• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mahasiswi Bercadar: Praktis, Modis, atau Ideologis?

Riset ini berhasil mewawancarai dua orang mahasiswi bercadar dari Prodi PAI, masing-masing satu orang dari UIN Maliki Malang dan dari Unisma. Narasi dari mereka ini penting untuk memahami apa makna penggunaan cadar bagi mereka dan apa alasan mereka menggunakannya. Selain itu, menarik juga untuk melihat bagaimana mereka menyikapi kebijakan kampus terkait tata cara berpakaian, khususnya cadar, yang pada gilirannya akan mengantarkan kita untuk memahami sejauh mana mereka meyakini dan mempertahankannya.

Seorang mahasiswi PAI UIN Maliki Malang mengatakan bahwa ia menggunakan cadar selepas SMA di satu wilayah di Kalimantan. Hal ini berangkat dari kajian tahsin Al-Quran yang diikutinya, yang sebagian besar pesertanya berpakaian hitam dan bercadar.

Namun saat itu ia masih belum secara konsisten menggunakannya karena kedua orang tuanya merasa keberatan. Keberadaannya di Malang yang jauh dari keluarga membuatnya lebih bebas untuk bercadar. Proses satu tahun di ma’had juga mempertemukannya dengan teman-teman lain yang bercadar dan menjadi momen untuk saling menguatkan. Ia mengatakan bahwa di antara teman-teman sekelasnya ada yang awalnya tidak bercadar, tetapi kemudian menggunakannya karena berbagai alasan. Namun ia menyadari adanya tata tertib di FTIK dalam berpakaian dan bersedia membuka cadarnya jika dalam proses perkuliahan ada dosen-dosen yang memintanya. Mahasiswi ini mengatakan alasan utama bercadar adalah untuk lebih bisa menjaga diri dan lebih dihargai oleh laki-laki, dan tidak bersifat ideologis. Ia memegang pendapat yang menganggap cadar itu sunah, sesuai situasi dan kondisi. Bahkan, ia juga mengatakan bahwa salah satu manfaat praktis penggunaan cadar adalah sebagai penghalang debu.

Penggunaan cadar yang non-ideologis ini juga ditemukan pada beberapa mahasiswi PAI UIN Maliki Malang lainnya. Dosen-dosen PAI menjelaskan alasan penggunaan cadar beberapa mahasiswanya, sebagai berikut: “Ini mode saja, Pak. Saya hanya ingin membedakan antara agama yang ada di kampung saya dan agama yang saya anut ketika saya pulang ke kampung.” Seorang mahasiswi lainnya yang terkadang terlihat menggunakan cadar, namun juga beberapa kali tidak menggunakannya, memberikan alasannya bercadar: “Saya memang berjualan cadar, Pak. Jadi saya menggunakan ini juga dalam rangka mempromosikan produk-produk saya.”

Mahasiswi bercadar dari Prodi PAI Unisma yang kami wawancarai sangat menarik. Ia masuk Unisma tidak langsung selepas SMA, karena ia masuk pondok

pesantren beberapa tahun sebelum memulai kuliah. Mahasiswi ini terlihat sudah sangat mantap menggunakan cadar dan memiliki alasan yang kuat. Ia mulai menggunakan cadar ketika menjadi santri di salah satu pesantren di Jawa Timur. Karena lingkungannya banyak yang bercadar maka ia ikut menggunakannya. Ketika ia kembali ke daerahnya selepas pendidikan pesantren ia mulai berdakwah. Perjalanan dakwahnya membawanya kepada komunitas istri-istri pejabat. Di titik ini ia berpikir bahwa ia harus meningkatkan pengetahuannya tentang agama Islam, dan memilih Unisma sebagai tempat belajar.

