2 TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Pulau Kecil
2.2.1 Batasan dan karakteristik pulau-pulau kecil
Pulau-pulau kecil dalam Pedoman Umum Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat (Kepmen No. 41 tahun 2000) didefinisikan sebagai kumpulan pulau-pulau yang secara fungsional saling berinteraksi dari sisi ekologis, ekonomi, sosial, dan budaya, baik secara individual maupun secara sinergis dapat meningkatkan skala ekonomi dari pengelolaan sumber dayanya.
Sesuai pedoman itu, batasan dan karakteristik pulau-pulau kecil sebagai berikut:
(1) Pulau yang secara operasional ukuran luasnya kurang atau sama dengan 2.000 km2.
(2) Secara ekologis terpisah dari pulau induknya (mainland island), memiliki batas fisik yang jelas, dan terpencil dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular.
(3) Mempunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang tipikal dan bernilai tinggi.
(4) Daerah tangkapan air (catchment area) relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut.
(5) Dari segi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pulau-pulau kecil bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya.
Secara umum pulau kecil memiliki karakteristik biogeofisik yang menonjol sebagai berikut (Bengen, 2002):
(1) Terpisah dari habitat pulau induk (mailand island), sehingga bersifat insular. (2) Memiliki sumber daya air tawar yang terbatas baik air permukaan maupun air tanah, dengan daerah tangkapan airnya relatif kecil sehingga sebagian besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut.
(3) Peka dan rentan terhadap pengaruh eksternal baik alami maupun akibat kegiatan manusia, misalnya badai dan gelombang besar, serta pencemaran. (4) Memiliki jumlah jenis endemik yang bernilai ekologis tinggi. Area
perairannya lebih luas dari area daratannya dan relatif terisolasi dari daratan utamanya (benua atau pulau besar).
Dari sudut pertahanan dan keamanan, pulau-pulau kecil terutama di perbatasan memiliki arti penting sebagai pintu gerbang keluar masuknya aliran orang dan barang, misalnya di Sabang, Sebatik dan Batam yang juga rawan terhadap penyelundupan barang-barang ilegal, narkotika, senjata dan obat-obat terlarang. Terdapat 92 buah pulau kecil di perbatasan NKRI dengan negara lain yang berarti bahwa pulau-pulau kecil tersebut memiliki arti penting sebagai garda depan dalam menjaga dan melindungi keutuhan NKRI.
Wilayah pulau-pulau kecil memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai wilayah bisnis potensial yang berbasis pada sumber daya
(resource based industry) seperti industri perikanan, pariwisata, jasa transportasi,
industri olahan dan industri-industri lainnya yang ramah lingkungan. Di samping itu, pulau-pulau kecil juga dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai pendukung pertumbuhan wilayah.
Secara ekologis, ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil berfungsi sebagai pengatur iklim global, siklus hidrologi dan bio-geokimia, penyerap limbah, sumber plasma nutfah, sumber energi alternatif, dan sistem penunjang kehidupan lainnya. Hal ini terkait dengan potensi/karakteristik penting pulau-pulau kecil, yang merupakan habitat dan ekosistem (terumbu karang, lamun dan mangrove) yang menyediakan barang (ikan, minyak, mineral) dan jasa lingkungan (penahan ombak, wisata bahari) bagi masyarakat.
Karakteristik masyarakat pulau-pulau kecil dipengaruhi oleh eksistensi sumber daya dan lingkungannya. Masyarakat lingkungan pulau-pulau kecil cenderung hidup terpinggirkan karena perhatian pemerintah yang masih sangat terbatas. Untuk itulah ditemukan karakter masyarakat yang cenderung bekerjasama dalam berbagai hal untuk mendukung pemenuhan kebutuhannya. 2.2.2 Kebijakan tentang pengelolaan pulau-pulau kecil dan wilayah
perairan sekitarnya
Implementasi pengelolaan pulau-pulau kecil haruslah didasari atas kebijakan-kebijakan yang memperhatikan kelestarian fungsi ekologi, sosial, ekonomi maupun budaya dari lingkungan pulau kecil dimaksud. Adapun kebijakan pemerintah dalam pengelolaan pulau kecil sebagai berikut:
(1) Pengelolaan pulau-pulau kecil dan wilayah perairan disekitarnya harus mempertimbangkan:
a) Keseimbangan/stabilitas lingkungan;
b) Keterpaduan kegiatan antara wilayah darat dan laut sebagai satu kesatuan ekosistem;
c) Efisiensi pemanfaatan sumber daya;
d) Protokol keamanan yang didasarkan pada penilaian harga sumber daya sesuai dengan prinsip;
e) Ekonomi lingkungan;
f) Peraturan-peraturan dan konvensi internasional terutama yang menyangkut tata batas perairan;
g) Internasional.
