• Tidak ada hasil yang ditemukan

Batas-Batas Swasta nisas

ideologis tenta ng swasta nisasi.

Swasta nisasi telah sarat denga n beba n ideologis sebelu m Friedma n dilahirka n. Beba n ideologis itu mu ncul sejak ora ng sosialis ya ng berkeyakina n bahwa penyela mata n terletak pada “pemilika n bersa ma alat-alat produksi”, menemuka n perlawa na n dari kelompok ya ng memiliki pa nda nga n ya ng berbeda. Kelompok ya ng memiliki pa nda nga n ya ng berbeda ini menyataka n bahwa pemilika n bersa ma itu merupaka n suatu tindaka n ya ng dapat mengakhiri kemajua n ekonomi, jika buka n mengakhiri kebebasa n. Ora ng sosialis menga njurka n pemilika n bersa ma, ya ng lain menga njurka n pemilika n swasta. Argu men-argu men dari perdebata n itu menya ngkut prinsip-prinsip fu nda mental da n gelomba ngnya tidak berjala n dala m suatu garis lurus tetapi maju da n mu ndur. Setelah krisis ekonomi du nia pada awal 1930-a n da n Pera ng Du nia Kedua - dipastika n kedua nya memiliki tauta n satu denga n lain nya - suatu gelomba ng nasionalisasi mela nda Eropa. Sa ngat sedikit dari penga njur nasionalisasi ketika itu memberika n argu men sepenuh nya atas dasar ajara n ilmu ekonomi. Pemikir sosialis di Pera ncis da n Inggris tidak memberika n argu men bahwa perekonomia n aka n berjala n lebih baik jika ba nk-ba nk besar atau industri baja berada di ta nga n negara, melainka n u ntuk mengha mbat terjadinya pengubaha n kekuata n ekonomi menjadi kekuata n politik.

Sejak dasawarsa 1980-a n, gelomba ngnya telah berbalik arah. Sa ngat sedikit sekali ora ng berbicara tenta ng kekuata n ekonomi da n pengubaha n nya menjadi kekuata n politik. Sekara ng ora ng berbicara swasta nisasi karena ada nya a nggapa n bahwa perusahaa n menjadi lebih efektif, memberika n lebih ba nyak kemu ngkina n u ntuk melakuka n stimulasi pertu mbuha n ekonomi. Gelomba ng swasta nisasi memperoleh momentu m ya ng lebih kuat setelah keha ncura n komu nisme. Ora ng mulai menswasta nisasika n segala nya denga n cepat, seringkali karena alasa n sederha na yaitu supaya terlihat tidak ketinggala n ja ma n (fashionable), dipa nda ng sebagai sesuatu ya ng modern ya ng perlu dilakuka n.

Batas-batas Swastanisasi

denga n terjadinya gelomba ng ini, tetapi menjadi kabur atau tidak jelas. Bahka n kelompok demokratik kiri turut di dala m gelomba ng itu. Mereka ikut dala m gelomba ng itu karena berbagai sebab. Mu ngkin karena didorong keyakina n ya ng semakin kuat atau oleh keyakina n ya ng semakin kecil, mu ngkin karena kendala-kendala a nggara n lebih menggoda daripada keberata n- keberata n ya ng bersifat prinsipil, atau mu ngin karena para politisi tidak suka menenta ng arus uta ma ya ng tengah terjadi, khususnya karena swasta nisasi dija min secara huku m seperti ya ng termuat dala m atura n-atura n petu njuk pelaksa na Komisi Uni Eropa.

Bagi ora ng ya ng menga mati gelomba ng swasta nisasi ini dari luar, denga n melakuka n kajia n ilmiah, garis pertempura n ideologis ini lebih mudah u ntuk dilukiska n diba ndingka n denga n kegiata n politik sehari-hari. Jadi pada saat ini kita memiliki sa ngat ba nyak kajia n, baik ya ng menya mbut swasta nisi sebagai kemajua n atau ya ng mengeca m nya sebagai suatu bagia n dari renca na-renca na rahasia ya ng bersifat reaksioner.