Pilihannya ke Unisma bukan tanpa kaitan dengan penggunaan cadar. Ia mengaku sudah menanyakan ketika mendaftar, jika diterima menjadi mahasiswa apakah Unisma memperbolehkannya untuk tetap bercadar? Jawaban positif yang ia dapatkan semakin memperkuat tekadnya. Ia sudah memilih untuk terus bercadar dan merasa nyaman dengannya, serta tetap bercadar dalam setiap perkuliahan. Lebih jauh mahasiswi Prodi PAI ini berpendapat bahwa budaya penggunaan cadar bukan budaya yang asing di Indonesia, sebagaimana dibuktikan dalam “Rimpu” di Bima yang telah hidup dan berkembang sejak adanya masyarakat Bima. Ia sangat aktif mendaki gunung bersama teman-temannya dan selalu ingin menyuarakan pada teman-temannya yang bercadar bahwa “cadar tidak menghalangi sekolah kamu, aktivitas kamu, dan hobi kamu.”

Kini dengan adanya SK Rektor Unisma tersebut di atas yang melarang penggunaan cadar, ia berdiri di persimpangan jalan. Tidak mungkin ia mundur dan keluar dari Unisma, namun tidak mungkin pula baginya untuk membuka cadar. Ia sangat menyayangkan, bahkan mempertanyakan “mengapa cadar harus ditumpas,” karena baginya, “pikiran yang radikal lebih berbahaya daripada pakaian.” Ia pun mengatakan,

“siap untuk dikeluarkan dari Unisma jika terbukti radikal.” Sebagaimana mahasiswa Unisma yang lain, konsep takzim pada dosen-dosennya terus ia jaga sambil mengatakan bahwa sebaiknya larangan bercadar didasarkan pada hasil riset yang menunjukkan kaitan langsung antara penggunaan cadar dengan radikalisme agama, sehingga alasan-alasan yang lebih substantif lebih dapat diajukan sebagai dasar. Alih-alih mengeluarkan larangan bagi mahasiswi untuk bercadar, ia mengatakan siap jika diberi mandat oleh pihak universitas untuk membina teman-teman mahasiswi bercadar di Unisma.

Dari diskusi dengan salah seorang dosen Unisma dijelaskan bahwa sebenarnya isu penggunaan cadar itu sudah sejak dua tahun lalu dibicarakan oleh sesepuh Unisma, dan ada pendataan mahasiswa bercadar di kampus tersebut. Mereka kemudian dikumpulkan dan diberi pengarahan. Semenjak ada desas-desus pelarangan itu beberapa orang menegosiasi cadar dengan masker, karena bagi sebagian mahasiswi yang sudah terbiasa menggunakannya larangan itu membuat mereka tidak nyaman: “Padahal beberapa mahasiswi bercadar itu fine gitu lho, bahkan dia nyanyi.. band itu lho pakai cadaran, bergaul dengan laki-laki juga dengan tetap menggunakan cadar.” Namun, sebagaimana dikatakan oleh dosen tersebut “momentumnya saja sekarang ini yang sedang terjadi penuduhan bahwa cadar itu menjadi simbol-simbol radikalisme sehingga perlu dilarang, entah itu larangan sementara atau seterusnya.”

Dua narasi di atas tentang penggunaan cadar oleh dua mahasiswi di UIN Maliki Malang dan Unisma dan beberapa pengalaman dosen dalam berhubungan dengan mahasiswa bercadar memang tidak mewakili pandangan semua pengguna cadar di kedua universitas. Namun hal tersebut setidaknya memberikan beberapa perspektif yang berbeda dari sisi pengguna cadar. Penggunaan cadar bisa didasarkan pada alasan yang sangat praktis, modis, sampai ideologis. Ketika penggunaan cadar merupakan pilihan ideologis pun ternyata argumen yang dimiliki oleh pengguna juga tidak selalu bisa dikaitkan dengan ideologi yang mengarah pada kekerasan agama.