(2) Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota harus menjamin bahwa pantai dan perairan pulau-pulau kecil merupakan akses yang terbuka bagi masyarakat.
(3) Pengelolaan ekosistem pulau-pulau kecil perlu dilakukan secara menyeluruh berdasarkan satu kesatuan gugusan pulau-pulau dan atau keterkaitan pulau tersebut dengan ekosistem pulau besar.
(4) Kegiatan pengelolaan pulau-pulau kecil yang berbasis masyarakat harus memperhatikan adat, norma dan/atau sosial budaya serta kepentingan masyarakat setempat.
(5) Pengelolaan pulau-pulau kecil oleh pihak ketiga dengan tujuan observasi, penelitian dan kompilasi data/spesimen untuk keperluan pengembangan iptek, wajib melibatkan lembaga/instansi terkait setempat dan/atau pakar dibidangnya. Data, informasi, hasil dari penelitian tersebut, dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) menjadi milik pihak-pihak yang terlibat. (6) Pulau-pulau yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi menurut
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990, kawasan otorita, kawasan tertentu khususnya tempat latihan militer dan pangkalan militer, tidak termasuk di dalam pedoman umum pengelolaan pulau-pulau kecil.
(7) Gosong, atoll, dan pulau kecil yang menjadi titik pangkal (base point) pengukuran wilayah perairan Indonesia hanya dapat dikembangkan sebagai
kawasan konservasi. Penggunaan terbatas pulau kecil tersebut hanya diperkenankan apabila sebelumnya telah dimanfaatkan masyarakat sebagai permukiman.
(8) Pengelolaan pulau-pulau kecil dengan luas kurang atau sama dengan 2.000 km2 hanya dapat digunakan untuk kepentingan sebagai berikut:
a) Konservasi
b) Budidaya laut (mariculture) c) Kepariwisataan
d) Usaha penangkapan dan industri perikanan secara lestari e) Pertanian organik dan peternakan skala rumah tangga f) Industri teknologi tinggi non ekstraktif
g) Pendidikan dan penelitian
h) Industri manufaktur dan pengolahan sepanjang tidak merusak ekosistem dan daya dukung lingkungan.
(9) Pengecualian dari butir 8 tersebut di atas hanya untuk kegiatan yang telah dilakukan masyarakat penghuni pulau-pulau kecil sebelum pedoman umum ini dikeluarkan, sepanjang tidak mengakibatkan degradasi lingkungan dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (10) Kegiatan pemanfaatan sumber daya pulau-pulau kecil yang menimbulkan
dampak penting lingkungan tidak diizinkan.
(11) Kegiatan pengelolaan pulau kecil untuk usaha industri manufaktur dan industri pengolahan hanya dapat dilakukan di pulau kecil dengan luas lebih besar dari 2.000 km2; dengan persyaratan pengelolaan lingkungan yang sangat ketat, dengan memperhatikan kemampuan sistem tata air setempat, menggunakan teknologi ramah lingkungan, serta tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(12) Kegiatan pengelolaan pulau-pulau kecil yang diarahkan untuk kegiatan kepariwisataan harus memperhatikan persyaratan pengelolaan lingkungan yang ketat, sebagaimana tersebut dalam pasal 6 dan pasal 21 Undang- Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan.
(13) Pengelolaan pulau-pulau kecil yang dilakukan oleh pihak ketiga harus memberdayakan masyarakat lokal, baik dalam bentuk penyertaan saham
maupun kemitraan lainnya secara aktif dan memberikan keleluasaan aksesibilitas terhadap pulau-pulau kecil tersebut.
(14) Setiap kerjasama dengan pihak luar negeri dalam pengelolaan pulau-pulau kecil harus berdasarkan kepentingan nasional.