II. Ketika kelompok Klub Roma, ya ng merupaka n suatu lembaga kajia n atau n suatu dapur pemikir (think tank), memutuska n u ntuk membentuk suatu kelompok kerja gu na mencermati swasta nisasi di seluruh du nia, keputusa n ini merupaka n suatu gagasa n ya ng baik. Kelompok kerja ini menemuka n keu nggula n da n kelemaha n ya ng diakibatka n swasta nisasi terhadap perekonomia n dari negeri-negeri ya ng diteliti - da n khususnya terhadap penduduknya -, da n mengulas bagaima na swasta nisasi itu telah membuat kehidupa n menjadi lebih mudah atau menjadi lebih sulit. Ya ng mu ncul dari kelompok kerja ini adalah suatu lapora n setebal 400 hala ma n denga n suatu judul ya ng mengingatka n kita pada lapora n perta ma dari Klub itu ya ng sa ngat terkenal. Tahu n 1972, judul lapora n perta ma dari Klub itu, Limits to Growth, telah menjadi “baha n renu nga n” bagi du nia. Tahu n 2005 judul kajia n itu menjadi Limits to Privatization. Da n jika ada ya ng menuduh para editor da n co-editor dari lapora n itu, Ernst Ulrich von Weizsacker, Ora n You ng da n Matthias Finger, melakuka n

bias idelogi, lapora n itu diberika n sub-judul: How to Avoid too Much of a Good Thing (London 2005)

Buku itu mengulas tindaka n-tindaka n swasta nisasi ya ng telah dilakuka n pada seluruh bida ng perekonomia n, mulai dari perta mba nga n hingga telekomu nikasi, perusahaa n listrik hingga warisa n kultural, kereta api hingga pasoka n air, serta dari dinas kepolisia n hingga lembaga pemasyarakata n. Contoh keberhasila n da n kegagala n swasta nisasi dikupas. Ya ng lebih penting, penulis buku itu mengkaji alasa n-alasa n khusus mengapa swasta nisasi berhasil atau tidak, atau di dala m beberapa kasus mengapa pada awalnya swasta nisasi berjala n denga n baik tetapi kemudia n menjadi menyimpa ng.

Bagi seora ng warga Jerma n belajar tenta ng swasta nisasi perkereta apia n adalah sesuatu ya ng mengusik pikira n. Mengapa swasta nisasi perkereta apia n di Jepa ng sa ngat berhasil, tetapi di Jerma n gagal total sehingga negara harus menga mbil alih secara menyeluruh pengendalia n sistem a ngkuta n kereta api itu. Perta nyaa n menarik di sini adalah ke arah ma nakah sistem tra nsportasi perkereta apia n Jerma n (deutsche Bahn), menyesuaika n dirinya: apakah lebih mengarah kepada model Jepa ng ataukah lebih dekat kepada model Inggris? Tentu saja ba nyak hal ya ng menjengkelka n da n menyulut kemaraha n publik Inggris dapat juga ditemuka n di Jerma n: kebera ngkata n kereta api tertu nda semata-mata karena tidak tersedia nya lokomotif pengga nti ketika terjadi kerusaka n atau para penu mpa ng terpaksa harus a ntri di toilet kereta api karena pekerjaa n memperbaiki toilet tidak dikelola secara efektif. Baga ma napu n, deutsche Bahn, telah menu njukka n denga n baik bahwa keputusa n bisnis ya ng salah tidak ha nya terjadi secara eksklusif di perusahaa n milik negara.

Meningkatka n persainga n pada u mu m nya diakui menjadi salah satu tujua n uta ma swasta nisasi. Da n jika persainga n ini terus dila njutka n, para pela ngga n dapat memetik ma nfaat berupa pelaya na n ya ng lebih baik da n lebih murah. Tetapi menjadi kisah ya ng berbeda sa ma sekali jika monopoli publik semata- mata diga ntika n monopoli swasta. Hal ini teruta ma berlaku