Catatan Penutup: Sebuah Rekomendasi

Beberapa kesimpulan penting terkait kompetensi calon guru-guru agama dan tantangan atas masuknya Islamisme ke dua kampus moderat, serta rekomendasi bisa disampaikan di sini. Pertama, dalam hal kompetensi calon-calon guru agama masih terdapat masalah dalam hal input calon mahasiswa Prodi PAI. Di UIN Maliki Malang, sistem penyaringan mahasiswa baru sudah dilakukan dengan pemberian pembobotan yang lebih tinggi bagi alumni pesantren atau SMA berbasis Islam. Namun perlu dipastikan bahwa tes yang dilakukan benar-benar dapat mengukur kemampuan calon mahasiswa dalam bahasa Arab dan ilmu keislaman. Tes wawancara dalam seleksi mahasiswa baru yang sebelumnya pernah dilakukan dapat dilakukan kembali sebagai cara yang lebih pasti dalam mengukur kompetensi calon mahasiswa. Sebenarnya pelatihan tambahan bahasa Arab di UIN Maliki Malang yang sudah dilakukan sangat komprehensif, tetapi karena input masih sangat beragam maka susah untuk mencapai hasil yang maksimal. Di Unisma, walaupun sebagai universitas swasta, kompetensi keagamaan Islam bagi para calon guru agama Islam ini juga perlu menjadi pertimbangan dalam seleksi masuk. Jika hal ini sulit dilakukan maka penguatan mahasiswa Prodi PAI terkait kompetensi keagamaan Islam (termasuk bahasa Arab) perlu dilakukan sejak semester-semester awal.

Kedua, adanya pandangan bahwa Prodi PAI memang lebih menyiapkan tenaga pendidik akan mengarah pada kurangnya kompetensi keislaman calon-calon guru agama karena penekanan lebih banyak diberikan pada kemampuan pedagogis. Sebagai akibatnya, hanya alumni pesantren dan madrasah khusus keagamaan yang siap menjadi guru di madrasah, sebab proses perkuliahan di Prodi PAI kurang menyiapkan mereka ke arah sana. Jika Prodi PAI UIN Maliki Malang tetap memegang misinya untuk

“menyelenggarakan pendidikan unggul yang dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap menjadi pendidik agama Islam di sekolah/madrasah,” dan Prodi PAI Unisma tetap memegang misinya untuk “menjadi Program Studi yang mampu menghasilkan guru agama Islam yang profesional, unggul, dan kompetitif di bidang IPTEKS, beriman, bertakwa dan berakhlakul karimah berdasarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah” maka penekanan pada kompetensi keislaman perlu dilakukan. Prodi Pendidikan Agama Islam yang dianggap terlalu luas dapat membuka beberapa konsentrasi, seperti Konsentrasi Guru Fiqih, Konsentrasi Guru Qur’an Hadis, Konsentrasi Guru Aqidah dan Akhlak, atau Konsentrasi Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Ketiga, perlu matakuliah critical thinking seperti Filsafat Ilmu dan Logika bagi mahasiswa Prodi PAI. Walaupun matakuliah-matakuliah ini sudah diajarkan, namun penekanan yang diperlukan bukan pada pembahasan teoretisnya melainkan lebih ke penerapan praktisnya dalam mengajak mahasiswa berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis ini pada gilirannya akan membantu mahasiswa untuk dapat melihat dengan lebih cermat berbagai informasi yang mengepung mereka, baik informasi-informasi yang didapat secara online maupun offline.

