• Tidak ada hasil yang ditemukan

Profil Lulusan dan Kurikulum Prodi PAI

Pada masa awal rintisan berdirinya Jurusan PAI pada masa PTAIN Yogyakarta Tahun 1950, orientasi pengembangan Jurusan PAI bukan untuk pengembangan akademik murni, misalnya, untuk membina lulusan yang berkeahlian riset di bidang ilmu pendidikan/keguruan melainkan untuk menyiapkan tenaga ahli didik/guru Agama Islam guna memenuhi kebutuhan lembaga pendidikan di lingkungan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Syafruddin, 2000: 124).. Dalam perkembangannya dewasa ini, telah terjadi perluasan orientasi pengembangan Jurusan PAI, yakni tidak lagi sekadar menghasilkan tenaga guru agama Islam di sekolah dan madrasah, tetapi juga tenaga ahli lainnya seperti peneliti, konselor dalam bidang agama Islam, manajer pendidikan, dan penulis buku. Perkembangan ini tentu dilakukan dalam rangka merespons tuntutan perkembangan yang ada di masyarakat dan memberikan fleksibilitas dan keleluasaan bagi para lulusan untuk dapat mengisi berbagai alternatif lapangan pekerjaan. Perluasan orientasi pengembangan Jurusan PAI ini dapat dicermati dari rumusan profil lulusan Jurusan/Prodi PAI pada ketiga PTKI.

Profil utama lulusan Jurusan PAI FITK UIN Sunan Kalijaga adalah sebagai Pendidik/Guru PAI di Sekolah dan Madrasah, yang berkepribadian baik dan memiliki integritas, berpengetahuan luas dan mutakhir di bidang pendidikan agama Islam, dan mampu menerapkan teori-teori pendidikan dan pembelajaran serta bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas berlandaskan etika keislaman, keilmuan dan profesi. Profil tambahan pertama adalah sebagai konselor Pendidikan Agama Islam di sekolah dan madrasah, yang kompeten, menguasai psikologi anak dan mampu melakukan bimbingan pembelajaran dan pengamalan agama Islam anak usia sekolah serta bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas berlandaskan nilai-nilai universal yang menjunjung tinggi

kesetaraan, keadilan dengan etika keislaman, keilmuan dan keahlian serta profesi. Profil tambahan yang kedua adalah sebagai peneliti pada bidang Pendidikan Agama Islam yakni menjadi peneliti pada bidang Pendidikan Agama Islam yang produktif, mengusai metode penelitian dengan baik, dan mampu mengevaluasi pendidikan agama Islam serta bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas berlandaskan nilai-nilai universal yang menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan dengan etika keislaman, keilmuan dan keahlian serta profesi.

Profil utama lulusan Prodi PAI FAI UMY adalah sebagai Pendidik (Guru PAI), yakni seseorang yang bisa bekerja secara amanah dan profesional sebagai guru PAI di madrasah dan sekolah. Profil alternatif tambahannya adalah sebagai manajer pendidikan, yang bisa bekerja secara amanah dan profesional sebagai manajer di lembaga pendidikan Islam. Alternatif lainnya adalah sebagai peneliti pendidikan, yang bisa bekerja secara amanah dan profesional sebagai peneliti muda di bidang pendidikan Islam.

Profil utama lulusan Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah IIM Surakarta adalah sebagai pendidik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang berkepribadian baik, berpengetahuan luas dan mutakhir di bidangnya dan berkemampuan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab berlandaskan etika keislaman, keilmuan dan profesi. Profil tambahannya adalah sebagai peneliti pendidikan tingkat dasar dan penulis buku ajar.

Lulusan Prodi PAI Fakultas Tarbiyah selama ini dinilai memiliki keunggulan dalam penguasaan aspek teknis metodologi pembelajaran seperti penguasaan metode/

strategi pembelajaran, pengembangan media dan sumber belajar, dan sebagainya. Sisi kekurangan lulusan Prodi PAI Fakultas Tarbiyah adalah lemah dalam penguasaan materi kajian keislaman. Di antara faktor penyebab kondisi seperti ini adalah desain kurikulum yang dikembangkan Prodi PAI dan juga proses pembelajaran yang terlihat memberikan porsi yang lebih banyak untuk pengembangan aspek teknis metodologi pembelajaran dibandingkan dengan penguasaan kajian keislaman. Selain itu, muatan kajian keislaman yang dikembangkan dalam kurikulum Prodi PAI tersebut kurang begitu luas dan mendalam. Dengan kenyataan seperti itu berarti apa yang dikemukakan oleh Azyumardi Azra masih dialami oleh Prodi PAI hingga sekarang, bahwa LPTK termasuk Jurusan PAI dianggap kurang berhasil mencetak calon-calon guru yang profesional. Menurutnya LPTK umumnya termasuk Jurusan PAI, masih menganut paradigma technical based teacher education, pendidikan keguruan yang berbasiskan hal-hal teknis tentang pengajaran.