Batas-batas Swastanisasi

pada bida ng-bida ng ya ng mengharuska n ada nya “monopoli ala miah”, atau denga n kalimat lain nya, pada bida ng-bida ng ya ng tidak memu ngkinka n u ntuk dilakuka n nya kompetisi. Tidaklah masuk akal u ntuk meletakka n dua pipa atau tiga pipa salura n air berda mpinga n satu denga n lain nya di bawah ta nah. Da n juga tidak masuk akal jika beberapa perusahaa n a ngkuta n bis mencoba bersaing pada suatu jalur ya ng sa ma di suatu kota kecil di provinsi. Pada akhirnya tidak satupu n dari perusahaa n a ngkuta n itu aka n memperoleh ua ng. Jadi hasilnya adalah suatu monopoli ala miah.

Apakah salah satu perusahaa n air ya ng bergerak di tingkat internasional dapat menggu naka n monopoli ala miah nya sa ma

seperti yang digu nakan − dan yang disalahgu nakan − oleh

monopoli-monopoli swasta terga ntu ng pada persyarata n- persyarata n da n ketentuta n-ketentua n khusus ketika peru ndinga n swasta nisasi dilakuka n da n terga ntu ng pada bu nyi kontrak- kontrak ya ng dihasilka n.

III. Dari Bolivia, salah satu dari negara termiskin di Amerika Latin, mu ncul lapora n-lapora n denga n dua pengala ma n ya ng sa ngat berbeda. Pengala ma n ya ng perta ma terjadi di Cochaba mba. Di tempat ini, Bechtel Corporation segera menarik diri ketika demonstrasi-demonstrasi ya ng menenta ng peningkata n tarif air cenderu ng mengarah pada tindak kekerasa n. Pengala ma n lain nya terjadi di ibukota La Paz. Di tempat itu, otoritas pemerintah di tingkat kota, bersa ma denga n perusahaa n swasta, telah memetik pelajara n dari peristiwa Cochaba mba ya ng buruk itu. Air dari pegu nu nga n Andes telah dibawa ke La Paz - ya ng terletak 4000 meter di atas permukaa n laut - pada akhir 1960-a n denga n ba ntua n pemba ngu na n Jerma n. Pada 1997 Ba nk Du nia meminta sistem itu diswasta nisasika n, karena perusahaa n pemasok air di kota Sa mpa na, tidak berdaya u ntuk mengejar pertu mbuha n kota. Suatu perusahaa n patu nga n Pera ncis-Argentina-Bolivia (AISA) diberika n hak konsesi sela ma 30 tahu n. AISA, ya ng didominasi oleh Pera ncis, melakuka n investasi di penyedota n air da n pembua nga n limbah, meningkatka n ju mlah salura n air

hingga 45% dala m kuru n waktu 5 tahu n, da n memusatka n diri secara khusus pada pasoka n air ke Al Ato, wilayah pinggira n kota ya ng berkemba ng sa ngat cepat. Tarif air tidak dinaikka n sela ma lima tahu n, da n baru setelah lima tahu n meningkat menjadi 38%. Tetapi iura n tetap (standing charge) ya ng dikenaka n ta npa melihat besara n pemakaia n air dihapuska n. Ada nya iura n tetap ini telah sa ngat mempengaruhi pemakai air volu me kecil. Karena itu penghapusa n iura n tetap ini telah memu ngkinka n kelompok miskin ma mpu u ntuk hidup walaupu n terjadi peningkata n tarif.

Tentu saja konflik biasa nya mu ncul a ntara otoritas pemerintah di tingkat kota denga n kepentinga n-kepentinga n swasta di La Paz, khususnya ma nakala tingkat tarif air diru ndingka n kembali di tahu n 2002. Tetapi secara keseluruha n swasta nisasi telah membawa lebih ba nyak ma nfaat daripada kerugia n bagi penduduk La Paz. Bagaima na situasinya setelah konsesinya berjala n sela ma 30 tahu n adalah persoala n lain. Berita-berita terakhir ya ng data ng dari La Paz da n El Alto tengah menu njukka n situasi ya ng kura ng menggembiraka n.