(15) Jangka waktu pengelolaan pulau-pulau kecil disesuaikan dengan tujuan pengelolaan yang pelaksanaannya akan diatur dalam keputusan tersendiri. 2.2.3 Faktor penentu pembangunan pulau kecil
Indonesia merupakan negara kepulauan (archipelago state) terbesar di dunia. Namun pulau-pulau kecil yang dimiliki Indonesia kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, terlebih pulau-pulau kecil yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Jika berhasil dikembangkan secara optimal dan berkelanjutan, pulau-pulau kecil ini bukan saja menjadi sumber pertumbuhan baru, juga mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah dan kelompok sosial. Sementara itu, pembangunan pulau-pulau kecil dihadapkan pada permasalahan akibat karakteristik pulau tersebut. Beberapa permasalahan pembangunan pulau- pulau kecil (Kusumastanto, 2004), yaitu:
(1) Ukuran yang kecil dan terisolasi (keterasingan) menyebabkan penyediaan prasarana dan sarana menjadi sangat mahal. Luas pulau kecil itu bukan suatu kelemahan jika barang dan jasa yang diproduksi dan dikonsumsi oleh penghuninya tersedia di pulau yang dimaksud. Akan tetapi, begitu jumlah penduduk meningkat secara drastis, diperlukan barang dan jasa dari pasar yang jauh dari pulau itu. Ini berarti mahal.
(2) Kesukaran atau ketidakmampuan untuk mencapai skala ekonomi yang optimal dan menguntungkan dalam hal administrasi, usaha produksi, dan transportasi. Hal ini turut menghambat pembangunan hampir semua pulau kecil di dunia.
(3) Ketersediaan sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan, seperti air tawar, vegetasi, tanah, ekosistem pesisir, dan satwa liar pada gilirannya menentukan daya dukung (carrying capacity) sistem pulau kecil, menopang kehidupan manusia dan segenap kegiatan pembangunan.
(4) Produktivitas sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan (seperti pengendalian erosi) yang terdapat di setiap unit ruang (lokasi) di dalam
pulau dan yang terdapat di sekitar pulau (seperti ekosistem terumbu karang dan perairan pesisir) saling terkait satu sama lain secara erat. Oleh karena itu, keberhasilan usaha pertanian, perkebunan dan kehutanan di lahan darat suatu pulau, jika tidak dikelola sesuai prinsip ekologis, dapat merusak/mematikan industri perikanan pantai dan pariwisata bahari di sekitar pulau tersebut.
(5) Budaya lokal kepulauan kadang kala bertentangan dengan kegiatan pembangunan. Contohnya, di beberapa pulau kecil budaya yang dibawa oleh wisatawan (asing) dianggap tidak sesuai dengan adat atau agama setempat. Ini menjadi kendala tersendiri.
Selain dihadapkan pada masalah karakteristik, pulau-pulau kecil memiliki peluang ekonomi yang terbatas khususnya skala ekonomi (economics of scale). Agar kegiatan ekonomi di pulau-pulau kecil mendapatkan skalanya yang sesuai maka pengembangan sektor perdagangan sangat diperlukan, walaupun tergantung pula kepada infrastruktur yang ada di pulau-pulau kecil tersebut. Adapun kegiatan ekonomi yang memungkinkan untuk dilakukan di pulau-pulau kecil adalah kegiatan ekonomi yang terspesialisasi sesuai dengan sumber daya yang tersedia.
Dalam beberapa hal, specialized economy seperti yang terjadi untuk pulau- pulau kecil berdampak positif, khususnya yang terkait dengan konsep skala ekonomi. Dengan keanekaragaman spesialisasi ekonomi sebuah pulau kecil, maka semakin meningkat pula tingkat ketahanan ekonomi dari pulau tersebut dari faktor eksternal sepanjang pengelolaan kegiatan ekonomi tersebut memperhitungkan tingkat daya dukung pulau secara umum (Hein, 1990., dalam Adrianto, 2004). Menurut Briguglio (1995), ada beberapa hal yang menjadi ciri keterbatasan ekonomi wilayah pulau-pulau kecil terkait dengan ukuran fisik (smallness), yaitu: (1) Terbatasnya sumber daya alam dan ketergantungan terhadap komponen
impor yang tinggi.
(2) Terbatasnya substitusi impor bagi ekonomi pulau.
(3) Kecilnya pasar domestik dan ketergantungan terhadap ekspor untuk menggerakkan ekonomi pulau.
(4) Ketergantungan terhadap produk-produk dengan tingkat spesialisasi tinggi. (5) Terbatasnya kemampuan untuk mempengaruhi harga lokal.
(6) Terbatasnya kemampuan untuk menentukan skala ekonomi. (7) Terbatasnya kompetisi lokal.
(8) Persoalan yang terkait dengan administrasi publik.