Sangat banyak waktu dihabiskan untuk “hal-hal teknis” kepengajaran dalam proses belajar-mengajar pada LPTK. Sementara, penguasaan substansi keilmuan yang lebih dalam -yang bahkan lebih krusial bagi keberhasilan transfer of knowledge kepada peserta didik- menjadi cenderung diabaikan (Azra, 2002: 51). Sejalan dengan Azyumardi Azra, Muhaimin juga menyatakan bahwa selama ini pengembangan kurikulum di Jurusan PAI terjebak pada aspek-aspek praktis, teknis metodologis dan melupakan aspek akademisnya sehingga lulusannya lebih kaya dengan keterampilan dan kemampuan teknis metodologi

pengajaran daripada penguasaan keilmuan keislaman dan pengembangan wawasan.

Jargon yang sering didengungkan ialah “al-tarīqah ahammu min al-māddah” (metode lebih penting daripada materi). Dengan kondisi semacam ini, maka tidak heran kalau luarannya bahkan tidak berani mengajar ilmu-ilmu keislaman (Muhaimin, et.al, 2004:

131).. Uraian pada bagian ini berupaya menelusuri sisi kelemahan dari desain/rancangan kurikulum yang dikembangkan pada Prodi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UMY, dan Institut Islam Mambaul Ulum (IIM) Surakarta.

Pada saat penelitian ini dilakukan, di Prodi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga diberlakukan dua jenis kurikulum, yaitu kurikulum 2013 dan kurikulum 2016 yang mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Mata kuliah yang ditawarkan dalam kurikulum 2013 yang diberlakukan di Jurusan PAI memiliki jumlah beban ekuivalen sebanyak 156 sks. Jumlah beban ekuivalen minimal yang harus diambil mahasiswa sebanyak 146 sks dengan ketentuan jumlah mata kuliah wajib beban ekuivalen 136 sks dan mata kuliah pilihan yang harus diambil minimal 10 sks dari yang ditawarkan sebanyak 20 sks. Komposisi mata kuliah kurikulum 2013 dalam hubungannya dengan pengembangan kompetensi guru adalah untuk pengembangan penguasaan kompetensi pedagogis sebesar 78 sks (50%), kompetensi profesional sebesar 30 sks (19,23%), selebihnya 48 sks (30,76%) untuk mendukung penguasaan dasar-dasar keilmuan dan penguasaan bahasa.

Mata kuliah yang ditawarkan dalam Kurikulum 2016 memiliki jumlah beban ekuivalen sebanyak 157 sks. Jumlah beban ekuivalen minimal yang harus diambil mahasiswa sebanyak 147 sks dengan ketentuan jumlah mata kuliah wajib beban ekuivalen 137 sks dan mata kuliah pilihan yang harus diambil minimal 10 sks dari yang ditawarkan sebanyak 20 sks. Komposisi mata kuliah kurikulum 2016 dalam hubungannya dengan pengembangan kompetensi guru adalah untuk pengembangan penguasaan kompetensi pedagogis sebesar 68 sks (43,3%), kompetensi profesional sebesar 43 sks (27,4%), selebihnya 46 sks (29,3%) untuk mendukung penguasaan dasar-dasar keilmuan dan penguasaan bahasa.

Kurikulum Program Studi PAI FAI UMY memiliki beban studi paling sedikit dibanding Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga dan Prodi PAI IIM Surakarta. Beban studi yang ditawarkan secara keseluruhan terdiri dari 144 sks. Komposisi mata kuliah terdiri dari 62 sks (43%) untuk penguasaan kompetensi pedagogis, 36 sks (26%) untuk penguasaan kompetensi profesional, dan 46 sks (32%) untuk penguasaan wawasan umum dan bahasa. Kurikulum Prodi PAI UMY ini jauh lebih banyak muatan untuk pengembangan kompetensi pedagogisnya dibandingkan dengan pengembangan kompetensi profesional (penguasaan matei keislaman).

