• Tidak ada hasil yang ditemukan

Basis Islamisme Baru: Aliansi dan Kontestasi Keberagamaan

Kampus dengan segala dinamika kemahasiswaan yang terdapat di dalamnya, selalu menarik perhatian banyak pihak, khususnya kekuatan politik keagamaan. Arus Islamisme pun memiliki jejak historis yang lama dengan jaringan aktor dan keorganisasian di dalam kampus, bahkan tidak sedikit dari para aktor atau tokoh islamisme yang berasal dari lingkungan kampus. Dinamika kontestasi politik keagamaan di kampus selalu dinamis, bukan sekadar adu wacana semata, namun kerapkali pula saling berebut akses kuasa di dalam mempengaruhi kebijakan politik di kampus. Organisasi- organisasi kemahasiswaan mainstream seperti HMI, PMII menjadi motor utama dalam dinamika di kampus.

Memasuki alam reformasi politik yang ditandai oleh adanya kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat, organisasi kemasyarakatan dan kemahasiswaan baru makin tumbuh bermunculan di lingkungan kampus. Organisasi kemahasiswaan baru mampu menciptakan daya tarik sehingga memiliki banyak pengikut di kalangan mahasiswa. Bahkan eksistensi mereka dapat secara perlahan dapat menggeser kekuatan pengaruh organisasi lama, seperti HMI dan PMII. Bagian ini akan mengurai dinamika organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra kampus, terutama di UIN Raden Intan Lampung, sedangkan untuk UML tidak banyak diurai karena organisasi lama, seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sangat dominan dan sebagaimana umumnya kampus Muhammadiyah memberikan larangan organisasi kemahasiswaan selain organ Muhammadiyah untuk masuk kampus. Dalam konteks UML, banyak mahasiswa

Prodi PAI UML yang mengikuti organisasi di luar kampus seperti bergabung dengan Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) yang basis utamanya berada di Masjid UNILA.

Dinamika kemahasiswaan di UIN Raden Intan Lampung sungguh sangat menarik, khususnya organisasi kemahasiswaan baru yang kini tengah berkembang mekar (flourish) dan memperoleh perhatian serta daya tarik mahasiswa untuk terlibat sebagai simpatisan, anggota dan pengurus. Terdapat tiga Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) intra kampus yang kini tengah berkontestasi, yakni UKM Badan Pembinaan Dakwah Kampus (Bapinda) yang mengembangkan ideologi tarbawi- tradisi Ikhwanul Muslimin, UKM Al-Ittihad yang mengembangkan ideologi salafi dan UKM Permata Sholawat yang mengembangkan ideologi ahlussunnah waljamaah-annahdliyah. Ketiga UKM ini akan diulas sejarah berdirinya, model kaderisasi dan kegiatannya dalam menarik simpati para mahasiswa dan juga jaringannya dengan kelompok strategis lainnya di luar kampus.

Diawali dengan UKM Bapinda yang lebih lama eksistensinya dibandingkan dengan dua UKM lainnya. UKM Bapinda berdiri pada tahun 1996 sebagai cikal bakalnya dari UKM Rohis. Tahun 1996 sampai menjelang Indonesia memasuki tahun krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997, sedang marak-maraknya jaringan antar lembaga dakwah kampus melakukan konsolidasi dan membangun eksistensi di kampus. Motor penggerak utamanya adalah kampus besar seperti Masjid Salman ITB dan Jamaah Salahuddin UGM.

Menjelang reformasi para aktivis dakwah kampus ini juga mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan ikut terlibat dalam aksi-aksi penurunan rezim Soeharto. Setelah memasuki era reformasi pasca tumbangnya rezim Soeharto, KAMMI ini kemudian resmi menjadi bagian dari organ sayap kemahasiswaan Partai Keadilan (PK) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Para aktivis KAMMI banyak terlibat dalam kepengurusan Bapinda. Bahkan pembinanya salah seorang dosen Fakultas Dakwah yang memiliki kedekatan jaringan dengan PKS.

UKM Bapinda memiliki visi sebagai wadah perjuangan guna membina dan mengembangkan dakwah Islamiyah di lingkungan UIN Raden Intan Lampung dan masyarakat secara luas. Misinya adalah (a) melakukan proses pembinaan dan pengembangan mahasiswa sehingga menjadi kader da’i dan da’iyah (b) mengembangkan khazanah keilmuan mahasiswa sehingga mempunyai wawasan luas serta mampu berkontribusi terhadap upaya-upaya perbaikan umat (c) mengoptimalkan fungsi ilmu teknologi sebagai media dakwah. Sebagai UKM di tingkat Universitas, UKM Bapinda memiliki organ di tingkat fakultas, sebagaimana di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UKMF Ibroh, Fakultas Dakwah namanya UKMF Rabbani, Fakultas Syariah namanya UKMF Gemais, Fakultas Ushuluddin namanya UKMF Salam dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis namanya UKMF Ikrimah. Para mahasiswa dapat masuk menjadi anggota langsung di tingkat universitas, yakni UKM Bapinda dapat juga bergabung langsung UKMF organ jaringan UKM Bapinda di tingkat fakultas.

