• Tidak ada hasil yang ditemukan

C) pada bulan Januari, Maret, Agustus dan Oktober 2010 di perairan Kabupaten Kepulauan Aru.

2) Lingkungan biofisik (1) Geomorfologi pulau

4.3.6 Ekosistem terumbu karang 1) Keragaan sumber daya

Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling produktif dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi di bumi (Odum, 1955; Connell, 1978). Memiliki fungsi sebagai penyedia barang dan jasa manusia seperti sumber makanan laut, kemungkinan rekreasi, perlindungan pantai serta manfaat estetika dan budaya (Finish et al, 1996;. Peterson dan Lubchenco, 1997). Namun demikian, hampir sepertiga dari spesies ikan dunia ditemukan di terumbu karang (McAllister, 1991) dan hasil tangkapan dari daerah terumbu karang merupakan 10% dari jumlah ikan yang dikonsumsi oleh manusia (Smith, 1978). Jutaan orang bergantung pada terumbu karang untuk bagian dari kehidupan mereka atau untuk bagian dari asupan protein mereka (Salvat, 1992). Jennings dan Polunin (1996) menghitung bahwa 1 km2 terumbu karang yang tumbuh secara aktif dapat mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani lebih dari 300 orang.

Kawasan konservasi Aru Tenggara memilki ekosistem terumbu karang seluas 28,92 km2. Jika luasan ini merujuk pada hasil penelitian Jennings dan Polunin (1996), maka dapat dikatakan bahwa dengan luasan ekosistem terumbu karang yang ada dapat memberikan manfaat pemenuhan kebutuhan protein hewani bagi 8.700 jiwa dari masyarakat di kawasan konservasi Aru Tenggara. Hal ini berarti hampir 85% masyarakat di 2 Kecamatan baik Kecamatan Aru Tengah

Selatan maupun Aru Selatan Timur dapat terpenuhi kebutuhan protein hewaninya hanya melalui ekosistem terumbu karang.

Berdasarkan hasil analisis interpretasi data citra maka luasan ekosistem terumbu karang ditemukan di Pulau Jeudin yaitu 6,53 km2, dan luasan terkecil pada Pulau Jeh yakni sebesar 1,99 km2. Jumlah jenis terbanyak ditemukan pada terumbu karang P. Karang sebanyak 65 jenis, diikuti oleh P. Enu 60 jenis, P. Jeh 51 jenis, P. Mar 49 jenis, P. Kultubai Selatan 46 jenis, P. Marjinjin 44 jenis dan P. Jeudin 43 Jenis (Gambar 39).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan luasan ekosistem, dimana P. Jeudin memiliki ekosistem terumbu karang terluas tetapi memiliki jumlah jenis terendah. Jumlah genus pada ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi Aru Tenggara berkisar antara 20 - 29 genus, sedangkan kisaran jumlah famili antara 8 - 12 famili.

Dari hasil analisis juga diperoleh persen tutupan biotik pada ekosistem terumbu karang di kawasan ini berkisar antara 54,60% - 80,24% sedangkan komponen biotiknya memiliki persen tutupan yang berkisar antara 19,76% - 45,40%. Dengan data ini memperlihatkan bahwa komponen biotik masih di atas 50% sehingga boleh dikatakan bahwa persen tutupan karang dikawasan masih tergolong cukup baik dan sangat baik.

Potensi terumbu karang di kawasan ini memberikan kontribusi yang cukup penting bagi kehidupan masyarakat maupun lingkungan sekitarnya. Kontribusi yang dimaksudkan secara ekologi dalam bentuk barang dan jasa (Moberg dan Folk., 1999). Kontribusi pelayanan ekologi terumbu karang di kawasan dalam bentuk barang diantaranya pemberi sumber terbarukan yakni menghasilkan berbagai produk makanan laut seperti ikan, kerang, krustasea, teripang dan rumput laut bagi masyarakat kawasan (Craik et al, 1990;. Birkeland, 1997).