Dari dua kisah berbeda dari negeri ya ng sa ma ini, kajia n Klub Roma menyimpulka n bahwa perlu “u ntuk mengkaji swasta nisasi atas dasar kasus per kasus”. Tetapi pada saat ya ng sa ma kajia n Klub Roma itu juga meru muska n prinsip-prinsip u mu m, ya ng berlaku tidak ha nya ketika monopoli ala miah mengakibatka n monopoli ekononomi:

1. Pasoka n air ya ng dikelola swasta dapat menjadi efektif da n berta nggu ng jawab secara sosial “jika insentif-insentif ya ng diberika n kepada para pena na m modal swasta itu dibuat secara cerdas da n dari sejak awal, termasuk dala m proses tender-nya.”

2. Ja nga n mengabaika n rincia n sa mpai ke ya ng terkecil dala m ketentua n da n persyarata n ya ng terdapat dala m kontrak karena rincia n-rincia n itu aka n mempengaruhi hasil. “Rincia n itu harus dipertimba ngka n da n diuraika n dala m ru musa n kalimat ya ng baik, sehingga tidak mengula ngi kebiasaa n ya ng sering terjadi sela ma ini denga n akibat

Batas-batas Swastanisasi

buruk ya ng dapat dira malka n”.

3. Jika ketentua n khusus dari kontrak dira nca ng secara tepat

demi kepentingan-kepentingan komu nitas − kalau perlu dengan bantuan pihak luar − sehingga tidak memu nginkan

terjadinya tafsira n ya ng berbeda tenta ng bu nyi kontrak maka bahka n suatu kota kecil dapat bekerjasa ma denga n perusahaa n besar ta npa mengakibatka n penderitaa n bagi kelompok miskin (Ernst Ulrich von Weizsacker, Ora n You ng da n Matthias Finger, Limits to Privatization. How to Avoid too Much of a Good Thing (London 2005, hlm. 21) IV. Jadi kajia n terhadap beberapa contoh kasus swasta nisasi ya ng terjadi di Bolivia menghasilka n kesimpula n ya ng sa ma, da n secara u mu m dapat berlaku yaitu: setiap kisah keberhasila n mensyaratka n “suatu negara kuat ya ng ma mpu menentuka n, ketika diperluka n, serta ma mpu mengawasi pelaksa naa n atura n-atura n permaina n “.

Dalam ru musan kalimat yang berbeda, negara yang lemah − yang

tidak dapat memobilisasi keahlia n huku m ya ng diperluka n u ntuk menghadapi perusahaa n-perusahaa n multinasional, ya ng tidak ma mpu u ntuk memaksaka n ketentua n-ketentua n bu nyi kontrak- aka n membiarka n swasta nisasi berjala n semau nya. Swasta nisasi

bersama dengan deregulasi − merupakan pasangan kredo yang disuarakan para pengikut neoliberal − memiliki “akibat-akibat

buruk ya ng dapat dira malka n”. Swasta nisasi membutuhka n lebih ba nyak regulasi, buka n mengura nginya. Jika regulasi-regulasi itu mengala mi kegagala n, da n bila mitra swasta menolak u ntuk menerima regulasi-regulasi itu, lebih baik tidak usaha melakuka n swasta nisasi.

Siapapu n ya ng pernah duduk di dewa n kota, atau setidaknya menga mati dari dekat perpolitika n lokal, pasti aka n segera mengenal situasi ya ng dihadapi. Ketika dinas pelaya na n u mu m u ntuk pengu mpula n sa mpah, suatu jalur bus, atau suatu pasoka n gas kota tengah diswasta nisasika n, haruslah dibuat upaya-upaya u ntuk menindakla njuti keputusa n ya ng telah dibuat oleh dewa n kota denga n membuatnya dala m bentuk kontrak ya ng tertulis.

Pada masa lalu dewa n harus mempertimba ngka n keingina n para ibu ru mah ta ngga ya ng tidak menginginka n tong-tong sa mpah mereka meluber, atau mempertimba ngka n keingina n para penduduk lokal ya ng mengharapka n ada nya pelaya na n bis a ngkuta n ke wilayah hu nia n mereka ya ng terpencil. Da n jika para dewa n lokal mengabaika n keingina n-keingina n seperti itu, mereka aka n memiliki kesempata n ya ng kecil u ntuk dapat terpilih kembali.