Hasil wawancara salah seorang pengurus UKM Bapinda Periode 2017-2018 (23/10/18), proses koordinasi antar organ berjalan sangat baik, terutama dalam proses

rekrutmen anggota dan proses kaderisasi. Tahun 2108 ini menurutnya UKM Bapinda berhasil melakukan rekrutmen kader dari kalangan mahasiswa baru sebanyak 500 orang mahasiswa. Jumlah perekrutan kader yang sangat banyak mengalahkan para organisasi kemahasiswaan lainnya ini karena pendekatan dua hal, yakni para aktivis UKM Bapinda mulai membangun komunikasi dan menarik simpati sejak calon mahasiswa mendaftar di UIN Raden Intan Lampung. Para aktivis UKM Bapinda dengan pendekatan akhlak kesopansantunan membantu memberi informasi cara mendaftar dan bahkan memberikan tumpangan di kos-kosan bagi para calon mahasiswa. Kedua, membangun parade pertunjukan yang menarik saat pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) di kalangan para mahasiswa baru sebelum memasuki jadwal perkuliahan.

Ada tiga level training kaderisasi UKM Bapinda, yakni tahap pertama, pembinaan akhlak, tahap kedua, manajemen organisasi dan tahap ketiga pengembangan kemasyarakatan. Untuk memelihara keaktifan anggota setelah memperoleh kaderisasi tahap pertama, UKM Bapinda melakukan strategi pendampingan harian, mingguan dan bulanan. Pendampingan harian yakni melalui pendampingan baca tulis Al-Quran. Sedangkan untuk pendampingan mingguan melalui pengajian mingguan yang dilaksanakan secara bergilir setiap musalla fakultas atau masjid yang terdapat di Fakultas Ushuluddin. Sedangkan pendampingan bulanan yakni melalui Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) yang biasanya di tempat yang lokasi alamnya sangat nyaman untuk melakukan tadabbur alam, dan setiap akhir tahun melakukan kegiatan tablig akbar.

UKM Bapinda juga berjejaring erat dengan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) yang memiliki struktur organisasi di tingkat nasional dengan nama Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas), sedangkan untuk organ di tingkat daerah dinamai Pusat Komunikasi Daerah (Puskomda) Lampung. Pada pergelaran FSLDK ke 5 di IAIN Matro pada bulan Juli 2017, terpilih sebagai Ketua Puskomda Lampung, Wahyu Setiawan, Ketua umum UKM Birohmah Unila.

Di dalam Puskomda-FSLDK ini terdapat Badan-Badan Khusus (BK), salah satunya adalah BK Isu yang berperan dalam mengelola isu-isu strategis di public, seperti isu terkait penyimpangan aqidah, LGBT, penistaan agama, cadar dan lainnya. Isu-isu semacam itu dikaji dan dikelola sedemikian rupa agar memperkuat opini yang menjadi target jaringan FSLDK di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Puskomda Lampung dalam proses memperkuat leveling kaderisasi kurikulum pengkaderan mengikuti kurikulum Gemasi ITB, yang terdiri dari lima tingkatan pra mula, mula, madya dan mandiri.

Dengan memperhatikan struktur keorganisasian, pendekatan pendampingan kader, berbagai even kegiatan kreatif yang dilakukan dan jejaring UKM Bapinda di kampus dan di luar kampus dengan Puskomda-FSLDK Lampung, maka sangatlah wajar bila pengaruh kultural UKM ini di kalangan mahasiswa UIN Raden Intan Lampung sangatlah kuat dan mampu menggeser pengaruh kultural organisasi kemahasiswaan ekstra sekalipun seperti HMI dan PMII. Jejaring dengan para alumninya yang sudah

berkiprah di masyarakat juga terjalin dengan baik, bahkan menurut Ridho Setiawan yang dulu pernah menjabat sebagai UKMF Rabbani dan setelah itu menjadi Ketua UKM Bapinda, database keanggotaan dan alumni terdata dengan baik sehingga ketiga ada kegiatan yang membutuhkan pendanaan cara mengaksesnya begitu mudah.

Selain UKM Bapinda, UKM pendatang baru yang berdiri sejak tiga tahun yang lalu adalah UKM Al-Ittihad. Pendiri dan motor penggerak utamanya adalah adalah Ust.