Gambar 39 Luas, jumlah jenis, genus, famili, persen tutupan biotik maupun abiotik ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi Aru Tenggara

Perikanan karang memberikan kontribusi terbesar bagi penyedia ikan sekitar 9 - 12% dari total perikanan dunia (Smith, 1978) dan di beberapa bagian wilayah Indo-Pasifik, perikanan terumbu karang memberikan sumbangsi hingga mencapai 25% dari total hasil tangkapan (Cesar, 1996). Selain itu berbagai hasil

penelitian juga menemukan kontribusi ekologi karang dalam mengatasi masalah kesehatan (Sorokin, 1993; Carte, 1996; Birkeland, 1997a), bahan makanan dan kerajinan (Birkeland, 1997a), perhiasan dan souvenir (Craik et al., 1990).

Selain penyediaan barang sumber terbarukan, terumbu karang juga memberikan kontribusi barang tambang bagi kepentingan pembangunan rumah masyarakat pesisir kawasan konservasi Aru Tenggara. Hampir semua tempat di kawasan konservasi mengambil batu untuk pembangunan dari terumbu karang di laut, karena potensi batu tidak tersedia pada wilayah daratan yang didominasi oleh lahan gambut. Namun kegiatan inilah yang banyak sekali merusak ekosistem terumbu karang di kawasan. Di antara penggunaan karang yang paling merusak karang adalah eksploitasi karang keras untuk pembangunan dan untuk produksi kapur dan semen (Dulvy et al., 1995). Di Maladewa, sekitar 20.000 karang m3, ditambang setiap tahun untuk kepentingan bahan bangunan (Cesar, 1996).

Kawasan konservasi Aru Tenggara memiliki pulau-pulau yang sangat kecil dan rentan terhadap abrasi pantai, sehingga kontribusi barang sebagai struktur fisik penahan abrasi garis pantai cukup penting pada kawasan ini. Di Indonesia, Cesar (1996) memperkirakan bahwa antara US $ 820 – 1.000 per km garis pantai hilang, karena penambangan karang yang menyebabkan hilangnya perlindungan pantai. Terumbu karang juga menghasilkan pasir halus yang putih dan bersih yang banyak dimanfaatkan oleh penyu sebagai tempat bertelur, dan daerah ini dapat dikembangkan kegiatan ekowisata pantai di pulau-pulau kecil di kawasan.

Secara ekologi terumbu karang di kawasan ini juga memberikan pelayanan jasa bagi sumberdaya hayati yang ada disekitarnya, yakni sebagai tempat pemijahan, tempat berkembangbiak, pemeliharaan maupun tempat makan bagi biota yang hidup disekitarnya, sehingga keanekaragaman pada ekosistem ini tergolong tinggi (Hughes, 1994; McClanahan et al, 1994). Pelayanan jasa juga diberikan kepada ekosistem lamun, mangrove dan perairan terbuka, terutama bagi spesies-spesies yang melakukan migrasi lintas ekosistem seperti penyu, ikan dan udang yang memanfaatkan ekosistem yang ada di kawasan. Pelayanan lain yang diberikan adalah pelayanan jasa informasi kepada pengelola kawasan tentang status ekologi kawasan karena berfungsi sebagai salah satu ekosistem indikator

kunci dalam menentukan baik atau buruk suatu kawasan (Wilkinson, 1993; Eakin

et al, 1997).

Aktivitas pemanfaatan sumber daya perikanan oleh masyarakat kawasan pada ekosistem terumbu karang teridentifikasi sebanyak 10 aktivitas, dimana 6 diantaranya dijumpai pada seluruh pulau sedangkan 4 aktivitas lainnya hanya dijumpai pada 5 pulau (Tabel 16). Keseluruhan aktivitas pemanfaatan pada ekosistem terumbu karang dapat dijumpai pada P. Kultubai Selatan, P. Jeh, P. Mar, P. Jeudin dan P. Marjinjin, sedangkan P. Enu dan P. Karang hanya dapat teridentifikasi sebanyak 5 aktivitas pemanfaatan yang berlangsung di ke-2 pulau. Tabel 16 Aktivitas pemanfaatan pada ekosistem terumbu karang di

kawasan konservasi Aru Tenggara.