Lebih lanjut Briguglio (1995), mengungkapkan bahwa karakteristik penting lain dari pulau-pulau kecil yang terkait dengan pengembangan ekonomi wilayah adalah tingkat insularitas. Pulau-pulau kecil memiliki tingkat insularitas yang tinggi karena sebagian besar jauh dari daratan induknya. Persoalan ekonomi pulau-pulau kecil yang terkait dengan karakteristik insularitas ini terutama yang terkait dengan persoalan transportasi dan komunikasi, lingkungan ekonomi yang cenderung monopolistik, melimpahnya sumber daya kelautan dan dominasi sektor jasa. Adapun karakteristik pulau-pulau kecil yang dilihat dari sifat insularitas seperti yang disampaikan oleh Briguglio (1995), yaitu:
(1) Biaya transportasi per unit produk. (2) Ketidakpastian suplai.
(3) Volume stok yang besar.
(4) Ketergantungan terhadap produk-produk dengan tingkat spesialisasi tinggi. (5) Terbatasnya kemampuan untuk mempengaruhi harga lokal.
(6) Terbatasnya kemampuan untuk menentukan skala ekonomi. (7) Terbatasnya kompetisi lokal.
(8) Persoalan yang terkait dengan administrasi publik.
Berdasarkan UNESCO-MAB Inter Oceanic Workshop on Small Island di Puerto Rico 1986, 20 isi kunci pembangunan pulau-pulau kecil meliputi:
(1) Pembangunan yang berkelanjutan.
Pulau kecil tidak mampu mengabsorbsi dampak lingkungan dibandingkan dengan pulau besar (continent). Oleh karenanya pemahaman dan implementasi strategi pembangunan yang berkelanjutan merupakan tantangan utama bagi masyarakat pulau.
(2) Keragaman karakteristik pulau-pulau kecil.
Penduduk pulau kecil sangat bervariasi, dari padat sampai hanya dihuni oleh beberapa keluarga. Demikian juga ukuran yang kecil, basis sumber daya alam terbatas, serta kepekaan terhadap kekeringan dan bencana alam
menyebabkan masalah-masalah pulau kecil muncul dalam bentuk yang ekstrim.
(3) Kekhasan perekonomian pulau-pulau kecil.
Keterbukaan dan spesialisasi merupakan ciri khusus ekonomi pulau dan bergantung pada kurs asing dari hasil ekspor hasil pertanian spesifik serta impor barang-barang konsumsi termasuk makanan merupakan kewajiban. (4) Perlunya keterlibatan sektor swasta.
Sektor swasta perlu memiliki kontribusi yang besar terhadap kebijakan pembangunan. Investor lokal, nasional maupun internasional memiliki tanggung jawab utama misalnya dalam pengelolaan limbah, pengawasan bahan beracun dan konservasi energi.
(5) Tingginya distorsi terhadap ekonomi pulau-pulau kecil.
Ekonomi pulau sangat peka terhadap distorsi karena motivasi secara ekonomi dan politik. Signifikansi dan efek distorsi ini tidak selalu diakui penuh.
(6) Keterbatasan transportasi.
Kebanyakan pulau-pulau kecil memiliki masalah transportasi eksternal yang serius. Pada pulau-pulau yang bergugus sering mengalami masalah dalam mempertahankan pelayanan transportasi dengan kawasan lain.
(7) Peka terhadap isu-isu kependudukan.
Pulau-pulau kecil sangat peka terhadap siklus perubahan penduduk yang cepat jauh dari keseimbangan angka kelahiran dan kematian alamiah.
(8) Terbatasnya lapangan kerja.
Karena jumlah penduduk yang kecil serta kecenderungan migrasi ke pusat- pusat kegiatan ekonomi maka keseimbangan antara penawaran dan permintaan sumber daya manusia sering menjadi masalah.
(9) Pembuatan keputusan.
Keterpaduan konsep ilmiah dalam pengelolaan lingkungan pulau-pulau kecil sering tidak menjadi prioritas politik. Hal ini sebagai akibat dari kurangnya informasi bagi pengambilan keputusan.
(10) Sangat mengandalkan sumber daya alam.
Sumber daya alam dimana pembangunan yang berkelanjutan merupakan sektor yang paling peka dari asset suatu pulau.
(11) Pola pengelolaan hutan yang spesifik.
Konservasi hutan sangat vital bagi pulau-pulau kecil untuk proteksi sumber air dan sebagai pencegahan terhadap erosi tanah.
(12) Pola pemanfaatan lahan yang spesifik.
