• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurikulum Prodi PAI dan Kemampuan Berpikir Kritis

Profil utama lulusan Prodi PAI UIN Maliki Malang adalah sebagai “pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada sekolah/madrasah (TK/RA, SD/MI, SMP/

MTs, SMA/MA, SMK/MAK) yang berkepribadian baik, berpengetahuan luas dan mutakhir di bidangnya serta bertanggungjawab terhadap pelaksanaan tugas berlandaskan etika keilmuan dan profesi.” Sedangkan profil tambahan lulusan PAI adalah sebagai:

konselor dan penyuluh Pendidikan Agama Islam di sekolah dan keluarga, pendidik PAI di luar negeri, trainer Pendidikan Agama Islam, pengelola lembaga pendidikan Islam, pembimbing haji, pemimpin sosial-keagamaan di sekolah/madrasah dan masyarakat, jurnalis pendidikan Islam, sosiolog pendidikan Islam, entrepreneur Islam, dan juru dakwah/mubalig.

Untuk melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki kompetensi tersebut di atas, kurikulum PAI UIN Maliki Malang memuat 150-152 SKS, yang dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: pedagogis, profesional/konten keislaman, dan penunjang. Kategori pedagogis terdiri dari 49 SKS (32,6%), profesional/konten keislaman 55 SKS (36,6%), dan penunjang 44 SKS (29,3%). Menarik untuk dicatat bahwa mata kuliah pedagogis

yang seringkali diasumsikan mendominasi prodi-Prodi PAI di PTKI tidak terjadi di UIN Maliki Malang. Hal ini mungkin dapat dikaitkan dengan filosofi pohon ilmu yang dicanangkan Imam Suprayogo yang mensyaratkan pemaduan antara ilmu umum, ilmu alat, dan ilmu agama.

Komposisi matakuliah keislaman yang diajarkan pada mahasiswa PAI UIN Maliki Malang sebenarnya cukup banyak dan tidak hanya diarahkan secara sempit agar lulusan mampu mengajar matakuliah tertentu di sekolah. Pengajaran bahasa Arab pun, terutama di semester 1 dan 2 cukup intensif dengan masing-masing bobot 6 SKS per semester yang dilaksanakan oleh PKPBA. Hal ini mencakup 4 keterampilan berbahasa yaitu:

maharah istima’ (keterampilan mendengar), maharah kitabah (keterampilan menulis), maharah kalam (keterampilan berbicara), dan maharah qira’ah (keterampilan membaca).

Beberapa matakuliah penting terkait keislaman seperti Qur’an Hadis, Fiqh, Aqidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam diajarkan di dua semester (semester IV dan V) dengan masing-masing bobot 3 SKS. Selain itu diajarkan juga Teosofi (2 SKS), Qiroatul Kutub (3 SKS), Hikmatut Tasyri (3 SKS), Ushul Fiqh (2 SKS), dan Masail Fiqh (3 SKS).

Selain matakuliah-matakuliah tersebut di atas, mahasiswa PAI UIN Maliki Malang juga diperkuat dengan beberapa matakuliah pendukung seperti Pancasila, Kewarganegaraan, dan Studi Agama-agama. Namun matakuliah Pendidikan Multikultural dan Pendidikan Anti Korupsi yang ditawarkan masih berupa pilihan sehingga tidak semua mahasiswa mengambilnya. Matakuliah-matakuliah ini sebenarnya dapat membekali calon-calon guru dengan pemahaman yang inklusif dan nilai-nilai etis yang diperlukan bagi anak-anak muda Indonesia. Begitu pula jika dicermati epistemologi pohon ilmu sebagaimana dijelaskan di atas, mata kuliah penting terkait pengetahuan dasar filsafat yang membekali mahasiswa dengan kemampuan critical thinking, seperti Logika, justru tidak diajarkan. Matakuliah ini sebenarnya memampukan mahasiswa untuk berpikir kritis dan memahami kesalahan-kesalahan berpikir (logical fallacies), seperti appeal to belief (argumen untuk mendukung atau menolak sesuatu lebih didasarkan pada kepercayaan personal), atau ad hominem (lebih menekankan pada orangnya daripada argumen yang diperdebatkan). Matakuliah Filsafat Ilmu memang diajarkan di semester 1 dengan 2 SKS yang tujuannya mencakup “mengupayakan mahasiswa PAI agar memiliki kompetensi yang mumpuni dalam hal cara berpikir logis, sistematis, metodologis, dan prosedural sesuai kaidah-kaidah ilmiah.” Namun dari Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dapat dikatakan bahwa matakuliah ini lebih menekankan pada kajian teoretis, dan tidak pada level praktik. Hal ini belum cukup membekali mahasiswa untuk berpikir kritis, karena tools (alat) yang dibutuhkan belum diajarkan.