1 2 3 4 5 6 7

1 Bameti (kima)      5 71,43

2 Pengambilan karang laut      5 71,43

3 Bubu      5 71,43

4 jaring insang hanyut        7 100,00

5 jaring insang dasar        7 100,00

6 Panah      5 71,43 7 Selam (mutiara)        7 100,00 8 Selam (teripang)        7 100,00 9 Pancing tonda        7 100,00 10 Pancing Dasar        7 100,00 Total 6 6 10 10 10 10 10 10 Persentase (%) 60,00 60,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 7 88,57

No Aktivitas Pemanfaatan Pulau Total %

Keterangan :

1 = P. Enu 3 = P. K. Selatan 5 = P. Mar 7 = P. Marjinjin

2 = P. Karang 4 = P. Jeh 6 = P. Jeudin

Masyarakat kawasan memanfaatkan sumber daya pada ekosistem terumbu karang sebagai pemenuhan kebutuhan protein hewani, juga sebagai peningkatan ekonomi masyarakat kawasan. Dengan demikian pelayan secara sosial, ekonomi dan budaya juga diberikan ekosistem ini kepada masyarakat kawasan (Dixon et al, 1993; Pendleton, 1995; Cesar, 1996). Untuk itu maka terumbu karang di kawasan ini perlu dijaga keberadaannya agar tetap memberikan dukungan barang dan jasa baik bagi masyarakat kawasan, sumber daya perikanan maupun lingkungannya. 2) Sumber daya ikan karang

Ikan karang yang menempati areal terumbu karang pada 7 pulau di kawasan konservasi Aru Tenggara mencapai 60 - 77 spesies yang tergolong dalam 30 - 47 genera dan 19 - 24 famili (Gambar 40). Kekayaan spesies ikan karang ini tergolong sedang dengan dimensi areal terumbu yang cukup luas dibanding areal terumbu lainnya di luar kawasan konservasi laut Aru Tenggara.

Gambar 40 Jumlah jenis, genus, famili, dan kepadatan ikan karang di kawasan konservasi Aru Tenggara

Famili ikan karang dengan variasi jenis yang tinggi di perairan karang adalah Pomacentridae, Chaetodontidae, Lutjanidae dan Labridae. Selain itu, famili ikan karang dengan variasi jenis terendah adalah Blenidae, Haemulidae, Pomacanthidae, Siganidae, Synodontidae dan Zanclidae. Ikan karang dari genus

Chaetodon, Lutjanus dan Pomacentrus memiliki variasi jenis tergolong tinggi di perairan karang ini. Tingginya kekayaan jenis ikan karang famili Chatodontidae yang juga termasuk kategori spesies indikator memberikan indikasi bahwa kualitas terumbu karang P. Enu relatif masih baik.

Didasari pengelompokkannya untuk tujuan monitoring, maka kekayaan jenis ikan karang kategori major categories species perairan karang lebih tinggi dibanding kategori target species dan indicator species. Sementara berdasarkan kriteria pemanfaatannya, ternyata kekayaan jenis ikan hias relatif lebih tinggi dibanding ikan konsumsi.

Data yang disajikan pada gambar 40, memperlihatkan bahwa kepadatan ikan karang di areal terumbu karang termasuk tinggi berkisar antara 1-3 individu/m3, bila dikaitkan dengan kondisi terumbu karangnya. Sesuai kategori monitoring, ternyata kelompok ikan karang target species memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibandingkan dengan kelompok ikan karang major

categories species dan indicator species. Berdasarkan kriteria pemanfaatannya,

maka ikan karang yang termasuk kelompok ikan konsumsi memiliki kepadatan dan kelimpahan individu tertinggi dibanding ikan hias. Hasil estimasi menunjukkan ikan karang kategori target species dan kriteria pemanfaatan sebagai ikan konsumsi memiliki biomassa cukup tinggi.