Pra Mula Mula Madya Mandiri

Gambar 4.6: Tabel Level Kaderisasi (Sumber: Risalah Manajemen Dakwah Kampus-Revised;

GAMAIS ITB, merujuk tulisan Rudy Santoso)

Dr. Buchori Abdus Shomad (BAS), dosen Fakultas Ushuluddin, Koordinator GNPF MUI, pengurus MIUMI dan organisasi salafi lainnya. Relasi dan pengaruh BAS di kampuslah yang membuat UKM Al-Ittihad ini secara mudah berdiri sebagai organisasi intra kampus di tingkat universitas. UKM Al-Ittihad memiliki Visi dan Misi, yakni:

membentuk kepribadian mahasiswa cerdas intelektual dan cerdas spiritual berlandaskan Quran dan Hadits. Adapun Misi UKM AL-ITTIHAD adalah: Membumikan Al-Quran dan Al-Hadits, Menggali dan mengembangkan potensi mahasiswa untuk izzul Islam wal muslimin, dan menjadi pelopor dalam membina akhlaqul karimah, ukhuwah islamiyah dan ubudiyah.

UKM ini aliran keagamaannya sangat dekat dengan ideologi pendirinya Ust BAS, yakni aliran Salafi. Model kegiatannya dalam pembinaan kader dan juga meraih simpati mahasiswa agar bergabung, yakni pengajian mingguan yang dilakukan setiap selasa sore di Masjid Arrohmah samping Fakultas Ushuluddin. Para narasumbernya adalah ustaz-ustaz Salafi. Sewaktu peneliti melakukan observasi mengikuti pengajian yang dilakukan, cukup banyak para mahasiswi yang mengikuti pengajian dengan busana bercadar. Dua orang mahasiswi Prodi PAI yang bercadar juga mengikuti pengajian UKM Al-Ittihad ini, saat akan berangkat sempat dialog dangan mereka sebelumnya. Kegiatan bulanan seperti Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) juga dilakukan.

Menurut Ustaz BAS, pada tahun 2018 ini UKM Al-Ittihad berhasil merekrut kader mahasiswa baru sebanyak 100 orang. Setelah mengikuti kaderisasi tahap pertama berupa Latihan Kader (LK) kepemimpinan dasar, khususnya bagaimana membangun karakter sebagai pemimpin, aspek ubudiyah dan ukhuwah. Tahap kedua nanti setelah melakukan berbagai proses kegiatan yakni, penekan pada tauhid dan amar ma’ruf nahi mungkar. LK tahap ketiga, yakni pemantapan LK1 dan 2 dan penguatan kepemimpinan dalam Islam. Selain itu, berbagai kegiatan yang terkait dengan Sunnah Rasul menjadi ciri khas dari kegiatan UKM ini, yakni melatih para anggotanya pandai memanah yang dilakukan di lingkungan kampus dan juga latihan berkuda sebagaimana video viral di youtube.

Dalam konteks berjejaring dengan organisasi di luar kampus, aktivis UKM Al-Ittihad ini lebih dekat dengan organisasi Mahasiswa Pecinta Islam (MPI) yang memang spiritnya memperluas pengaruh ajaran salafi di masyarakat. MPI berdiri pada tanggal 8 Maret 2009 di Jakarta. Latar belakang berdirinya MPI karena gerakan dakwah kampus masih sepenuhnya tegak di atas manhaj salaf as-salih, yakni memurnikan tauhid dari anasir ideologi liberalisme, sosialisme, komunisme bahkan nasionalisme jahiliyah. MPI juga menilai banyak gerakan mahasiswa yang berdakwah dan ber-amar makruf, namun masih sedikit yang berkiprah dalam kegiatan nahy munkar.

MPI kini telah menyebar di beberapa daerah, seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Riau, Lampung, Bandung, Solo dan Medan. Akan disusul daerah-daerah lain seperti Surabaya, Purwokerto, Bekasi, Banten, Malang, Makassar, dll. Adapun semboyan MPI sebagaimana rilisnya di sosial media, yakni Al-Kitab Al-Hadiy, As-Sayfu

An-Nashir (Kitab Al-Quran sebagai Petunjuk, Pedang sebagai Penolong). Maksudnya, MPI akan mendakwahkan Islam dengan panduan Al-Quran dan menolongnya dengan pedang jika diperlukan. Kalimat ini merupakan kutipan dari perkataan Syaikh al-Islam Ibnu Taymiyyah, yang menggambarkan misi yang dibawa Islam ke panggung dunia.