Selain itu, matakuliah keislaman yang cukup banyak di atas dirasakan oleh sebagian mahasiswa, khususnya alumni MA dan pesantren, sebagai terlalu umum dan dasar. Dalam Focus Group Discussion dengan mahasiswa PAI UIN Maliki Malang, salah seorang mahasiswa mengatakan:

…. Nah kalau kekurangannya itu di situ, ketika kita membicarakan masalah fikih, ya mahasiswa Syariah juga bisa, tuntas juga terkait Fikih. Kemudian ketika membahas

terkait hadis mahasiswa Ilmu Tafsir Hadis juga bisa. Sedangkan yang kita pelajari sampai sekarang itu, misalnya hadis, terlalu umum dan hanya hadis-hadis yang sudah dipelajari ketika masih MA. Itu kurang fokus kalau menurut saya (FGD UIN Maliki Malang, 24 September 2018).

Sampai di sini muncul pertanyaan apakah Prodi PAI UIN Maliki Malang sudah menyiapkan pendidik agama Islam di sekolah dan madrasah sebagaimana yang ditargetkan. Sebagaimana dijelaskan oleh Kaprodi PAI, jika latar belakang mahasiswa dari pesantren maka proses yang dilakukan oleh Prodi PAI akan cukup membekali mereka untuk mengajar agama Islam di madrasah. Namun input mahasiswa PAI yang sangat beragam ditambah dengan rendahnya minat beberapa mahasiswa untuk menjadi pendidik agama Islam berakibat pada kompetensi lulusan PAI, khususnya kompetensi keislamannya. Kelemahan kompetensi profesional ini, menurut Kaprodi PAI, dapat dikompensasikan dengan kemampuan metodologis: “kalau aspek metodologinya itu bagus, insyaallah dia bisa mengajar efektif... sehingga itu aspek pedagogisnya juga kita kuatkan, bagaimana cara mengajar dan membelajarkan lalu memperkaya media sumber belajarnya itu,” (interview, Kaprodi PAI UIN Maliki Malang, 25 September 2018).

Lulusan yang ingin dihasilkan oleh Prodi PAI Unisma juga memiliki profil yang hampir sama dengan UIN Maliki Malang, yaitu sebagai pendidik, pengelola lembaga pendidikan, asisten peneliti, edupreneur. Di sini tidak dibedakan antara profil utama dan profil tambahan, dan antara pendidik di sekolah umum dan madrasah. Untuk mewujudkan lulusan-lulusan yang memiliki kompetensi tersebut di atas, kurikulum KKNI 2016 PAI Unisma memuat 155 SKS, yang dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: pedagogis (66 SKS, 42,6%), profesional/konten keislaman (44 SKS, (28,3%), dan penunjang (45 SKS, 29%). Dari komposisi ini terlihat bahwa matakuliah pedagogis masih mendominasi Prodi PAI di Unisma.

Sebenarnya ada beberapa matakuliah penting dan menarik yang diajarkan di Prodi PAI Unisma seperti Aswaja, Logika, dan HAM & Gender. Selain itu, untuk mengarahkan mahasiswa pada metode berpikir yang moderat juga ditambahkan 1 matakuliah baru dalam kurikulum 2016 ini, yaitu Pendidikan Islam Multikultural. Matakuliah-matakuliah keislaman pun cukup banyak diajarkan sejak semester 1 sampai semester 7, termasuk Ilmu Kalam, Ulumul Hadis, Ulumul Qur’an, Ushul Fiqh, Bimbingan Baca Kitab dan Filsafat Islam. Memang benar bahwa matakuliah-matakuliah keislaman tersebut tidak secara spesifik diarahkan untuk mengajar di sekolah atau madrasah. Untuk memberi bekal mengajar Fiqh di sekolah, misalnya, hanya diselipkan di matakuliah Pembelajaran PAI dan Analisis Materi MTs-MA yang masing-masing hanya 2 SKS. Namun bobot matakuliah-matakuliah pedagogis memang sangat kental, dan sebagian besar matakuliah keislaman hanya berbobot masing-masing 2 SKS. Lalu matakuliah yang mengasah kekritisan berpikir juga sangat terbatas. Matakuliah Filsafat Islam, misalnya, lebih difokuskan sebagai “produk pikir” para filsuf Muslim mulai al-Kindi hingga Mulla Sadra.

Tentu saja pembahasan banyak tokoh seperti itu kurang mengantarkan mahasiswa untuk mempelajari Filsafat Islam sebagai “proses” berpikir kritis.

Di titik ini juga bisa diajukan pertanyaan yang sama, apakah Prodi PAI Unisma sudah menyiapkan pendidik, terutama dalam aspek kompetensi keislamannya, sebagaimana yang ditargetkan. Sebagaimana disampaikan oleh Kaprodi PAI Unisma, rata-rata mahasiswa masih mengalami kesulitan ketika kuliah yang mensyaratkan penguasaan bahasa Arab, membaca kitab-kitab berbahasa Arab, dan kuliah keislaman lainnya. Pendampingan yang ada baru direncanakan untuk angkatan 2018, dan melalui Program Master Maba khusus untuk pendampingan membaca al-Quran (Interview, Kaprodi PAI Unisma, 23 Oktober 2018).