3) Kompleksitas permasalahan sumber daya perikanan pada ekosistem terumbu karang

Ekosistem terumbu karang di kawasan konservasi Aru Tenggara merupakan kawasan yang paling banyak mengalami kerusakan akibat pemanfaatan oleh masyarakat kawasan. Aktivitas yang memberikan dampak besar dan luas terhadap kerusakan ekosistem ini salah satunya adalah penambangan karang untuk kepentingan pembangunan rumah maupun infrastruktur umum di kawasan. Salah satu penyebab penambangan karang ini adalah akibat dari tidak tersedianya sumber daya batu pada lahan darat, sehingga masyarakat cenderung untuk menambang karang bagi kepentingan dimaksud. Kawasan konservasi yang banyak mendapat tekanan dari aktivitas penambangan ini adalah kawasan sekitar

P. Jeh, P. Mar, P. Jeudin, P. Marjinjin dan P. Kultubai Selatan, karena pulau-pulau ini sangat dekat dengan pemukiman penduduk sehingga mudah untuk diakses.

Kerusakan terumbu karang bukan hanya terjadi akibat penambangan, namun aktivitas lainnya seperti penempatan bubu di areal terumbu karang, penambatan jangkar motor atau perahu pada kawasan terumbu karang dan juga operasi jaring dasar yang pada saat penarikan dapat menyeret atau mematahkan karang-karang mudah dari habitatnya (Gambar 41).

Gambar 41 Aktivitas penambangan terumbu karang di kawasan

Keberadaan terumbu karang di kawasan memberikan dukungan yang kuat bagi berkembangnya organisme laut baik berupa ikan, moluska, krustasea, ekinodermata dan sumber daya lainnya. Hadir di dalamnya spesies endemik seperti penyu, kima (Tridacna spp) dan lola (Trochus Spp) serta mata bulan

(Turbo sp) yang memanfaatkan ekosistem ini sebagai tempat makan yang

potensial. Kegiatan penangkapan yang dilakukan di dalam ekosistem terumbu karang umumnya masih bersifat tradisional karena menggunakan alat tangkap yang sangat sederhana seperti pancing, panah, bubu, dan jaring (Gambar 42). Namun demikian bukan berarti kegiatan tersebut tidak memberikan dampak bagi kerusakan ekosistem dan keberlangsungan sumber daya penting yang ada, karena beberapa aktivitas seperti jaring, bubu, dan selam selain ditujukan untuk

kepentingan penangkapan ikan, juga dilakukan untuk menangkap hewan langka seperti penyu, lola, dan batu laga yang memiliki harga yang relatif tinggi.

Untuk itulah maka dalam merancang dan menetapkan rencana pengelolaan di kawasan, hendaknya memperhatikan jenis-jenis alat tangkap yang selektif untuk tidak menangkap spesies-spesis lindung. Kegiatan atau aktivitas penangkapan yang sifatnya ilegal ini dapat terjadi di kawasan, menunjukan bahwa efektivitas pengelolaan kawasan sebagai kawasan konservasi belum sepenuhnya dilakukan dengaan benar.

Gambar 42 Kerangka masalah sumber daya perikanan pada ekosistem terumbu karang

Upaya pengelolaan yang efektif sudah seharusnya dimulai pada kawasan konservasi Aru Tenggara, mengingat tingkat pemanfaatan yang cenderung meningkat serta kegiatan-kegiatan ilegal yang terus-menerus dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang hanya mencari keuntungan tanpa memperhatikan keberlanjutan sumberdaya dan ekosistemnya. Diharapkan ke depan akan terjadi terjadi peningkatan atau perbaikan perikanan pesisir dan laut

Kondisi eksisting terumbu karang Hubungan/Pengaruh

(IUCN-WCPA, 2008), sehingga akan memulihkan fungsi-fungsi ekosistem dan keanekaragaman hayati laut, disamping untuk meningkatkan kondisi sosio- ekonomi sebagai hasil dari peningkatan produksi perikanan yang meningkatkan pendapatan dan ketahanan pangan (Parks et al., 2006).