Tetapi begitu dinas pelaya na n u mu m diswasta nisasika n, para politisi lokal tidak lagi memiliki pengaruh dala m pembuata n keputusa n. Tetapi dala m pa nda nga n para penduduk lokal, para politisi lokal itu masih tetap mengemba n ta nggu ngjawab tersebut. Jadi para politisi itu harus melakuka n seluruh upaya terbaiknya u ntuk menja min bahwa kepentinga n dari ora ng ya ng menduku ngnya dala m pemiliha n terlindu ngi u ntuk beberapa tahu n kedepa n, walau denga n kesadara n bahwa tidak semua upaya perlindu nga n itu aka n berhasil diwujudka n.

Konflik kepentinga n a ntara kela ngsu nga n masa depa n ekonomi denga n bara ng publik, ya ng sepa nja ng waktu terus menerus mu ncul dala m setiap “ka mar” di dewa n perwakila n rakyat harus diselesaika n terlebih dulu u ntuk menga ntisipasi persoala n-persoala n ya ng aka n mu ncul dala m beberapa dasawarsa kemudia n. Hal ini memberika n ta nta nga n besar ya ng tak mudah diselesaika n, bahka n oleh pengacara-pengacara terbaik. Jadi ketika berbagai pelaya na n publik diswastaka n, seolah-olah tidak lagi dapat ditu nda sa mpai hari esok, harus terdapat seju mlah alasa n tepat da n memaksa mengapa hal demikia n harus dilakuka n. Kajia n ini mengidentifikasika n ada nya tiga alasa n uta ma. Perta ma adalah perhitu nga n ya ng cermat tenta ng ada nya kemu ngkina n harga ya ng lebih murah ya ng aka n dibayar oleh para konsu men dala m ja ngka pa nja ng. Sesuatu ya ng wajar bahwa teka na n-teka na n ya ng ada telah membuat ora ng terdorong u ntuk melakuka n temua n baru da n sela njutnya terdorong pula u ntuk melakuka n investasi. Ora ng ya ng berada dala m persainga n memiliki alasa n ya ng baik “u ntuk menoleh kepada teknologi paling modern ya ng tersedia”.

Batas-batas Swastanisasi

(ibid., hlm.153) Hal ini biasa nya termasuk teknologi ya ng tidak lagi dibutuhka n, karena modernisasi mengura ngi tenaga kerja. Sesuatu ya ng lu mrah, bila temua n baru dapat memberi ma nfaat bagi para pembeli, apakah dala m bentuk harga ya ng lebih murah atau melalui mutu produk ya ng ha ndal da n lebih baik. Temua n baru dapat juga, seperti dala m kasus industri telekomu nikasi, membuka pelua ng-pelua ng baru ya ng lebih luas. Menarik mencatat bahwa kajia n itu menyataka n bahwa ba nyak perusahaa n saat ini tengah mengura ngi pengeluara n Penelitia n da n Pengemba nga n nya, ya ng dipaksa u ntuk melakuka n penghemata n “karena kompetisi mematika n ya ng terjadi di pasar global” (ibid., hlm.153)

Alasa n kedua - walaupu n buka n merupaka n alasa n ya ng baik, tetapi acap kali menjadi alasa n ya ng memaksa - adalah karena ada nya masalah su mber daya keua nga n publik ya ng terjadi di tingkat lokal da n negara bagia n. Argu men ini memiliki keyakina n tenta ng ma nfaat swasta nisasi bahka n walau tidak terdapat kejelasa n sa ma sekali bahwa para konsu men pada akhirnya na nti aka n memperoleh ma nfaat dari swasta nisasi ya ng dilakuka n. Untuk melakuka n swasta nisasi secara berta nggu ngjawab, sese- ora ng harus memiliki posisi peru ndinga n ya ng baik. Ketika ora ng melakuka n swasta nisasi karena keterpaksaa n, karena kota - atau negara bagia n - tengah terlilit huta ng ya ng sa ngat parah, ya ng benar-benar seda ng mengala mi keterpaksaa n u ntuk menjual da n buka n nya melakuka n swasta nisasi, maka mereka sesu ngguh nya seda ng melakuka n peru ndinga n dari posisi ya ng lemah. Mereka sesu ngguh nya tidak harus melakuka n nya; tetapi mereka tidak memiliki piliha n lain nya. Ha nya seseora ng ya ng mema ng berniat menggu naka n swasta nisasi sebagai tujua n u ntuk melemahka n negara ya ng tidak berdaya, ya ng masih dapat merasa nya ma n u ntuk melakuka n tra nsaksi seperti ini.