Masalah-masalah penggunaan lahan muncul sebagai akibat dari konflik antara perubahan dan pembangunan dengan sistem tradisional kepemilikan lahan menyebabkan peningkatan fragmentasi kepemilikan.
(13) Keterbatasan sumber daya air tawar.
Hanya pada pulau besar dan basah yang memiliki sumber daya air yang cukup walaupun ada kekeringan pada musim-musim tertentu.
(14) Ketergantungan sumber energi dan lain-lain.
Banyak pulau bergantung pada impor bahan bakar minyak walaupun penggunaan kayu terus berlanjut. Energi surya menjadi penting demikian halnya dengan biogas.
(15) Konservasi.
Pulau kecil menjadi tempat yang langka tetapi ekosistemnya peka banyak spesies yang punah akibat kurangnya kebijakan dalam bidang konservasi. Introduksi spesies luar sering memberikan ancaman terhadap spesies asli. (16) Ekosistem laut dan pesisir.
Garis pantai pulau merupakan bagian yang paling berharga tetapi pengembangan industri dan turisme yang tidak teratur menyebabkan kerusakan permanen. Pencemaran akibat aktivitas pertambangan dan kehutanan menyebabkan kerusakan yang meluas pada daerah pesisir dan kehidupan laut.
(17) Perikanan.
Perikanan pada pulau kecil kebanyakan berskala kecil. Kegiatan perikanan sering dihadapkan dengan masalah cold storage, pemasaran, alat tangkap tradisional bahkan kekurangan stok ikan.
(18) Pertanian.
Sistem pertanian di pulau-pulau kecil berkisar dari yang subsistem sampai produksi untuk kepentingan ekspor. Jatuhnya permintaan kopra misalnya dapat menciptakan masalah besar pada perekonomian di pulau.
(19) Industri.
Kecilnya pulau merupakan kendala yang serius dalam pembangunan industri.
(20) Memiliki potensi pariwisata dan jasa lingkungan yang besar.
Iklim dan pantai adalah daya tarik utama pulau terhadap wisatawan akan tetapi memerlukan investasi yang besar untuk pembangunan infrastruktur. 2.2.4 Potensi sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
Pulau kecil dapat dikategorikan sebagai suatu wilayah pesisir dimana dalam wilayah tersebut terdapat satu atau lebih sistem lingkungan (ekosistem) pesisir dan laut beserta sumber dayanya. Ekosistem wilayah pesisir yang dimaksud adalah suatu sistem lingkungan perairan yang merupakan tempat berlangsungnya hubungan timbal balik antara jasad hidup perairan (komponen biotik) dengan lingkungan fisik perairan (komponen abiotik) termasuk antar komponen biotik itu sendiri. Ke arah darat lingkungan ini mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang surut, dan ke arah laut meliputi daerah paparan benua (Beatly et al., 1994).
Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007, adalah sumber daya hayati, sumber daya non-hayati; sumber daya buatan, dan jasa lingkungan; sumber daya hayati meliputi ikan, terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut lain; sumber daya non-hayati meliputi pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut yang terkait dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan alam, permukaan dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi gelombang laut yang terdapat di Wilayah Pesisir.
Berdasarkan pola sebarannya, maka ekosistem wilayah pesisir pada umumnya terstratifikasi secara hirarkis, dimulai dari arah daratan menuju ke arah laut, adalah mangrove, lamun atau rumput laut, dan terumbu karang (Nontji,
1987). Ketiga ekosistem ini merupakan ekosistem yang sangat penting karena fungsi dan peranan yang dimilikinya baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap manusia.
a) Hutan bakau (mangroves)
Hutan bakau dapat juga disebut sebagai hutan mangrove, merupakan komunitas tumbuhan pantai yang mampu tumbuh pada daerah pasang surut sesuai dengan toleransinya terhadap salinitas, lama penggenangan, substrat dan morfologi pantainya. Hutan mangrove ditemukan tumbuh di sepanjang pantai- pantai yang terlindung dari aktivitas gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat. Hutan bakau mempunyai arti yang penting karena memberikan sumbangan berupa bahan organik bagi perairan sekitarnya. Ekosistem hutan bakau memberikan perlindungan terhadap pantai, perangkap sedimen dari darat, perlindungan bagi organisme tertentu, pemijahan, pembesaran, dan tempat mencari makan dari berbagai organisme. Selain itu dimanfaatkan oleh manusia untuk berbagai keperluan seperti pemanfaatan kayu untuk kayu bakar dan pembangunan rumah.
Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, No.201 Tahun 2004 pasal 1 ayat (1) Mangrove adalah sekumpulan tumbuh- tumbuhan Dicotyledoneae dan atau Monocotyledoneae terdiri atas jenis tumbuhan yang mempunyai hubungan taksonomi sampai dengan taksa kelas (unrelated
families) tetapi mempunyai persamaan adaptasi morfologi dan fisiologi terhadap
habitat yang dipengaruhi oleh pasang surut; ayat (2) Kriteria baku kerusakan mangrove adalah ukuran batas perubahan fisik dan atau hayati mangrove yang dapat ditenggang; dan ayat (3) Status kondisi mangrove adalah tingkatan kondisi mangrove pada suatu lokasi tertentu dalam waktu tertentu yang dinilai berdasarkan kriteria baku kerusakan mangrove;
Kawasan konservasi adalah hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Kriteria Baku Kerusakan Mangrove sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 merupakan cara untuk menentukan status kondisi mangrove yang diklasifikasikan (Tabel 1).
Tabel 1 Kriteria baku kerusakan hutan mangrove
No. Kriteria Penutupan (%) Kerapatan
(pohon/ha)
1. BAIK > 75 Sangat Padat > 75
2. >50 – < 75 Sedang > 1500
3. RUSAK < 50 Jarang < 1000
Sumber : Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, No.201/2004
b) Padang lamun (seagrass beds)
Lamun adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam di dalam laut. Lamun hidup di perairan dangkal agak berpasir sering dijumpai di terumbu karang. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya. Secara ekologis padang lamun memiliki beberapa fungsi penting bagi wilayah pesisir, antara lain sebagai sumber makanan penting bagi organisme, tempat berlindung dan pembesaran bagi beberapa organisme.
Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, No.200 Tahun 2004 pasal 1 ayat (1), mendefinisikan lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang hidup dan tumbuh di laut dangkal, mempunyai akar, rimpang (rhizome), daun, bunga dan buah dan berkembang biak secara generatif (penyerbukan bunga) dan vegetatif (pertumbuhan tunas); sedangkan ayat (2) mendefinisikan padang lamun adalah hamparan lamun yang terbentuk oleh satu jenis lamun (vegetasi tunggal) dan atau lebih dari 1 jenis lamun (vegetasi campuran). lebih jauh didefinisikan bahwa status padang lamun adalah tingkatan kondisi padang lamun pada suatu lokasi tertentu dalam waktu tertentu yang dinilai berdasarkan status (Tabel 2), dan kriteria baku kerusakan padang lamun dengan menggunakan persentase luas tutupan (Tabel 3).
Tabel 2 Kriteria status padang lamun
No. Kondisi Penutupan (%)
1. BAIK Kaya/Sehat ≥ 60
2. RUSAK Kurang Kaya/Kurang
Sehat
30 – 59,9
3. Miskin ≤ 29,9
Untuk mengetahui tingkat kerentanan dari ekosistem lamun akan dapat pula didekatkan melalui tingkat kerusakan ekosistem yang ada pada kawasan tersebut. Hal ini dapat dijadikan patokan karena kerusakan lamun dapat menunjukkan bahwa ada tekanan terhadap ekosistem dimaksud sehingga dapat menyebabkan kerusakan dan atau kematian dari ekosistem tersebut.
Tabel 3 Kriteria baku kerusakan padang lamun
No. Tingkat Kerusakan Luas Areal Kerusakan (%)
1. Tinggi ≥ 50
2. Sedang 30 – 49,9
3. Rendah ≤ 29,9
Sumber : Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, No.200/2004
c) Terumbu karang (coral reefs)
Terumbu karang merupakan ekosistem yang khas terdapat di seluruh perairan Indonesia. Terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif terutama kalsium karbonat yang dihasilkan oleh organisme karang (filum Scnidaria, kelas Anthozoa, Ordo Madreporaria Scleractinia), alga berkapur dan organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1988). Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang memiliki produktivitas yang tinggi sehingga memungkinkan sebagai tempat pemijahan, pengasuhan dan mencari makan dari kebanyakan ikan. Oleh karena itu secara otomatis produksi ikan di daerah terumbu karang sangat tinggi. Terumbu karang juga merupakan habitat bagi banyak spesies laut. Dari sisi sosial ekonomi, masyarakat pesisir seringkali mengambil ikan hias yang hidup di antara terumbu karang untuk dijual dan