemudian dia bertemu dengan seorang yang baik hati yang menyarankannya untuk mencari Sang Buddha. Kesedihan membuat ia seperti orang gila. Beliau memandangnya dengan lembut dan berkata:
"Saudari, pergilah dan bawalah kemari sedikit biji mostar yang harus berasal dari keluarga yang anggotanya belum pernah meninggal dunia."
Wanita itu beranjak dari tempatnya setelah membersihkan kaki Sang Buddha dengan gembira. Sore itu dia kembali.
"Gotami, apakah kamu sudah menemukan biji mostar itu?" tanya Sang Bhagava.
"Biji mostar itu seharusnya sudah saya dapatkan," jawabnya dan dia melanjutkan bahwa sewaktu ia meminta pada rumah pertama yang dikunjunginya, tuan rumah dengan senang hati memberikan biji itu