Sampai dengan tanggal 2 Desember 2018, akun instagram MPI Lampung memiliki pengikut 3058 dan aktif menyampaikan pesan-pesan kegiatan dan opini ideologisnya.

Anggota MPI Lampung tersebar dari berbagai kampus di Lampung, seperti UIN Raden Intan Lampung, UML, UNILA dan lainnya.

Berikutnya adalah UKM Persatuan Mahasiswa Pecinta Sholawat yang disingkat dengan UKM Permata Sholawat yang berdiri pada tanggal 27 April 2017. UKM ini berdiri sebagai respon atas makin kuatnya pengaruh UKM Bapinda dan UKM AL Ittihad di kalangan para mahasiswa di UIN Raden Intan. UKM Permata Sholawat lahir di tengah hilangnya daya simpatik pimpinan kampus terhadap pendekatan demonstratif mahasiswa yang tergabung dengan PMII. Agar para mahasiswa yang berlatar belakang budaya Nahdliyin tidak banyak yang terpapar oleh berbagai macam ideologi yang tidak selaras dengan ideologi ahlussunah waljamaah maka UKM Permata Sholawat ini berdiri dengan dukungan penuh pimpinan kampus, khususnya Rektor UIN Raden Intan Lampung.

Menurut Ketua UKM Permata Sholawat, Moh Mahfudz Nasir yang juga mahasiswa Prodi PAI setelah melakukan dua kali rekrutmen, kini anggota UKM ini sebanyak 900 orang. Kegiatannya antara lain setiap hari Sabtu diba’, burdah barzanji dan maulid simtuddurar, tahlilan di setiap malam Jumat dan khataman Quran setiap bulan sekali. Ada pula kajian keaswajaan dan fikih yang pelaksanaannya setiap hari Senin dan Rabu di dekat embung samping bangunan masjid baru. Tanah kosong yang luas dekat embung dengan suasana yang nyaman, hampir setiap sore harinya ramai dengan berbagai kelompok diskusi mahasiswa berkegiatan di tempat tersebut.

Dibandingkan dengan dua UKM yang diulas sebelumnya, UKM Permata Sholawat belum memiliki struktur organisasi yang mapan dan sistem kaderisasi yang kuat. Namun dengan berbekal pada pendekatan budaya santri dengan basis NU, berbagai even kegiatan UKM ini selalu dipadati oleh mahasiswa dari berbagai prodi atau fakultas. Melalui UKM Permata Sholawat ini, para mahasiswa yang berasal dari basis NU dan ingin merawat dan mengembangkan amaliyah NU di kalangan mahasiswa UIN Raden Intan Lampung kembali memiliki eksistensi.

Setelah melakukan observasi terhadap berbagai kegiatan UKM Bapinda, UKM Al-Ittihad dan UKM Permata Sholawat di kalangan anggotanya masih terjalin interaksi sosial yang harmoni dan saling membangun toleransi satu sama lain dalam berkegiatan.

Namun ketika dalam konteks isu nasional terjadi konflik pertarungan opini yang berimbas pada aksi massa, tampak sekali perbedaan yang mencolok di antara mereka. Sebagaimana dalam kasus peristiwa aksi bakar bendera HTI yang dilakukan Banser di Garut, yang kemudian menjadi isu nasional dengan framing isu Banser membakar bendera tauhid.

Komunitas politik keagamaan di Lampung juga bergolak sampai muncul aksi massa di Tugu Adipura Bandar Lampung yang dipimpin oleh Ust Buchori Abdus Shomad, para simpatisan aksi itu datang dari UKM Bapinda dan UKM Al-Ittihad, namun tidak demikian halnya dengan UKM Permata Sholawat. Jadi sangat terlihat sekali perbedaan posisi ideologis antar UKM di UIN Raden Intan Lampung.

Perbedaan posisi ideologis menyangkut isu-isu keagamaan ini dengan sendirinya akan menciptakan kontestasi dan ketegangan lainnya di lingkungan kampus. Konteks situasi semacam ini hampir terjadi di banyak kampus seperti di Indonesia, bahkan mancanegara sekalipun sebagaimana pengakuan Ed Husain, seorang mahasiswa di salah satu universitas di London Inggris, dengan sangat baik ia membongkar kedok utopisme dan kepalsuan dari gerakan islamisme yang menurutnya makin menjauhkan dari jati diri Islam sejati. Ia menulis pengakuan atas keterlibatannya dengan organisasi Islamisme itu melalui tulisan, The Islamist; Why I Joined radical Islam in Britain, what I saw inside and why I left. Buku ini diterjemahkan dengan sangat baik oleh penerbit Gading Yogyakarta dalam judul Pengakuan Pejuang Khilafah.