Keempat, terkait dengan tantangan Islamisme di kampus, beberapa pimpinan UIN Maliki Malang dan Unisma yang kami wawancarai meyakini bahwa radikalisme agama mulai masuk kampus. Baik UIN Maliki Malang maupun Unisma sebenarnya sudah cukup menyiapkan mahasiswanya untuk berpikir moderat. Program penguatan karakter mahasiswa baru seperti sistem ma’had di UIN Maliki Malang atau Master Maba di Unisma yang menekankan pada pendidikan karakter dapat dijadikan model untuk membekali mahasiswa dengan nilai-nilai yang inklusif dan bahasa Arab/pengetahuan keislaman yang baik. Namun hal tersebut perlu untuk terus dilanjutkan sepanjang masa studi mahasiswa. Program Standarisasi Kepenasehatan Akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, termasuk Prodi PAI, yang menyaratkan 4 kali bimbingan dosen dalam 1 semester sebenarnya dapat dimanfaatkan. Dalam konteks ini perlu penekanan ulang agar proses pembimbingan tidak sekadar berupa setoran hafalan ayat-ayat Al-Quran dan Hadis serta kemampuan teknis PAI lainnya, namun lebih menjadi sarana bagi dosen untuk membimbing pemahaman keagamaan mahasiswa ke arah yang inklusif.

Kelima, perlu langkah-langkah yang lebih strategis dalam mendekati dan membina mahasiswa-mahasiswa yang dianggap telah terpapar pada Islamisme. Diperlukan pendekatan yang lebih merangkul mereka. Metode counter narrative dengan menggunakan sumber-sumber yang otoritatif, atau metode mendiskusikan isu-isu aktual terkait topik-topik hijrah, jihad, cadar perlu dilakukan di kelas dengan sistem diskusi yang terbuka dan tidak otoriter. Dengan demikian mahasiswa akan melihat bahwa dalam wilayah-wilayah yang bersifat ijtihadi itu tidak ada yang mutlak kebenarannya. Sebagai akibatnya kampus juga harus terbuka menerima perbedaan pandangan sejauh prinsip-prinsip utama yang menjadi visi dan misi universitas tidak dilanggar.

Referensi

Duta.co. n.d. “Unisma Jadikan Bahasa Arab Alat Komunikasi di Kampus”. www.duta.co, akses tanggal 15 Oktober 2018.

Effendi, Yusli. 2018. “Mengenali Pola dan Gerakan Radikalisme di Indonesia,” Makalah.

Dipresentasikan di Hotel Atria, 15 Oktober 2018.

Effendi, Yusli. 2018. “Karangploso, Dau, Singosari: Titik Merah Terorisme” Malang Post, 16 Mei 2018. www.malangpostonline.com, akses tanggal 27 Oktober 2018.

Effendi, Yusli. 2018. “Jejak Teror di Bumi Angrok,” Malang Post, 17-05-2018. www.

malangpostonline.com, akses tanggal 27 Oktober 2018.

Suprayogo, Imam. 2016. “Membangun Integrasi Ilmu dan Agama: Pengalaman UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.” Proceeding IAIN Batusangkar 1 (1): 27–46.

Suprayogo, Imam. n.d. “Pohon Ilmu UIN Maliki Malang.” Tulisanterkini.com. Diakses 28 Oktober 2018. https://tulisanterkini.com/artikel/keislaman/umum/5575-pohon-ilmu-uin-maliki-malang-.html.

Suryamalang.tribunnews.com. “Unisma Miliki Program Intensif Belajar Bahasa Arab”.

www.suryamalang.tribunnews.com, akses tanggal 15 Oktober 2018.

Tim Peneliti Psikologi UIN Maliki Malang. 2018. “Skema Religiositas Maba UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Hasil penelitian tidak dipublikasikan.

Tim Penyusun Universitas Islam Malang. 2017. Pedoman Master Maba Tahun Akademik 2017/2018. Malang: Unisma.

Walid, Muhammad. 2011. “Model Pendidikan Karakter Di Perguruan Tinggi Agama Islam (Studi Tentang Pendidikan Karakter Berbasis Ulul Albab Di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang).” El-Qudwah, 1 (5). http://ejournal.

uin-malang.ac.id/index.php/lemlit/article/view/1943.

8

MASYARAKAT RELIGIUS PEMBELAJAR AGAMA,