Kurikulum Program Studi PAI Fakultas Tarbiyah Institut Islam Mambaul Ulum (IIM) Surakarta secara keseluruhan terdiri dari 150 sks. Komposisi bobot sks dalam hubungannya dengan pengembangan kompetensi guru relatif berimbang, tetapi untuk pengembangan kompetensi pedagogis juga masih lebih banyak dibanding untuk

pengembangan kompetensi profesional. Bobot sks untuk penguasaan kompetensi pedagogis sebanyak 48 sks (32%), penguasaan kompetensi profesional sebanyak 46 sks (31%), dan untuk penguasaan wawasan umum dan bahasa sebanyak 56 sks (37%).

Berdasarkan data di atas dapat dipahami bahwa muatan kurikulum Prodi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga dan Prodi PAI FAI UMY secara umum memberikan porsi yang lebih besar untuk pengembangan kompetensi pedagogis dari pada untuk pengembangan kompetensi profesional (penguasaan kajian keislaman). Sedangkan kurikulum Prodi PAI IIM Surakarta relatif berimbang. Dari ketiga Prodi PAI tersebut, Prodi PAI UMY memiliki muatan mata kuliah untuk pengembangan kompetensi pedagogis yang paling banyak, disusul Prodi PAI UIN Sunan Kalijga, dan berikutnya Prodi PAI IIM Surakarta.

Pada kurikulum Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga terdapat mata kuliah keislaman yang dihubungkan dengan pembelajarannya seperti Pembelajaran Akidah Akhlak, Pembelajaran Al-Quran Hadis, Pembelajaran Fikih, dan Pembelajaran SKI. Mata kuliah tersebut terasa kurang tepat karena sebenarnya strategi dan prosedur pembelajaran materi tersebut cukup diwadahi dengan mata kuliah yang lebih umum, seperti Strategi/

Metode Pembelajaran. Dengan mata kuliah tersebut, pembelajaran di Prodi PAI semakin terjebak pada paradigma technical based teacher education sebagaimana kritik yang dilontarkan oleh Prof. Azyumardi Azra terhadap praktik pembelajaran di Prodi PAI selama ini.

Dilihat dari sisi kedalaman dan keluasan, muatan kajian sejumlah mata kuliah keislaman terlihat kurang luas dan mendalam. Ketika dibandingkan dengan bahan kajian dalam kurikulum Madrasah Aliyah (MA) khususnya MA Peminatan Keagamaan, topik-topik atau tema-tema kajian kajian dalam pembelajaran Prodi PAI terlihat tidak jauh berbeda. Mata kuliah yang masuk kategori ini adalah Akhlak dan Tasawuf, Fikih dan Ushul Fikih, Tauhid, Fikih Munakahat dan Mawaris, Fikih Ibadah dan Muamalah, Fikih Siyasah dan Jinayah, Aqidah/Akhlaq, Qur’an Hadis di Madrasah dan Sekolah, Aqidah-Akhlak di Madrasah dan Sekolah, Fikih di Madrasah dan Sekolah, Fiqh di Madrasah dan Sekolah, Tarikh di Madrasah dan Sekolah, Aqidah Tauhid, Akhlak Tasawuf, Fikih, Sejarah Peradaban Islam, Ilmu Kalam, Fikih 2, Usul Fikih, Mawaris Islam, Materi PAI 1, dan Materi PAI 2.

Dilihat dari keluasan dan kedalaman bahan kajian mata kuliah keislaman, kurikulum Prodi PAI belum sepenuhnya sesuai dengan upaya pencapaian visi, misi, tujuan, dan profil lulusan yakni sebagai pendidik atau guru PAI di sekolah dan madrasah.

Rumusan bahan kajian yang ada dalam kurikulum Prodi PAI tersebut baru memadai untuk mendidik calon guru PAI di sekolah umum dan kurang memadai untuk mendidik guru rumpun PAI di Madrasah yang meliputi guru Al-Quran Hadis, Aqidah Akhlak, Fiqih/Ushul Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Terlepas dari kekurangan tersebut, ada sisi keunggulan dalam kurikulum Prodi PAI FITK UIN Sunan Kalijaga dan IIM Surakarta, yakni dalam konteks pengembangan

sikap moderasi beragama dengan adanya sejumlah mata kuliah keislaman yang mendukung. Untuk Prodi PAI UIN Sunan Kalijaga, ada mata kuliah Studi Agama, Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Lokal, serta Pengantar Studi Islam. Sedangkan dalam kurikulum Prodi PAI IIM terdapat tiga mata kuliah Masailul Fiqh, Perbandingan Madzhab, dan Metodologi Studi Islam. Sementara itu di Prodi PAI UMY tidak terdapat mata kuliah-mata kuliah seperti di atas.