Alasa n ketiga adalah karena ikut-ikuta n seperti mengikuti gaya mode. Seperti juga telah terjadi di masa lalu, swasta nsasi dilihat sebagai pena nda modernitas, bukti bahwa seseora ng telah membaca ta nda-ta nda perubaha n ketika dinas pelaya na n u mu m ya ng dimiliki kota diswasta nisasika n.

0

Karena alasa n ya ng tidak menyakinka n itu acap kali berjala n seiring denga n ada nya kepercayaa n terhadap daya pikat deregulasi, tidaklah menghera nka n jika kajia n itu mencatat bahwa satu-satu nya hasil-hasil positif ya ng dihasilka n adalah ketika swasta nisasi dilakuka n atas dasar penilaia n menyeluruh, perhitu nga n ya ng rinci, serta ru musa n ya ng hati-hati da n regulasi.

V. Bagaima na seseora ng menilai suatu capaia n tentu saja terga n- tu ng pada kriteria ya ng dipilih nya. Seseora ng ya ng ha nya peduli denga n ma nfaat-ma nfaat ekonomi tentu saja aka n memberika n penilaia n berbeda jika diba ndingka n denga n seseora ng ya ng juga mempertimba ngka n konsekuensi-konsekuensi politik, khususnya pada tingkat lokal. Terga ntu ng pada sudut pa nda ng ya ng digu naka n. Denga n capaia n ya ng sa ma bisa saja terjadi seseora ng menyebut capaia n itu sebagai keberhasila n atau menyebutnya sebagai kegagala n.

Hal ini terjadi pada kajia n ya ng disebut denga n “subsidi sila ng” (ibid., hlm.355). Umu m nya dinas-dinas ya ng mengurusi pelaya na n u mu m di ba nyak kota di Eropa telah menggu naka n surplus ya ng berasal dari penjuala n listrik atau air u ntuk memberika n subsidi sila ng pada sistem a ngkuta n publik lokal ya ng mengala mi kerugia n - teruta ma ya ng berhubu nga n denga n jalur-jalur a ngkuta n bis - denga n tujua n u ntuk tetap mempertaha nka n ongkos a ngkuta n ya ng terja ngkau. Na mu n begitu berbagai dinas pelaya na n kota itu diswasta nisasika n, subsidi ini tidak lagi dapat dilakuka n. Kajia n ini menemuka n bahwa swasta nisasi telah membawa kerugia n bagi ora ng ya ng membutuhka n listrik, air - da n pelaya na n a ngkuta n bis ya ng baik. Para ekonom neoliberal aka n menyataka n bahwa swastia nisasi justru dilakuka n u ntuk menghila ngka n subsidi ya ng mendistorsi pasar. Fakta nya adalah bahwa sebelu m swasta nisasi dilakuka n pendapata n ya ng diperoleh digu naka n u ntuk memberika n subsidi bagi a ngkuta n publik lokal kini telah disalurka n ke ka ntong-ka ntong pemilik saha m swasta. Da n u ntuk tujua n itu para penu mpa ng bis membayar ongkos a ngkuta n ya ng

Batas-batas Swastanisasi

lebih besar, ta npa mempertimba ngka n apakah para penu mpa ng itu dapat memiliki kema mpua n u ntuk membayarnya atau tidak.

Lebih jauh lagi, argu men tenta ng distorsi terhadap persainga n tidak memberika n alasa n ya ng menyakinka n. Seseora ng ya ng