Prodi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan Prodi PAI tertua di Indonesia. Kelahiran dan perkembangan Prodi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga ini seiring dan seusia dengan lahirnya PTAIN Yogyakarta yang kemudian menjadi IAIN Sunan Kalijaga dan sekarang telah berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga. PTAIN Yogyakarta yang diambil dari Fakultas Agama UII didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 34 Tahun 1950 dan diresmikan pada tanggal 26 September 1950 dengan tiga jurusan, yang salah satunya adalah Pendidikan (kelak Tarbiyah) (Rektor, 2001: 396).
Ketika itu, Jurusan Pendidikan (Tarbiyah) hanya memiliki satu bagian (istilah sekarang program studi), yaitu Pendidikan Agama. Jadi, dapat dikatakan bahwa Tarbiyah saat itu identik dengan Jurusan Pendidikan Agama. Dibukanya jurusan pendidikan di PTAIN tidak terlepas dari alasan dibutuhkannya ahli didik/guru di bidang agama pasca keluarnya Surat Penetapan Bersama Menteri Agama dengan Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan mengenai keharusan pendidikan agama sejak kelas IV Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1946. Dengan demikian, pengembangan Jurusan Tarbiyah (dalam hal ini Pendidikan Agama) bukan untuk pengembangan akademik murni, misalnya, untuk membina lulusan yang berkeahlian riset di bidang ilmu pendidikan/keguruan melainkan untuk menyiapkan tenaga ahli didik/guru guna memenuhi kebutuhan lembaga pendidikan di lingkungan Kementerian Agama (Syafruddin, 2000: 124).
Jurusan PAI sejak awal berdirinya hingga sekarang ini telah mengalami empat kali pergantian nama. Pada awal berdirinya PTAIN, Jurusan PAI bernama Jurusan Tarbiyah.
Kemudian ketika awal perubahan PTAIN menjadi IAIN, Jurusan PAI bernama Jurusan Pendidikan Agama. Pada akhir tahun 1960-an, Jurusan Pendidikan Agama berubah menjadi Jurusan Ilmu Agama. Awal tahun 1980-an, ketika diberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS), Jurusan Ilmu Agama berubah menjadi Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) hingga sekarang ini. Dalam perkembangannya, orientasi dan tujuan Prodi PAI mengalami perluasan, yakni di samping mewujudkan atau menghasilkan tenaga guru agama Islam untuk sekolah dan madrasah, juga melahirkan calon peneliti dan konselor dalam bidang agama Islam Perkembangan ini tentu dilakukan dalam rangka merespons tuntutan perkembangan yang ada di masyarakat.
Prodi PAI termasuk prodi yang favorit di lingkungan UIN Sunan Kalijaga.
Setiap tahun peminatnya cukup tinggi dengan daya tampung yang terbatas. Pada tahun akademik 2018/2019, rasio pendaftar calon mahasiswa baru dengan yang diterima adalah 1:49 (Rofik, wawancara, 6 September 2018). Hal ini berarti tingkat persaingan masuk di Prodi PAI UIN Sunan Kaliajaga cukup ketat.
Prodi PAI FAI UMY yang pada awal pendiriannya bernama Fakultas Tarbiyah, dibuka mulai tahun akademik 1987/1988 berdasarkan Surat Keputusan Badan Pembina UMY Nomor 004/BP/UMY/A.2-II/VII/’87 tertanggal 5 Zulqa’dah 1407 H/1 Juli
1987 M dan mendapatkan izin operasional pada tahun 1989 berdasarkan Surat Direktur Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama R.I No. 285/E/
PP.00.9/L/89. Pada perkembangannya, Menteri Agama melalui Surat Keputusannya Nomor 72 Tahun 1995 tertanggal 8 Februari 1995 menetapkan perubahan dan penggabungan Fakultas Dakwah dan Fakultas Tarbiyah menjadi Fakultas Agama Islam (FAI). Dampak dari ketetapan tersebut adalah semakin jelasnya keberadaan Prodi PAI (Tim, 2018).
Prodi PAI FAI UMY berorientasi ke masa depan dengan bertumpu pada upaya penguatan iman dan takwa kepada Allah swt. serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Pendidikan Agama Islam (Tarbiyah Islamiyah), dalam membentuk Guru Agama Islam yang profesional, bermoral, inovatif, dan mandiri. Lulusan Prodi PAI FAI UMY akan diorientasikan menjadi pendidik Agama Islam pada madrasah dan sekolah, manajer pendidikan, dan peneliti pendidikan yang memiliki kompetensi tinggi yang dapat bekerja secara amanah dan professional. Dalam rangka penjaminan kualitas alumni, Prodi PAI telah menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sejak tahun 2013 dan pada tahun 2015 melakukan penyesuaian kurikulum berdasarkan KKNI dan Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) menjadi Kurikulum Pendidikan Tinggi (KPT). Upaya ini difokuskan untuk optimalisasi pengembangan proses pembelajaran dan sistem informasi melalui aktivitas penguatan capaian pembelajaran dan daya saing lulusan, yang meliputi peningkatan kualitas practical skills, peningkatan kualitas soft skills, peningkatan efektivitas pembelajaran dengan model Student Centered Learning (SCL) dan efisiensi penyusunan tugas akhir (Tim, 2018). Selain itu, Prodi PAI FAI UMY juga telah merintis penyelenggaraan kelas bilingual untuk menyiapkan calon guru PAI bertaraf internasional, yang dimulai dari proses perkuliahan hingga pelaksanaan praktik pembelajaran (PPL) di luar negeri. Pembukaan kelas bertaraf internasional ini dalam rangka menyiapkan calon guru PAI untuk mengajar di kelas-kelas internasional yang dibuka pada lembaga pendidikan madrasah/sekolah (Sadam Fajar Shodiq, wawancara, 29 Agustus 2018).
Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IIM Surakarta merupakan wakil perguruan tinggi Islam yang bersifat netral, dalam arti tidak bernaung pada yayasan organisasi Islam tertentu. Yayasan yang menaungi IIM Surakarta ini adalah bernama YAPERTIS. Prodi PAI ini merupakan salah satu prodi yang ada di IIM Surakarta yang berdiri semenjak tahun 1963 dan semula bernama Jurusan Tarbiyah. IIM Surakarta beralamat di Jl.
Sadewa No. 14 Serengan, Surakarta 57155.
IIM Surakarta memiliki sejarah yang panjang. Secara kelembagaan, hingga sekarang IIM telah mengalami lima kali perubahan. Diawali dari Universitas Islam Indonesia (UII) cabang Surakarta, pada tahun 2 Mei 1979 dibukalah Universitas Islam Surakarta (UNIS) dengan delapan Fakultas, yaitu: Fakultas Kependidikan, Fakultas Sosial Politik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Hukum, Fakultas Tarbiyah, dan Fakultas Syari’ah (Suprobo dkk., 2011). Pada tahun
1983, UNIS hanya menyisakan fakultas agama, yakni Tarbiyah dan Syari’ah. Sedangkan fakultas umum hanya dipertahankan tiga fakultas, yakni Fakultas Hukum, Ekonomi, dan Pertanian, tetapi dipisahkan menjadi Universitas Kyai Mojo (UIM), yang kemudian berganti menjadi UNIBA. Pada perkembangan selanjutnya, status UNIS terpaksa harus diganti menjadi institut karena hanya memiliki dua fakultas sejenis, yaitu Fakultas Agama, yang berarti tidak memenuhi syarat sebagai universitas. Oleh karena itu pada tahun 1988 nama UNIS diganti Institut Islam Mamba’ul ’Ulum (IIM) Surakarta dengan menambah satu fakultas, yaitu Fakultas Dakwah. (Suprobo dkk., 2011).. Tahun 1997, IIM berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta (STAIMUS), dan kembali menjadi IIM pada tahun 2015.
Fakultas Tarbiyah IIM memiliki dua jurusan, yaitu Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) (Mukhlis Fathurrohman, wawancara, 4 Oktober 2018). Di antara Prodi yang ada di IIM Surakarta, Prodi PAI adalah yang paling banyak peminatnya. Setiap tahun, Prodi PAI menerima 4 kelas dengan rata-rata setiap kelas antara 30-35 orang mahasiswa. Kondisi mahasiswa Prodi PAI khususnya dan umumnya IIM Surakarta sangat beragam. Di IIM Surakarta secara defakto tidak melarang mahasiswi bercadar. Kemudian untuk mahasiswa putra juga ada yang penampilannya agak berbeda dengan yang lain misalnya berjenggot dan memakai celana congklang. Selama ini IIM Surakarta telah bekerjasama dengan berbagai ma’had yang ada di sekitar Surakarta, misalnya Ma’had Darus Syahadah, Ma’had Abu Bakar, Ma’had Takmirul Islam, dan Pondok Pesantren Ngruki yang sebagian santri-santrinya bercadar. Mengenai alasan mengapa kampus ini menerima mahasiswa dengan berbagai latar belakang seperti itu bahkan dari pesantren yang ustadznya saja juga “keras-keras”.
Menurut penjelasan Wakil Rektor 2, Bapak Muh. Syamsuri, bahwa IIM Surakarta hadir di tengah-tengah masyarakat antara lain untuk ikut serta membina peserta didik dari latar belakang yang cenderung eksklusif dan ekstrem tersebut. Asumsi yang diacu adalah jika anak-anak seperti itu dihindari dan dimusuhi, mereka nantinya justru akan semakin menjadi radikal. Oleh karena itu mereka harus dirangkul dan dibina agar mereka menjadi lebih terbuka dan moderat. IIM Surakarta hadir di tengah-tengah masyarakat dengan mengembangkan wawasan keislaman yang rahmatan lil alamin sesuai dengan visi-misi lembaga ini (Muh. Syamsuri, wawancara, 7 Oktober 2018).
Kebijakan IIM Surakarta menerima calon mahasiswa yang berlatar belakang seperti di atas, berarti Prodi PAI IIM Surakarta memiliki potensi islamisme yang tinggi ketika pembinaan wawasan Islam rahmatan lil alamin sesuai kekhasan visi-misi lembaga tersebut tidak dilakukan secara maksimal. Akan tetapi jika dilakukan secara maksimal dan pada akhirnya membawa hasil seperti yang diharapkan berarti Prodi PAI IIM Surakarta memberikan kontribusi yang luar biasa bagi masyarakat, bangsa dan negara ini terutama dalam proses deradikaliasi dan pencegahan menyebarnya islamisme di kalangan calon guru PAI.